BAB 3: SUARA DARI KEGELAPAN

Ha-neul jatuh terduduk di lantai kayu gudang yang berderit. Punggungnya membentur tumpukan karung goni, tapi ia tidak merasakan sakit. Semua perasaannya kini terfokus pada satu titik: sosok bayangan transparan yang melayang di depannya, memancarkan cahaya merah redup.

Mulutnya terbuka lebar, tapi suara tak kunjung keluar. Lidahnya bagai kelu.

Sosok itu—yang menyebut dirinya Hyeol-geon—mencondongkan tubuh. Wajahnya samar, seperti lukisan cat air yang kena air, tapi dua mata merahnya bersinar tajam menembus bayang-bayang. Ia menatap Ha-neul dengan rasa ingin tahu.

"Heh, jangan pingsan dulu, bocah. Aku sudah menunggu seratus tahun untuk berbicara dengan seseorang. Kalau kau pingsan sekarang, aku akan kesepian lagi."

Ha-neul menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Bukan mimpi. Ini nyata.

"Ka-kau... apa kau... iblis?" Suaranya bergetar.

Hyeol-geon terkekeh. "Iblis? Bisa dibilang begitu. Dulu banyak orang memanggilku iblis. Tapi sekarang, aku hanya arwah tua yang terperangkap dalam cincin." Ia melayang berputar, mengamati gudang reyot itu. "Dan kau... kau tinggal di tempat seperti ini? Dengan baju compang-camping? Keturunan siapa sebenarnya kau?"

Ha-neul masih belum bisa tenang. Dadanya naik turun cepat. Tapi naluri bertahan hidupnya mulai bekerja. Perlahan, ia merangkak mundur, tangannya meraba-raba mencari sesuatu—apa saja—yang bisa dijadikan senjata.

Gerakan itu tidak luput dari penglihatan Hyeol-geon.

"Oh, mau ambil senjata? Di belakangmu ada cangkul tua berkarat. Tapi percuma, bocah. Aku sudah mati. Kau tidak bisa membunuh orang mati."

Ha-neul berhenti. Napasnya mulai sedikit terkendali. "...Apa maumu?"

"Pertanyaan bagus." Hyeol-geon melayang lebih dekat, lalu duduk bersila di udara, persis di depan Ha-neul. "Seratus tahun aku terperangkap dalam cincin sialan ini. Tidak bisa bicara, tidak bisa bergerak, hanya bisa diam dan mengamati dunia luar lewat celah kecil. Dan kau tahu apa yang paling menyebalkan?"

Ha-neul menggeleng pelan.

"Melihat keturunan bodoh yang mewarisi cincin ini tapi tidak pernah tahu cara mengaktifkannya! Enam generasi, Ha-neul. Enam generasi keluargamu memakai cincin ini hanya sebagai perhiasan. Tidak ada satu pun yang cukup berbakat atau cukup putus asa untuk menggenggamnya erat hingga berdarah."

Ha-neul menatap cincin di tangannya. Darah masih membasahi permukaannya, perlahan meresap masuk.

"Kau... kau tahu keluargaku?"

"Tentu saja. Aku yang memberi cincin ini pada leluhur pertamamu, Kang Dae-gun, seratus lima puluh tahun lalu. Saat itu ia menyelamatkanku dari kejaran musuh. Sebagai balas budi, aku tinggal di cincin ini dan membantunya membangun Klan Pedang Kang."

Ha-neul terbelalak. Klan Pedang Kang dibangun dengan bantuan arwah ini?

"Tapi setelah Dae-gun mati, aku tertidur. Bangun sebentar untuk melihat generasi selanjutnya, lalu tertidur lagi. Bangun, tidur. Bangun, tidur. Hingga akhirnya... tak ada satu pun yang bisa membangunkanku. Mereka semua terlalu... biasa saja."

Hyeol-geon menatap Ha-neul dengan sorot baru. Ada kilat penasaran di mata merahnya.

"Tapi kau... kau berbeda. Saat kau menggenggam cincin itu tadi, aku merasakan sesuatu. Keputusasaan yang dalam. Kemarahan yang membara. Dan... rasa sakit. Banyak rasa sakit. Cukup kuat untuk menarikku keluar dari tidur panjang."

Ha-neul diam. Semua yang dikatakan arwah itu benar. Keputusasaan. Kemarahan. Rasa sakit. Itulah dirinya saat ini.

"Jadi, bocah. Ceritakan padaku. Siapa namamu? Dan mengapa pewaris Klan Pedang Kang hidup seperti gelandangan di gudang reyot?"

 

Ha-neul butuh waktu sepuluh menit untuk menceritakan semuanya. Tentang kejeniusannya di masa kecil. Tentang kematian ayahnya yang misterius. Tentang luka meridian yang tiba-tiba menghancurkannya. Tentang tiga tahun pengucilan dan hinaan. Tentang adiknya, Soo-ah, satu-satunya alasan ia masih bertahan. Dan tentang hari ini, ketika statusnya sebagai pewaris resmi dicabut di depan para leluhur.

Hyeol-geon mendengarkan tanpa menyela. Wajah transparannya tidak menunjukkan ekspresi, tapi mata merahnya berkedip-kedip setiap kali Ha-neul menyebut detail penting.

Saat Ha-neul selesai, sunyi menguasai gudang untuk beberapa saat.

Lalu Hyeol-geon tertawa.

"HAHAHAHAHA!"

Tawanya menggema di ruangan sempit, membuat Ha-neul terkejut. Arwah tua itu tertawa terbahak-bahak, memegangi perut, berguling-guling di udara.

"Kenapa kau tertawa?!" Ha-neul kesal. Ia baru saja menceritakan penderitaannya, dan makhluk ini malah tertawa?

"Maaf, maaf..." Hyeol-geon menyeka air mata imajinernya. "Ini cuma... lucu. Sungguh lucu. Kau bilang luka meridianmu adalah kutukan? Kau bilang itu karena serangan pembunuh bayaran?"

Ha-neul mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Hyeol-geon berhenti tertawa. Ekspresinya berubah serius. Ia melayang mendekat, menatap Ha-neul lekat-lekat.

"Bocah, apa yang mereka bilang tentang lukamu? Detail."

"Dokter klan bilang... meridian utamaku hancur. Seperti bendungan yang jebol. Energi tidak bisa mengalir. Setiap kali aku mencoba mengumpulkan Qi, semuanya bocor keluar. Tidak ada yang bisa diperbaiki."

"Hm. Dan kau percaya itu?"

"Mereka tabib terbaik di wilayah ini."

"Tabib sampah lebih tepatnya." Hyeol-geon mendengus. "Dengar, bocah. Aku sudah hidup lebih dari dua ratus tahun. Aku pernah melukai ribuan orang dan menyembuhkan ribuan lainnya. Aku tahu setiap jenis luka meridian yang ada di dunia persilatan ini."

Ia mengangkat tangan transparannya, menunjuk ke arah dada Ha-neul.

"Lukamu bukan karena hancur. Lukamu adalah segel. Teknik Segel Meridian Naga Tidur. Jurus kuno yang hanya dikuasai oleh segelintir ahli tingkat atas."

Ha-neul membeku. "Se...gel?"

"Betul. Seseorang dengan sengaja memasang segel di meridianmu. Itu sebabnya energimu bocor. Bukan karena rusak, tapi karena diblokir. Dan teknik ini... hanya bisa dipasang oleh seseorang yang levelnya jauh di atasmu. Bahkan mungkin di atas level ayahmu dulu."

Dunia Ha-neul seolah berhenti berputar.

Segel. Bukan kutukan. Bukan luka. Tapi SEGEL. Seseorang dengan sengaja melakukan ini padanya.

"Tapi... siapa? Dan kenapa?"

"Itu pertanyaan yang harus kau cari jawabannya sendiri." Hyeol-geon menyeringai. "Tapi satu hal yang pasti: orang yang memasang segel ini tahu persis apa yang ia lakukan. Ia ingin kau menderita. Ia ingin kau jatuh. Dan sepertinya... ia berhasil."

Ha-neul menggenggam tangannya erat-erat. Rasa sakit, amarah, dan kebingungan bercampur jadi satu di dadanya.

Selama tiga tahun ia mengira dirinya cacat. Selama tiga tahun ia menerima hinaan sebagai takdir. Selama tiga tahun ia menyerah pada nasib.

Tapi ternyata... ini semua ulah seseorang.

"Bisa... bisa kau membukanya?" Suara Ha-neul bergetar. Bukan karena takut, tapi karena harapan yang baru lahir.

Hyeol-geon mengangkat alis. "Kau serius?"

"Aku tidak punya apa-apa lagi. Tapi jika benar ini segel... jika benar kekuatanku bisa kembali..." Ha-neul menatap arwah itu dengan mata membara. "Aku akan melakukan apa saja."

"Apa saja?"

"Apa saja."

Hyeol-geon diam sejenak. Lalu senyum lebar mengembang di wajah transparannya. Senyum yang sama seperti seratus lima puluh tahun lalu, saat ia pertama kali melihat Kang Dae-gun, leluhur Ha-neul, berdiri di hadapannya dengan tekad yang sama.

"Baik. Aku akan membantumu, Kang Ha-neul. Tapi ini bukan transaksi gratis. Aku membuka segelmu, kau mengembalikan kekuatanmu, dan suatu hari nanti... kau akan membantuku juga."

"Membantu apa?"

"Membalaskan dendamku." Mata Hyeol-geon menyala lebih terang. "Ada seseorang yang harus kubunuh. Tapi karena aku sudah mati, kau yang akan melakukannya untukku."

Ha-neul tidak bertanya siapa. Tidak bertanya bagaimana. Ia hanya mengangguk.

"Setuju."

Hyeol-geon terkekeh. "Kau bahkan tidak bertanya detailnya. Bocah nekat."

"Karena apa pun detailnya, tidak mungkin lebih buruk dari hidupku sekarang."

Arwah itu tertawa lagi. Kali ini tawanya lebih hangat.

"Aku suka gaya bicaramu, Kang Ha-neul. Aku suka sekali."

Ia melayang mundur, mengamati Ha-neul dari atas ke bawah.

"Tapi sebelum kita mulai, kau harus tahu. Proses pembukaan segel ini tidak mudah. Bisa memakan waktu bertahun-tahun. Kau harus berlatih lebih keras dari siapa pun. Dan kau harus merahasiakan keberadaanku dari siapa pun, termasuk adikmu. Jika musuh-musuhku tahu aku masih hidup dalam bentuk arwah... kau akan mati sebelum segelmu terbuka setengah."

Ha-neul mengangguk mantap. "Aku mengerti."

"Bagus." Hyeol-geon menggosok-gosok tangan. "Sekarang, mulai besok pagi, kita mulai pelatihan. Tapi malam ini... kau harus istirahat. Wajahmu pucat seperti mayat. Masa muridku lebih pucat dari gurunya?"

Ha-neul tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasakan sesuatu yang hangat di dadanya.

Bukan harapan. Tapi setidaknya... alasan untuk terus hidup.

Ia menengok ke pojok ruangan. Soo-ah masih tidur pulas, tak terganggu oleh kejadian malam ini. Mungkin itu baik. Untuk sekarang, lebih baik adiknya tidak tahu.

Ha-neul menatap cincin di jarinya. Cahaya merahnya sudah meredup, tapi ia bisa merasakan kehangatan aneh dari benda itu.

"Ayah... kau bilang cincin ini akan membantuku saat waktunya tiba." bisiknya. "Sekarang aku tahu maksudmu."

Hyeol-geon mendengus. "Sudah, jangan baper. Tidur! Besak kau harus bangun dua jam sebelum subuh. Pemanasan lari keliling gunung tiga putaran."

"Tiga putaran? Gunung ini luasnya—"

"Empat putaran kalau protes."

Ha-neul memilih diam dan merebahkan diri di tumpukan karung.

Di luar, angin malam bertiup pelan. Ranting-ranting pohon menari-nari ditiup angin. Dan di langit, awan hitam perlahan bergeser, menampakkan secercah sinar bintang.

Esok adalah hari pertama perjalanan panjang.

Esok, Kang Ha-neul akan mulai bangkit dari kuburnya.

 

Episodes
1 BAB 1: SAMPAH DI SURGA PEDANG
2 BAB 2: CINCIN PUSAKA YANG BERDEBU
3 BAB 3: SUARA DARI KEGELAPAN
4 BAB 4: JANJI FAJAR
5 BAB 5: DASAR PEDANG IBLIS
6 BAB 6: BAYANGAN DI BALIK TEMBOK
7 BAB 7: TITIK TERENDAH
8 BAB 8: LEMBAH BAYANGAN
9 BAB 9: JEJAK MASA LALU
10 BAB 10: BADAI PERTAMA
11 BAB 11: PELARIAN
12 BAB 12: DUA DUNIA
13 BAB 13: KOTA SELATAN
14 BAB 14: PENDAFTARAN
15 BAB 15: BERUANG GILA
16 BAB 16: BAYANGAN BARU
17 BAB 17: UJIAN TERTUTUP
18 BAB 18: DEBUT
19 BAB 19: KABAR BURUK
20 BAB 20: GUDANG PELABUHAN
21 BAB 21: JALAN KE UTARA
22 BAB 22: GERBANG IBLIS
23 BAB 23: LEMBAH TERSEMBUNYI
24 BAB 24: RITUAL HATI NAGA
25 BAB 25: JURUS KEDUA
26 BAB 26: TAMU TAK DIUNDANG
27 BAB 27: TIGA IBLIS
28 BAB 28: GERBANG SEKTE
29 BAB 29: PERTARUNGAN PERTAMA
30 BAB 30: BABAK GUGUR
31 BAB 31: BABAK 16 BESAR
32 BAB 32: PERTARUNGAN MELAWAN TEMAN
33 BAB 33: FINAL
34 BAB 34: RITUAL PENGUATAN IBLIS
35 BAB 35: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
36 BAB 36: KEMBALI KE LEMBAH
37 BAB 37: LATIHAN KERAS
38 BAB 38: MENUJU MARKAS IBLIS
39 BAB 39: PERTARUNGAN TERAKHIR
40 BAB 40: PULANG
41 BAB 41: HIDUP BARU
42 BAB 42: JEJAK DI ANGIN
43 BAB 43: TIGA BAYANGAN
44 BAB 44: DARATAN BARU
45 BAB 45: AKAR DI TANAH BARU
46 BAB 46: MISI PERTAMA
47 BAB 47: BAYANGAN DI ISTANA
48 BAB 48: PERAYAAN MUSIM PANAS
49 BAB 49: INTRIK ISTANA
50 BAB 50: BADAI POLITIK
51 BAB 51: PENGHADANGAN
52 BAB 52: MALAM PERTUMPAHAN DARAH
53 BAB 53: PENGHARGAAN DAN PENGAKUAN
54 BAB 54: TAHUN-TAHUN DAMAI
55 BAB 55: GUNCANGAN DI UTARA
56 BAB 56: AKHIR DARI AWAL
57 BAB 57: RUMAH DI SELATAN
58 BAB 58: GENERASI BARU
59 BAB 59: SEKTE NAGA HITAM
60 BAB 60: AKHIR PERJALANAN
Episodes

Updated 60 Episodes

1
BAB 1: SAMPAH DI SURGA PEDANG
2
BAB 2: CINCIN PUSAKA YANG BERDEBU
3
BAB 3: SUARA DARI KEGELAPAN
4
BAB 4: JANJI FAJAR
5
BAB 5: DASAR PEDANG IBLIS
6
BAB 6: BAYANGAN DI BALIK TEMBOK
7
BAB 7: TITIK TERENDAH
8
BAB 8: LEMBAH BAYANGAN
9
BAB 9: JEJAK MASA LALU
10
BAB 10: BADAI PERTAMA
11
BAB 11: PELARIAN
12
BAB 12: DUA DUNIA
13
BAB 13: KOTA SELATAN
14
BAB 14: PENDAFTARAN
15
BAB 15: BERUANG GILA
16
BAB 16: BAYANGAN BARU
17
BAB 17: UJIAN TERTUTUP
18
BAB 18: DEBUT
19
BAB 19: KABAR BURUK
20
BAB 20: GUDANG PELABUHAN
21
BAB 21: JALAN KE UTARA
22
BAB 22: GERBANG IBLIS
23
BAB 23: LEMBAH TERSEMBUNYI
24
BAB 24: RITUAL HATI NAGA
25
BAB 25: JURUS KEDUA
26
BAB 26: TAMU TAK DIUNDANG
27
BAB 27: TIGA IBLIS
28
BAB 28: GERBANG SEKTE
29
BAB 29: PERTARUNGAN PERTAMA
30
BAB 30: BABAK GUGUR
31
BAB 31: BABAK 16 BESAR
32
BAB 32: PERTARUNGAN MELAWAN TEMAN
33
BAB 33: FINAL
34
BAB 34: RITUAL PENGUATAN IBLIS
35
BAB 35: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
36
BAB 36: KEMBALI KE LEMBAH
37
BAB 37: LATIHAN KERAS
38
BAB 38: MENUJU MARKAS IBLIS
39
BAB 39: PERTARUNGAN TERAKHIR
40
BAB 40: PULANG
41
BAB 41: HIDUP BARU
42
BAB 42: JEJAK DI ANGIN
43
BAB 43: TIGA BAYANGAN
44
BAB 44: DARATAN BARU
45
BAB 45: AKAR DI TANAH BARU
46
BAB 46: MISI PERTAMA
47
BAB 47: BAYANGAN DI ISTANA
48
BAB 48: PERAYAAN MUSIM PANAS
49
BAB 49: INTRIK ISTANA
50
BAB 50: BADAI POLITIK
51
BAB 51: PENGHADANGAN
52
BAB 52: MALAM PERTUMPAHAN DARAH
53
BAB 53: PENGHARGAAN DAN PENGAKUAN
54
BAB 54: TAHUN-TAHUN DAMAI
55
BAB 55: GUNCANGAN DI UTARA
56
BAB 56: AKHIR DARI AWAL
57
BAB 57: RUMAH DI SELATAN
58
BAB 58: GENERASI BARU
59
BAB 59: SEKTE NAGA HITAM
60
BAB 60: AKHIR PERJALANAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!