Ditengah Tengah Batas Hidup Dan Mati

Debu tebal yang telah mengendap selama bertahun-tahun beterbangan seperti awan kecil saat Yuuichi menggeser penutup ventilasi baja di langit-langit laboratorium kimia. Suara logam yang bergeser terdengar menyayat telinga – kresek... krek – seperti teriakan benda mati yang terganggu dari tidurnya yang panjang, membekukan suasana di tengah keheningan ruangan yang mencekam.

Tanpa ragu, Yuuichi meloncat dengan ringan dari atas meja, kedua tangannya yang kuat mencengkeram pinggiran lubang ventilasi dengan erat. Dengan satu tarikan otot lengan yang efisien dan tanpa terlihat capek, ia mengangkat tubuhnya yang tinggi masuk ke dalam lorong seng yang sempit dan gelap, seperti ikan yang menyelam ke dalam sarangnya.

Bau besi tua yang berkarat dan udara pengap yang belum pernah disentuh angin segera menyambutnya, membuatnya sedikit tersedak sebelum paru-parunya menyesuaikan diri. Yuuichi merangkak maju beberapa langkah untuk memberi ruang yang cukup, lalu berbalik perlahan dan menjulurkan tangannya ke bawah melalui lubang yang terbuka.

"Sensei, kau duluan," bisik Yuuichi dengan suara yang lembut namun pasti. Matanya yang merah pekat bersinar lembut di kegelapan, menjadi satu-satunya sumber cahaya kecil di sekitar lubang itu.

Chika Kudou ragu sejenak, melihat ke atas lalu kembali ke meja laboratorium yang sudah ia gunakan sebagai pijakan. Kakinya sedikit gemetar saat ia memikirkan harus merangkak di dalam lorong yang sempit dan penuh debu itu. Namun kemudian ia melihat tangan Yuuichi yang kuat dan lebar yang terjulur ke arahnya – tangan yang baru saja menyelamatkannya dari kematian, tangan yang memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelum ini.

Dengan napas yang gemetar dan tangan yang sedikit menggigil, ia menyambut tangan itu dengan erat. Kulitnya yang lembut menyentuh kulit kasar Yuuichi yang terbentuk dari latihan dan pengalaman. Tanpa sedikit pun kesusahan, Yuuichi menariknya ke atas dengan kekuatan yang sangat terkontrol – setiap gerakan dihitung dengan presisi agar tubuh lembut sang guru tidak terbentur pinggiran logam yang tajam dan bisa menyebabkan luka.

Saat Chika berhasil masuk ke dalam lorong ventilasi, ia terpaksa merangkak dengan posisi yang sangat dekat tepat di depan Yuuichi. Ruang yang terbatas hanya sekitar satu meter lebar dan setengah meter tinggi membuat tubuhnya harus menekuk dengan sangat rendah, membuat punggungnya membungkuk dan dada nyaris bersentuhan dengan wajah Yuuichi yang berada tepat di belakangnya. Aroma parfum mawar yang selalu ia gunakan – kini bercampur dengan aroma keringat dingin dari tubuhnya yang masih tegang – memenuhi indra penciuman Yuuichi dalam jarak yang sangat intim, membuatnya harus menahan napas sejenak agar tidak terganggu fokusnya.

"Maafkan aku, Shiro-kun... ini benar-benar sangat sempit," bisik Chika dengan suara yang sangat lembut, wajahnya pasti sudah memerah meskipun tidak terlihat jelas dalam kegelapan. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan kedekatan fisik ini, namun juga tidak bisa menyangkal bahwa ada rasa aman yang muncul saat berada begitu dekat dengan Yuuichi.

"Tidak apa-apa. Tetap bergerak maju, Sensei. Jangan berhenti kecuali aku yang menyuruhmu berhenti," jawab Yuuichi dengan suara rendah yang bergetar lembut, uap napasnya menyentuh leher Chika dan membuat guru kesehatan itu merinding halus dari kepala hingga ujung kaki.

Setelah Chika cukup maju, Sakura Hoshino menyusul dengan gerakan yang lincah dan terampil – tubuhnya yang terbiasa dengan latihan bela diri membuatnya mudah beradaptasi dengan posisi merangkak yang tidak nyaman. Ia bahkan bisa membawa bokken kayu eknya dengan hati-hati tanpa membuat suara sedikit pun. Diikuti kemudian oleh Rina Suzuki yang masih sempat menggerutu dengan suara rendah tentang betapa tidak higienisnya lorong ventilasi ini, menyebutkan jumlah bakteri yang mungkin ada di permukaan logam dengan angka yang sangat detail. Setelah semua anggota kelompok masuk dengan selamat, Yuuichi memasang kembali penutup ventilasi dengan sangat hati-hati, menggesernya perlahan hingga tidak ada suara sedikit pun dan tidak menyisakan celah yang bisa dilihat dari luar.

Lorong ventilasi itu sesungguhnya hanya memiliki lebar sekitar satu meter dan tinggi yang memaksa mereka untuk merangkak dengan menggunakan siku dan lutut. Cahaya hanya bisa masuk melalui sela-sela lubang udara kecil yang mereka lewati setiap beberapa meter sekali, memberikan efek garis-garis cahaya terang yang jatuh di tubuh mereka secara bergantian – membuat bagian tubuh yang terkena cahaya terlihat jelas sementara bagian lainnya tenggelam dalam kegelapan pekat.

"Menganalisis integritas struktur lorong dengan sistem pemindaian 3D... Hasilnya cukup memuaskan Kakak. Lorong ini cukup kuat untuk menampung berat badan kalian berempat dengan aman, asalkan si jenius di belakang sana tidak membawa terlalu banyak botol asam sulfat di dalam tasnya yang bisa menyebabkan korosi pada logam jika tumpah."

Diam saja, Miu. Cukup berikan aku visualisasi rute terpendek ke gedung olahraga, perintah Yuuichi dalam hati, sambil merangkak dengan hati-hati di belakang Chika, menjaga jarak yang cukup namun tetap siap membantu jika terjadi sesuatu.

[ PEMETAAN AREA DIAKTIFKAN ]

TARGET UTAMA: GEDUNG OLAHRAGA

JARAK SISA: 120 METER

RUTE TERSEDIA: 2 jalur – Jalur A (Lurus namun melewati area terbuka di atas aula utama) | Jalur B (Berliku namun lebih tersembunyi)

REKOMENDASI SISTEM: Jalur A – lebih cepat namun berisiko tinggi

Suara gemeretak logam yang keras di bawah lutut mereka menjadi satu-satunya melodi yang terdengar di lorong yang sunyi itu. Setiap gerakan membuat lorong sedikit bergetar, mengirimkan getaran yang menyebar ke seluruh tubuh mereka. Yuuichi bisa melihat punggung Chika yang berada tepat di depannya; gerakan pinggul sang guru saat merangkak dengan hati-hati menciptakan pemandangan yang cukup mengganggu fokusnya, namun ia dengan cepat menepis pikiran itu dan kembali fokus pada rute yang harus ditempuh.

Namun, konsentrasinya segera terpecah saat sebuah suara dentuman sangat keras terdengar dari arah koridor di bawah mereka – suara seperti gunung yang runtuh atau gedung yang ambruk.

DUAAM!

Seluruh lorong ventilasi bergetar hebat seolah sedang mengalami gempa bumi kecil. Sakura yang berada tepat di belakang Chika hampir kehilangan keseimbangan, tubuhnya menjorok ke depan dan secara tidak sengaja memegang kaki Yuuichi dengan erat untuk menahan diri agar tidak terjatuh.

"Apa itu?! Apa yang terjadi di bawah sana?!" bisik Sakura dengan nada yang mulai menunjukkan rasa panik, matanya bergerak cepat mencari sumber suara yang mengerikan itu.

"Jangan bicara terlalu keras. Cukup diam dan lihat ke bawah," perintah Yuuichi dengan suara yang rendah namun penuh kekuasaan, membuat semua orang langsung menuruti tanpa berkomentar lagi.

Mereka baru saja sampai tepat di atas sebuah jeruji ventilasi besar yang menghadap langsung ke aula utama lantai dua – ruangan yang biasanya digunakan untuk acara sekolah atau pertemuan umum. Yuuichi memberi isyarat dengan tangan untuk mereka berhenti, lalu ia perlahan menempelkan wajahnya ke jeruji logam yang berlubang, mengintip dengan hati-hati ke bawah untuk melihat apa yang terjadi.

Di bawah sana, pemandangan yang ada adalah seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan paling mengerikan. Sesosok makhluk raksasa dengan tinggi hampir tiga meter berdiri di tengah aula, tubuhnya penuh dengan otot-otot yang membengkak hingga merobek seragam sekolahnya yang sudah sobek berkeping-keping. Kulitnya berwarna kelabu gelap dengan pembuluh darah besar berwarna ungu yang menonjol seperti akar pohon yang menjalar di permukaan kulitnya. Salah satu lengannya membengkak hingga tiga kali lipat dari ukuran normal manusia, berakhir dengan kepalan tangan sebesar bola basket yang berlumuran darah segar dan serpihan beton dari pilar yang baru saja ia hancurkan.

Itu adalah zombie tipe Tank – yang mungkin merupakan subjek eksperimen yang gagal dari proyek Chimera yang pernah menculik Yuuichi, atau mungkin varian virus yang bermutasi dengan kecepatan yang luar biasa.

Makhluk itu baru saja menghancurkan pilar beton tebal yang menyangga langit-langit aula hanya dengan satu hantaman saja – tanpa menunjukkan tanda-tanda kelelahan sedikit pun. Di sekelilingnya, zombie-zombie biasa yang biasanya sangat agresif tampak menjauh dengan cepat, seolah-olah mereka pun memiliki rasa takut pada predator puncak yang ada di hadapan mereka ini.

"Mustahil secara biologis..." Rina yang mengintip dari balik bahu Sakura berbisik dengan nada tidak percaya, matanya di balik kacamata membelalak lebar. "Massa otot sebanyak itu membutuhkan metabolisme yang sangat tinggi dan konsumsi energi yang luar biasa besar. Bagaimana mungkin virus itu bisa memicu pertumbuhan dan fungsi tubuh seperti itu dalam hitungan menit saja?"

"Itu bukan virus biasa seperti yang kau pikirkan, Rina," gumam Yuuichi dengan suara yang penuh dengan benci yang dalam, matanya yang merah pekat berkilat dengan emosi yang sudah lama terkubur. "Itu adalah karya dari orang-orang yang menculikku dulu – mereka yang membuatku menjadi bagian dari eksperimen yang mengerikan itu."

"Peringatan Kritis: Target memiliki sistem pendengaran yang sangat sensitif terhadap frekuensi rendah. Jangan menjatuhkan apa pun dari lorong ini atau membuat suara yang tidak perlu, karena jika tidak, kalian akan seperti kaleng sarden yang dihancurkan oleh tangan besarnya."

Tiba-tiba, makhluk raksasa itu berhenti semua gerakannya yang sebelumnya sangat ganas. Ia mengangkat kepalanya yang besar, hidungnya yang sudah cacat mengendus udara dengan seksama seperti anjing yang sedang mencari mangsa. Kepalanya perlahan berputar ke segala arah, hingga akhirnya berhenti dan menatap tepat ke arah langit-langit – tepat ke arah posisi ventilasi tempat Yuuichi dan kelompoknya berada.

Jantung Chika berdegup begitu kencang dan keras hingga Yuuichi bisa mendengarnya dengan jelas meskipun berada di belakangnya. Ketegangan di lorong sempit itu mencapai puncaknya – udara terasa begitu berat hingga sulit untuk dihirup. Jika mereka bergerak sekarang, suara gesekan tubuh dengan permukaan logam akan langsung memberitahu makhluk itu tentang posisi mereka. Jika mereka tetap diam, ada kemungkinan besar makhluk itu akan menemukan mereka dengan indra penciumannya yang tajam.

Yuuichi berpikir dengan sangat cepat. Ia perlahan mengulurkan tangannya ke depan, melewati pinggang Chika dengan hati-hati agar tidak menyentuhnya secara tidak sengaja, lalu menaruh telapak tangannya yang hangat dengan lembut di atas mulut sang guru untuk mencegahnya mengeluarkan suara sekecil apa pun jika ia tiba-tiba terkejut atau ketakutan.

Chika membelalak mata dalam kegelapan, tubuhnya langsung menegang saat merasakan sentuhan telapak tangan Yuuichi yang sedikit kasar dan berbau mesiu serta sedikit darah. Namun ia segera mengerti maksud dari tindakan Yuuichi itu dan dengan cepat memejamkan matanya, mencoba menenangkan napasnya yang mulai terengah-engah dengan cara menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya.

Makhluk di bawah sana mengeluarkan geraman rendah yang sangat dalam – suara yang begitu kuat hingga membuat dada mereka semua bergetar dan telinga terasa berdenging. Ia menatap jeruji ventilasi tempat mereka bersembunyi selama beberapa detik yang terasa seperti berlangsung selama berabad-abad, mata matanya yang merah menyala seperti bara api di kegelapan aula. Namun akhirnya, ia mengangguk sedikit seolah tidak menemukan apa-apa, lalu berbalik dan menghantam pintu aula yang terbuat dari kayu tebal hingga hancur berkeping-keping, melanjutkan perburuannya ke arah gedung olahraga melalui jalur di bawah sana.

Yuuichi melepaskan tangannya dari mulut Chika dengan perlahan, napasnya sendiri terasa berat dan panas setelah harus menahan napas sejenak. Ia bisa merasakan keringat yang menetes di dahinya meskipun udara di lorong cukup dingin.

"Dia sedang menuju ke arah yang sama dengan kita," bisik Yuuichi dengan suara yang penuh dengan keprihatinan namun tetap tenang. "Kita harus bisa sampai di gedung olahraga lebih dulu dan menyiapkan jebakan untuknya. Rina, bom molotov yang kamu buat... aku punya rencana khusus untuk menggunakan mereka semua."

Rina menyeringai tipis dalam kegelapan – sebuah senyum yang menunjukkan kegembiraan karena bisa menggunakan pengetahuannya untuk sesuatu yang berguna. Sebuah kilatan kecerdasan yang licik muncul di matanya meskipun tidak terlihat jelas. "Aku suka cara kamu berpikir sekarang, Shiro. Setidaknya itu jauh lebih logis daripada sekadar lari seperti tikus yang sedang dikejar oleh harimau."

"Baiklah, sekarang kita harus bergerak lagi. Cepat tapi tetap sunyi. Setiap detik yang kita tunda bisa menjadi kesempatan yang hilang untuk menyelamatkan diri kita," perintah Yuuichi dengan suara yang jelas dan tegas.

Mereka kembali merangkak dengan hati-hati di dalam lorong yang sempit, kali ini dengan kecepatan yang lebih cepat dan urgensi yang lebih besar. Di dalam lorong yang panas dan penuh debu itu, ikatan yang ada di antara mereka mulai mengeras dengan sendirinya – bukan hanya karena rasa takut yang sama terhadap bahaya yang mengintai di luar, tapi karena mereka semua tahu dengan pasti bahwa pria yang memimpin mereka dari depan itu adalah satu-satunya garis tipis yang memisahkan mereka dari kematian yang mengerikan yang sedang berjalan di bawah sana.

Episodes
1 Kembali ke Hari Sebelum Apocalypse Dimulai
2 Jalan Menjadi Penyelamat atau Kematian
3 Kesatuan Tanpa Diucapkan
4 Ditengah Tengah Batas Hidup Dan Mati
5 Api Putih Yang Membeku
6 Dibalik Api dan Es
7 Kabut dan Kecepatan, Jalan Menjauh dari Kematian
8 Penyerangan Tak Terduga
9 Pemimpin dan Pilihan
10 Ledakan Es
11 Gerbang Kayu {1}
12 Gerbang Kayu {2}
13 Janji Yang Terucap {1}
14 Janji Yang Terucap {2}
15 Badai Es {1}
16 Badai Es {2}
17 Gemuruh di Tengah Kegelapan
18 Kenangan Yang Hilang
19 Gema dan Langkah Naga {1}
20 Gema dan Langkah Naga {2}
21 Sang Pelindung
22 Pelarian di Bawah Langit
23 Pembalasan Sang Naga Es
24 Istana Bawah Tanah
25 Bayangan Masa Lalu
26 Ambang Kehancuran {1}
27 Ambang Kehancuran {2}
28 Penyusup {1}
29 Penyusup {2}
30 Dibalik Layar {1}
31 Dibalik Layar {2}
32 Perjanjian Dibawakan Rembulan {1}
33 Perjanjian dibawah Rembulan {2}
34 Zona Merah {1}
35 Zona Merah {2}
36 Bayangan Masa Lalu {1}
37 Bayangan Masa Lalu {2}
38 Daftar Hitam dan Rahasia {1}
39 Daftar Hitam dan Rahasia {2}
40 Suasanya Yang Dingin {1}
41 Suasana Yang Dingin {2}
42 Pertemuan Dua Kubu {1}
43 Pertemuan Dua Kubu {2}
44 Penenun Duri
45 Pengejaran {1}
46 Pengejaran {2}
47 Kompensasi {1}
48 Kompensasi {2}
49 Pembersihan Penyusup {1}
50 Pembersihan Penyusup {2}
51 Dalam Bayangan
52 Perjamuan
53 Perjamuan {2}
54 Nafas Terahkir
55 Kebangkitan
56 Sang Peramal
57 Kesesatan {1}
58 Kesesatan {2}
59 Dibawah Altar {1}
60 Dibawah Altar {2}
61 Lembaran Masa Lalu {1}
62 Lembaran Masa Lalu {2}
63 Munculnya Keretakan
64 Kesetiaan Yang Mulai Pudar
65 Bayangan Sang Ayah
66 Jejak Yang Tak Terlupakan
67 Kebenaran Selalu Menyakitkan
68 Gemerlap Dibalik Kabut
69 Serpihan Memori yang Membeku
70 Serpihan Memori yang Membeku {2}
71 Refleksi yang Terdistorsi {1}
72 Refleksi yang Terdistorsi {2}
73 Inti dari Segalanya {1}
74 Inti dari Segalanya {2}
75 Inti dari Segalanya
76 Yang Akan Terjadi
77 Sisa Masa Lalu
78 Bayangan Masa Lalu Yang Muncul Kembali
79 Kediaman di Tengah Badai
80 Kediaman di Tengah Badai {2}
81 Benturan Baja dan Berlian
82 Bahtera di Tengah Hening {1}
83 Bahtera di Tengah Hening {2}
84 Gejolak Inti Es
85 Pembalasan di Balik Kabut
86 Kehangatan di Tengah Pengepungan {1}
87 Kehangatan di Tengah Pengepungan {2}
88 Badai Dari Langit {1}
89 Badai Dari Langit {2}
90 Harga Sebuah Kesetiaan
91 Jalinan Jiwa {1}
92 Jalinan Jiwa {2}
93 Hijau di Tengah Putih
94 Keseimbangan di Ambang Batas
95 Keseimbangan di Ambang Batas {2}
96 Warisan di Bawah Akar {1}
97 Warisan di Bawah Akar {2}
98 Serpihan Memori {1}
99 Serpihan Memori {2}
100 Hamparan Debu dan Kristal {1}
101 Hamparan Debu dan Kristal {2}
102 Aliansi di Balik Timbal
103 Aliansi di Balik Timbal {2}
104 Benih Kekuatan {1}
105 Benih Kekuatan {2}
106 Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {1}
107 Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {2}
108 Badai di Cakrawala {1}
109 Badai di Cakrawala {2}
110 Pendaratan yang Terbakar {1}
111 Pendaratan yang Terbakar {2}
112 Kota yang Menangis {1}
113 Kota yang Menangis {2}
114 Kedalaman Abyss {1}
115 Kedalaman Abyss {2}
116 Bedah di Jantung Badai {1}
117 Bedah di Jantung Badai {2}
118 Kebangkitan yang Pahit {1}
119 Kebangkitan yang Pahit {2}
120 Gema Masa Lalu
121 Gema Masa Lalu {2}
122 Napas di Puncak Dunia
123 Napas di Puncak Dunia {2}
124 Pilihan Sang Pewaris {1}
125 Pilihan Sang Pewaris {2}
126 Cermin yang Retak {1}
127 Cermin yang Retak {2}
128 Bara di Tengah Salju
129 Manifestasi Mahkota Emas
130 Fajar yang Terbelah
131 Amarah yang Membeku
132 Cermin Masa Lalu
133 Gema di Balik Cakrawala {1}
134 Gema di Balik Cakrawala {2}
135 Tamu dari Cakrawala
136 Resonansi Dua Jiwa
137 Belati di Balik Senyum
138 Diujung Kehancuran
139 Akhir Sang Pewaris
140 Di Pesisir Hitam
141 Dipesisir
142 Teluk Terlarang
143 Perlawanan
144 Dibalik Layar
145 Kebangkitan Tak Sempurna
146 Kelahiran Kembali
147 Meditasi Ditengah Gejolak
148 Senjata Terlarang
149 Lembah Kesunyian
150 Keheningan
151 Penyamaran di Hutan Logam {1}
152 Penyamaran di Hutan Logam {2}
153 Gerbang Sektor 7-B
154 Di Jantung Industri
155 Strategi di Balik Bayang-Bayang {1}
156 Strategi di Balik Bayang-Bayang {2}
157 Pertemuan di Balik Tirai Data
158 Pertemuan di Balik Tirai Data {2}
159 Pelarian di Zona Merah
160 Pelarian di Zona Merah {2}
161 Sisa-Sisa Amarah
162 Teka-Teki dalam Kode
163 Teka-Teki dalam Kode {2}
164 Fajar
165 Ambang Batas Kehancuran
166 Fondasi
167 Dibalik Badai
168 Dibalik Dinding
169 Suara Yang Bergema
170 Badai Yang Datang
171 Badai Yang Terus Melanda
172 Retakan Yang Terjadi
173 Langit Lembah Yang Mulai Runtuh
174 Melangkah Pergi
175 Kepulangan Yang Berdarah
176 Sisa Sisa
177 Rahasia
178 Di Ujung Utara
179 Fajar Di Ujung Cakrawala
180 Gerbang Sektor Zero
181 Altar Sang Rasul
182 Penantian
183 Fajar Ditengah Kesunyian
184 Cakrawala
185 Jejak di Debu Pesisir Part 1
186 Jejak di Debu Pesisir Part 2
187 Napas Garam dan Besi Part 1
188 Napas Garam dan Besi Part 2
189 Tarian di Pasir Kelabu Part 1
190 Tarian di Pasir Kelabu Part 2
191 Garis Baja di Pasir Putih Part 1
192 Garis Baja di Pasir Putih Part 2
193 Detak Jantung
194 Sela di Antara Badai Part 1
195 Sela di Antara Badai Part 2
196 Bayang-Bayang Kota Timur
197 Menara Besi di Kota Mati Part 1
198 Menara Besi di Kota Mati Part 2
199 Dentang Baja di Atap Langit
200 Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
201 Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
202 Benang Merah di Ambang Senyap
203 Percikan di Balik Kabut
204 Gema di Lorong
205 Tarian Baja di Gerbang Fajar
206 Pelabuhan Terakhir di Ujung Mata
207 Garam di Luka dan Janji di Balik Tirai
208 Saat Samudra Membisikkan Namamu
209 Baja yang Mencair dalam Pelukan
210 Rahasia di Balik Arus Dingin
211 Mulut Naga Hitam
212 Arus Listrik
213 Gema di lorong
214 Di Ambang Kehancuran
215 Sisa
216 Dibalik Gelombang Tersembunyi
Episodes

Updated 216 Episodes

1
Kembali ke Hari Sebelum Apocalypse Dimulai
2
Jalan Menjadi Penyelamat atau Kematian
3
Kesatuan Tanpa Diucapkan
4
Ditengah Tengah Batas Hidup Dan Mati
5
Api Putih Yang Membeku
6
Dibalik Api dan Es
7
Kabut dan Kecepatan, Jalan Menjauh dari Kematian
8
Penyerangan Tak Terduga
9
Pemimpin dan Pilihan
10
Ledakan Es
11
Gerbang Kayu {1}
12
Gerbang Kayu {2}
13
Janji Yang Terucap {1}
14
Janji Yang Terucap {2}
15
Badai Es {1}
16
Badai Es {2}
17
Gemuruh di Tengah Kegelapan
18
Kenangan Yang Hilang
19
Gema dan Langkah Naga {1}
20
Gema dan Langkah Naga {2}
21
Sang Pelindung
22
Pelarian di Bawah Langit
23
Pembalasan Sang Naga Es
24
Istana Bawah Tanah
25
Bayangan Masa Lalu
26
Ambang Kehancuran {1}
27
Ambang Kehancuran {2}
28
Penyusup {1}
29
Penyusup {2}
30
Dibalik Layar {1}
31
Dibalik Layar {2}
32
Perjanjian Dibawakan Rembulan {1}
33
Perjanjian dibawah Rembulan {2}
34
Zona Merah {1}
35
Zona Merah {2}
36
Bayangan Masa Lalu {1}
37
Bayangan Masa Lalu {2}
38
Daftar Hitam dan Rahasia {1}
39
Daftar Hitam dan Rahasia {2}
40
Suasanya Yang Dingin {1}
41
Suasana Yang Dingin {2}
42
Pertemuan Dua Kubu {1}
43
Pertemuan Dua Kubu {2}
44
Penenun Duri
45
Pengejaran {1}
46
Pengejaran {2}
47
Kompensasi {1}
48
Kompensasi {2}
49
Pembersihan Penyusup {1}
50
Pembersihan Penyusup {2}
51
Dalam Bayangan
52
Perjamuan
53
Perjamuan {2}
54
Nafas Terahkir
55
Kebangkitan
56
Sang Peramal
57
Kesesatan {1}
58
Kesesatan {2}
59
Dibawah Altar {1}
60
Dibawah Altar {2}
61
Lembaran Masa Lalu {1}
62
Lembaran Masa Lalu {2}
63
Munculnya Keretakan
64
Kesetiaan Yang Mulai Pudar
65
Bayangan Sang Ayah
66
Jejak Yang Tak Terlupakan
67
Kebenaran Selalu Menyakitkan
68
Gemerlap Dibalik Kabut
69
Serpihan Memori yang Membeku
70
Serpihan Memori yang Membeku {2}
71
Refleksi yang Terdistorsi {1}
72
Refleksi yang Terdistorsi {2}
73
Inti dari Segalanya {1}
74
Inti dari Segalanya {2}
75
Inti dari Segalanya
76
Yang Akan Terjadi
77
Sisa Masa Lalu
78
Bayangan Masa Lalu Yang Muncul Kembali
79
Kediaman di Tengah Badai
80
Kediaman di Tengah Badai {2}
81
Benturan Baja dan Berlian
82
Bahtera di Tengah Hening {1}
83
Bahtera di Tengah Hening {2}
84
Gejolak Inti Es
85
Pembalasan di Balik Kabut
86
Kehangatan di Tengah Pengepungan {1}
87
Kehangatan di Tengah Pengepungan {2}
88
Badai Dari Langit {1}
89
Badai Dari Langit {2}
90
Harga Sebuah Kesetiaan
91
Jalinan Jiwa {1}
92
Jalinan Jiwa {2}
93
Hijau di Tengah Putih
94
Keseimbangan di Ambang Batas
95
Keseimbangan di Ambang Batas {2}
96
Warisan di Bawah Akar {1}
97
Warisan di Bawah Akar {2}
98
Serpihan Memori {1}
99
Serpihan Memori {2}
100
Hamparan Debu dan Kristal {1}
101
Hamparan Debu dan Kristal {2}
102
Aliansi di Balik Timbal
103
Aliansi di Balik Timbal {2}
104
Benih Kekuatan {1}
105
Benih Kekuatan {2}
106
Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {1}
107
Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang {2}
108
Badai di Cakrawala {1}
109
Badai di Cakrawala {2}
110
Pendaratan yang Terbakar {1}
111
Pendaratan yang Terbakar {2}
112
Kota yang Menangis {1}
113
Kota yang Menangis {2}
114
Kedalaman Abyss {1}
115
Kedalaman Abyss {2}
116
Bedah di Jantung Badai {1}
117
Bedah di Jantung Badai {2}
118
Kebangkitan yang Pahit {1}
119
Kebangkitan yang Pahit {2}
120
Gema Masa Lalu
121
Gema Masa Lalu {2}
122
Napas di Puncak Dunia
123
Napas di Puncak Dunia {2}
124
Pilihan Sang Pewaris {1}
125
Pilihan Sang Pewaris {2}
126
Cermin yang Retak {1}
127
Cermin yang Retak {2}
128
Bara di Tengah Salju
129
Manifestasi Mahkota Emas
130
Fajar yang Terbelah
131
Amarah yang Membeku
132
Cermin Masa Lalu
133
Gema di Balik Cakrawala {1}
134
Gema di Balik Cakrawala {2}
135
Tamu dari Cakrawala
136
Resonansi Dua Jiwa
137
Belati di Balik Senyum
138
Diujung Kehancuran
139
Akhir Sang Pewaris
140
Di Pesisir Hitam
141
Dipesisir
142
Teluk Terlarang
143
Perlawanan
144
Dibalik Layar
145
Kebangkitan Tak Sempurna
146
Kelahiran Kembali
147
Meditasi Ditengah Gejolak
148
Senjata Terlarang
149
Lembah Kesunyian
150
Keheningan
151
Penyamaran di Hutan Logam {1}
152
Penyamaran di Hutan Logam {2}
153
Gerbang Sektor 7-B
154
Di Jantung Industri
155
Strategi di Balik Bayang-Bayang {1}
156
Strategi di Balik Bayang-Bayang {2}
157
Pertemuan di Balik Tirai Data
158
Pertemuan di Balik Tirai Data {2}
159
Pelarian di Zona Merah
160
Pelarian di Zona Merah {2}
161
Sisa-Sisa Amarah
162
Teka-Teki dalam Kode
163
Teka-Teki dalam Kode {2}
164
Fajar
165
Ambang Batas Kehancuran
166
Fondasi
167
Dibalik Badai
168
Dibalik Dinding
169
Suara Yang Bergema
170
Badai Yang Datang
171
Badai Yang Terus Melanda
172
Retakan Yang Terjadi
173
Langit Lembah Yang Mulai Runtuh
174
Melangkah Pergi
175
Kepulangan Yang Berdarah
176
Sisa Sisa
177
Rahasia
178
Di Ujung Utara
179
Fajar Di Ujung Cakrawala
180
Gerbang Sektor Zero
181
Altar Sang Rasul
182
Penantian
183
Fajar Ditengah Kesunyian
184
Cakrawala
185
Jejak di Debu Pesisir Part 1
186
Jejak di Debu Pesisir Part 2
187
Napas Garam dan Besi Part 1
188
Napas Garam dan Besi Part 2
189
Tarian di Pasir Kelabu Part 1
190
Tarian di Pasir Kelabu Part 2
191
Garis Baja di Pasir Putih Part 1
192
Garis Baja di Pasir Putih Part 2
193
Detak Jantung
194
Sela di Antara Badai Part 1
195
Sela di Antara Badai Part 2
196
Bayang-Bayang Kota Timur
197
Menara Besi di Kota Mati Part 1
198
Menara Besi di Kota Mati Part 2
199
Dentang Baja di Atap Langit
200
Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
201
Detak Jantung di Tengah Badai Part 1
202
Benang Merah di Ambang Senyap
203
Percikan di Balik Kabut
204
Gema di Lorong
205
Tarian Baja di Gerbang Fajar
206
Pelabuhan Terakhir di Ujung Mata
207
Garam di Luka dan Janji di Balik Tirai
208
Saat Samudra Membisikkan Namamu
209
Baja yang Mencair dalam Pelukan
210
Rahasia di Balik Arus Dingin
211
Mulut Naga Hitam
212
Arus Listrik
213
Gema di lorong
214
Di Ambang Kehancuran
215
Sisa
216
Dibalik Gelombang Tersembunyi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!