Boleh, Pak.

Pagi harinya, langit mendung seolah ikut merasakan beratnya langkah kaki Shanum menuju toko peralatan sekolah. Namun, mendungnya langit tak seberapa dibandingkan tajamnya lisan orang-orang yang ia temui di sepanjang jalan.

​"Eh, lihat itu si Shanum. Katanya kemarin ditolak lagi ya sama keponakannya Pak Rudi?" ucap Bu Febby yang sedang menyapu halaman, namun suaranya sengaja dikeraskan.

​"Iya, denger-dengar si Indra itu sampai ilfeel lihat mukanya yang kusam. Ya jelaslah, mana ada laki-laki yang mau kalau perempuannya nggak bisa dandan," ucap Bu Vita yang kebetulan lewat.

Shanum mempercepat langkahnya, mencoba menulikan telinga. Namun, sesampainya di toko, keadaan tidak menjadi lebih baik, beberapa teman-temannya sekolah yang sudah menikah sejak usia belasan tahun sedang asyik berkumpul di dekat rak buku bersama anak-anak mereka.

​"Duh, Shanum... sabar ya. Makanya, kalau ada yang mau itu jangan jual mahal. Akhirnya apa? Malah ditolak duluan kan sekarang," ucap Maya sambil tertawa kecil dan memamerkan cincin emas di jarinya.

​"Iya, Shanum. Kamu itu jangan terlalu fokus kerja. Fokus tuh ke muka sama badan. Laki-laki itu lihatnya visual dulu, kalau sudah hampir 30 begini dan belum laku, nanti malah jadi karatan loh," ejek Ika tanpa perasaan.

​Shanum hanya diam, ia mulai menata tumpukan buku tulis ke rak dengam tangan yang sedikit gemetar. "Saya ke sini untuk bekerja, bukan untuk bahas urusan pribadi," ucap Shanum mencoba tegas, meski suaranya sedikit serak.

​"Halah, dibilangin malah nyolot. Pantas saja Raka dulu lebih milih Gea, kamu sih orangnya kaku, mana sok banget lagi," cibir Maya sambil berlalu.

Sepanjang jam kerja, ejekan itu terus mengalir dan setiap ada pelanggan masuk yang mengenalnya pasti mereka selalu menyisipkan pertanyaan kapan nikah atau tatapan kasihan yang justru terasa seperti hinaan.

​Puncaknya adalah saat jam istirahat, Shanum duduk di gudang belakang sendirian dan ia mengeluarkan ponsel jadulnya lalu melihat pesan masuk dari Diva.

Mbak, Ibu marah-marah terus dari tadi pagi. Buku Diva belum dibayar, Ibu bilang minta uangnya ke Mbak.

^^^Iya, nanti Mbak kasih^^^

Maaf ya, udah ngerepotin Mbak Shanum.

^^^Gapapa kamu belajar yang rajin ya biar bisa sukses.^^^

Iya, Mbak.

​Setitik air mata jatuh mengenai layar ponselnya, Shanum merasa sesak yang luar biasa. Shanum sudah memberikan seluruh gajinya, ia sudah merelakan masa mudanya, namun status belum menikah membuatnya dianggap lebih rendah dari sampah di mata semua orang bahkan keluarganya sendiri.

Shanum pun kembali bekerja seperti biasanya, ditengah kesibukannya Pak Heru pemilik toko datang menghampiri Shanum.

"Shanum," panggil Pak Heru.

"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Shanum.

"Bapak dengar, kamu baru ditolak sama keponakannya Pak Rudi?" tanya Pak Heru.

"Iya, Pak," jawab Shanum.

"Begini, Bapak punya kenalan. Insyaallah dia pria baik, apa kamu mau kenalan sama pria itu?" izin Pak Heru.

"Apa pria itu mau sama Shanum, Pak?" tanya Shanum.

"Bapak juga kurang tahu, namanya Fajar. Dia asli Surabaya, tapi dia sekarang tinggal di Klaten," ucap Pak Heru.

"Boleh, Pak," ucap Shanum.

"Alhamdulillah, nanti Bapak suruh dia kesini ya biar kalian ketemuan langsung," ucap Pak Heru dan diangguki Shanum.

"Terima kasih, Pak," ucap Shanum.

"Iya, sama-sama," ucap Pak Heru.

Sore harinya, saat matahari mulai tergelincir dan Shanum bersiap untuk menutup toko, Pak Heru mendekatinya dengan wajah yang tampak tidak enak hati, beliau menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berdeham pelan.

​"Shanum... soal yang tadi pagi Bapak bilang," ucap Pak Heru menggantung kalimatnya dan membuat jantung Shanum berdegup sedikit lebih kencang.

"I-itu, si Fajar barusan telepon Bapak. Ternyata dia baru saja jujur kalau sebenarnya dia sudah lama menaruh hati pada perempuan lain di Klaten dan sepertinya mereka mau serius," lanjut Pak Heru.

​Shanum terdiam sejenak, namun bukannya merasa sedih atau hancur, ia justru merasa ada beban yang terangkat dari pundaknya dan tidak ada lagi harapan orang lain yang harus ia pikul.

​"Oh, begitu ya, Pak. Alhamdulillah kalau Mas Fajar sudah punya pilihan, tidak apa-apa, Pak. Terima kasih sudah berniat baik membantu saya," jawab Shanum dengan senyum tipis yang tulus.

​"Kamu beneran tidak apa-apa, Shanum? Bapak jadi merasa tidak enak sudah memberi harapan," ucap Pak Heru merasa bersalah.

​"Sama sekali tidak apa-apa, Pak. Mungkin memang belum waktunya," balas Shanum singkat.

Sore harinya, Shanum pun memutuskan untuk pulang. Biasanya ia pulang jam 2 siang, namun kali ini ia pulang jam 5 sore karena banyaknya barang datang.

Selaam perjalanan, Shanum sering melamun hingga ia bertemu dengan Mbak Dyah yang merupakan orang terpandang di desa.

"Mbah, kenapa Mbah ada disini?" tanya Shanum.

"Ini, tadi saya habis beli sesuatu. Dan sekarang menunggu jemputan," ucap Mbah Dyah.

"Kita duduk di sana itu aja ya, Mbah. Ayo saya temani," ajak Shanum dengan menunjuk warung yang tutup.

Mbah Dyah pun menganggukkan kepalanya dan mereka pergi ke tempat yang dimaksud Shanum, "Mbah sendirian? Mbah Wira gak ikut?" tanya Shanum.

"Mbah Wira lagi sibuk sama sawahnya," ucap Mbah Dyah.

Mbah Dyah saat ini tinggal dengan suaminya yaitu Mbah Wira dan juga anak bungsunya Pak Panji, sedangkan tiga anak lainnya sudah merantau di kota dan menjadi orang sukses, tidak ada yang gagal.

Bahkan Pak Panji sendiri saat ini sukses dengan usaha restoran dan sudah memiliki banyak cabang. Kekayaan Mbah Dyah dan Mbah Wira tidak bisa dijabarkan lagi, Mbah Dyah dan Mbah Wira sudah kaya sejak dulu bahkan sebelum anak-anaknya sukses.

Ini adalah pertama kalinya Shanum mengobrol dengan langsung dengan Mbah Dyah, Shanum begitu terkesima. Walaupun umur Mbah Dyah tidak muda, tapi beliau tetap cantik dan begitu anggun.

Mbah Dyah memperhatikan Shanum dengan seksama. Di balik wajah lelah gadis itu, Mbah Dyah menangkap sinar ketulusan yang jarang ia temukan pada gadis-gadis desa lainnya yang biasanya hanya bersikap manis di depannya karena memandang status sosial keluarganya.

"Nama kamu siapa?" tanya Mbah Dyah lembut, suaranya tenang namun berwibawa.

"Nama saya Shanum, Mbah," jawab Shanum.

"Shanum? Saya kok nggak pernah denger ya, siapa orangtua kamu?" tanya Mbah Dyah.

"Ayah saya Tono, Mbah. Yang rumahnya dekat pertigaan sawah," jawab Shanum.

"Tono? Oh yang jualan di pasar itu ya?" tanya Mbah Dyah.

​"Iya, Mbah," jawab Shanum sambil menunduk sopan.

"Maaf kalau lancang, apa Mbah sudah mencoba telepon Pak Panji atau Pak Wira? Hari sudah mau maghrib, hawanya mulai dingin," tanya Shanum.

​Mbah Dyah tersenyum tipis, ia merapatkan selendang batiknya. "Sudah, tapi mungkin mereka sedang di jalan. Kamu sendiri kenapa baru pulang jam segini? Perempuan sendirian lewat jalan sepi begini bahaya," tanya Mbah Dyah.

"Tadi banyak barang datang di toko, Mbah. Jadi harus diselesaikan dulu," jawab Shanum jujur.

"Kamu anak yang rajin, jarang ada anak muda sekarang yang mau kerja keras, mereka maunya kerja yang instan aja," puji Mbah Dyah, lalu terdiam sejenak dan menatap jari-jemari Shanum yang kasar karena sering terkena kayu bakar dan air cucian.

.

.

.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

Punkpunk 234

Punkpunk 234

baru nyimak thoorr.. 🙏

2026-06-29

0

bunda DF 💞

bunda DF 💞

kasian shanum

2026-05-01

0

lihat semua
Episodes
1 Indra, Apa Maksud Kamu?
2 Boleh, Pak.
3 Pak Agus Yang Mana?
4 Gimana, Pak Agus?
5 Ibu Laila Frustasi
6 Kita Coba Dulu
7 Menikah?
8 Alhamdulillah!
9 Sah!
10 Pelukan Sang Suami
11 Tidak Usah, Shanum
12 Menantu Ibu Datang!
13 Sudah Siap Semuanya?
14 Ini Terlalu Banyak
15 Selamat Istirahat
16 Mana Gelasnya?
17 Kita Sudah Sampai
18 Diam Sebentar, Shanum
19 Baik, Pak!
20 Aku Malah Tidur
21 Asisten Baru?
22 Kamu Berbohong
23 Malu
24 Kamu Suka?
25 Makan Yang Banyak
26 Wanginya Enak
27 Saya Menginginkan Keturunan
28 Mas! Jangan Dilihatin Terus
29 Maaf Untuk Apa?
30 Apa! Menikah?
31 Coba Pegang, Suka Warnanya?
32 Saya Atau Aku?
33 Masih Ada Satu Lagi
34 Lima Juta
35 Untuk Apa?
36 Kenapa Harus Berbohong?
37 Kamu Adalah Istriku
38 Lima Puluh Juta?
39 Demi Kebaikanmu!
40 Kecelakaan
41 Ini Sudah Kewajibanku
42 Ini Suamiku!
43 Anggap Saja Begitu
44 Bapak Meninggal, Mbak!
45 Bapak, Shanum Pulang
46 Ibu Punya Hak!
47 Diva Itu Adikku Juga
48 Menangislah
49 Jangan Terlalu Lelah
50 Bukan Gitu, Mbak!
51 Astaga! Mas Abi!
52 Ehem!
53 Sudah, Mbak!
54 Kecewa? Untuk Apa?
55 Bagaimana Kabar Ibumu?
56 Apa Ini Mimpi?
57 Astagfirullah, Abi!
58 Tutup Mulut Kotormu!
59 Hiburan Apa?
60 Luar Biasa Cantik
61 Alergi?
62 Temani Aku
63 Siapa, Sayang?
64 Mbak, Ibu Kemana?
65 Kita Sudah Sampai
66 Wah! Beneran Hangat
67 Wah! Mau, Bang! Mau Banget!
68 Mual
69 Ke Rumah Sakit
70 Menurut Kamu Bagaimana?
71 Jangan Minta Maaf
72 Mas! Jangan Diterusin!
73 Kamu Adalah Canduku
74 Minggu Depan?
75 Loh, Kenapa Berhenti?
76 Kamu Gimana Sih?
77 Ya Allah, Shanum!
78 Hari Istimewa
79 Jagoan Atau Tuan Putri?
80 Kurang Ajar Kamu, Shanum!
81 Mertua?
82 Cukup, Gea!
83 Cukup!
84 Mau Nonton Apa?
85 Tentang Berita Di Kampung
86 Terlalu Gengsi
87 Shanum Mau Melahirkan!
88 Anak Kita
89 Muhammad Arkana Abimana
90 Jangan Menggodaku Terus
91 Cerita Baru - My Possessive Husband
92 Mana Jagoan Kamu, Abi?
93 SELESAI
94 Cerita Baru - Oh! Mantan Kekasihku
95 Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
96 Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
97 Cerita Baru - Cintai Aku
98 Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Indra, Apa Maksud Kamu?
2
Boleh, Pak.
3
Pak Agus Yang Mana?
4
Gimana, Pak Agus?
5
Ibu Laila Frustasi
6
Kita Coba Dulu
7
Menikah?
8
Alhamdulillah!
9
Sah!
10
Pelukan Sang Suami
11
Tidak Usah, Shanum
12
Menantu Ibu Datang!
13
Sudah Siap Semuanya?
14
Ini Terlalu Banyak
15
Selamat Istirahat
16
Mana Gelasnya?
17
Kita Sudah Sampai
18
Diam Sebentar, Shanum
19
Baik, Pak!
20
Aku Malah Tidur
21
Asisten Baru?
22
Kamu Berbohong
23
Malu
24
Kamu Suka?
25
Makan Yang Banyak
26
Wanginya Enak
27
Saya Menginginkan Keturunan
28
Mas! Jangan Dilihatin Terus
29
Maaf Untuk Apa?
30
Apa! Menikah?
31
Coba Pegang, Suka Warnanya?
32
Saya Atau Aku?
33
Masih Ada Satu Lagi
34
Lima Juta
35
Untuk Apa?
36
Kenapa Harus Berbohong?
37
Kamu Adalah Istriku
38
Lima Puluh Juta?
39
Demi Kebaikanmu!
40
Kecelakaan
41
Ini Sudah Kewajibanku
42
Ini Suamiku!
43
Anggap Saja Begitu
44
Bapak Meninggal, Mbak!
45
Bapak, Shanum Pulang
46
Ibu Punya Hak!
47
Diva Itu Adikku Juga
48
Menangislah
49
Jangan Terlalu Lelah
50
Bukan Gitu, Mbak!
51
Astaga! Mas Abi!
52
Ehem!
53
Sudah, Mbak!
54
Kecewa? Untuk Apa?
55
Bagaimana Kabar Ibumu?
56
Apa Ini Mimpi?
57
Astagfirullah, Abi!
58
Tutup Mulut Kotormu!
59
Hiburan Apa?
60
Luar Biasa Cantik
61
Alergi?
62
Temani Aku
63
Siapa, Sayang?
64
Mbak, Ibu Kemana?
65
Kita Sudah Sampai
66
Wah! Beneran Hangat
67
Wah! Mau, Bang! Mau Banget!
68
Mual
69
Ke Rumah Sakit
70
Menurut Kamu Bagaimana?
71
Jangan Minta Maaf
72
Mas! Jangan Diterusin!
73
Kamu Adalah Canduku
74
Minggu Depan?
75
Loh, Kenapa Berhenti?
76
Kamu Gimana Sih?
77
Ya Allah, Shanum!
78
Hari Istimewa
79
Jagoan Atau Tuan Putri?
80
Kurang Ajar Kamu, Shanum!
81
Mertua?
82
Cukup, Gea!
83
Cukup!
84
Mau Nonton Apa?
85
Tentang Berita Di Kampung
86
Terlalu Gengsi
87
Shanum Mau Melahirkan!
88
Anak Kita
89
Muhammad Arkana Abimana
90
Jangan Menggodaku Terus
91
Cerita Baru - My Possessive Husband
92
Mana Jagoan Kamu, Abi?
93
SELESAI
94
Cerita Baru - Oh! Mantan Kekasihku
95
Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
96
Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
97
Cerita Baru - Cintai Aku
98
Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!