BAB 5: DASAR PEDANG IBLIS

Tiga hari telah berlalu sejak kemunculan Hyeol-geon.

Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, Ha-neul sudah berlari di lereng gunung. Setiap malam, setelah Soo-ah tidur, ia duduk bersila di sudut gudang, mengikuti arahan Hyeol-geon untuk merasakan aliran Qi yang tersumbat di meridiannya.

Tubuhnya remuk. Otot-otot yang tiga tahun tidak terpakai menjerit setiap kali digerakkan. Tapi ada sesuatu yang berubah dalam dirinya—sesuatu yang sulit dijelaskan.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia punya tujuan.

Malam ini, bulan purnama bersinar terang. Cahaya perak menembus celah-celah atap gudang, menciptakan pola-pola cahaya di lantai tanah. Ha-neul duduk bersila, telapak tangan menghadap ke atas, mengikuti instruksi Hyeol-geon.

"Kosongkan pikiran. Rasakan aliran darahmu. Di dalam setiap tetes darah, ada energi. Itulah Qi primitif. Sebelum kau bisa mengendalikan Qi luar, kau harus mengendalikan Qi dalam."

Ha-neul memejamkan mata. Ia mencoba merasakan apa yang digambarkan gurunya. Awalnya, hanya degup jantung dan aliran darah biasa. Tapi perlahan, setelah beberapa saat, ia mulai merasakan sesuatu yang hangat di ulu hati. Samar-samar, seperti percikan api kecil.

"Itu dia. Benih Qi-mu. Kecil, hampir padam, tapi masih ada. Selama tiga tahun segel itu membuatnya terisolasi, tapi tidak bisa mematikannya sepenuhnya."

Ha-neul tersenyum tipis. Masih ada. Ia masih punya harapan.

"Sekarang, coba alirkan ke lengan kananmu."

Ha-neul mencoba. Hangat itu bergerak—sangat lambat, seperti tetesan madu di musim dingin—naik ke dada, ke bahu, lalu berhenti di siku. Seperti terbentur tembok tak terlihat.

"Segel." Hyeol-geon mengkonfirmasi. "Itulah Teknik Naga Tidur. Meridian utamamu diblokir di tiga titik: ulu hati, dada, dan tenggorokan. Setiap kali Qi mencoba melewatinya, segel itu menyerapnya."

"Jadi aku tidak bisa menggunakan Qi sama sekali?"

"Bisa. Tapi tidak melebihi titik-titik itu. Untuk sekarang, kau hanya bisa mengumpulkan Qi di bawah ulu hati. Untuk serangan jarak dekat, itu cukup. Tapi untuk teknik pedang yang memancarkan energi... tidak bisa."

Ha-neul menghela napas. Berarti ia hanya bisa bertarung dengan kekuatan fisik murni.

"Jangan berkecil hati. Banyak ahli pedang hebat yang mengandalkan fisik. Bahkan aku dulu, sebelum mencapai level tertentu, lebih sering menggunakan pedang secara fisik daripada energi. Energi itu alat, bukan tujuan."

"Lalu aku harus mulai dari mana?"

"Dari dasar. Kau tahu jurus dasar Klan Pedang Kang?"

Ha-neul mengangguk. "Tiga belas jurus dasar Pedang Naga Hijau. Aku sudah hafal di luar kepala."

"Bagus. Tapi lupakan semuanya."

"Apa?"

"Kau dengar. Lupakan. Teknik klanmu itu bagus untuk bertarung secara terhormat. Tapi untuk bertahan hidup? Untuk membunuh musuh yang lebih kuat? Tidak cukup." Hyeol-geon melayang keluar dari cincin, duduk bersila di udara di depan Ha-neul. "Aku akan mengajarkanmu jurus pertama dari Iblis Pedang Seratus Bayangan. Namanya... Bayangan Meridian."

Ha-neul menegakkan punggung. Namanya saja sudah terdengar mengerikan.

"Jurus ini adalah dasar dari semua teknik Iblis Pedang. Prinsipnya sederhana: kau tidak menyerang musuh, tapi menyerang titik-titik meridian mereka. Satu tusukan tepat di titik akupuntur tertentu bisa melumpuhkan, bahkan membunuh, tanpa perlu luka besar."

"Kedengarannya... kejam."

"Memang. Tapi efektif. Apalagi untuk orang dengan kekuatan terbatas sepertimu. Kau tidak bisa mengalahkan musuh dengan kekuatan kasar, jadi kau harus cerdik. Serang kelemahan mereka."

Ha-neul diam. Ia memang sudah siap menjadi iblis. Tapi mendengar penjelasan ini, ia jadi sadar—jalan yang akan ia tempuh benar-benar gelap.

"Masih mau?" tanya Hyeol-geon, seolah membaca pikirannya.

Ha-neul mengangguk mantap. "Aku mau."

"Bagus. Sekarang, ambil pedang kayumu."

Ha-neul meraih pedang kayu usang di sampingnya—satu-satunya pedang yang ia miliki. Gagangnya sudah retak, bilahnya penuh penyok. Tapi cukup untuk latihan.

"Berdiri. Kuda-kuda rendah. Pedang di depan dada."

Ha-neul mematuhi.

"Tusuk ke depan. Cepat. Tapi jangan asal. Bayangkan ada titik sebesar biji wijen di depanmu. Tusuk tepat di titik itu."

Ha-neul menusuk. Ujung pedang kayu menembus udara, sedikit goyah.

"Lagi."

Tusuk.

"Lagi."

Tusuk.

"Lagi. Seribu kali lagi."

Satu jam kemudian, lengan Ha-neul sudah gemetar hebat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Tapi ia terus menusuk. Tusuk demi tusuk, berusaha menjaga ujung pedang tetap stabil.

Hyeol-geon mengamati dalam diam. Kadang-kadang ia mengangguk pelan. Kadang-kadang mendengus tidak puas.

"Cukup."

Ha-neul berhenti, terengah-engah. Lengannya terasa seperti digergaji.

"Untuk hari ini cukup. Besok kita latihan lagi. Dan lusa. Dan seterusnya, sampai tusukanmu tidak goyah sedikit pun."

"Berapa lama?" tanya Ha-neul.

"Tergantung bakatmu. Murid-muridku dulu butuh tiga bulan untuk lulus tahap ini. Yang berbakat butuh satu bulan. Yang jenius..." Hyeol-geon tersenyum. "Seminggu."

Ha-neul menggenggam pedang kayunya erat-erat. "Aku akan jadi yang jenius."

"Heh. Sombong. Aku suka."

---

Keesokan harinya, saat Ha-neul sedang berlari di lereng gunung, ia berpapasan dengan seseorang yang tidak diinginkannya.

Kang Dae-ho.

Sepupunya itu sedang berjalan dengan dua pengawalnya, mungkin baru pulang dari tugas malam di pos penjagaan. Saat melihat Ha-neul berlari dengan baju basah kuyup, Dae-ho mengerutkan kening.

"Lho, lho, lho? Bukannya ini sampah klan?" Dae-ho menyeringai. "Lari pagi? Sejak kapan? Mau jadi atlet lari, Ha-neul?"

Kedua pengawalnya tertawa.

Ha-neul memperlambat larinya, lalu berhenti. Ia tidak mau mencari masalah, tapi juga tidak mau terlihat takut. Itu hanya akan memberi Dae-ho lebih banyak amunisi.

"Hanya ingin sehat," jawabnya datar.

"Sehat? Untuk apa? Mau umur panjang jadi sampah?" Dae-ho melangkah mendekat. Ia mengamati Ha-neul dari atas ke bawah. "Tapi ada yang berbeda... kau kelihatan... sedikit lebih segar? Atau hanya keringat?"

Ha-neul diam.

Dae-ho memicingkan mata. Ada sesuatu di sorot mata sepupunya ini yang mengganggunya. Biasanya, Ha-neul akan menunduk, menghindari kontak mata. Tapi sekarang... ia menatap balik. Tidak menantang, tapi juga tidak takut.

"Heh." Dae-ho mendengus. "Sudah, pergi sana. Jangan sampai ketemu lagi. Kehadiranmu saja sudah bau."

Ha-neul berbalik dan berlari lagi. Tapi di belakangnya, ia mendengar Dae-ho berkata pada pengawalnya, dengan suara cukup keras untuk didengar.

"Ada yang aneh dengan sampah itu. Awasi dia."

Ha-neul menggertakkan gigi. Ia tidak butuh perhatian Dae-ho. Tapi rupanya, perubahan sekecil apa pun bisa memicu kecurigaan.

"Tenang." suara Hyeol-geon terdengar. "Kau tidak melakukan kesalahan. Justru ini bagus. Kalau kau bersikap terlalu takut, itu lebih mencurigakan."

"Aku tidak suka dia memperhatikanku."

"Memang tidak enak. Tapi suatu hari nanti, kau akan bersyukur dia memperhatikanmu. Karena saat kau sudah kuat, kau ingin dia tahu siapa yang menghancurkannya."

Ha-neul tidak menjawab. Ia terus berlari, lebih cepat dari sebelumnya.

---

Malam harinya, saat latihan tusukan, Ha-neul bertanya pada gurunya.

"Guru, kau bilang segel ini dipasang oleh seseorang. Kau punya tebakan siapa?"

Hyeol-geon diam sejenak. "Aku punya beberapa teori. Tapi belum bisa kupastikan. Yang jelas, level kultivasi orang itu sangat tinggi. Di atas level ayahmu. Mungkin bahkan di atasku saat masih hidup."

"Itu berarti... musuh yang sangat kuat."

"Iya. Tapi kau tidak perlu khawatir sekarang. Fokus pada langkah pertama. Selesaikan satu per satu. Saat kau sudah mencapai puncak, baru kau cari jawabannya."

Ha-neul mengangguk. Ia kembali menusukkan pedang kayunya ke depan.

Satu tusukan. Dua tusukan. Tiga tusukan.

Dan di dalam hatinya, satu nama terukir dalam-dalam: nama orang yang menghancurkan hidupnya.

Suatu hari, ia akan menemukannya.

Suatu hari, ia akan membuatnya membayar.

Episodes
1 BAB 1: SAMPAH DI SURGA PEDANG
2 BAB 2: CINCIN PUSAKA YANG BERDEBU
3 BAB 3: SUARA DARI KEGELAPAN
4 BAB 4: JANJI FAJAR
5 BAB 5: DASAR PEDANG IBLIS
6 BAB 6: BAYANGAN DI BALIK TEMBOK
7 BAB 7: TITIK TERENDAH
8 BAB 8: LEMBAH BAYANGAN
9 BAB 9: JEJAK MASA LALU
10 BAB 10: BADAI PERTAMA
11 BAB 11: PELARIAN
12 BAB 12: DUA DUNIA
13 BAB 13: KOTA SELATAN
14 BAB 14: PENDAFTARAN
15 BAB 15: BERUANG GILA
16 BAB 16: BAYANGAN BARU
17 BAB 17: UJIAN TERTUTUP
18 BAB 18: DEBUT
19 BAB 19: KABAR BURUK
20 BAB 20: GUDANG PELABUHAN
21 BAB 21: JALAN KE UTARA
22 BAB 22: GERBANG IBLIS
23 BAB 23: LEMBAH TERSEMBUNYI
24 BAB 24: RITUAL HATI NAGA
25 BAB 25: JURUS KEDUA
26 BAB 26: TAMU TAK DIUNDANG
27 BAB 27: TIGA IBLIS
28 BAB 28: GERBANG SEKTE
29 BAB 29: PERTARUNGAN PERTAMA
30 BAB 30: BABAK GUGUR
31 BAB 31: BABAK 16 BESAR
32 BAB 32: PERTARUNGAN MELAWAN TEMAN
33 BAB 33: FINAL
34 BAB 34: RITUAL PENGUATAN IBLIS
35 BAB 35: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
36 BAB 36: KEMBALI KE LEMBAH
37 BAB 37: LATIHAN KERAS
38 BAB 38: MENUJU MARKAS IBLIS
39 BAB 39: PERTARUNGAN TERAKHIR
40 BAB 40: PULANG
41 BAB 41: HIDUP BARU
42 BAB 42: JEJAK DI ANGIN
43 BAB 43: TIGA BAYANGAN
44 BAB 44: DARATAN BARU
45 BAB 45: AKAR DI TANAH BARU
46 BAB 46: MISI PERTAMA
47 BAB 47: BAYANGAN DI ISTANA
48 BAB 48: PERAYAAN MUSIM PANAS
49 BAB 49: INTRIK ISTANA
50 BAB 50: BADAI POLITIK
51 BAB 51: PENGHADANGAN
52 BAB 52: MALAM PERTUMPAHAN DARAH
53 BAB 53: PENGHARGAAN DAN PENGAKUAN
54 BAB 54: TAHUN-TAHUN DAMAI
55 BAB 55: GUNCANGAN DI UTARA
56 BAB 56: AKHIR DARI AWAL
57 BAB 57: RUMAH DI SELATAN
58 BAB 58: GENERASI BARU
59 BAB 59: SEKTE NAGA HITAM
60 BAB 60: AKHIR PERJALANAN
Episodes

Updated 60 Episodes

1
BAB 1: SAMPAH DI SURGA PEDANG
2
BAB 2: CINCIN PUSAKA YANG BERDEBU
3
BAB 3: SUARA DARI KEGELAPAN
4
BAB 4: JANJI FAJAR
5
BAB 5: DASAR PEDANG IBLIS
6
BAB 6: BAYANGAN DI BALIK TEMBOK
7
BAB 7: TITIK TERENDAH
8
BAB 8: LEMBAH BAYANGAN
9
BAB 9: JEJAK MASA LALU
10
BAB 10: BADAI PERTAMA
11
BAB 11: PELARIAN
12
BAB 12: DUA DUNIA
13
BAB 13: KOTA SELATAN
14
BAB 14: PENDAFTARAN
15
BAB 15: BERUANG GILA
16
BAB 16: BAYANGAN BARU
17
BAB 17: UJIAN TERTUTUP
18
BAB 18: DEBUT
19
BAB 19: KABAR BURUK
20
BAB 20: GUDANG PELABUHAN
21
BAB 21: JALAN KE UTARA
22
BAB 22: GERBANG IBLIS
23
BAB 23: LEMBAH TERSEMBUNYI
24
BAB 24: RITUAL HATI NAGA
25
BAB 25: JURUS KEDUA
26
BAB 26: TAMU TAK DIUNDANG
27
BAB 27: TIGA IBLIS
28
BAB 28: GERBANG SEKTE
29
BAB 29: PERTARUNGAN PERTAMA
30
BAB 30: BABAK GUGUR
31
BAB 31: BABAK 16 BESAR
32
BAB 32: PERTARUNGAN MELAWAN TEMAN
33
BAB 33: FINAL
34
BAB 34: RITUAL PENGUATAN IBLIS
35
BAB 35: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
36
BAB 36: KEMBALI KE LEMBAH
37
BAB 37: LATIHAN KERAS
38
BAB 38: MENUJU MARKAS IBLIS
39
BAB 39: PERTARUNGAN TERAKHIR
40
BAB 40: PULANG
41
BAB 41: HIDUP BARU
42
BAB 42: JEJAK DI ANGIN
43
BAB 43: TIGA BAYANGAN
44
BAB 44: DARATAN BARU
45
BAB 45: AKAR DI TANAH BARU
46
BAB 46: MISI PERTAMA
47
BAB 47: BAYANGAN DI ISTANA
48
BAB 48: PERAYAAN MUSIM PANAS
49
BAB 49: INTRIK ISTANA
50
BAB 50: BADAI POLITIK
51
BAB 51: PENGHADANGAN
52
BAB 52: MALAM PERTUMPAHAN DARAH
53
BAB 53: PENGHARGAAN DAN PENGAKUAN
54
BAB 54: TAHUN-TAHUN DAMAI
55
BAB 55: GUNCANGAN DI UTARA
56
BAB 56: AKHIR DARI AWAL
57
BAB 57: RUMAH DI SELATAN
58
BAB 58: GENERASI BARU
59
BAB 59: SEKTE NAGA HITAM
60
BAB 60: AKHIR PERJALANAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!