Bab 2

"Tiga pcs celana dalam wanita, tiga pcs bra dan ..." Dada Kyara langsung sesak saat membaca kalimat terakhir. "S-Satu pcs lingerie merah." Ia menatap struk itu dengan mata berkaca-kaca. "Mas ..." Suaranya tercekat. "Ini belanjaan siapa? Apakah kamu membelinya untukku?" Pertanyaan itu menguar begitu saja di udara. Tak ada jawaban yang diterima Kyara.

Wanita berdaster cokelat muda itu menggigit bibir bawahnya. Dadanya makin sesak. Dari ujung jari sampai ke pergelangan tangan tiba-tiba bergetar.

"Jika Mas Doni membelinya untukku, lantas ... kenapa dia tidak memberikannya kepadaku?" Kyara meremas struk itu.

"Kya!" Teriakan mertuanya terdengar lagi. Kyara buru-buru memasukkan struk itu ke saku dasternya.

"Iya, Ma," sahutnya sambil menoleh pada Hesti yang sudah berpakaian rapi. Memakai one set abu-abu dan kerudung kekinian yang sengaja tak menutup telinga, sehingga anting besarnya terlihat jelas.

"Nanti kalau pekerjaanmu sudah selesai ... segera susul Mama ke rumah makan," ulangnya untuk kedua kali. "Jangan lupa kunci pintu, dan juga gerbang. Awas kalau kamu teledor!" Ia mengacungkan telunjuknya. "Mama nggak akan kasih kamu uang jajan," lanjutnya sambil mengibaskan kerudungnya kemudian berlalu dari hadapan Kyara.

"Uang jajan sepuluh ribu sehari saja, masih diancam tak akan diberikan," gumam Kyara sambil geleng-geleng kepala.

Pikirannya kembali melayang pada struk di saku dasternya, namun ia memilih untuk tak ambil pusing sekarang. "Mending aku beresin dulu deh pekerjaan ini. Biar nanti aku tanyain ke Mas Doni ... ini struk belanjaan siapa. Mungkin saja punya Dini," pungkasnya tak mau berburuk sangka, meski hatinya merasa curiga.

______

"Pak Doni ... bentar lagi bonus cair nih. Makan-makan yuk!" ajak salah satu rekan kerja Doni setengah bercanda.

"Hehe ... iya Pak Indra, alhamdulillah. Berkat doa Ibu, setiap bulan saya dapat bonus." Doni membalas dengan bangga. "Tapi maaf nih, lain kali saja ya makan-makannya. Soalnya saya sudah ada janji mau ngajak Ibu dan adik saya makan-makan di restoran ternama," lanjutnya menolak ajakan Indra.

"Ohh ... begitu ya, Pak. Tidak apa-apa. Merayakan bersama keluarga adalah hal utama. Lebih berkah."

Doni mengangguk.

"Kok makan-makannya cuma sama ibu dan adik, emang istrinya nggak akan diajak?" celetuk Ike, wanita berkerudung sage.

Doni tersenyum canggung. "Ah, istri saya terlalu sibuk dengan urusannya. Dia terlalu cuek. Lagian, buat apa saya ajak dia ... toh yang selama ini menyiapkan semua kebutuhan saya tuh ya, ibu saya. Dia mah bisanya cuma minta duit, ngabisin duit, dan selebihnya ongkang-ongkang kaki saja." Sungguh pandai Doni bersilat lidah, padahal kenyataannya adalah sebaliknya.

"Wah ... masa sih, Pak Don?" pekik Indra kurang percaya.

"Beneran Pak Indra. Saya sebenarnya sudah muak sama kelakuan dia, pengennya sih berpisah. Tapi ibu saya ... dia terus melarang saya. Katanya ... 'jangan gegabah untuk bercerai. Suatu hari nanti, Kyara pasti berubah' jadi ya, saya terpaksa bertahan. Meski jiwa dan raga saya tersiksa." Bibir Doni kembali melontarkan dusta.

"Wah, Pak Don sungguh hebat. Jarang-jarang loh ada suami sesabar dan sebijaksana Pak Don. Kalau saya jadi Pak Doni, sudah saya tendang tuh istri modelan begitu. Kalau perlu, talak tiga sekalian." Indra sampai menggebrak meja saking kesalnya.

Sementara Ike menyipitkan mata. Ada sorot keraguan dan ketidakpercayaan di matanya.

"Atau Pak Doni berat karena terikat oleh anak?" lanjut Indra bertanya.

Doni menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Saya belum punya anak."

"Wahh ... kalau gitu mah buat apa dipertahankan, Pak. Ceraikan saja dia, dan cari wanita lain yang jauh lebih baik." Ucapan provokasi terlontar dari bibir hitam Indra. "Pak Doni kan tampan dan mapan, pasti banyak perempuan di luar sana yang mau jadi istri Pak Doni. Daun muda juga kayaknya ngantri."

Doni tertawa bangga. Ia seperti terbang ke atas awan mendengar pujian-pujian dari rekan kerjanya itu. "Ah, Pak Indra bisa saja." Ia pura-pura merendah, padahal hatinya bersorak mengakui. "Aku memang tampan. Aku memang mapan. Dan aku juga memang sudah jadi rebutan."

______

Rumah makan "Suka Rasa" sudah ramai bahkan sebelum jam makan siang tiba. Aroma gulai dan ayam goreng memenuhi udara. Piring-piring beradu, sendok berdenting, dan suara pelanggan saling bersahutan memesan menu.

Di tengah hiruk pikuk itu, berdiri sosok wanita berusia hampir tiga puluh lima tahun dengan wajah pucat namun tetap teduh.

"Kyara!" Suara nyaring itu membelah ruangan.

Semua pegawai langsung tahu siapa pemilik suara tersebut. Hesti, sang pemilik rumah makan, berjalan cepat dengan wajah tegang. Tangannya terlipat di dada, sorot matanya tajam mengawasi setiap gerakan menantunya. "Kenapa meja tiga belum dibersihkan? Pelanggannya sudah berdiri dari tadi!" hardiknya.

Kyara yang baru saja membawa nampan berisi tiga mangkuk soto langsung berbalik arah. "Iya, Ma. Aku bersihkan sekarang."

"Sekarang? Harusnya dari tadi! Kamu itu harus gesit! Jangan berleha-leha kayak gini!" suara Hesti semakin keras hingga beberapa pelanggan menoleh.

Kyara menunduk, menahan napasnya agar tetap stabil. "Baik, Ma." Kali ini, fokusnya terbagi. Pada pekerjaan dan juga struk belanjaan yang tadi ia temukan di saku jaket suaminya.

Belum sempat Kyara menyelesaikan satu tugas, suara itu kembali datang. "Air minum di meja tujuh kurang! Kamu nggak lihat? Mata kamu itu dipakai! Jangan cuma dijadikan pajangan!"

"Iya, Ma."

"Dan tolong senyum! Wajahmu itu seperti orang dipaksa kerja. Pelanggan jadi nggak nyaman!"

Kyara menarik sudut bibirnya pelan. Senyum yang dipaksakan, seperti biasa.

Para pegawai lain ... Dewi, Roy, dan Susi saling melirik. Tatapan mereka penuh iba. Sudah sepuluh tahun pemandangan seperti ini terjadi hampir setiap hari.

Sepuluh tahun sejak Kyara menikah dengan Doni dan masuk ke keluarga itu, lalu perlahan dijadikan pekerja tanpa henti di rumah makan milik mertuanya.

Dewi berbisik pelan pada Roy saat mereka menyusun piring di dapur. "Kasihan Mbak Kyara. Dari dulu Bu Hesti nggak pernah berubah ya."

Roy hanya menghela napas. "Sepuluh tahun loh. Nggak kebayang kalau aku di posisi dia."

Sementara itu di luar, Hesti masih berdiri mengawasi. "Kyara, cepat antar pesanan itu ke meja lima! Jangan lelet begitu! Kalau kamu malas-malasan, Mama akan laporkan kamu ke Doni!" ancamnya.

"Aku tidak malas-malasan, Ma. Hanya sedikit lelah," jawab Kyara pelan, hampir tak terdengar.

"Apa?" Hesti mendekat. "Ngomong yang jelas! Jangan cuma komat-kamit!"

"Aku tidak malas-malasan, Ma," ulang Kyara lebih jelas, tapi tetap dengan kepala tertunduk.

Hesti mendengus. "Kalau tidak malas, buktikan! Kerja itu pakai hati. Jangan setengah-setengah."

Kyara mengangguk lagi. Tangannya mulai gemetar saat menuangkan teh ke dalam gelas. Keringat di pelipisnya menetes, bukan hanya karena panas dapur, tapi karena tekanan yang tak pernah berhenti. Namun ia tetap bergerak cepat, berpindah dari satu meja ke meja lain, membersihkan sisa makanan, mencatat pesanan, mengangkat piring kotor, kembali ke dapur, lalu keluar lagi. Tak ada jeda.

Seorang pelanggan paruh baya memperhatikan adegan itu dengan alis berkerut. Ia berbisik pada istrinya, "Kasihan sekali pegawai itu dimarahi terus. Padahal dia rajin sekali."

Susi yang mendengar hanya bisa tersenyum kaku. "Pegawai?" batinnya. "Andai saja mereka tahu bahwa Mbak Kyara bukan hanya pegawai. Ia menantu yang tak pernah benar-benar dianggap keluarga oleh Bu Hesti," lanjut Susi masih dalam hati.

Di sudut dapur, saat akhirnya ada jeda beberapa detik, Dewi mendekat pelan. "Mbak, minum dulu sebentar," katanya lirih sambil menyodorkan segelas air.

Kyara tersenyum tipis. "Terima kasih, Wi." Belum sempat gelas itu menyentuh bibirnya, suara Hesti kembali menggelegar.

"Kyara! Kenapa diam saja di situ? Pelanggan datang lagi! Kerja itu jangan menunggu disuruh!"

Gelas itu kembali diletakkan. "Iya, Ma!" jawab Kyara cepat. Ia bergegas keluar, langkahnya ringan meski hatinya terasa berat.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun ia menelan kata-kata tajam, perintah tanpa henti, dan tatapan merendahkan. Sepuluh tahun ia belajar menyimpan luka di balik senyum profesional yang dipaksakan.

Namun hari ini, setelah melihat struk tadi, entah kenapa, ada sesuatu yang terasa berbeda di dalam dadanya. "Aku tidak boleh terlalu lemah. Mungkin sesekali aku harus melawan."

Terpopuler

Comments

Lies Atikah

Lies Atikah

orang baik yang lugu dan bodoh pasti nasib nya seperti ini mengalah dan manut gak punya harga diri lagi dia gak sadar lama2 orang bukan nya simpati malah mencemooh

2026-07-01

1

Marlina<br />✨always love you ✨

Marlina
✨always love you ✨

hemmm Uda biasa pemeran utama di siksa lahir dan batin dulu kebahagiaan nya belakangan 😅 jadi penasaran bangkit nya kyara gmn ya pas Uda di ambang batas kesabaran nya

2026-07-14

0

Titin Sri Dewi

Titin Sri Dewi

jgn hy diam kyara..km py hak..sebagai istri..doni..

2026-07-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 62
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117 TAMAT
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 62
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!