Bab 5 Makan malam

Sejak pulang sekolah tadi, bunda begitu cerewet mengingatkan Shanum tentang acara malam ini, yang jelas...Jangan sampai lupa, berangkat bareng Naka! Begitu jampi-jampinya.

Oke, dulu....sewaktu ia dan Naka baru saja mengetahui akan dijodohkan, keduanya sempat menolak dengan terang-terangan, tapi kemudian baik Naka ataupun Shanum tak bisa untuk melakukan hal ekstrem nan bodoh sampai mengancam bu nuh diri atau mogok sekolah dan mogok makan segala.

Tidak jarang hubungan mereka memanas sebab Shanum dan Naka yang sering bertengkar tapi ujung-ujungnya mereka juga yang merasakan capeknya karena orangtua masing-masing tak goyah dengan memutus pertunangan.

Sebab bagi orangtua Shanum, hanya Mainaka lah pemuda tulen dan manusia seutuhnya untuk Shanum, sementara cowok lain hanya siluman kera, begitupun sebaliknya. Setidaknya hal itu yang sering digemakan untuk meracuni otak kedua remaja itu.

Hingga akhirnya kini mereka ada di titik----menerima kenyataan, membiarkan tangan Tuhan bekerja saja, mengikuti alurnya, hanya....baik Naka ataupun Shanum tak pernah melabelkan diri sebagai tunangan satu sama lain sehingga harus membatasi pergaulan masing-masing

Shanum sering melihat Naka berjalan dengan gadis lain seperti Airani sang sekertaris, ataupun Rea si calon none ngga jadi itu. Begitupun Naka...

Pertemanan kedua orangtua mereka sudah terjalin lama, sejak bunda dan mama Anye menjalin kerjasama usaha florist dan ayah Septahadi yang merupakan teman semasa kuliah orangtua Naka menjalin bekerja sama dengan Jilo corp, dimana ayah Septahadi adalah junior om Ganesha di keorganisasian.

Shanum memencet--mengotak-atik AC mobil Naka, duduk nyaman dan mulai menyalakan pemutar musik juga.

"Sha," panggil Naka melirik gadis yang lebih memilih sibuk mencari lagu favoritnya sambil bersenandung percaya diri, *hm*...begitu saja gumamnya demi menjawab meski ia tak mengalihkan pandangannya dari layar dashboard.

"Ntar bisa ijin dulu sebentar ngga waktu makan. Gue ada janji ketemu Airani jam delapan."

Shanum tak bisa untuk tak menoleh sekarang, matanya memandang sorot ilfeel pada Naka, "ngapain sih Lo, Ka ahh! Males banget..."

"Udah keburu di iyain tadi Sha, bentar doang ambil data yang mesti gue cek, soalnya besok pagi mesti udah sampe di tangan pak Bowo."

Entahlah, suasana yang semula baik-baik saja, adem, sedikit membuat Shanum malas....membuat moodnya jadi turun untuk mendengar musik, padahal lagu yang tengah diputar itu cukup manis dengan tempo beat.

*Dari matamu, matamu ku mulai jatuh cinta, ku melihat---melihat ada bayangnya. Dari mata, kau buatku jatuh, jatuh terus, jatuh ke hati*...

Shanum cemberut, ia memandang pemuda yang ada di sampingnya itu, "maksudnya gue nungguin Lo sama Airani di mobil kaya stella gitu?" tunjuknya ke arah parfum yang tergantung di atas rear vision.

Naka mengangguk, *betul*. Shanum langsung sewot, "ogah ah! Mending gue makan sama orangtua!" ia melipat kedua tangannya di dada.

"Ya sama aja boong dong, ntar yang ada gue ngga bisa keluar." Ujar Naka.

"Ya bagus. Daripada nanti gue jadi obat nyamuknya Lo sama Airani."

*Ck*...Naka berdecak, "abis itu gue traktir deh. Atau Lo mau apa?"

Shanum diam dengan air muka keruh, bahkan sampai di restoran, sebab---bagaimanapun ia menolak, Naka akan tetap melakukannya.

Gadis itu sudah melihat meja para orangtuanya duduk, bahkan di parkiran tadi...ia sempat melihat mobil milik om Ganesha dan mobil kedua orangtuanya.

"Itu disana..." Shanum menunjuk ke arah meja dekat jendela agak sedikit pojok kanan diantara ramainya restoran.

Namun baru saja langkah lebarnya bersiap diayunkan, gerakannya itu tertahan oleh tangan Naka yang meraih tangannya. Tanpa berkata apapun, pemuda itu menggenggam tangannya, mengisi setiap sela jemari tangan kanan Shanum yang seketika membuat pipinya memanas. Begitupun desiran hangat yang mengisi setiap rongga jantungnya.

"Lo apa-apaan sih, Ka?" semburnya sudah mengeratkan cengkraman di sling tas selempangnya oleh sebelah tangan yang bebas.

Namun belum menjawab pertanyaan itu, Naka justru melambaikan tangannya ke arah para orangtua membuat Shanum turut melihat kesana, "smile." Pinta Naka yang kemudian tangan itu terlepas, jangan harap Naka memberinya nafas sejenak karena selanjutnya tangan Naka justru merambat di luar sweater belakangnya demi merangkul pinggangnya longgar.

Percayalah, langkahnya itu tak akan bergerak jika bukan karena digiring Naka.

Ada senyum hangat nan lebar dari kedua ibu dan ayah Septahadi, dan anggukan ramah Ganesha menyambut kedua putra-putri mereka.

"Hay, Ka...macet?" itu bunda yang bertanya pada Naka, dan siapapun tak akan menyangka jika sosok tegas nan sadis di sekolah ini akan begitu hangat pada ayah dan bunda Shanum, "alhamdulilah engga terlalu sih tante, tadi cuma kesini agak santai aja..." jawabnya menyalami satu persatu orangtua termasuk mama dan papanya, disusul Shanum.

"Maaf ya om, Naka ngga bisa jemput Shanum tadi...soalnya ada tugas yang mesti dikerjain sama temen-temen."

"Hhmmm, workaholic like father like son, jangan gitu deh Ka...mama jadi makin percaya kalo mama cuma kebagian hamil sama lahirin kamu doang!" kini mama Anye mencebik menghempas tangan Naka yang baru saja Salim takzim.

Ada tawa renyah ayah dan bunda, yang kemudian obrolan santai kembali terjadi dengan tema masa-masa kehamilan kedua ibu.

Shanum masih diam, entahlah sejak Naka memintanya menemani menemui Airani di tengah acara makan malam bersama kedua orangtuanya ini, ia merasa malas, dan bad mood.

"Sakit Sha?" Tante Anye notice dengan diamnya Shanum.

"Lah, tadi ngga apa-apa kok..." bunda langsung mendaratkan punggung tangannya di kening Shanum, begitupun Naka yang menoleh heran.

"Engga, Tante. Ngga Bun..." senyumnya ia urai kaku.

Ada om Ganesha dan Tante Anye di sebrangnya lalu satu tempat paling ujung ada ayah, sampingnya bunda, Shanum kemudian Naka yang ada di sebrang ayah serta sampingnya.

Shanum bisa berbaur dengan obrolan para ibu, tapi kemudian ia merasa kakinya di senggol-senggol dari samping dimana Naka berada membuat ia menoleh, *apa*?

Ada anggukan atas pertanyaan Shanum yang kemudian dipahami olehnya meski merotasi mata.

"Pa, ma...om, tante maaf...sebenernya Naka sama Shanum ada rencana mau keluar berdua."

Shanum sudah membuat gestur muntah mencibir disana, *kita...lo kalii* *sama si kacang! Gue mah cuma temennya Stella jeruk*!

"Oh!" angguk ayah, dimana para orangtua mendadak speechless dan saling lirik.

"Kemana?" tanya papa Ganesha.

"Nonton." Lirihnya dengan wajah setenang air, *bisa-bisanya* ! Shanum melirik Naka jutek.

"Oh, ya udah ngga apa-apa. Udah selesai kan makannya, Sha?" kini mama Anye yang melirik Shanum dan piringnya.

"Udah tante."

"Di daerah mana, Ka? Jangan kemaleman bawa Shanum pulang..." kembali mama Anye yang bicara.

"Di Taman Anggrek ma."

Bunda mengiyakan tanda ijinnya, sementara papa Ganesha melirik arlojinya, "bisa bawa Shanum pulang jam 11?"

Naka mengangguk, "langsung ke rumahnya."

"Oke. Jangan bikin kecewa.." jawab Ganesha cukup mendikte.

Lalu Naka beranjak setelah Shanum sempat pamit. Ada gestur yang sama yang dilakukan Naka saat berjalan dengan Shanum keluar resto.

"Beliin gue cemilan lah, siapa tau ntar Lo malah ninggalin gue di mobil sendirian lama!" semprotnya lagi pada Naka yang justru diokei cowok itu.

Shanum melihat Naka dengan sorot nyalang, sebegitunya Naka demi bisa bertemu Airani, apakah benar yang digosipkan teman-temannya tadi siang? Ahhh ribettt!

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

pantes
apalagi tiap ketemuan , mama Anye lihat sosok shanum yg cantik imut pasti gemesh pengen di jadiin mantu walau anak masih tk😂. aku juga pernah gini dulu wkwkwkw pas anakku masih paud ada anak TK ganteng banget dan sopan, pengen aku taruh di toples terus simpan dlm lemari, biar gak ada yg ngerebut jadiin mantu🤣

2026-03-18

5

Salim S

Salim S

hmm s ganesh bener deh s naka..dulu ganesh kan gitu suka bikin anye salah paham dan kini naka pun sama apa susahnya sih ka bilang kalau kamu ngga ada apa-apa sama s kacang....sabar sha nanti juga bucin abis naka sama kamu...

2026-03-18

1

ieda1195

ieda1195

klo kata oma icot, biarlah semua mengalir seperti air mengalir,

baru sadar tau, klo sifat ngegantung, meraba raba perasaan tuh berawal dari oma icot, pantes lah anak sama cucunya ikut ikutan

2026-03-20

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Engagement
2 Bab 2 Squad Ceriwis
3 Bab 3 Gibahin Naka
4 Bab 4 Mainaka 'seenaknya' Rajendra
5 Bab 5 Makan malam
6 Bab 6 Cemburu?
7 Bab 7 Akal-akalan
8 Bab 8 Digandeng
9 Bab 9 Tantrum
10 Bab 10 Balik bareng
11 Bab 11 Minum kamu...
12 Bab 12 Meragu
13 Bab 13 Poison called Shanum
14 Bab 14 Kepo lovers
15 Bab 15 Naka suka Shanum?
16 Bab 16 Lempar batu sembunyi tangan
17 Bab 17 Postingan IG
18 Bab 18 Sheyna feat. Naka vs Shanum
19 Bab 19 Cuek
20 Bab 20 Minggu bercerita
21 Bab 21 Saat kalimat cinta bukan lagi i love you
22 Bab 22 Sulit bernafas
23 Bab 23 Bahasa Cinta
24 Bab 24 Posisi riskan
25 Bab 25 Masuk pak Ekoooo
26 Bab 26 Hujan membawa cerita
27 Bab 27 Sini gue pangku...
28 Bab 28 Naka si-alan!
29 Bab 29 Makan bareng
30 Bab 30 Biar mata yang berbicara
31 Bab 31 Tokoh antagonis
32 Bab 32 Pawang
33 Bab 33 Pacar rahasia Ketos
34 Bab 34 Panitia Sumpah pemuda
35 Bab 35 Dar--der--dor
36 Bab 36 Bukan sesuatu yang perlu diumbar
37 Bab 37 Musuh yang beranak pinak
38 Bab 38 Shanum, ceweknya Naka
39 Bab 39 Sakit?
40 Bab 40 Pingsan
41 Bab 41 Sariawan
42 Bab 42 Sosok overprotektif
43 Bab 43 moment Canggung
44 Bab 44 Botol Yakult so insecure
45 Bab 45 Kejujuran adalah kunci
46 Bab 46 Pangeran kodok dan rombongannya
47 Bab 47 Rahasia kecil tentang Shanum
48 Bab 48 sa-mawa till jannah
49 Bab 49 Sorot mata kecewa
50 Bab 50 Kecewanya seorang ayah 1
51 Bab 51 Kecewanya seorang ayah 2
52 Bab 52 Apakah ini akhir kisah kita?
53 Bab 53 Suara hati seorang kekasih
54 Bab 54 Merenggang ?
55 Bab 55 Timses Menuju DKI Sakinah
56 Bab 56 Kata orang rindu itu indah. Namun tidak untukku
57 Bab 57 Bahagiaku bersamamu
58 Bab 58 Shashey
59 Bab 59 Tak dapat kembali lagi seperti semula
60 Bab 60 cek sound
61 Bab 61 Cucu Kurniawan
62 Bab 62 Hidupnya yang konyol
63 Bab 63 Gerakan refleks
64 Bab 64 Yuyun dan Tono
65 Bab 65 Gengsi mengakui
66 Bab 66 Tor monitor
67 Bab 67 Tumbuh bersama
68 Bab 68 Sumpah pemuda
69 Bab 69 Baper
70 Bab 70 Inisiatif dan kecerobohan
71 Bab 71 Menyengat bak lebah
72 Bab 72 Naka or Juna
73 Bab 73 I'm the champion
74 Bab 74 Over--dosis--posesif
75 Bab 75 Dia yang selalu memiliki cara
76 Bab 76 Secretary vs future wife
77 Bab 77 Hormon Adrenalin, fight or flight
78 Bab 78 Bad dream
79 Bab 79 Perang dingin
80 Bab 80 Cara menaklukan versi Naka
81 Bab 81 Learn and grow
82 Bab 82 My Ketos
83 Bab 83 Day by day
84 Bab 84 Merayu oma
85 Bab 85 Mitsaqan Ghalizha
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Engagement
2
Bab 2 Squad Ceriwis
3
Bab 3 Gibahin Naka
4
Bab 4 Mainaka 'seenaknya' Rajendra
5
Bab 5 Makan malam
6
Bab 6 Cemburu?
7
Bab 7 Akal-akalan
8
Bab 8 Digandeng
9
Bab 9 Tantrum
10
Bab 10 Balik bareng
11
Bab 11 Minum kamu...
12
Bab 12 Meragu
13
Bab 13 Poison called Shanum
14
Bab 14 Kepo lovers
15
Bab 15 Naka suka Shanum?
16
Bab 16 Lempar batu sembunyi tangan
17
Bab 17 Postingan IG
18
Bab 18 Sheyna feat. Naka vs Shanum
19
Bab 19 Cuek
20
Bab 20 Minggu bercerita
21
Bab 21 Saat kalimat cinta bukan lagi i love you
22
Bab 22 Sulit bernafas
23
Bab 23 Bahasa Cinta
24
Bab 24 Posisi riskan
25
Bab 25 Masuk pak Ekoooo
26
Bab 26 Hujan membawa cerita
27
Bab 27 Sini gue pangku...
28
Bab 28 Naka si-alan!
29
Bab 29 Makan bareng
30
Bab 30 Biar mata yang berbicara
31
Bab 31 Tokoh antagonis
32
Bab 32 Pawang
33
Bab 33 Pacar rahasia Ketos
34
Bab 34 Panitia Sumpah pemuda
35
Bab 35 Dar--der--dor
36
Bab 36 Bukan sesuatu yang perlu diumbar
37
Bab 37 Musuh yang beranak pinak
38
Bab 38 Shanum, ceweknya Naka
39
Bab 39 Sakit?
40
Bab 40 Pingsan
41
Bab 41 Sariawan
42
Bab 42 Sosok overprotektif
43
Bab 43 moment Canggung
44
Bab 44 Botol Yakult so insecure
45
Bab 45 Kejujuran adalah kunci
46
Bab 46 Pangeran kodok dan rombongannya
47
Bab 47 Rahasia kecil tentang Shanum
48
Bab 48 sa-mawa till jannah
49
Bab 49 Sorot mata kecewa
50
Bab 50 Kecewanya seorang ayah 1
51
Bab 51 Kecewanya seorang ayah 2
52
Bab 52 Apakah ini akhir kisah kita?
53
Bab 53 Suara hati seorang kekasih
54
Bab 54 Merenggang ?
55
Bab 55 Timses Menuju DKI Sakinah
56
Bab 56 Kata orang rindu itu indah. Namun tidak untukku
57
Bab 57 Bahagiaku bersamamu
58
Bab 58 Shashey
59
Bab 59 Tak dapat kembali lagi seperti semula
60
Bab 60 cek sound
61
Bab 61 Cucu Kurniawan
62
Bab 62 Hidupnya yang konyol
63
Bab 63 Gerakan refleks
64
Bab 64 Yuyun dan Tono
65
Bab 65 Gengsi mengakui
66
Bab 66 Tor monitor
67
Bab 67 Tumbuh bersama
68
Bab 68 Sumpah pemuda
69
Bab 69 Baper
70
Bab 70 Inisiatif dan kecerobohan
71
Bab 71 Menyengat bak lebah
72
Bab 72 Naka or Juna
73
Bab 73 I'm the champion
74
Bab 74 Over--dosis--posesif
75
Bab 75 Dia yang selalu memiliki cara
76
Bab 76 Secretary vs future wife
77
Bab 77 Hormon Adrenalin, fight or flight
78
Bab 78 Bad dream
79
Bab 79 Perang dingin
80
Bab 80 Cara menaklukan versi Naka
81
Bab 81 Learn and grow
82
Bab 82 My Ketos
83
Bab 83 Day by day
84
Bab 84 Merayu oma
85
Bab 85 Mitsaqan Ghalizha

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!