Kejutan di Paviliun Beladiri

Matahari pagi baru saja menyembul dari ufuk timur, menyirami Kota Daun Gugur dengan cahaya keemasan yang hangat. Pedagang mulai menjajakan barang dagangan mereka di jalanan batu, dan hiruk-pikuk kehidupan fana mulai terdengar.

Di gerbang utama Kediaman Klan Jian yang megah, dua penjaga berzirah kulit sedang bersandar malas pada tombak mereka.

"Hei, kudengar dari orang-orang Tuan Muda Jian Hu, si 'Sampah' akhirnya menemui ajalnya kemarin di dasar tebing," bisik penjaga berwajah tirus sambil tersenyum mengejek.

Penjaga kedua yang bertubuh gempal tertawa pelan. "Sudah waktunya. Tanpa perlindungan Patriark, dia hanya parasit yang menghabiskan jatah pil klan. Bulan depan saat Turnamen Klan tiba, Tuan Muda Jian Hu pasti akan diangkat menjadi pewaris resmi. Kita harus bersiap menjilat—"

Kata-katanya terputus secara tiba-tiba, seolah ada tangan kasat mata yang mencekik lehernya. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah jalanan berkabut di depan gerbang.

Dari balik kabut tipis sisa embun pagi, sesosok pemuda berpakaian hitam berjalan dengan langkah santai namun sangat teratur. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun sepasang matanya yang hitam pekat memancarkan aura sedingin jurang es abadi. Tidak ada lagi sisa-sisa pemuda pucat dan penyakitan yang selama ini menjadi lelucon klan.

"T-Tuan Muda Jian Chen?!" Penjaga berwajah tirus mundur selangkah, mengusap matanya tidak percaya. "B-bukankah kau... kau seharusnya..."

Jian Chen tidak menghentikan langkahnya. Ia bahkan tidak melirik kedua anjing penjaga itu, melewati gerbang utama seolah-olah mereka hanyalah dua patung batu yang tak bernyawa.

Namun, tepat saat ia melewati mereka, sebuah tekanan Niat Membunuh (Killing Intent) yang sangat tipis—bahkan tak sampai seperseribu dari apa yang ia gunakan pada Macan Kumbang Bayangan—terlepas dari tubuhnya.

Bruk! Bruk!

Kedua penjaga itu langsung jatuh berlutut, wajah mereka pucat pasi dan seluruh tubuh mereka gemetar hebat. Udara di sekitar mereka terasa seberat timah. Baru setelah sosok berpakaian hitam itu menghilang di balik tikungan koridor klan, mereka berani menghela napas, paru-paru mereka terasa terbakar seolah baru saja lolos dari eksekusi mati.

"A-apa yang baru saja terjadi? Aura apa itu?!"

Jian Chen terus berjalan melewati taman-taman dan paviliun klan. Tujuannya pagi ini sangat jelas: Paviliun Bela Diri dan Sumber Daya.

Sebagai Tuan Muda klan, secara nominal ia masih berhak mendapatkan sepuluh Pil Pengumpul Qi tingkat rendah dan seratus Koin Emas setiap bulan. Ia tahu jatahnya pasti telah dipotong secara diam-diam oleh faksi Paman Keduanya selama ini. Tapi hari ini, ia datang bukan untuk mengemis. Ia datang untuk mengambil apa yang menjadi haknya, sekaligus melihat apakah ada teknik bela diri klan yang bisa ia gunakan untuk menutupi Seni Melahap Surga Primordial-nya di depan umum.

Bangunan Paviliun Bela Diri berlantai tiga itu menjulang kokoh di pusat kediaman. Saat Jian Chen melangkah masuk ke aula lantai pertama, tempat itu sudah cukup ramai oleh belasan pemuda-pemudi klan yang sedang antre untuk menerima jatah bulanan mereka.

Di pusat ruangan, berdiri seorang pemuda berpakaian sutra biru bersulam emas, dikelilingi oleh para penjilatnya. Pemuda itu memiliki alis tebal dan wajah yang memancarkan arogansi absolut. Dia adalah Jian Hu, putra dari Paman Kedua Jian Chen.

"Hahaha! Bagus, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik kemarin, Wang Lu," suara tawa arogan Jian Hu menggema di aula.

Di depannya, pelayan berwajah bopeng, Wang Lu, berdiri dengan senyum canggung, namun matanya masih menyiratkan ketakutan yang belum hilang sejak kejadian semalam.

"T-Tentu saja, Tuan Muda Hu," jawab Wang Lu dengan suara bergetar. Ia tidak berani menceritakan bagaimana ia mengompol karena tatapan Jian Chen. Ia hanya melapor bahwa Jian Chen masih hidup namun terluka parah di kamarnya.

"Cih, nyawa si Sampah itu memang alot. Jatuh dari tebing saja tidak mati," Jian Hu mendengus dingin. "Tapi tidak masalah. Sebentar lagi Turnamen Klan. Jika dia berani muncul, aku akan secara pribadi mematahkan keempat anggota tubuhnya di atas arena. Mulai hari ini, jatah pil bulanan si Sampah itu resmi menjadi milikku!"

"Oh? Sejak kapan anjing diizinkan menentukan pembagian sumber daya tuannya?"

Sebuah suara yang tenang, datar, namun tajam bagai sembilu tiba-tiba memotong tawa di ruangan itu.

Seluruh aula langsung sunyi senyap. Belasan pasang mata menoleh ke arah pintu masuk.

Wang Lu adalah orang pertama yang melihat sosok berpakaian hitam itu. Seketika, kakinya lemas dan ia jatuh terduduk di lantai, menunjuk dengan jari gemetar. "D-dia... T-Tuan Muda..."

Jian Hu mengerutkan keningnya, matanya menyipit saat melihat Jian Chen berjalan masuk dengan tangan terselip santai di balik punggungnya. Keterkejutan melintas sebentar di wajahnya sebelum digantikan oleh seringai buas.

"Jian Chen! Kau benar-benar punya nyali sebesar langit," Jian Hu melangkah maju, melepaskan aura Kondensasi Qi Tingkat Tiga miliknya untuk mengintimidasi. "Kudengar kau terluka parah dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Tapi melihatmu bisa berjalan ke sini, sepertinya tulangmu memang terbuat dari lumpur yang liat."

Jian Chen berhenti hanya tiga langkah di depan Jian Hu. Tatapannya menelusuri Jian Hu dari atas ke bawah, persis seperti seseorang yang sedang mengevaluasi kualitas seekor babi ternak.

"Tingkat Tiga Kondensasi Qi. Napasmu tidak teratur, Qi-mu mengambang, dan langkahmu berat. Fondasimu penuh dengan kotoran dari pil murahan," Jian Chen menggelengkan kepalanya pelan. "Kau menyebut dirimu jenius? Menyedihkan."

Keheningan yang mematikan mencekik aula itu. Para anggota klan lainnya menahan napas. Apakah Jian Chen sudah gila? Berani menceramahi Jian Hu, jenius nomor dua di generasi muda klan, tentang kultivasi?

Wajah Jian Hu langsung memerah padam akibat amarah yang meledak. Arogansinya tidak mengizinkan sampah seperti Jian Chen menghinanya di depan umum.

"Cari mati!" raung Jian Hu.

Tanpa peringatan, tubuh Jian Hu melesat ke depan. Udara di sekitarnya berdesir saat ia mengalirkan Qi ke lengan kanannya. Otot lengannya membengkak, dan ia melayangkan pukulan lurus yang menargetkan dada Jian Chen.

Teknik Bela Diri Fana Tingkat Menengah: Tinju Pemecah Batu!

Angin dari pukulan itu bersiul tajam. Pukulan ini membawa tenaga lebih dari 750 kilogram (tiga banteng). Jika mengenai dada manusia biasa, tulang rusuknya akan hancur dan jantungnya akan meledak. Jian Hu benar-benar berniat membunuhnya berkedok "kecelakaan latihan".

Beberapa gadis di aula menjerit dan menutup mata mereka, tidak berani melihat tubuh Tuan Muda yang cacat itu hancur berantakan.

Namun, yang terjadi selanjutnya membuat waktu di Paviliun Bela Diri seakan berhenti berdetak.

Plak!

Suara benturan tumpul bergema. Bukan suara tulang yang hancur, melainkan suara kulit bertemu kulit.

Mata Jian Hu hampir copot dari rongganya. Pukulannya yang mengandung kekuatan penuh terhenti seketika di udara, tidak mampu maju satu inci pun.

Tepat di depannya, Jian Chen berdiri tanpa memindahkan posisinya sedikit pun. Tangan kanannya terangkat dengan santai, telapak tangannya mencengkeram erat tinju Jian Hu seolah sedang menangkap lemparan bola kapas dari seorang balita.

"T-tidak mungkin..." Jian Hu menggemeretakkan giginya, mencoba menarik tangannya kembali, tetapi cengkeraman Jian Chen seperti catok baja seberat ribuan ton. Ia tidak bisa bergerak!

"Hanya ini tenaga dari seekor anjing yang menyalak keras?" Suara Jian Chen terdengar dingin di telinga Jian Hu.

Jian Chen bahkan tidak repot-repot mengaktifkan Meridian Primordial-nya. Ia tidak menggunakan setetes Qi pun. Ia murni menggunakan kekuatan fisik mentahnya—baja otot yang ditempa dari esensi iblis dan sumsum tulang—yang dengan mudah setara dengan 1.000 kilogram murni!

"Lepaskan aku, brengsek!" Jian Hu mulai panik. Ia mengayunkan kaki kirinya dengan putus asa ke arah lutut Jian Chen.

Mata Jian Chen berkilat dengan Niat Membunuh yang kejam. "Karena kau sangat suka mematahkan tulang, biarkan aku mengajarimu bagaimana rasanya."

Tangan Jian Chen tiba-tiba memuntir tinju Jian Hu dengan sudut yang sama sekali tidak wajar.

KRAAAAAAK!

"ARRRRGHHHHH!!!"

Jeritan melengking yang mengerikan meledak dari tenggorokan Jian Hu. Tulang pergelangan tangannya, jari-jarinya, hingga lengan bawahnya patah dan terpelintir keluar menembus dagingnya. Darah segar muncrat menodai lantai paviliun.

Sebelum Jian Hu bisa jatuh ke tanah karena rasa sakit, Jian Chen melangkah maju. Tangan kirinya terayun layaknya kilat, menampar wajah Jian Hu dengan punggung tangannya.

PLAAAK!!!

Suara tamparan itu terdengar seperti ledakan petir di ruang tertutup. Tubuh Jian Hu terlempar ke udara seperti boneka kain yang putus benangnya. Ia terbang sejauh tujuh meter, menabrak pilar kayu raksasa di tengah aula dengan suara dentuman keras, lalu jatuh berdebum ke lantai.

Setengah wajahnya hancur. Seluruh giginya rontok dan berceceran di lantai bersamaan dengan genangan darah. Jian Hu kejang-kejang beberapa kali sebelum akhirnya jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Aula itu sesunyi kuburan.

Rahang para anggota klan yang menonton hampir jatuh menyentuh lantai. Wang Lu yang duduk di lantai kembali mengompol untuk kedua kalinya dalam dua hari, tubuhnya gemetar seolah sedang melihat iblis yang bangkit dari neraka.

Sang "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur... baru saja mengalahkan Jian Hu dalam satu serangan?! Dan dengan cara yang sangat brutal?!

"Hentikan kekejaman ini!"

Tiba-tiba, suara tua yang dipenuhi amarah mengguncang aula dari lantai dua. Sosok pria tua berjubah abu-abu melompat turun layaknya burung elang, mendarat di antara Jian Chen dan tubuh Jian Hu yang pingsan.

Itu adalah Penatua Li, salah satu tetua penjaga Paviliun Bela Diri, seorang ahli yang berada di tahap Pembentukan Fondasi Awal. Matanya menatap Jian Chen dengan campuran kemarahan dan ketidakpercayaan.

"Jian Chen! Meskipun kau adalah Tuan Muda, melumpuhkan sesama anggota klan dengan cara sekejam ini sangat melanggar aturan klan! Apakah kau ingin dihukum mati?!" bentak Penatua Li. Aura Pembentukan Fondasi-nya menekan berat ke arah Jian Chen.

Menghadapi tekanan yang bisa membuat kultivator Tingkat Empat biasa berlutut muntah darah, Jian Chen tetap berdiri tegak bak pedang ilahi yang menancap di bumi. Angin dari tekanan itu hanya mampu mengibaskan ujung rambut dan jubahnya.

"Aturan klan?" Jian Chen tersenyum sinis, menatap lurus ke mata Penatua Li tanpa sedikit pun rasa takut. "Di mana aturan klan itu saat anjing ini menyuruh bawahannya mendorongku dari tebing kemarin? Di mana aturan klan itu saat jatah sumber dayaku dipotong paksa selama tiga tahun terakhir?"

Penatua Li terdiam, wajahnya sedikit menegang. Ia tahu kebusukan faksi Paman Kedua, namun ia selama ini menutup mata demi posisinya sendiri.

Jian Chen mengambil satu langkah maju, auranya sama sekali tidak kalah dominan dari sang Penatua. "Penatua Li, buka matamu dan lihat dengan jelas. Dia menyerangku lebih dulu dengan niat membunuh di depan banyak saksi. Aku hanya 'membela diri'. Dan sebagai Tuan Muda yang sah, menghukum bawahan yang tidak sopan adalah hak prerogatifku."

Jian Chen kemudian mengulurkan tangan kanannya yang masih bersih dari darah.

"Sekarang, serahkan jatah bulananku. Aku mengambil semuanya, termasuk jatah milik Jian Hu, sebagai kompensasi biaya pengobatan atas gangguan emosional yang ia sebabkan padaku."

Mata Penatua Li melebar. Pemuda ini benar-benar gila dan tidak kenal takut! Namun, saat Penatua Li mencoba memindai kultivasi Jian Chen, ia terperanjat hebat. Ia tidak bisa merasakan tingkat kultivasi pemuda ini dengan jelas, tetapi vitalitas yang memancar dari tubuh Jian Chen semeriah naga yang baru bangun!

Sampah ini... dia tidak lagi cacat! Sesuatu telah terjadi padanya, batin Penatua Li, keringat dingin mulai merembes di punggungnya. Sebagai orang tua yang licik, ia tahu arah angin klan sedang berubah drastis.

Tanpa mengatakan sepatah kata pun untuk membantah, Penatua Li mengeluarkan sebuah kantong kecil dari balik jubahnya dan melemparnya ke arah Jian Chen. "Ini jatah kalian berdua. Sekarang pergilah dari paviliun ini sebelum Paman Keduamu tiba."

Jian Chen menangkap kantong itu, menimbangnya sebentar, lalu tersenyum tipis. Ia bahkan tidak repot-repot mencari teknik bela diri murahan klan lagi. Ia berbalik dan berjalan keluar aula dengan tenang.

"Sampaikan pesanku pada Paman Kedua," suara Jian Chen melayang di udara saat sosok hitamnya menghilang di balik pintu. "Dua bulan lagi, saat Turnamen Klan... aku akan mengambil kembali semua yang menjadi milikku. Dan aku akan mematahkan siapa pun yang menghalangi jalanku."

Terpopuler

Comments

Harman Loke

Harman Loke

tobat rasakan akibatnya sekarang makanya jangan macam macam

2026-05-07

1

Mamat Stone

Mamat Stone

👊

2026-04-26

0

Mamat Stone

Mamat Stone

😈

2026-04-26

0

lihat semua
Episodes
1 Kebangkitan Kaisar
2 Melahap Surga
3 Hukum Rimba
4 Terkaman Bayangan
5 Kejutan di Paviliun Beladiri
6 Barang Rongsokan
7 Rahasia Cincin Kuno
8 Pasar Seratus Daun
9 Kepulangan Sang Penguasa
10 Kebangkitan Sang Naga
11 Gerbang Berdarah
12 Ambisi Sang Elang dan Keberangkatan
13 Teror Lembah Kabut Beracun
14 Darah Sekte Awan Biru
15 Gerbang Naga
16 Alun-Alun Bintang dan Monumen Kekuatan
17 Ujian Tahap Kedua dan Ilusi yang Hancur
18 Peringkat Pertama dan Undangan Tetua Tertinggi
19 Puncak Awan Awan dan Syarat Sang Kaisar
20 Terobosan Brutal dan Paviliun Kitab Suci
21 Lantai Kelima dan Tebasan Kehancuran Bintang
22 Puncak Awan Bergetar
23 Kota Dosa
24 Pembantai Berjubah Hitam
25 Harta Rampasan
26 Puncak Tingkat Tujuh
27 Tulang Naga
28 Raga Tirani Kekacauan
29 Malam Seratus Iblis
30 Tarian Maut
31 Lima Purnama Berlalu
32 Elang Badai
33 Gerbang Reruntuhan
34 Jejak Darah di Rawa Kematian
35 Ngarai Jeritan Roh
36 Pelataran Altar Pusat
37 Pembantaian Awan Biru
38 Buah Inti Dewa
39 Hujan Darah Perak
40 Kemarahan Awan Biru
41 Kejatuhan Awan Biru
42 Harta Rampasan
43 Tamu Tak Diundang
44 Getaran di Aula Hukum
45 Turun Gunung
46 Runtuhnya Susunan Awan
47 Kematian Sang Patriak
48 Reuni Berdarah
49 Susunan Penyu Hitam
50 Dekrit Kekaisaran
51 Kemurkaan Istana
52 Runtuhnya Susunan Es
53 Darah Inti Emas
54 Segel Kutukan Darah
55 Takluknya Sang Raja
56 Samudra Harta
57 Lautan Tak Bertepi
58 Dupa Pemanggil Siluman
59 Sapuan Kematian
60 Kehancuran Hiu Hitam
61 Udara Benua Tengah
62 Gerbang Paviliun Harta
63 Tangan Penghancur
64 Istana Koin Emas
65 Tuan Muda
66 Sayap Timur
67 Kesepakatan Berdarah
68 Lembah Hantu Berdarah
69 Panggung Kematian
70 Rantai Jiwa Terputus
71 Tahta Pualam
72 Perbendaharaan Inti Bumi
73 Telan Langit Bumi
74 Guncangan
75 Penguasa
76 Kereta Naga Api
77 Jantung Kekaisaran
78 Gerbang Emas
79 Pijakan Pertama
80 Runtuhnya Naga Emas
81 Bayangan Jiwa Baru Lahir
82 Perbendaharaan Surga
83 Besi Darah Bintang
84 Kereta Perang Matahari
85 Badai Api
86 Tempaan Darah Bintang
87 Murka Matahari
88 Tiga Ribu Pasukan
89 Ayunan Pertama
90 Matahari yang Padam
91 Runtuhnya Tiga Ribu Pasukan
92 Runtuhnya Pilar Surga
93 Bayangan Inti Emas
94 Kesengsaraan Darah
95 Lahirnya Inti Primordial
96 Runtuhnya Naga Emas
97 Tahta yang Gemetar
98 Kolam Sumsum Naga
99 Titah Penaklukan
100 Bayangan di Siang Hari
101 Runtuhnya Dua Pilar
102 Upeti
103 Turunnya Kapal Suci
104 Sayap Terpotong
105 Murka Jiwa Baru Lahir
106 Runtuhnya Jiwa Baru Lahir
107 Rampasan Kapal Suci
108 Paus Naga Gelap
109 Lonceng Kematian di Timur
110 Armada Matahari Hitam
111 Gerbang Benua Suci
112 Pijakan di Tanah Suci
113 Tamparan
114 Titah Pemburuan Darah
115 Tiga Iblis Gunung
116 Gerbang Matahari Emas
117 Kedatangan Sang Tiran
118 Sembilan Matahari Pemusnah
119 Kejatuhan Penguasa
120 Perbendaharaan Matahari
121 Api Nirwana Purba
122 Runtuhnya Puncak Matahari
123 Bayangan Kuil Suci
124 Delapan Jendral Roh
125 Pukulan Sejuta Kilogram
126 Kejatuhan Pulau Suci
127 Mata Langit yang Buta
128 Hukum Pemisahan Roh
129 Tiga Kayu Lapuk
130 Runtuhnya Pulau Suci
131 Gerbang
132 Upeti
133 Alam Roh Surgawi
134 Darah Pertama
135 Runtuhnya Kesombongan
136 Kamp Budak Api
137 Hancurnya Belenggu
138 Pemberontakan
139 Pasukan Asura
140 Badai Mengarah ke Timur
141 Gerbang Giok Hitam
142 Hancurnya Tahta Hitam
143 Teror
144 Menara Giok Hitam
145 Dekrit
146 Tanah Terlarang
147 Pelajaran
148 Badai Kehampaan
149 Kera Iblis
150 Istana Dewa Runtuh
151 Segel Purba
152 Kehendak Dewa Jatuh
153 Perampasan
154 Penguasa Reruntuhan
155 Bulan Darah
156 Markas Bulan Darah
157 Leluhur
158 Sekte Iblis Surgawi
159 Tumbal
160 Istana Tujuh Bintang
161 Kunci Ketiga
162 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 162 Episodes

1
Kebangkitan Kaisar
2
Melahap Surga
3
Hukum Rimba
4
Terkaman Bayangan
5
Kejutan di Paviliun Beladiri
6
Barang Rongsokan
7
Rahasia Cincin Kuno
8
Pasar Seratus Daun
9
Kepulangan Sang Penguasa
10
Kebangkitan Sang Naga
11
Gerbang Berdarah
12
Ambisi Sang Elang dan Keberangkatan
13
Teror Lembah Kabut Beracun
14
Darah Sekte Awan Biru
15
Gerbang Naga
16
Alun-Alun Bintang dan Monumen Kekuatan
17
Ujian Tahap Kedua dan Ilusi yang Hancur
18
Peringkat Pertama dan Undangan Tetua Tertinggi
19
Puncak Awan Awan dan Syarat Sang Kaisar
20
Terobosan Brutal dan Paviliun Kitab Suci
21
Lantai Kelima dan Tebasan Kehancuran Bintang
22
Puncak Awan Bergetar
23
Kota Dosa
24
Pembantai Berjubah Hitam
25
Harta Rampasan
26
Puncak Tingkat Tujuh
27
Tulang Naga
28
Raga Tirani Kekacauan
29
Malam Seratus Iblis
30
Tarian Maut
31
Lima Purnama Berlalu
32
Elang Badai
33
Gerbang Reruntuhan
34
Jejak Darah di Rawa Kematian
35
Ngarai Jeritan Roh
36
Pelataran Altar Pusat
37
Pembantaian Awan Biru
38
Buah Inti Dewa
39
Hujan Darah Perak
40
Kemarahan Awan Biru
41
Kejatuhan Awan Biru
42
Harta Rampasan
43
Tamu Tak Diundang
44
Getaran di Aula Hukum
45
Turun Gunung
46
Runtuhnya Susunan Awan
47
Kematian Sang Patriak
48
Reuni Berdarah
49
Susunan Penyu Hitam
50
Dekrit Kekaisaran
51
Kemurkaan Istana
52
Runtuhnya Susunan Es
53
Darah Inti Emas
54
Segel Kutukan Darah
55
Takluknya Sang Raja
56
Samudra Harta
57
Lautan Tak Bertepi
58
Dupa Pemanggil Siluman
59
Sapuan Kematian
60
Kehancuran Hiu Hitam
61
Udara Benua Tengah
62
Gerbang Paviliun Harta
63
Tangan Penghancur
64
Istana Koin Emas
65
Tuan Muda
66
Sayap Timur
67
Kesepakatan Berdarah
68
Lembah Hantu Berdarah
69
Panggung Kematian
70
Rantai Jiwa Terputus
71
Tahta Pualam
72
Perbendaharaan Inti Bumi
73
Telan Langit Bumi
74
Guncangan
75
Penguasa
76
Kereta Naga Api
77
Jantung Kekaisaran
78
Gerbang Emas
79
Pijakan Pertama
80
Runtuhnya Naga Emas
81
Bayangan Jiwa Baru Lahir
82
Perbendaharaan Surga
83
Besi Darah Bintang
84
Kereta Perang Matahari
85
Badai Api
86
Tempaan Darah Bintang
87
Murka Matahari
88
Tiga Ribu Pasukan
89
Ayunan Pertama
90
Matahari yang Padam
91
Runtuhnya Tiga Ribu Pasukan
92
Runtuhnya Pilar Surga
93
Bayangan Inti Emas
94
Kesengsaraan Darah
95
Lahirnya Inti Primordial
96
Runtuhnya Naga Emas
97
Tahta yang Gemetar
98
Kolam Sumsum Naga
99
Titah Penaklukan
100
Bayangan di Siang Hari
101
Runtuhnya Dua Pilar
102
Upeti
103
Turunnya Kapal Suci
104
Sayap Terpotong
105
Murka Jiwa Baru Lahir
106
Runtuhnya Jiwa Baru Lahir
107
Rampasan Kapal Suci
108
Paus Naga Gelap
109
Lonceng Kematian di Timur
110
Armada Matahari Hitam
111
Gerbang Benua Suci
112
Pijakan di Tanah Suci
113
Tamparan
114
Titah Pemburuan Darah
115
Tiga Iblis Gunung
116
Gerbang Matahari Emas
117
Kedatangan Sang Tiran
118
Sembilan Matahari Pemusnah
119
Kejatuhan Penguasa
120
Perbendaharaan Matahari
121
Api Nirwana Purba
122
Runtuhnya Puncak Matahari
123
Bayangan Kuil Suci
124
Delapan Jendral Roh
125
Pukulan Sejuta Kilogram
126
Kejatuhan Pulau Suci
127
Mata Langit yang Buta
128
Hukum Pemisahan Roh
129
Tiga Kayu Lapuk
130
Runtuhnya Pulau Suci
131
Gerbang
132
Upeti
133
Alam Roh Surgawi
134
Darah Pertama
135
Runtuhnya Kesombongan
136
Kamp Budak Api
137
Hancurnya Belenggu
138
Pemberontakan
139
Pasukan Asura
140
Badai Mengarah ke Timur
141
Gerbang Giok Hitam
142
Hancurnya Tahta Hitam
143
Teror
144
Menara Giok Hitam
145
Dekrit
146
Tanah Terlarang
147
Pelajaran
148
Badai Kehampaan
149
Kera Iblis
150
Istana Dewa Runtuh
151
Segel Purba
152
Kehendak Dewa Jatuh
153
Perampasan
154
Penguasa Reruntuhan
155
Bulan Darah
156
Markas Bulan Darah
157
Leluhur
158
Sekte Iblis Surgawi
159
Tumbal
160
Istana Tujuh Bintang
161
Kunci Ketiga
162
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!