Ibu Laila Frustasi

Shanum menatap loyang kue yang penyok dan bolu yang kini hancur berkeping-keping di atas meja. Tangannya yang masih memegang kuas margarin terasa kaku, rasa lelah setelah seharian bekerja di toko dan lanjut berdiri di depan tungku seketika berganti dengan rasa sesak yang menghimpit paru-parunya.

​Shanum benar-benar tidak paham, pagi tadi Ibu Laila baik-baik saja, Shanum bahkan sempat memberikan uang saku tambahan untuk Pandu di depan Ibunya. Namun, tiba-tiba Ibu Laila pulang dengan amarah yang begitu meledak-ledak.

​"Mbak... Ibu kenapa?" tanya Diva yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah pucat, ia tadi sempat mengintip dari balik tirai.

​Shanum buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan dan mencoba memasang wajah tegar di depan adiknya, "Nggak apa-apa, Div. Ibu mungkin lagi capek, kamu masuk lagi aja, lanjut belajar sama Pandu ya," ucap Shanum.

​"Tapi kuenya Mbak Shanum... itu kan pesanan Bu Guru besok pagi," ucap Diva lirih dan menatap sedih ke arah meja dapur.

​Shanum terdiam dan menatap kue yang harus diantar besok pagi pukul tujuh, jika ia tidak bisa memenuhi pesanan, ia tidak hanya kehilangan uang, tapi juga kepercayaan pelanggan setianya.

​"Nanti Mbak bikin lagi. Bahan-bahannya masih ada sedikit. Sudah, kamu masuk saja," bujuk Shanum.

​Setelah Diva masuk ke kamar, suasana dapur kembali sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik dari sela-sela dinding bambu. Shanum menarik napas panjang dan mencoba menenangkan detak jantungnya.

Shanum menoleh ke arah pintu kamar orang tuanya yang tertutup rapat. Dari dalam, ia masih bisa mendengar gerutu lirih ibunya yang sesekali menyebut kata malu dan perawan tua.

​Dengan sisa tenaga yang ada, Shanum mulai membersihkan remahan kue yang hancur itu. Ia tidak berani bertanya langsung pada Ibunya, karena ia tahu, dalam kondisi seperti ini, pertanyaan apa pun hanya akan dianggap sebagai perlawanan.

​Shanum kembali menyalakan timbangan digitalnya, ia menakar tepung dan gula dengan gerakan mekanis. Saat ia mulai menyalakan mixer satu-satunya barang berharga miliknya suara mesin itu seolah menjadi satu-satunya pelipur lara.

'​Kenapa status pernikahan selalu jadi penentu harga diri seorang perempuan di sini?' batin Shanum.

Shanum bekerja dalam diam hingga larut malam. Suara putaran mixer yang menderu pelan di tengah kesunyian malam seolah menjadi saksi bisu perjuangannya. Ketika seluruh penghuni rumah sudah terlelap, Shanum masih harus bergelut dengan panasnya uap dari tungku dan aroma panggangan kue.

​Baru sekitar pukul tiga dini hari, seluruh pesanan itu selesai. Shanum menyandarkan punggungnya di kursi kayu yang keras, matanya terasa panas karena kurang tidur dan asap tungku. Namun, ia tidak bisa beristirahat lama karena pukul enam pagi ia sudah harus bersiap mengantar kue.

Dua minggu telah berlalu dan harapan Ibu Laila yang awalnya menggebu-gebu kini mulai memudar, berganti dengan rasa sinis yang semakin tajam.

Pak Agus, sang mak comblang pun seolah-olah sudah kehilangan taringnya. Berkali-kali Ibu Laila mendatangi rumahnya, berkali-kali pula ia pulang dengan jawaban yang sama yaitu belum ada yang mau.

​"Aduh, Bu Laila, saya ini sudah sampai tanya ke teman saya hang ada di luar kota loh, tapi nggak ada yang mau," ucap Pak Agus.

"Masa nggak ada yang mau?" tanya Ibu Laila.

"Ada sih yang sebenarnya tertarik pas lihat foto Shanum, tapi pas tahu umurnya sudah mau 30, dia langsung geleng kepala. Katanya, kalau umur segitu mesinnya sudah tua, susah nanti kalau mau punya anak banyak," jawab Pak Agus.

"Aduh, gimana dong, Pak?" tanya Ibu Laila frustasi.

"Bu Laila sabar aja, mungkin memang belum waktunya Shanum ketemu jodohnya," ucap Pak Agus.

"Nggak bisa dong, Pak. Shanum harus segera ketemu sama jodohnya, di desa ini perempuannya yang belum nikah cuma Shanum loh, Pak," ucap Ibu Laila.

"Ya, mau gimana lagi, Bu. Nggak ada yang mau," jawab Pak Agus.

"Pak Agus coba lagi ya," minta Ibu Laila lagi.

"Haduh, saya bakal coba. Tapi, kalau nggak dapat lagi, saya nyerah ya, Bu," ucap Pak Agus.

"Iya, Pak. Gapapa," jawab Ibu Laila.

.

Satu bulan telah berlalu, namun keadaan tidak juga membaik. Bagi Ibu Laila, setiap detik yang berlalu tanpa adanya lamaran untuk Shanum adalah siksaan batin. Di pasar, di warung, bahkan saat pengajian, ia merasa semua mata tertuju padanya dengan tatapan mencibir.

Ibu Laila kembali mendatangi rumah Pak Agus dengan langkah yang lebih agresif. ia tidak lagi membawa hantaran buah, melainkan hanya membawa sisa-sisa harapannya yang mulai menipis.

​"Pak Agus, ini sudah satu bulan lebih! Masa nggak ada satu pun pria yang mau sama Shanum? Apa Pak Agus benar-benar menawarkan Shanum atau cuma main-main aja sih?" tanya Ibu Laila ketus dan tidak lagi bisa menjaga sopan santunnya.

​Pak Agus yang sedang membenahi jaring di teras rumahnya hanya mendongak sekilas, "Bu Laila, saya sudah bilang berkali-kali kan kalau saya juga nggak yakin ada yang mau sama Shanum. Saya ini mak comblang, bukan penyihir. Saya bisa menawarkan, tapi saya tidak bisa memaksa orang untuk suka," jawab Pak Agus.

​Pak Agus menghela napas, lalu duduk di kursi bambunya. "Jujur saja ya, Bu. Saya sudah capek ditolak terus gara-gara umur Shanum. Terakhir, saya tawarkan ke juragan material di Situbondo, dia duda anak satu. Begitu dia lihat foto Shanum, dia bilang Shanum manis. Tapi begitu dia tahu Shanum cuma lulusan SMA dan umurnya sudah 29, dia langsung nggak jadi dan mau yang lebih muda," lanjut Pak Agus.

​"Astaga... cuma gara-gara Shanum lulusan SMA sama umur doang, walaupun Shanum udah 29 tahun, tapi dia masih bisa kerja dan dia juga orangnya rajin loh?" gumam Ibu Laila dengan wajah pucat.

​"Masalahnya, Bu. Di mata laki-laki yang punya harta, umur 29 itu dianggap sudah lewat masa, mereka merasa lebih untung menikahi gadis 20 tahun yang bisa dibentuk, daripada perempuan dewasa yang sudah punya pemikiran sendiri. Jadi, maaf sekali, Bu Laila... saya angkat tangan. Saya sudah tidak tahu lagi harus menawarkan Shanum ke siapa," ucap Pak Agus.

​Ibu Laila pulang dengan perasaan hancur dan sesampainya di rumah, ia melihat Shanum sedang duduk di teras, baru saja pulang kerja dengan wajah lelah dan baju yang sedikit kusam karena debu jalanan.

​"Masih berani kamu menampakkan muka di depan Ibu?" ucap Ibu Laila tajam.

​Shanum yang baru saja hendak melepas sepatunya tersentak, "Ibu kenapa lagi? Shanum baru saja pulang kerja, Bu," tanya Shanum.

"Shanum," panggil Ibu Laila.

"Iya, Bu?" tanya Shanum.

"Mendingan kamu buka kerudungmu," ucap Ibu Laila.

.

.

.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

ceuceu

ceuceu

ibu laila ibu kandung apa ibu tiri sih?
ga kasihan sama anak,malah bully anak

2026-06-03

1

Viera Nie

Viera Nie

pusing aku liat ibu seperti ini, lambat nikah asal hidup tertata
lha nikah cepat cepat malah salah pilih pasangan.
pikiran org desanya kolot
gemes aku🤭

2026-06-03

2

Nur Syamsi

Nur Syamsi

Emaknya yg kesurupan, masalah jodoh itu tdk bisa dipaksakan

2026-04-10

0

lihat semua
Episodes
1 Indra, Apa Maksud Kamu?
2 Boleh, Pak.
3 Pak Agus Yang Mana?
4 Gimana, Pak Agus?
5 Ibu Laila Frustasi
6 Kita Coba Dulu
7 Menikah?
8 Alhamdulillah!
9 Sah!
10 Pelukan Sang Suami
11 Tidak Usah, Shanum
12 Menantu Ibu Datang!
13 Sudah Siap Semuanya?
14 Ini Terlalu Banyak
15 Selamat Istirahat
16 Mana Gelasnya?
17 Kita Sudah Sampai
18 Diam Sebentar, Shanum
19 Baik, Pak!
20 Aku Malah Tidur
21 Asisten Baru?
22 Kamu Berbohong
23 Malu
24 Kamu Suka?
25 Makan Yang Banyak
26 Wanginya Enak
27 Saya Menginginkan Keturunan
28 Mas! Jangan Dilihatin Terus
29 Maaf Untuk Apa?
30 Apa! Menikah?
31 Coba Pegang, Suka Warnanya?
32 Saya Atau Aku?
33 Masih Ada Satu Lagi
34 Lima Juta
35 Untuk Apa?
36 Kenapa Harus Berbohong?
37 Kamu Adalah Istriku
38 Lima Puluh Juta?
39 Demi Kebaikanmu!
40 Kecelakaan
41 Ini Sudah Kewajibanku
42 Ini Suamiku!
43 Anggap Saja Begitu
44 Bapak Meninggal, Mbak!
45 Bapak, Shanum Pulang
46 Ibu Punya Hak!
47 Diva Itu Adikku Juga
48 Menangislah
49 Jangan Terlalu Lelah
50 Bukan Gitu, Mbak!
51 Astaga! Mas Abi!
52 Ehem!
53 Sudah, Mbak!
54 Kecewa? Untuk Apa?
55 Bagaimana Kabar Ibumu?
56 Apa Ini Mimpi?
57 Astagfirullah, Abi!
58 Tutup Mulut Kotormu!
59 Hiburan Apa?
60 Luar Biasa Cantik
61 Alergi?
62 Temani Aku
63 Siapa, Sayang?
64 Mbak, Ibu Kemana?
65 Kita Sudah Sampai
66 Wah! Beneran Hangat
67 Wah! Mau, Bang! Mau Banget!
68 Mual
69 Ke Rumah Sakit
70 Menurut Kamu Bagaimana?
71 Jangan Minta Maaf
72 Mas! Jangan Diterusin!
73 Kamu Adalah Canduku
74 Minggu Depan?
75 Loh, Kenapa Berhenti?
76 Kamu Gimana Sih?
77 Ya Allah, Shanum!
78 Hari Istimewa
79 Jagoan Atau Tuan Putri?
80 Kurang Ajar Kamu, Shanum!
81 Mertua?
82 Cukup, Gea!
83 Cukup!
84 Mau Nonton Apa?
85 Tentang Berita Di Kampung
86 Terlalu Gengsi
87 Shanum Mau Melahirkan!
88 Anak Kita
89 Muhammad Arkana Abimana
90 Jangan Menggodaku Terus
91 Cerita Baru - My Possessive Husband
92 Mana Jagoan Kamu, Abi?
93 SELESAI
94 Cerita Baru - Oh! Mantan Kekasihku
95 Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
96 Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
97 Cerita Baru - Cintai Aku
98 Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Indra, Apa Maksud Kamu?
2
Boleh, Pak.
3
Pak Agus Yang Mana?
4
Gimana, Pak Agus?
5
Ibu Laila Frustasi
6
Kita Coba Dulu
7
Menikah?
8
Alhamdulillah!
9
Sah!
10
Pelukan Sang Suami
11
Tidak Usah, Shanum
12
Menantu Ibu Datang!
13
Sudah Siap Semuanya?
14
Ini Terlalu Banyak
15
Selamat Istirahat
16
Mana Gelasnya?
17
Kita Sudah Sampai
18
Diam Sebentar, Shanum
19
Baik, Pak!
20
Aku Malah Tidur
21
Asisten Baru?
22
Kamu Berbohong
23
Malu
24
Kamu Suka?
25
Makan Yang Banyak
26
Wanginya Enak
27
Saya Menginginkan Keturunan
28
Mas! Jangan Dilihatin Terus
29
Maaf Untuk Apa?
30
Apa! Menikah?
31
Coba Pegang, Suka Warnanya?
32
Saya Atau Aku?
33
Masih Ada Satu Lagi
34
Lima Juta
35
Untuk Apa?
36
Kenapa Harus Berbohong?
37
Kamu Adalah Istriku
38
Lima Puluh Juta?
39
Demi Kebaikanmu!
40
Kecelakaan
41
Ini Sudah Kewajibanku
42
Ini Suamiku!
43
Anggap Saja Begitu
44
Bapak Meninggal, Mbak!
45
Bapak, Shanum Pulang
46
Ibu Punya Hak!
47
Diva Itu Adikku Juga
48
Menangislah
49
Jangan Terlalu Lelah
50
Bukan Gitu, Mbak!
51
Astaga! Mas Abi!
52
Ehem!
53
Sudah, Mbak!
54
Kecewa? Untuk Apa?
55
Bagaimana Kabar Ibumu?
56
Apa Ini Mimpi?
57
Astagfirullah, Abi!
58
Tutup Mulut Kotormu!
59
Hiburan Apa?
60
Luar Biasa Cantik
61
Alergi?
62
Temani Aku
63
Siapa, Sayang?
64
Mbak, Ibu Kemana?
65
Kita Sudah Sampai
66
Wah! Beneran Hangat
67
Wah! Mau, Bang! Mau Banget!
68
Mual
69
Ke Rumah Sakit
70
Menurut Kamu Bagaimana?
71
Jangan Minta Maaf
72
Mas! Jangan Diterusin!
73
Kamu Adalah Canduku
74
Minggu Depan?
75
Loh, Kenapa Berhenti?
76
Kamu Gimana Sih?
77
Ya Allah, Shanum!
78
Hari Istimewa
79
Jagoan Atau Tuan Putri?
80
Kurang Ajar Kamu, Shanum!
81
Mertua?
82
Cukup, Gea!
83
Cukup!
84
Mau Nonton Apa?
85
Tentang Berita Di Kampung
86
Terlalu Gengsi
87
Shanum Mau Melahirkan!
88
Anak Kita
89
Muhammad Arkana Abimana
90
Jangan Menggodaku Terus
91
Cerita Baru - My Possessive Husband
92
Mana Jagoan Kamu, Abi?
93
SELESAI
94
Cerita Baru - Oh! Mantan Kekasihku
95
Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
96
Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
97
Cerita Baru - Cintai Aku
98
Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!