Terkaman Bayangan

Angin malam berhenti berhembus. Udara di sekitar celah tebing berbatu itu seolah membeku oleh ketegangan yang mematikan.

Di tengah lautan tulang belulang putih, Bunga Sumsum Tulang berdenyut dengan pendaran merah redup, seakan menanti siapa yang berhak meminum sari patinya. Namun, jalan menuju harta karun surgawi itu dihalangi oleh sesosok bayangan hitam yang memancarkan aura pembunuh murni.

Macan Kumbang Bayangan (Shadow Panther) menatap Jian Chen dengan sepasang mata kuning vertikal yang sedingin es. Makhluk itu tidak mengaum layaknya babi hutan bodoh; ia hanya merendahkan postur tubuhnya, merapatkan perutnya ke bebatuan, bersiap melepaskan daya ledak yang mengerikan dari otot-otot kaki belakangnya.

"Kau cerdas," gumam Jian Chen, matanya menyipit menjadi celah berbahaya. Tangan kanannya menggenggam erat satu taring babi hutan, sementara tangan kirinya menyembunyikan taring kedua di balik lengan baju hitamnya. "Kau tahu aku bukan mangsa biasa. Sayangnya, kecerdasanmu tidak akan menyelamatkanmu malam ini."

Seolah memahami provokasi itu, Macan Kumbang Bayangan menghilang.

Bukan kiasan. Makhluk itu benar-benar lenyap dari pandangan, meninggalkan hembusan angin tajam yang mengoyak debu tulang di tanah.

Cepat!

Bahkan dengan pengalaman sepuluh ribu tahun, mata fana Jian Chen tidak mampu menangkap pergerakan penuh dari Binatang Iblis Tingkat 1 Kelas Menengah itu. Kecepatan makhluk ini setara dengan kultivator Kondensasi Qi Tingkat Empat. Namun, di mana mata gagal, insting tempur mengambil alih.

WUSH!

Rasa dingin yang mencekam menyengat tengkuk Jian Chen. Tanpa berpikir panjang, ia membuang tubuhnya ke samping, berguling di atas tumpukan tengkorak kasar.

TRAK! CRAAT!

Tiga bilah cakar hitam legam sepanjang telapak tangan manusia merobek udara di tempat Jian Chen berdiri sedetik yang lalu, menghancurkan bongkahan batu padat seolah itu adalah tahu sutra. Meskipun ia berhasil menghindar dari serangan mematikan itu, ujung cakar yang dialiri energi angin (Wind Qi) masih sempat menyerempet bahu kirinya.

Darah segar menyembur, mewarnai kain hitamnya. Tiga luka sayatan memanjang terbentuk, cukup dalam hingga menampakkan putihnya tulang.

"Hiss..." Jian Chen mendesis, merasakan rasa sakit yang membakar. Jika tubuhnya tidak lebih dulu diregenerasi oleh Darah Primordial, sabetan angin tadi pasti sudah memutuskan lengan kirinya sepenuhnya.

Macan Kumbang Bayangan tidak memberi jeda. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung memutar tubuhnya yang fleksibel bagai cambuk, menerjang kembali ke arah Jian Chen dengan rahang terbuka lebar, mengincar leher pemuda itu.

Satu langkah, batin Jian Chen. Napasnya melambat di tengah kekacauan, pikirannya memasuki kondisi ketenangan absolut yang hanya dimiliki oleh seorang Kaisar Pedang.

Ia tidak mundur. Ia justru mengambil satu langkah maju, menginjak sebuah tengkorak besar hingga hancur berkeping-keping.

Tangan kirinya yang terluka tiba-tiba terayun ke depan, melemparkan taring babi hutan pertama dengan kekuatan penuh ke arah mata monster yang sedang melayang di udara.

Macan Kumbang Bayangan mendengus meremehkan. Di udara, ia dengan kelenturan luar biasa memutar lehernya hanya beberapa sentimeter, membiarkan taring itu meleset dan menabrak tebing di belakangnya. Ia kembali mengarahkan rahang mematikannya ke leher Jian Chen.

Itu hanya umpan.

Saat mata kuning vertikal monster itu kembali terkunci pada mangsanya, ia tidak melihat ketakutan. Ia melihat jurang tak berdasar.

"BERLUTUT!"

Suara Jian Chen tidak keras, namun menggema langsung di dalam lautan jiwa. Bersamaan dengan kata itu, Jian Chen melepaskan seluruh Niat Membunuh (Killing Intent) dari sisa-sisa jiwa Kaisar Pedang Kekosongan, memfokuskannya menjadi satu pilar tak kasat mata dan menusukkannya tepat ke dalam kesadaran sang Macan Kumbang Bayangan.

Itu bukanlah serangan fisik, melainkan penindasan absolut dari entitas hierarki kosmik yang jauh lebih tinggi.

Untuk sepersepuluh detik—waktu yang nyaris tak berarti bagi manusia fana—otak Binatang Iblis itu berhenti berfungsi. Insting pembunuhnya hancur lebur oleh ketakutan purba yang meremukkan kewarasannya. Otot-ototnya membeku di udara.

Sepersepuluh detik itu adalah perbedaan antara hidup dan mati.

Niat Membunuh yang dipaksakan membuat darah segar menetes dari hidung dan mata Jian Chen akibat beban balik (backlash) pada jiwa fananya yang rapuh. Namun, tangan kanannya yang memegang taring babi hutan kedua bergerak tanpa ragu.

Ia tidak menusuk tubuh. Ia tidak menebas leher.

Jian Chen mengayunkan taring keras itu dengan tenaga lima ratus kilogram yang terkonsentrasi di ujung tajamnya, menusuk lurus ke atas, menembus dari bawah rahang bawah Macan Kumbang Bayangan. Ujung taring itu terus menembus ke atas, menghancurkan tulang langit-langit mulut, dan berakhir langsung di dalam otak makhluk tersebut.

CRAAAK!

Mata kuning monster itu membelalak ngeri, lalu cahayanya padam seketika. Tubuh seberat ratusan kilogram itu menabrak Jian Chen akibat sisa momentum, menghempaskan pemuda itu ke dinding tebing hingga memuntahkan seteguk darah.

Jian Chen terbatuk keras, dadanya terasa remuk, dan bahu kirinya berdenyut menyakitkan. Namun, saat ia mendorong bangkai raksasa itu dari atas tubuhnya, senyum buas kemenangan terlukis di wajahnya yang berlumuran darah.

"Kecepatanmu luar biasa, tapi akalmu masih sebatas binatang."

Tanpa mempedulikan luka-lukanya, Jian Chen segera meletakkan kedua telapak tangannya di atas bangkai Macan Kumbang Bayangan yang masih hangat.

"Seni Melahap Surga Primordial!"

Pusaran hitam di Dantiannya meledak dengan hisapan yang sepuluh kali lebih rakus dari sebelumnya. Esensi darah dari monster Tingkat 1 Kelas Menengah mengalir deras bagai sungai lahar panas ke dalam tubuh Jian Chen. Kualitas energinya sangat murni dan tebal, jauh melampaui gabungan kelima babi hutan yang ia bunuh sebelumnya.

Tubuh Jian Chen bergetar hebat. Luka koyak di bahunya mulai berhenti berdarah dan menutup dengan mata telanjang. Rasa sakit di dadanya sirna, digantikan oleh sensasi energi yang mengembang luar biasa.

Dalam hitungan puluhan napas, Macan Kumbang Bayangan yang gagah itu menyusut menjadi mumi tulang berbalut kulit kering.

BOOM!

Penghalang di dalam tubuh Jian Chen hancur. Aura di sekelilingnya meledak, menyapu debu di udara.

"Kondensasi Qi Tingkat Tiga."

Namun energi itu belum habis. Jian Chen membiarkan Qi terus menumpuk di meridian sementaranya, menstabilkan wilayah kekuasaan barunya di puncak Tingkat Tiga.

Ia membuka matanya yang kini memancarkan cahaya setajam pedang. Ia memotong cakar-cakar hitam tajam dari mumi Macan Kumbang itu sebagai senjata rampasan barunya, lalu melangkah menuju tengah celah bebatuan.

Di sana, Bunga Sumsum Tulang masih mekar dengan anggun, urat merahnya berdenyut bagai jantung kehidupan.

Jian Chen mencabut bunga seputih tengkorak itu beserta akarnya. Bersamaan dengan itu, ia mengeluarkan belasan Rumput Darah Beku dan Bunga Pengumpul Roh yang ia panen semalaman.

Sebagai seorang mantan Kaisar yang juga Alkemis Tingkat Dewa, ia seharusnya meracik bahan-bahan ini di dalam Tungku Pil Surgawi untuk membuat Pil Pembersih Sumsum yang sempurna. Namun, di hutan kumuh ini, ia harus menggunakan metode paling barbar.

"Pusaran Melahap Surga adalah tungkuku, dan tubuhku adalah kualinya!"

Jian Chen memasukkan Bunga Sumsum Tulang dan semua herbal pelengkap itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya mentah-mentah, dan menelannya. Rasanya luar biasa pahit dan amis, seperti mengunyah lumpur berdarah.

Begitu ramuan mentah itu memasuki perutnya, Seni Melahap Surga Primordial langsung mengambil alih. Energi buas dari Bunga Sumsum Tulang meledak, berbenturan dengan sisa energi Macan Kumbang Bayangan.

"Bentuk ulang fondasiku!" aum Jian Chen.

Rasa sakit yang ribuan kali lipat lebih dahsyat dari saat ia memperbaiki tubuh di kamar klan menyapunya. Bunga Sumsum Tulang bekerja persis seperti namanya. Energi bunga itu meresap ke dalam sumsum tulang Jian Chen, membersihkan setiap kotoran genetik yang membuatnya menderita cacat bawaan.

Potongan-potongan meridian bawaannya yang hancur di dalam ototnya ditarik, dilebur, dan ditempa ulang menggunakan perpaduan esensi bunga, energi iblis, dan Qi Langit Bumi.

Kali ini, meridian yang terbentuk bukanlah meridian rapuh berwarna biru keputihan seperti milik manusia fana. Di bawah pengaruh pasif Darah Primordial, meridian baru yang terbentuk di sekujur tubuh Jian Chen berwarna keemasan pekat, selebar dan sekokoh pembuluh nadi naga!

Meridian Primordial!

Kecepatan aliran Qi di tubuhnya meledak sepuluh kali lipat. Dantiannya yang tadinya hanya pusaran kecil kini mengembang, siap menampung energi laksana danau yang haus.

Dengan terbentuknya fondasi yang sempurna tanpa cacat, sisa energi gabungan di tubuhnya langsung didorong ke puncaknya.

BOOM!

Ledakan energi kedua memecah fajar. Udara di celah berbatu itu bergetar hebat.

Jian Chen perlahan membuka matanya. Ia telah memuntahkan segumpal darah hitam berbau busuk—sisa terakhir dari kecacatan fisiknya selama lima belas tahun.

Ia mengepalkan tangannya. Bunyi retakan tulang terdengar beruntun seperti petasan. Kekuatan mengerikan merayap di setiap inci tubuhnya.

"Kondensasi Qi Tingkat Empat Awal," gumamnya, senyum dominasi kembali menghiasi wajahnya yang kini bersih dan bercahaya. "Meridian Primordial telah terbentuk. Aliran Qi-ku sekarang sepuluh kali lebih deras dari kultivator jenius mana pun di Kota Daun Gugur. Dengan fondasi ini, tubuh fisikku setidaknya memiliki tenaga dua ribu kilogram (delapan banteng)."

Dari sampah bawaan menjadi ahli Tingkat Empat dengan fondasi surgawi hanya dalam satu malam yang panjang. Jika para tetua Klan Jian mengetahui hal ini, mereka pasti akan memuntahkan darah karena tidak percaya.

Cahaya matahari pagi mulai menembus kanopi hutan, menyinari sosok pemuda berbaju hitam yang berdiri di tengah tumpukan tulang. Ia mengikatkan empat bilah cakar Macan Kumbang Bayangan di sabuknya, tampak seperti iblis kecil yang siap turun gunung.

"Sudah waktunya pulang," Jian Chen menyipitkan matanya ke arah selatan, tempat Kota Daun Gugur berada. "Kudengar Paman Kedua dan anjing peliharaannya, Jian Hu, sangat ingin merampas sumber dayaku. Mari kita lihat apakah mereka memiliki nyawa yang cukup panjang untuk menelannya."

Terpopuler

Comments

Mamat Stone

Mamat Stone

buktikan merah Mu Jagoan Neon

2026-04-26

0

IMAM

IMAM

/Doge/

2026-06-10

0

Harman Loke

Harman Loke

mantaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaappppp

2026-05-07

0

lihat semua
Episodes
1 Kebangkitan Kaisar
2 Melahap Surga
3 Hukum Rimba
4 Terkaman Bayangan
5 Kejutan di Paviliun Beladiri
6 Barang Rongsokan
7 Rahasia Cincin Kuno
8 Pasar Seratus Daun
9 Kepulangan Sang Penguasa
10 Kebangkitan Sang Naga
11 Gerbang Berdarah
12 Ambisi Sang Elang dan Keberangkatan
13 Teror Lembah Kabut Beracun
14 Darah Sekte Awan Biru
15 Gerbang Naga
16 Alun-Alun Bintang dan Monumen Kekuatan
17 Ujian Tahap Kedua dan Ilusi yang Hancur
18 Peringkat Pertama dan Undangan Tetua Tertinggi
19 Puncak Awan Awan dan Syarat Sang Kaisar
20 Terobosan Brutal dan Paviliun Kitab Suci
21 Lantai Kelima dan Tebasan Kehancuran Bintang
22 Puncak Awan Bergetar
23 Kota Dosa
24 Pembantai Berjubah Hitam
25 Harta Rampasan
26 Puncak Tingkat Tujuh
27 Tulang Naga
28 Raga Tirani Kekacauan
29 Malam Seratus Iblis
30 Tarian Maut
31 Lima Purnama Berlalu
32 Elang Badai
33 Gerbang Reruntuhan
34 Jejak Darah di Rawa Kematian
35 Ngarai Jeritan Roh
36 Pelataran Altar Pusat
37 Pembantaian Awan Biru
38 Buah Inti Dewa
39 Hujan Darah Perak
40 Kemarahan Awan Biru
41 Kejatuhan Awan Biru
42 Harta Rampasan
43 Tamu Tak Diundang
44 Getaran di Aula Hukum
45 Turun Gunung
46 Runtuhnya Susunan Awan
47 Kematian Sang Patriak
48 Reuni Berdarah
49 Susunan Penyu Hitam
50 Dekrit Kekaisaran
51 Kemurkaan Istana
52 Runtuhnya Susunan Es
53 Darah Inti Emas
54 Segel Kutukan Darah
55 Takluknya Sang Raja
56 Samudra Harta
57 Lautan Tak Bertepi
58 Dupa Pemanggil Siluman
59 Sapuan Kematian
60 Kehancuran Hiu Hitam
61 Udara Benua Tengah
62 Gerbang Paviliun Harta
63 Tangan Penghancur
64 Istana Koin Emas
65 Tuan Muda
66 Sayap Timur
67 Kesepakatan Berdarah
68 Lembah Hantu Berdarah
69 Panggung Kematian
70 Rantai Jiwa Terputus
71 Tahta Pualam
72 Perbendaharaan Inti Bumi
73 Telan Langit Bumi
74 Guncangan
75 Penguasa
76 Kereta Naga Api
77 Jantung Kekaisaran
78 Gerbang Emas
79 Pijakan Pertama
80 Runtuhnya Naga Emas
81 Bayangan Jiwa Baru Lahir
82 Perbendaharaan Surga
83 Besi Darah Bintang
84 Kereta Perang Matahari
85 Badai Api
86 Tempaan Darah Bintang
87 Murka Matahari
88 Tiga Ribu Pasukan
89 Ayunan Pertama
90 Matahari yang Padam
91 Runtuhnya Tiga Ribu Pasukan
92 Runtuhnya Pilar Surga
93 Bayangan Inti Emas
94 Kesengsaraan Darah
95 Lahirnya Inti Primordial
96 Runtuhnya Naga Emas
97 Tahta yang Gemetar
98 Kolam Sumsum Naga
99 Titah Penaklukan
100 Bayangan di Siang Hari
101 Runtuhnya Dua Pilar
102 Upeti
103 Turunnya Kapal Suci
104 Sayap Terpotong
105 Murka Jiwa Baru Lahir
106 Runtuhnya Jiwa Baru Lahir
107 Rampasan Kapal Suci
108 Paus Naga Gelap
109 Lonceng Kematian di Timur
110 Armada Matahari Hitam
111 Gerbang Benua Suci
112 Pijakan di Tanah Suci
113 Tamparan
114 Titah Pemburuan Darah
115 Tiga Iblis Gunung
116 Gerbang Matahari Emas
117 Kedatangan Sang Tiran
118 Sembilan Matahari Pemusnah
119 Kejatuhan Penguasa
120 Perbendaharaan Matahari
121 Api Nirwana Purba
122 Runtuhnya Puncak Matahari
123 Bayangan Kuil Suci
124 Delapan Jendral Roh
125 Pukulan Sejuta Kilogram
126 Kejatuhan Pulau Suci
127 Mata Langit yang Buta
128 Hukum Pemisahan Roh
129 Tiga Kayu Lapuk
130 Runtuhnya Pulau Suci
131 Gerbang
132 Upeti
133 Alam Roh Surgawi
134 Darah Pertama
135 Runtuhnya Kesombongan
136 Kamp Budak Api
137 Hancurnya Belenggu
138 Pemberontakan
139 Pasukan Asura
140 Badai Mengarah ke Timur
141 Gerbang Giok Hitam
142 Hancurnya Tahta Hitam
143 Teror
144 Menara Giok Hitam
145 Dekrit
146 Tanah Terlarang
147 Pelajaran
148 Badai Kehampaan
149 Kera Iblis
150 Istana Dewa Runtuh
151 Segel Purba
152 Kehendak Dewa Jatuh
153 Perampasan
154 Penguasa Reruntuhan
155 Bulan Darah
156 Markas Bulan Darah
157 Leluhur
158 Sekte Iblis Surgawi
159 Tumbal
160 Istana Tujuh Bintang
161 Kunci Ketiga
162 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 162 Episodes

1
Kebangkitan Kaisar
2
Melahap Surga
3
Hukum Rimba
4
Terkaman Bayangan
5
Kejutan di Paviliun Beladiri
6
Barang Rongsokan
7
Rahasia Cincin Kuno
8
Pasar Seratus Daun
9
Kepulangan Sang Penguasa
10
Kebangkitan Sang Naga
11
Gerbang Berdarah
12
Ambisi Sang Elang dan Keberangkatan
13
Teror Lembah Kabut Beracun
14
Darah Sekte Awan Biru
15
Gerbang Naga
16
Alun-Alun Bintang dan Monumen Kekuatan
17
Ujian Tahap Kedua dan Ilusi yang Hancur
18
Peringkat Pertama dan Undangan Tetua Tertinggi
19
Puncak Awan Awan dan Syarat Sang Kaisar
20
Terobosan Brutal dan Paviliun Kitab Suci
21
Lantai Kelima dan Tebasan Kehancuran Bintang
22
Puncak Awan Bergetar
23
Kota Dosa
24
Pembantai Berjubah Hitam
25
Harta Rampasan
26
Puncak Tingkat Tujuh
27
Tulang Naga
28
Raga Tirani Kekacauan
29
Malam Seratus Iblis
30
Tarian Maut
31
Lima Purnama Berlalu
32
Elang Badai
33
Gerbang Reruntuhan
34
Jejak Darah di Rawa Kematian
35
Ngarai Jeritan Roh
36
Pelataran Altar Pusat
37
Pembantaian Awan Biru
38
Buah Inti Dewa
39
Hujan Darah Perak
40
Kemarahan Awan Biru
41
Kejatuhan Awan Biru
42
Harta Rampasan
43
Tamu Tak Diundang
44
Getaran di Aula Hukum
45
Turun Gunung
46
Runtuhnya Susunan Awan
47
Kematian Sang Patriak
48
Reuni Berdarah
49
Susunan Penyu Hitam
50
Dekrit Kekaisaran
51
Kemurkaan Istana
52
Runtuhnya Susunan Es
53
Darah Inti Emas
54
Segel Kutukan Darah
55
Takluknya Sang Raja
56
Samudra Harta
57
Lautan Tak Bertepi
58
Dupa Pemanggil Siluman
59
Sapuan Kematian
60
Kehancuran Hiu Hitam
61
Udara Benua Tengah
62
Gerbang Paviliun Harta
63
Tangan Penghancur
64
Istana Koin Emas
65
Tuan Muda
66
Sayap Timur
67
Kesepakatan Berdarah
68
Lembah Hantu Berdarah
69
Panggung Kematian
70
Rantai Jiwa Terputus
71
Tahta Pualam
72
Perbendaharaan Inti Bumi
73
Telan Langit Bumi
74
Guncangan
75
Penguasa
76
Kereta Naga Api
77
Jantung Kekaisaran
78
Gerbang Emas
79
Pijakan Pertama
80
Runtuhnya Naga Emas
81
Bayangan Jiwa Baru Lahir
82
Perbendaharaan Surga
83
Besi Darah Bintang
84
Kereta Perang Matahari
85
Badai Api
86
Tempaan Darah Bintang
87
Murka Matahari
88
Tiga Ribu Pasukan
89
Ayunan Pertama
90
Matahari yang Padam
91
Runtuhnya Tiga Ribu Pasukan
92
Runtuhnya Pilar Surga
93
Bayangan Inti Emas
94
Kesengsaraan Darah
95
Lahirnya Inti Primordial
96
Runtuhnya Naga Emas
97
Tahta yang Gemetar
98
Kolam Sumsum Naga
99
Titah Penaklukan
100
Bayangan di Siang Hari
101
Runtuhnya Dua Pilar
102
Upeti
103
Turunnya Kapal Suci
104
Sayap Terpotong
105
Murka Jiwa Baru Lahir
106
Runtuhnya Jiwa Baru Lahir
107
Rampasan Kapal Suci
108
Paus Naga Gelap
109
Lonceng Kematian di Timur
110
Armada Matahari Hitam
111
Gerbang Benua Suci
112
Pijakan di Tanah Suci
113
Tamparan
114
Titah Pemburuan Darah
115
Tiga Iblis Gunung
116
Gerbang Matahari Emas
117
Kedatangan Sang Tiran
118
Sembilan Matahari Pemusnah
119
Kejatuhan Penguasa
120
Perbendaharaan Matahari
121
Api Nirwana Purba
122
Runtuhnya Puncak Matahari
123
Bayangan Kuil Suci
124
Delapan Jendral Roh
125
Pukulan Sejuta Kilogram
126
Kejatuhan Pulau Suci
127
Mata Langit yang Buta
128
Hukum Pemisahan Roh
129
Tiga Kayu Lapuk
130
Runtuhnya Pulau Suci
131
Gerbang
132
Upeti
133
Alam Roh Surgawi
134
Darah Pertama
135
Runtuhnya Kesombongan
136
Kamp Budak Api
137
Hancurnya Belenggu
138
Pemberontakan
139
Pasukan Asura
140
Badai Mengarah ke Timur
141
Gerbang Giok Hitam
142
Hancurnya Tahta Hitam
143
Teror
144
Menara Giok Hitam
145
Dekrit
146
Tanah Terlarang
147
Pelajaran
148
Badai Kehampaan
149
Kera Iblis
150
Istana Dewa Runtuh
151
Segel Purba
152
Kehendak Dewa Jatuh
153
Perampasan
154
Penguasa Reruntuhan
155
Bulan Darah
156
Markas Bulan Darah
157
Leluhur
158
Sekte Iblis Surgawi
159
Tumbal
160
Istana Tujuh Bintang
161
Kunci Ketiga
162
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!