Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Indra, Apa Maksud Kamu?

"Kamu ini gimana sih Shanum, lihat anaknya Bu Lasmi padahal baru lulus SMA loh, tapi udah nikah. Kamu ini udah mau 30 tahun belum juga nikah, di desa ini yabg belum nikah perempuannya cuma kamu loh," ucap Bu Febby.

"Belum ada jodohnya. Bu," ucap perempuan bernama Shanum.

"Makanya kamu cari, jangan kerja terus," ucap Bu Sekar.

"Saya tidak buru-buru, Bu," jawab Shanum.

"Kamu harus segera menikah, ingat Shanum perempuan itu tujuan hidupnya menikah dan melayani suami. Kalau anak saya kan cowok, jadi dia terserah umur berapa aja nikah, tapi kalau perempuan umur 21 tahun harus sudah menikah," ucap Bu Sekar.

"Benar, Bu. Kamu itu aib di keluarga kamu, karena cuma kamu yang belum menikah," ucap Bu Lasmi.

"Anak saya umur 22 tahun udah nikah," ucap Bu Vita.

"Tapi, hamil di luar nikah, Bu," ucap Shanum.

"Yang penting dia udah nikah, daripada kamu udah tua belum juga nikah. Ingat Shanum, kamu itu satu-satunya perempuan di desa ini yang belum menikah," ucap Bu Vita.

"Astaghfirullah," gumam Shanum.

"Halah, sok suci kamu," ucap Bu Sekar.

"Lagian kamu juga orangnya gak asik, dulu Raka deketin kamu malah kamu tolak. Sekarang, Raka nikahnya sama Gea teman kamu dan sekarang mereka hidup bahagia di Jakarta," ucap Bu Lasmi.

"Ini, Bu. Uangnya pas ya 28 ribu," ucap Shanum dan memberikan uangnya pada Bu Lasmi lalu Shanum pun melangkah pergi dari warung tersebut.

Shanum, gadis desa yang berumur 29 tahun dan belum menikah. Bagi para tetangganya, Shanum adalah aib keluarga karena diumur yang sudah terbilang dewasa belum juga menikah. Shanum bukan hanya dianggap aib oleh para tetangganya, tapi keluarganya juga terutama Ayah dan Ibunya.

Shanum bekerja di salah satu toko peralatan alat sekolah, ia hanya lulusan SMA sehingga sulit bagi Shanum untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar.

Beberapa saat kemudian, Shanum sampai di rumah sederhananya, dimana cat tembok sudah berjamur dan mengelupas lalu lantai rumah yang hanya berupa semen kasar dan sudah mulai retak di beberapa sudut, memberikan kesan dingin dan lembap.

Tidak ada sofa empuk untuk melepas lelah, yang ada hanyalah kursi kayu tua yang jalinan rotannya sudah banyak yang putus. ​Shanum berjalan menuju dapur yang masih berdinding anyaman bambu, di sela-sela anyaman itu angin malam seringkali masuk tanpa permisi dan membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Jangankan kompor gas yang modern, Shanum masih harus bergelut dengan kepulan asap dari tungku kayu bakar setiap kali ingin memasak, tidak ada barang elektronik canggih di rumah Shanum kecuali mixer karena Shanum suka membuat kue dan kadang-kadang ia menerima pesanan juga.

​"Baru pulang kamu?" Tanya Bapak Tono yang mengejutkan Shanum.

"Iya, Pak. Habis beli beberapa bumbu," ucap Shanum.

Bapak Tono duduk di amben kayu sambil melinting tembakau, "Tadi Bapak ketemu Pak Ikhsan, anaknya baru saja lamaran. Kamu kapan? Malu Bapak setiap lewat pos ronda ditanya terus soal kamu," ucap Bapak Tono.

​Shanum menghela napas panjang dan meletakkan belanjaannya di atas meja dapur yang kusam, "Sabar, Pak. Shanum juga lagi berusaha," jawab Shanum.

​"Berusaha apa? Kerja terus di toko itu? Gaji nggak seberapa, nggak bisa dandan, siapa yang mau melirik?" ucap Ibu Laila yang muncul dari balik tirai kamar yang sudah pudar warnanya.

"Tapi, kalau Shanum gak kerja. Sekolah Diva sama Pandu gimana, Bu?" tanya Shanum.

"Ya kamu cari suami kaya dong," ucap Ibu Laila.

"Shanum hanya lulusan SMA, Bu. Paras Shanum juga biasa-biasa aja, Shanum hanya realistis," ucap Shanum.

"Makanya jangan sok alim, besok anaknya keponakannya Pak Rudi dari Pacitan datang, kamu coba kenalan sama dia. Awas aja kalau sampai kamu malu-maluin Ibu," ucap Ibu Laila, dengan menatap tajam Shanum.

"Sudah masak sana, Ibu udah lapar," lanjut Ibu Laila dengan nada ketus sebelum kembali masuk ke dalam kamar.

​Shanum terdiam di depan tungku, kata-kata ibunya terasa lebih panas dari api yang mulai ia nyalakan. Selama ini, gajinya yang kecil dari toko peralatan sekolah habis untuk membayar biaya sekolah Diva yang kelas 2 SMA dan Pandu yang kelas 2 SD.

Namun, pengorbanan itu seolah tidak terlihat di mata orang tuanya hanya karena Shanum belum menikah.

Shanum memasak dengan sisa-sisa tenaga yang ada, air matanya nyaris jatuh saat asap dari tungku kayu bakar menusuk matanya, namun ia buru-buru menyekanya dengan ujung hijabnya.

Shanum tidak boleh menangis, karena jika ia menangis, suaranya akan terdengar oleh ibunya dan hanya akan memancing omelan baru.

​Setelah makan malam yang sunyi, Shanum pergi ke sudut dapur dan menatap satu-satunya barang berharga miliknya, sebuah mixer yang ia beli dari hasil menabung selama satu tahun.

"Apa perempuan yang umurnya diatas 25 tahun dianggap aib kalau belum menikah? Tapi, kenapa kalau pria yang belum menikah dianggap wajar?" gumam Shanum.

Shanum tidak kuat tinggal di desa yang masih kental dengan tradisi bergosipnya, namun Shanum tidak bisa berbuat apa-apa karena Shanum tidak memiliki tujuan lain selain disini.

Keesokan harinya, keponakan Pak Rudi yang bernama Indra datang berkunjung. Harapan Ibu Laila begitu tinggi, ia bahkan meminjam taplak meja milik tetangga agar ruang tamu mereka tidak terlihat terlalu menyedihkan.

Namun, sepanjang pertemuan, Indra terus-menerus memperhatikan dinding rumah Shanum yang berjamur dan lantai semen yang retak dengan tatapan merendahkan.

​Shanum hanya menunduk, menyajikan teh hangat dan keripik singkong buatannya sendiri. Shanum tidak banyak bicara, ia hanya menjawab seperlunya ketika ditanya.

​"Maaf, sebelumnya. Tapi, saya tidak mau basa basi, jadi sepertinya saya tidak bisa melanjutkan ini. Saya cari istri yang penampilannya yang cantik dan pintar, saya tidak tertarik karena latar belakang pendidikannya cuma SMA, nanti saya malu kalau ditanya teman-teman saya," ucap Indra.

"Indra, apa maksud kamu? Paman kan sudah bilang kondisi Shanum sebelumnya dan kamu gak masalah," tanya Pak Rudi.

"Awalnya Indra pikir gak akan parah Paman, tapi lihat rumahnya, buruk sekali. Indra gak mau menikah dengan orang miskin, Indra ini pns Paman, Indra takut dimanfaatkan. Kalau begitu, Indra pergi Paman," ucap Indra lalu pergi tanpa berpamitan pada pemilik rumah.

"Laila, Tono, Shanum. Maafkan Indra, dia orangnya memang cukup frontal, kalau begitu saya susul Indra dulu," ucap Pak Rudi dan pergi meninggalkan rumah tersebut.

Shanum tentu saja merasa sedih, meskipun Shanum sering mendapat hinaan. Tapi, tetap saja rasa sedihnya selalu ada jika mendengar perkataan hina orang-orang.

Begitu Pak Rudi dan Indra pergi meninggalkan rumahnya, amarah Ibu Laila langsung meledak, ia membanting gelas plastik di atas meja hingga airnya tumpah ke lantai semen.

​"Dasar anak tidak berguna!" teriak Ibu Laila dengan suaranya yang melengking hingga mungkin terdengar ke rumah tetangga.

"Kamu sengaja kan? Kamu sengaja pasang muka cemberut begitu supaya Indra tidak suka? Kamu lihat sendiri bahkan duda saja menolak kamu karena kamu tidak cantik dan pintar!" bentak Ibu Laila.

"Bu, Shanum tidak melakukan apa-apa. Shanum sudah dandan sebisanya," ucap Shanum lirih.

​"Alasan! Kamu itu pembawa sial, Shanum! Gara-gara kamu belum nikah, keluarga kita jadi bahan tertawaan. Sekarang keponakan Pak Rudi menolak kamu, besok berita ini pasti menyebar ke seluruh desa. Mau taruh di mana muka Ibu?" maki Ibu Laila hingga wajahnya merah padam.

Bapak Tono hanya diam, tidak membela, malah ikut mendengus kecewa sambil terus mengisap tembakaunya.

​"Dasar perawan tua, gak laku-laku, bisanya bikin malu orangtua terus!" ucap Ibu Laila dengan kasar sebelum masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras.

​Shanum berdiri mematung di tengah ruangan, Shanum menatap sekeliling rumah lalu menatap foto adik-adiknya. Semua kebutuhannya ia nomor duakan demi sekolah mereka, tapi di rumah ini, nilainya hanya diukur dari apakah ada laki-laki yang mau mengambilnya atau tidak.

.

.

.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

May Maya

May Maya

lah d kampung mah bgus lah lulusan SMA kan biasa nya lulusan nya SD n SMP aku aja yg d kota lulusan nya SMA tp Alhamdulillah dapat kerja lumayan lah

2026-04-01

0

muthia

muthia

Alhamdulillah saya dulu nikahnya di umur 32 walaupun di kampung ada aja yg mencibir to orang tua dan keluarga besar mensuport🙏

2026-04-08

0

Mini Amora

Mini Amora

org tua keterlaluan ini sihhh..

pergi aja shanum
merantau ke kota

2026-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 Indra, Apa Maksud Kamu?
2 Boleh, Pak.
3 Pak Agus Yang Mana?
4 Gimana, Pak Agus?
5 Ibu Laila Frustasi
6 Kita Coba Dulu
7 Menikah?
8 Alhamdulillah!
9 Sah!
10 Pelukan Sang Suami
11 Tidak Usah, Shanum
12 Menantu Ibu Datang!
13 Sudah Siap Semuanya?
14 Ini Terlalu Banyak
15 Selamat Istirahat
16 Mana Gelasnya?
17 Kita Sudah Sampai
18 Diam Sebentar, Shanum
19 Baik, Pak!
20 Aku Malah Tidur
21 Asisten Baru?
22 Kamu Berbohong
23 Malu
24 Kamu Suka?
25 Makan Yang Banyak
26 Wanginya Enak
27 Saya Menginginkan Keturunan
28 Mas! Jangan Dilihatin Terus
29 Maaf Untuk Apa?
30 Apa! Menikah?
31 Coba Pegang, Suka Warnanya?
32 Saya Atau Aku?
33 Masih Ada Satu Lagi
34 Lima Juta
35 Untuk Apa?
36 Kenapa Harus Berbohong?
37 Kamu Adalah Istriku
38 Lima Puluh Juta?
39 Demi Kebaikanmu!
40 Kecelakaan
41 Ini Sudah Kewajibanku
42 Ini Suamiku!
43 Anggap Saja Begitu
44 Bapak Meninggal, Mbak!
45 Bapak, Shanum Pulang
46 Ibu Punya Hak!
47 Diva Itu Adikku Juga
48 Menangislah
49 Jangan Terlalu Lelah
50 Bukan Gitu, Mbak!
51 Astaga! Mas Abi!
52 Ehem!
53 Sudah, Mbak!
54 Kecewa? Untuk Apa?
55 Bagaimana Kabar Ibumu?
56 Apa Ini Mimpi?
57 Astagfirullah, Abi!
58 Tutup Mulut Kotormu!
59 Hiburan Apa?
60 Luar Biasa Cantik
61 Alergi?
62 Temani Aku
63 Siapa, Sayang?
64 Mbak, Ibu Kemana?
65 Kita Sudah Sampai
66 Wah! Beneran Hangat
67 Wah! Mau, Bang! Mau Banget!
68 Mual
69 Ke Rumah Sakit
70 Menurut Kamu Bagaimana?
71 Jangan Minta Maaf
72 Mas! Jangan Diterusin!
73 Kamu Adalah Canduku
74 Minggu Depan?
75 Loh, Kenapa Berhenti?
76 Kamu Gimana Sih?
77 Ya Allah, Shanum!
78 Hari Istimewa
79 Jagoan Atau Tuan Putri?
80 Kurang Ajar Kamu, Shanum!
81 Mertua?
82 Cukup, Gea!
83 Cukup!
84 Mau Nonton Apa?
85 Tentang Berita Di Kampung
86 Terlalu Gengsi
87 Shanum Mau Melahirkan!
88 Anak Kita
89 Muhammad Arkana Abimana
90 Jangan Menggodaku Terus
91 Cerita Baru - My Possessive Husband
92 Mana Jagoan Kamu, Abi?
93 SELESAI
94 Cerita Baru - Oh! Mantan Kekasihku
95 Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
96 Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
97 Cerita Baru - Cintai Aku
98 Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Indra, Apa Maksud Kamu?
2
Boleh, Pak.
3
Pak Agus Yang Mana?
4
Gimana, Pak Agus?
5
Ibu Laila Frustasi
6
Kita Coba Dulu
7
Menikah?
8
Alhamdulillah!
9
Sah!
10
Pelukan Sang Suami
11
Tidak Usah, Shanum
12
Menantu Ibu Datang!
13
Sudah Siap Semuanya?
14
Ini Terlalu Banyak
15
Selamat Istirahat
16
Mana Gelasnya?
17
Kita Sudah Sampai
18
Diam Sebentar, Shanum
19
Baik, Pak!
20
Aku Malah Tidur
21
Asisten Baru?
22
Kamu Berbohong
23
Malu
24
Kamu Suka?
25
Makan Yang Banyak
26
Wanginya Enak
27
Saya Menginginkan Keturunan
28
Mas! Jangan Dilihatin Terus
29
Maaf Untuk Apa?
30
Apa! Menikah?
31
Coba Pegang, Suka Warnanya?
32
Saya Atau Aku?
33
Masih Ada Satu Lagi
34
Lima Juta
35
Untuk Apa?
36
Kenapa Harus Berbohong?
37
Kamu Adalah Istriku
38
Lima Puluh Juta?
39
Demi Kebaikanmu!
40
Kecelakaan
41
Ini Sudah Kewajibanku
42
Ini Suamiku!
43
Anggap Saja Begitu
44
Bapak Meninggal, Mbak!
45
Bapak, Shanum Pulang
46
Ibu Punya Hak!
47
Diva Itu Adikku Juga
48
Menangislah
49
Jangan Terlalu Lelah
50
Bukan Gitu, Mbak!
51
Astaga! Mas Abi!
52
Ehem!
53
Sudah, Mbak!
54
Kecewa? Untuk Apa?
55
Bagaimana Kabar Ibumu?
56
Apa Ini Mimpi?
57
Astagfirullah, Abi!
58
Tutup Mulut Kotormu!
59
Hiburan Apa?
60
Luar Biasa Cantik
61
Alergi?
62
Temani Aku
63
Siapa, Sayang?
64
Mbak, Ibu Kemana?
65
Kita Sudah Sampai
66
Wah! Beneran Hangat
67
Wah! Mau, Bang! Mau Banget!
68
Mual
69
Ke Rumah Sakit
70
Menurut Kamu Bagaimana?
71
Jangan Minta Maaf
72
Mas! Jangan Diterusin!
73
Kamu Adalah Canduku
74
Minggu Depan?
75
Loh, Kenapa Berhenti?
76
Kamu Gimana Sih?
77
Ya Allah, Shanum!
78
Hari Istimewa
79
Jagoan Atau Tuan Putri?
80
Kurang Ajar Kamu, Shanum!
81
Mertua?
82
Cukup, Gea!
83
Cukup!
84
Mau Nonton Apa?
85
Tentang Berita Di Kampung
86
Terlalu Gengsi
87
Shanum Mau Melahirkan!
88
Anak Kita
89
Muhammad Arkana Abimana
90
Jangan Menggodaku Terus
91
Cerita Baru - My Possessive Husband
92
Mana Jagoan Kamu, Abi?
93
SELESAI
94
Cerita Baru - Oh! Mantan Kekasihku
95
Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
96
Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
97
Cerita Baru - Cintai Aku
98
Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!