Gombalan Maut Auryn

Setelah acara resepsi yang penuh ketegangan itu berakhir, atmosfer di gedung pernikahan tersebut menyisakan kelelahan yang luar biasa. Auryn berdiri di ambang pintu keluar, menyalami satu per satu tamu terakhir yang pulang dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Tubuhnya terasa remuk, tulang punggungnya seolah dipaksa tegak selama berjam-jam, dan kakinya yang terbalut sepatu hak tinggi terasa berdenyut nyeri.

Di sebelahnya, Keandra Mahessa, suami sahnya yang baru saja dilantik secara mendadak tampak sangat kontras. Pria itu berdiri dengan aura tenang, namun tangannya tak lepas dari ponsel, sesekali mengetik pesan dengan ekspresi datar tanpa memedulikan istrinya yang sudah hampir tumbang karena kelelahan. Auryn melirik tajam dari sudut matanya, merasa kesal karena tidak ada sedikit pun inisiatif dari pria itu untuk sekadar menanyakan keadaannya.

"Maklum lah ya, bapak-bapak memang beda. Atau dia memang tidak punya perasaan?" batin Auryn sinis.

"Acara sudah selesai. Kalian rencananya bagaimana? Mau menginap di sini atau pulang ke rumah Papi dulu?" Danni Wiguna datang menghampiri, memecah kecanggungan di antara pengantin baru itu.

Auryn baru saja akan membuka mulut untuk mengeluh lelah, namun Keandra lebih cepat bertindak. Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku jas biru gelapnya, lalu menatap Danni dengan sorot mata yang serius dan penuh tekanan.

"Tentunya, saya akan membawa Auryn pulang ke rumah saya malam ini juga," ucap Keandra santai, namun nadanya tak menerima bantahan.

"Apa tidak terlalu buru-buru? Hari sudah malam, Keandra. Auryn pasti sangat lelah," sela Maya, ibu Auryn, dengan raut wajah cemas. Ia masih belum rela melepaskan putrinya begitu saja ke tangan pria yang baru mereka kenal dalam hitungan jam.

Keandra menoleh, menatap ibu mertuanya dengan sopan namun tetap tegas. "Maaf, pernikahan ini terjadi sangat mendadak. Saya punya banyak urusan besok pagi, dan akan lebih tepat jika Auryn mulai beradaptasi dengan rumah saya sekarang juga."

Danni menghela napas panjang. Meski berat hati, ia tahu Keandra bukan tipe pria yang bisa didebat dengan mudah. Ia beralih menatap putrinya, mencoba memberikan wejangan terakhir yang, sayangnya, terdengar seperti peringatan bagi Auryn.

"Baiklah, pergilah bersama suamimu. Tolong, Auryn ... hilangkan sedikit keras kepalamu itu. Jangan buat malu keluarga kita di rumah orang lain. Jadilah istri yang penurut," ucap Danni.

Auryn memutar bola matanya malas. Bahkan di saat ia pergi, ayahnya masih sempat menyentil martabat keluarga. "Memang itu impianku, Pi. Keluar dari sini. Papi juga pasti bahagia bisa menikmati hidup tenang tanpa anak pembawa masalah seperti aku, kan? Ayo Om, bawa aku pergi," ucap Auryn ketus. Ia langsung melangkah pergi menuju kamarnya untuk berganti baju, meninggalkan kedua orang tuanya yang terpaku.

Maya bergegas menyusul putrinya ke kamar, meninggalkan Danni berdua dengan Keandra. Pria paruh baya itu membenarkan letak kacamata dan menatap menantunya dengan pandangan yang lebih lunak.

"Putriku memang sedikit keras, tapi dia penyayang. Dia memang ngeyelan, tapi jika ditegur baik-baik, dia sebenarnya menurut. Jika ada masalah yang dia buat nanti, tolong kabari saya. Memang saya sudah menyerahkan tanggung jawab menjaganya sepenuhnya padamu, tapi bagaimanapun juga, saya adalah ayahnya," ucap Danni dengan nada tulus yang jarang ia tunjukkan.

Keandra tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. "Baiklah. Saya pasti akan mendidiknya dengan baik, Tuan Danni."

"Tak perlu panggil Tuan. Panggil Papi saja, walau ya ... usia kita hanya berbeda belasan tahun saja," ringis Danni. Ia sendiri merasa canggung menyadari bahwa menantunya hampir seangkatan dengannya.

Di dalam kamar, Auryn bergerak cepat. Ia menanggalkan gaun pengantinnya yang berat dan menggantinya dengan pakaian yang jauh lebih santai, sebuah kaos dan rok pendek di atas lutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Ia menarik koper besar yang sebenarnya sudah ia siapkan sejak kemarin untuk rencana lari bersama Digta, namun takdir membawanya pergi dengan pria lain.

Maya yang berdiri di dekat pintu menahan tangis. Seburuk apa pun hubungan Auryn dengan ayahnya, bagi Maya, Auryn tetaplah bayi kecilnya. "Beneran mau pergi sekarang, Ryn? Mami masih mau kamu menginap di sini barang semalam."

Auryn menghela napas, melepaskan pegangan kopernya dan memeluk ibunya erat. "Mami... walau Mami sering mengomel, tapi Mami satu-satunya yang membelaku dari Papi. Mami tahu sendiri, aku dan Papi tidak bisa tinggal satu atap. Kami sama-sama keras. Aku tidak bisa jadi anak kebanggaannya, jadi biarkan aku punya kehidupanku sendiri."

Setelah pelukan terlepas, Maya mengusap air matanya. "Iya, Nak. Sering-sering kunjungi Mami, ya?"

"Pasti," jawab Auryn singkat. Ia menarik kopernya keluar kamar, melewati Pandu dan Aneth yang berdiri di ambang pintu. Tanpa kata pamit yang manis, Auryn melenggang pergi dengan langkah mantap. Ia merasa telah memenangkan babak pertama dalam pertarungan melawan ayahnya.

.

.

.

.

Auryn masuk ke dalam mobil mewah milik Keandra, duduk bersandar di kursi penumpang yang empuk. Sementara itu, Keandra memasukkan koper Auryn ke dalam bagasi dengan gerakan efisien sebelum akhirnya duduk di kursi kemudi.

Auryn menarik sabuk pengamannya, lalu menyandarkan kepalanya. Sebuah senyum misterius mengembang di bibirnya yang dipulas lipstik tipis. Matanya berbinar penuh rencana.

"Kita akan bertemu, lalat bisul ... lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu," gumam Auryn ceria, merujuk pada Lea, putri Keandra yang menjadi target balas dendamnya.

Keandra yang baru saja duduk di kursi kemudi sempat mendengar gumaman itu namun memilih mengabaikannya. Ia menarik sabuk pengaman, namun saat akan menjalankan mobil, matanya tak sengaja melirik ke arah samping. Ia melihat paha Auryn yang tersingkap karena dress yang ia kenakan terangkat saat duduk.

Keandra berdecak kesal. Wajahnya mengeras. Tanpa banyak bicara, ia melepas jas birunya dan melemparnya dengan kasar ke atas paha istri kecilnya itu.

"Terlalu pendek. Kenapa tidak sekalian pakai celana dalam saja, huh? Pakai celana pun rasanya tak berguna kalau pendeknya seperti itu," desis Keandra tajam sambil menyalakan mesin mobil.

Auryn awalnya kaget dengan lemparan jas itu, namun bukannya takut, ia justru tersenyum menyeringai. Ia menangkap kegugupan yang tersembunyi di balik ketegasan Keandra. Auryn justru sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Keandra, menatap pria itu dengan tatapan nakal yang menantang.

"Kenapa, Om? Kamu lebih suka aku tanpa celana?" bisik Auryn dengan nada menggoda.

"UHUK!" Keandra tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya yang semula datar kini memerah padam karena terkejut dengan keberanian gadis di depannya ini. Matanya membulat menatap Auryn yang kini tertawa kecil melihat reaksinya.

"Sabar, Om. Jalankan mobilnya dulu. Tidak mungkin kita melakukannya di dalam mobil sekarang, kan?" ucap Auryn santai sembari kembali bersandar, menikmati kemenangannya membuat pria matang itu kehilangan ketenangan.

Keandra menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menjernihkan pikirannya. Ia segera melajukan mobilnya menjauhi kediaman Wiguna dengan perasaan yang campur aduk. Ia menyadari satu hal malam ini, istrinya bukan sekadar gadis manja yang baru kuliah.

"Ini bocah bukan sembarang bocah. Sepertinya aku harus benar-benar berhati-hati agar tidak termakan permainannya sendiri," batin Keandra sambil mengencangkan pegangannya pada kemudi.

________________________________

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

astagaaaaaa....
bisul aja bentuk 'y lebih gede dari lalat.,
lha klo lalat bisul piye Thor bentukane

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2026-02-20

12

jumirah slavina

jumirah slavina

ini bocah bukan sembarang bocah
CAKEP
bocah d'taman berjalan sendiri
CAKEP
ini bocah yang bisa bikin bocah
CAKEP
ati² termakan permainan sendiri
EEEAAAAAA

Kaindra : malah pantun s' Jumi

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2026-02-20

30

jumirah slavina

jumirah slavina

halah sok menantang.,
d'terkam s' Kaindra nangis membabi buta nanti

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2026-02-20

10

lihat semua
Episodes
1 Pernikahan Yang Kacau
2 Titik Rendah Auryn
3 Nikahi Aku Om!
4 Gombalan Maut Auryn
5 Bertemu Ibu Mertua
6 Wanita Gila
7 Perdebatan Kecil
8 Godaan Maut Istri Kecil
9 Pagi Yang Panas
10 Kejutan Di Luar Kejutan
11 Dosenku, Suamiku
12 Welcome Home ... Lea
13 Keributan Malam
14 Keteguhan Auryn
15 Es Krim Siang Hari
16 Tuntutan Auryn
17 Godaan Istri Kecil
18 Antara Istri Dan Anak
19 Hampir
20 Hitam Seperti Semalam Atau ...
21 Kucing Nakal
22 Gagal
23 Kecoa Om
24 Kecoa Om
25 Memulangkanku?
26 Obrolan 2 Ayah
27 Mulai Tergoda
28 Mau Cari Pabrik Baru
29 Tujuan Awal?
30 Sekali Saja ...
31 Kekecewaan Lea
32 Cegil
33 Membatalkan Rencana?
34 Ingin Bercerai
35 Wajah Asli Keandra
36 Perhatian Mertua
37 Teri Balado
38 Tak Akan Memaafkan
39 Panik
40 Ayo, Kita Selesaikan
41 Kembali
42 Tersiksa sendiri
43 Tak Terduga
44 Tamparan Untuk Lea
45 Dia Istri Saya
46 Satu Hari Yang Mudah
47 Obrolan Kakak Beradik
48 Jeandra Bocah Gemas
49 Menguping
50 Tinggalkan Dia!
51 Ternyata ...
52 Patah Hati Sean
53 Aku Mencintainya
54 Suasana Yang Canggung
55 Ketakutan Keandra
56 Cincin Maaf
57 Sakit
58 Masih Perduli?
59 Sleep Call
60 Testpack
61 Hancurnya Seorang Ayah
62 Amarah Keandra
63 Luka Keandra
64 Dilema Auryn
65 Si Kecil Yang Malang
66 Kehebohan Gea
67 Jangan Tinggalkan Aku
68 Karena Aku Mencintaimya
69 Jaminan
70 Pelukan Untuk Lea
71 Jebakan Untuk Digta
72 Kabar Baik?
73 Sidang Keputusan
74 Tingkah Jeandra
75 Bertahanlah!
76 Welcome baby boy
77 Baby Arkan
78 Titik kebahagiaan
79 Juara Bakso
80 Tahun Baru (End)
81 MAFIA
82 BODEL, MAFIA BARU
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Pernikahan Yang Kacau
2
Titik Rendah Auryn
3
Nikahi Aku Om!
4
Gombalan Maut Auryn
5
Bertemu Ibu Mertua
6
Wanita Gila
7
Perdebatan Kecil
8
Godaan Maut Istri Kecil
9
Pagi Yang Panas
10
Kejutan Di Luar Kejutan
11
Dosenku, Suamiku
12
Welcome Home ... Lea
13
Keributan Malam
14
Keteguhan Auryn
15
Es Krim Siang Hari
16
Tuntutan Auryn
17
Godaan Istri Kecil
18
Antara Istri Dan Anak
19
Hampir
20
Hitam Seperti Semalam Atau ...
21
Kucing Nakal
22
Gagal
23
Kecoa Om
24
Kecoa Om
25
Memulangkanku?
26
Obrolan 2 Ayah
27
Mulai Tergoda
28
Mau Cari Pabrik Baru
29
Tujuan Awal?
30
Sekali Saja ...
31
Kekecewaan Lea
32
Cegil
33
Membatalkan Rencana?
34
Ingin Bercerai
35
Wajah Asli Keandra
36
Perhatian Mertua
37
Teri Balado
38
Tak Akan Memaafkan
39
Panik
40
Ayo, Kita Selesaikan
41
Kembali
42
Tersiksa sendiri
43
Tak Terduga
44
Tamparan Untuk Lea
45
Dia Istri Saya
46
Satu Hari Yang Mudah
47
Obrolan Kakak Beradik
48
Jeandra Bocah Gemas
49
Menguping
50
Tinggalkan Dia!
51
Ternyata ...
52
Patah Hati Sean
53
Aku Mencintainya
54
Suasana Yang Canggung
55
Ketakutan Keandra
56
Cincin Maaf
57
Sakit
58
Masih Perduli?
59
Sleep Call
60
Testpack
61
Hancurnya Seorang Ayah
62
Amarah Keandra
63
Luka Keandra
64
Dilema Auryn
65
Si Kecil Yang Malang
66
Kehebohan Gea
67
Jangan Tinggalkan Aku
68
Karena Aku Mencintaimya
69
Jaminan
70
Pelukan Untuk Lea
71
Jebakan Untuk Digta
72
Kabar Baik?
73
Sidang Keputusan
74
Tingkah Jeandra
75
Bertahanlah!
76
Welcome baby boy
77
Baby Arkan
78
Titik kebahagiaan
79
Juara Bakso
80
Tahun Baru (End)
81
MAFIA
82
BODEL, MAFIA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!