Bab 5

Kyara masih berdiri di depan pintu kamar Dini, napasnya masih belum stabil. Suara aneh itu kembali terdengar samar, membuat dadanya terasa sesak oleh rasa penasaran sekaligus kegelisahan. Namun akhirnya ia memejamkan mata sejenak. "Bukan urusanku." Ia menarik napas panjang, lalu memaksa kakinya melangkah lagi menyusuri lorong. Ia memilih melanjutkan langkah menuju kamarnya sendiri di ujung.

Ia membuka pintu kamar pelan, lalu segera masuk dan menguncinya dari dalam. Begitu pintu tertutup, bahunya merosot lemah. Tubuhnya terasa semakin berat, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena pikiran yang terus berputar.

Suara barusan ... benar-benar bukan suara televisi.

Kyara menggeleng pelan, seolah ingin membuang bayangan yang mulai liar di kepalanya. Ia berjalan ke lemari, mengambil pakaian rumah yang lebih nyaman. Jemarinya bergerak lambat saat melepas baju kerja yang masih berbau dapur rumah makan.

Baru saja ia hendak mengenakan kaus longgar, perutnya tiba-tiba terasa mulas. "Aduh ..." Ia meringis pelan. Mungkin karena sejak siang ia belum sempat makan dengan tenang. Atau mungkin karena terlalu banyak pikiran. Rasa mules itu datang cepat dan tak bisa ditahan.

Kyara buru-buru masuk ke kamar mandi di dalam kamarnya. Ia mengunci pintu dan duduk, berusaha menenangkan diri. Suara kipas ventilasi berdengung pelan, bercampur dengan detak jantungnya yang perlahan mulai stabil.

Sekitar sepuluh menit kemudian, ia keluar dari tempat BAB dengan wajah sedikit pucat namun lebih ringan. Ia kemudian mengambil air wudhu, lalu menatap bayangannya di cermin.

Wajahnya tampak lelah. Mata sedikit sembap. Garis halus di sudut bibirnya terlihat jelas ketika ia tidak tersenyum. "Hah," gumamnya lirih pada diri sendiri.

Ia membuka pintu kamar mandi dan segera beranjak ke dekat ranjang, mengambil mukena dan sajadah. "Nggak papa lah di akhir waktu juga, daripada tidak salat asar."

Selesai salat, Kyara segera melipat mukena dan buru-buru melangkah keluar dari kamarnya. Tanpa sadar, langkahnya melambat ketika kembali melewati kamar Dini.

Sunyi.

Tak ada lagi suara aneh. Tak ada bisikan. Tak ada gesekan ranjang. Lorong terasa normal kembali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Kyara berdiri sebentar, menatap pintu itu dengan ekspresi datar. Dalam hatinya, rasa penasaran masih menggelitik. Namun ia segera menepisnya. Ia lalu melanjutkan langkah menuju tangga.

Baru beberapa anak tangga ia turuni, tiba-tiba Kyara berpapasan dengan Dini yang baru naik tangga, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tampak tegang sepersekian detik sebelum tersenyum dibuat-buat. "Mbak ... kapan pulang?" tanya Dini cepat. Suara itu terdengar biasa, tapi sorot matanya tidak. Ada kilat gugup yang belum sepenuhnya hilang. Bibirnya seperti sedikit kering, dan tangannya sibuk merapikan ujung bajunya.

Kyara menangkap perubahan itu. Namun ia memilih memasang wajah setenang mungkin. "Baru saja," jawab Kyara ringan. Ia berdusta. Padahal ia sudah berada di atas cukup lama. Cukup untuk mendengar suara yang tidak ingin ia dengar.

Seketika wajah Dini berubah lagi. Tegangnya mengendur. Senyum kecil muncul, lebih santai. "Oh ... kirain udah dari tadi," ucapnya sambil tertawa kecil.

"Nggak," sahut Kyara pelan. "Kamu juga tumben pulang cepat. Biasanya lewat magrib?"

Dini mengedip cepat sebelum menjawab, "Dosennya nggak masuk, Mbak."

"Oh," hanya itu yang keluar dari bibir Kyara. Jawaban sederhana. Tanpa nada menuduh. Tanpa pertanyaan lanjutan.

Dini menatapnya sejenak, mungkin menunggu reaksi lain. Mungkin menunggu pertanyaan tambahan. Tapi tak ada.

Kyara kembali melanjutkan langkah menuruni tangga, melewati Dini. Setiap pijakan terdengar jelas di antara keheningan yang kini terasa canggung.

Sementara Dini tetap berdiri beberapa detik sebelum akhirnya kembali menaiki tangga dengan langkah lebih santai.

Kyara tidak menoleh lagi. Di dalam dadanya, ada campuran perasaan yang sulit dijelaskan. Curiga, kecewa, bahkan sedikit takut. Namun ia menahannya rapat-rapat. Selama ini, ia selalu berada di posisi paling mudah disalahkan. Jika ia ikut campur, siapa yang akan membelanya?

Bukan suaminya. Bukan siapa pun di rumah ini.

Sesampainya di lantai bawah, Kyara langsung menuju dapur. Ia membuka kulkas, mengambil ayam, udang, dan bahan-bahan lain yang tadi diperintahkan.

Tangannya mulai bekerja otomatis ... membersihkan ayam, menyiapkan bumbu, mengiris cabai, Lalu mengulek bumbu.

Ia mulai memasukkan bumbu halus ke dalam wajan dan mengaduknya dengan gerakan perlahan, menatap api kompor yang menyala biru. Wajahnya kembali datar, seolah tak terjadi apa-apa. Ia tidak ingin ikut campur. Ia tidak ingin mencari masalah.

Lima menit sebelum azan magrib berkumandang, seluruh masakan telah tersaji rapi di atas meja makan. Ayam woku dengan kuah kuning kemerahan masih mengepul harum. Udang pedas manis berkilau oleh saus yang mengental sempurna. Perkedel jagung tersusun di piring saji, keemasan dan renyah di bagian luar. Sambal ulek berada di mangkuk kecil, merah menyala, menggoda siapa pun yang melihatnya.

Kyara berdiri sejenak memandangi hasil kerjanya. Tangannya masih beraroma bawang dan cabai. Punggungnya terasa kaku. Tapi setidaknya, satu kewajiban lagi telah ia tuntaskan tanpa cela. Ia melepas celemek dapur, menggantungkannya di sandaran kursi.

Suara sendok yang beradu pelan menjadi satu-satunya bunyi di ruang makan yang mulai remang. Dari luar, langit semakin gelap. Tak lama lagi azan akan terdengar dari masjid dekat rumah.

Kyara berbalik, meninggalkan dapur dan meja makan yang sudah siap. Langkahnya pelan menaiki tangga menuju lantai dua. Setiap pijakan terasa berat, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena hati yang entah mengapa terasa kosong.

Sampai di kamar, ia menutup pintu perlahan. Ruangan itu sederhana. Rapi, tapi sunyi. Ia duduk di tepi ranjang, lalu tanpa sadar meraih ponsel di atas nakas. Layar menyala, memantulkan wajahnya yang tampak pucat dalam cahaya kebiruan. Ia membuka aplikasi pesan. Tak ada notifikasi. Tak ada panggilan tak terjawab. Tak ada satu pun pesan dari sang suami.

Seperti biasa.

Kyara terdiam beberapa detik, menatap layar kosong itu lebih lama dari yang seharusnya. Hatinya sempat berharap ... mungkin hari ini berbeda. Mungkin ada satu kalimat sederhana, "Kya, apakah kamu sudah makan?" atau "Kamu lagi apa?"

Namun nihil.

Bibirnya melengkung tipis, senyum yang lebih menyerupai luka kecil. "Jangan berharap yang tidak-tidak, Kya ..." gumamnya pelan pada diri sendiri. Ia mematikan layar ponsel, lalu menatap kosong ke arah jendela. "Mengharapkan pesan dari Mas Doni sekarang ini," lanjutnya lirih, "Sama saja seperti mengharapkan ada pelangi di tengah terik mentari ..." Kalimat itu terdengar puitis, tapi menyakitkan.

Dulu, nama Doni selalu membuat dadanya hangat. Dulu, ponselnya tak pernah sepi dari pesan singkat dan perhatian kecil.

Sekarang ... bahkan kabar sederhana pun terasa terlalu mahal.

Kyara menarik napas panjang. Ia menyimpan kembali ponselnya ke atas nakas, seolah menyimpan harapan yang kembali ia lipat rapi.

Di luar, suara azan mulai berkumandang, mengisi udara senja dengan nada syahdu. Kyara bangkit perlahan dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kamar mandi.

Mungkin air hangat bisa sedikit meredakan penat.

Mungkin dengan membersihkan tubuhnya, ia juga bisa membersihkan rasa kecewa yang menempel di hatinya.

Ia menutup pintu kamar mandi, membiarkan suara gemericik air menggantikan sunyi yang sejak tadi menemani.

Dan di antara uap yang perlahan memenuhi ruangan, Kyara kembali belajar satu hal yang sudah terlalu sering ia lakukan ... menurunkan harapan, agar tidak semakin sakit.

_______

Uap hangat masih melekat di kulitnya ketika Kyara membuka pintu kamar mandi. Rambutnya setengah basah, air menetes pelan ke ujung dasternya. Ia mengeringkan wajah dengan handuk kecil sambil melangkah keluar. Namun langkahnya terhenti.

Di atas ranjang, Doni bersandar santai di kepala tempat tidur. Suaminya itu tampak begitu nyaman, satu kaki ditekuk, punggung bertumpu pada bantal. Wajahnya diterangi cahaya layar ponsel. Sudut bibirnya terangkat, bahkan sesekali terdengar tawa kecil tertahan.

Cekikikan.

Hati Kyara mencelos. "Kapan Mas Doni pulang?" gumamnya tanpa suara. Ia bahkan tak mendengar suara pintu atau langkah di tangga.

Kyara menurunkan handuk dari wajahnya, mencoba menenangkan detak jantung yang tiba-tiba tak beraturan. Ia melangkah mendekat dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Kukira Mas belum pulang," ucapnya pelan.

Tak ada jawaban. Doni tidak menoleh. Jemarinya masih lincah mengetik di layar. Tawa kecil kembali keluar dari bibirnya, kali ini sedikit lebih jelas.

Kyara berdiri di samping ranjang, menunggu. Satu detik. Dua detik. Lima detik. Tetap tak digubris. Seolah ia tak ada di sana.

Perih itu muncul lagi. Perasaan asing di dalam kamar sendiri. Perasaan menjadi bayangan di hadapan suami sendiri. "Mas ..." panggilnya lebih pelan.

Namun Doni hanya menggeser posisi, masih tersenyum pada sesuatu di layar ponselnya.

Kyara menelan ludah. Ia memalingkan wajah sebentar, mencoba menahan rasa yang mulai menggenang di dada. Jangan cemburu tanpa bukti. Jangan berpikir macam-macam.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kyara berbalik menuju lemari kecil di sudut kamar. Ia berjongkok, membuka laci paling bawah. Tangannya meraba sesuatu yang sejak pagi ia simpan di sana.

Kertas kecil yang ia temukan di saku jaket Doni ketika hendak mencucinya tadi pagi. Struk pembelian pakaian dalam wanita dan lingerie.

Kyara berdiri kembali. Tangannya terasa dingin saat menggenggam kertas tipis itu. Ia berjalan mendekat ke ranjang, berdiri tepat di depan Doni. "Mas," suaranya kali ini lebih tegas, meski masih lembut.

Doni mendengus pelan, seolah terganggu, tapi tetap belum menoleh.

Kyara mengangkat tangan, menyodorkan kertas itu tepat di depan wajah suaminya. "Ini struk belanjaan milik siapa?" Kalimat itu meluncur pelan, tapi sarat makna.

Barulah Doni bereaksi. Matanya yang tadi berbinar langsung membola. Senyum di wajahnya lenyap seketika. Ia menurunkan ponsel perlahan, menatap kertas di tangan Kyara, lalu menatap wajah istrinya. Sontak ia menegakkan badan. "Apa ini?" tanyanya cepat, nada suaranya berubah tegang.

Kyara tidak menarik kembali tangannya. "Struk ini aku temukan di jaket Mas tadi pagi, saat aku mau mencucinya."

Sunyi mendadak memenuhi kamar. Cahaya layar ponsel yang masih menyala kini terasa menyilaukan. Senja di luar jendela telah benar-benar berganti malam.

Doni menatap kertas itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Rahangnya mengeras.

Terpopuler

Comments

WHATEA SALA

WHATEA SALA

Kyara..habis masak ambil semangkok sayur untuk makan sendiri,jangan semua di letakan di meja.

2026-08-19

1

Marlina<br />✨always love you ✨

Marlina
✨always love you ✨

gak bakal ngaku lah si Doni paling juga marah balik.. dasar suami sableng

2026-07-14

1

Titin Sri Dewi

Titin Sri Dewi

pasti nanti malah memahi istrinya kyara..tuk menutupi kesalahannya

2026-07-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 62
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117 TAMAT
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 62
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!