Gelang Bima

Gelang Bima

Satria

Hiruk pikuk Kota Bandar Lampung seakan tak pernah berhenti, apalagi saat tengah hari , jalanan sangat ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, sekelompok pelajar nampak sedang menikmati es teh di halte Damri Tanjung Karang

" Satria, loe lulus mau kemana?" tanya Bimo pada temannya yang sedang menikmati es tehnya

" Ga tahu, kemungkinan gw langsung nyari kerja!" sahut Satria, matanya tak lepas dari jalanan yang ada di depannya di mana motor dan mobil berseliweran

" rencananya mau kerja di mana?" tanya Hadi

" Gw rencananya mau ngelamar di kantor PT KAI, siapa tahu aja di terima" sahut Satria " Kalau kalian mau kuliah?" tanya balik Satria

" Iya, kalau bisa masuk sih gw pengen di UNILA, tapi kalau ga bisa ya paling di kampus swasta" sahut Bimo

" Iya gw juga, loe kenapa ga kuliah aja" saran Hadi

" Duit darimana? loe tau sendiri gw cuma tinggal sama kakek gw," jawab Satria

" Kan bisa part time" Celetuk Bimo.

" Ya sih, tapi gw harus nyari kerja yang gajinya gede kalau mau sambil kuliah" sahut satria

" Iya yah, yang gajinya gede pastinya sibuk mana ada waktu lagi buat kuliah" Hadi menyahut sambil manggut manggut

" Dah yuk pulang, laper gw" sahut Satria, sambil memegang piagam penghargaan Satria naik ke motor Hadi, sedangkan Bimo pulang sendiri dengan motornya karena arah rumahnya tak sama, Satria tinggal di jagabaya di kaki gunung Sula, Hadi di Way Halim sedangkan Bimo di Garuntang. mereka baru saja menghadiri perpisahan yang di adakan sekolah di dekat Hotel Marcopolo

" Loe ga mampir dulu?" ucap Satria saat sudah sampai di rumahnya

" Ga usah, gw buru buru mau ngasih kabar sama orang tua gw" sahut Hadi dan langsung tancap gas

tok

tok

tok

" Assalamualaikum" Satria mengetuk pintu saat sampai di depan rumahnya

" Waalaikum salam" Terdengar sahutan dari dalam rumah.

" Udah pulang Tria?" saat Satria masuk ke dalam suara kakeknya terdengar menyapa

" Sudah kek, kakek sudah makan?" tanya Satria , ia mendekat dan mencium takzim tangan kakeknya

" sudah tadi, kamu makan dulu sana" sahut sang kakek

" Iya kek, mau salin dulu" jawab satria, ia masuk ke kamarnya, dan berganti pakaian.

makan siang nya sederhana hanya nasi putih dengan lauk tempe goreng dan sambel kecap buatannya ( irisan bawang merah dan cabe yang di siram kecap) , namun terasa nikmat, karena ia lapar. makan yang paling enak memang makan di saat lapar, walau dengan lauk sederhana.

" Uhuk"

" Uhuk"

dari depan terdengar suara kakek Satria batuk batuk, memang sudah beberapa hari ini kesehatan kakek Pandu, kakek Satria menurun, ia sering batuk batuk, dan pingsan. Satria telah beberapa kali membawanya berobat, tetapi belum kunjung baikan

" kek minum dulu" Satria segera mengambil air hangat dan memberikan pada kakeknya

" Kamu sudah makannya?" tanya Sang kakek

" Sudah kek" sahut Satria sambil mengurut pelan dada sang kakek

" Kamu ambilkan kotak di laci lemari kakek" ucap Kakek Pandu menunjuk lemari pakaiannya

Satria membuka lemari dan mengambil kotak yang ada di dalam laci.

" Ini kek" Satria memberikan kotak itu pada kakeknya, kakek Pandu membuka Kotak kayu itu, dan mengeluarkan sebuah gelang dari dalamnya

" Wah kek bagus amat, punya kakek?" tanya Satria saat melihat gelang itu, gelang itu berwarna putih keemasan

Satria memegang dan mengamati gelang itu, entah mengapa ia merasa sangat dekat dengan gelang itu.

" Kamu pakai saja, " ucap kakek Pandu, ia membantu memasang gelang itu pada tangan Satria.

"Wah bagus kek,cocok sekali di tanganku" ucap Satria senang saat melihat gelang itu sangat pas di lengannya

" pakailah, biar tak hilang itu memang milikmu, dia ada di dalam bedonganmu" sahut kakek Pandu, Namun ucapan Kakek Pandu membuat Satria kaget

" Bedongan? maksut kakek ?" tanya Satria heran

" baiklah aku akan memberitahukan tentang dirimu sebenarnya" ucap Kakek Pandu sambil menatap langit langit di ruang itu seakan mencoba menggali ingatan yang sudah puluhan tahun terlupakan

" Delapan belas tahun yang lalu, saat aku pulang dari puncak gunung Gede mengunjungi guruku aku melihat satu cahaya terang dari langit, karena aku penasaran aku mendekati di mana cahaya itu jatuh, dan saat aku sampai di sana, satu keranjang bayi tergeletak, dan itu dirimu, awalnya aku pikir aku salah lihat, tetapi setelah aku mengucek mataku beberapa kali ternyata itu benar " ucap kakek Pandu bercerita

" Apa bayi dalam keranjang itu aku kek?" tanya Satria

" iya , itu memang kamu. karena aku menunggu beberapa lama di sana tak ada yang datang aku memutuskan membawa pulang bayi itu dan merawatnya hingga sekarang, aku memberinya nama Satria Langit, karena aku berharap kau berjiwa satria yang datang dari langit" tutur kakek Pandu

" jadi aku bukan cucu kandung kakek?" tanya Satria bergetar

" Walau kita tak mempunyai hubungan darah tetapi di hatiku kau adalah cucuku" sahut kakek pandu sambil tersenyum

" Kakek, kau selamanya kakekku" Satria memeluk kakek pandu,

" Selama ini gelang itu aku sembunyikan , karena aku merasakan satu kekuatan besar yang ada di dalam gelang itu, aku merasa jika kau sudah berusia tujuh belas tahun aku akan memberikannya padamu" ucap kakek Pandu

" kenapa harus begitu mbah, mengapa harus menungu aku berusia tujuh belas baru di perlihatkan?" tanya Satria bingung.

" karena jika kau sudah berusia tujuh belas tahun maka kau bisa memahami gelang itu, dan juga mungkin usiaku tak akan lama lagi" sahut Kakek Pandu

" kek jangan tingalkan aku, aku sama siapa ?" Satria menangis saat mendengar ucapan sang kakek

" satria, Lahir dan mati adalah perjalanan, semua orang pasti akan mengalami, yang membedakan adalah apa yang kita lakukan  dalam mengisi kehidupan kita ini" tutur sang kakek

" Iya kek, aku mengerti"sahut Satria, kakek Pandu memang sering memberinya nasihat saat sedang berbincang bincang berdua

" Jika suatu saat kau kesulitan memahami apa yang ada di dalam gelang itu, pergilah ke gunung Gede, temui guruku Ki Sangga Langit, ia pasti bisa memberimu petunjuk tentang gelang itu-

" Uhuk"

" Uhuk"

kakek pandu terbatuk lagi,  dan kali ini ia memuntahkan segumpal darah kental

" kakek kenapa!" Satria yang melihat itu menjadi panik dan cemas, namun tak ada reaksi dari kakek Pandu, melihat kakek pandu ternyata pingsan ia segera menelpon Hadi

" Hadi, Gw minta tolong, anter gw ke rumah sakit, simbah muntah darah" Satria menelpon dan meminta tolong pada Hadi yang mempunyai mobil

" Tunggu bentar, gw kesana" sahut Hadi cepat.

Sambil menunggu kedatangan Hadi, Satria mencoba memijat tubuh kakek Pandu di beberapa tempat mencoba menyadarkan kakek

Terpopuler

Comments

Jack Strom

Jack Strom

Eh, gelangnya ada jejak tidak??? 😁

2026-04-01

2

human

human

👍

2026-06-30

0

Tini Nurhenti

Tini Nurhenti

mampir thor.💪💪🤭

2026-03-17

2

lihat semua
Episodes
1 Satria
2 Daftar Kuliah
3 Rahasia Gelang
4 Resi Wiratama
5 Kerja
6 Desa Munjuk Sempurna
7 Bekerja dan Berlatih
8 Firasat Buruk
9 Hadi Di keroyok
10 Sangkal Putung
11 Belajar Pengobatan
12 Hadi Sembuh
13 Dalang di balik pngeroyokan
14 Ke Cafe
15 Bimo di awasi
16 Hadi Di culik
17 Melumpuhkan Baron
18 Rencana Mengungsi
19 Kembali Ke tempat kerja
20 Harya Sampai di Bandar Lampung
21 Pak Sasmita dan Baron mencari Pengobatan
22 Serangan
23 Sasmita Sampai di Gunung Lawu
24 Kesembuhan Baron
25 Ratu Siluman
26 Kekuatan Baron
27 Pelatihan Di Vila
28 kekuatan Baron
29 Akibat dari Persekutuan
30 Malam Selasa Kliwon
31 Mencari Jejak Harimau
32 Harimau VS Harya
33 Masuk Lubang misterius
34 Di Dalam Lubang Misterius
35 Pencarian Satria
36 Berlatih Di Perut Gunung
37 Ajian Lembu Sekilan
38 Menguasai ajian Lembu Sekilan
39 Kegagalan Hadi Dan Bimo
40 Gagal Naik
41 Ajian Bayu Bajra
42 Kembali ke Desa
43 Kerinduan Niken
44 Bertemu Jarot
45 Mencari Kerja
46 Keris Blarak Sepih
47 Mendapat Pekerjaan
48 Bertemu dengan Baron
49 Menghajar Kuncoro dan Baron
50 Penghuni Keris
51 Tumbal kekuatan
52 Mengejar Bedul Sanca
53 Nyasar
54 Kerajaan Alam Gaib
55 Kerajaan Siluman Babi
56 Di Kepung
57 Bantuan Datang
58 Kekalahan Nyai Mayang
59 Cempluk Cerewet
60 Ke Gunung Gede
61 Harimau Penjaga
62 Aul
63 Ujian Kesabaran
64 Keris Naga Geni
65 Berlatih di Lembah Tersembunyi
66 Ki Saketi
67 Baron menjadi murid Ki Saketi
68 Kekuatan Baru Baron
69 Ajian Kresna Mukti
70 Bayangan Serigala
71 Penyerangan
72 Satria Mengamuk
73 Serat Buto Agni
74 Kesedihan Satria
75 Selat Sunda
76 Rencana Ki Gelap Saketi
77 Kuntil Bapak
78 Harya mengintai
79 Kembali bekerja
80 Pertarungan Di tengah kebun
81 Pelacak Cempluk
82 Cempluk mendatangi Perguruan Naga Hitam
83 Ruang Rahasia Perguruan Naga Hitam
84 Mengintai Perguruan Naga Hitam
85 Awal Mula Perguruan Naga Hitam
86 Kekuatan dari Kerangka Naga Hitam
87 Wina Menjenguk Ayahnya
88 menyusup
89 Membebaskan Ayah Wina
90 Senjata Api
91 Celah Pelarian
92 Cakar Naga Hitam
93 ledakan Granat
94 Tertangkap
95 Penyatuan Roh
96 Kuncoro tewas
97 Nogo Geni VS Kerangka Naga Hitam
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Satria
2
Daftar Kuliah
3
Rahasia Gelang
4
Resi Wiratama
5
Kerja
6
Desa Munjuk Sempurna
7
Bekerja dan Berlatih
8
Firasat Buruk
9
Hadi Di keroyok
10
Sangkal Putung
11
Belajar Pengobatan
12
Hadi Sembuh
13
Dalang di balik pngeroyokan
14
Ke Cafe
15
Bimo di awasi
16
Hadi Di culik
17
Melumpuhkan Baron
18
Rencana Mengungsi
19
Kembali Ke tempat kerja
20
Harya Sampai di Bandar Lampung
21
Pak Sasmita dan Baron mencari Pengobatan
22
Serangan
23
Sasmita Sampai di Gunung Lawu
24
Kesembuhan Baron
25
Ratu Siluman
26
Kekuatan Baron
27
Pelatihan Di Vila
28
kekuatan Baron
29
Akibat dari Persekutuan
30
Malam Selasa Kliwon
31
Mencari Jejak Harimau
32
Harimau VS Harya
33
Masuk Lubang misterius
34
Di Dalam Lubang Misterius
35
Pencarian Satria
36
Berlatih Di Perut Gunung
37
Ajian Lembu Sekilan
38
Menguasai ajian Lembu Sekilan
39
Kegagalan Hadi Dan Bimo
40
Gagal Naik
41
Ajian Bayu Bajra
42
Kembali ke Desa
43
Kerinduan Niken
44
Bertemu Jarot
45
Mencari Kerja
46
Keris Blarak Sepih
47
Mendapat Pekerjaan
48
Bertemu dengan Baron
49
Menghajar Kuncoro dan Baron
50
Penghuni Keris
51
Tumbal kekuatan
52
Mengejar Bedul Sanca
53
Nyasar
54
Kerajaan Alam Gaib
55
Kerajaan Siluman Babi
56
Di Kepung
57
Bantuan Datang
58
Kekalahan Nyai Mayang
59
Cempluk Cerewet
60
Ke Gunung Gede
61
Harimau Penjaga
62
Aul
63
Ujian Kesabaran
64
Keris Naga Geni
65
Berlatih di Lembah Tersembunyi
66
Ki Saketi
67
Baron menjadi murid Ki Saketi
68
Kekuatan Baru Baron
69
Ajian Kresna Mukti
70
Bayangan Serigala
71
Penyerangan
72
Satria Mengamuk
73
Serat Buto Agni
74
Kesedihan Satria
75
Selat Sunda
76
Rencana Ki Gelap Saketi
77
Kuntil Bapak
78
Harya mengintai
79
Kembali bekerja
80
Pertarungan Di tengah kebun
81
Pelacak Cempluk
82
Cempluk mendatangi Perguruan Naga Hitam
83
Ruang Rahasia Perguruan Naga Hitam
84
Mengintai Perguruan Naga Hitam
85
Awal Mula Perguruan Naga Hitam
86
Kekuatan dari Kerangka Naga Hitam
87
Wina Menjenguk Ayahnya
88
menyusup
89
Membebaskan Ayah Wina
90
Senjata Api
91
Celah Pelarian
92
Cakar Naga Hitam
93
ledakan Granat
94
Tertangkap
95
Penyatuan Roh
96
Kuncoro tewas
97
Nogo Geni VS Kerangka Naga Hitam

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!