Episode 2

Subuh itu, Tasya terbangun dengan rasa sakit yang menusuk seluruh tubuhnya. Butuh beberapa detik sebelum kesadarannya benar-benar kembali. Langit di balik tirai masih gelap. Lampu kamar redup, menciptakan bayangan panjang di dinding.

Ia menoleh ke sampingnya, kosong dan tak ada siapa pun di sana.

Seprai berantakan menjadi satu-satunya bukti bahwa semalam bukan mimpi. Namun, tak ada sosok pria itu.

Jantung Tasya berdetak lebih cepat.

"Apakah dia sudah pergi?"

Pertanyaan itu belum sempat terjawab terjawab, ketika suara air mengalir terdengar dari kamar mandi.

Tasya membeku, "pria itu masih di dalam."

Kesadarannya langsung pulih sepenuhnya. Ia bangkit tergesa dari ranjang, tetapi rasa sakit yang luar biasa membuatnya hampir terjatuh kembali. Lututnya lemas, tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri.

Ia menahan napas, menahan nyeri, memaksa dirinya berdiri.

“Aku harus pergi…” bisiknya pelan.

Matanya mencari pakaiannya. Gaun tipis yang ia kenakan malam tadi tergeletak di lantai, sobek di beberapa bagian. Tak mungkin dipakai keluar hotel tanpa mengundang perhatian.

Tanpa pilihan lain, Tasya meraih kemeja pria itu yang tersampir di kursi. Ia mengenakannya dengan tangan gemetar. Kemeja putih itu kebesaran, menutupi tubuhnya hingga pertengahan paha. Setidaknya cukup untuk membawanya keluar dari kamar ini.

Suara air masih terdengar, waktunya tidak banyak. Tasya melangkah menuju pintu, tetapi langkahnya terhenti. Dia baru sadar satu hal yang lebih menyakitkan dari tubuhnya sendiri.

Ia tidak punya uang, tak punya sepeser pun. Ia tak mungkin pergi jauh tanpa uang, bahkan untuk naik taksi pun tidak cukup. Dengan napas tertahan, Tasya menoleh kembali ke dalam kamar. Pandangannya menyapu meja kecil di dekat sofa. Di sana tergeletak sebuah dompet hitam.

Dia berjalan cepat ke sana, tangannya sedikit ragu sebelum membukanya. Di dalamnya terdapat kartu-kartu tanpa nama dan beberapa lembar uang euro.

Ia menghitung cepat, hanya ada dua lembar. Tasya mendengus pelan, kesal di tengah kepanikan.

“Tinggal di kamar hotel semewah ini, tapi cuma simpan dua lembar uang…” gumamnya lirih.

Kesal, tetapi tetap mengambil uang itu untuk ongkosnya. Ia tak berani mengambil kartu apa pun. Ia tak ingin meninggalkan jejak lebih banyak dari yang sudah terjadi.

Suara air di kamar mandi tiba-tiba mengecil. Tanpa menoleh lagi, Tasya membuka pintu perlahan. Lorong hotel masih sunyi dalam dingin subuh Berlin. Dengan langkah tertahan oleh rasa sakit dan dada yang dipenuhi campuran takut serta tekad, Tasya berjalan pergi.

Dia tidak mengucapkan apa-apa, dia tidak meninggalkan pesan. Ia hanya membawa dua lembar uang, luka yang tak terlihat, dan keputusan untuk menghilang sejauh mungkin dari malam itu.

Pintu lift terbuka di lantai dasar.

Begitu Tasya melangkah ke lobi hotel, udara hangat menyambutnya, berbanding terbalik dengan dingin yang terasa di dalam dadanya.

Beberapa pasang mata langsung menoleh.

Penampilannya tak biasa. Kemeja putih kebesaran dengan langkah yang sedikit tertatih jelas menarik perhatian. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat.

Namun, Tasya tak peduli. Dia tak punya tenaga untuk merasa malu. Tasya hanya ingin pergi. Dengan langkah cepat, ia melirik ke kanan dan kiri mencari akses keluar. Meja resepsionis. Sofa tamu, pintu putar besar yang mengarah ke jalan.

Ia menuju pintu tanpa berhenti.

Udara subuh Berlin menyentuh kulitnya begitu ia keluar. Dingin, menusuk, tetapi entah mengapa terasa lebih menenangkan daripada kamar hotel tadi. Beberapa taksi terparkir di depan hotel. Tanpa berpikir panjang, Tasya membuka pintu salah satunya dan masuk ke kursi belakang.

“Wohin?” tanya sopir itu singkat.

Tasya menyebutkan alamat rumah pamannya. Suaranya pelan, tetapi tegas.

Mobil mulai melaju. Jalanan masih gelap, lampu-lampu kota redup, sebagian toko belum buka. Berlin pukul tiga lewat, kota itu belum benar-benar hidup.

Di dalam mobil yang bergerak pelan, Tasya menatap ke luar jendela.

Air matanya jatuh tanpa suara. Dia tak pernah menyangka orang yang ia anggap keluarga, orang yang membesarkannya sejak orang tuanya meninggal, bisa menjualnya seperti barang.

Tangisnya pecah pelan, dia menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Kenapa hidupku harus seperti ini?"

Beberapa menit berlalu dalam diam. Sopir taksi tak banyak bertanya. Hanya sesekali melirik dari kaca spion, mungkin bertanya-tanya, tetapi memilih tak ikut campur.

Tasya menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri. Dia harus kembali ke rumah pamannya.

Semua barangnya ada di sana. Paspor cadangan. Dokumen, sisa tabungan kecil yang ia sembunyikan. Jika ingin benar-benar pergi dari Jerman dan mungkin kembali ke Indonesia, ia harus mengambil semuanya malam ini juga.

Mobil berbelok memasuki kawasan perumahan yang lebih sepi. Tangis Tasya mereda, berganti tekad yang perlahan mengeras di dalam dada. Ia mungkin tak bisa mengubah apa yang terjadi malam ini. Namun, ia masih bisa memilih apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mobil taksi berhenti di depan rumah besar milik pamannya.

Lampu taman masih menyala redup, tetapi suasana terlihat sepi. Tak ada mobil di halaman. Tak ada suara, tak ada tanda-tanda kehidupan.

Tasya membayar dengan dua lembar uang yang ia ambil dari kamar hotel tadi. Tangannya masih gemetar, tetapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena tekad yang mulai mengeras.

Ia turun dari mobil.

Gerbang rumah terbuka sedikit. Satpam yang berjaga menatapnya terkejut.

“Nona Tasya?” tanyanya, heran melihat penampilannya yang tak biasa. “Anda baru pulang?”

Tasya sedikit tersentak, lalu memaksakan diri untuk tetap tenang.

“Paman dan Bibi sudah bangun?” tanyanya pelan.

Satpam itu menggeleng.

“Belum pulang, Nona. Sejak sore tadi kalian pergi bersama. Sampai sekarang belum kembali.”

Tasya terdiam beberapa detik, lalu ia mendengus pelan.

Tentu saja, mereka pasti sedang merayakan keberhasilan transaksi itu. Berfoya-foya dengan uang yang mereka dapatkan dari menjual dirinya.

Ia yang hampir kehilangan segalanya, sementara mereka mungkin sedang tertawa di restoran mahal.

“Baik,” jawab Tasya singkat.

Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu lebih lama. Rumah itu terasa asing meski ia telah tinggal di sana bertahun-tahun. Dinding-dinding yang dulu ia anggap tempat berlindung kini terasa seperti kandang.

Ia menuju kamarnya, pintu dibuka cepat. Semua barangnya masih di sana. Lemari, meja belajar. Koper kecil di sudut ruangan. Tanpa membuang waktu, Tasya menarik koper itu dan mulai memasukkan pakaian seperlunya.

Ia membuka laci meja dan mengambil tabungan yang selama ini ia sembunyikan, uang hasil kerja sambilan dan sisa pemberian almarhum orang tuanya yang tak pernah ia sentuh.

Setelah semuanya siap, Tasya duduk sejenak di tepi ranjang. Ia menyalakan ponselnya dan memesan tiket penerbangan pertama menuju Indonesia. Penerbangan subuh menuju Jakarta masih tersedia.

Ia memesan tanpa ragu.

Begitu sampai di bandara, ia hanya perlu mencetak boarding pass dan langsung berangkat. Tak ada lagi ruang untuk berpikir ulang.

Beberapa menit kemudian, Tasya menarik koper keluar dari kamarnya. Ia berjalan menyusuri lorong rumah untuk terakhir kalinya.

Saat ia melewati pos jaga, satpam kembali menegurnya.

“Nona Tasya mau ke mana pagi-pagi begini?”

Tasya berhenti sejenak.

“Aku akan pergi dari sini,” katanya tenang.

Satpam itu terlihat bingung. “Pergi? Maksudnya…”

“Kalau Paman dan Bibi tanya apakah aku pulang,” lanjut Tasya, menatap lurus ke depan, “tolong jangan katakan apa pun.”

Satpam itu terdiam, dia hanya mengangguk pelan.

Tasya tidak menoleh lagi.

Ia melangkah keluar dari gerbang rumah yang selama ini ia sebut tempat tinggal.

Terpopuler

Comments

Burhanuddin S Pd

Burhanuddin S Pd

itu bkn kah perusahaan ayahnya, mgkn punya dia, bila org serakah emg bgtu

2026-08-01

0

febby fadila

febby fadila

enak banget hidupnya paman kamu itu nggak jual anak mereka malah jual ponakan 😡

2026-06-17

0

Luh Suparnadi

Luh Suparnadi

jika diposisi nya aku pun akan mengambil langkah itu

2026-08-22

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Bab 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 S2 tentang Arabelle ...
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Bab 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
S2 tentang Arabelle ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!