Energi biru es dari Sakura mengalir masuk ke dalam sistem saraf Yuuichi, memberikan sensasi sejuk yang menenangkan saraf-sarafnya yang tadi hampir terbakar oleh luapan kekuatan emas. Di dalam pandangan Yuuichi, aliran energi ini tampak seperti benang sutra yang merajut kembali bagian-bagian zirahnya yang retak.
Kloning tanpa jiwa di hadapannya mulai menunjukkan ketidakstabilan yang semakin parah. Kristal ungu yang tumbuh dari luka di bahunya berdenyut liar, memancarkan cahaya yang menyakitkan mata. Makhluk itu meraung—sebuah suara mekanis yang dipaksakan dari pita suara biologis—dan menerjang maju dengan pedang raksasanya yang kini berpendar hitam pekat.
"Sekarang, Sakura!" seru Yuuichi.
Sakura merentangkan tangannya, memfokuskan seluruh sisa tenaganya untuk mengunci pergerakan udara di sekitar musuh. "Penjara Es Biru: Heningnya Musim Dingin!"
Pilar-pilar es kristal muncul dari lantai logam, membentuk formasi sangkar yang menjepit kaki dan tangan kloning tersebut. Meskipun hanya bertahan beberapa detik sebelum retak oleh kekuatan mentah musuh, waktu itu sudah lebih dari cukup bagi Yuuichi.
Yuuichi memegang pedang Nichirin dengan kedua tangannya. Bilah pedang itu kini menjadi medan pertempuran antara tiga warna: hitam pekat dari es kematian, emas dari warisan Aegis, dan biru jernih dari dukungan Sakura. Ketiganya berputar, menyatu menjadi satu titik cahaya yang sangat padat di ujung pedang.
[ Sinkronisasi Selesai: 100% ]
[ Nama Teknik: Tebasan Langit Abadi - Harmoni Jiwa ]
Yuuichi melesat. Gerakannya tidak lagi meninggalkan jejak kaki di lantai, melainkan hanya seberkas cahaya yang membelah ruang dan waktu. Kloning itu mencoba mengangkat pedang ungunya untuk menangkis, namun gerakannya terasa sangat lamban dibandingkan dengan kecepatan cahaya yang dihasilkan oleh resonansi cinta dan tekad.
SREEEET—BOOM!
Bilah pedang Yuuichi menembus tepat di tengah dada kloning tersebut, menghancurkan inti kristal ungu yang menjadi sumber dayanya. Seketika, energi ungu yang korosif itu meledak, namun langsung diredam oleh suhu nol mutlak yang dilepaskan oleh es Yuuichi. Kloning itu membeku dari dalam ke luar, berubah menjadi patung kristal yang indah namun mematikan, sebelum akhirnya hancur menjadi debu halus yang tersapu angin.
Di saat yang bersamaan, Nanami menghantamkan tangannya ke tombol eksekusi pada konsol utama.
"Meriam Orbit... Tembakkan!"
[ Status: Meriam Orbit Aktif ]
[ Target: Armada Blackwatch di Sektor Udara Kaukasus ]
Dari luar bunker, di ketinggian atmosfer bumi, sebuah satelit kuno yang telah tertidur selama ratusan tahun membuka panel suryanya. Moncong meriamnya berpendar biru terang sebelum melepaskan seberkas laser raksasa yang turun dari langit seperti tombak dewa.
Cahaya itu menyambar puncak gunung Kaukasus, melewati perisai pelindung helikopter Blackwatch seolah-olah mereka terbuat dari kertas. Satu per satu helikopter meledak, berubah menjadi bola api di tengah badai salju. Suara ledakan itu terdengar hingga ke dalam kubah, membuat langit-langit bergetar hebat.
Yuuichi jatuh bertumpu pada satu lutut, menggunakan pedangnya sebagai penyangga. Napasnya tersengal, uap keluar dari mulutnya setiap kali ia menghembuskan napas. Pendar emas di matanya memudar, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa yang merayap ke seluruh ototnya.
"Yuuichi-kun!" Sakura berlari mendekat dan segera menangkap tubuh Yuuichi sebelum ia terjatuh ke lantai. Ia memeluk kepala pemuda itu di dadanya, membiarkan kehangatannya mengalir kembali ke tubuh Yuuichi yang mulai mendingin.
"Kita... kita berhasil?" bisik Yuuichi, matanya setengah terpejam.
"Ya, kita berhasil," jawab Sakura sambil mengusap rambut Yuuichi dengan lembut. "Armada mereka sudah hancur. Meriam itu menyapu bersih semuanya."
Nanami berjalan mendekat sambil membawa tabletnya, wajahnya menunjukkan campuran antara lega dan kekhawatiran teknis. "Sinyal Aris Shiro menghilang tepat saat meriam itu meledak. Dia kemungkinan melarikan diri menggunakan jet darurat, tapi setidaknya dia kehilangan seluruh pasukan elitnya di sini."
[ Status Misi: Sukses ]
[ Peringatan: Energi Cadangan Aegis-0 Tinggal 5% ]
[ Memulai Hibernasi Sistem... ]
Lampu-lampu emas di ruangan itu mulai meredup satu per satu. Sosok Adam, si AI kuno, kembali muncul dalam bentuk proyeksi yang mulai memudar.
"Pewaris Yuuichi," suara Adam terdengar lebih lembut sekarang. "Kau telah membuktikan bahwa kemanusiaanmu bukanlah kelemahan, melainkan kunci untuk menyeimbangkan energi yang jatuh ini. Ayahmu... dia sekarang bisa beristirahat dengan tenang."
Pilar cahaya di tengah ruangan meredup, dan sosok pria berambut perak di dalamnya perlahan hancur menjadi partikel cahaya putih yang menyatu dengan udara. Sebuah kunci kecil berbentuk cakram emas jatuh ke lantai tempat pilar itu berdiri.
"Ambillah itu," ucap Adam sebelum sosoknya menghilang sepenuhnya. "Itu adalah kunci terakhir untuk menyembuhkan virus Chimera di seluruh dunia. Gunakan dengan bijak."
Yuuichi menatap cakram emas itu. Ia tahu bahwa perjalanan mereka masih jauh dari kata selesai. Aris Shiro masih di luar sana, dan dunia masih tertutup oleh bayang-bayang mutasi. Namun, saat ia merasakan dekapan Sakura yang erat dan melihat Nanami yang tersenyum padanya, Yuuichi menyadari satu hal.
Ia bukan lagi sekadar subjek eksperimen yang lari dari masa lalu. Ia adalah harapan masa depan.
Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World
Cermin yang Retak {2}
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 216 Episodes
Comments