BAB 2: CINCIN PUSAKA YANG BERDEBU

Matahari mulai condong ke barat ketika Ha-neul berjalan melewati koridor batu yang menghubungkan area belakang dengan kompleks utama Klan Pedang Kang. Sepatu jerami usangnya menapak pelan di atas batu andesit yang terawat rapi—kontras dengan penampilannya yang lusuh. Dua orang murid lewat di sampingnya, mendengus dan mempercepat langkah seolah tak ingin berlama-lama berada di dekatnya.

Ha-neul tidak peduli. Pikirannya sibuk dengan apa yang akan terjadi sebentar lagi.

Rapat keluarga.

Ini bukan rapat biasa. Ini adalah pengumuman resmi. Dae-ho sudah memberitahunya pagi tadi, meski dengan cara yang menghina. Ayah Dae-ho, Kang Jin-sung—paman Ha-neul—akhirnya akan secara sah mencoret namanya dari garis suksesi kepemimpinan klan.

Secara teknis, itu hanya formalitas. Semua orang sudah tahu statusnya saat ini. Tapi mendengarnya diucapkan di depan para tetua, di depan sisa-sisa keluarga yang masih ada... itu adalah pukulan terakhir. Penghapusan total atas apa yang pernah ia miliki.

Ruang leluhur terletak di bangunan paling tengah dan tertinggi. Atapnya bersusun tiga dengan ukiran naga dan burung hong yang dilapisi emas. Dua patung singa batu berjaga di pintu masuk, matanya yang bulat seolah menghakimi setiap orang yang melangkah masuk.

Ha-neul berhenti di depan pintu. Ia bisa mendengar suara percakapan dari dalam.

"...tidak ada pilihan lain, demi masa depan klan." Itu suara pamannya, berat dan penuh wibawa.

"Tapi secara adat, bukankah garis keturunan langsung tetap harus diutamakan?" Suara lain, lebih tua. Mungkin tetua Kang Sung-ho, salah satu dari sedikit orang yang masih diam-diam membela ayah Ha-neul dulu.

"Tetua Sung-ho, saya paham kekhawatiran Anda. Tapi lihatlah kenyataannya. Anak itu bahkan tidak mampu mengumpulkan sedikit pun energi pedang selama tiga tahun. Apa kita akan menyerahkan Klan Pedang Kang pada seseorang yang tak bisa membedakan pedang dengan besi tua?" Suara Jin-sung terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal.

Ha-neul menarik napas panjang. Lalu ia melangkah masuk.

Semua mata tertuju padanya. Sekitar dua belas orang duduk di bantalan sesuai urutan senioritas. Di altar belakang, terpampang puluhan tablet kayu bertuliskan nama para leluhur Klan Pedang Kang. Lilin-lilin menyala redup, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding.

Kang Jin-sung duduk di kursi utama—kursi yang dulu diduduki ayah Ha-neul. Di sampingnya, Nyonya Min, istri pamannya, menatap Ha-neul dengan sorot mata dingin. Di belakang mereka, Kang Dae-ho berdiri dengan senyum puas.

"Ha-neul." Jin-sung memanggil dengan nada resmi. "Duduk."

Ha-neul duduk di bantalan paling ujung, paling jauh dari altar. Posisi terendah.

Tetua Kang Sung-ho—pria tua berambut putih dengan jenggot panjang—menatapnya dengan iba. Tapi ia tak bisa berbuat banyak. Suara terbanyak sudah berpihak pada Jin-sung.

"Kita berkumpul di sini untuk membahas hal penting," Jin-sung memulai. "Seperti yang kalian tahu, tiga tahun lalu, klan kita kehilangan pemimpin yang hebat, Kang Jin-ho, karena serangan mendadak dari para pembunuh bayaran tak dikenal. Sejak saat itu, saya dipercaya untuk memegang tampuk kepemimpinan sementara hingga putra sulungnya, Kang Ha-neul, siap menggantikan."

Ia berhenti, menatap Ha-neul. Semua orang ikut menatap.

"Namun, takdir berkata lain. Akibat luka yang dideritanya saat mencoba membela ayahnya, meridian Ha-neul rusak parah. Selama tiga tahun, tak ada kemajuan. Bahkan, level kultivasinya terus merosot hingga ke level 1 Bintang Roh Pedang—level terendah yang pernah tercatat dalam sejarah klan kita."

Bisik-bisik mulai terdengar. Beberapa tetua menggeleng.

"Saya sudah berkonsultasi dengan para tabib terbaik. Semua berkata: pemulihan tidak mungkin. Luka meridiannya terlalu parah, seperti sungai yang bendungannya hancur total. Airnya sudah mengering."

Jin-sung menghela napas, berpura-pura sedih. "Dengan berat hati, sebagai pemangku sementara, saya mengusulkan agar status Kang Ha-neul sebagai pewaris resmi dicabut. Kita butuh penerus yang kuat untuk menghadapi ancaman dari luar. Apakah ada yang keberatan?"

Sunyi.

Tetua Sung-ho membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tahu ini sudah ditentukan sebelumnya. Keberatan hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

"Kalau begitu, saya minta—"

"Saya tidak keberatan."

Semua orang terkejut. Suara itu datang dari Ha-neul sendiri.

Ia bangkit berdiri. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Matanya kosong menatap pamannya.

"Ha-neul... kamu..." Jin-sung tampak tidak percaya. Ia pikir akan ada perlawanan, tangisan, atau setidaknya permohonan.

"Apa gunanya mempertahankan sesuatu yang memang bukan milik saya lagi?" Ha-neul berkata pelan. "Saya hanya ingin satu hal, Paman. Biarkan saya dan Soo-ah tinggal di gudang belakang. Kami tidak butuh apa-apa dari klan. Cukup izin untuk tetap tinggal."

Nyonya Min mendengus pelan. "Huh, memangnya mau ke mana? Di luar sana kalian akan mati kelaparan."

"Diam!" desis Jin-sung pada istrinya. Lalu ia menatap Ha-neul dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kemenangan di sana, tapi juga sedikit... rasa bersalah? Atau mungkin hanya perasaan lega karena hambatan terakhir tersingkir.

"Dikabulkan," katanya akhirnya. "Kamu dan adikmu boleh tinggal. Sebagai keluarga, kami tidak akan membiarkan kalian terlantar."

Omong kosong. Ha-neul tahu itu. Tapi ia hanya mengangguk.

"Terima kasih, Paman."

Ia berbalik, melangkah keluar dari ruang leluhur tanpa menunggu acara selesai. Di ambang pintu, ia berpapasan dengan Dae-ho yang menyeringai lebar.

"Selamat, sepupu. Sekarang statusmu resmi: sampah." bisik Dae-ho.

Ha-neul tidak menjawab. Ia terus berjalan.

 

Malam turun dengan cepat di Pegunungan Hwa. Udara dingin menusuk tulang, apalagi di gudang reyot yang dindingnya penuh celah. Ha-neul duduk di sudut ruangan, menatap lilin kecil yang hampir habis. Soo-ah sudah tidur di pojok lain, terbungkus selimut tipis tambalan. Ia tidak tahu apa yang terjadi di ruang leluhur tadi. Ha-neul tidak punya hati untuk menceritakannya.

Tangannya meraba saku celana. Jari-jarinya menyentuh benda keras dan dingin. Cincin giok hitam peninggalan ayahnya.

Ia mengeluarkannya, menatapnya di bawah cahaya lilin yang temaram. Cincin itu sederhana, tanpa ukiran atau hiasan, hanya batu giok hitam pekat dengan sedikit urat merah di dalamnya. Ayahnya memberikannya saat Ha-neul berusia sepuluh tahun, sehari setelah ia berhasil mencapai level 1 Bintang Roh Pedang untuk pertama kalinya.

"Ini pusaka keluarga, Nak. Sudah diwariskan turun-temurun dari generasi pertama Klan Pedang Kang. Suatu hari nanti, saat kamu siap, cincin ini akan membantumu."

Ha-neul teringat kata-kata itu. Waktu itu ia bertanya, "Membantu bagaimana, Ayah?"

Ayahnya hanya tersenyum misterius. "Kamu akan tahu saat waktunya tiba."

Sekarang ayahnya sudah tiada. Dan Ha-neul tidak pernah tahu apa maksudnya. Cincin ini tidak pernah melakukan apa pun selain menjadi pengingat akan masa lalu yang indah.

Ha-neul menghela napas. Ia memutar-mutar cincin di jarinya.

"Ayah... aku gagal," bisiknya dalam gelap. "Aku kehilangan segalanya. Maafkan aku."

Udara dingin menusuk, membuatnya menggigil. Ia ingin menangis, tapi air matanya sudah lama kering. Tiga tahun penuh penderitaan telah mengajarinya bahwa menangis tidak berguna. Hanya tindakan yang berarti.

Tapi apa yang bisa ia lakukan? Dengan kekuatan yang hampir habis, dengan status sampah yang kini resmi disahkan... apa masa depannya? Menjadi kuli di klannya sendiri sampai mati? Melihat Soo-ah tumbuh dalam kemiskinan, tak bisa menikah dengan baik karena status kakaknya yang hina?

Tidak.

Ia menggenggam cincin itu erat-erat. Hingga ujung jarinya memutih.

Tiba-tiba—

Ssssttt...

Ha-neul tersentak. Ia mendengar sesuatu. Seperti desisan ular, tapi sangat pelan, hampir tak terdengar. Dan anehnya, desisan itu datang dari... cincin di tangannya?

Ia menatap cincin itu. Di bawah cahaya lilin yang redup, ia melihat sesuatu. Urat merah di dalam batu giok hitam itu... bergerak. Perlahan, seperti aliran darah.

"Ha—?"

Belum sempat ia berteriak kaget, ujung jarinya yang tergenggam erat tiba-tiba terasa perih. Seperti tertusuk jarum. Darah menetes dari sela-sela jarinya, meresap ke permukaan cincin.

Dan cincin itu... menyala.

Bukan api, tapi cahaya merah gelap yang keluar dari celah-celah batu giok. Cahaya itu menjalar ke tangannya, terasa hangat—tidak panas, hanya hangat seperti tangan seseorang yang memegangnya. Ha-neul ingin melepaskan cincin itu, tapi tangannya seolah terkunci. Ia tidak bisa bergerak.

"A-Apa... apa ini?!"

Cahaya merah itu semakin terang. Memenuhi seluruh ruangan. Ha-neul melihat bayangan-bayangan aneh menari-nari di dinding. Dan suara desisan itu berubah menjadi tawa. Tawa tua, serak, seperti orang yang sudah lama tidak menggunakan pita suaranya.

"Heh... akhirnya... setelah seratus tahun..."

Dari pusaran cahaya merah itu, perlahan-lahan terbentuk sesosok bayangan. Samar-samar, berbentuk manusia. Rambut panjang tergerai, jubah hitam compang-camping, dan yang paling mencolok—sepasang mata merah menyala yang menatap Ha-neul tepat di wajah.

Ha-neul tersentak mundur, jatuh tersungkur. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Ketakutan luar biasa mencengkeram hatinya.

Sosok bayangan itu tertawa lagi. Kali lebih keras.

"Jangan takut, bocah. Aku bukan hantu... yah, mungkin sedikit hantu. Tapi aku lebih tepatnya disebut... arwah penasaran."

Ia melayang mendekat, menunduk, menatap Ha-neul dari atas. Senyum tipis terukir di wajah transparannya.

"Namaku Hyeol-geon. Dulu orang-orang memanggilku Iblis Pedang Berdarah. Dan kau... kau keturunan siapa? Aroma darahmu... aku mengenalnya."

Ha-neul hanya bisa terpaku, jantung berdebar kencang, otaknya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

Dan di luar gudang, angin malam bertiup lebih kencang, seolah menyambut kembalinya sesuatu yang telah lama terkubur.

 

Episodes
1 BAB 1: SAMPAH DI SURGA PEDANG
2 BAB 2: CINCIN PUSAKA YANG BERDEBU
3 BAB 3: SUARA DARI KEGELAPAN
4 BAB 4: JANJI FAJAR
5 BAB 5: DASAR PEDANG IBLIS
6 BAB 6: BAYANGAN DI BALIK TEMBOK
7 BAB 7: TITIK TERENDAH
8 BAB 8: LEMBAH BAYANGAN
9 BAB 9: JEJAK MASA LALU
10 BAB 10: BADAI PERTAMA
11 BAB 11: PELARIAN
12 BAB 12: DUA DUNIA
13 BAB 13: KOTA SELATAN
14 BAB 14: PENDAFTARAN
15 BAB 15: BERUANG GILA
16 BAB 16: BAYANGAN BARU
17 BAB 17: UJIAN TERTUTUP
18 BAB 18: DEBUT
19 BAB 19: KABAR BURUK
20 BAB 20: GUDANG PELABUHAN
21 BAB 21: JALAN KE UTARA
22 BAB 22: GERBANG IBLIS
23 BAB 23: LEMBAH TERSEMBUNYI
24 BAB 24: RITUAL HATI NAGA
25 BAB 25: JURUS KEDUA
26 BAB 26: TAMU TAK DIUNDANG
27 BAB 27: TIGA IBLIS
28 BAB 28: GERBANG SEKTE
29 BAB 29: PERTARUNGAN PERTAMA
30 BAB 30: BABAK GUGUR
31 BAB 31: BABAK 16 BESAR
32 BAB 32: PERTARUNGAN MELAWAN TEMAN
33 BAB 33: FINAL
34 BAB 34: RITUAL PENGUATAN IBLIS
35 BAB 35: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
36 BAB 36: KEMBALI KE LEMBAH
37 BAB 37: LATIHAN KERAS
38 BAB 38: MENUJU MARKAS IBLIS
39 BAB 39: PERTARUNGAN TERAKHIR
40 BAB 40: PULANG
41 BAB 41: HIDUP BARU
42 BAB 42: JEJAK DI ANGIN
43 BAB 43: TIGA BAYANGAN
44 BAB 44: DARATAN BARU
45 BAB 45: AKAR DI TANAH BARU
46 BAB 46: MISI PERTAMA
47 BAB 47: BAYANGAN DI ISTANA
48 BAB 48: PERAYAAN MUSIM PANAS
49 BAB 49: INTRIK ISTANA
50 BAB 50: BADAI POLITIK
51 BAB 51: PENGHADANGAN
52 BAB 52: MALAM PERTUMPAHAN DARAH
53 BAB 53: PENGHARGAAN DAN PENGAKUAN
54 BAB 54: TAHUN-TAHUN DAMAI
55 BAB 55: GUNCANGAN DI UTARA
56 BAB 56: AKHIR DARI AWAL
57 BAB 57: RUMAH DI SELATAN
58 BAB 58: GENERASI BARU
59 BAB 59: SEKTE NAGA HITAM
60 BAB 60: AKHIR PERJALANAN
Episodes

Updated 60 Episodes

1
BAB 1: SAMPAH DI SURGA PEDANG
2
BAB 2: CINCIN PUSAKA YANG BERDEBU
3
BAB 3: SUARA DARI KEGELAPAN
4
BAB 4: JANJI FAJAR
5
BAB 5: DASAR PEDANG IBLIS
6
BAB 6: BAYANGAN DI BALIK TEMBOK
7
BAB 7: TITIK TERENDAH
8
BAB 8: LEMBAH BAYANGAN
9
BAB 9: JEJAK MASA LALU
10
BAB 10: BADAI PERTAMA
11
BAB 11: PELARIAN
12
BAB 12: DUA DUNIA
13
BAB 13: KOTA SELATAN
14
BAB 14: PENDAFTARAN
15
BAB 15: BERUANG GILA
16
BAB 16: BAYANGAN BARU
17
BAB 17: UJIAN TERTUTUP
18
BAB 18: DEBUT
19
BAB 19: KABAR BURUK
20
BAB 20: GUDANG PELABUHAN
21
BAB 21: JALAN KE UTARA
22
BAB 22: GERBANG IBLIS
23
BAB 23: LEMBAH TERSEMBUNYI
24
BAB 24: RITUAL HATI NAGA
25
BAB 25: JURUS KEDUA
26
BAB 26: TAMU TAK DIUNDANG
27
BAB 27: TIGA IBLIS
28
BAB 28: GERBANG SEKTE
29
BAB 29: PERTARUNGAN PERTAMA
30
BAB 30: BABAK GUGUR
31
BAB 31: BABAK 16 BESAR
32
BAB 32: PERTARUNGAN MELAWAN TEMAN
33
BAB 33: FINAL
34
BAB 34: RITUAL PENGUATAN IBLIS
35
BAB 35: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
36
BAB 36: KEMBALI KE LEMBAH
37
BAB 37: LATIHAN KERAS
38
BAB 38: MENUJU MARKAS IBLIS
39
BAB 39: PERTARUNGAN TERAKHIR
40
BAB 40: PULANG
41
BAB 41: HIDUP BARU
42
BAB 42: JEJAK DI ANGIN
43
BAB 43: TIGA BAYANGAN
44
BAB 44: DARATAN BARU
45
BAB 45: AKAR DI TANAH BARU
46
BAB 46: MISI PERTAMA
47
BAB 47: BAYANGAN DI ISTANA
48
BAB 48: PERAYAAN MUSIM PANAS
49
BAB 49: INTRIK ISTANA
50
BAB 50: BADAI POLITIK
51
BAB 51: PENGHADANGAN
52
BAB 52: MALAM PERTUMPAHAN DARAH
53
BAB 53: PENGHARGAAN DAN PENGAKUAN
54
BAB 54: TAHUN-TAHUN DAMAI
55
BAB 55: GUNCANGAN DI UTARA
56
BAB 56: AKHIR DARI AWAL
57
BAB 57: RUMAH DI SELATAN
58
BAB 58: GENERASI BARU
59
BAB 59: SEKTE NAGA HITAM
60
BAB 60: AKHIR PERJALANAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!