Eldrin Voss berbicara selama tiga jam.
Pada jam pertama, suaranya masih serak dan terputus-putus, seperti mesin tua yang baru dinyalakan setelah bertahun-tahun tidak digunakan. Ia berbicara tentang batu-batu—batu granit dari tambang timur yang terlalu cepat mengirimkan getaran, batu kapur dari selatan yang menyerap kelembapan seperti spons, batu pasir dari barat yang hancur menjadi debu jika terkena api. Ilyas mendengarkan tanpa menyela, duduk di kursi kayunya dengan tangan terlipat di pangkuan, matanya tertutup setengah seolah-olah ia sedang tidur. Tapi Voss tahu ia tidak tidur. Setiap kali Voss berhenti sejenak untuk mengatur napas, Ilyas akan mengangguk sedikit—isyarat kecil yang mengatakan lanjutkan, aku masih di sini.
Pada jam kedua, suara Voss mulai berubah. Menjadi lebih berat. Lebih gelap. Ia mulai berbicara tentang malam Menara Selatan.
"Aku tidak akan pernah melupakan baunya," katanya, matanya menatap api di perapian yang tidak memiliki kayu. "Bukan bau asap atau bau darah. Tapi bau... logam. Logam yang terlalu panas. Seperti besi yang baru saja ditempa, tetapi sepuluh kali lipat lebih pekat. Bau itu masuk ke dalam paru-paruku dan tidak mau keluar. Selama berminggu-minggu setelahnya, aku masih bisa menciumnya. Bahkan sekarang, kadang-kadang, ketika angin bertiup dari arah timur..."
Ia menggigit bibir bawahnya.
"Kami membangun menara itu selama delapan belas bulan. Delapan belas bulan, seribu dua ratus pekerja, delapan puluh arsitek dan insinyur. Dan aku adalah kepala dari semuanya. Aku yang menandai setiap batu sebelum diletakkan. Aku yang memeriksa setiap sambungan besi. Aku yang—" suaranya pecah, "aku yang mencampur debu itu ke dalam fondasi."
Ilyas membuka matanya.
"Debu dari mana?"
Voss menunduk. Tangannya—keriput, gemetar—memainkan ujung jubahnya yang compang-camping. "Dari... dari suatu tempat. Aku tidak tahu persis di mana. Semua batu bata dan material dikirim oleh kantor Kanselir. Tidak ada yang bertanya dari mana asalnya. Itu adalah proyek terbesar dalam satu dekade. Tidak ada yang ingin terlihat bodoh dengan bertanya."
"Tapi kau bertanya," kata Ilyas. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Keheningan.
"Ya," bisik Voss akhirnya. "Aku bertanya. Pada malam sebelum fondasi diletakkan, aku pergi ke gudang penyimpanan untuk memeriksa material secara pribadi. Itu adalah kebiasaanku—selalu memeriksa sendiri, tidak pernah percaya pada laporan orang lain. Dan di gudang itu, di bagian paling belakang, aku melihat sesuatu yang... tidak seharusnya ada."
"Seperti apa?"
"Seperti..." Voss mengerutkan dahi, berjuang untuk menemukan kata-kata. "Bayangkan debu. Tapi debu yang bergerak. Debu yang... bernapas. Debu yang berdenyut seperti jantung. Aku berdiri di depannya selama mungkin satu menit, dan dalam satu menit itu, aku merasakan sesuatu memasuki kepalaku. Bukan suara. Bukan kata-kata. Tapi kehadiran. Sesuatu yang tahu bahwa aku sedang melihatnya. Sesuatu yang... mengizinkanku untuk melihatnya."
Ia menggigil.
"Keesokan harinya, fondasi diletakkan. Dan delapan belas bulan kemudian, Menara Selatan runtuh di malam hari, tanpa angin, tanpa gempa, tanpa alasan apa pun yang bisa dijelaskan oleh fisika."
Ilyas bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke jendela bundar, menatap Menara Keadilan yang masih berdiri di kejauhan—masih kokoh, masih megah, masih membohongi semua orang yang melihatnya.
"Kau tahu bahwa menara itu akan runtuh," kata Ilyas, punggungnya menghadap Voss. "Kau tahu sejak awal. Tapi kau tetap membangunnya. Kau tetap mencampur debu itu ke dalam fondasi. Mengapa?"
Voss tidak menjawab untuk waktu yang lama. Ketika ia akhirnya berbicara, suaranya adalah suara seorang pria yang telah mengajukan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri setiap malam selama tujuh belas tahun.
"Karena mereka mengancam akan membunuh putriku."
Ilyas tidak bergerak. Tidak menunjukkan reaksi apa pun.
"Mathea," lanjut Voss, dan sekarang air mata mulai mengalir di pipinya yang keriput—air mata seorang pria tua yang telah menahan tangis terlalu lama. "Dia baru berusia sembilan tahun ketika mereka membawanya. Mereka bilang dia akan aman selama aku mengikuti instruksi. Setiap instruksi. Tidak bertanya. Tidak membantah. Aku pikir setelah menara selesai, mereka akan mengembalikannya. Tapi mereka tidak pernah melakukannya."
"Kau tidak pernah melihatnya lagi?"
"Tidak pernah. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup. Aku tidak tahu apakah dia sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Aku hanya tahu bahwa setiap batu yang aku letakkan di menara itu, setiap campuran debu yang aku buat, adalah sebuah dosa yang tidak akan pernah bisa aku tebus."
Ia menunduk, bahunya terisak hebat.
"Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan aku. Aku tahu kau ingin kebenaran. Tapi kebenaran adalah aku adalah pengecut. Aku membiarkan tiga ratus tujuh puluh dua orang mati karena aku terlalu takut kehilangan satu orang."
—
Ilyas berdiri diam di depan jendela selama mungkin lima menit setelah Voss selesai berbicara.
Ketika ia akhirnya berbalik, wajahnya tidak menunjukkan belas kasihan. Juga tidak menunjukkan penghakiman. Yang terlihat di sana hanyalah kesadaran yang tenang—seperti seorang ahli bedah yang baru saja mendengar semua gejala pasiennya dan kini sedang menyusun diagnosis.
"Putrimu," kata Ilyas. "Mathea Voss. Rambut pirang, mata biru, tahi lalat kecil di bawah dagu kirinya."
Voss mengangkat kepalanya, matanya melebar. "Bagaimana kau—"
"Aku tahu banyak hal, Arsitek Tua. Tapi aku tidak tahu apakah Mathea masih hidup atau sudah mati. Yang aku tahu adalah bahwa ia tidak pernah meninggalkan Varethra. Ia dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain setiap tiga bulan, dijaga oleh dua belas prajurit bayaran yang tidak pernah berbicara satu kata pun selama bertugas. Selama tujuh belas tahun, ia telah menjadi sandera yang sempurna—cukup dekat untuk membuatmu tetap patuh, cukup jauh untuk memastikan kau tidak akan pernah bisa menyelamatkannya."
"Kau... kau tahu di mana dia sekarang?"
"Aku tahu di mana dia berada tiga minggu lalu." Ilyas berjalan ke dinding ruangan itu dan menekan telapak tangannya ke batu. Cahaya ungu menyala lagi, dan perlahan, peta besar Varethra muncul di permukaan batu—bukan peta biasa, tetapi peta yang bergerak. Titik-titik merah berkedip di berbagai lokasi, beberapa besar, beberapa kecil, beberapa berdenyut cepat, beberapa hampir padam.
"Ini adalah jaringan pengawasan Kanselir Morvain," jelas Ilyas. "Setiap titik merah adalah lokasi di mana ia menyembunyikan sesuatu—atau seseorang—yang tidak ingin diketahui publik. Mathea Voss ada di salah satu titik ini. Tapi tidak ada yang tahu yang mana. Kanselir mengganti lokasinya setiap tiga bulan tepat pada tengah malam, tanpa pola yang bisa diprediksi."
Voss menatap peta itu dengan mata berkaca-kaca. "Kau membangun semua ini? Sendirian?"
"Aku tidak sendirian." Ilyas menekan peta itu lagi, dan cahaya ungu meredup, mengembalikan dinding batu ke penampilan normalnya. "Tapi aku juga tidak punya banyak sekutu. Di Varethra, kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa aku nikmati."
Ia berbalik menghadap Voss, dan untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang lembut di matanya—hanya sekilas, tetapi cukup nyata untuk membuat Voss merasa bahwa pemuda di depannya ini tidak sepenuhnya dingin.
"Aku tidak bisa menjanjikan bahwa kau akan bertemu putrimu lagi, Eldrin. Tapi aku bisa menjanjikan ini: jika kau bekerja denganku, jika kau membantuku membongkar apa yang sebenarnya terjadi di menara-menara itu, maka kau akan memiliki kesempatan untuk menebus dosa-dosamu. Bukan dengan mati di alun-alun eksekusi seperti martir yang sia-sia. Tapi dengan hidup cukup lama untuk melihat keadilan—atau setidaknya balas dendam—ditegakkan."
Voss menatap Ilyas untuk waktu yang lama. Kemudian, perlahan, ia mengangguk.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Kau akan membantuku memetakan semua menara yang dibangun dengan fondasi yang sama. Tidak hanya Menara Selatan dan Menara Keadilan. Tapi semua yang lain. Karena aku yakin—aku tahu—bahwa ini bukan kebetulan. Seseorang sengaja membangun fondasi yang rusak di seluruh Varethra. Dan aku perlu tahu mengapa."
"Kau pikir itu adalah Kanselir?"
Ilyas tersenyum—senyum yang tidak mencapai matanya. "Kanselir Morvain adalah boneka. Seseorang di belakangnya yang menarik tali. Seseorang yang disebut oleh segelintir orang yang tahu sebagai... Arsitek."
Nama itu menggantung di udara antara mereka, berat seperti timah.
Voss menggigil. "Kau mengucapkan nama itu seperti kau mengenalnya."
"Aku tidak mengenalnya. Tapi dia mengenalku." Ilyas mengangkat tangan kanannya, dan energi ungu di sekitarnya berdenyut lebih terang dari sebelumnya—begitu terang sehingga Voss harus menyipitkan mata. "Dia yang melakukan ini padaku, tujuh belas tahun yang lalu, di malam yang sama ketika Menara Selatan runtuh. Aku bukan hanya selamat dari bencana itu, Eldrin. Aku diciptakan olehnya."
Voss menarik napas tajam.
"Kau... kau adalah—"
"Aku adalah percobaan yang berhasil," potong Ilyas, suaranya tiba-tiba keras, memotong. "Atau mungkin percobaan yang gagal. Tergantung bagaimana kau melihatnya. Yang jelas, energi di tanganku ini bukan hadiah. Itu adalah kutukan. Dan aku telah menghabiskan tujuh belas tahun terakhir mencoba mencari tahu mengapa kutukan ini diberikan kepadaku—dan bagaimana cara menggunakannya untuk menghancurkan orang yang memberikannya."
Ia mengepalkan tangannya, dan energi ungu itu padam.
"Sekarang, tidurlah. Besok kita mulai bekerja. Dan percayalah, Arsitek Tua—kita tidak punya banyak waktu."
—
Di sisi lain Varethra, di puncak menara tertinggi Distrik Atas, seorang wanita berdiri di depan cermin setinggi langit-langit.
Rambutnya pirang panjang, tergerai di bahu seperti air terjun yang membeku di tengah aliran. Matanya biru—biru yang terlalu terang, terlalu jernih, seperti langit di dunia di mana polusi tidak pernah ada. Ia mengenakan gaun hitam sederhana tanpa perhiasan, tanpa ornamen, seolah-olah ia sengaja ingin menghilang di antara bayang-bayang, meskipun semua orang di Varethra tahu bahwa wanita ini tidak pernah bisa menghilang.
Seraphine Vaelor.
Kepala keluarga Vaelor, salah satu dari empat keluarga besar yang mengendalikan ekonomi Varethra dari balik layar. Ia baru berusia dua puluh enam tahun, tetapi ia telah memegang posisi itu sejak usia sembilan belas, setelah kematian mendadak ayahnya dalam kecelakaan kereta kuda yang tidak pernah benar-benar diselidiki.
Cermin di depannya tidak memantulkan wajahnya.
Yang terpantul di sana adalah langit merah tua Varethra, menara-menara yang menjulang, kabut tipis yang merayap di antara bangunan-bangunan. Tapi tidak ada Seraphine. Seolah-olah ia adalah hantu yang tidak bisa ditangkap oleh kaca.
"Kau sudah dengar?" suara datang dari belakangnya—pria dengan jas abu-abu, rambut disisir rapi, ekspresi tidak terbaca. Itu adalah Renaux, tangan kanannya, satu-satunya orang yang diizinkan memasuki ruangan ini tanpa mengetuk.
"Tentang pemuda di alun-alun eksekusi?" Seraphine tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada cermin yang tidak memantulkannya. "Ya. Aku sudah dengar."
"Thalric panik. Dia sudah mengirim pasukan bayangan untuk mencari pemuda itu dan arsitek tua."
"Biarkan saja. Mereka tidak akan menemukannya."
Renaux mengangkat alis. "Kau sangat yakin?"
Seraphine akhirnya berbalik. Dan ketika ia melakukannya, cermin di belakangnya tiba-tiba memantulkan sesuatu—bukan wajahnya, tetapi bayangan samar dari sebuah struktur raksasa, menara yang tidak pernah ada di Varethra, dengan lengkungan-lengkungan yang tidak mungkin secara geometris dan jendela-jendela yang berbentuk seperti mata.
"Aku tahu siapa pemuda itu," kata Seraphine, suaranya tenang seperti permukaan danau di pagi hari. "Aku sudah menunggunya selama tujuh belas tahun."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments