Dua puluh prajurit tidak cukup.
Itu adalah kalkulasi pertama yang melintas di benak Thalric ketika ia melihat apa yang terjadi di bawah sana, tetapi ia terlalu terlatih untuk membiarkan keterkejutannya muncul ke permukaan. Sebaliknya, ia menggenggam erat pagar balkon marmer itu, buku-buku jarinya memutih, dan ia mengamati dengan mata yang tidak berkedip.
Ilyas tidak mengeluarkan senjata. Ia tidak perlu.
Ketika prajurit pertama—seorang pria besar dengan bekas luka di rahangnya—mencoba menangkap pergelangan tangan Ilyas, energi ungu di telapak tangan pemuda itu menyala seperti api yang tiba-tiba disentuh bensin. Bukan ledakan. Bukan kilatan yang dramatis. Hanya sebuah denyut yang cepat, hampir tidak terlihat, tetapi ketika denyut itu menyentuh sarung tangan besi prajurit tersebut, logamnya berubah warna menjadi merah karatan dalam hitungan detik, lalu hancur menjadi debu.
Prajurit itu berteriak—bukan karena kesakitan, tetapi karena terkejut. Tangannya sekarang telanjang, sarung tangannya telah runtuh di sekeliling jari-jarinya seperti cangkang telur yang dihancurkan, dan kulit di bawahnya memerah karena sesuatu yang mirip dengan sengatan listrik tapi tidak persis sama.
"Jangan menyentuhku," kata Ilyas, dan suaranya masih tenang. Masih datar. Seolah-olah ia sedang menjelaskan cuaca, bukan mengancam dua puluh tentara bersenjata. "Aku tidak ingin melukai siapa pun malam ini. Tapi aku juga tidak akan membiarkan kalian membawa Eldrin Voss ke kematiannya sebelum ia mengatakan apa yang perlu dikatakan."
Prajurit kedua lebih pintar—atau mungkin lebih pengecut. Alih-alih menyentuh Ilyas langsung, ia mencoba menombaknya dari belakang, berharap serangan kejutan akan berhasil di mana kekuatan mentah gagal.
Ilyas tidak menoleh.
Namun tombak itu berhenti sekitar setengah meter dari punggungnya, seolah-olah menabrak dinding tak terlihat. Ujung logamnya membengkok dengan suara yang aneh—bukan dentang metalik yang biasa, tetapi lebih seperti suara kertas diremas, sesuatu yang tidak seharusnya dihasilkan oleh besi. Prajurit itu terhuyung mundur, matanya melebar di balik helmnya, dan tombaknya jatuh ke tanah dengan bunyi gemerincing yang nyaring.
"Sialan," bisik seseorang di barisan belakang.
"Bentuk lingkaran!" perintah seorang kapten—wanita dengan rambut pendek dan bekas luka bakar di leher kirinya. "Jangan biarkan dia mendekati tahanan!"
Prajurit-prajurit itu bergerak dengan disiplin yang terlatih selama bertahun-tahun. Dalam hitungan detik, mereka telah membentuk dua baris melingkar di sekitar Eldrin Voss, dengan perisai mereka menghadap ke luar dan tombak mereka mengarah ke Ilyas. Formasi pertahanan standar untuk melawan ancaman tunggal. Efektif melawan sebagian besar serangan.
Ilyas tertawa.
Bukan tawa yang keras atau mengejek. Lebih seperti hembusan napas yang disertai getaran di tenggorokan—pengakuan bahwa sesuatu itu absurd. "Kalian pikir perisai bisa melindungi kalian? Kalian pikir besi adalah penghalang? Di Varethra, Kapten, besi adalah konduktor. Kalian hanya membuat dirimu menjadi target yang lebih mudah."
Kapten wanita itu tidak menggoyahkan ekspresinya. "Kami memiliki perintah untuk melindungi tahanan sampai eksekusi dilaksanakan. Kami akan melaksanakannya atau mati mencoba."
"Pilihan yang mengagumkan," kata Ilyas. "Sangat mengagumkan. Juga sangat bodoh."
Ia melangkah maju satu langkah.
Seluruh barisan pertama mundur satu langkah.
Kapten itu berteriak, "Tahan posisi!" tetapi suaranya sedikit meninggi di akhir, memberikan petunjuk kecil bahwa bahkan ia pun tidak sepenuhnya yakin dengan perintahnya sendiri.
Dari balkon, Thalric menyaksikan semuanya dengan ekspresi yang tidak berubah. Namun di dalam kepalanya, ia sudah menghitung. Dua puluh prajurit melawan satu pemuda dengan kekuatan yang tidak diketahui. Jika Ilyas benar-benar sekuat yang ditunjukkan oleh energi ungu itu—mampu menghancurkan logam hanya dengan sentuhan—maka dua puluh tidak akan cukup. Seratus mungkin tidak akan cukup. Dan Thalric tidak memiliki seratus prajurit di sini malam ini. Ia hanya memiliki dua ribu, tetapi mereka tersebar di seluruh perimeter alun-alun, tidak terkonsentrasi di satu titik.
Kesalahan taktis.
Ia akan membicarakan hal ini nanti dengan komandan pasukan. Jika ada nanti.
"Renvar," panggil Thalric, suaranya memotong ketegangan di udara. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Jika kamu hanya ingin menyelamatkan nyawa Voss, kamu sudah bisa melakukannya sekarang. Kamu jelas memiliki kemampuan untuk melarikan diri bersamanya. Tapi kamu tidak melakukannya. Kamu masih berdiri di sini, berbicara. Jadi bicaralah. Apa yang kamu inginkan?"
Ilyas berhenti melangkah.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia mengalihkan pandangannya sepenuhnya dari prajurit-prajurit di sekitarnya dan menatap langsung ke arah Thalric. Matanya—abu-abu sekarang, mungkin karena pantulan cahaya obor—terlihat seperti kaca yang dipoles, memantulkan kembali apa pun yang dilihatnya tanpa menambahkan apa pun dari dirinya sendiri.
"Aku ingin kau mengerti sesuatu, Hakim Agung," kata Ilyas. "Kau duduk di balkon indahmu, mengenakan jubah merah yang harganya setara dengan pendapatan setahun keluarga di Distrik Bawah, dan kau berpikir bahwa kau memegang kendali. Kau berpikir bahwa Kanselir Morvain memegang kendali. Bahwa Varethra adalah mesin yang sempurna, dan kalian berdua adalah insinyurnya."
Ia menggelengkan kepala perlahan.
"Kalian bukan insinyur. Kalian hanyalah penumpang yang kebetulan duduk di kursi depan ketika mesinnya mulai meledak."
"Metafora yang puitis," komentar Thalric, nada suaranya tetap datar. "Tapi tidak menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaanmu tidak relevan," balas Ilyas. "Apa yang aku inginkan tidak penting. Yang penting adalah apa yang akan terjadi jika kau tidak mendengarkanku malam ini."
Ia mengangkat tangan kirinya—bukan tangan kanan yang berdenyut dengan energi ungu, tetapi tangan kiri yang tampak normal, tanpa cahaya, tanpa kekuatan yang terlihat. Dengan lembut, ia menunjuk ke arah menara tertinggi di Distrik Atas, menara yang menjulam di kejauhan dengan puncaknya yang runcing menembus kabut.
"Menara Keadilan," katanya. "Dibangun dua belas tahun lalu. Arsiteknya? Eldrin Voss. Materialnya? Batu granit dari tambang timur, campuran besi dan perak di fondasinya, dan sedikit—sangat sedikit—dari debu yang diambil dari reruntuhan Menara Selatan."
Nama "Menara Selatan" lagi.
Thalric merasakan sesuatu yang dingin merayap di tulang punggungnya, tetapi ia tidak membiarkannya terlihat. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, Hakim Agung, bahwa Menara Keadilan memiliki fondasi yang sama dengan Menara Selatan. Fondasi yang sama yang runtuh tujuh belas tahun lalu dan membunuh tiga ratus tujuh puluh dua orang dalam satu malam. Tiga ratus tujuh puluh dua orang, Thalric. Apakah kau tahu angka itu? Apakah kau pernah menghitungnya? Atau bagi orang sepertimu, mereka hanya statistik?"
Kapten wanita itu menarik napas tajam. Beberapa prajurit lainnya saling berpandangan—gerakan kecil di balik helm mereka, hampir tidak terlihat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa Ilyas telah berhasil melakukan sesuatu yang tidak berhasil dilakukan oleh pemberontak mana pun dalam satu dekade terakhir.
Ia telah membuat mereka berpikir.
"Apa yang kau katakan tidak masuk akal," potong Thalric, tetapi ada nada defensif dalam suaranya yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Menara Keadilan telah berdiri selama dua belas tahun. Tidak ada tanda-tanda kerusakan struktural. Inspeksi dilakukan setiap enam bulan—"
"Oleh siapa?" tanya Ilyas. "Oleh arsitek yang ditunjuk oleh Kanselir? Oleh inspektur yang bayarannya berasal dari kas kota yang sama yang mendanai pembangunan menara? Kalian tidak pernah benar-benar memeriksa fondasinya, Thalric. Kalian hanya memeriksa bagian yang terlihat. Karena kalian takut dengan apa yang akan kalian temukan jika kalian menggali lebih dalam."
Ia melangkah maju lagi, dan kali ini, tidak ada prajurit yang mundur—bukan karena mereka tidak takut, tetapi karena mereka telah mencapai batas lingkaran dan tidak punya tempat untuk pergi kecuali ke belakang, dan di belakang mereka adalah Eldrin Voss yang masih berlutut.
"Tiga hari lagi," kata Ilyas, suaranya turun menjadi bisikan yang anehnya terdengar oleh semua orang di alun-alun itu, "Menara Keadilan akan runtuh. Sama seperti Menara Selatan. Sama seperti Menara Timur yang runtuh lima tahun sebelum aku lahir. Sama seperti semua menara yang dibangun di atas fondasi yang sama—fondasi yang diletakkan bukan oleh manusia, tetapi oleh Arsitek."
Nama itu.
Arsitek.
Sekarang semua orang di alun-alun itu berdiri diam. Obor-obor terus berderak. Angin terus bertiup. Namun ada keheningan yang begitu dalam di antara para prajurit itu sehingga sehelai rambut pun yang jatuh akan terdengar seperti guntur.
Eldrin Voss, yang selama ini diam, tiba-tiba tertawa.
Bukan tawa orang gila. Bukan tawa orang yang putus asa. Tapi tawa orang yang telah menyimpan rahasia begitu lama sehingga rahasia itu mulai membusuk di dalam dirinya, dan sekarang—akhirnya—seseorang telah datang untuk mengambilnya.
"Dia benar," kata Voss, suaranya serak tetapi jelas. "Setiap kata yang dia ucapkan benar. Aku yang merancang fondasi itu. Aku yang mencampur debu dari reruntuhan ke dalam campuran batu. Aku melakukannya atas perintah—"
"Tutup mulutmu!" bentak Thalric, dan sekarang topengnya benar-benar retak. Wajahnya memerah karena amarah—atau mungkin ketakutan—dan tangannya yang sebelumnya tergenggam rapi di belakang punggung sekarang mengepal di samping tubuhnya. "Kamu adalah terpidana mati. Tidak ada yang percaya pada kata-kata seorang pengkhianat."
"Tapi mereka akan percaya pada bukti," kata Ilyas pelan.
Ia menekuk jari-jari tangan kanannya, dan energi ungu di sekitarnya mulai berputar—perlahan pada awalnya, kemudian semakin cepat, menciptakan pusaran kecil di udara di depannya. Pusaran itu berubah bentuk, memadat, dan dalam hitungan detik, sebuah objek terbentuk di telapak tangannya.
Sebuah batu.
Batu kecil, abu-abu, tidak istimewa. Batu yang bisa ditemukan di mana saja di Varethra.
Tapi batu ini berdenyut dengan cahaya yang sama seperti energi di tangan Ilyas. Denyut yang teratur. Denyut yang mengingatkan pada detak jantung.
"Ini adalah sampel dari fondasi Menara Keadilan," kata Ilyas. "Aku mengambilnya tiga malam yang lalu, dari celah di ruang bawah tanah yang tidak pernah diperiksa siapa pun. Batu ini mengandung jejak yang sama dengan debu dari Menara Selatan. Jejak Arsitek."
Ia melempar batu itu ke arah Kapten wanita itu.
Kapten itu menangkapnya—secara refleks—dan kemudian hampir menjatuhkannya lagi ketika batu itu terasa hangat di tangannya, berdenyut seperti sesuatu yang hidup. Ia menatap batu itu, kemudian menatap Ilyas, kemudian menatap Thalric di balkon.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Kapten itu tampak ragu.
"Kapten Vex," panggil Thalric, suaranya tajam. "Serahkan batu itu kepada salah satu letnanmu. Itu adalah barang bukti dalam penyelidikan—"
"Tidak," kata Kapten Vex.
Seluruh alun-alun terdiam.
Kapten Vex—wanita dengan rambut pendek dan bekas luka bakar di leher—menggenggam batu itu erat-erat di tangannya dan menatap langsung ke arah Thalric. "Dengan hormat, Yang Mulia, aku tidak bisa mengabaikan apa yang baru saja kulihat. Batu ini... batu ini tidak normal. Jika benar bahwa fondasi Menara Keadilan terbuat dari material yang sama dengan Menara Selatan, maka kita semua dalam bahaya. Bukan hanya tahanan ini. Bukan hanya pemuda ini. Tapi semua orang yang bekerja di menara itu. Semua orang yang tinggal di sekitarnya."
"Kapten Vex, kau melampaui wewenangmu—"
"Aku tidak melampaui wewenang apa pun, Yang Mulia. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap prajurit Varethra: melindungi rakyat. Dan rakyat tidak akan terlindungi jika kita membiarkan sebuah menara runtuh di atas kepala mereka hanya karena kita terlalu sombong untuk mengakui bahwa kita mungkin salah."
Thalric menatap Kapten Vex seolah-olah ia baru saja ditampar.
Di bawah, di tengah alun-alun, Ilyas tersenyum—senyum tipis yang tidak mencapai matanya.
"Kau lihat, Hakim Agung?" katanya pelan. "Bahkan di dalam pasukanmu sendiri, ada orang yang masih ingat apa artinya menjadi manusia. Mungkin sudah waktunya kau mulai mendengarkan mereka."
Ia berbalik menghadap Eldrin Voss, yang masih berlutut tetapi sekarang matanya berbinar—bukan dengan harapan, tetapi dengan sesuatu yang mirip dengan rasa ingin tahu yang baru lahir.
"Bangun, Arsitek Tua," kata Ilyas. "Malam ini, kau tidak akan mati. Karena malam ini, kita mulai membongkar kebohongan yang telah dibangun di atas tulang-tulang orang mati selama tujuh puluh tahun terakhir."
Ia mengulurkan tangan kirinya—tangan yang normal, tanpa energi—kepada Voss.
Voss menatap tangan itu untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Kemudian, perlahan, dengan gerakan yang terasa berat karena usia dan kelelahan, ia mengangkat tangannya yang terikat dan meletakkannya di telapak tangan Ilyas.
Rantai besi di pergelangan Voss berkarat dalam hitungan detik dan hancur menjadi debu.
"Terima kasih," bisik Voss.
"Jangan berterima kasih dulu," jawab Ilyas. "Kita baru saja memulai perang. Dan di Varethra, perang tidak pernah berakhir dengan bahagia."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments