Melahap Surga

Dua butir Pil Pengumpul Qi tingkat rendah meluncur melewati tenggorokan Jian Chen, meleleh seketika saat menyentuh kehangatan lambungnya.

Bagi kultivator tingkat dasar di Kota Daun Gugur, pil semacam ini adalah sumber daya berharga untuk mempercepat pengumpulan energi spiritual. Namun, di mata mantan Kaisar Pedang Kekosongan, pil ini tidak lebih dari gumpalan lumpur yang tak sengaja tercampur sedikit debu spiritual.

"Terlalu banyak kotoran," gumam Jian Chen dalam hati, alisnya berkerut. "Sembilan puluh persen dari pil ini hanyalah limbah alkimia. Jika kultivator biasa menelannya, butuh sepuluh hari penuh hanya untuk menyaring seutas energi murni. Sisanya akan mengendap di meridian, menjadi racun tersembunyi yang kelak mencekik potensi mereka sendiri."

Namun, Jian Chen tidak berniat menyaringnya secara perlahan. Ia tidak punya waktu. Dan yang lebih krusial: ia tidak memiliki meridian untuk mengalirkan energi tersebut.

Jika ia membiarkan energi pil ini meledak begitu saja, energi liar itu akan mengoyak organ dalamnya dan mengantarkannya kembali ke gerbang kematian.

"Seni Melahap Surga Primordial... Bangkit!"

Di dalam kegelapan lautan kesadarannya, suara Jian Chen menggema layaknya dekrit mutlak seorang dewa kuno.

Seketika itu juga, untaian teknik kultivasi paling tabu di alam semesta mulai berputar. Di tempat yang dulunya adalah Dantian miliknya—kini hanya sebuah ruang hancur dan kosong—sebuah pusaran kelam seukuran kacang kedelai mendadak tercipta.

Itu bukanlah pusaran energi biasa. Gelap, pekat, dan tanpa dasar, menyerupai lubang hitam miniatur yang siap menelan cahaya bintang. Begitu pusaran itu berputar, daya hisap yang luar biasa brutal meletus di dalam perut Jian Chen.

BZZZT!

Energi spiritual yang baru saja mencair dari pil langsung ditarik paksa ke dalam pusaran. Tidak ada proses penyaringan yang lembut. Tidak ada pemisahan yang rumit.

Seni Melahap Surga Primordial hanya mengenal satu hukum: Dominasi mutlak.

Pusaran hitam itu menggilas energi pil dengan kejam. Sembilan puluh persen racun limbah dihancurkan menjadi ketiadaan dalam sekejap mata, disuling oleh hukum kekacauan, hanya menyisakan sepuluh persen Qi murni yang bersinar keperakan.

"Sekarang bagian tersulitnya. Membangun fondasi tanpa meridian," batin Jian Chen, menggertakkan rahangnya kuat-kuat.

Keringat dingin sebesar biji jagung seketika membanjiri dahinya. Wajah pucatnya berkerut hebat menahan antisipasi penderitaan.

Karena saluran energinya hancur sejak lahir, Qi murni yang baru saja disuling terjebak tanpa jalur. Maka, Jian Chen mengambil keputusan gila yang hanya berani dipikirkan oleh orang gila, atau seorang Kaisar yang menolak tunduk pada takdir: Ia akan memaksa Qi tersebut menembus otot, pembuluh darah, dan sumsum tulangnya secara langsung!

Ia akan menjadikan setiap inci tubuh fisiknya sebagai satu meridian raksasa!

KRAK! KRAK!

Suara sobekan dan retakan redam terdengar mengerikan dari dalam tubuhnya. Itu adalah suara serat ototnya yang terkoyak secara mikroskopis karena dipaksa menjadi saluran Qi.

Rasa sakitnya meledak seketika. Rasanya jauh lebih buruk daripada dipotong hidup-hidup oleh seribu pisau. Seolah jutaan semut api sedang menggerogoti dagingnya dari dalam, sementara asam pekat disuntikkan langsung ke inti tulang-tulangnya.

Tubuh kurus pemuda itu kejang di atas ranjang kayu. Darah segar mulai merembes dari sudut bibirnya, hidungnya, bahkan menetes dari pori-pori kulitnya. Ini adalah harga fatal dari kultivasi tanpa wadah yang tepat. Jika dibiarkan lima napas lagi, tubuh fana ini akan meledak menjadi kabut darah.

"Rasa sakit fana ini... bukan apa-apa!" Jian Chen meraung di dalam jiwanya, menahan jeritan fisiknya. "Pengkhianatan kalian berdua seribu kali lebih menyiksa dari ini! Bertahanlah!"

Tepat ketika otot jantungnya mulai menunjukkan tanda-tanda retak, keajaiban kuno yang tertidur itu akhirnya merespons.

Di kedalaman lautan jiwanya, setetes Darah Primordial merah kehitaman—yang hanya diam sejak membawanya melintasi ruang dan waktu—tiba-tiba berdenyut.

Thump! Thump!

Detaknya beresonansi sempurna dengan pusaran hitam di Dantiannya. Teknik terlarang dan darah kuno itu seolah saling mengenali, layaknya dua gir dari mesin kosmik yang akhirnya bertaut.

Darah Primordial itu memancarkan untaian cahaya merah redup yang membanjiri fisik Jian Chen. Begitu cahaya merah itu menyentuh otot dan tulang yang hancur, sebuah proses regenerasi yang menentang surga terjadi.

Daging yang robek terajut kembali seketika, menjadi jauh lebih padat dan ulet. Tulang yang retak dilapisi oleh kilau emas pucat, mengubah strukturnya agar melampaui batas rapuh manusia fana.

Hancur. Sembuh. Koyak. Menyatu.

Siklus penyiksaan dan kelahiran kembali ini berputar dalam kecepatan kilat. Setiap kali tubuhnya hancur dan dirajut ulang, fisik Jian Chen melompat ke tingkat ketahanan yang baru, sementara Qi perak dari pil perlahan-lahan meresap dan menyatu permanen ke dalam setiap selnya.

Satu jam... Dua jam... Tiga jam berlalu di bawah siksaan neraka itu.

BOOM!

Sebuah letupan redam bergema dari dalam dada Jian Chen, seolah sebuah belenggu rantai tak terlihat baru saja dipatahkan. Udara di dalam kamar reyot itu berdesir kuat, menyapu debu dan jaring laba-laba di sekitarnya.

Jian Chen tiba-tiba terbatuk hebat. Ia membuka matanya dan memuntahkan seteguk udara keruh berwarna abu-abu—sisa kotoran dari pil dan organ dalamnya.

Mati-matian ia meraup udara, dadanya naik turun dengan cepat. Seutas kilat perak melintas sebentar di pupil matanya yang hitam pekat. Senyum lelah namun buas perlahan mengembang.

"Kondensasi Qi Tingkat Pertama," gumamnya parau.

Namun, pusaran di perutnya belum puas. Energi regenerasi dari Darah Primordial terus mendorong momentum. Setengah jam kemudian, tanpa rasa sakit yang seburuk sebelumnya, letupan kedua terjadi.

"Kondensasi Qi Tingkat Kedua."

Pusaran hitam itu akhirnya melambat dan berhenti berputar, kembali bersembunyi dalam bayangan Dantiannya.

Jian Chen bersandar lemas pada dinding kayu. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk menyadari ada yang salah dengan udara di sekitarnya. Bau busuk, seperti campuran telur busuk dan daging basi, menyengat hidungnya.

Ia menunduk. Seluruh permukaan kulitnya kini tertutup oleh lapisan lendir hitam pekat yang lengket. Ini adalah efek 'Pembersihan Sumsum dan Penebangan Tulang'. Kotoran bawaan yang menumpuk selama lima belas tahun di tubuh pemuda ini telah diperas habis melalui pori-pori.

Meski baunya menyaingi selokan kota paling kumuh, Jian Chen merasa luar biasa menakjubkan. Tubuhnya seringan kapas. Seluruh memar, nyeri, dan luka patah tulang akibat didorong dari tebing kemarin telah lenyap tanpa sisa.

Ia bangkit berdiri. Langkahnya tegak dan kokoh.

Jian Chen mengepalkan tinju kanannya, merasakan ledakan tenaga di balik kulitnya. Di Benua Bintang Jatuh, seorang kultivator Alam Kondensasi Qi Tingkat Dua umumnya hanya memiliki kekuatan fisik sekitar 250 kilogram—setara dengan tenaga satu banteng dewasa.

Tanpa kuda-kuda maupun teknik bela diri, Jian Chen langsung meninju udara kosong di hadapannya.

WUSH! PAK!

Pukulannya merobek udara, memicu suara ledakan sonik kecil yang nyaring.

Mata Jian Chen berbinar tajam. "Lima ratus kilogram. Setara tenaga dua banteng lebih. Fisik yang ditempa langsung oleh benturan Qi dan Darah Primordial jauh melampaui norma kultivator biasa. Dengan kekuatan murni ini saja, aku bisa menghancurkan seniman bela diri Tingkat Tiga."

Senyum sinis kembali terukir di bibirnya. Jian Hu, sepupu yang memerintahkan pembunuhannya, baru berada di Tingkat Tiga Kondensasi Qi. Jika bajingan itu berdiri di depannya sekarang, Jian Chen bisa meremukkan lehernya seperti mematahkan ranting kering.

Namun, realitas pahit dengan cepat menyapu euforianya.

"Seni Melahap Surga Primordial memang absolut," keluh Jian Chen, menganalisis kehampaan di perutnya yang seolah terus meminta makan. "Tapi teknik ini adalah lubang tanpa dasar. Dua pil tingkat rendah hanya cukup untuk mendorongku dua tingkat karena tubuhku masih berada di tahap paling awal dan paling haus. Untuk naik ke Tingkat Tiga, Empat, dan seterusnya... aku akan membutuhkan energi sepuluh, atau bahkan dua puluh kali lipat lebih banyak dari kultivator normal."

Kultivator jenius mungkin butuh sepuluh pil untuk menerobos; Jian Chen mungkin akan menelan dua ratus pil tanpa merasa kenyang.

Klan Jian tidak akan pernah memberinya sumber daya seabsurd itu. Apalagi paman keduanya—ayah dari Jian Hu—yang mengontrol perbendaharaan klan pasti akan langsung memotong jatah bulanan 'pemuda cacat' ini esok hari.

Jian Chen berjalan ke sudut ruangan, mencelupkan kain kasar ke dalam tong air kayu, dan mulai membersihkan lendir hitam di tubuhnya.

Setelah dibilas bersih, bayangan pemuda pucat dan penyakitan itu lenyap. Sebagai gantinya, kulitnya menampakkan rona sehat dengan formasi otot-otot ramping namun padat, meliuk sempurna bagai otot macan tutul yang siap menerkam dari kegelapan.

Ia mengenakan kembali pakaian hitam kasualnya. Tatapannya menembus jendela reyot kamarnya. Di luar, langit malam masih pekat, dinaungi bulan purnama kemerahan yang menggantung di atas Kota Daun Gugur.

Turnamen Klan Jian hanya tinggal dua bulan lagi. Itu adalah hari penentuan; generasi muda yang gagal mencapai batas minimal akan diusir dari kediaman utama, diturunkan statusnya menjadi rakyat jelata pengurus bisnis klan. Paman keduanya pasti akan menggunakan momen itu untuk memastikan Jian Chen tidak pernah kembali.

"Dua bulan... lebih dari cukup."

Pandangan Jian Chen beralih ke siluet pegunungan gelap bergerigi yang membelah cakrawala utara. Itu adalah Hutan Binatang Iblis (Demonic Beast Forest). Zona kematian bagi kultivator lemah, sarang monster haus darah dan racun mematikan.

Bagi mereka, itu adalah kuburan. Tapi bagi pengguna Seni Melahap Surga Primordial... hutan itu adalah ruang makan raksasa tak berujung. Daging dan esensi darah Binatang Iblis menyimpang energi Qi murni yang tak bisa dibandingkan dengan pil sampah buatan klan.

Tanpa membawa bekal apa pun, selain sebuah belati tua berkarat yang ia tarik dari kolong tempat tidurnya, Jian Chen melangkah keluar dari pintu.

Bayangan malam langsung menyambut dan menelannya. Sang mantan Kaisar memulai langkah pertamanya keluar dari sangkar fana, bersiap mengukir ulang jalan darahnya menuju surga kesembilan.

Terpopuler

Comments

Harman Loke

Harman Loke

seeeeemaaaaaaaaaangaaaaaaaaattt teruuuuuuuusssssss Jian Chen untuk meningkatkan kultivasimu yang lebih tinggi lagi agar orang tidak berani mengincarmu untuk membunuhmu

2026-05-07

1

Mamat Stone

Mamat Stone

😍

2026-04-26

0

Mamat Stone

Mamat Stone

🤩

2026-04-26

0

lihat semua
Episodes
1 Kebangkitan Kaisar
2 Melahap Surga
3 Hukum Rimba
4 Terkaman Bayangan
5 Kejutan di Paviliun Beladiri
6 Barang Rongsokan
7 Rahasia Cincin Kuno
8 Pasar Seratus Daun
9 Kepulangan Sang Penguasa
10 Kebangkitan Sang Naga
11 Gerbang Berdarah
12 Ambisi Sang Elang dan Keberangkatan
13 Teror Lembah Kabut Beracun
14 Darah Sekte Awan Biru
15 Gerbang Naga
16 Alun-Alun Bintang dan Monumen Kekuatan
17 Ujian Tahap Kedua dan Ilusi yang Hancur
18 Peringkat Pertama dan Undangan Tetua Tertinggi
19 Puncak Awan Awan dan Syarat Sang Kaisar
20 Terobosan Brutal dan Paviliun Kitab Suci
21 Lantai Kelima dan Tebasan Kehancuran Bintang
22 Puncak Awan Bergetar
23 Kota Dosa
24 Pembantai Berjubah Hitam
25 Harta Rampasan
26 Puncak Tingkat Tujuh
27 Tulang Naga
28 Raga Tirani Kekacauan
29 Malam Seratus Iblis
30 Tarian Maut
31 Lima Purnama Berlalu
32 Elang Badai
33 Gerbang Reruntuhan
34 Jejak Darah di Rawa Kematian
35 Ngarai Jeritan Roh
36 Pelataran Altar Pusat
37 Pembantaian Awan Biru
38 Buah Inti Dewa
39 Hujan Darah Perak
40 Kemarahan Awan Biru
41 Kejatuhan Awan Biru
42 Harta Rampasan
43 Tamu Tak Diundang
44 Getaran di Aula Hukum
45 Turun Gunung
46 Runtuhnya Susunan Awan
47 Kematian Sang Patriak
48 Reuni Berdarah
49 Susunan Penyu Hitam
50 Dekrit Kekaisaran
51 Kemurkaan Istana
52 Runtuhnya Susunan Es
53 Darah Inti Emas
54 Segel Kutukan Darah
55 Takluknya Sang Raja
56 Samudra Harta
57 Lautan Tak Bertepi
58 Dupa Pemanggil Siluman
59 Sapuan Kematian
60 Kehancuran Hiu Hitam
61 Udara Benua Tengah
62 Gerbang Paviliun Harta
63 Tangan Penghancur
64 Istana Koin Emas
65 Tuan Muda
66 Sayap Timur
67 Kesepakatan Berdarah
68 Lembah Hantu Berdarah
69 Panggung Kematian
70 Rantai Jiwa Terputus
71 Tahta Pualam
72 Perbendaharaan Inti Bumi
73 Telan Langit Bumi
74 Guncangan
75 Penguasa
76 Kereta Naga Api
77 Jantung Kekaisaran
78 Gerbang Emas
79 Pijakan Pertama
80 Runtuhnya Naga Emas
81 Bayangan Jiwa Baru Lahir
82 Perbendaharaan Surga
83 Besi Darah Bintang
84 Kereta Perang Matahari
85 Badai Api
86 Tempaan Darah Bintang
87 Murka Matahari
88 Tiga Ribu Pasukan
89 Ayunan Pertama
90 Matahari yang Padam
91 Runtuhnya Tiga Ribu Pasukan
92 Runtuhnya Pilar Surga
93 Bayangan Inti Emas
94 Kesengsaraan Darah
95 Lahirnya Inti Primordial
96 Runtuhnya Naga Emas
97 Tahta yang Gemetar
98 Kolam Sumsum Naga
99 Titah Penaklukan
100 Bayangan di Siang Hari
101 Runtuhnya Dua Pilar
102 Upeti
103 Turunnya Kapal Suci
104 Sayap Terpotong
105 Murka Jiwa Baru Lahir
106 Runtuhnya Jiwa Baru Lahir
107 Rampasan Kapal Suci
108 Paus Naga Gelap
109 Lonceng Kematian di Timur
110 Armada Matahari Hitam
111 Gerbang Benua Suci
112 Pijakan di Tanah Suci
113 Tamparan
114 Titah Pemburuan Darah
115 Tiga Iblis Gunung
116 Gerbang Matahari Emas
117 Kedatangan Sang Tiran
118 Sembilan Matahari Pemusnah
119 Kejatuhan Penguasa
120 Perbendaharaan Matahari
121 Api Nirwana Purba
122 Runtuhnya Puncak Matahari
123 Bayangan Kuil Suci
124 Delapan Jendral Roh
125 Pukulan Sejuta Kilogram
126 Kejatuhan Pulau Suci
127 Mata Langit yang Buta
128 Hukum Pemisahan Roh
129 Tiga Kayu Lapuk
130 Runtuhnya Pulau Suci
131 Gerbang
132 Upeti
133 Alam Roh Surgawi
134 Darah Pertama
135 Runtuhnya Kesombongan
136 Kamp Budak Api
137 Hancurnya Belenggu
138 Pemberontakan
139 Pasukan Asura
140 Badai Mengarah ke Timur
141 Gerbang Giok Hitam
142 Hancurnya Tahta Hitam
143 Teror
144 Menara Giok Hitam
145 Dekrit
146 Tanah Terlarang
147 Pelajaran
148 Badai Kehampaan
149 Kera Iblis
150 Istana Dewa Runtuh
151 Segel Purba
152 Kehendak Dewa Jatuh
153 Perampasan
154 Penguasa Reruntuhan
155 Bulan Darah
156 Markas Bulan Darah
157 Leluhur
158 Sekte Iblis Surgawi
159 Tumbal
160 Istana Tujuh Bintang
161 Kunci Ketiga
162 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 162 Episodes

1
Kebangkitan Kaisar
2
Melahap Surga
3
Hukum Rimba
4
Terkaman Bayangan
5
Kejutan di Paviliun Beladiri
6
Barang Rongsokan
7
Rahasia Cincin Kuno
8
Pasar Seratus Daun
9
Kepulangan Sang Penguasa
10
Kebangkitan Sang Naga
11
Gerbang Berdarah
12
Ambisi Sang Elang dan Keberangkatan
13
Teror Lembah Kabut Beracun
14
Darah Sekte Awan Biru
15
Gerbang Naga
16
Alun-Alun Bintang dan Monumen Kekuatan
17
Ujian Tahap Kedua dan Ilusi yang Hancur
18
Peringkat Pertama dan Undangan Tetua Tertinggi
19
Puncak Awan Awan dan Syarat Sang Kaisar
20
Terobosan Brutal dan Paviliun Kitab Suci
21
Lantai Kelima dan Tebasan Kehancuran Bintang
22
Puncak Awan Bergetar
23
Kota Dosa
24
Pembantai Berjubah Hitam
25
Harta Rampasan
26
Puncak Tingkat Tujuh
27
Tulang Naga
28
Raga Tirani Kekacauan
29
Malam Seratus Iblis
30
Tarian Maut
31
Lima Purnama Berlalu
32
Elang Badai
33
Gerbang Reruntuhan
34
Jejak Darah di Rawa Kematian
35
Ngarai Jeritan Roh
36
Pelataran Altar Pusat
37
Pembantaian Awan Biru
38
Buah Inti Dewa
39
Hujan Darah Perak
40
Kemarahan Awan Biru
41
Kejatuhan Awan Biru
42
Harta Rampasan
43
Tamu Tak Diundang
44
Getaran di Aula Hukum
45
Turun Gunung
46
Runtuhnya Susunan Awan
47
Kematian Sang Patriak
48
Reuni Berdarah
49
Susunan Penyu Hitam
50
Dekrit Kekaisaran
51
Kemurkaan Istana
52
Runtuhnya Susunan Es
53
Darah Inti Emas
54
Segel Kutukan Darah
55
Takluknya Sang Raja
56
Samudra Harta
57
Lautan Tak Bertepi
58
Dupa Pemanggil Siluman
59
Sapuan Kematian
60
Kehancuran Hiu Hitam
61
Udara Benua Tengah
62
Gerbang Paviliun Harta
63
Tangan Penghancur
64
Istana Koin Emas
65
Tuan Muda
66
Sayap Timur
67
Kesepakatan Berdarah
68
Lembah Hantu Berdarah
69
Panggung Kematian
70
Rantai Jiwa Terputus
71
Tahta Pualam
72
Perbendaharaan Inti Bumi
73
Telan Langit Bumi
74
Guncangan
75
Penguasa
76
Kereta Naga Api
77
Jantung Kekaisaran
78
Gerbang Emas
79
Pijakan Pertama
80
Runtuhnya Naga Emas
81
Bayangan Jiwa Baru Lahir
82
Perbendaharaan Surga
83
Besi Darah Bintang
84
Kereta Perang Matahari
85
Badai Api
86
Tempaan Darah Bintang
87
Murka Matahari
88
Tiga Ribu Pasukan
89
Ayunan Pertama
90
Matahari yang Padam
91
Runtuhnya Tiga Ribu Pasukan
92
Runtuhnya Pilar Surga
93
Bayangan Inti Emas
94
Kesengsaraan Darah
95
Lahirnya Inti Primordial
96
Runtuhnya Naga Emas
97
Tahta yang Gemetar
98
Kolam Sumsum Naga
99
Titah Penaklukan
100
Bayangan di Siang Hari
101
Runtuhnya Dua Pilar
102
Upeti
103
Turunnya Kapal Suci
104
Sayap Terpotong
105
Murka Jiwa Baru Lahir
106
Runtuhnya Jiwa Baru Lahir
107
Rampasan Kapal Suci
108
Paus Naga Gelap
109
Lonceng Kematian di Timur
110
Armada Matahari Hitam
111
Gerbang Benua Suci
112
Pijakan di Tanah Suci
113
Tamparan
114
Titah Pemburuan Darah
115
Tiga Iblis Gunung
116
Gerbang Matahari Emas
117
Kedatangan Sang Tiran
118
Sembilan Matahari Pemusnah
119
Kejatuhan Penguasa
120
Perbendaharaan Matahari
121
Api Nirwana Purba
122
Runtuhnya Puncak Matahari
123
Bayangan Kuil Suci
124
Delapan Jendral Roh
125
Pukulan Sejuta Kilogram
126
Kejatuhan Pulau Suci
127
Mata Langit yang Buta
128
Hukum Pemisahan Roh
129
Tiga Kayu Lapuk
130
Runtuhnya Pulau Suci
131
Gerbang
132
Upeti
133
Alam Roh Surgawi
134
Darah Pertama
135
Runtuhnya Kesombongan
136
Kamp Budak Api
137
Hancurnya Belenggu
138
Pemberontakan
139
Pasukan Asura
140
Badai Mengarah ke Timur
141
Gerbang Giok Hitam
142
Hancurnya Tahta Hitam
143
Teror
144
Menara Giok Hitam
145
Dekrit
146
Tanah Terlarang
147
Pelajaran
148
Badai Kehampaan
149
Kera Iblis
150
Istana Dewa Runtuh
151
Segel Purba
152
Kehendak Dewa Jatuh
153
Perampasan
154
Penguasa Reruntuhan
155
Bulan Darah
156
Markas Bulan Darah
157
Leluhur
158
Sekte Iblis Surgawi
159
Tumbal
160
Istana Tujuh Bintang
161
Kunci Ketiga
162
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!