Kaisar Abadi Penentang Surga

Kaisar Abadi Penentang Surga

Kebangkitan Kaisar

Gemuruh guntur membelah kehampaan kosmik. Di Puncak Ilahi Primordial, tempat di mana bintang-bintang lahir dan mati hanya dalam satu tarikan napas, lautan darah menggenang.

"Luo Xue... kenapa?!"

Suara itu serak, dipenuhi dengan keputusasaan yang mampu membuat langit menangis.

Jian Chen, Kaisar Pedang Kekosongan yang namanya menggetarkan Sembilan Surga, berlutut dengan satu kaki. Pedang ilahinya yang dulunya mampu membelah galaksi kini patah menjadi dua. Di dadanya, sebuah pedang es sebening kristal menancap tepat di jantungnya, membekukan sumber kehidupannya dan menghancurkan lautan jiwanya.

Di hadapannya, berdiri seorang wanita dengan kecantikan yang melampaui konsep fana. Gaun putihnya berkibar anggun di tengah badai energi kosmik. Dia adalah Luo Xue, Permaisuri Surgawi, wanita yang telah menemaninya mendaki puncak kultivasi selama tiga ribu tahun. Tunangannya.

Dan di samping wanita itu, berdiri seorang pria berjubah naga emas, menatap Jian Chen dengan senyum tipis yang penuh ejekan. Dia adalah Mo Tian, saudara angkat yang pernah bertukar cawan darah dengannya.

"Maafkan aku, Chen," suara Luo Xue terdengar dingin, tanpa emosi, layaknya dewa yang menatap semut. "Jalan menuju Alam Penguasa Primordial hanya bisa dilalui oleh satu orang. Pengetahuan dari Reruntuhan Kekacauan yang kau temukan... itu terlalu berharga untuk kau kuasai sendiri. Aku dan Tian membutuhkan Darah Primordial itu."

"Hanya... demi sebuah takdir ilahi... kau mengkhianati sepuluh ribu tahun ikatan kita?" Mata Jian Chen memerah, meneteskan darah, bukan air mata. Jiwanya mulai retak. Segel es dari pedang Luo Xue merayap, menghancurkan kultivasi tingkat Kaisar Ilahi miliknya secara perlahan namun pasti.

Mo Tian melangkah maju, tawanya menggema di kehampaan. "Yang kuat memangsa yang lemah, Saudaraku. Kau terlalu naif. Serahkan Darah Primordial itu, dan kami akan membiarkan sisa jiwamu bereinkarnasi ke dunia fana."

"Hahaha! Hahahahaha!"

Tawa Jian Chen meledak, memancarkan niat membunuh yang begitu pekat hingga ruang dan waktu di sekitarnya terdistorsi. Matanya yang perlahan meredup tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang gila.

"Luo Xue! Mo Tian! Bahkan jika jiwaku hancur menjadi debu, bahkan jika aku harus jatuh ke dalam Api Api Penyucian selama sembilan reinkarnasi, aku, Jian Chen, bersumpah! Aku akan merangkak kembali dari neraka, membelah surga kesembilan, dan mencabut jantung kalian dengan tanganku sendiri!"

Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Jian Chen tidak menyerang mereka. Alih-alih, ia meledakkan Dantiannya sendiri. Ledakan energi dari seorang Kaisar Ilahi menyapu Puncak Ilahi Primordial. Dalam kekacauan ledakan itu, setetes darah berwarna merah kehitaman yang memancarkan aura kuno berdenyut keras, membungkus satu fragmen jiwa terkecil milik Jian Chen, lalu merobek ruang angkasa dan menghilang ke dalam kekosongan tanpa batas.

"Uh..."

Rasa sakit yang menyengat adalah hal pertama yang dirasakan Jian Chen. Rasanya seperti jutaan jarum beracun ditusukkan ke setiap inci otot dan tulangnya.

Matanya terbuka perlahan. Tidak ada lagi lautan bintang. Tidak ada lagi energi kosmik yang melimpah. Yang menyambut pandangannya adalah langit-langit kayu yang lapuk, berhiaskan jaring laba-laba. Aroma obat penawar yang murah dan bau apak menguar di udara.

Di mana aku? Bukankah aku sudah mati? Bukankah jiwaku hancur?

Jian Chen mencoba bangkit, tetapi rasa sakit yang tajam dari perutnya memaksanya kembali berbaring. Tiba-tiba, rasa sakit yang jauh lebih hebat menyerang kepalanya. Aliran ingatan yang asing membanjiri benaknya secara paksa.

Benua Bintang Jatuh... Kerajaan Angin Langit... Kota Daun Gugur... Klan Jian.

Dan nama pemuda pemilik tubuh ini juga... Jian Chen.

Kaisar Pedang Kekosongan terdiam sejenak, membiarkan ingatan itu menyatu dengan jiwanya. Setelah beberapa menit, seutas senyum sinis yang bercampur dengan kelegaan yang luar biasa terbentuk di bibirnya yang pucat.

"Sepuluh ribu tahun... Aku tertidur selama sepuluh ribu tahun," gumam Jian Chen. Suaranya lemah, tetapi mengandung dominasi yang tak terbantahkan.

Melalui ingatan tubuh ini, ia tahu bahwa Luo Xue dan Mo Tian kini telah menjadi Penguasa Sembilan Surga yang disembah oleh triliunan makhluk. Mereka menyebut diri mereka Dewi Surga Bersalju dan Kaisar Surgawi Kekacauan. Nama "Kaisar Pedang Kekosongan" telah dihapus dari sejarah, dianggap sebagai pengkhianat umat manusia.

"Luo Xue... Mo Tian... Kalian pikir kalian telah menang? Surga tidak buta. Takdir mengizinkanku kembali. Tunggu saja saat pedangku kembali menunjuk ke arah surga kesembilan!"

Setelah menenangkan emosinya yang bergejolak, Jian Chen mulai memeriksa kondisi tubuh barunya. Sebagai mantan kultivator puncak, hal pertama yang ia lakukan adalah memindai Dantian (pusat energi) dan meridian (saluran energi) di tubuhnya.

Wajahnya segera menjadi gelap.

"Benar-benar tubuh yang menyedihkan," desahnya pelan.

Pemuda bernama Jian Chen ini dulunya adalah putra tunggal dari Patriark Klan Jian di Kota Daun Gugur. Ayahnya menghilang secara misterius tiga tahun lalu saat menjelajahi Reruntuhan Kuno, meninggalkan Jian Chen yang baru berusia dua belas tahun sendirian.

Lebih buruk lagi, sejak lahir, Jian Chen memiliki kondisi langka: Sembilan Meridian Absolut yang Terputus. Ini berarti, saluran energi di tubuhnya bagaikan pipa yang hancur. Sebanyak apa pun energi spiritual (Qi) yang ia serap dari langit dan bumi, energi itu akan bocor dan keluar dari tubuhnya. Di dunia yang menjunjung tinggi kekuatan bela diri ini, ia adalah lambang dari kata "Sampah Bawaan".

Kematiannya hari ini pun bukan sebuah kecelakaan. Kemarin, ia didorong dari tebing di belakang kediaman klan oleh antek-antek sepupunya, Jian Hu. Jian Hu telah lama mengincar posisi Tuan Muda dan sumber daya bulanan yang masih diterima oleh Jian Chen secara nominal.

Jian Chen memejamkan mata, memindai lebih dalam ke lautan jiwanya yang kini sangat kecil dan rapuh. Di tengah kegelapan jiwa fana itu, melayang diam setetes darah merah kehitaman. Darah Primordial.

"Jadi ini yang menyelamatkanku. Sepuluh ribu tahun melintasi ruang dan waktu untuk mencari wadah yang tepat. Ironisnya, Darah Primordial ini yang selama ini menyerap sisa-sisa Qi di tubuh pemuda ini, memperburuk kondisi meridiannya, hanya untuk mempertahankan fragmen jiwaku agar tidak musnah."

Meskipun meridiannya hancur, mata Jian Chen tidak menunjukkan sedikit pun keputusasaan. Di kehidupan masa lalunya, ia memulai segalanya dari bawah. Ia membunuh, merampas, meracik alkimia, dan memanjat tumpukan mayat jenius surgawi. Meridian hancur? Itu hanyalah lelucon kecil bagi seorang Kaisar.

Di kehidupan masa lalunya, bersama dengan Darah Primordial, ia juga memperoleh sebuah teknik kultivasi terlarang dari Reruntuhan Kekacauan yang belum sempat ia praktikkan.

Seni Melahap Surga Primordial.

Teknik ini dikabarkan mampu melahap segala bentuk energi di alam semesta—baik itu Qi yang murni, racun, esensi darah binatang iblis, bahkan karma dan nyawa musuh—untuk ditempa menjadi kultivasi pribadi dan memperbaiki cacat tubuh apa pun.

"Jika aku tidak memiliki meridian, maka aku akan menjadikan setiap tulang, daging, dan darah di tubuhku sebagai meridian! Aku akan melahap langit dan bumi ini untuk membangun kembali fondasiku!"

Brak!

Pikiran Jian Chen terputus ketika pintu kamarnya yang reyot ditendang terbuka dengan kasar, hingga engselnya hampir lepas.

Seorang pemuda berpakaian pelayan abu-abu melangkah masuk dengan angkuh. Wajahnya dipenuhi bopeng, dan matanya memancarkan rasa jijik yang tidak ditutupi. Dia adalah Wang Lu, seorang pelayan tingkat rendah dari faksi Paman Kedua, tetapi bahkan pelayan pun berani menginjak-injak Tuan Muda yang kehilangan pelindungnya.

"Hei, Sampah! Kau belum mati juga rupanya?" Wang Lu mendengus kasar, meludah ke lantai di dekat tempat tidur Jian Chen. "Kudengar dari Tuan Muda Jian Hu kau jatuh dari tebing. Sayang sekali nyawamu sekeras kecoak."

Jian Chen tidak menjawab. Ia hanya menoleh perlahan, menatap pelayan itu.

Wang Lu berjalan mendekat, meraih botol porselen kecil di atas meja nakas yang berisi jatah Pil Pengumpul Qi bulanan milik Jian Chen. "Berhubung kau sudah cacat dan hampir mati, pil ini hanya akan sia-sia di perutmu. Tuan Muda Jian Hu menyuruhku mengambil jatah bulan ini untuk anjing peliharaannya. Kurasa itu jauh lebih berguna!"

Wang Lu tertawa mengejek dan berbalik untuk pergi.

"Taruh kembali."

Dua kata itu diucapkan dengan nada yang sangat pelan, nyaris seperti hembusan angin. Namun, entah mengapa, ruangan itu tiba-tiba terasa beberapa derajat lebih dingin.

Wang Lu menghentikan langkahnya dan menoleh, mengerutkan kening. "Apa kau bilang, Sampah? Kau berani memerintahku? Kau pikir kau masih Tuan Muda yang dihormati saat ayahmu masih ada? Hari ini aku akan mematahkan kakimu agar kau tahu tempat—"

Ucapan Wang Lu terhenti di tenggorokannya.

Ia menatap mata Jian Chen. Mata yang biasanya penuh ketakutan dan keputusasaan itu kini berubah total. Mata itu dalam, gelap, dan setajam pedang yang baru saja dicabut dari sarungnya. Di dalam kedalaman pupil hitam itu, Wang Lu seolah melihat lautan darah, tumpukan mayat setinggi gunung, dan aura kehancuran yang tak terbatas.

Itu bukan tatapan manusia. Itu adalah tatapan dewa kematian yang memandang seekor serangga. Niat Membunuh (Killing Intent) yang dikumpulkan dari sepuluh ribu tahun pembantaian di kehidupan sebelumnya, meskipun dipancarkan dari tubuh tanpa kekuatan, adalah sesuatu yang menekan jiwa itu sendiri.

Deg!

Jantung Wang Lu seakan berhenti berdetak. Kakinya gemetar hebat, kehilangan semua tenaganya. Wajahnya pucat pasi seperti kertas. Napasnya tercekat, seolah ada tangan kasat mata yang mencekik lehernya dengan kuat. Rasa takut purba, rasa takut yang melekat pada naluri hewan saat menghadapi predator puncak, menguasai pikirannya.

Klang.

Botol porselen berisi pil itu terlepas dari tangannya yang gemetar dan jatuh ke lantai kayu, berguling pelan ke arah tempat tidur Jian Chen.

"E-eek..." Wang Lu hanya bisa mengeluarkan suara tercekik, air mata ketakutan menggenang di matanya, dan tanpa sadar, celananya menjadi basah oleh noda kekuningan. Ia telah mengompol.

"Aku tidak suka mengulang kata-kataku untuk orang mati," suara Jian Chen terdengar lagi, sedingin es abadi. "Tapi karena tanganku saat ini terlalu kotor untuk menyentuh darah anjing sepertimu... Enyahlah."

Seketika tekanan ilusi itu menghilang.

Wang Lu terkesiap menghirup udara, lalu berbalik dan merangkak keluar dari kamar secepat anjing yang ketakutan, bahkan tidak berani menoleh ke belakang sedetik pun, meninggalkan bau pesing di ambang pintu.

Jian Chen mendengus pelan, rasa pusing yang hebat kembali menyerang kepalanya. Menggunakan 'Niat Membunuh' tingkat Kaisar pada tubuh fana dan jiwa yang sangat lemah memberikan beban balik (backlash) yang cukup besar. Ia terengah-engah, keringat dingin membasahi dahinya.

"Hanya menggunakan aura saja sudah menguras staminaku sampai seperti ini," Jian Chen tersenyum kecut sambil mengambil botol porselen di lantai.

Ia membuka sumbatnya dan menuangkan dua butir pil berwarna cokelat seukuran kacang polong. Itu adalah Pil Pengumpul Qi tingkat rendah. Bagi kultivator biasa, kualitasnya sangat buruk, penuh dengan kotoran (impurities).

Namun, bagi Jian Chen saat ini, itu adalah kunci pertamanya untuk bertahan hidup.

Ia memasukkan kedua pil itu ke dalam mulutnya dan duduk bersila, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Matanya terpejam, dan ia mulai merapal mantra pertama dari teknik kultivasi nomor satu di alam semesta.

"Mari kita mulai melahap."

Terpopuler

Comments

ls*(

ls*(

wasalam

2026-07-04

0

Harman Loke

Harman Loke

kuaaaaaaaaaaaaaaaaatkaaaaaaaannn teruuuuuuuuuuuuuusssssss tekadmu Jian Chen

2026-05-07

1

Bersyukurlah

Bersyukurlah

ceritanya SM dgn KAISAR ALKAMIS ABADI

2026-04-11

1

lihat semua
Episodes
1 Kebangkitan Kaisar
2 Melahap Surga
3 Hukum Rimba
4 Terkaman Bayangan
5 Kejutan di Paviliun Beladiri
6 Barang Rongsokan
7 Rahasia Cincin Kuno
8 Pasar Seratus Daun
9 Kepulangan Sang Penguasa
10 Kebangkitan Sang Naga
11 Gerbang Berdarah
12 Ambisi Sang Elang dan Keberangkatan
13 Teror Lembah Kabut Beracun
14 Darah Sekte Awan Biru
15 Gerbang Naga
16 Alun-Alun Bintang dan Monumen Kekuatan
17 Ujian Tahap Kedua dan Ilusi yang Hancur
18 Peringkat Pertama dan Undangan Tetua Tertinggi
19 Puncak Awan Awan dan Syarat Sang Kaisar
20 Terobosan Brutal dan Paviliun Kitab Suci
21 Lantai Kelima dan Tebasan Kehancuran Bintang
22 Puncak Awan Bergetar
23 Kota Dosa
24 Pembantai Berjubah Hitam
25 Harta Rampasan
26 Puncak Tingkat Tujuh
27 Tulang Naga
28 Raga Tirani Kekacauan
29 Malam Seratus Iblis
30 Tarian Maut
31 Lima Purnama Berlalu
32 Elang Badai
33 Gerbang Reruntuhan
34 Jejak Darah di Rawa Kematian
35 Ngarai Jeritan Roh
36 Pelataran Altar Pusat
37 Pembantaian Awan Biru
38 Buah Inti Dewa
39 Hujan Darah Perak
40 Kemarahan Awan Biru
41 Kejatuhan Awan Biru
42 Harta Rampasan
43 Tamu Tak Diundang
44 Getaran di Aula Hukum
45 Turun Gunung
46 Runtuhnya Susunan Awan
47 Kematian Sang Patriak
48 Reuni Berdarah
49 Susunan Penyu Hitam
50 Dekrit Kekaisaran
51 Kemurkaan Istana
52 Runtuhnya Susunan Es
53 Darah Inti Emas
54 Segel Kutukan Darah
55 Takluknya Sang Raja
56 Samudra Harta
57 Lautan Tak Bertepi
58 Dupa Pemanggil Siluman
59 Sapuan Kematian
60 Kehancuran Hiu Hitam
61 Udara Benua Tengah
62 Gerbang Paviliun Harta
63 Tangan Penghancur
64 Istana Koin Emas
65 Tuan Muda
66 Sayap Timur
67 Kesepakatan Berdarah
68 Lembah Hantu Berdarah
69 Panggung Kematian
70 Rantai Jiwa Terputus
71 Tahta Pualam
72 Perbendaharaan Inti Bumi
73 Telan Langit Bumi
74 Guncangan
75 Penguasa
76 Kereta Naga Api
77 Jantung Kekaisaran
78 Gerbang Emas
79 Pijakan Pertama
80 Runtuhnya Naga Emas
81 Bayangan Jiwa Baru Lahir
82 Perbendaharaan Surga
83 Besi Darah Bintang
84 Kereta Perang Matahari
85 Badai Api
86 Tempaan Darah Bintang
87 Murka Matahari
88 Tiga Ribu Pasukan
89 Ayunan Pertama
90 Matahari yang Padam
91 Runtuhnya Tiga Ribu Pasukan
92 Runtuhnya Pilar Surga
93 Bayangan Inti Emas
94 Kesengsaraan Darah
95 Lahirnya Inti Primordial
96 Runtuhnya Naga Emas
97 Tahta yang Gemetar
98 Kolam Sumsum Naga
99 Titah Penaklukan
100 Bayangan di Siang Hari
101 Runtuhnya Dua Pilar
102 Upeti
103 Turunnya Kapal Suci
104 Sayap Terpotong
105 Murka Jiwa Baru Lahir
106 Runtuhnya Jiwa Baru Lahir
107 Rampasan Kapal Suci
108 Paus Naga Gelap
109 Lonceng Kematian di Timur
110 Armada Matahari Hitam
111 Gerbang Benua Suci
112 Pijakan di Tanah Suci
113 Tamparan
114 Titah Pemburuan Darah
115 Tiga Iblis Gunung
116 Gerbang Matahari Emas
117 Kedatangan Sang Tiran
118 Sembilan Matahari Pemusnah
119 Kejatuhan Penguasa
120 Perbendaharaan Matahari
121 Api Nirwana Purba
122 Runtuhnya Puncak Matahari
123 Bayangan Kuil Suci
124 Delapan Jendral Roh
125 Pukulan Sejuta Kilogram
126 Kejatuhan Pulau Suci
127 Mata Langit yang Buta
128 Hukum Pemisahan Roh
129 Tiga Kayu Lapuk
130 Runtuhnya Pulau Suci
131 Gerbang
132 Upeti
133 Alam Roh Surgawi
134 Darah Pertama
135 Runtuhnya Kesombongan
136 Kamp Budak Api
137 Hancurnya Belenggu
138 Pemberontakan
139 Pasukan Asura
140 Badai Mengarah ke Timur
141 Gerbang Giok Hitam
142 Hancurnya Tahta Hitam
143 Teror
144 Menara Giok Hitam
145 Dekrit
146 Tanah Terlarang
147 Pelajaran
148 Badai Kehampaan
149 Kera Iblis
150 Istana Dewa Runtuh
151 Segel Purba
152 Kehendak Dewa Jatuh
153 Perampasan
154 Penguasa Reruntuhan
155 Bulan Darah
156 Markas Bulan Darah
157 Leluhur
158 Sekte Iblis Surgawi
159 Tumbal
160 Istana Tujuh Bintang
161 Kunci Ketiga
162 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 162 Episodes

1
Kebangkitan Kaisar
2
Melahap Surga
3
Hukum Rimba
4
Terkaman Bayangan
5
Kejutan di Paviliun Beladiri
6
Barang Rongsokan
7
Rahasia Cincin Kuno
8
Pasar Seratus Daun
9
Kepulangan Sang Penguasa
10
Kebangkitan Sang Naga
11
Gerbang Berdarah
12
Ambisi Sang Elang dan Keberangkatan
13
Teror Lembah Kabut Beracun
14
Darah Sekte Awan Biru
15
Gerbang Naga
16
Alun-Alun Bintang dan Monumen Kekuatan
17
Ujian Tahap Kedua dan Ilusi yang Hancur
18
Peringkat Pertama dan Undangan Tetua Tertinggi
19
Puncak Awan Awan dan Syarat Sang Kaisar
20
Terobosan Brutal dan Paviliun Kitab Suci
21
Lantai Kelima dan Tebasan Kehancuran Bintang
22
Puncak Awan Bergetar
23
Kota Dosa
24
Pembantai Berjubah Hitam
25
Harta Rampasan
26
Puncak Tingkat Tujuh
27
Tulang Naga
28
Raga Tirani Kekacauan
29
Malam Seratus Iblis
30
Tarian Maut
31
Lima Purnama Berlalu
32
Elang Badai
33
Gerbang Reruntuhan
34
Jejak Darah di Rawa Kematian
35
Ngarai Jeritan Roh
36
Pelataran Altar Pusat
37
Pembantaian Awan Biru
38
Buah Inti Dewa
39
Hujan Darah Perak
40
Kemarahan Awan Biru
41
Kejatuhan Awan Biru
42
Harta Rampasan
43
Tamu Tak Diundang
44
Getaran di Aula Hukum
45
Turun Gunung
46
Runtuhnya Susunan Awan
47
Kematian Sang Patriak
48
Reuni Berdarah
49
Susunan Penyu Hitam
50
Dekrit Kekaisaran
51
Kemurkaan Istana
52
Runtuhnya Susunan Es
53
Darah Inti Emas
54
Segel Kutukan Darah
55
Takluknya Sang Raja
56
Samudra Harta
57
Lautan Tak Bertepi
58
Dupa Pemanggil Siluman
59
Sapuan Kematian
60
Kehancuran Hiu Hitam
61
Udara Benua Tengah
62
Gerbang Paviliun Harta
63
Tangan Penghancur
64
Istana Koin Emas
65
Tuan Muda
66
Sayap Timur
67
Kesepakatan Berdarah
68
Lembah Hantu Berdarah
69
Panggung Kematian
70
Rantai Jiwa Terputus
71
Tahta Pualam
72
Perbendaharaan Inti Bumi
73
Telan Langit Bumi
74
Guncangan
75
Penguasa
76
Kereta Naga Api
77
Jantung Kekaisaran
78
Gerbang Emas
79
Pijakan Pertama
80
Runtuhnya Naga Emas
81
Bayangan Jiwa Baru Lahir
82
Perbendaharaan Surga
83
Besi Darah Bintang
84
Kereta Perang Matahari
85
Badai Api
86
Tempaan Darah Bintang
87
Murka Matahari
88
Tiga Ribu Pasukan
89
Ayunan Pertama
90
Matahari yang Padam
91
Runtuhnya Tiga Ribu Pasukan
92
Runtuhnya Pilar Surga
93
Bayangan Inti Emas
94
Kesengsaraan Darah
95
Lahirnya Inti Primordial
96
Runtuhnya Naga Emas
97
Tahta yang Gemetar
98
Kolam Sumsum Naga
99
Titah Penaklukan
100
Bayangan di Siang Hari
101
Runtuhnya Dua Pilar
102
Upeti
103
Turunnya Kapal Suci
104
Sayap Terpotong
105
Murka Jiwa Baru Lahir
106
Runtuhnya Jiwa Baru Lahir
107
Rampasan Kapal Suci
108
Paus Naga Gelap
109
Lonceng Kematian di Timur
110
Armada Matahari Hitam
111
Gerbang Benua Suci
112
Pijakan di Tanah Suci
113
Tamparan
114
Titah Pemburuan Darah
115
Tiga Iblis Gunung
116
Gerbang Matahari Emas
117
Kedatangan Sang Tiran
118
Sembilan Matahari Pemusnah
119
Kejatuhan Penguasa
120
Perbendaharaan Matahari
121
Api Nirwana Purba
122
Runtuhnya Puncak Matahari
123
Bayangan Kuil Suci
124
Delapan Jendral Roh
125
Pukulan Sejuta Kilogram
126
Kejatuhan Pulau Suci
127
Mata Langit yang Buta
128
Hukum Pemisahan Roh
129
Tiga Kayu Lapuk
130
Runtuhnya Pulau Suci
131
Gerbang
132
Upeti
133
Alam Roh Surgawi
134
Darah Pertama
135
Runtuhnya Kesombongan
136
Kamp Budak Api
137
Hancurnya Belenggu
138
Pemberontakan
139
Pasukan Asura
140
Badai Mengarah ke Timur
141
Gerbang Giok Hitam
142
Hancurnya Tahta Hitam
143
Teror
144
Menara Giok Hitam
145
Dekrit
146
Tanah Terlarang
147
Pelajaran
148
Badai Kehampaan
149
Kera Iblis
150
Istana Dewa Runtuh
151
Segel Purba
152
Kehendak Dewa Jatuh
153
Perampasan
154
Penguasa Reruntuhan
155
Bulan Darah
156
Markas Bulan Darah
157
Leluhur
158
Sekte Iblis Surgawi
159
Tumbal
160
Istana Tujuh Bintang
161
Kunci Ketiga
162
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!