Kerja

Setelah makan mereka berdua ke mall Ramayana, karena di sana bajunya lumayan bermerk cukup kalau hanya untuk dipakai kuliah,

" Eh, Had, keliling keliling yuk, kita cari kamar kost  " Ucap Satria saat mereka selesai belanja

" Kamar kost?, buat siapa?" Tanya Hadi heran

"Buat gw," Jawab Satria singkat

" Tunggu tunggu, buat loe, kan loe ada rumah?" Tanyanya lagi heran. Satria menghela napas panjang

" Rumah yang gw tempatin rumah kakek Pandu, dan kemaren adiknya datang dan mengambil alih,  aku harus pergi dalam tiga hari," lanjut Satria pelan, matanya menatap lantai keramik yang sudah mulai kusam, seakan mencari jawaban di sana.

Hadi terdiam, mulutnya sedikit terbuka karena kaget. Ia tidak menyangka bahwa keluarga kakek Pandu akan bertindak secepat itu dan sekeras itu terhadap Satria yang sudah merawat kakek Pandu sampai akhir hayatnya.

"Gila ! Padahal selama kakek Pandu hidup, mereka nggak pernah kelihatan batang hidungnya. Sekarang kakek Pandu udah nggak ada, baru mereka datang mau ambil untung," gerutu Hadi, emosinya meledak mendengar cerita Satria. Ia merasa tidak terima melihat sahabatnya yang begitu baik harus diperlakukan seperti itu.

Satria hanya menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Sudah lah, Had. gw nggak mau mempermasalahkannya. Lagipula, rumah ini memang milik kakek Pandu, dan sebagai adiknya, kakek Darto pasti punya hak atas itu. Aku sudah bersyukur banget bisa dirawat sama kakek Pandu selama ini. Dia sudah kasih aku kasih sayang yang nggak bisa dihitung dengan uang atau harta. Itu sudah lebih dari cukup buat aku." ucap nya sambil tersenyum

Hadi menatap Satria dengan tatapan kagum. Meski usianya masih muda, pemikiran Satria jauh lebih dewasa daripada orang-orang seusianya. Ia bisa menerima keadaan yang pahit dengan hati yang lapang, tanpa rasa dendam sedikit pun

" Aih loe ini ya... kadang gw heran sama loe. Orang lain pasti bakal marah atau protes kalau ada di posisi loe, tapi loe malah bisa senyum dan bersyukur."

"Ngapain marah, Had? Marah juga nggak bakal mengubah keadaan. Lagipula, aku yakin Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik buat aku ke depannya," jawab Satria tenang.

Awalnya Satria dan Hadi akan berkeliling di sekitar Kedaton, berniat mencari kamar kos untuk tempat tinggal sementara. Namun di tengah perjalanan pulang, telepon di saku celananya tiba-tiba bergetar.

Satria mengeluarkan ponselnya dan melihat nomor tak dikenal tertera di layar.

“ Assalamu'alaikum maaf dengan Siapa ?” Satria mengucap salam dengan sopan

“Hallo?”

“Selamat siang, apakah ini Saudara Satria?” suara seorang wanita terdengar dari seberang.

“Iya benar, saya sendiri.” jawab satria

“Saya dari kantor PTP Nusantara. Kami menerima surat lamaran kerja Anda kemarin.”

Satria langsung berdiri tegak. Hadi yang melihat perubahan ekspresi sahabatnya ikut memperhatikan.

“Iya mbak, benar saya yang melamar,” jawab Satria agak gugup.

“Kami ingin memberitahukan bahwa Anda diterima bekerja di bagian pemeliharaan kebun di Desa Munjuk Sempurna. Anda diminta datang secepatnya untuk melapor kepada mandor kebun.”

Satria terdiam beberapa detik.

Diterima?

Ia menatap Hadi dengan mata melebar.

“Mas? Mas masih di sana?” suara di telepon kembali memanggil. karena Satria terdiam cukup lama

“Iya mbak! Saya di sini,” jawab Satria cepat.

“Kalau begitu silakan datang besok atau paling lambat dua hari lagi.”ucapnya memberitahukan

“Baik mbak, terima kasih banyak.”

Telepon pun terputus.

Beberapa detik Satria masih berdiri mematung.

“Sat… kenapa?” tanya Hadi penasaran.

Perlahan wajah Satria berubah cerah.

“Gw diterima kerja, Di!”

“Serius loe?” Hadi berseru kaget.

“Iya! Di PTP yang kemaren kita kesana” sahut Satria

Hadi tertawa lebar lalu menepuk bahu Satria.

“Selamat Sat!” ucapnya senang sahabatnya di terima bekerja

Satria tersenyum lega. Semua kegelisahannya selama beberapa hari terakhir seperti terangkat dari dadanya.

“Berarti loe jadi pindah ke sana?” tanya Hadi.

Satria mengangguk.

“Iya. Kayaknya gw ga jadi nyari kos lagi.”

Hadi menghela napas.

“ tadinya gw berharap loe dapet kerja daerah sini” gumamnya sedih

Satria hanya tersenyum kecil.

“Namanya juga cari hidup.”

Sore itu Satria kembali ke rumah peninggalan Kakek Pandu. Ia duduk di teras sambil menatap halaman kecil yang selama ini menjadi tempatnya bermain sejak kecil.

Kenangan bersama Kakek Pandu terlintas satu per satu.

Ia teringat bagaimana kakeknya mengajarinya menanam cabai di pekarangan, memperbaiki pagar bambu, hingga sekadar duduk minum teh di sore hari.

Satria menghela napas panjang.

“Terima kasih, Kek,” gumamnya pelan.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah dari luar.

Pak Sardi datang bersama beberapa warga.

“Nak Satria,” panggilnya.

Satria berdiri dan menyambut mereka.

“Iya paman.”

“ kamu sudah dapat tempat tinggal, kalau belum kamu bisa tinggal di rumah ku dulu?” ucap pak Sardi menawarkan tempat tinggal

Satria tersenyum.

" Terima kasih paman, kebetulan aku di terima kerja di perkebunan PTP dan mendapatkan mess disana " sahut Satria

" kamu diterima kerja, di PTP?" tanya Pak Sardi

“Iya paman. Besok saya berangkat ke Desa Munjuk Sempurna. saya di tempatkan di sana”

Beberapa warga yang tahu akan Desa Munjuk Sempurna mengernyitkan dahi

" Itu di kaki gunung Rajabasa?" tanya seorang warga memastikan

Satria mengangguk

" benar paman, di kaki Gunung Rajabasa" Satria membenarkan

" jauh bener" Sahut satu warga lagi

" tak apa paman, yang penting aku bisa bekerja dan menghasilkan uang yang halal" sahut Satria

“Bagus itu, nak. Kerja yang rajin.” Timpal pak Sardi salut

Tak lama kemudian seorang pria tua datang memasuki halaman.

Kakek Darto,adik kandung Kakek Pandu

Wajahnya terlihat datar saat memandang rumah itu.

Salah satu warga langsung berbisik pelan kepada temannya.

“Sekarang baru muncul.”

“Waktu Pandu hidup ga pernah kelihatan.”

Bisikan itu cukup jelas terdengar.

Beberapa warga memang kesal dengan sikap Kakek Darto yang tiba-tiba datang hanya untuk mengambil rumah peninggalan kakaknya.

Kakek Darto pura-pura tidak mendengar.

Ia menatap Satria.

“Kamu sudah siap pindah?”

Satria mengangguk tenang.

“Iya kek. Besok saya akan pergi.”

“Bagus. Rumah ini akan segera saya urus.”

Beberapa warga langsung mencemooh pelan.

“Warisan doang yang diingat.”

“Pas kakaknya sakit ga pernah datang.”

Pak Sardi sampai harus mengangkat tangan menenangkan warga.

“Sudah, sudah.”

Namun Satria sendiri tetap tenang.

Ia menatap rumah itu sekali lagi lalu berkata pelan.

“Terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal di sini selama ini.”

Ucapan itu justru membuat beberapa warga terdiam.

Satria benar-benar tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun.

Baginya, yang terpenting adalah kenangan bersama Kakek Pandu.

Keesokan paginya Satria sudah membereskan semua barangnya.

Tidak banyak yang ia bawa.

Hanya beberapa pakaian, buku lama, dan sedikit kenangan.

Gelang Candra Kirana yang kini menjadi tato emas masih melingkar di lengannya.

Ia merasakan energi hangat berdenyut pelan di dalam tubuhnya.

Namun ia belum berani mempelajari kekuatan itu lebih jauh.

Bruuum

bruuum

Di luar rumah terdengar suara mobil berhenti

Satria keluar rumah.

Hadi berdiri di samping mobilnya.

Di belakangnya terlihat seorang pemuda lain melambaikan tangan.

Bimo.

“Sat!” seru Bimo.

Satria tersenyum.

“Eh loe juga ikut?”

“Ya iyalah. Masa sahabat pindah kerja ga dianterin,” jawab Bimo.

Hadi membuka bagasi mobil.

“Ayo masukin barang loe.”

Satria memasukkan tasnya.

Tak lama kemudian Pak Sardi dan beberapa warga datang mengantar.

“Jaga diri baik-baik ya nak,” kata Pak Sardi.

“Iya paman.”

Seorang ibu bahkan memberikan bungkusan makanan.

“Ini buat bekal di jalan.”

Satria menerimanya dengan haru.

“Terima kasih bu.”

Beberapa warga masih melirik sinis ke arah Kakek Darto yang berdiri di teras rumah.

Namun Satria tetap menyalami lelaki tua itu.

“Terima kasih kek sudah mengizinkan saya tinggal di sini selama ini.”

Kakek Darto hanya mengangguk singkat.

Tak banyak bicara

Terpopuler

Comments

Night Watcher

Night Watcher

kyknya pas adiknya kakek pandu datang, hadi ada & nawari satria tinggal sama dia😇
apa aku yg salah baca ya?🤭🙏

2026-05-04

1

Aman Wijaya

Aman Wijaya

jooooz pooolll Thor 💪💪💪 terus

2026-04-19

0

Jack Strom

Jack Strom

Menarik... 🤔

2026-04-02

1

lihat semua
Episodes
1 Satria
2 Daftar Kuliah
3 Rahasia Gelang
4 Resi Wiratama
5 Kerja
6 Desa Munjuk Sempurna
7 Bekerja dan Berlatih
8 Firasat Buruk
9 Hadi Di keroyok
10 Sangkal Putung
11 Belajar Pengobatan
12 Hadi Sembuh
13 Dalang di balik pngeroyokan
14 Ke Cafe
15 Bimo di awasi
16 Hadi Di culik
17 Melumpuhkan Baron
18 Rencana Mengungsi
19 Kembali Ke tempat kerja
20 Harya Sampai di Bandar Lampung
21 Pak Sasmita dan Baron mencari Pengobatan
22 Serangan
23 Sasmita Sampai di Gunung Lawu
24 Kesembuhan Baron
25 Ratu Siluman
26 Kekuatan Baron
27 Pelatihan Di Vila
28 kekuatan Baron
29 Akibat dari Persekutuan
30 Malam Selasa Kliwon
31 Mencari Jejak Harimau
32 Harimau VS Harya
33 Masuk Lubang misterius
34 Di Dalam Lubang Misterius
35 Pencarian Satria
36 Berlatih Di Perut Gunung
37 Ajian Lembu Sekilan
38 Menguasai ajian Lembu Sekilan
39 Kegagalan Hadi Dan Bimo
40 Gagal Naik
41 Ajian Bayu Bajra
42 Kembali ke Desa
43 Kerinduan Niken
44 Bertemu Jarot
45 Mencari Kerja
46 Keris Blarak Sepih
47 Mendapat Pekerjaan
48 Bertemu dengan Baron
49 Menghajar Kuncoro dan Baron
50 Penghuni Keris
51 Tumbal kekuatan
52 Mengejar Bedul Sanca
53 Nyasar
54 Kerajaan Alam Gaib
55 Kerajaan Siluman Babi
56 Di Kepung
57 Bantuan Datang
58 Kekalahan Nyai Mayang
59 Cempluk Cerewet
60 Ke Gunung Gede
61 Harimau Penjaga
62 Aul
63 Ujian Kesabaran
64 Keris Naga Geni
65 Berlatih di Lembah Tersembunyi
66 Ki Saketi
67 Baron menjadi murid Ki Saketi
68 Kekuatan Baru Baron
69 Ajian Kresna Mukti
70 Bayangan Serigala
71 Penyerangan
72 Satria Mengamuk
73 Serat Buto Agni
74 Kesedihan Satria
75 Selat Sunda
76 Rencana Ki Gelap Saketi
77 Kuntil Bapak
78 Harya mengintai
79 Kembali bekerja
80 Pertarungan Di tengah kebun
81 Pelacak Cempluk
82 Cempluk mendatangi Perguruan Naga Hitam
83 Ruang Rahasia Perguruan Naga Hitam
84 Mengintai Perguruan Naga Hitam
85 Awal Mula Perguruan Naga Hitam
86 Kekuatan dari Kerangka Naga Hitam
87 Wina Menjenguk Ayahnya
88 menyusup
89 Membebaskan Ayah Wina
90 Senjata Api
91 Celah Pelarian
92 Cakar Naga Hitam
93 ledakan Granat
94 Tertangkap
95 Penyatuan Roh
96 Kuncoro tewas
97 Nogo Geni VS Kerangka Naga Hitam
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Satria
2
Daftar Kuliah
3
Rahasia Gelang
4
Resi Wiratama
5
Kerja
6
Desa Munjuk Sempurna
7
Bekerja dan Berlatih
8
Firasat Buruk
9
Hadi Di keroyok
10
Sangkal Putung
11
Belajar Pengobatan
12
Hadi Sembuh
13
Dalang di balik pngeroyokan
14
Ke Cafe
15
Bimo di awasi
16
Hadi Di culik
17
Melumpuhkan Baron
18
Rencana Mengungsi
19
Kembali Ke tempat kerja
20
Harya Sampai di Bandar Lampung
21
Pak Sasmita dan Baron mencari Pengobatan
22
Serangan
23
Sasmita Sampai di Gunung Lawu
24
Kesembuhan Baron
25
Ratu Siluman
26
Kekuatan Baron
27
Pelatihan Di Vila
28
kekuatan Baron
29
Akibat dari Persekutuan
30
Malam Selasa Kliwon
31
Mencari Jejak Harimau
32
Harimau VS Harya
33
Masuk Lubang misterius
34
Di Dalam Lubang Misterius
35
Pencarian Satria
36
Berlatih Di Perut Gunung
37
Ajian Lembu Sekilan
38
Menguasai ajian Lembu Sekilan
39
Kegagalan Hadi Dan Bimo
40
Gagal Naik
41
Ajian Bayu Bajra
42
Kembali ke Desa
43
Kerinduan Niken
44
Bertemu Jarot
45
Mencari Kerja
46
Keris Blarak Sepih
47
Mendapat Pekerjaan
48
Bertemu dengan Baron
49
Menghajar Kuncoro dan Baron
50
Penghuni Keris
51
Tumbal kekuatan
52
Mengejar Bedul Sanca
53
Nyasar
54
Kerajaan Alam Gaib
55
Kerajaan Siluman Babi
56
Di Kepung
57
Bantuan Datang
58
Kekalahan Nyai Mayang
59
Cempluk Cerewet
60
Ke Gunung Gede
61
Harimau Penjaga
62
Aul
63
Ujian Kesabaran
64
Keris Naga Geni
65
Berlatih di Lembah Tersembunyi
66
Ki Saketi
67
Baron menjadi murid Ki Saketi
68
Kekuatan Baru Baron
69
Ajian Kresna Mukti
70
Bayangan Serigala
71
Penyerangan
72
Satria Mengamuk
73
Serat Buto Agni
74
Kesedihan Satria
75
Selat Sunda
76
Rencana Ki Gelap Saketi
77
Kuntil Bapak
78
Harya mengintai
79
Kembali bekerja
80
Pertarungan Di tengah kebun
81
Pelacak Cempluk
82
Cempluk mendatangi Perguruan Naga Hitam
83
Ruang Rahasia Perguruan Naga Hitam
84
Mengintai Perguruan Naga Hitam
85
Awal Mula Perguruan Naga Hitam
86
Kekuatan dari Kerangka Naga Hitam
87
Wina Menjenguk Ayahnya
88
menyusup
89
Membebaskan Ayah Wina
90
Senjata Api
91
Celah Pelarian
92
Cakar Naga Hitam
93
ledakan Granat
94
Tertangkap
95
Penyatuan Roh
96
Kuncoro tewas
97
Nogo Geni VS Kerangka Naga Hitam

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!