BAB 4: JANJI FAJAR

Ha-neul bermimpi.

Ia berdiri di tengah padang luas yang tak berujung. Rumput-rumput hijau bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi. Langit di atasnya biru cerah tanpa secuil awan. Di kejauhan, ia melihat sesosok tubuh berdiri membelakanginya—postur tegap, berjubah hitam, rambut panjang tergerai.

"Ayah?" panggilnya.

Sosok itu berbalik. Bukan wajah ayahnya. Tapi wajah Hyeol-geon, dengan senyum tipis yang sinis.

"Bangun, bocah. Kau bermimpi indah, ya?"

Ha-neul tersentak. Matanya terbuka lebar. Langit-langit gudang yang bocor, bau apek karung goni, dan hawa dingin menusuk tulang menyambutnya. Belum juga ia sempat mengumpulkan kesadaran, suara tua itu kembali terdengar—langsung di dalam kepalanya.

"Jangan melongo. Lihat ke luar. Masih gelap? Syukurlah. Kau tidak kesiangan."

Ha-neul menengok ke jari manisnya. Cincin giok hitam itu masih melingkar di sana, samar-samar bercahaya merah.

"Kau... kau bisa bicara lewat pikiran?"

"Iya. Lebih praktis. Sekarang bangun. Kita punya janji fajar, ingat? Lari keliling gunung."

Ha-neul mengerang pelan. Ia menatap ke luar celah dinding. Langit masih gelap gulita. Mungkin baru jam tiga pagi.

"Masih gelap..."

"Itu justru waktu terbaik. Bangun! Atau kau mau aku cubit dari dalam?"

Ha-neul segera bangkit. Ia tidak tahu apakah arwah bisa mencubit dari dalam cincin, tapi ia tidak mau ambil risiko. Dengan hati-hati, ia bangun dan melirik ke pojok ruangan. Soo-ah masih tidur dengan posisi meringkuk, napasnya terdengar teratur.

Ha-neul meraih baju tambalannya, mengenakannya pelan-pelan agar tidak berisik. Lalu ia melangkah ke pintu, membukannya dengan hati-hati.

Udara dingin langsung menyergap wajahnya. Kabut tipis menyelimuti pekarangan belakang, membuat segalanya tampak abu-abu dan misterius. Ha-neul menggigil, menggosok-gosok lengannya.

"Kenapa berhenti? Lari!" perintah Hyeol-geon.

"Tunggu... aku belum pemanasan."

"Lari adalah pemanasan! Dasar anak muda sekarang, banyak teori. Jaman dulu, murid-muridku langsung lari tanpa banyak bicara. Kalau ada yang protes, kuajari dengan ujung pedang."

Ha-neul menghela napas. Ia mulai berlari kecil, meninggalkan gudang menuju jalan setapak di belakang kompleks. Jalan ini jarang dilewati, menanjak, dan penuh batu kerikil. Dulu, saat masih kecil, ia sering berlari di sini bersama ayahnya.

"Lari lebih cepat. Jalan santai begitu namanya jalan pagi, bukan latihan."

Ha-neul memacu langkahnya. Napasnya mulai memburu. Tubuhnya yang tiga tahun jarang bergerak berat langsung protes. Otot-otot pahanya terasa seperti diiris sembilu.

"Kiri... kanan... kiri... kanan... jaga ritme. Jangan mikirin sakit. Sakit itu cuma perasaan."

"Kau... bisa... diam... tidak?" desis Ha-neul di antara napas.

"Bisa. Tapi nanti kau lari sampai matahari terbit sendirian, dan aku cuma nonton."

Ha-neul memilih diam dan terus berlari. Kabut mulai menipis seiring ia meninggalkan kompleks klan. Pepohonan pinus menjulang di kiri-kanan, sesekali daun-daun basah meneteskan air embun ke rambutnya.

Setelah satu putaran—yang terasa seperti seratus kilometer—Ha-neul berhenti di sebuah tanah lapang kecil di lereng gunung. Ia membungkuk, memegangi lutut, terengah-engah.

"Ka-kapan... tiga puturan... selesai?" tanyanya putus asa.

"Itu baru setengah putaran pertama."

"Apa?!"

"Heh, bercanda. Kau sudah hampir dua putaran. Lumayan untuk pemula."

Ha-neul ingin memaki, tapi tidak punya energi. Ia menjatuhkan diri ke rerumputan basah, membiarkan dadanya naik turun mengambil oksigen sebanyak mungkin.

Hyeol-geon muncul di sampingnya—hanya samar, hampir tak terlihat di bawah cahaya fajar yang mulai merekah. Ia duduk bersila di udara, menatap Ha-neul dengan sorot menilai.

"Kondisimu parah, bocah. Otot-otot atrofi, stamina payah, dan meridianmu... ya ampun, seperti sungai yang dibendung sampah."

Ha-neul hanya menggerutu pasrah.

"Tapi kau punya kemauan. Itu yang penting. Teknik bisa dipelajari, otot bisa dibentuk, meridian bisa dibuka. Tapi kemauan... itu bawaan lahir. Ayahmu mewariskan itu padamu."

Sebutan tentang ayah membuat Ha-neul terdiam. Ia menatap langit yang perlahan berubah jingga.

"Ayah... apa ayah tahu kau ada di cincin ini?"

"Tidak. Seperti yang kubilang, enam generasi keluargamu tidak ada yang bisa membangunkanku. Mereka semua terlalu... stabil. Hidup nyaman, mati tenang. Tidak ada keputusasaan sepertimu."

"Jadi aku harus bersyukur karena menderita?"

"Bukan bersyukur. Tapi terima. Penderitaanmu adalah alat. Bukan musuh." Hyeol-geon menatapnya tajam. "Ingat itu. Suatu hari nanti, saat kau sudah kuat, kau akan lihat bahwa semua rasa sakit ini adalah bahan bakar. Tanpanya, kau hanya akan jadi murid biasa."

Ha-neul merenung. Kata-kata itu masuk ke dalam hatinya, menyentuh sesuatu yang selama ini terpendam.

"Guru," panggilnya.

Hyeol-geon mengangkat alis. "Oh? Sudah memanggil guru?"

"Aku mau mulai. Ajari aku."

Arwah tua itu tersenyum. Bukan senyum sinis seperti biasanya, tapi senyum hangat—seorang guru yang akhirnya mendapatkan murid yang serius.

"Baik. Tapi sebelum itu, kau harus tahu bahwa teknik yang akan kuajarkan padamu... bukan teknik klan biasa. Ini adalah Iblis Pedang Seratus Bayangan, jurus pamungkas yang dulu membuat seluruh Murim gempar."

"Iblis Pedang?"

"Iya. Aku tidak mengajarkan teknik suci atau terhormat. Yang kuajarkan adalah teknik membunuh. Efisien, mematikan, dan kejam. Kau keberatan?"

Ha-neul menggeleng. "Aku sudah jadi sampah di mata mereka. Menjadi iblis pun tidak akan mengubah apa pun."

"Bagus. Tapi ingat satu hal: pedang iblis tidak berarti kau harus jadi iblis. Kau yang mengendalikan pedang, bukan pedang yang mengendalikan kau. Paham?"

"Paham."

"Sekarang, bangun. Lanjutkan putaran ketiga. Nanti setelah lari, kau akan mulai latihan dasar pedang. Dan jangan harap pakai pedang beneran. Pedang kayu dulu."

Ha-neul bangkit, meski seluruh tubuhnya terasa remuk. Ia mulai berlari lagi, kali ini dengan semangat yang sedikit berbeda.

Matahari mulai naik di ufuk timur. Sinar keemasan menembus kabut, menyinari punggung Ha-neul yang berlari di lereng gunung. Dari kejauhan, jika ada yang memperhatikan, mereka mungkin akan melihat pemuda kurus berpakaian lusuh yang berlari dengan tekad di matanya.

Dan di sampingnya, samar-samar seperti bayangan, sesosok arwah tua tersenyum bangga.

---

Dua jam kemudian, Ha-neul kembali ke gudang dengan tubuh hampir ambruk. Ia baru saja menyelesaikan tiga putaran penuh—prestasi yang bahkan ia sendiri tidak percaya bisa dilakukan. Kini ia duduk bersandar di dinding kayu, memijit betisnya yang kram.

Soo-ah sudah bangun. Ia sedang memasak bubur sederhana di tungku kecil di sudut ruangan. Aroma hangat menguar, membuat perut Ha-neul keroncongan.

"Kang Oppa, dari mana saja? Aku bangun sudah tidak lihat Oppa." Soo-ah bertanya sambil mengaduk bubur.

"Jalan pagi. Udara bagus."

Soo-ah menatapnya curiga. "Jalan pagi sampai baju basah kuyup? Dan rambut Oppa kena embun?"

Ha-neul tersenyum canggung. Untungnya Soo-ah tidak bertanya lebih lanjut. Adiknya hanya menghela napas, lalu mengambil mangkuk tanah liat dan mengisi dengan bubur.

"Ini. Makan. Oppa pasti lapar."

Ha-neul menerima mangkuk itu dengan tangan sedikit gemetar—efek lari terlalu keras. Ia meniup bubur panas itu perlahan, lalu menyendoknya ke mulut.

Hangat. Gurih. Dan penuh kasih sayang.

Ia menatap Soo-ah yang sedang menyendok bubur untuk dirinya sendiri. Adiknya ini tidak tahu apa-apa. Tidak tahu tentang cincin. Tidak tahu tentang segel. Tidak tahu tentang rencana besar yang mulai ia susun.

Dan untuk sekarang, lebih baik begitu.

"Soo-ah," panggilnya tiba-tiba.

"Eh?"

"Terima kasih."

Soo-ah menatapnya bingung. "Untuk apa?"

"Untuk... tetap di sini. Untuk tidak pergi meninggalkan Oppa."

Gadis itu tersenyum lebar. Senyum yang sama seperti saat mereka kecil dulu, sebelum semua ini terjadi.

"Oppa bilang apa, sih? Soo-ah nggak akan pergi kemana-mana. Oppa satu-satunya keluarga yang Soo-ah punya. Sampai kapan pun."

Ha-neul menunduk, menatap bubur di tangannya. Matanya terasa perih, tapi ia tahan.

Di jarinya, cincin giok hitam berkilau samar, seperti setuju dengan perkataan Soo-ah.

"Adikmu baik, Ha-neul." suara Hyeol-geon terdengar di kepalanya. "Jagalah dia. Karena suatu hari nanti, saat kau mulai naik ke puncak Murim, orang-orang mungkin akan mencoba menyakitinya untuk melukaimu."

Ha-neul menggigit bibir bawahnya.

"Tapi jangan khawatir. Aku akan membantumu menjadi cukup kuat untuk melindunginya. Itu janjiku padamu, muridku."

Ha-neul tersenyum tipis. Dalam hati, ia membalas.

Terima kasih, Guru.

Di luar, matahari semakin tinggi. Hari baru telah dimulai.

Dan Kang Ha-neul, sampah Klan Pedang Kang, perlahan-lahan mulai bangkit.

Episodes
1 BAB 1: SAMPAH DI SURGA PEDANG
2 BAB 2: CINCIN PUSAKA YANG BERDEBU
3 BAB 3: SUARA DARI KEGELAPAN
4 BAB 4: JANJI FAJAR
5 BAB 5: DASAR PEDANG IBLIS
6 BAB 6: BAYANGAN DI BALIK TEMBOK
7 BAB 7: TITIK TERENDAH
8 BAB 8: LEMBAH BAYANGAN
9 BAB 9: JEJAK MASA LALU
10 BAB 10: BADAI PERTAMA
11 BAB 11: PELARIAN
12 BAB 12: DUA DUNIA
13 BAB 13: KOTA SELATAN
14 BAB 14: PENDAFTARAN
15 BAB 15: BERUANG GILA
16 BAB 16: BAYANGAN BARU
17 BAB 17: UJIAN TERTUTUP
18 BAB 18: DEBUT
19 BAB 19: KABAR BURUK
20 BAB 20: GUDANG PELABUHAN
21 BAB 21: JALAN KE UTARA
22 BAB 22: GERBANG IBLIS
23 BAB 23: LEMBAH TERSEMBUNYI
24 BAB 24: RITUAL HATI NAGA
25 BAB 25: JURUS KEDUA
26 BAB 26: TAMU TAK DIUNDANG
27 BAB 27: TIGA IBLIS
28 BAB 28: GERBANG SEKTE
29 BAB 29: PERTARUNGAN PERTAMA
30 BAB 30: BABAK GUGUR
31 BAB 31: BABAK 16 BESAR
32 BAB 32: PERTARUNGAN MELAWAN TEMAN
33 BAB 33: FINAL
34 BAB 34: RITUAL PENGUATAN IBLIS
35 BAB 35: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
36 BAB 36: KEMBALI KE LEMBAH
37 BAB 37: LATIHAN KERAS
38 BAB 38: MENUJU MARKAS IBLIS
39 BAB 39: PERTARUNGAN TERAKHIR
40 BAB 40: PULANG
41 BAB 41: HIDUP BARU
42 BAB 42: JEJAK DI ANGIN
43 BAB 43: TIGA BAYANGAN
44 BAB 44: DARATAN BARU
45 BAB 45: AKAR DI TANAH BARU
46 BAB 46: MISI PERTAMA
47 BAB 47: BAYANGAN DI ISTANA
48 BAB 48: PERAYAAN MUSIM PANAS
49 BAB 49: INTRIK ISTANA
50 BAB 50: BADAI POLITIK
51 BAB 51: PENGHADANGAN
52 BAB 52: MALAM PERTUMPAHAN DARAH
53 BAB 53: PENGHARGAAN DAN PENGAKUAN
54 BAB 54: TAHUN-TAHUN DAMAI
55 BAB 55: GUNCANGAN DI UTARA
56 BAB 56: AKHIR DARI AWAL
57 BAB 57: RUMAH DI SELATAN
58 BAB 58: GENERASI BARU
59 BAB 59: SEKTE NAGA HITAM
60 BAB 60: AKHIR PERJALANAN
Episodes

Updated 60 Episodes

1
BAB 1: SAMPAH DI SURGA PEDANG
2
BAB 2: CINCIN PUSAKA YANG BERDEBU
3
BAB 3: SUARA DARI KEGELAPAN
4
BAB 4: JANJI FAJAR
5
BAB 5: DASAR PEDANG IBLIS
6
BAB 6: BAYANGAN DI BALIK TEMBOK
7
BAB 7: TITIK TERENDAH
8
BAB 8: LEMBAH BAYANGAN
9
BAB 9: JEJAK MASA LALU
10
BAB 10: BADAI PERTAMA
11
BAB 11: PELARIAN
12
BAB 12: DUA DUNIA
13
BAB 13: KOTA SELATAN
14
BAB 14: PENDAFTARAN
15
BAB 15: BERUANG GILA
16
BAB 16: BAYANGAN BARU
17
BAB 17: UJIAN TERTUTUP
18
BAB 18: DEBUT
19
BAB 19: KABAR BURUK
20
BAB 20: GUDANG PELABUHAN
21
BAB 21: JALAN KE UTARA
22
BAB 22: GERBANG IBLIS
23
BAB 23: LEMBAH TERSEMBUNYI
24
BAB 24: RITUAL HATI NAGA
25
BAB 25: JURUS KEDUA
26
BAB 26: TAMU TAK DIUNDANG
27
BAB 27: TIGA IBLIS
28
BAB 28: GERBANG SEKTE
29
BAB 29: PERTARUNGAN PERTAMA
30
BAB 30: BABAK GUGUR
31
BAB 31: BABAK 16 BESAR
32
BAB 32: PERTARUNGAN MELAWAN TEMAN
33
BAB 33: FINAL
34
BAB 34: RITUAL PENGUATAN IBLIS
35
BAB 35: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
36
BAB 36: KEMBALI KE LEMBAH
37
BAB 37: LATIHAN KERAS
38
BAB 38: MENUJU MARKAS IBLIS
39
BAB 39: PERTARUNGAN TERAKHIR
40
BAB 40: PULANG
41
BAB 41: HIDUP BARU
42
BAB 42: JEJAK DI ANGIN
43
BAB 43: TIGA BAYANGAN
44
BAB 44: DARATAN BARU
45
BAB 45: AKAR DI TANAH BARU
46
BAB 46: MISI PERTAMA
47
BAB 47: BAYANGAN DI ISTANA
48
BAB 48: PERAYAAN MUSIM PANAS
49
BAB 49: INTRIK ISTANA
50
BAB 50: BADAI POLITIK
51
BAB 51: PENGHADANGAN
52
BAB 52: MALAM PERTUMPAHAN DARAH
53
BAB 53: PENGHARGAAN DAN PENGAKUAN
54
BAB 54: TAHUN-TAHUN DAMAI
55
BAB 55: GUNCANGAN DI UTARA
56
BAB 56: AKHIR DARI AWAL
57
BAB 57: RUMAH DI SELATAN
58
BAB 58: GENERASI BARU
59
BAB 59: SEKTE NAGA HITAM
60
BAB 60: AKHIR PERJALANAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!