Episode 3

Sementara itu, di dalam kamar hotel. Air dari shower terakhir jatuh ke lantai marmer sebelum akhirnya berhenti.

Pria itu melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya. Uap tipis masih menguar di udara, tetapi hawa panas dalam tubuhnya belum sepenuhnya hilang. Kepalanya berdenyut, efek sisa racun yang semalam mengacaukan kesadarannya.

Pria itu menyeka rambutnya kasar. Begitu melangkah ke area kamar utama, langkahnya terhenti.

Ranjang kosong, seprai masih berantakan, dan tak ada siapa pun di sana.

Rahangnya mengeras, dia berjalan pelan mengelilingi kamar. Tatapannya jatuh pada lantai, dompetnya tergeletak di sana. Ia memungutnya, membukanya cepat.

Uang di dalamnya tidak ada, Pria itu mendegus pelan, tatapannya menggelap.

“Datang hanya untuk uang…” gumamnya dingin.

Matanya menyapu ruangan sekali lagi. Kemeja yang ia kenakan semalam juga hilang.

Pintu kamar diketuk.

“Masuk,” perintahnya tegas.

Seorang pria berjas hitam melangkah masuk sambil menunduk hormat.

“Tuan Alex, ini baju ganti Anda.”

Nama itu menggantung berat di udara, pria itu adalah Alex Roman Vasillo.

Alex mengambil pakaian itu tanpa menatap lama, lalu mengenakannya dengan gerakan tenang, untuk seseorang yang baru saja menyadari pelanggaran besar di kamarnya.

Setelah rapi, ia mengancingkan kemejanya. Barulah ia menatap bodyguard-nya.

“Cari wanita yang semalam masuk ke kamar ini.” Nada suaranya rendah namun terdengar cukup berbahaya.

“Cari di mana pun dia berada.” Alex melangkah mendekat.

“Dia telah merusak semuanya yang ku pertahankan selama ini.”

Bodyguard itu menunduk lebih dalam. Ia menyadari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar uang yang hilang. Tuannya bukan pria yang biasa disentuh wanita mana pun.

Berbeda dengan Tuan Besar Vasillo di masa lalu yang dikenal hidup bebas, Alex tumbuh berbeda. Ia menjaga jarak, menjaga kontrol. Bahkan, dalam dunia kelam yang ia jalani, ia tak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan kelemahan.

Ia terbiasa sendiri, karena baginya, menyentuh hal-hal kotor dalam pekerjaan sudah cukup. Ia tak ingin membawa kekacauan ke dalam wilayah yang ia anggap miliknya. Tetapi, kini seseorang telah masuk ke ruang pribadinya.

Bodyguard itu juga tahu, kembalinya Alex ke Jerman bukan tanpa alasan. Ia selama bertahun-tahun mengasingkan diri di Mesir, membangun jaringan sendiri, menjauh dari pusat keluarga.

Dia baru kembali ketika mendengar kabar bahwa Tuan Besar Vasillo jatuh sakit, diserang oleh musuh lama.

Kembalinya bukan untuk nostalgia, tetapi melainkan untuk perang dan balas dendam. Alex menatap jendela kamar hotel yang memperlihatkan langit Berlin yang mulai memucat.

“Temukan dia sebelum matahari terbenam,” ucapnya dingin. Karena bagi seorang Vasillo, tak ada yang boleh masuk ke wilayahnya tanpa konsekuensi.

Sementara itu, pesawat mulai bergerak perlahan di landasan. Tasya duduk di kursi dekat jendela, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil, tetapi untuk pertama kalinya sejak semalam, ia merasa kini telah aman.

Lampu kabin diredupkan, suara mesin pesawat mengaum pelan, lalu semakin keras. Berlin mengecil di balik kaca. Saat roda pesawat terangkat dari tanah, dada Tasya terasa lebih ringan.

Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, tetapi kali ini bukan karena takut. Bukan karena sakit. Melainkan karena lega yang begitu dalam hingga hampir terasa menyakitkan.

Ia menatap ke luar jendela. Kota itu perlahan menghilang di balik awan putih. Gedung-gedung tinggi, hotel mewah, rumah besar pamannya, semuanya tertinggal di bawah sana.

“Aku bebas…” bisiknya pelan. Dia tak tahu bagaimana hidupnya di Indonesia nanti. Ia tak tahu harus mulai dari mana.vNamun, setidaknya, ia telah memilih untuk hidup. Tasya menyandarkan kepala ke kursi. Tubuhnya masih nyeri, luka di hatinya belum sembuh. Bayangan malam tadi sesekali masih mencoba menyelinap masuk ke pikirannya.

Siang harinya.

Suasana di Berlin terasa dingin meski matahari bersinar terang. Di dalam suite hotel mewah itu, suasana justru lebih membeku.

Alex Roman Vasillo berdiri di depan jendela besar, memandang kota dengan tatapan gelap. Jas hitam yang baru dikenakannya terlihat rapi dan mahal, tetapi aura yang mengelilinginya jauh lebih tajam daripada potongan kain terbaik sekalipun.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masuk!”

Mario, asisten pribadi sekaligus tangan kanan yang paling dipercaya, melangkah masuk dengan langkah hati-hati.

“Tuan Alex,” ucapnya hormat. “Kami sudah memeriksa seluruh rekaman CCTV hotel.”

Alex tidak menoleh. “Dan?”

Mario menelan ludah tipis. “Wajah wanita itu tidak terlihat jelas. Rambutnya menutupi hampir seluruh wajahnya. Namun, dari gerakannya … dia tampak seperti berada di bawah pengaruh obat.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih hening.

Mario melanjutkan, “Kemungkinan besar dia juga dibius oleh seseorang. Gerakannya tidak stabil. Sepertinya ia masuk ke kamar Anda tanpa sadar.”

Rahasia kecil itu justru membuat rahang Alex mengeras.

“Ada perempuan asing,” suaranya rendah dan berbahaya, “yang berani masuk ke kamarku.”

Bagi pria lain, itu mungkin sekadar kesalahan.

Bagi Alex, itu adalah pelanggaran.

Wilayahnya tidak pernah boleh disentuh. Hidupnya terlalu berbahaya untuk dimasuki orang asing tanpa izin. Tatapan gelapnya akhirnya beralih pada Mario.

“Di mana bodyguard yang berjaga tadi malam?”

“Mereka sudah kami tahan untuk diperiksa, Tuan.”

“Lalai.” Alex mendengus dingin. “Hukum mereka.”

Mario langsung mengerti. Tidak ada ruang untuk toleransi dalam organisasi Vasillo. Kesalahan sekecil apa pun bisa berarti pengkhianatan.

“Baik, Tuan.”

Namun, sebelum Mario berbalik, suara Alex kembali terdengar dan kini lebih tajam dari sebelumnya.

“Dan jika perempuan itu datang menuntut tanggung jawab…”

Mario terdiam.

“Bunuh saja!” Perintah itu diucapkan tanpa nada emosi. Tanpa keraguan, tanpa belas kasihan. Mario sangat mengenal tuannya. Alex Roman Vasillo tidak pernah memberi ancaman kosong.

Mario hanya mengangguk. “Dimengerti, Tuan.”

Ketika pintu tertutup kembali, Alex berdiri sendirian. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Bukan soal uang yang hilang, bukan soal kamar yang dilanggar. Melainkan sepasang mata yang samar, mata yang bahkan tak ia lihat dengan jelas, tetapi entah mengapa teringat dalam bayangannya.

Ia mengepalkan tangan.

“Jangan sampai aku menemukanmu,” gumamnya pelan, lebih dari seperti peringatan yang sangat berbahaya.

Terpopuler

Comments

febby fadila

febby fadila

ck.. kamu nggak lihat dlm cctv dlm kamarmu itu klw kamu yg maksa tasya padahal tasya sellu memberontak ingin keluar, mau menang sendiri 😏😏

2026-06-17

1

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Masa g inget belassss kalau wanita yang kamu paksa itu memberontak dan menangis....tapi g kau pedulikan.... kenapa sekarang menyalahkan dia.....kamu waras?????😏😏😏😏😏😏😏

2026-08-20

0

Siti Aisyah

Siti Aisyah

laki.laki egois....tak tersentuh, kamu nya aja kena obat bius..jgn menyalahkan orang lain..apa kamu sendiri nya gak sadar sdh di bius jg..kamu yg maksa jg😤

2026-07-22

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Bab 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 S2 tentang Arabelle ...
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Bab 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
S2 tentang Arabelle ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!