Bab 4

Kyara beranjak dari musala, melipat mukena dan merapikan pakaiannya. "Semangat Kya," gumamnya sambil keluar. Ia kembali masuk ke rumah makan.

"Roy!" Yang dipanggil namanya menoleh cepat.

"Eh, Mbak?"

"Mama belum kembali ke sini kan?"

"Tenang, Mbak. Belum. Ibu kayaknya masih betah bergosip dengan sekutunya." Roy tertawa di akhir ucapannya.

"Kamu ini. Bisa saja." Kyara ikut tertawa. "Ada pesanan baru, tidak?"

"Ada. Tapi udah dilayani sama Susi dan Dewi."

Kyara mengangguk. "Sini, aku bantu cuci piringnya."

Roy mengibaskan tangan. "Nggak usah, Mbak. Biar aku saja. Mbak istirahat saja dulu. Mumpung Ibu bos nggak ada."

"Nggak ah, Roy. Nanti Mama bisa ngamuk lagi kalau aku cuma diam." Kyara pun mengambil lap kering, dan membantu Roy mengeringkan piring serta gelas.

"Mbak Kya! Mbak Kya!" Baru juga Kyara mengelap tiga piring, teriakan nyaring berhasil mengagetkannya. Ia dan Roy langsung menoleh ke sumber suara.

"Dini?" panggil Kyara dengan kening mengkerut. "Bukannya kamu kuliah, kok udah pulang?"

Dini melirik Roy, lalu tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan kakak iparnya. "Aku cuma mampir. Mau minta uang sama Mama. Tapi kata Mbak Dewi ... Mama lagi pergi. Jadi, sama Mbak aja deh mintanya," ucap gadis itu enteng.

"Astagfirullah ... Mbak nggak punya uang, Din."

"Maksudku bukan uang pribadi Mbak. Tapi tolong ambilin di laci kasir," jelas Dini.

Sontak Kyara menggelengkan kepala. "Mbak nggak mau. Nanti Mama salah paham. Dikira Mbak nyuri uang."

"Nggak akan, Mbak. Nanti aku yang jelasin ke Mama."

Kyara tetap menggelengkan kepala. "Mbak nggak mau. Kamu ambil aja sendiri." Ia kapok, karena dulu Dini pernah meminta hal yang sama, dan bodohnya ... Kyara membantunya. Alhasil, dia dimarahi habis-habisan oleh Hesti dan juga Doni. Dirinya lah yang disalahkan.

"Mbak jahat! Aku aduin nanti ke Mas Doni kalau Mbak berduaan sama Bang Roy," ancamnya yang membuat Kyara dan Roy terlonjak.

"Astagfirullah!" Keduanya membaca istigfar secara bersamaan.

"Saya dan Mbak Kya cuma ngobrol biasa, Neng. Nggak aneh-aneh." Roy langsung menyanggah, membela diri.

"Iya, kamu jangan menyebar fitnah yang tidak-tidak," timpal Kyara kesal.

"Bodo ..." Dini tak menggubris penjelasan kedua orang itu, ia langsung berbalik meninggalkan dapur.

"Mbak, gimana ini?" Bibir Roy bergetar, matanya bergerak liar.

"Tenang, Roy. Dia hanya menggertak. Aku hafal sifat Dini," ucap Kyara menenangkan.

"Tapi bagaimana kalau Neng Dini benar-benar mengadukan hal yang tidak benar itu pada Bu bos dan Mas Doni, Mbak?"

"Tidak akan. Percaya sama aku. Sudah, kamu kembali bekerja saja. Aku akan menyusul Dini dulu." Kyara berlari meninggalkan dapur. Dan langkahnya terhenti seketika melihat Dini sedang bergelendot manja di lengan ibunya. "Syukurlah. Mama Hesti sudah pulang," batin Kyara lega.

"Ma, minta uang."

"Berapa, Nak?"

"Lima ratus ribu."

"Banyak banget!" Hesti memekik. "Tadi kan Mama udah kasih tiga ratus ribu, masa udah habis?"

"Ihh ... Mama." Dini merengek manja. "Uang yang tadi masih ada, kok. Tapi uang yang lima ratus ribu ini buat kegiatan kampus. Ada praktek dadakan nanti sore."

Hesti membulatkan bibir. "Kirain teh buat jajan."

"Bukan lah. Buruan, aku mau kembali ke kampus," desak gadis berusia delapan belas tahun itu.

"Iya. Yuk ikut Mama ke meja kasir."

"Yes! Ayo!" Dini bersorak gembira.

Kyara yang menyaksikan hal itu mengusap dada dengan lega. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.

______

Rumah makan itu tak pernah benar-benar sepi meski sudah sore. Malah makin melelahkan. Aroma minyak panas, suara wajan beradu, dan teriakan pesanan bercampur menjadi satu. Para pegawai hilir-mudik membawa piring, sementara pelanggan mulai berdatangan untuk makan malam.

Di tengah kesibukan itu, suara tajam Hesti terdengar memanggil. "Kyaraaa!"

Kyara yang sedang mengelap meja di sudut ruangan langsung menoleh. Jantungnya berdegup kecil ... ia sudah hafal nada itu. Nada yang tak pernah membawa kabar baik.

Ia berjalan mendekat ke meja kasir tempat Hesti berdiri dengan wajah kaku dan bibir terlipat tipis. Perempuan itu bahkan tidak menunggu Kyara benar-benar sampai sebelum mulai memberi perintah. "Kamu pulang duluan sekarang," ucap Hesti ketus.

Kyara terdiam sepersekian detik. Ia melirik jam dinding. Sore baru merambat menuju senja. Biasanya jam segini pelanggan sedang ramai-ramainya. "Iya, Ma. Tapi aku mau salat as-"

"Sudah!" potong Hesti tajam. "Salatnya di rumah saja. Buruan pulang! Dan masak untuk makan malam. Jangan sampai kami pulang, makanan belum siap." Nada itu bukan permintaan. Itu perintah.

Kyara menunduk pelan. "Iya, Ma."

Hesti melanjutkan tanpa peduli wajah menantunya yang semakin pucat karena lelah. "Masak yang enak, ya, Kya! Jangan asal jadi."

Kyara mengangguk kecil. "Masakanku selalu enak," batinnya.

"Masak ayam woku. Prekedel jagung. Udang pedas manis. Dan jangan lupa bikin sambal. Sambalnya yang pedas, jangan hambar kayak kemarin." Setiap menu disebutkan seperti beban tambahan yang diletakkan di bahu Kyara satu per satu.

Ayam woku butuh banyak rempah dan waktu. Udang pedas manis harus dibersihkan satu-satu. Prekedel jagung harus digoreng dalam beberapa tahap supaya renyah. Dan sambal ... Hesti selalu punya standar sendiri yang sulit dipenuhi.

"Iya, Ma," jawab Kyara lagi, pelan.

Tak ada terima kasih. Tak ada pertanyaan apakah ia lelah atau tidak. Padahal sejak pagi, Kyara sudah bekerja di rumah makan, mencuci, memotong, mengantar pesanan, bahkan sesekali melayani pelanggan yang cerewet.

Hesti sudah kembali sibuk menghitung uang di laci kasir, seolah Kyara hanyalah robot yang tak butuh istirahat.

Kyara berbalik, langkahnya terasa berat. Ia melepas celemek dapur dan menggantungnya di paku dekat pintu belakang. Tangannya sedikit gemetar karena kelelahan, tapi ia menahannya.

Tiga pegawai rumah makan itu meliriknya dengan tatapan iba yang sudah terlalu sering mereka tunjukkan selama bertahun-tahun.

"Mbak Kya disuruh pulang ya?" tanya Susi pelan.

Kyara memaksakan senyum tipis. "Iya. Biasa. Disuruh masak."

Roy menggeleng pelan, suaranya ditahan agar tak terdengar Hesti. "Padahal mah bawa aja makanan dari sini. Nggak usah nyuruh Mbak masak. Di sini juga, yang masak kan Mbak."

Kyara hanya tersenyum kecil. "Iya, Roy. Tapi ah, sudahlah." Kalimat itu menyimpan tumpukan kelelahan. Ia mengambil tas kecilnya dari loker kayu di sudut ruangan.

Dewi mendekat, menepuk bahunya pelan. "Hati-hati di jalan, Mbak."

"Iya. Duluan ya," jawab Kyara lembut. Ia berpamitan dengan anggukan pada ketiganya, lalu melangkah keluar lewat pintu samping. Langit sore berwarna jingga keemasan. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah santai, beberapa tertawa, beberapa sibuk dengan ponsel mereka.

Kyara menarik napas panjang. Sore bagi orang lain mungkin berarti waktu beristirahat. Waktu berkumpul, bersantai, atau sekadar menikmati teh hangat.

Namun baginya, sore hanyalah perpindahan lokasi kerja. Dari rumah makan ke dapur rumah.

Ia membayangkan daftar panjang yang harus dikerjakan: membersihkan ayam, mengulek bumbu woku, mengupas jagung, membersihkan udang, menyiapkan cabai untuk sambal.

Setelah itu menyapu lantai, mencuci perabotan bekas masak, menanak nasi, memastikan semua tersaji sebelum Hesti dan anggota keluarga lain pulang.

Langkahnya semakin pelan. Di balik wajah tenang itu, tubuhnya sebenarnya berteriak minta istirahat. Punggungnya pegal, telapak kakinya panas seperti ditusuk-tusuk jarum.

Namun Kyara tak pernah benar-benar punya pilihan. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun rutinitas yang sama. Perintah yang sama. Nada ketus yang sama. Ia mendongak menatap langit yang mulai meredup. Dalam hatinya terbit pertanyaan yang tak pernah berani ia ucapkan keras-keras:

Sampai kapan?

Tapi seperti biasa, pertanyaan itu ia telan kembali. Ia mempercepat langkah menuju rumah, bersiap kembali berdiri di depan kompor, mengaduk masakan di wajan, dan memastikan semuanya sempurna. Karena bagi Hesti, Kyara bukan menantu yang perlu dihargai. Ia hanya tangan tambahan di dapur.

______

Langit sudah berubah keunguan ketika Kyara tiba di depan rumah. Cahaya senja menyisakan bayang-bayang panjang di halaman. Ia melangkah pelan mendekati pagar, lalu terhenyak. "Astagfirullah ... kok pagarnya nggak dikunci! Siapa yang membuka? Perasaan tadi pagi udah aku kunci dengan benar." Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tangannya mendorong pagar perlahan. Berderit pelan. Terbuka begitu saja.

Pikiran buruk langsung bermunculan. Ia mempercepat langkah menuju pintu utama. Tangannya refleks menggenggam tas lebih erat, bersiap pada kemungkinan terburuk. Namun begitu sampai di teras, pandangannya tertuju pada rak sepatu di samping pintu. Sepasang sepatu dengan merk ternama berwarna krem tersusun rapi di sana. "Dini?" Kyara menghela napas panjang, bahunya turun perlahan. "Kirain maling ..." bisiknya lega.

Ia meraih gagang pintu dan membukanya pelan. Rumah terasa hening, hanya suara televisi samar terdengar dari ruang tengah, mungkin menyala tanpa benar-benar ditonton. "Din! Dini ..." panggilnya lembut. Namun tak ada jawaban.

Kyara melangkah masuk, menutup pintu kembali. Aroma parfum manis samar tercium di udara, bercampur dengan bau pendingin ruangan. Tasnya ia letakkan di meja dekat tangga. Tubuhnya terasa semakin berat sekarang setelah rasa tegangnya mereda.

Seharian berdiri di rumah makan, lalu berjalan pulang dengan pikiran penuh daftar masakan, membuat kakinya seperti bukan miliknya lagi.

Ia mengambil tasnya lagi, memutuskan untuk naik dulu ke kamarnya di lantai dua, melaksanakan salat asar yang mungkin sudah di akhir waktu, sekalian mengganti baju sebelum mulai memasak.

Suara langkahnya terdengar jelas di rumah yang terlalu sunyi. Semakin ke atas, suasana terasa makin hening.

Saat melewati lorong lantai dua, Kyara harus melewati kamar Dini lebih dulu sebelum sampai ke kamarnya sendiri di ujung.

Ketika kakinya tepat berada di depan kamar adik iparnya, terdengar suara aneh. Langkah Kyara melambat.

Awalnya ia mengira itu mungkin suara televisi. Atau mungkin Dini sedang menelepon teman-temannya. Tapi suara itu berbeda. Tidak jelas. Seperti desahan tertahan bercampur suara benda bergesekan.

Kening Kyara berkerut. Langkahnya membeku. Suara itu terdengar lagi. Pelan. Tertahan. Lalu seperti ada bisikan laki-laki yang sangat samar. Jantungnya berdegup lebih keras, kali ini bukan karena takut maling.

Tangannya terasa dingin. Ia menelan ludah, mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin ia salah dengar. Mungkin hanya suara dari ponsel. Mungkin hanya video. Namun kemudian terdengar suara tawa kecil Dini. Manja. Berbeda dari suaranya saat berbicara di rumah makan atau di depan Hesti.

Dan sekali lagi, terdengar suara lain. Lebih berat. Jelas bukan suara televisi. Kaki Kyara seakan tertanam di lantai. Otaknya berputar cepat.

Tangannya hampir terangkat untuk mengetuk pintu. Namun ia ragu.

Suara di dalam semakin jelas ... ranjang seperti bergeser pelan, diikuti helaan napas yang membuat tengkuk Kyara meremang.

Kyara mundur selangkah. Ia tidak bodoh. "Astagfirullah ..." Ia mengusap dadanya shock.

Terpopuler

Comments

Marlina<br />✨always love you ✨

Marlina
✨always love you ✨

yaelah adik nya si Doni Uda main kuda kuda an 🤣

2026-07-14

1

Titin Sri Dewi

Titin Sri Dewi

laaahhhh adiknya doni..dah begituuu

2026-07-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 62
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117 TAMAT
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 62
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!