Harga Sebuah Takhta 3 (akhir)

Tidak ada yang berani menghentikan mereka.

Ilyas berjalan dengan langkah tenang, Eldrin Voss di sisinya—tubuh tua itu masih menggigil, tetapi kakinya bergerak dengan tekad yang lahir dari empat puluh tahun membangun kota yang sama yang kini hendak membunuhnya. Mereka melewati barisan prajurit yang membelah diri seperti lautan yang tunduk pada angin yang lebih kuat. Beberapa prajurit menunduk, tidak mau bertemu mata Ilyas. Yang lain menatap lurus ke depan, rahang mengeras, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa mereka tidak takut.

Kapten Vex berdiri di samping formasinya, batu kecil yang berdenyut itu masih tergenggam di tangannya. Ia tidak memberi perintah untuk mengejar. Ia juga tidak memberi perintah untuk membiarkan mereka pergi. Ia hanya berdiri di sana, seperti patung yang sedang bergumul dengan dewa-dewa yang tidak pernah menjawab doanya.

Dari balkon, Thalric menyaksikan semuanya dalam diam.

Wajahnya kembali menjadi topeng batu—tidak ada amarah, tidak ada ketakutan, tidak ada apa pun yang bisa dibaca oleh siapa pun di bawah sana. Namun jari-jari tangannya, yang kini tergenggam di belakang punggungnya, bergerak dengan ritme yang tidak disadari oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri. Satu per satu. Ibu jari menyentuh telunjuk. Telunjuk menyentuh jari tengah. Jari tengah menyentuh jari manis. Sebuah pola. Sebuah kebiasaan lama yang muncul hanya ketika ia benar-benar ketakutan.

Ketika Ilyas dan Voss mencapai tepi alun-alun, tepat di bawah lengkungan batu tempat Ilyas pertama kali muncul, pemuda itu berhenti.

Ia tidak menoleh.

Tapi suaranya terdengar jelas, seolah-olah angin malam sengaja membawanya kembali ke balkon tempat Thalric berdiri.

"Tiga hari, Hakim Agung. Tiga hari sampai Menara Keadilan runtuh. Kau punya waktu itu untuk mengevakuasi siapa pun yang masih kau anggap berharga. Atau kau bisa terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, seperti yang selalu kau lakukan."

Ia melangkah ke dalam bayang-bayang lengkungan.

Dan menghilang.

Bersama Eldrin Voss.

Bersama semua jawaban yang selama dua belas tahun terakhir Thalric coba kubur di bawah batu, beton, dan kebohongan.

Kapten Vex baru menyadari bahwa ia telah menahan napas ketika Ilyas tidak lagi terlihat. Udara yang keluar dari paru-parunya terasa panas dan tipis, seperti napas seseorang yang baru saja selamat dari tenggelam. Ia menggenggam batu di tangannya lebih erat—masih hangat, masih berdenyut, masih mengingatkannya bahwa apa yang baru saja terjadi bukanlah mimpi.

"Kapten."

Suara itu datang dari belakangnya. Letnan Erris, pria muda dengan jenggot tipis yang baru mulai tumbuh, berdiri dengan ekspresi gelisah. "Kapten, apa perintah kita? Apakah kita mengejar?"

Vex menatap Letnan Erris untuk waktu yang lama. Ia mengingat bagaimana Erris bergabung dengan pasukan tiga tahun lalu—penuh semangat, penuh keyakinan bahwa Varethra adalah kota yang adil. Vex tidak ingin menjadi orang yang menghancurkan keyakinan itu. Tapi ia juga tidak bisa terus membiarkan Erris hidup dalam kebohongan.

"Tidak," kata Vex akhirnya. "Kita tidak mengejar."

"Tapi Kapten—"

"Itu perintah, Letnan."

Erris menutup mulutnya. Ada kekecewaan di matanya, tapi juga kelegaan yang tidak ingin ia akui. Tidak ada prajurit di alun-alun itu yang benar-benar ingin mengejar Ilyas Renvar malam ini. Mereka mungkin tidak akan mengakuinya dengan suara keras, tetapi mereka semua merasakannya: ada sesuatu yang berbeda tentang pemuda itu. Sesuatu yang tidak bisa dilawan dengan tombak dan perisai.

"Formasi bubar," perintah Vex, suaranya kembali ke nada komandan yang tegas. "Kembali ke pos masing-masing. Aku akan melapor ke Hakim Agung."

Prajurit-prajurit itu bergerak dengan efisien, tetapi gerakan mereka terasa berat—seperti orang yang baru saja dimakamkan hidup-hidup dan kemudian digali kembali, masih belum percaya bahwa mereka bisa menghirup udara bebas.

Vex menaiki tangga batu menuju balkon tempat Thalric masih berdiri.

Hakim Agung itu tidak bergerak ketika Vex tiba. Matanya tetap tertuju pada lengkungan tempat Ilyas menghilang, meskipun tidak ada lagi yang bisa dilihat selain bayangan dan kabut.

"Yang Mulia," kata Vex, membungkuk sedikit. "Aku—"

"Kau tidak perlu menjelaskan, Kapten." Suara Thalric datar. Terlalu datar. "Aku melihat apa yang terjadi. Aku mendengar apa yang dikatakan pemuda itu. Pertanyaannya sekarang adalah: apa yang akan kau lakukan dengan batu di tanganmu?"

Vex menunduk melihat batu itu. Masih berdenyut. Masih hangat.

"Aku akan membawanya ke ahli geologi kota," jawab Vex hati-hati. "Minta mereka menganalisis komposisinya. Jika benar bahwa fondasi Menara Keadilan terkontaminasi—"

"Tidak."

Vex mengangkat kepalanya, terkejut.

Thalric akhirnya menoleh. Matanya—gelap, tanpa kilau—menatap Vex dengan intensitas yang membuat Kapten itu merasakan dingin yang tidak ada hubungannya dengan cuaca. "Kau akan memberikan batu itu kepadaku. Dan kau akan melupakan semua yang terjadi malam ini."

"Yang Mulia, dengan hormat—"

"Itu bukan permintaan, Kapten Vex. Itu perintah."

Keheningan menganga di antara mereka berdua. Angin malam bertiup di antara menara-menara, membawa serta bau logam dan sesuatu yang manis—mungkin bunga dari taman Kanselir di kejauhan, mungkin sesuatu yang lain.

Vex merasakan beban batu di tangannya. Beban sebuah pilihan.

"Aku tidak bisa melakukan itu, Yang Mulia," katanya, dan suaranya lebih tenang daripada yang ia rasakan. "Jika benar bahwa Menara Keadilan akan runtuh dalam tiga hari, maka tiga ribu orang bekerja di gedung itu setiap hari. Belum lagi penduduk di sekitar—"

"Tiga ribu?" Thalric tersenyum. Senyum yang tidak memiliki kehangatan. "Kau benar-benar percaya angka itu? Kau benar-benar percaya bahwa Kanselir Morvain akan membiarkan tiga ribu rakyatnya mati sia-sia?"

"Aku tidak tahu apa yang dipercaya Kanselir. Tapi aku tahu apa yang dipercaya oleh hati nuraniku."

"Ah." Thalric menghela napas panjang—napas seorang pria yang telah mendengar kata "hati nurani" terlalu sering dari orang-orang yang kemudian mati karena kebaikan mereka. "Hati nurani. Barang mewah yang hanya mampu dimiliki oleh mereka yang tidak duduk di kursi kekuasaan."

Ia mengulurkan tangannya.

"Berikan batu itu, Kapten. Ini kesempatan terakhirmu."

Vex menatap tangan itu. Tangan yang telah menandatangani ratusan surat perintah eksekusi. Tangan yang mungkin juga telah menandatangani surat kematian untuk tiga ribu orang yang tidak tahu bahwa mereka sedang bekerja di atas fondasi yang terkutuk.

Perlahan, sangat perlahan, Vex mengangkat tangannya.

Dan melemparkan batu itu ke jurang di bawah balkon.

Thalric terkejut—hanya sekejap, tetapi cukup lama untuk dilihat oleh Vex. Batu itu jatuh ke dalam kabut, menghilang ke dalam kegelapan di antara bangunan-bangunan tua, dan detak denyutnya yang lembut lenyap bersama suara pecahan batu di kejauhan.

"Apa yang kau lakukan?" desis Thalric.

"Yang seharusnya aku lakukan sejak awal," jawab Vex. "Menghancurkan bukti? Tidak, Yang Mulia. Aku hanya mengembalikannya ke tempatnya. Biarkan tanah Varethra sendiri yang memutuskan apakah ia akan berbicara atau tetap diam."

Ia membungkuk sekali lagi—dalam, formal, tanpa rasa hormat.

"Jika Yang Mulia mengizinkan, aku akan kembali ke pos tugasku. Atau kau bisa memenjarakanku sekarang. Tapi ketahuilah: jika kau memenjarakanku, maka akan ada lebih banyak orang yang bertanya mengapa seorang kapten yang baru saja melihat bukti keruntuhan menara tiba-tiba menghilang. Dan pertanyaan, Yang Mulia, adalah racun yang tidak bisa diobati oleh penjara mana pun."

Tanpa menunggu jawaban, Vex berbalik dan berjalan menuruni tangga batu, meninggalkan Thalric sendirian di balkon dengan kegelapan dan angin malam yang semakin dingin.

Di dalam bayang-bayang lengkungan batu, Ilyas berdiri diam.

Ia tidak benar-benar menghilang. Ia hanya berdiri di sana, di balik pilar batu yang tebal, cukup jauh dari cahaya obor sehingga matanya yang gelap menyatu dengan kegelapan. Eldrin Voss bersandar di dinding di sampingnya, dadanya naik turun dengan cepat—bukan karena kelelahan fisik, tetapi karena gelombang adrenalin yang masih mengalir di tubuh tua itu.

"Dia membuang batu itu," bisik Voss, matanya terbelalak. "Kapten itu... dia membuang satu-satunya bukti yang kita miliki."

"Bukan satu-satunya," jawab Ilyas, suaranya nyaris tak terdengar. "Hanya satu dari banyak."

"Apa maksudmu?"

Ilyas tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada balkon tempat Thalric berdiri, mengamati bagaimana Hakim Agung itu berdiri diam selama satu menit penuh sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam gedung pengadilan. Pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi gedebuk rendah—tertutup, tidak dibanting. Thalric masih cukup tenang untuk tidak membanting pintu. Itu berarti ia belum panik. Itu berarti ia masih berbahaya.

"Kita harus pergi," kata Ilyas. "Sebelum dia mengirim pasukan lain setelah kita. Bukan pasukan biasa, kali ini. Tapi pasukan bayangan."

"Pasukan bayangan?" Voss mengerutkan kening. "Aku tidak pernah—"

"Tentu saja kau tidak pernah. Tidak ada yang pernah." Ilyas mendorong dirinya menjauh dari pilar dan mulai berjalan menyusuri gang sempit di antara dua bangunan tua. "Ikuti aku. Jangan bicara. Jangan bertanya. Dan apa pun yang terjadi, jangan menyentuh apa pun yang berwarna ungu."

Voss mengikuti tanpa bertanya lebih lanjut. Mungkin karena ia terlalu lelah untuk bertanya. Mungkin karena ia telah belajar, selama empat puluh tahun menjadi arsitek Varethra, bahwa beberapa pertanyaan lebih baik tidak dijawab.

Mereka berjalan dalam diam selama hampir dua puluh menit, melewati lorong-lorong yang semakin sempit, menaiki tangga-tangga batu yang licin karena lumut, melewati jembatan penghubung yang menghubungkan satu bangunan ke bangunan lain di atas jalan-jalan yang tidak pernah dilihat oleh sinar matahari. Voss kehabisan napas setidaknya tiga kali, tetapi Ilyas tidak pernah memperlambat langkahnya. Ia tampaknya tahu persis ke mana ia pergi—setiap belokan, setiap tikungan, setiap celah sempit yang membutuhkan tubuh untuk memiringkan bahu agar bisa lewat.

Akhirnya, mereka sampai di sebuah pintu kayu yang tampak seperti bagian dari dinding—tidak ada gagang, tidak ada engsel yang terlihat, hanya retakan tipis di sekelilingnya yang menunjukkan bahwa itu sebenarnya bisa dibuka.

Ilyas meletakkan telapak tangan kanannya di tengah pintu.

Energi ungu menyala—bukan denyut seperti sebelumnya, tetapi cahaya yang stabil, merayap dari telapak tangannya ke serat-serat kayu, mengisi retakan-retakan dengan cahaya yang lembut. Pintu itu berderit pelan dan terbuka ke dalam, mengungkapkan ruangan kecil yang hangat—dinding batu, lantai kayu, satu jendela bundar yang menghadap ke menara-menara Distrik Atas di kejauhan. Sebuah perapian kecil menyala di sudut, meskipun tidak ada kayu yang terbakar dan tidak ada cerobong asap yang terlihat.

"Selamat datang di rumah amanku," kata Ilyas, melangkah masuk. "Bukan istana. Tapi cukup aman dari mata-mata Thalric. Setidaknya untuk malam ini."

Voss masuk, matanya menjelajahi ruangan itu dengan naluri seorang arsitek—mengukur dimensi, mencari kelemahan struktural, menghitung berapa banyak beban yang bisa ditahan oleh langit-langit. "Ini... ini adalah ruang di antara dinding. Tidak tercatat dalam peta kota mana pun."

"Karena tidak ada yang tahu bahwa ruang ini ada. Kecuali aku." Ilyas menutup pintu di belakang mereka, dan segera setelah pintu itu tertutup, energi ungu di sekelilingnya meredup, lalu padam sepenuhnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tampak... lelah. Bukan lelah fisik, tetapi lelah yang lebih dalam—kelelahan seseorang yang telah memakai topeng terlalu lama.

Voss menatapnya dengan seksama.

"Kau bukan hanya seorang pemuda dengan kekuatan aneh, kan?" kata Voss perlahan. "Kau tahu tentang Menara Selatan. Kau tahu tentang debu dari reruntuhan. Kau tahu tentang Arsitek. Hal-hal yang seharusnya hanya diketahui oleh segelintir orang—dan kebanyakan dari mereka sudah mati."

Ilyas berbalik menghadap jendela bundar. Dari sini, Menara Keadilan terlihat jelas—menjulang di kejauhan, puncaknya yang runcing menembus kabut merah, obor-obor di sepanjang dindingnya berkelap-kelip seperti bintang-bintang yang jatuh.

"Aku tahu lebih dari yang seharusnya," aku Ilyas, suaranya datar. "Dan kurang dari yang kubutuhkan. Itulah sebabnya kau masih hidup, Arsitek Tua. Bukan karena kebaikan hatiku. Tapi karena kau adalah potongan terakhir dari teka-teki yang selama tujuh belas tahun tidak bisa kuselesaikan."

Ia menoleh, dan untuk pertama kalinya, Voss melihat sesuatu di mata pemuda itu yang bukan kendali atau ketenangan.

Ada kesedihan di sana. Kesedihan yang tua dan dalam, seperti sumur yang tidak pernah melihat matahari.

"Ceritakan tentang Menara Selatan," kata Ilyas. "Ceritakan tentang malam ketika tiga ratus tujuh puluh dua orang mati. Ceritakan tentang apa yang kau lihat di fondasi bangunan itu sebelum runtuh. Dan ceritakan tentang Arsitek—entitas yang kau sebut dalam kata-kata terakhirmu di alun-alun."

Ia menarik kursi kayu sederhana dan duduk di hadapan Voss.

"Karena malam ini, Arsitek Tua, aku tidak akan membiarkanmu tidur sampai semua kebenaran keluar dari mulutmu. Bahkan jika kebenaran itu akan membuat kita berdua ingin mati."

Voss menatap Ilyas untuk waktu yang lama.

Kemudian, perlahan, ia duduk di lantai—karena tidak ada kursi lain—dan mulai berbicara.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!