Kesatuan Tanpa Diucapkan

Langkah kaki Yuuichi yang dibalut sepatu bot taktis bergerak dengan keanggunan yang luar biasa, suara alas kakinya nyaris tak terdengar saat ia menapak di lantai koridor yang kini bersimbah cairan pekat seperti rawa hitam. Permukaan lantai yang biasanya licin akibat pembersihan rutin kini menjadi lebih licin dan berbahaya, namun setiap langkahnya tetap stabil dan tepat sasaran.

Di belakangnya, Chika Kudou berjalan dengan napas yang tertahan dalam-dalam, setiap gerakannya hati-hati seolah takut akan menarik perhatian sesuatu yang tidak terlihat. Jemarinya masih mencengkeram erat ujung lengan jaket kulit Yuuichi – kain yang sudah sedikit aus terasa seperti satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kegilaan yang telah menyambar seluruh dunia mereka. Ia tidak berani melihat ke sekeliling, hanya mengikuti bayangan tinggi Yuuichi yang selalu ada di depannya.

Sakura Hoshino mengikuti di posisi paling belakang, menjaga area belakang dengan waspada. Bokken kayu eknya terangkat dalam posisi siaga yang tepat – bukan terlalu tinggi untuk menghindari menarik perhatian, namun cukup siap untuk bertindak kapan saja. Matanya terus berpindah dengan cepat antara punggung Yuuichi dan lorong gelap di belakang mereka, menangkap setiap gerakan kecil atau bayangan yang muncul di sudut pandangannya. Keringat dingin mengalir perlahan di bawah seragam sekolahnya yang sudah sedikit kotor.

Udara di koridor lantai dua jauh lebih pengap daripada lantai tiga. Bau amonia yang tajam dari laboratorium kimia yang bocor dari beberapa ruangan bercampur dengan bau anyir yang memuakkan dari tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa – sebuah kombinasi yang membuat tenggorokan terasa gatal dan mata menjadi perih. Cahaya lampu neon di langit-langit mulai berkedip-kedip, kadang padam total selama beberapa detik sebelum menyala kembali dengan cahaya yang lebih redup.

"Pelankan langkahmu," bisik Yuuichi dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar. Ia mengangkat tangan kirinya perlahan, memberi isyarat jelas untuk berhenti. Jari-jarinya yang panjang menunjuk ke arah depan dengan gerakan yang lembut namun pasti.

Di depan mereka, sekitar sepuluh meter jauhnya, tiga sosok makhluk yang dulunya adalah siswa kelas dua sedang berkumpul di depan sebuah pintu laboratorium yang tertutup rapat. Pakaian seragam mereka yang dulu putih bersih kini sudah kotor dan sobek, kulit mereka berubah menjadi warna kebiruan pucat dengan bintik-bintik hitam yang menyebar seperti jamur. Mereka tidak menyadari kehadiran kelompok Yuuichi karena sibuk menggaruk pintu kayu itu dengan kuku yang sudah panjang dan runcing – hingga beberapa kuku terlepas dan meninggalkan bekas darah merah pekat yang panjang di permukaan kayu.

"Target terdeteksi dengan jelas. Tiga subjek aktif di depan, dan lima lagi yang dalam kondisi merangkak sedang bergerak melalui saluran ventilasi tepat di atas kepalamu, Kakak. Mau cara yang cepat dan hemat energi, atau cara yang artistik dengan banyak aksi seperti film laga?"

Yuuichi tidak membalas ejekan Miu yang selalu muncul di saat tidak tepat. Matanya menyipit, fokus menganalisis setiap gerakan makhluk-makhluk itu dengan cermat. Jika ia menggunakan teknik Pernapasan Matahari dengan efek es sekarang, suara pecahnya es yang seperti kaca yang hancur akan mengundang seluruh penghuni lantai ini ke arah mereka. Di ruangan yang sempit seperti koridor ini, itu adalah bencana yang bisa menghancurkan kelompok mereka dalam sekejap. Ia harus menggunakan cara yang lebih sunyi dan efisien.

"Sakura," – Yuuichi berbalik sedikit, bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara keras. "Ambil yang paling kanan saat aku mulai bergerak. Gunakan teknik tusukan ke titik lemah, jangan lakukan ayunan lebar yang bisa membuat suara besar."

Sakura mengangguk dengan wajah yang kaku namun penuh tekad. Wajahnya yang cantik berkeringat dingin, tetesan keringat menetes di dahinya yang ditutupi oleh ikat kepala hitam-merahnya. Namun tidak ada rasa takut yang membuatnya goyah – hanya fokus yang dalam seperti saat ia menghadapi lawan di ajang pertandingan bela diri.

Tanpa memberikan peringatan lebih lanjut, Yuuichi melesat maju. Gerakannya yang dipercepat oleh atribut Kelincahan yang sudah mencapai angka 20 terasa seperti bayangan yang melintasi cahaya – cepat, licin, dan tidak meninggalkan jejak yang jelas. Sebelum zombie pertama sempat menoleh atau mengeluarkan suara geraman, tangan kirinya yang kuat sudah mencengkeram rahang makhluk itu dengan erat. Dengan kekuatan Kekuatan yang sudah meningkat menjadi 16, ia memutar leher makhluk itu dengan kecepatan yang terkendali hingga terdengar suara krek yang tumpul – suara patahan tulang leher yang tidak terlalu keras namun cukup untuk menandakan bahwa musuh itu sudah tidak berbahaya lagi.

Di saat yang sama, Sakura maju dengan keberanian yang luar biasa. Ia menghindari langkah yang salah dengan presisi seorang atlet berpengalaman, mendekat dari sisi kanan makhluk yang sedang sibuk menggaruk pintu. Tanpa ragu, ia menusukkan ujung pedang kayunya yang runcing tepat ke arah rongga mata zombie itu – titik lemah yang sudah ia pelajari selama bertahun-tahun di klub bela diri. Makhluk itu tersentak dan mulai bergoyang, lalu tumbang ke lantai saat Sakura memberikan dorongan tambahan dengan seluruh berat tubuhnya, memastikan bahwa musuh itu benar-benar tidak akan bangun lagi.

Zombie terakhir yang menyadari adanya bahaya mencoba menerjang ke arah Chika yang berada paling dekat dengan mereka. Tubuhnya yang kurus melesat dengan kecepatan yang tidak diharapkan dari makhluk yang bergerak goyah.

"Shiro-kun!" – pekik Chika dengan suara yang tertahan, tangannya mengepal erat dan tubuhnya mundur ke belakang seolah ingin mencari tempat berlindung.

Tanpa menoleh ke belakang atau kehilangan fokus, Yuuichi melakukan tendangan tumit belakang yang cepat dan akurat – salah satu teknik kunci dari Taekwondo Jin Mori yang ia kuasai. Tumitnya menghantam tepat di ulu hati zombie itu dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya terhempas ke dinding beton dengan suara thud yang menggema lembut. Sebelum makhluk itu bisa mengeluarkan suara geraman yang bisa menarik perhatian musuh lain, Yuuichi sudah melompat ke depannya dan menghujamkan belati kecil yang ia tarik dari inventaris sistem tepat ke ubun-ubunnya – titik yang paling rentan dan bisa mengakhiri nyawa makhluk itu dengan cepat.

"Keterampilan Bertarung: Efisiensi 95%. Poin Pengalaman untuk Taekwondo Jin Mori bertambah sebanyak 15 poin. Sekarang totalnya 45/100."

"Aman," ucap Yuuichi dengan kalimat yang singkat namun penuh makna. Ia mengelap permukaan belati kecil itu pada seragam zombie yang baru saja ia bunuh, membersihkan noda darah hitam yang menempel sebelum menyembunyikannya kembali ke dalam inventaris.

Ia kemudian beralih ke pintu laboratorium yang tadi digaruk oleh para zombie. Dari dalam ruangan, terdengar suara dentingan kaca yang bersentuhan dan bau belerang yang semakin menyengat keluar melalui celah-celah pintu. Yuuichi mengetuk pintu itu dengan pola tertentu – tiga ketukan pendek, satu ketukan panjang, lalu dua ketukan pendek lagi. Pola yang hanya mereka dua yang tahu sejak mereka masih berada di kelas satu.

"Rina Suzuki. Jika kau sedang merencanakan untuk meledakkan pintu ini sekarang juga dengan bahan kimiamu yang berharga, aku harus bilang itu adalah keputusan yang sangat bodoh," suara Yuuichi terdengar tenang namun penuh keyakinan, cukup keras untuk didengar dari dalam ruangan namun tidak terlalu keras untuk menarik perhatian musuh lain.

Hening sejenak menyelimuti koridor. Tidak ada suara yang terdengar dari dalam laboratorium selain suara peluit kecil dari alat ukur yang mungkin sedang bekerja. Kemudian, terdengar suara langkah kaki yang teratur dan mantap dari balik pintu – langkah kaki seseorang yang yakin dengan apa yang ia lakukan. Pintu terbuka sedikit, hanya menyisakan celah sempit yang cukup untuk melihat satu mata saja. Sebuah mata cokelat gelap yang penuh dengan kecerdasan dan rasa selidik menatap mereka dari balik kacamata berbingkai hitam yang khas.

"Yuuichi Shiro?" – suara yang keluar dari balik pintu dingin, jernih, dan tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan yang berarti. Bahkan dalam keadaan darurat seperti ini, nada suaranya tetap penuh dengan keyakinan diri. "Secara statistik, peluangmu untuk bertahan hidup sampai mencapai lantai ini setelah melewati koridor bawah yang penuh dengan bahaya adalah sekitar 12,4%. Kau telah melampaui ekspektasi yang aku tetapkan untukmu, sesuatu yang jarang terjadi pada orang lain."

Pintu kemudian terbuka sepenuhnya dengan gerakan yang lambat namun pasti. Rina Suzuki berdiri di sana dengan sikap yang tetap gagah, mengenakan jas laboratorium putih yang bersih menutupi seragam sekolahnya yang terbuat dari bahan mahal. Tangannya mengenakan sarung tangan karet biru muda yang sudah sedikit kotor, dan di meja kerja yang teratur di belakangnya, terdapat beberapa botol kaca yang sudah diisi dengan cairan kuning kecoklatan dengan sumbu kain yang siap digunakan – bom molotov buatan tangan yang terlihat cukup profesional.

"Dan aku lihat kau membawa beban tambahan," lanjut Rina sambil melirik Chika dan Sakura dengan tatapan yang sedikit meremehkan yang khas. Bibirnya sedikit mengerut seolah tidak menyukai adanya orang lain di samping mereka berdua.

"Mereka bukan beban, Rina," balas Yuuichi dengan nada yang tegas namun tidak kasar, sambil melangkah masuk ke dalam laboratorium yang lebih terang dan bersih dibanding koridor di luar. "Mereka adalah alasan kenapa aku masih repot-repot menggunakan kepalaku untuk berpikir daripada sekadar membekukan semua yang menghalangi jalanku."

Rina menutup pintu dengan hati-hati dan menguncinya kembali dengan presisi yang luar biasa – ia bahkan menggunakan beberapa barang berat untuk menyumbat celah pintu agar tidak mudah dibuka dari luar. Ia kemudian menatap Yuuichi dari atas ke bawah dengan tatapan yang teliti, seolah sedang melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh. Wajahnya menunjukkan tanda-tanda kejutan yang tersembunyi saat ia menyadari perubahan yang luar biasa pada pria yang dulu ia anggap hanya siswa nakal yang tidak berguna dan sering menghilang dari kelas.

"Kau benar-benar berbeda sekarang. Pola pernapasanmu yang teratur seperti atlet profesional, caramu memegang senjata yang tidak terlihat namun selalu siap digunakan... semuanya tidak masuk akal secara biologis bagi seorang siswa SMA biasa," ujar Rina sambil menyesuaikan letak kacamatanya yang sedikit tergeser ke bawah hidungnya. Matanya menunjukkan rasa ingin tahu yang besar – sesuatu yang lebih kuat daripada rasa takut atau egoismenya.

Yuuichi mendekat ke arah Rina, memperpendek jarak antara mereka hingga gadis jenius itu harus sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat matanya. Aroma parfum mahal yang selalu dikenakan Rina – aroma bunga mawar dan kayu cendana – bercampur dengan bau khas bahan kimia memenuhi indra penciuman Yuuichi, menciptakan kombinasi yang tidak terduga namun tidak menyebalkan.

"Dunia yang kau kenal dengan semua logika dan statistiknya sudah berakhir, Rina," kata Yuuichi dengan suara yang dalam dan penuh makna. Matanya merah pekat menatap langsung ke mata cokelat Rina, seolah bisa menembus pikiran dan perasaan dalam hati gadis itu. "Logika lamamu tidak akan berlaku lagi di dunia yang baru ini. Kamu bisa memilih untuk ikut denganku dan berkontribusi dengan otakmu yang cerdas, atau kau akan mati sendirian di antara botol-botol kimia ini saat oksigen di ruangan ini habis atau musuh menemukan cara untuk masuk ke sini."

Rina terdiam sejenak, menatap mata merah Yuuichi yang tampak seperti bisa melihat jauh ke dalam dirinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ego besar yang selalu membuatnya merasa lebih baik dari orang lain mulai goyah. Ia bisa merasakan aura dominasi yang dipancarkan oleh Yuuichi – bukan dominasi yang kasar atau memaksa, melainkan dominasi seorang pemimpin yang tahu persis apa yang ia lakukan dan memiliki rencana yang jelas untuk masa depan.

"Aku butuh data yang cukup untuk memahami fenomena ini – bagaimana virus bisa mengubah manusia menjadi makhluk seperti itu, apa mekanisme kerjanya, dan bagaimana cara untuk membuat obat atau vaksin yang bisa menghentikan penyebarannya," Rina akhirnya bicara dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, mencoba mendapatkan kembali kendali atas dirinya dan situasi sekitarnya. "Dan aku sudah menyadari bahwa laboratorium ini sudah tidak bisa memberiku fasilitas atau bahan yang aku butuhkan lagi. Baiklah, aku akan ikut denganmu. Tapi jangan harap aku akan menuruti semua perintah bodoh yang kamu berikan hanya karena kamu lebih kuat atau lebih berpengalaman dalam bertarung."

"Pemberitahuan Penting: Rina Suzuki telah bergabung dalam kelompok sementara. Sifat Tsundere terdeteksi pada level tinggi – suka menyalahkan namun sebenarnya peduli. Berhati-hatilah dengan lidahnya yang tajam ya Kakak, jangan sampai kamu terluka hati tanpa sadar."

Yuuichi hanya tersenyum tipis mendengar suara Miu di dalam kepalanya. Ia sudah tahu betul karakter Rina dan tidak keberatan dengan sikapnya yang seperti itu. "Miu, berikan aku rute terpendek dan paling aman melalui sistem ventilasi menuju gedung olahraga. Kita tidak bisa lagi melewati koridor utama seperti yang aku rencanakan. Ada sesuatu yang besar dan berbahaya sedang bergerak dari arah aula utama menuju ke sini."

"Memindai area sekitar dengan radar tingkat tinggi... Kau benar sekali, Kakak. Sesuatu yang sangat besar dengan tanda kehidupan masif sedang bergerak ke arah lantai ini. Aku menyebutnya 'The Tank' karena bentuk tubuhnya yang besar dan kokoh seperti tank tempur. Jika kau memutuskan untuk melawannya sekarang tanpa peningkatan atribut atau persiapan yang cukup, peluang kamu mati adalah sekitar 60%, dan peluang anggota kelompokmu terluka parah adalah lebih dari 85%."

Yuuichi menoleh perlahan ke arah ketiga wanita yang kini berada di dalam laboratorium bersamanya. Chika yang selalu penuh kasih dan siap membantu siapapun yang membutuhkan, Sakura yang setia dan selalu siap memberikan dukungan dengan kekuatannya, dan Rina yang jenius dan memiliki pengetahuan yang bisa menyelamatkan banyak nyawa. Kelompoknya yang kecil mulai terbentuk dengan sempurna – masing-masing memiliki keahlian dan peran yang berbeda namun sama pentingnya.

"Persiapkan diri kalian semua. Kita akan naik melalui sistem ventilasi udara untuk mencapai gedung olahraga. Rina, bawa semua bom molotov yang kamu buat – jangan tinggalkan satupun. Kita mungkin akan butuh sedikit pesta api untuk menyambut teman besar kita yang sedang datang ke arah sini di bawah sana," kata Yuuichi dengan suara yang penuh keyakinan, memberikan kepercayaan pada semua orang di sekelilingnya.

Saat Yuuichi membantu Chika naik ke atas meja kerja yang tinggi untuk mencapai lubang ventilasi yang terletak di dinding bagian atas, ia merasakan tangan kecil Rina menyentuh lengannya dengan lembut. Sentuhan itu singkat namun penuh makna.

"Yuuichi," bisik Rina dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya, bahkan sedikit terdengar malu. Ia tidak berani melihat ke mata Yuuichi, hanya menatap lantai dengan wajah yang sedikit memerah. "Terima kasih... karena telah datang dan menjemputku. Karena telah menjadi salah satu dari 12,4% peluang yang aku hitungkan sebagai kemungkinan selamat."

Yuuichi tidak menjawab dengan kata-kata, hanya memberikan anggukan kecil yang penuh makna. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa perjalanan yang sebenarnya baru saja dimulai – dan tantangan yang lebih besar dan lebih berbahaya dari yang pernah ia hadapi di kehidupan sebelumnya baru akan muncul saat mereka berhasil meninggalkan gedung sekolah ini dan memasuki dunia luar yang sudah berubah total.

Episodes
1 Kembali ke Hari Sebelum Apocalypse Dimulai
2 Jalan Menjadi Penyelamat atau Kematian
3 Kesatuan Tanpa Diucapkan
4 Ditengah Tengah Batas Hidup Dan Mati
5 Api Putih Yang Membeku
6 Dibalik Api dan Es
7 Kabut dan Kecepatan, Jalan Menjauh dari Kematian
8 Penyerangan Tak Terduga
9 Pemimpin dan Pilihan
10 Ledakan Es
11 Gerbang Kayu {1}
12 Gerbang Kayu {2}
13 Janji Yang Terucap {1}
14 Janji Yang Terucap {2}
15 Badai Es {1}
16 Badai Es {2}
17 Gemuruh di Tengah Kegelapan
18 Kenangan Yang Hilang
19 Gema dan Langkah Naga {1}
20 Gema dan Langkah Naga {2}
21 Sang Pelindung
22 Pelarian di Bawah Langit
23 Pembalasan Sang Naga Es
24 Istana Bawah Tanah
25 Bayangan Masa Lalu
26 Ambang Kehancuran {1}
27 Ambang Kehancuran {2}
28 Penyusup {1}
29 Penyusup {2}
30 Dibalik Layar {1}
31 Dibalik Layar {2}
32 Perjanjian Dibawakan Rembulan {1}
33 Perjanjian dibawah Rembulan {2}
34 Zona Merah {1}
35 Zona Merah {2}
36 Bayangan Masa Lalu {1}
37 Bayangan Masa Lalu {2}
38 Daftar Hitam dan Rahasia {1}
39 Daftar Hitam dan Rahasia {2}
40 Suasanya Yang Dingin {1}
41 Suasana Yang Dingin {2}
42 Pertemuan Dua Kubu {1}
43 Pertemuan Dua Kubu {2}
44 Penenun Duri
45 Pengejaran {1}
46 Pengejaran {2}
47 Kompensasi {1}
48 Kompensasi {2}
49 Pembersihan Penyusup {1}
50 Pembersihan Penyusup {2}
51 Dalam Bayangan
52 Perjamuan
53 Perjamuan {2}
54 Nafas Terahkir
55 Kebangkitan
56 Sang Peramal
57 Kesesatan {1}
58 Kesesatan {2}
59 Dibawah Altar {1}
60 Dibawah Altar {2}
61 Lembaran Masa Lalu {1}
62 Lembaran Masa Lalu {2}
63 Munculnya Keretakan
64 Kesetiaan Yang Mulai Pudar
65 Bayangan Sang Ayah
66 Jejak Yang Tak Terlupakan
67 Kebenaran Selalu Menyakitkan
68 Gemerlap Dibalik Kabut
69 Serpihan Memori yang Membeku
70 Serpihan Memori yang Membeku {2}
71 Refleksi yang Terdistorsi {1}
72 Refleksi yang Terdistorsi {2}
73 Inti dari Segalanya {1}
74 Inti dari Segalanya {2}
75 Inti dari Segalanya
76 Yang Akan Terjadi
77 Sisa Masa Lalu
78 Bayangan Masa Lalu Yang Muncul Kembali
79 Kediaman di Tengah Badai
80 Kediaman di Tengah Badai {2}
81 Benturan Baja dan Berlian
82 Bahtera di Tengah Hening {1}
83 Bahtera di Tengah Hening {2}
84 Gejolak Inti Es
85 Pembalasan di Balik Kabut
86 Kehangatan di Tengah Pengepungan {1}
87 Kehangatan di Tengah Pengepungan {2}
88 Badai Dari Langit {1}
89 Badai Dari Langit {2}
90 Harga Sebuah Kesetiaan
91 Jalinan Jiwa {1}
92 Jalinan Jiwa {2}
93 Hijau di Tengah Putih
94 Keseimbangan di Ambang Batas
95 Keseimbangan di Ambang Batas {2}
96 Warisan di Bawah Akar {1}
97 Warisan di Bawah Akar {2}
98 Serpihan Memori {1}
99 Serpihan Memori {2}
100 Hamparan Debu dan Kristal {1}
101 Hamparan Debu dan Kristal {2}
102 Aliansi di Balik Timbal
103 Aliansi di Balik Timbal {2}
104 Benih Kekuatan {1}
105 Benih Kekuatan {2}
106 Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {1}
107 Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {2}
108 Badai di Cakrawala {1}
109 Badai di Cakrawala {2}
110 Pendaratan yang Terbakar {1}
111 Pendaratan yang Terbakar {2}
112 Kota yang Menangis {1}
113 Kota yang Menangis {2}
114 Kedalaman Abyss {1}
115 Kedalaman Abyss {2}
116 Bedah di Jantung Badai {1}
117 Bedah di Jantung Badai {2}
118 Kebangkitan yang Pahit {1}
119 Kebangkitan yang Pahit {2}
120 Gema Masa Lalu
121 Gema Masa Lalu {2}
122 Napas di Puncak Dunia
123 Napas di Puncak Dunia {2}
124 Pilihan Sang Pewaris {1}
125 Pilihan Sang Pewaris {2}
126 Cermin yang Retak {1}
127 Cermin yang Retak {2}
128 Bara di Tengah Salju
129 Manifestasi Mahkota Emas
130 Fajar yang Terbelah
131 Amarah yang Membeku
132 Cermin Masa Lalu
133 Gema di Balik Cakrawala {1}
134 Gema di Balik Cakrawala {2}
135 Tamu dari Cakrawala
136 Resonansi Dua Jiwa
137 Belati di Balik Senyum
138 Diujung Kehancuran
139 Akhir Sang Pewaris
140 Di Pesisir Hitam
141 Dipesisir
142 Teluk Terlarang
143 Perlawanan
144 Dibalik Layar
145 Kebangkitan Tak Sempurna
146 Kelahiran Kembali
147 Meditasi Ditengah Gejolak
148 Senjata Terlarang
149 Lembah Kesunyian
150 Keheningan
151 Penyamaran di Hutan Logam {1}
152 Penyamaran di Hutan Logam {2}
153 Gerbang Sektor 7-B
154 Di Jantung Industri
155 Strategi di Balik Bayang-Bayang {1}
156 Strategi di Balik Bayang-Bayang {2}
157 Pertemuan di Balik Tirai Data
158 Pertemuan di Balik Tirai Data {2}
159 Pelarian di Zona Merah
160 Pelarian di Zona Merah {2}
161 Sisa-Sisa Amarah
162 Teka-Teki dalam Kode
163 Teka-Teki dalam Kode {2}
164 Fajar
165 Ambang Batas Kehancuran
166 Fondasi
167 Dibalik Badai
168 Dibalik Dinding
169 Suara Yang Bergema
170 Badai Yang Datang
171 Badai Yang Terus Melanda
172 Retakan Yang Terjadi
173 Langit Lembah Yang Mulai Runtuh
174 Melangkah Pergi
175 Kepulangan Yang Berdarah
176 Sisa Sisa
177 Rahasia
178 Di Ujung Utara
179 Fajar Di Ujung Cakrawala
180 Gerbang Sektor Zero
181 Altar Sang Rasul
182 Penantian
183 Fajar Ditengah Kesunyian
184 Cakrawala
185 Jejak di Debu Pesisir Part 1
186 Jejak di Debu Pesisir Part 2
187 Napas Garam dan Besi Part 1
188 Napas Garam dan Besi Part 2
189 Tarian di Pasir Kelabu Part 1
190 Tarian di Pasir Kelabu Part 2
191 Garis Baja di Pasir Putih Part 1
192 Garis Baja di Pasir Putih Part 2
193 Detak Jantung
194 Sela di Antara Badai Part 1
195 Sela di Antara Badai Part 2
196 Bayang-Bayang Kota Timur
197 Menara Besi di Kota Mati Part 1
198 Menara Besi di Kota Mati Part 2
199 Dentang Baja di Atap Langit
200 Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
201 Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
202 Benang Merah di Ambang Senyap
203 Percikan di Balik Kabut
204 Gema di Lorong
205 Tarian Baja di Gerbang Fajar
206 Pelabuhan Terakhir di Ujung Mata
207 Garam di Luka dan Janji di Balik Tirai
208 Saat Samudra Membisikkan Namamu
209 Baja yang Mencair dalam Pelukan
210 Rahasia di Balik Arus Dingin
211 Mulut Naga Hitam
212 Arus Listrik
213 Gema di lorong
214 Di Ambang Kehancuran
215 Sisa
216 Dibalik Gelombang Tersembunyi
Episodes

Updated 216 Episodes

1
Kembali ke Hari Sebelum Apocalypse Dimulai
2
Jalan Menjadi Penyelamat atau Kematian
3
Kesatuan Tanpa Diucapkan
4
Ditengah Tengah Batas Hidup Dan Mati
5
Api Putih Yang Membeku
6
Dibalik Api dan Es
7
Kabut dan Kecepatan, Jalan Menjauh dari Kematian
8
Penyerangan Tak Terduga
9
Pemimpin dan Pilihan
10
Ledakan Es
11
Gerbang Kayu {1}
12
Gerbang Kayu {2}
13
Janji Yang Terucap {1}
14
Janji Yang Terucap {2}
15
Badai Es {1}
16
Badai Es {2}
17
Gemuruh di Tengah Kegelapan
18
Kenangan Yang Hilang
19
Gema dan Langkah Naga {1}
20
Gema dan Langkah Naga {2}
21
Sang Pelindung
22
Pelarian di Bawah Langit
23
Pembalasan Sang Naga Es
24
Istana Bawah Tanah
25
Bayangan Masa Lalu
26
Ambang Kehancuran {1}
27
Ambang Kehancuran {2}
28
Penyusup {1}
29
Penyusup {2}
30
Dibalik Layar {1}
31
Dibalik Layar {2}
32
Perjanjian Dibawakan Rembulan {1}
33
Perjanjian dibawah Rembulan {2}
34
Zona Merah {1}
35
Zona Merah {2}
36
Bayangan Masa Lalu {1}
37
Bayangan Masa Lalu {2}
38
Daftar Hitam dan Rahasia {1}
39
Daftar Hitam dan Rahasia {2}
40
Suasanya Yang Dingin {1}
41
Suasana Yang Dingin {2}
42
Pertemuan Dua Kubu {1}
43
Pertemuan Dua Kubu {2}
44
Penenun Duri
45
Pengejaran {1}
46
Pengejaran {2}
47
Kompensasi {1}
48
Kompensasi {2}
49
Pembersihan Penyusup {1}
50
Pembersihan Penyusup {2}
51
Dalam Bayangan
52
Perjamuan
53
Perjamuan {2}
54
Nafas Terahkir
55
Kebangkitan
56
Sang Peramal
57
Kesesatan {1}
58
Kesesatan {2}
59
Dibawah Altar {1}
60
Dibawah Altar {2}
61
Lembaran Masa Lalu {1}
62
Lembaran Masa Lalu {2}
63
Munculnya Keretakan
64
Kesetiaan Yang Mulai Pudar
65
Bayangan Sang Ayah
66
Jejak Yang Tak Terlupakan
67
Kebenaran Selalu Menyakitkan
68
Gemerlap Dibalik Kabut
69
Serpihan Memori yang Membeku
70
Serpihan Memori yang Membeku {2}
71
Refleksi yang Terdistorsi {1}
72
Refleksi yang Terdistorsi {2}
73
Inti dari Segalanya {1}
74
Inti dari Segalanya {2}
75
Inti dari Segalanya
76
Yang Akan Terjadi
77
Sisa Masa Lalu
78
Bayangan Masa Lalu Yang Muncul Kembali
79
Kediaman di Tengah Badai
80
Kediaman di Tengah Badai {2}
81
Benturan Baja dan Berlian
82
Bahtera di Tengah Hening {1}
83
Bahtera di Tengah Hening {2}
84
Gejolak Inti Es
85
Pembalasan di Balik Kabut
86
Kehangatan di Tengah Pengepungan {1}
87
Kehangatan di Tengah Pengepungan {2}
88
Badai Dari Langit {1}
89
Badai Dari Langit {2}
90
Harga Sebuah Kesetiaan
91
Jalinan Jiwa {1}
92
Jalinan Jiwa {2}
93
Hijau di Tengah Putih
94
Keseimbangan di Ambang Batas
95
Keseimbangan di Ambang Batas {2}
96
Warisan di Bawah Akar {1}
97
Warisan di Bawah Akar {2}
98
Serpihan Memori {1}
99
Serpihan Memori {2}
100
Hamparan Debu dan Kristal {1}
101
Hamparan Debu dan Kristal {2}
102
Aliansi di Balik Timbal
103
Aliansi di Balik Timbal {2}
104
Benih Kekuatan {1}
105
Benih Kekuatan {2}
106
Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {1}
107
Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {2}
108
Badai di Cakrawala {1}
109
Badai di Cakrawala {2}
110
Pendaratan yang Terbakar {1}
111
Pendaratan yang Terbakar {2}
112
Kota yang Menangis {1}
113
Kota yang Menangis {2}
114
Kedalaman Abyss {1}
115
Kedalaman Abyss {2}
116
Bedah di Jantung Badai {1}
117
Bedah di Jantung Badai {2}
118
Kebangkitan yang Pahit {1}
119
Kebangkitan yang Pahit {2}
120
Gema Masa Lalu
121
Gema Masa Lalu {2}
122
Napas di Puncak Dunia
123
Napas di Puncak Dunia {2}
124
Pilihan Sang Pewaris {1}
125
Pilihan Sang Pewaris {2}
126
Cermin yang Retak {1}
127
Cermin yang Retak {2}
128
Bara di Tengah Salju
129
Manifestasi Mahkota Emas
130
Fajar yang Terbelah
131
Amarah yang Membeku
132
Cermin Masa Lalu
133
Gema di Balik Cakrawala {1}
134
Gema di Balik Cakrawala {2}
135
Tamu dari Cakrawala
136
Resonansi Dua Jiwa
137
Belati di Balik Senyum
138
Diujung Kehancuran
139
Akhir Sang Pewaris
140
Di Pesisir Hitam
141
Dipesisir
142
Teluk Terlarang
143
Perlawanan
144
Dibalik Layar
145
Kebangkitan Tak Sempurna
146
Kelahiran Kembali
147
Meditasi Ditengah Gejolak
148
Senjata Terlarang
149
Lembah Kesunyian
150
Keheningan
151
Penyamaran di Hutan Logam {1}
152
Penyamaran di Hutan Logam {2}
153
Gerbang Sektor 7-B
154
Di Jantung Industri
155
Strategi di Balik Bayang-Bayang {1}
156
Strategi di Balik Bayang-Bayang {2}
157
Pertemuan di Balik Tirai Data
158
Pertemuan di Balik Tirai Data {2}
159
Pelarian di Zona Merah
160
Pelarian di Zona Merah {2}
161
Sisa-Sisa Amarah
162
Teka-Teki dalam Kode
163
Teka-Teki dalam Kode {2}
164
Fajar
165
Ambang Batas Kehancuran
166
Fondasi
167
Dibalik Badai
168
Dibalik Dinding
169
Suara Yang Bergema
170
Badai Yang Datang
171
Badai Yang Terus Melanda
172
Retakan Yang Terjadi
173
Langit Lembah Yang Mulai Runtuh
174
Melangkah Pergi
175
Kepulangan Yang Berdarah
176
Sisa Sisa
177
Rahasia
178
Di Ujung Utara
179
Fajar Di Ujung Cakrawala
180
Gerbang Sektor Zero
181
Altar Sang Rasul
182
Penantian
183
Fajar Ditengah Kesunyian
184
Cakrawala
185
Jejak di Debu Pesisir Part 1
186
Jejak di Debu Pesisir Part 2
187
Napas Garam dan Besi Part 1
188
Napas Garam dan Besi Part 2
189
Tarian di Pasir Kelabu Part 1
190
Tarian di Pasir Kelabu Part 2
191
Garis Baja di Pasir Putih Part 1
192
Garis Baja di Pasir Putih Part 2
193
Detak Jantung
194
Sela di Antara Badai Part 1
195
Sela di Antara Badai Part 2
196
Bayang-Bayang Kota Timur
197
Menara Besi di Kota Mati Part 1
198
Menara Besi di Kota Mati Part 2
199
Dentang Baja di Atap Langit
200
Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
201
Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
202
Benang Merah di Ambang Senyap
203
Percikan di Balik Kabut
204
Gema di Lorong
205
Tarian Baja di Gerbang Fajar
206
Pelabuhan Terakhir di Ujung Mata
207
Garam di Luka dan Janji di Balik Tirai
208
Saat Samudra Membisikkan Namamu
209
Baja yang Mencair dalam Pelukan
210
Rahasia di Balik Arus Dingin
211
Mulut Naga Hitam
212
Arus Listrik
213
Gema di lorong
214
Di Ambang Kehancuran
215
Sisa
216
Dibalik Gelombang Tersembunyi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!