Dia istriku yang Sah

Gia baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah tidur sutra yang terasa terlalu tipis di kulitnya. Kain seperti itu bahkan baru pertama kali melekat pada tubuhnya. Rambutnya yang basah tergerai, memberikan kesan alami yang jauh berbeda dari riasan tebal saat di altar tadi.

​Saat ia ragu-ragu untuk mendekati ranjang, sebuah dering ponsel memecah keheningan.

​Ares, yang tadi berdiri di balkon sambil menyesap rokok, segera merogoh sakunya. Ia melihat layar ponselnya, dan rahangnya mengeras. Ia tidak mengangkatnya segera, namun ponsel itu terus berdering dengan gigih.

​Gia terpaku di tempatnya. Ia bisa melihat nama yang tertera di layar karena ponsel itu tergeletak di meja nakas saat Ares hendak mengambil pengisi daya.

​Siska.

​Ares akhirnya mengangkat telepon itu. Ia tidak menjauh, seolah ingin menunjukkan pada Gia bahwa tidak ada yang perlu disembunyikan atau mungkin, ia ingin menyakiti Gia secara tidak sengaja.

​"Halo" suara Ares terdengar datar, namun ada getaran emosi yang tertahan.

​Suara isak tangis Siska terdengar cukup nyaring di ruangan yang sunyi itu.

"Ares... maafkan aku. Aku melakukan kesalahan besar. Aku terjebak, Ares... Aku diancam Rendy. Aku mau pulang, aku mau balik sama kamu, aku mohon tolong aku Res..."

​Gia meremas jemarinya, hatinya mencelos. Ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah di rumah orang lain. Ia berbalik, hendak masuk kembali ke kamar mandi untuk memberi privasi, namun suara Ares menghentikannya.

​"Mau ke mana, Gia?" tanya Ares tanpa menoleh pada Gia, namun tetap terhubung dengan Siska.

​"Gia? Kamu sama dia? Ares, kamu benar-benar menikahinya? Anak gundik itu hanya mau uangmu saha Res!" Suara Siska di telepon berubah menjadi histeris.

​Ares menatap Gia dengan tajam, namun kata-katanya ditujukan untuk Siska.

"Dia istriku sekarang, Siska. Kamu yang memilih untuk pergi, jadi jangan bicara seolah-olah kamu adalah korbannya!" Suara Ares masih begitu datar namun terdapat emosi di dalamnya.

​"Tapi aku mencintaimu!"

​"Cinta tidak meninggalkan orang di pernikahan!" Balas Ares dengan dingin.

"Jangan hubungi aku lagi. Urusan kita sudah selesai!"

​Ares memutuskan sambungan telepon dengan kasar dan melempar ponselnya ke atas ranjang. Suasana yang tadi canggung kini berubah menjadi tegang dan penuh amarah yang tertahan.

​Gia ketakutan sendiri melihat ponsel yang dilempar bagaikan barang tak berguna. Namun dia memberanikan diri untuk bersuara.

"Kalau Tuan masih mau sama Kak Siska, saya bisa pergi, Tuan. Kita bisa membatalkan ini sebelum semuanya terlambat!" Hanya mengatakan itu saja sudah membuat seluruh badan Gia gemetar, hakan telapak tangannya terasa basah karena keringat.

​Ares berjalan mendekat, langkahnya berat. Ia berhenti tepat di depan Gia, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

​"Kamu pikir pernikahan Ardiansyah adalah mainan yang bisa dibatalkan begitu saja?" Ares mencengkeram bahu Gia pelan, namun tegas.

"Bagiku Siska sudah mati sejak dia memutuskan untuk pergi dengan laki-laki lain. Jangan pernah tawarkan dirimu untuk pergi lagi, kecuali aku yang memintamu untuk pergi!"

​Ares melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju sofa, meninggalkan Gia yang berdiri mematung di samping ranjang besar itu. Malam itu, Gia menyadari satu hal, ia tidak hanya harus berhadapan dengan tembok es di hati Ares, tapi juga bayang-bayang Siska yang akan terus menghantuinya selama hidup disekitar Aresta Ardiansyah.

🌹🌹🌹

Pagi pertama di mansion Ardiansyah tidak terasa seperti bulan madu bagi Gia. Ia turun ke ruang makan dengan langkah ragu, mengenakan terusan selutut berwarna soft peach yang membuatnya tampak sangat muda dan polos.

​Di ujung meja panjang yang terbuat dari marmer mewah, Nyonya Ardiansyah, Ibu Aresta, sudah duduk dengan anggun, menyesap tehnya. Matanya yang tajam langsung menilai penampilan Gia dari ujung rambut hingga ujung kaki.

​"Duduklah!" Perintah Nyonya Ardiansyah tanpa senyum.

"Di rumah ini, sarapan dimulai pukul tujuh tepat. Saya harap besok kamu tidak terlambat lagi!"

​"Maaf, Ma!" Bisik Gia sambil menarik kursi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

​"Jangan panggil saya Mama dulu. Statusmu di sini masih sangat baru!" Sahut wanita itu dingin.

Gia mengutuk mulutnya begitu lancang. Dia seolah lupa dengan statusnya karena berani memanggil Nyonya besar Ardiansyah dengan sebutan Mama. Seharusnya Kakaknya yang pantas memanggilnya Mama.

"Saya masih tidak habis pikir kenapa Aresta memilih melanjutkan pernikahan ini sama kamu setelah penghinaan yang dilakukan keluarga kamu. Kamu tahu, kan? Kamu hanyalah pengganti untuk menutupi rasa malu!"

​Gia menunduk, meremas serbet di pangkuannya. Kata-kata itu menghujam jantungnya, meski ia tahu itu benar.

​Tiba-tiba, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Aresta muncul dengan setelan kerja yang sangat rapi. Bukannya langsung duduk di kursinya, Aresta justru berjalan mendekati Gia.

​"Pagi, Gia!" ucap Aresta dengan suara bariton yang hangat, kontras dengan suasana dingin tadi.

​Sebelum Gia sempat menjawab, Aresta membungkuk sedikit dan mengecup kening Gia di depan ibunya. Kecupan itu singkat, tapi terasa sangat protektif.

​"Aresta, apa yang kamu lakukan?" tegur Nyonya Ardiansyah, mengerutkan kening tidak suka.

​Aresta duduk di samping Gia, bukan di ujung meja seperti biasanya. Ia meraih tangan Gia yang gemetar di atas meja dan menggenggamnya erat.

​"Aku sedang menyapa istriku, Ma!" jawab Aresta tenang sambil menatap ibunya.

"Dan soal status Gia, dia bukan pengganti. Dia adalah Nyonya Ardiansyah yang sah. Jadi, aku minta sama Mama untuk memperlakukannya dengan rasa hormat yang sama seperti Mama memperlakukanku!"

​"Tapi keluarganya sudah menipu kita!"

​"Yang melakukan kesalahan adalah Siska, bukan Gia!" Potong Aresta tegas. Ia kemudian menoleh pada pelayan.

"Bawa jus jeruk segar untuk istriku. Dia terlihat pucat pagi ini!"

​Aresta kemudian beralih pada Gia, suaranya melunak.

"Makanlah yang banyak. Setelah ini, aku akan mengajak kamu ke butik. Aku tidak mau istriku memakai pakaian lama yang terlihat tidak nyaman seperti ini!"

​Gia menatap Aresta dengan rasa tidak percaya. Pria yang semalam begitu dingin dan memilih tidur di sofa, kini berdiri seperti benteng di depannya. Meskipun Gia tahu ini mungkin hanya sandiwara di depan Mamanya, kehangatan tangan Aresta yang belum dilepaskan memberikan keberanian kecil di hatinya.

​"Terima kasih... Mas Ares!" ucap Gia lirih, mencoba memanggilnya dengan sebutan yang lebih akrab. Lebih tepatnya memberanikan diri entah nanti Ares akan menganggapnya salah atau tidak.

​Aresta tampak tertegun sejenak mendengar panggilan itu, namun sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya.

"Sama-sama, sayang!"

Gia tersentak, jantungnya seperti berhenti bekerja secara optimal karena panggilan sayang dari Ares. Apalagi usapan tangan di kepala Gia, rasanya hangat dan nyaman.

Ternyata mendapatkan perlakukan manis dan pembelaan di depan orang lain bisa membuat dirinya lebih tenang dan nyaman. Pantas saja selama ini Siska selalu terlihat percaya diri.

​Nyonya Ardiansyah hanya bisa mendengus kesal, menyadari bahwa putranya yang keras kepala itu telah menetapkan pilihannya.

Terpopuler

Comments

Tamirah Spd

Tamirah Spd

Belum tahu pasti sikap Ares pada Gia, mungkin Ares kasihan pada Gia karena sikap ibu tiri yg kejam atau dia berterima kasih pada Gia yg mau jadi pengantin pengganti biar kedua keluarga terhindar dari rasa malu karena pengantin yg asli nya minggat
dihari pernikahan. lanjut Thor.

2026-02-22

0

febby fadila

febby fadila

ingat gia sekarang kamu sdah menjadi istri seorang aresta ardiansyah jadi, jangan lemah dan sellu tunduk, kamu harus tegakkan kepala kamu harus jadi wanita yg tangguh biar nggak sellu direndahkan oleh orang lain

2026-06-13

0

Nar Sih

Nar Sih

awal cerita yg bnr,,bagus kak👍

2026-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Ganti mempelai
2 Nyonya Ardiansyah
3 Dia istriku yang Sah
4 Di balik kaca film hitam
5 Di bawah temaram lampu tidur
6 Debut yang menegangkan
7 Bukan cinta, tapi butuh
8 Siksaan di ruang tengah
9 Perhatian yang tersembunyi
10 Kopi dan rahasia kecil
11 Rahasia kecil Ares
12 Partner kriminal
13 Tamu yang mengusik ketenangan
14 Gia-ku
15 Restu di balik mangkuk bubur
16 Pameran seni
17 Ambisi Ares di balik kemewahan
18 Antara warna dan desah napas
19 Rasa di balik hujan
20 Rahasia di balik meja makan
21 Bayang-bayang di balik cermin
22 Distraksi indah Sang CEO
23 Goresan pertama
24 Di antara helai rambut
25 Posesif di hari pertama
26 Perhatian yang tak terlihat
27 Kedatangan sang pelindung
28 Perjamuan di ujung senja
29 Ujian di balik kanvas
30 Kanvas rahasia dan debar yang tertahan
31 Malam yang begitu panjang
32 Masalah baru
33 Keberadaan Siska
34 Diantara prahara
35 Jaring laba-laba Siska
36 Labirin kebohongan
37 Logika Sang singa
38 Dinding pemisah
39 Kembali seperti semula
40 Karya luar biasa
41 Mulai terancam
42 Retakan dalam Kepercayaan
43 Retakan yang menganga
44 Semakin rumit
45 Jarak tak kasatmata
46 Penyesalan Ares
47 Tak punya harga diri
48 Hukuman
49 Penebusan di bawah langit Desa
50 Rahasia di Balik Gaun Lebar
51 Masih tetap pelindungmu
52 Menjagamu
53 Bubur kampung
54 Sekdes kurang update
55 Saran Pak sekdes
56 Bunga Desa
57 Mulai melunak
58 Periksa kandungan
59 Kepergian Ares
60 Rindu
61 Menjemput Gia
62 Menampar Andi
63 Di bawah langit malam pedesaan
64 Surga dunia
65 Kembali pulang
66 Mansion Ardiansyah
67 Harapan dibawah langit malam
68 Kedatangan Hilman
69 Air mata diatas pengampunan
70 Mahkota pelindungku
71 Mahar Rasa Bersalah ( Karya baru )
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Ganti mempelai
2
Nyonya Ardiansyah
3
Dia istriku yang Sah
4
Di balik kaca film hitam
5
Di bawah temaram lampu tidur
6
Debut yang menegangkan
7
Bukan cinta, tapi butuh
8
Siksaan di ruang tengah
9
Perhatian yang tersembunyi
10
Kopi dan rahasia kecil
11
Rahasia kecil Ares
12
Partner kriminal
13
Tamu yang mengusik ketenangan
14
Gia-ku
15
Restu di balik mangkuk bubur
16
Pameran seni
17
Ambisi Ares di balik kemewahan
18
Antara warna dan desah napas
19
Rasa di balik hujan
20
Rahasia di balik meja makan
21
Bayang-bayang di balik cermin
22
Distraksi indah Sang CEO
23
Goresan pertama
24
Di antara helai rambut
25
Posesif di hari pertama
26
Perhatian yang tak terlihat
27
Kedatangan sang pelindung
28
Perjamuan di ujung senja
29
Ujian di balik kanvas
30
Kanvas rahasia dan debar yang tertahan
31
Malam yang begitu panjang
32
Masalah baru
33
Keberadaan Siska
34
Diantara prahara
35
Jaring laba-laba Siska
36
Labirin kebohongan
37
Logika Sang singa
38
Dinding pemisah
39
Kembali seperti semula
40
Karya luar biasa
41
Mulai terancam
42
Retakan dalam Kepercayaan
43
Retakan yang menganga
44
Semakin rumit
45
Jarak tak kasatmata
46
Penyesalan Ares
47
Tak punya harga diri
48
Hukuman
49
Penebusan di bawah langit Desa
50
Rahasia di Balik Gaun Lebar
51
Masih tetap pelindungmu
52
Menjagamu
53
Bubur kampung
54
Sekdes kurang update
55
Saran Pak sekdes
56
Bunga Desa
57
Mulai melunak
58
Periksa kandungan
59
Kepergian Ares
60
Rindu
61
Menjemput Gia
62
Menampar Andi
63
Di bawah langit malam pedesaan
64
Surga dunia
65
Kembali pulang
66
Mansion Ardiansyah
67
Harapan dibawah langit malam
68
Kedatangan Hilman
69
Air mata diatas pengampunan
70
Mahkota pelindungku
71
Mahar Rasa Bersalah ( Karya baru )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!