Jalan Menjadi Penyelamat atau Kematian

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang UKS setelah pintu kayu tebal itu kembali terkunci dan dibarikade dengan lemari obat berat yang digeser bersama-sama. Di luar, suara garukan kuku kasar pada dinding beton seperti gergaji yang mengikis logam, diselingi erangan parau yang membuat kulit merinding – namun di dalam ruangan ini, waktu seolah berjalan dengan kecepatan yang jauh lebih lambat. Bau antiseptik yang tajam dari cairan pembersih menyengat hidung, berusaha gigih menutupi aroma kematian dan darah yang dibawa Yuuichi dari koridor yang sudah berubah menjadi medan perang.

Chika Kudou masih membenamkan wajahnya di dada Yuuichi, tubuhnya yang mungil tampak gemetar hebat seperti sedang berada di tengah badai salju. Yuuichi bisa merasakan getaran dari dada wanita itu yang berdenyut kencang, serta tetesan air mata hangat yang perlahan meresap melalui bahan jaket kulit hitamnya, menembus hingga ke kulitnya yang masih sedikit hangat akibat teknik Pernapasan Matahari. Ia tidak mendorongnya – tidak sekarang, tidak ketika guru yang pernah memberikan dia tempat berlindung dari dunia yang kejam itu sedang membutuhkan dukungan.

Tangannya yang masih memegang katana biru es perlahan menggerakkan sarung pedang, menyelaraskan bilah yang dingin dengan lubangnya dengan gerakan yang lembut dan hati-hati agar tidak membuat suara yang mengejutkan.

Klik.

Suara logam yang bertemu dengan sarungnya terdengar jelas di dalam ruangan yang sunyi, seperti sebuah tanda bahwa ancaman langsung telah berlalu – sekaligus peringatan bahwa mereka masih jauh dari aman.

"Sudah cukup, Sensei. Tarik napas dalam-dalam, perlahan saja," bisik Yuuichi dengan suara yang lembut namun tetap memiliki ketegasan yang mampu menenangkan. Suaranya tidak lagi dingin seperti saat ia menghadapi makhluk-makhluk itu di luar, melainkan kembali memiliki nada yang dikenal oleh para siswa di sekolah.

Chika perlahan mendongak, wajahnya yang biasanya selalu rapi dan bersih kini tampak berantakan – rambut pirangnya sedikit kusut, dan ada noda kecil debu di pipinya yang putih. Mata cokelatnya yang biasanya hangat seperti sinar matahari kini memerah dan sembab karena menangis. Ia menatap wajah Yuuichi dengan tatapan bingung, seolah sedang mencari sosok siswa malas yang sering tidur di belakang kelas atau menghilang saat jam pelajaran mulai bosan – namun yang ia temukan hanya sepasang mata merah dalam yang menyimpan kedalaman pengalaman yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang siswa SMA biasa.

"Shiro-kun... tanganmu..." – Chika berbisik dengan suara yang masih menggigil, seraya meraih tangan kanan Yuuichi dengan jemari yang tipis dan masih gemetar. Sebagai seorang petugas medis yang telah terlatih dengan baik, insting untuk membantu dan merawat muncul dengan sendirinya, bahkan di tengah ketakutan yang menyelimuti dirinya. "Ada darah di sini."

"Ini bukan darahku," jawab Yuuichi dengan kalimat yang singkat namun jelas. Ia membiarkan Chika memegang tangannya, merasakan sentuhan lembut kulit wanita itu yang begitu kontras dengan kekerasan dan kejamannya yang baru saja ia lakukan di luar ruangan. Jari-jari Chika dengan hati-hati menyapu permukaan tangannya yang sedikit kotor, membersihkan noda cairan hitam pekat yang menempel di sana.

Di sudut ruangan yang jauh dari meja kerja, Sakura Hoshino berdiri dengan tubuh yang sedikit membungkuk, napasnya masih memburu seperti baru saja berlari sejauh kilometer. Ia memegang pedang kayunya dengan kedua tangan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan uratnya menonjol. Matanya yang besar beralih dari Yuuichi ke arah jendela pintu yang buram, di mana bayangan beberapa mayat yang membeku akibat teknik es Yuuichi masih terlihat jelas. Bibirnya sedikit menggigil, namun tidak ada lagi tangisan atau histeria yang muncul darinya.

"Yuuichi-kun... apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa terus berlindung di sini kan? Mereka..." – Sakura menoleh ke arah Yuuichi, matanya menunjukkan ketakutan namun juga kesediaan untuk menghadapi apa pun. "Mereka akan terus datang, dan suatu saat nanti pintu ini tidak akan mampu menahan mereka lagi."

Suaranya terdengar jauh lebih stabil daripada sebelumnya, tanpa nada gemetar yang terlihat saat mereka pertama kali keluar dari kelas – menunjukkan kekuatan mental yang dimiliki oleh seorang atlet bela diri yang telah terbiasa menghadapi tantangan dan tekanan.

Yuuichi perlahan melepaskan pelukan Chika, namun tangannya tetap berada di bahu guru itu untuk memastikan dia tetap berdiri dengan tegak dan tidak pingsan akibat syok. Ia berjalan dengan langkah mantap menuju meja kerja yang rapi milik Chika, mengambil sebuah peta denah sekolah yang terlipat rapi di sudut meja – peta yang biasanya digunakan untuk simulasi evakuasi saat terjadi kebakaran atau bencana alam. Ia membukanya dengan hati-hati, menyebarkannya di atas meja yang bersih dari noda darah atau kotoran.

"Menganalisis rute tercepat ke berbagai titik penting sekolah... Kakak, jika kau berniat menjadi pahlawan yang menyelamatkan seluruh siswa dan guru di sini, aku sarankan untuk melupakan ide itu sekarang juga. Tapi jika tujuanmu adalah menjemput si jenius sombong yang selalu merasa paling pintar di sekolah ini, kau harus melewati area laboratorium kimia di lantai dua."

Rina Suzuki. Nama itu muncul dengan sendirinya di benak Yuuichi. Gadis itu memang sering menyebalkan dengan sikapnya yang sombong dan logika yang selalu membuat semua orang merasa kalah, tapi otaknya yang cerdas adalah aset berharga yang tidak bisa ia biarkan hancur oleh virus yang tidak punya pikiran sama sekali. Di kehidupan sebelumnya, Rina adalah orang yang menemukan cara untuk memperlambat penyebaran virus dan membuat obat penahan sementara – sesuatu yang sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka.

Yuuichi menoleh perlahan ke arah Sakura yang masih berdiri di sudut ruangan. Ia bisa melihat bahwa meskipun sudah lebih stabil, gadis itu masih dalam keadaan syok pasca-trauma setelah melihat pemandangan yang mengerikan di koridor. Tanpa berkata apa-apa, Yuuichi mengulurkan tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap lembut pipi kanan Sakura yang terkena sedikit cipratan cairan hitam pekat dari tubuh salah satu makhluk yang mereka kalahkan.

"Kau melakukannya dengan sangat baik tadi, Sakura. Tanpamu yang membantu menghadapi makhluk di belakangku, aku mungkin akan terhambat di koridor dan tidak akan sampai tepat waktu untuk menyelamatkan Sensei," puji Yuuichi dengan nada rendah yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. Sentuhan tangannya di pipi Sakura lembut, seperti ingin menunjukkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Pipi Sakura sedikit memerah dengan warna merah muda yang lembut di tengah wajahnya yang masih pucat. Ia menundukkan kepala sedikit, merasa sedikit malu namun juga terhibur oleh pujian dari Yuuichi. "Aku... aku hanya mencoba tidak menjadi beban bagimu. Aku tidak bisa hanya berdiri diam dan melihatmu berjuang sendirian."

"Ohoho! Poin kasih sayang antara kamu dan Sakura Hoshino meningkat sebanyak 15 poin lho, Kakak. Sekarang dia merasa dilindungi namun juga dihargai karena kontribusinya. Apa kau ingin aku memunculkan indikator 'Hubungan Cinta' di atas kepalanya agar lebih jelas? Bisa juga aku beri warna-warni biar lebih menarik!"

Diamlah, Miu. Cukup berikan aku pembaruan status karakter setelah pertarungan di koridor tadi.

[ PEMBARUAN STATUS KARAKTER ]

Nama: Yuuichi Shiro

Level: 2

Poin Atribut Tersedia: 5

Peningkatan Atribut Otomatis:

- Kekuatan (STR): 15 → 16

- Kecepatan (SPD): 17 → 18

(Efek penggunaan Keterampilan Pernapasan Matahari dalam pertempuran)

KETERAMPILAN

- Pernapasan Matahari: Tingkat 1 (Poin Pengalaman: 45/100)

- Taekwondo Jin Mori: Tingkat 1 (Poin Pengalaman: 30/100)

- Keahlian Memasak: Tingkat 3 (Poin Pengalaman: 70/100)

 yuuichi menatap layar transparan yang muncul di depannya, melihat poin atribut yang tersedia dengan cermat. Tanpa ragu sama sekali, ia mengalokasikan poin tersebut untuk menyeimbangkan ketahanan dan kelincahannya – dua hal yang sangat penting untuk bertahan hidup di dunia yang sudah berubah ini.

[ ALOKASI POIN ATRIBUT ]

- Ketahanan (VIT): 12 → 15

- Kelincahan (AGI): 18 → 20

Seketika setelah alokasi selesai, rasa lelah yang sempat menghinggapi otot-ototnya setelah menggunakan teknik Tarian Es Abadi mulai memudar dengan cepat. Tubuhnya terasa lebih ringan seperti sedang tidak membawa beban apa pun, dan indranya menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Ia bisa mendengar detak jantung Chika yang mulai melambat dan kembali stabil, serta napas Sakura yang semakin teratur dan tidak lagi terengah-engah. Bahkan ia bisa mencium aroma alkohol medis yang tersembunyi di balik lemari obat jauh di sudut ruangan.

"Shiro-kun, aku sudah siap!" – Chika menghampiri mereka dengan langkah yang lebih mantap, tas medis besar berwarna oranye tersampir di bahunya. Ia telah mengganti sepatu hak tinggi hitam yang biasanya dikenakannya dengan sepatu kets putih cadangan yang ia simpan di dalam lemari kecil di sudut UKS, membuatnya lebih siap untuk berlari atau bergerak cepat jika diperlukan. Di tangannya, ia juga membawa sebuah tas kecil yang berisi beberapa botol air dan makanan ringan dari lemari penyimpanan darurat.

Yuuichi mengangguk dengan puas. Ia berjalan ke arah jendela kecil yang menghadap ke arah lapangan sekolah, mengintip dengan hati-hati melalui celah tirai yang ditarik sebagian. Di bawah sana, beberapa bus sekolah masih terparkir rapi di bawah kanopi tempat parkir bus – sebuah harapan untuk bisa keluar dari sekolah dan mencari tempat yang lebih aman. Namun, jalan menuju ke sana terlihat seperti jalan menuju mimpi buruk yang tak berujung – ribuan makhluk yang sudah tidak bisa disebut manusia lagi mulai memenuhi area terbuka, bergerak dengan langkah goyah namun terus-menerus mencari mangsa.

"Kita tidak akan keluar melalui gerbang depan atau menuju area parkir bus utama," kata Yuuichi sambil menunjuk ke beberapa titik pada peta denah yang terbuka di atas meja. "Ada lorong penghubung bawah tanah yang menghubungkan laboratorium kimia dengan gedung olahraga di sisi belakang sekolah. Di gedung olahraga ada pintu keluar darurat yang langsung menuju area parkir belakang – di situlah biasanya guru-guru memarkirkan mobil mereka."

"Tapi laboratorium kimia... itu area yang tertutup dan memiliki banyak ruangan kecil. Jika kita terjebak di sana..." – Sakura mendekat ke meja, melihat peta dengan tatapan ragu. Ia tahu bahwa area laboratorium memang sulit untuk dilewati jika ada banyak bahaya yang mengintai di sana.

"Maka kita tidak akan membiarkan diri kita terjebak di situ," potong Yuuichi dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan. Ia menarik sarung katananya sedikit, membiarkan kilatan cahaya biru es dari bilah pedangnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu ruangan. "Miu, aktifkan sistem radar musuh dengan jangkauan 50 meter. Aku ingin tahu secara pasti apa yang menunggu kita di koridor menuju laboratorium dan di dalamnya."

"Dimengerti, Kapten yang selalu berani mengambil risiko. Sedang melakukan pemindaian seluruh area lantai dua... Terdeteksi sekitar lima belas tanda kehidupan yang masih kuat namun tertekan di berbagai bagian lantai dua, dan sekitar tiga puluh 'boneka mati' yang berkeliaran di area sekitar laboratorium. Oh, dan satu tanda kehidupan yang cukup menarik – nampaknya si gadis kaya raya yang selalu sombong itu sedang mencoba membuat bom molotov menggunakan bahan kimia yang ada di laboratorium."

Yuuichi menyeringai sedikit mendengarnya. Rina Suzuki memang tidak pernah mengecewakan jika menyangkut insting bertahan hidup yang praktis dan kemampuan untuk berpikir cepat dalam keadaan darurat. Di kehidupan sebelumnya, gadis itu juga adalah orang yang paling cepat beradaptasi dengan keadaan baru.

"Ayo kita berangkat sekarang juga. Kita akan bergerak dalam formasi yang sudah aku tentukan. Sakura berada di tengah, Sensei berada tepat di belakangku. Jika aku bilang lari, kalian langsung berlari tanpa melihat ke belakang. Jika aku bilang tunduk atau bersembunyi, jangan bertanya kenapa dan lakukan saja," instruksi Yuuichi dengan suara yang jelas dan mudah dipahami. Ia tahu bahwa di saat seperti ini, kejelasan perintah adalah hal yang sangat penting untuk menyelamatkan nyawa.

Ia mendekati pintu yang telah dibarikade dengan lemari obat, tangannya kanan memegang gagang pintu sementara tangan kirinya tetap menggenggam gagang katananya yang dingin. Ia bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti kedua wanita di belakangnya – napas mereka yang sedikit cepat, gerakan tubuh yang siap untuk bergerak kapan saja. Chika secara tidak sadar meremas ujung lengan jaket Yuuichi dengan tangannya, mencari rasa aman dan perlindungan dari sosok siswa yang kini tampak seperti satu-satunya harapan mereka.

Yuuichi menoleh sedikit ke belakang, memberikan tatapan yang menenangkan namun juga penuh janji yang tidak bisa diragukan lagi. "Selama aku masih bernapas dan masih bisa memegang pedang ini, tidak akan ada satu pun dari makhluk itu yang bisa menyentuh kalian berdua. Janjiku."

Dengan satu sentakan kuat dan cepat, Yuuichi menarik pintu dan menjatuhkan barikade lemari obat yang ada di depannya. Udara dingin yang masih tersisa dari efek teknik esnya tadi menyambut mereka dengan dingin yang menusuk tulang, sementara suara erangan dan garukan yang lebih keras terdengar dari koridor yang lebih luas – menyambut mereka saat mereka melangkah keluar dari zona aman sementara itu menuju kekacauan yang jauh lebih besar dan penuh dengan bahaya.

"Enam puluh detik lagi sampai kalian bertemu dengan Rina Suzuki, Kakak. Siapkan mentalmu dengan baik ya – gadis itu punya lidah yang lebih tajam daripada bilah pedangmu yang dingin itu lho. Siapa tahu saja, mungkin dia akan langsung menyuruhmu pergi karena merasa kamu hanya akan mengganggu pekerjaannya."

Yuuichi hanya mendengus pelan dalam hati, bibirnya sedikit mengerut. Ia sudah siap menghadapi apa pun yang ada di depan – baik itu makhluk-makhluk yang sudah mati namun masih bergerak, maupun ego besar seorang jenius yang berpikir dia tahu segalanya.

Episodes
1 Kembali ke Hari Sebelum Apocalypse Dimulai
2 Jalan Menjadi Penyelamat atau Kematian
3 Kesatuan Tanpa Diucapkan
4 Ditengah Tengah Batas Hidup Dan Mati
5 Api Putih Yang Membeku
6 Dibalik Api dan Es
7 Kabut dan Kecepatan, Jalan Menjauh dari Kematian
8 Penyerangan Tak Terduga
9 Pemimpin dan Pilihan
10 Ledakan Es
11 Gerbang Kayu {1}
12 Gerbang Kayu {2}
13 Janji Yang Terucap {1}
14 Janji Yang Terucap {2}
15 Badai Es {1}
16 Badai Es {2}
17 Gemuruh di Tengah Kegelapan
18 Kenangan Yang Hilang
19 Gema dan Langkah Naga {1}
20 Gema dan Langkah Naga {2}
21 Sang Pelindung
22 Pelarian di Bawah Langit
23 Pembalasan Sang Naga Es
24 Istana Bawah Tanah
25 Bayangan Masa Lalu
26 Ambang Kehancuran {1}
27 Ambang Kehancuran {2}
28 Penyusup {1}
29 Penyusup {2}
30 Dibalik Layar {1}
31 Dibalik Layar {2}
32 Perjanjian Dibawakan Rembulan {1}
33 Perjanjian dibawah Rembulan {2}
34 Zona Merah {1}
35 Zona Merah {2}
36 Bayangan Masa Lalu {1}
37 Bayangan Masa Lalu {2}
38 Daftar Hitam dan Rahasia {1}
39 Daftar Hitam dan Rahasia {2}
40 Suasanya Yang Dingin {1}
41 Suasana Yang Dingin {2}
42 Pertemuan Dua Kubu {1}
43 Pertemuan Dua Kubu {2}
44 Penenun Duri
45 Pengejaran {1}
46 Pengejaran {2}
47 Kompensasi {1}
48 Kompensasi {2}
49 Pembersihan Penyusup {1}
50 Pembersihan Penyusup {2}
51 Dalam Bayangan
52 Perjamuan
53 Perjamuan {2}
54 Nafas Terahkir
55 Kebangkitan
56 Sang Peramal
57 Kesesatan {1}
58 Kesesatan {2}
59 Dibawah Altar {1}
60 Dibawah Altar {2}
61 Lembaran Masa Lalu {1}
62 Lembaran Masa Lalu {2}
63 Munculnya Keretakan
64 Kesetiaan Yang Mulai Pudar
65 Bayangan Sang Ayah
66 Jejak Yang Tak Terlupakan
67 Kebenaran Selalu Menyakitkan
68 Gemerlap Dibalik Kabut
69 Serpihan Memori yang Membeku
70 Serpihan Memori yang Membeku {2}
71 Refleksi yang Terdistorsi {1}
72 Refleksi yang Terdistorsi {2}
73 Inti dari Segalanya {1}
74 Inti dari Segalanya {2}
75 Inti dari Segalanya
76 Yang Akan Terjadi
77 Sisa Masa Lalu
78 Bayangan Masa Lalu Yang Muncul Kembali
79 Kediaman di Tengah Badai
80 Kediaman di Tengah Badai {2}
81 Benturan Baja dan Berlian
82 Bahtera di Tengah Hening {1}
83 Bahtera di Tengah Hening {2}
84 Gejolak Inti Es
85 Pembalasan di Balik Kabut
86 Kehangatan di Tengah Pengepungan {1}
87 Kehangatan di Tengah Pengepungan {2}
88 Badai Dari Langit {1}
89 Badai Dari Langit {2}
90 Harga Sebuah Kesetiaan
91 Jalinan Jiwa {1}
92 Jalinan Jiwa {2}
93 Hijau di Tengah Putih
94 Keseimbangan di Ambang Batas
95 Keseimbangan di Ambang Batas {2}
96 Warisan di Bawah Akar {1}
97 Warisan di Bawah Akar {2}
98 Serpihan Memori {1}
99 Serpihan Memori {2}
100 Hamparan Debu dan Kristal {1}
101 Hamparan Debu dan Kristal {2}
102 Aliansi di Balik Timbal
103 Aliansi di Balik Timbal {2}
104 Benih Kekuatan {1}
105 Benih Kekuatan {2}
106 Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {1}
107 Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {2}
108 Badai di Cakrawala {1}
109 Badai di Cakrawala {2}
110 Pendaratan yang Terbakar {1}
111 Pendaratan yang Terbakar {2}
112 Kota yang Menangis {1}
113 Kota yang Menangis {2}
114 Kedalaman Abyss {1}
115 Kedalaman Abyss {2}
116 Bedah di Jantung Badai {1}
117 Bedah di Jantung Badai {2}
118 Kebangkitan yang Pahit {1}
119 Kebangkitan yang Pahit {2}
120 Gema Masa Lalu
121 Gema Masa Lalu {2}
122 Napas di Puncak Dunia
123 Napas di Puncak Dunia {2}
124 Pilihan Sang Pewaris {1}
125 Pilihan Sang Pewaris {2}
126 Cermin yang Retak {1}
127 Cermin yang Retak {2}
128 Bara di Tengah Salju
129 Manifestasi Mahkota Emas
130 Fajar yang Terbelah
131 Amarah yang Membeku
132 Cermin Masa Lalu
133 Gema di Balik Cakrawala {1}
134 Gema di Balik Cakrawala {2}
135 Tamu dari Cakrawala
136 Resonansi Dua Jiwa
137 Belati di Balik Senyum
138 Diujung Kehancuran
139 Akhir Sang Pewaris
140 Di Pesisir Hitam
141 Dipesisir
142 Teluk Terlarang
143 Perlawanan
144 Dibalik Layar
145 Kebangkitan Tak Sempurna
146 Kelahiran Kembali
147 Meditasi Ditengah Gejolak
148 Senjata Terlarang
149 Lembah Kesunyian
150 Keheningan
151 Penyamaran di Hutan Logam {1}
152 Penyamaran di Hutan Logam {2}
153 Gerbang Sektor 7-B
154 Di Jantung Industri
155 Strategi di Balik Bayang-Bayang {1}
156 Strategi di Balik Bayang-Bayang {2}
157 Pertemuan di Balik Tirai Data
158 Pertemuan di Balik Tirai Data {2}
159 Pelarian di Zona Merah
160 Pelarian di Zona Merah {2}
161 Sisa-Sisa Amarah
162 Teka-Teki dalam Kode
163 Teka-Teki dalam Kode {2}
164 Fajar
165 Ambang Batas Kehancuran
166 Fondasi
167 Dibalik Badai
168 Dibalik Dinding
169 Suara Yang Bergema
170 Badai Yang Datang
171 Badai Yang Terus Melanda
172 Retakan Yang Terjadi
173 Langit Lembah Yang Mulai Runtuh
174 Melangkah Pergi
175 Kepulangan Yang Berdarah
176 Sisa Sisa
177 Rahasia
178 Di Ujung Utara
179 Fajar Di Ujung Cakrawala
180 Gerbang Sektor Zero
181 Altar Sang Rasul
182 Penantian
183 Fajar Ditengah Kesunyian
184 Cakrawala
185 Jejak di Debu Pesisir Part 1
186 Jejak di Debu Pesisir Part 2
187 Napas Garam dan Besi Part 1
188 Napas Garam dan Besi Part 2
189 Tarian di Pasir Kelabu Part 1
190 Tarian di Pasir Kelabu Part 2
191 Garis Baja di Pasir Putih Part 1
192 Garis Baja di Pasir Putih Part 2
193 Detak Jantung
194 Sela di Antara Badai Part 1
195 Sela di Antara Badai Part 2
196 Bayang-Bayang Kota Timur
197 Menara Besi di Kota Mati Part 1
198 Menara Besi di Kota Mati Part 2
199 Dentang Baja di Atap Langit
200 Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
201 Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
202 Benang Merah di Ambang Senyap
203 Percikan di Balik Kabut
204 Gema di Lorong
205 Tarian Baja di Gerbang Fajar
206 Pelabuhan Terakhir di Ujung Mata
207 Garam di Luka dan Janji di Balik Tirai
208 Saat Samudra Membisikkan Namamu
209 Baja yang Mencair dalam Pelukan
210 Rahasia di Balik Arus Dingin
211 Mulut Naga Hitam
212 Arus Listrik
213 Gema di lorong
214 Di Ambang Kehancuran
215 Sisa
216 Dibalik Gelombang Tersembunyi
Episodes

Updated 216 Episodes

1
Kembali ke Hari Sebelum Apocalypse Dimulai
2
Jalan Menjadi Penyelamat atau Kematian
3
Kesatuan Tanpa Diucapkan
4
Ditengah Tengah Batas Hidup Dan Mati
5
Api Putih Yang Membeku
6
Dibalik Api dan Es
7
Kabut dan Kecepatan, Jalan Menjauh dari Kematian
8
Penyerangan Tak Terduga
9
Pemimpin dan Pilihan
10
Ledakan Es
11
Gerbang Kayu {1}
12
Gerbang Kayu {2}
13
Janji Yang Terucap {1}
14
Janji Yang Terucap {2}
15
Badai Es {1}
16
Badai Es {2}
17
Gemuruh di Tengah Kegelapan
18
Kenangan Yang Hilang
19
Gema dan Langkah Naga {1}
20
Gema dan Langkah Naga {2}
21
Sang Pelindung
22
Pelarian di Bawah Langit
23
Pembalasan Sang Naga Es
24
Istana Bawah Tanah
25
Bayangan Masa Lalu
26
Ambang Kehancuran {1}
27
Ambang Kehancuran {2}
28
Penyusup {1}
29
Penyusup {2}
30
Dibalik Layar {1}
31
Dibalik Layar {2}
32
Perjanjian Dibawakan Rembulan {1}
33
Perjanjian dibawah Rembulan {2}
34
Zona Merah {1}
35
Zona Merah {2}
36
Bayangan Masa Lalu {1}
37
Bayangan Masa Lalu {2}
38
Daftar Hitam dan Rahasia {1}
39
Daftar Hitam dan Rahasia {2}
40
Suasanya Yang Dingin {1}
41
Suasana Yang Dingin {2}
42
Pertemuan Dua Kubu {1}
43
Pertemuan Dua Kubu {2}
44
Penenun Duri
45
Pengejaran {1}
46
Pengejaran {2}
47
Kompensasi {1}
48
Kompensasi {2}
49
Pembersihan Penyusup {1}
50
Pembersihan Penyusup {2}
51
Dalam Bayangan
52
Perjamuan
53
Perjamuan {2}
54
Nafas Terahkir
55
Kebangkitan
56
Sang Peramal
57
Kesesatan {1}
58
Kesesatan {2}
59
Dibawah Altar {1}
60
Dibawah Altar {2}
61
Lembaran Masa Lalu {1}
62
Lembaran Masa Lalu {2}
63
Munculnya Keretakan
64
Kesetiaan Yang Mulai Pudar
65
Bayangan Sang Ayah
66
Jejak Yang Tak Terlupakan
67
Kebenaran Selalu Menyakitkan
68
Gemerlap Dibalik Kabut
69
Serpihan Memori yang Membeku
70
Serpihan Memori yang Membeku {2}
71
Refleksi yang Terdistorsi {1}
72
Refleksi yang Terdistorsi {2}
73
Inti dari Segalanya {1}
74
Inti dari Segalanya {2}
75
Inti dari Segalanya
76
Yang Akan Terjadi
77
Sisa Masa Lalu
78
Bayangan Masa Lalu Yang Muncul Kembali
79
Kediaman di Tengah Badai
80
Kediaman di Tengah Badai {2}
81
Benturan Baja dan Berlian
82
Bahtera di Tengah Hening {1}
83
Bahtera di Tengah Hening {2}
84
Gejolak Inti Es
85
Pembalasan di Balik Kabut
86
Kehangatan di Tengah Pengepungan {1}
87
Kehangatan di Tengah Pengepungan {2}
88
Badai Dari Langit {1}
89
Badai Dari Langit {2}
90
Harga Sebuah Kesetiaan
91
Jalinan Jiwa {1}
92
Jalinan Jiwa {2}
93
Hijau di Tengah Putih
94
Keseimbangan di Ambang Batas
95
Keseimbangan di Ambang Batas {2}
96
Warisan di Bawah Akar {1}
97
Warisan di Bawah Akar {2}
98
Serpihan Memori {1}
99
Serpihan Memori {2}
100
Hamparan Debu dan Kristal {1}
101
Hamparan Debu dan Kristal {2}
102
Aliansi di Balik Timbal
103
Aliansi di Balik Timbal {2}
104
Benih Kekuatan {1}
105
Benih Kekuatan {2}
106
Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {1}
107
Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {2}
108
Badai di Cakrawala {1}
109
Badai di Cakrawala {2}
110
Pendaratan yang Terbakar {1}
111
Pendaratan yang Terbakar {2}
112
Kota yang Menangis {1}
113
Kota yang Menangis {2}
114
Kedalaman Abyss {1}
115
Kedalaman Abyss {2}
116
Bedah di Jantung Badai {1}
117
Bedah di Jantung Badai {2}
118
Kebangkitan yang Pahit {1}
119
Kebangkitan yang Pahit {2}
120
Gema Masa Lalu
121
Gema Masa Lalu {2}
122
Napas di Puncak Dunia
123
Napas di Puncak Dunia {2}
124
Pilihan Sang Pewaris {1}
125
Pilihan Sang Pewaris {2}
126
Cermin yang Retak {1}
127
Cermin yang Retak {2}
128
Bara di Tengah Salju
129
Manifestasi Mahkota Emas
130
Fajar yang Terbelah
131
Amarah yang Membeku
132
Cermin Masa Lalu
133
Gema di Balik Cakrawala {1}
134
Gema di Balik Cakrawala {2}
135
Tamu dari Cakrawala
136
Resonansi Dua Jiwa
137
Belati di Balik Senyum
138
Diujung Kehancuran
139
Akhir Sang Pewaris
140
Di Pesisir Hitam
141
Dipesisir
142
Teluk Terlarang
143
Perlawanan
144
Dibalik Layar
145
Kebangkitan Tak Sempurna
146
Kelahiran Kembali
147
Meditasi Ditengah Gejolak
148
Senjata Terlarang
149
Lembah Kesunyian
150
Keheningan
151
Penyamaran di Hutan Logam {1}
152
Penyamaran di Hutan Logam {2}
153
Gerbang Sektor 7-B
154
Di Jantung Industri
155
Strategi di Balik Bayang-Bayang {1}
156
Strategi di Balik Bayang-Bayang {2}
157
Pertemuan di Balik Tirai Data
158
Pertemuan di Balik Tirai Data {2}
159
Pelarian di Zona Merah
160
Pelarian di Zona Merah {2}
161
Sisa-Sisa Amarah
162
Teka-Teki dalam Kode
163
Teka-Teki dalam Kode {2}
164
Fajar
165
Ambang Batas Kehancuran
166
Fondasi
167
Dibalik Badai
168
Dibalik Dinding
169
Suara Yang Bergema
170
Badai Yang Datang
171
Badai Yang Terus Melanda
172
Retakan Yang Terjadi
173
Langit Lembah Yang Mulai Runtuh
174
Melangkah Pergi
175
Kepulangan Yang Berdarah
176
Sisa Sisa
177
Rahasia
178
Di Ujung Utara
179
Fajar Di Ujung Cakrawala
180
Gerbang Sektor Zero
181
Altar Sang Rasul
182
Penantian
183
Fajar Ditengah Kesunyian
184
Cakrawala
185
Jejak di Debu Pesisir Part 1
186
Jejak di Debu Pesisir Part 2
187
Napas Garam dan Besi Part 1
188
Napas Garam dan Besi Part 2
189
Tarian di Pasir Kelabu Part 1
190
Tarian di Pasir Kelabu Part 2
191
Garis Baja di Pasir Putih Part 1
192
Garis Baja di Pasir Putih Part 2
193
Detak Jantung
194
Sela di Antara Badai Part 1
195
Sela di Antara Badai Part 2
196
Bayang-Bayang Kota Timur
197
Menara Besi di Kota Mati Part 1
198
Menara Besi di Kota Mati Part 2
199
Dentang Baja di Atap Langit
200
Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
201
Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
202
Benang Merah di Ambang Senyap
203
Percikan di Balik Kabut
204
Gema di Lorong
205
Tarian Baja di Gerbang Fajar
206
Pelabuhan Terakhir di Ujung Mata
207
Garam di Luka dan Janji di Balik Tirai
208
Saat Samudra Membisikkan Namamu
209
Baja yang Mencair dalam Pelukan
210
Rahasia di Balik Arus Dingin
211
Mulut Naga Hitam
212
Arus Listrik
213
Gema di lorong
214
Di Ambang Kehancuran
215
Sisa
216
Dibalik Gelombang Tersembunyi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!