Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Bab 1

"Kya ... dasinya mana, kok nggak ada?!" teriak Doni Wiratama pada istrinya, Kyara Nawasena.

"Bentar, Mas," sahut Kyara dari dalam kamar mandi.

"Cepetan Kya! Ini udah siang. Aku takut kesiangan! Nanti aku kena SP! Gajiku bulan ini bisa-bisa nanti dipotong," cerocos Doni dengan nada ketus dan penuh intimidasi.

Pintu kamar mandi terbuka, Kyara berlari tergopoh-gopoh ke arah lemari, membukanya dengan gerakan cepat. "Ini Mas, dasinya." Dia menyodorkan dasi berwarna merah marun itu kepada suaminya.

"Pasangin!" titah lelaki yang bekerja sebagai manajer keuangan di salah satu badan usaha milik negara di kota kembang tersebut.

Kyara tak banyak bicara, gegas melakukan apa yang diperintahkan suaminya. "Udah, Mas," katanya sambil merapikan dasi itu.

Tak ada ucapan terima kasih yang terucap, malah keluar perkataan tak mengenakan yang dilontarkan suaminya. "Minggir ih! Kamu bau asem!"

"Aku kan belum mandi, Mas," balas Kyara sambil memundurkan tubuh.

"Jorok!" dengus Doni sinis.

"Bukan jorok, Mas. Tapi belum keburu. Dari mulai bangun tidur ... aku langsung bebenah dan bergelut di dapur. Menyiapkan sarapan untuk kamu, Mama dan juga Dini. Belum lagi nyuci perabotan, dilanjut nyuci baju kali-"

"Udah! Udah! Kenapa kamu jadi curhat?!" bentak Doni. "Itu semua sudah menjadi tugasmu sebagai istri, jadi ... nggak usah ngeluh!" Doni berbalik, mengambil jas dan tas kerjanya. Lalu keluar dari kamar.

"Huuhhhh!" Kyara mengembuskan napas panjang yang terasa merontokkan tulang dan menyesakkan dadanya.

Dia kira, menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya akan membuat hidupnya bahagia, namun ternyata harapan itu jauh dari kenyataan yang ia alami sekarang.

Doni yang dulu saat masa pacaran begitu memanjakan, menyayangi dan menghujaninya dengan cinta ... kini sering membentak dan mengabaikannya.

Begitu pun mertua dan adik iparnya. Awal menikah, mereka berdua bersikap sangat baik pada Kyara, tapi makin ke sini ... kebaikan itu seolah menghilang tergerus waktu.

Yang ada, hanya teriakan, bentakan, omelan dan perintah-perintah yang tiada habisnya, seolah dirinya bukan seorang menantu, tapi seorang pembantu.

"KYARAAA!" Satu teriakan menggelegar itu sontak membuyarkan kecamuk batin Kyara. Wanita berdaster cokelat muda itu buru-buru keluar dari kamarnya.

"Iya, Ma!" Turun terburu-buru dia dari lantai dua.

"Kamu ngapain sih di kamar mulu?! Tuh cucian belum dikeringin," sembur Hesti sambil menunjuk-nunjuk wajah Kyara dengan jemarinya yang gendut-gendut.

"Aku habis BAB, Ma. Perutku agak mul-"

"Alah! Udah! Nggak usah banyak alasan!" potong Hesti dengan mata melotot. "Sana ke belakang! Selesaikan pekerjaanmu, sekalian beresin tuh meja makan. Mama mau mandi dulu. Mau ke rumah makan. Kamu juga, setelah pekerjaan rumah selesai, segera susul Mama ke sana. Jangan males-malesan, ngerti?!"

Setelah menarik napas panjang, Kyara menganggukkan kepala. "Iya, Ma." Dia bergegas ke dapur, "Hm, Mas Doni pergi tanpa berpamitan lagi ke aku ..." lirihnya sambil memandangi kursi tempat suaminya biasa duduk.

Kyara mulai membereskan meja makan yang setiap pagi selalu berantakan. Nasi goreng yang tadi ia masak tak bersisa sebiji pun. Selalu seperti itu, jika dia tak pintar-pintar sarapan terlebih dahulu sebelum suami dan keluarganya bangun, Kyara pasti akan kelaparan karena tak pernah kebagian.

Setelah selesai membereskan meja makan dan mencuci perabotan, Kyara melangkah ke belakang untuk mengeringkan pakaian.

Itulah rutinitas pagi yang sudah ia jalani selama sepuluh tahun ini, berbakti pada suami dan keluarganya. Lebih tepatnya kerja rodi, bukan berbakti.

"Ya ampun ..." Kyara mendesah berat ketika melihat di keranjang cucian yang tadi pagi sudah kosong, kini ada lagi cucian kotor. "Kenapa pekerjaanku tidak selesai-selesai," kesahnya dengan rasa lelah yang menggerayangi jiwa dan raga. Kyara ingin mengeluh, tapi pada siapa. Ibunya sudah tiada, sedangkan ayahnya ... sudah menikah lagi dan hidup bahagia bersama keluarga barunya.

Suami yang seharusnya mendengarkan keluh kesahnya dan menjadi sandaran hidupnya, malah dia lah yang membuat hidup Kyara penuh dengan rasa lelah dan derita.

Dengan gerakan pelan, Kyara berjongkok untuk mengambil cucian baru itu, namun belum sempat tangannya menggapai ... lengkingan mertuanya kembali menusuk telinga.

"KYARAAA! DI MANA KAMU?! CEPETAN KE SINI!"

"Astagfirullah!" Kyara sontak bangkit dan berlari untuk menghampiri ibu mertuanya. "Ada apa, Ma?"

"Pergi ke tempat Si Tati sekarang juga! Ambilin gamis Mama yang kemarin kamu anterin ke sana. Bilang ke Si Tati, suruh dia memotong gamis punya Mama duluan. Gamis itu mau Mama pakai nanti siang ke pesta pernikahannya anak Pak Lurah."

"Tapi aku mau jemur baj-"

"Pergi sekarang, Kyara!" Dengan suaranya yang melengking, Hesti menghardik menantunya. Memotong ucapan Kyara sampai tak terlengkapi. "Cepetan ih!" tambahnya sambil memelototkan mata.

"Iya, Ma. Aku ke atas dulu, mau ambil sweater." Kyara bersiap berbalik, tapi Hesti melarangnya.

"Aduh! Nggak usah dandan-dandan. Gitu aja, cepetan! Lagian kalau pun dandan ... wajah kamu tetep kayak gitu. Tua, kayak ibu-ibu!" cemooh Hesti mendelikkan mata.

Kyara mengeleng pelan, sebelum akhirnya melangkah menuju pintu depan dan keluar dari rumah bertingkat tiga itu.

Kyara menutupi kedua dadanya yang besar dengan sebelah tangan. Daster yang dipakainya terasa terlalu tipis jika dikenakan keluar rumah. Dia jadi tidak percaya diri dan malu kalau berpapasan dengan orang.

Di tengah ketakutan itu, malah ada yang menegurnya, membuat Kyara terlonjak dan nyaris bertabrakan dengan orang yang menyapanya tersebut.

"Teh Kya mau ke mana?"

"Astagfirullah ..." Kyara mendongak, menatap wajah keriput namun tetap terlihat cantik, menurutnya. "Eh ... Oma Amisha, saya mau ke rumahnya Ceu Tati. Mau ngambil baju Mama mertua saya," jawab Kyara sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.

"Ooh ... iya." Wanita berkerudung biru tua itu mengangguk.

"Oma sendiri mau ke mana?" Kyara melemparkan tanya balik pada tetangganya itu.

"Mau ke warung Bu Lalah. Mau ngambil pesenan ikan gurame sama udang. Cucu saya nanti siang mau ke sini," katanya memberitahu.

"Cucunya yang tinggal di Jakarta itu ya, Oma?" Oma Amisha menjawab pertanyaan Kyara dengan anggukkan. "Ya sudah Oma, kalau begitu saya duluan. Permis-"

"Tunggu Teh Kya!" Otomatis perkataan Kyara terpotong oleh ucapan Oma Amisha.

"Ada apa, Oma?"

Oma Amisha melepaskan kardigan rajut yang dipakainya. "Pakai ini, Teh. Bagian belakang daster kamu sobek," ucapnya seraya menyodorkan kardigan itu kepada Kyara.

"Hah? Sobek?" Kyara langsung menoleh ke belakang ... dan benar saja, bagian pinggang daster yang melekat di tubuhnya terbuka cukup lebar, sehingga bagian pinggangnya terlihat.

"Nih pakai saja," ulang wanita bergamis biru tua itu.

Kyara mengambilnya dengan ragu-ragu serta malu-malu. "T-Terima kasih, Oma. Nanti setelah saya cuci, saya akan mengembalikan kardigannya."

"Iya." Oma Amisha mengangguk.

Setelah memasangkan kardigan itu di tubuhnya, Kyara melanjutkan langkahnya ke rumah penjahit langganan mertuanya.

Untung saja, baju mertuanya sudah selesai. Jadi dia tak perlu menunggu. Kyara berlari pontang-panting kembali ke rumah. Takut diomeli lagi oleh mertuanya.

"Mana siniin bajunya!" Baru juga Kyara membuka pintu, sang mertua sudah menengadahkan tangannya.

"Ini, Ma. Untung bajunya udah selesai. Jadi nggak perlu nunggu lama," kata Kyara sambil memberikan baju tersebut.

"Eh ... itu kardigan siapa yang kamu pakai?" tanya Hesti dengan mata menyipit.

Kyara meremas bagian depan kardigan itu, tersenyum kikuk. "Kardigan ini punya Oma Amisha, Ma. Tadi aku ketemu dia di depan rumahnya. Dia lihat daster bagian belakangku robek, jadi dia meminjamkan kardigannya untuk aku pakai."

"Oh ... si Oma juragan kosan itu ya?"

Kyara mengangguk.

"Jangan lupa dibalikin. Malu-maluin aja. Daster udah jelek kok masih dipake! Kayak nggak dikasih nafkah aja sama suami," celetuk Hesti sambil berlalu.

"Emang enggak. Uang gaji Mas Doni kan hampir setiap bulan selalu dipinjam sama Mama dan Dini. Aku cuma kebagian struk gajinya doang ..." ucap Kyara tanpa suara. Tadinya ia ingin mengatakan perkataan itu dengan lantang, tapi mertuanya keburu masuk kamar.

Kyara kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia berjongkok lagi, mengambil baju kotor yang tadi tertinggal. Lebih tepatnya baru dimasukkan ke keranjang. Dua celana jeans milik Dini dan satu jaket milik suaminya.

Seperti biasa, sebelum dimasukkan ke mesin cuci ... Kyara merogoh semua saku di dua celana jeans. Lalu beralih merogoh satu per satu saku di jaket milik suaminya. Ketika merogoh saku bagian kanan, Kyara menemukan selembar kertas.

Dia membuka kertas yang sudah dilipat-lipat itu, dan matanya langsung terbelalak. "Ini 'kan?"

Terpopuler

Comments

Marlina<br />✨always love you ✨

Marlina
✨always love you ✨

wew ceritanya menarik nih..

2026-07-14

1

I Love you,

I Love you,

😤😤😤😤selingkuh dia😡😡

2026-03-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 62
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117 TAMAT
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 62
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!