Kau Rebut Kekasihku, Ku Nikahi Ayahmu

Kau Rebut Kekasihku, Ku Nikahi Ayahmu

Pernikahan Yang Kacau

Auryn Athaya Wiguna berdiri terpaku di depan cermin besar yang memantulkan sosok wanita cantik berusia 22 tahun. Gaun putih berbahan brokat halus itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, menjuntai indah hingga ke lantai. Sehelai kain lace transparan tersemat di rambutnya yang disanggul modern, memberikan kesan suci sekaligus rapuh. Di tangannya, seikat buket mawar putih segar digenggam erat, hingga jemarinya memutih karena tekanan.

Matanya menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan yang berkecamuk. Detak jantungnya berpacu liar, bukan hanya karena euforia pernikahan, melainkan karena beban status yang akan segera berganti. Baginya, pernikahan ini bukan sekadar penyatuan cinta, melainkan sebuah gerbang pelarian. Ia ingin keluar dari rumah yang selama ini terasa seperti penjara emosional, jauh dari bayang-bayang ayahnya yang dominan. Ia ingin memiliki kehidupannya sendiri, menentukan arah langkahnya tanpa perlu mendengar dikte dari siapa pun.

"Sudah siap?"

Suara berat itu memecah keheningan kamar. Auryn menoleh pelan. Di ambang pintu, berdiri Danni Wiguna, pria paruh baya berkacamata dengan setelan jas formal yang kaku. Ekspresinya datar, bahkan cenderung tidak bahagia. Tidak ada binar bangga di mata sang ayah saat melihat putrinya akan melangkah ke pelaminan.

Auryn membalas tatapan itu dengan tatapan cuek, sebuah mekanisme pertahanan diri yang sudah ia bangun bertahun-tahun. "Ya, aku siap Pi," balasnya pendek.

Danni melangkah masuk, tangannya bersedekap di dada. "Papi tanya sekali lagi, kamu benar-benar yakin menikah di usia semuda ini? Dengan pria yang baru kamu kenal tiga bulan dan bahkan pekerjaannya hanya karyawan kontrak? Apa yang kamu harapkan dari masa depan seperti itu, Auryn?"

Suara Danni penuh dengan nada meremehkan yang terselubung dalam kedok kekhawatiran. Ia tidak pernah menyetujui hubungan ini sejak awal. Baginya, calon suami Auryn hanyalah kerikil kecil yang tidak level dengan keluarga Wiguna.

Namun, Auryn justru mendongak, menunjukkan raut wajah yang mantap dan keras kepala. "Aku sudah yakin, Pi. Lagian, dengan aku menikah, bukankah ini solusi terbaik untuk Papi? Tak ada lagi anak yang keras kepala di rumah ini. Tak ada lagi anak yang selalu menambah masalah keluarga, dan tak ada lagi anak yang membuat Papi stres setiap hari karena tidak bisa diatur. Bukankah itu yang Papi inginkan?"

Kalimat itu menghunus tajam. Danni menatap putrinya dengan sorot mata yang mengeras. "Papi menegurmu selama ini agar kamu menjadi anak yang baik, Auryn! Agar kamu punya tata krama dan masa depan yang jelas!"

Auryn memutar bola matanya malas, sebuah gestur yang selalu memancing amarah Danni. "Anak baik Papi kan hanya Bang Pandu dan Aneth. Biasanya anak kedua memang jarang dipedulikan, cuma dianggap sebagai pembawa masalah atau pelengkap penderita. Jadi, biarkan aku pergi dengan caraku sendiri."

"Kamu—"

"Mas, jangan lagi ribut-ribut! Penghulu sudah datang. Ayo, Auryn, semua orang sudah menunggu." Maya, ibu Auryn muncul di balik pintu dengan wajah cemas. Ia segera menengahi sebelum perang mulut itu meledak menjadi badai. Maya tahu betul, suami dan putrinya memiliki ego yang sama besarnya, seperti dua batu karang yang saling beradu.

"Gandeng tangan Papi," bisik Maya memperingatkan putrinya dengan tatapan memohon.

Auryn menghela napas kasar. Meski hatinya menolak, ia tidak ingin menciptakan keributan di depan para tamu. Dengan gerakan kaku, lengannya meraih pergelangan tangan ayahnya—tangan yang bahkan ia lupa kapan terakhir kali merangkulnya dengan kasih sayang. Keduanya terdiam dalam kebisuan yang menyesakkan. Danni kemudian memegang telapak tangan Auryn, sebuah formalitas yang terasa dingin.

Mereka mulai berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga rumah mewah keluarga Wiguna. Di lantai bawah, dekorasi bunga-bunga putih dan kursi-kursi yang tertata rapi menyambut mereka. Kamera fotografer mulai menjepret, mengabadikan momen yang terlihat indah dari luar. Auryn memaksakan senyum ramah saat melihat teman-temannya. Dua sahabat baiknya, Jovita dan Gea, melambaikan tangan dengan antusias.

"Auryn OMG! Kamu cantik bangeeeet!" pekik keduanya bersamaan saat Auryn melintas di dekat mereka.

Auryn tersenyum tipis. Ia diarahkan untuk duduk di kursi di hadapan penghulu. Para tamu sudah duduk tenang, dan keluarga inti berdiri di sekeliling area akad. Namun, keheningan yang seharusnya sakral itu perlahan berubah menjadi ketegangan yang aneh.

Menit berlalu. Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit.

"Dimana pengantin prianya?" tanya penghulu dengan raut wajah bingung sembari melirik jam tangannya.

Danni menoleh, menatap putrinya yang kini mulai sibuk dengan ponsel di balik buket bunganya. "Auryn, mana calon suamimu? Hubungi dia, kenapa siang sekali datangnya? Ini sudah lewat jadwal!" bisik Danni dengan nada tertahan yang penuh penekanan.

"Aku ... aku lagi berusaha menghubunginya, Pi. Tapi nomornya tidak aktif," ucap Auryn panik. Jantungnya kini berdegup karena ketakutan, bukan lagi karena gugup.

"Kok bisa? Coba hubungi lagi! Jangan main-main, Auryn!" tegur Danni.

"Tetap tidak aktif!" Auryn mulai gemetar. Wajahnya yang tadi cantik merona kini memucat, berganti dengan semburat merah karena menahan malu dan cemas. Para tamu mulai berbisik-bisik. Suasana menjadi gaduh dengan spekulasi yang tidak enak didengar.

Danni yang merasa harga dirinya dipertaruhkan, merasa sangat malu. Akhirnya, tanpa mempedulikan pandangan orang, ia meraih tangan Auryn dengan kasar dan membawanya pergi ke ruangan belakang, menjauh dari kerumunan.

Maya segera menyusul dengan langkah terburu-buru, diikuti oleh kedua anak mereka yang lain. Setelah sampai di ruang keluarga yang tertutup, Danni melepaskan tangan Auryn dan berbalik dengan emosi yang meledak.

"Kamu gimana sih?! Kenapa dia tidak bisa dihubungi? Keluarga besar dan tamu penting sudah datang! Rekan kerja Papi juga ada di sana! Kamu mau buat malu keluarga?! Kenapa sih kamu sukanya bikin malu keluarga kita?! Gak bisa sekali saja kamu buat Papi bangga!" sentak Danni. Suaranya menggelegar di ruangan itu.

Air mata Auryn luruh seketika. Perasaannya sesak, seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya. Namun, di tengah kehancurannya, ia tetap menatap tajam sang ayah. "Aku memang bisanya buat malu Papi dan Mami saja! Aku juga tidak tahu! Kalian pikir, aku mau kejadian seperti ini? Enggak! Enggak ada yang mau kejadian ini!"

Dalam keadaan seperti ini pun, sang ayah tetap memojokkannya membuat Auryn tak bisa apapun selain berteriak panik.

_____________________________________

Haloooo, berjumpa lagi di karya baruku😍 semoga suka ceritanya yah, ini agak santai kok tapi konflik tetap kuat. Sebenarnya mau rilis yang cerita konflik berat, tapi banyak ngundang emosi. Penulisnya juga ikutan emosi🤣 jadi tunda dulu yah😆

Ini cerita baru yah, bukan cerita turunan oke🫣 jangan lupa dukungannya kawan😍

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

ya ampun... ya ampunnnnnn....
ketinggalan Aku wwoooiii...
s' Ntoon ya bisa²y nyembunyiin karya Otor favorit Aku...

2026-02-19

23

Rosy

Rosy

berarti Auryn anak kedua dari tiga bersaudara..bukan cuma kamu Au.. di real pun anak tengah posisinya sering tidak di anggap..seperti teman aku

2026-02-19

8

sleepyhead

sleepyhead

Muehehehe... aku mah ky permen karet, bawaannya ngintil 😅

2026-02-20

3

lihat semua
Episodes
1 Pernikahan Yang Kacau
2 Titik Rendah Auryn
3 Nikahi Aku Om!
4 Gombalan Maut Auryn
5 Bertemu Ibu Mertua
6 Wanita Gila
7 Perdebatan Kecil
8 Godaan Maut Istri Kecil
9 Pagi Yang Panas
10 Kejutan Di Luar Kejutan
11 Dosenku, Suamiku
12 Welcome Home ... Lea
13 Keributan Malam
14 Keteguhan Auryn
15 Es Krim Siang Hari
16 Tuntutan Auryn
17 Godaan Istri Kecil
18 Antara Istri Dan Anak
19 Hampir
20 Hitam Seperti Semalam Atau ...
21 Kucing Nakal
22 Gagal
23 Kecoa Om
24 Kecoa Om
25 Memulangkanku?
26 Obrolan 2 Ayah
27 Mulai Tergoda
28 Mau Cari Pabrik Baru
29 Tujuan Awal?
30 Sekali Saja ...
31 Kekecewaan Lea
32 Cegil
33 Membatalkan Rencana?
34 Ingin Bercerai
35 Wajah Asli Keandra
36 Perhatian Mertua
37 Teri Balado
38 Tak Akan Memaafkan
39 Panik
40 Ayo, Kita Selesaikan
41 Kembali
42 Tersiksa sendiri
43 Tak Terduga
44 Tamparan Untuk Lea
45 Dia Istri Saya
46 Satu Hari Yang Mudah
47 Obrolan Kakak Beradik
48 Jeandra Bocah Gemas
49 Menguping
50 Tinggalkan Dia!
51 Ternyata ...
52 Patah Hati Sean
53 Aku Mencintainya
54 Suasana Yang Canggung
55 Ketakutan Keandra
56 Cincin Maaf
57 Sakit
58 Masih Perduli?
59 Sleep Call
60 Testpack
61 Hancurnya Seorang Ayah
62 Amarah Keandra
63 Luka Keandra
64 Dilema Auryn
65 Si Kecil Yang Malang
66 Kehebohan Gea
67 Jangan Tinggalkan Aku
68 Karena Aku Mencintaimya
69 Jaminan
70 Pelukan Untuk Lea
71 Jebakan Untuk Digta
72 Kabar Baik?
73 Sidang Keputusan
74 Tingkah Jeandra
75 Bertahanlah!
76 Welcome baby boy
77 Baby Arkan
78 Titik kebahagiaan
79 Juara Bakso
80 Tahun Baru (End)
81 MAFIA
82 BODEL, MAFIA BARU
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Pernikahan Yang Kacau
2
Titik Rendah Auryn
3
Nikahi Aku Om!
4
Gombalan Maut Auryn
5
Bertemu Ibu Mertua
6
Wanita Gila
7
Perdebatan Kecil
8
Godaan Maut Istri Kecil
9
Pagi Yang Panas
10
Kejutan Di Luar Kejutan
11
Dosenku, Suamiku
12
Welcome Home ... Lea
13
Keributan Malam
14
Keteguhan Auryn
15
Es Krim Siang Hari
16
Tuntutan Auryn
17
Godaan Istri Kecil
18
Antara Istri Dan Anak
19
Hampir
20
Hitam Seperti Semalam Atau ...
21
Kucing Nakal
22
Gagal
23
Kecoa Om
24
Kecoa Om
25
Memulangkanku?
26
Obrolan 2 Ayah
27
Mulai Tergoda
28
Mau Cari Pabrik Baru
29
Tujuan Awal?
30
Sekali Saja ...
31
Kekecewaan Lea
32
Cegil
33
Membatalkan Rencana?
34
Ingin Bercerai
35
Wajah Asli Keandra
36
Perhatian Mertua
37
Teri Balado
38
Tak Akan Memaafkan
39
Panik
40
Ayo, Kita Selesaikan
41
Kembali
42
Tersiksa sendiri
43
Tak Terduga
44
Tamparan Untuk Lea
45
Dia Istri Saya
46
Satu Hari Yang Mudah
47
Obrolan Kakak Beradik
48
Jeandra Bocah Gemas
49
Menguping
50
Tinggalkan Dia!
51
Ternyata ...
52
Patah Hati Sean
53
Aku Mencintainya
54
Suasana Yang Canggung
55
Ketakutan Keandra
56
Cincin Maaf
57
Sakit
58
Masih Perduli?
59
Sleep Call
60
Testpack
61
Hancurnya Seorang Ayah
62
Amarah Keandra
63
Luka Keandra
64
Dilema Auryn
65
Si Kecil Yang Malang
66
Kehebohan Gea
67
Jangan Tinggalkan Aku
68
Karena Aku Mencintaimya
69
Jaminan
70
Pelukan Untuk Lea
71
Jebakan Untuk Digta
72
Kabar Baik?
73
Sidang Keputusan
74
Tingkah Jeandra
75
Bertahanlah!
76
Welcome baby boy
77
Baby Arkan
78
Titik kebahagiaan
79
Juara Bakso
80
Tahun Baru (End)
81
MAFIA
82
BODEL, MAFIA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!