Arsitek Dosa
Hujan di Varethra tidak pernah membawa berkah.
Setiap tetes yang jatuh dari langit merah tua itu terasa seperti noda—seperti darah yang telah terlalu lama teroksidasi, berubah warna menjadi cokelat kusam sebelum menyentuh ubin-ubin batu di alun-alun pusat. Kabut tipis merayap di antara menara-menara gothic yang menjulang begitu tinggi sehingga puncak-puncaknya tenggelam dalam kegelapan abadi, seolah kota ini dibangun oleh raksasa yang lupa menyelesaikan atapnya. Arsitektur di sini tidak dirancang untuk kenyamanan manusia; ia dirancang untuk mengingatkan setiap jiwa yang melangkah di bawah lengkungannya bahwa mereka hanyalah bayangan yang kebetulan memiliki daging.
Alun-alun Eksekusi—begitu penduduk Varethra menyebutnya, meskipun secara resmi tempat ini bernama Plaza Keadilan Abadi—sedang dipenuhi oleh dua ribu pasukan bersenjata lengkap. Mereka berdiri dalam formasi sempurna, baju zirah besi mereka yang hitam menyerap cahaya obor yang berderet di sepanjang perimeter, menciptakan ilusi bahwa tanah itu sendiri sedang menganga dan menelan segala sesuatu yang mendekat. Helm-helm mereka menutupi seluruh wajah kecuali celah sempit di bagian mata, sehingga tidak ada yang bisa melihat apakah para prajurit itu merasa jijik, takut, atau sekadar bosan dengan apa yang akan terjadi malam ini. Mungkin mereka tidak merasakan apa pun. Mungkin itulah persyaratan utama untuk bertugas di bawah Kanselir Morvain: kemampuan untuk menyaksikan kengerian tanpa berkedip.
Di tengah formasi itu, seorang pria tua berlutut.
Lututnya telah menekan batu basah selama lebih dari tiga jam sekarang, dan meskipun tubuhnya menggigil karena hawa dingin yang merembes dari tanah ke tulang-tulangnya yang rapuh, ia tidak mengeluh. Tangan-tangannya terikat ke belakang dengan rantai besi yang berkarat—bukan karena besi baru tidak tersedia, tetapi karena besi berkarat sengaja dipilih untuk membuat luka di pergelangan tangannya semakin terinfeksi. Detail kecil yang kejam. Varethra adalah kota yang menguasai seni detail kejam.
Pria tua itu bernama Eldrin Voss. Tiga bulan lalu, ia adalah arsitek tertinggi Katedral Sanctum, orang yang merancang hampir semua struktur baru di Distrik Atas selama empat puluh tahun terakhir. Kini ia adalah pengkhianat negara, dinyatakan bersalah karena "mengganggu keseimbangan struktural fondasi kekuasaan"—sebuah tuduhan yang sengaja dibuat ambigu sehingga tidak ada yang benar-benar tahu apa artinya, tetapi semua orang tahu konsekuensinya.
"Eldrin Voss."
Suara itu datang dari suatu tempat di atas. Bukan dari langit, melainkan dari balkon marmer yang menjorok dari fasad gedung pengadilan—sebuah struktur yang ironisnya juga dirancang oleh Voss sendiri bertahun-tahun lalu. Seorang pria paruh baya dengan jubah merah tua berdiri di sana, tangannya bersilang di belakang punggung, ekspresinya tidak terbaca seperti topeng batu. Itu adalah Hakim Agung Thalric, tangan kanan Kanselir Morvain, dan orang yang telah menjatuhkan hukuman mati ini tanpa persidangan yang layak disebut adil.
"Eldrin Voss," ulang Thalric, kali ini lebih keras, karena angin malam mencoba mencuri suaranya dan membawanya ke menara-menara yang menjulang di kejauhan. "Kamu telah dihukum karena kejahatan terhadap stabilitas Varethra. Apakah kamu memiliki kata-kata terakhir?"
Pria tua itu tidak segera menjawab.
Ia menunduk lebih dalam, sehingga dagunya hampir menyentuh dadanya, dan untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, satu-satunya suara yang terdengar adalah desisan obor dan derap pelan sepatu bot prajurit yang bergeser berat badan dari satu kaki ke kaki lain. Beberapa penonton—warga biasa yang diizinkan menyaksikan eksekusi sebagai pengingat akan "keadilan"—berbisik di antara mereka sendiri, berspekulasi apakah Voss telah kehilangan kemampuan bicara karena ketakutan, atau apakah ia sedang berdoa kepada dewa-dewa yang mungkin sudah lama meninggalkan kota ini.
Ketika Eldrin Voss akhirnya mengangkat kepalanya, matanya tidak menunjukkan rasa takut.
Yang terlihat di sana adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Pengertian.
"Kata-kata terakhir?" suara Voss serak, seperti batu yang digesekkan satu sama lain setelah bertahun-tahun tidak tersentuh. "Aku punya banyak kata, Hakim Agung. Tapi tidak ada satu pun yang akan kau izinkan untuk mengguncang kursi yang kau duduki."
Thalric tidak merespons. Ekspresinya tetap datar, tetapi jari-jarinya—yang tersembunyi di balik lipatan jubahnya—mengepal sedikit lebih erat.
"Kutukan," lanjut Voss, dan sekarang ada getaran di suaranya yang tidak berasal dari kedinginan, "bukanlah senjata orang lemah, Hakim. Kutukan adalah pengakuan bahwa keadilan sejati tidak akan pernah datang dari tangan-tangan seperti milikmu. Jadi aku tidak akan mengutukmu. Aku hanya akan mengatakan ini."
Ia menarik napas panjang, dan kabut dari mulutnya naik ke udara malam seperti hantu yang baru lahir.
"Arsitek itu sedang memperhatikan."
Keheningan yang mengikuti adalah jenis keheningan yang berbeda. Bukan keheningan kosong, melainkan keheningan yang penuh—penuh dengan ketegangan, penuh dengan pertanyaan, penuh dengan sesuatu yang tidak terlihat namun terasa seperti tekanan di belakang tulang dada setiap orang yang mendengarnya.
Thalric mengangkat tangannya.
"Itu cukup."
Dia memberi isyarat, dan dari barisan depan pasukan, seorang algojo melangkah maju. Tidak ada kapak besar atau pedang eksekusi yang megah—Varethra telah meninggalkan tontonan semacam itu satu generasi yang lalu. Algojo modern cukup membawa pisau pendek yang dirancang untuk menusuk tepat di antara tulang rusuk ketiga dan keempat, menembus jantung dalam satu gerakan cepat. Efisien. Tidak berantakan. Tidak ada drama yang tidak perlu.
Kecuali drama sudah terlanjur terjadi.
"Tunggu."
Suara itu tidak keras. Sebenarnya, suara itu cukup tenang—tenang seperti permukaan danau yang menyembunyikan pusaran di kedalamannya. Namun entah bagaimana, suara itu memotong keheningan dengan presisi pisau bedah, dan setiap prajurit di alun-alun itu merasakan rambut di tengkuk mereka berdiri.
Thalric membeku. Tangannya masih terangkat di udara, setengah isyarat, setengah perintah yang belum selesai.
Mata semua orang tertuju pada sosok yang berjalan keluar dari bayang-bayang lengkungan batu di sisi timur alun-alun.
–
Ilyas Renvar tidak pernah berjalan dengan tergesa-gesa.
Pada usianya yang ke-21 tahun, ia telah mempelajari satu kebenaran fundamental tentang dunia: kecepatan adalah ilusi yang diciptakan oleh orang-orang yang takut kehilangan kendali. Orang yang benar-benar mengendalikan situasi tidak perlu berlari. Ia cukup hadir, dan realitas akan menyesuaikan diri di sekelilingnya.
Malam ini, ia mengenakan pakaian gelap yang terdiri dari beberapa lapisan—kemeja wol tipis di bagian paling dalam, kemudian jaket kulit tanpa lengan yang dipasangi pelat baja ringan di area bahu dan dada, dan di atas semua itu, jubah panjang berwarna abu-abu arang yang hampir menyentuh tanah. Tidak ada lambang atau tanda pengenal di mana pun. Tidak ada yang bisa mengidentifikasinya sebagai anggota faksi mana pun, loyalis kepada siapa pun, atau ancaman bagi siapa pun. Itulah intinya.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia sembunyikan.
Tangannya.
Bahkan di bawah cahaya obor yang berkedip-kedip, energi di sekitar telapak tangan Ilyas terlihat jelas—seperti panas yang keluar dari aspal di hari musim panas, tetapi dalam bentuk ungu pucat yang berdenyut pelan mengikuti detak jantungnya. Itu bukan ilusi cahaya. Itu bukan trik sulap murahan. Itu adalah sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh siapa pun di Varethra, meskipun semua orang telah mendengar desas-desus tentang "anak yang terkutuk" dari Distrik Bawah yang memiliki hubungan dengan Arsitek.
Beberapa prajurit di barisan depan secara naluriah mundur setengah langkah. Yang lain memegang tombak mereka sedikit lebih erat.
Ilyas berhenti tepat di tepi lingkaran dalam formasi pasukan, sekitar sepuluh meter dari tempat Eldrin Voss berlutut. Ia tidak berusaha melewati barisan. Ia tidak perlu. Jarak itu sudah cukup untuk didengar, dan itulah yang ia inginkan.
"Hakim Agung Thalric," sapanya, dan meskipun kata-katanya sopan, tidak ada sedikit pun rasa hormat dalam nadanya. "Aku ingin mengajukan permohonan."
Thalric menatapnya dari ketinggian balkon. Untuk sesaat, sesuatu yang mirip dengan kekaguman—atau mungkin kejengahan—berkedip di matanya. "Kamu tidak memiliki hak untuk mengajukan permohonan apa pun, anak muda. Pengadilan ini sudah selesai. Hukuman sudah dijatuhkan."
"Hukuman dijatuhkan kepada Eldrin Voss karena kejahatan yang tidak didefinisikan, dalam persidangan yang tidak pernah tercatat, oleh hakim yang ditunjuk bukan dipilih." Ilyas mengangkat satu alis, dan senyum tipis—begitu tipis sehingga hampir tidak ada—muncul di sudut bibirnya. "Kedengarannya seperti keadilan yang efisien. Sangat Varethra."
Seorang perwira di dekatnya menghunus pedangnya setengah inci dari sarung. "Kurang ajar—"
"Diam," kata Thalric. Satu kata, datar, tanpa emosi. Perwira itu langsung membeku.
Hakim Agung itu menatap Ilyas lebih lama kali ini, dan ketika ia berbicara lagi, suaranya telah berubah. Masih resmi, tetapi ada lapisan di bawahnya—rasa ingin tahu yang tidak ingin ia tunjukkan tetapi tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. "Kamu adalah Ilyas Renvar, bukan? Anak yang selamat dari Insiden Menara Selatan, tujuh belas tahun lalu."
Nama itu menggantung di udara seperti asap.
Ilyas tidak mengonfirmasi maupun menyangkal. Ia hanya terus menatap Thalric dengan mata yang warnanya sulit ditentukan—kadang tampak cokelat, kadang abu-abu, tergantung bagaimana cahaya menyentuhnya. "Permohonanku sederhana. Biarkan Eldrin Voss hidup. Bukan karena dia tidak bersalah—aku tidak cukup naif untuk percaya bahwa 'bersalah' dan 'tidak bersalah' masih berarti sesuatu di kota ini. Tapi karena dia memiliki informasi yang kau butuhkan."
Thalric menyeringai. Itu bukan senyuman yang ramah. "Kami yang membutuhkan informasi? Atau kamu?"
"Kita semua." Ilyas mengangkat tangan kanannya sedikit—hanya sedikit—dan energi ungu di sekitarnya berdenyut lebih terang untuk sesaat sebelum meredup lagi. Beberapa prajurit di baris depan menarik napas tajam. "Kau tahu apa yang terjadi tujuh belas tahun lalu, Hakim Agung. Kau tahu bahwa Menara Selatan tidak runtuh karena kesalahan struktural. Kau tahu bahwa ada sesuatu—seseorang—yang menghancurkannya dari dalam. Dan kau tahu bahwa Eldrin Voss adalah satu-satunya arsitek yang selamat dari malam itu."
Untuk pertama kalinya, pria tua yang berlutut itu bereaksi.
Eldrin Voss mengangkat kepalanya dan menatap Ilyas dengan mata yang tiba-tiba menjadi sangat lebar—bukan karena ketakutan, tetapi karena pengakuan. Seperti seseorang yang melihat hantu dari masa lalu yang telah lama ia kubur dalam-dalam, hanya untuk menyadari bahwa hantu itu tidak pernah benar-benar mati.
"Kau..." bisik Voss, suaranya hampir tidak terdengar di atas deru angin. "Kau adalah..."
"Jangan," potong Ilyas, tanpa menoleh ke arah Voss. Matanya tetap tertuju pada Thalric. "Jangan sebut namaku di sini. Bukan di depan mereka."
Thalric menghela napas panjang—napas seorang pria yang sudah terlalu tua untuk permainan politik anak muda tetapi tidak punya pilihan selain tetap bermain karena tidak ada orang lain yang bisa. "Apa yang kamu tawarkan, Ilyas Renvar?"
"Kesempatan."
"Untuk apa?"
"Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di menara itu. Siapa—atau apa—yang menghancurkannya. Dan mengapa hal yang sama akan terjadi lagi pada menara berikutnya, dan berikutnya, sampai tidak ada yang tersisa dari Varethra selain debu dan kenangan pahit."
Keheningan.
Angin bertiup lebih kencang, membawa serta bau logam dan tanah basah. Obor-obor berderak dan hampir padam sebelum kembali menyala. Di kejauhan, seseorang membunyikan lonceng—satu kali, nada rendah yang bergetar di udara seperti peringatan yang tidak diindahkan.
Thalric menatap Ilyas untuk waktu yang lama. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke Eldrin Voss, lalu kembali ke Ilyas. Dan untuk sesaat—hanya sesaat—topeng ketidakpeduliannya retak, memperlihatkan sesuatu di bawahnya yang mirip dengan kelelahan yang mendalam.
"Tangkap dia," kata Thalric.
Bukan perintah yang dramatis. Bukan teriakan. Hanya dua kata, diucapkan dengan nada seorang pria yang telah membuat keputusan dan tidak ingin membuang lebih banyak waktu untuk memikirkannya.
Dua puluh prajurit bergerak serentak.
Ilyas tidak berlari.
Ia tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments