Pak Agus Yang Mana?

Mobil hitam mewah berhenti tepat di depan Shanum dan Mbah Dyah, hingga seorang pria paruh baya turun dengan wajah pucat pasi karena ketakutan.

​"Aduh, maaf Mbah Putri! Tadi ban belakang bocor jauh dari sini, sinyal hp saya mati total jadi tidak bisa mengabari. Mohon maaf sekali membuat Mbah menunggu lama," ucap sang sopir sambil membungkuk berkali-kali.

​Mbah Dyah hanya menghela napas pendek lalu menoleh ke arah Shanum yang sudah berdiri untuk berpamitan, "Tidak apa-apa, Man. Untung ada Shanum yang menemani saya di sini," ucap Mbah Dyah.

​"Kalau begitu, Shanum pamit pulang dulu ya, Mbah. Sudah mau magrib," ucap Shanum lembut sambil mencium punggung tangan Mbah Dyah dengan takzim.

​"Tunggu, Shanum. Biar sopir saya antar kamu sampai depan rumah, hari sudah gelap," tawar Mbah Dyah.

​Shanum menggeleng pelan sambil tersenyum tulus, "Tidak usah, Mbah. Rumah saya masuk gang kecil, mobilnya susah masuk. Lagipula saya sudah biasa jalan kaki. Mari, Mbah," pamit Shanum.

​Mbah Dyah menatap punggung Shanum yang menjauh hingga gadis itu hilang di tikungan jalan, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Di desa yang penuh dengan lidah tajam ini, ia tahu persis bagaimana nasib Shanum yang sering dijadikan bahan gunjingan. Namun, ketenangan gadis itu saat menghadapi situasi sulit membuat Mbah Dyah terkesan.

"Andai Shanum menjadi keluargaku, pasti aku senang sekali," gumam Mbah Dyah.

​Shanum melangkah cepat menyusuri jalan setapak menuju rumahnya. Azan Magrib mulai berkumandang dari musala kejauhan, menyatu dengan suara jangkrik yang mulai bersahutan. Pikirannya tidak tenang, bukan karena omongan tetangga, melainkan karena ia tahu di balik pintu rumah itu, ada badai yang siap menyambutnya.

​Benar saja, begitu kakinya menginjak teras, suara Ibu Laila sudah menggelegar dari arah dapur.

​"Bagus ya! Jam segini baru pulang! Sengaja kamu biar nggak bantu masak? Biar Ibu mati kecapekan melayani Bapakmu dan Adik-adikmu?" bentak Ibu Laila tanpa menoleh, tangannya sibuk mengaduk panci dengan kasar.

​"Maaf, Bu. Tadi di toko banyak barang datang, terus tadi Shanum nemenin Mbah Dyah buat nunggu jemputan," jawab Shanum pelan sambil meletakkan tasnya di atas kursi kayu.

​Mendengar nama jawaban Shanum, Ibu Laila mendadak menghentikan kegiatannya dan berbalik dengan mata memicing.

"Mbah Dyah? Ngapain kamu sama Mbah Dyah? Jangan mimpi ketinggian, Shanum. Orang kaya kayak mereka mana mungkin ngelihat kita, palingan kamu cuma dianggap tukang pijat atau pesuruh!" ucap Ibu Laila.

​Shanum hanya menghela napas, tidak berniat membantah dan memilih masuk ke kamar mandi yang hanya berbataskan seng karatan untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran air sumur yang dingin, Shanum memejamkan mata dan teringat tatapan lembut Mbah Dyah tadi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada orang yang menatapnya sebagai manusia, bukan sebagai barang yang tidak laku.

.

Keesokan harinya, ​Suasana di warung Bu Lasmi lebih riuh dari biasanya. Aroma kopi tubruk bercampur dengan bau ikan asin yang digoreng menciptakan atmosfer khas pedesaan yang kental dengan obrolan hangat atau lebih tepatnya gosip panas. Ibu Laila berdiri di pojok warung, jemarinya sibuk memilah kangkung yang sudah agak layu, sementara telinganya panas mendengar bisik-bisik di sekitarnya.

​"Eh, Bu Laila," sapa Bu Lasmi sambil menimbang gula pasir.

"Iya, Bu," balas Ibu Laila.

"Gimana itu si Shanum? Katanya kemarin lusa keponakannya Pak Rudi datang, tapi nolak buat dijodohin sama Shanum? Duh, sayang banget ya, padahal katanya keponakannya Pak Rudi itu pns loh," ucap Bu Lasmi.

​Wajah Ibu Laila mendadak merah padam, karena malu. "Iya, Bu. Mungkin belum jodohnya," jawab Ibu Laila.

​Bu Vita yang sedang menggendong cucunya ikut menimpali, "Belum jodohnya gimana sih, Bu. Orang Shanum itu kaku banget dan suka pilih-pilih, harusnya kalau sudah umur segitu, ya terima aja yang ada aja, nggak usah pilih-pilih," ucap Bu Vita.

​Ibu Laila menghela napas kasar, dadanya sesak oleh rasa malu yang menumpuk. "Saya juga bingung harus bagaimana, masalahnya memang belum ada yang mau sama Shanum," ucap Ibu Laila.

​Bu Lasmi menghentikan kegiatannya sebentar lalu mendekat ke arah Ibu Laila dengan tatapan penuh rahasia. "Begini loh, Bu Laila. Daripada Bu pusing sendiri, kenapa nggak minta tolong sama Pak Agus aja," saran Bu Lasmi

​"Pak Agus? Pak Agus yang mana?" tanya Ibu Laila heran.

​"Loh, Pak Agus yang tinggal di dekat balai desa itu loh! Dia kan memang dikenal sebagai mak comblang sakti di kampung kita. Sudah banyak itu anak-anak gadis yang ketemu jodoh lewat tangan dia. Pak Agus itu koneksinya luas sampai ke luar kecamatan," jelas Bu Lasmi dengan semangat.

​"Iya, bener itu!" timpal Bu Sekar yang baru datang.

"Anaknya sepupu saya satu bulan lalu minta dicarikan jodoh sama Pak Agus dan sekarang suaminya juragan material di kota. Pak Agus itu kalau nyariin orang nggak sembarangan, dilihat dulu bibit, bebet, bobotnya. Tapi ya gitu, biasanya yang minta tolong harus bawa tanda terima kasih yang pantas," lanjut Bu Sekar.

​Mendengar perkataan Bu Sekar, mata Ibu Laila langsung berbinar dan membayangkan beban ekonominya terangkat jika Shanum mendapatkan suami kaya. Ibu Laila tidak peduli siapa pria itu, yang penting Shanum segera keluar dari rumah dan tidak lagi menjadi bahan tertawaan tetangga.

​"Apa benar Pak Agus bisa bantu cariin suami untuk Shanum?" tanya Ibu Laila memastikan.

​"Bisa banget, Bu. Tapi ya itu, Bu Laila harus ada inisiatif. Datangi rumahnya Pak Agus, bawa hantaran sedikit lalu ceritakan kondisi Shanum. Pak Agus itu orangnya disegani, omongannya didengar laki-laki mana saja," ucap Bu Lasmi meyakinkan.

​Ibu Laila mengangguk mantap, "Ya sudah, nanti sore saya ke sana. Saya sudah nggak tahan lihat muka Shanum di rumah, tiap hari kerjanya cuma bikin saya darah tinggi," balas Ibu Laila.

.

Sore harinya, tanpa sepengetahuan Shanum, Ibu Laila benar-benar menjalankan niatnya dan mengambil tabungan simpanan hasil jualan sayur yang seharusnya digunakan untuk membayar SPP Pandu bulan depan lalu membelikan satu keranjang buah dan biskuit kaleng sebagai pelicin untuk Pak Agus.

​Rumah Pak Agus nampak asri dengan pohon mangga yang rimbun di depannya. Di teras, lelaki tua yang selalu mengenakan peci hitam itu sedang asyik menyesap kopi.

​"Eh, Bu Laila. Tumben sekali mampir, ada angin apa ini?" tanya Pak Agus dengan senyum ramah yang penuh arti.

​Ibu Laila meletakkan hantarannya di atas meja plastik, "I-itu, Pak Agus. Saya mau minta tolong, ini soal si Shanum," ucap Ibu Laila sambil mendekat.

​Pak Agus mengangguk-angguk paham, ia sudah sering mendengar selentingan tentang putri sulung Ibu Laila itu. "Oalah, si Shanum yang belum menikah itu ya? Memangnya kenapa, Bu? Shanum itu rajin loh, saya sering lihat dia lewat kalau berangkat kerja," tanya Pak Agus sekadar basa basi.

.

.

.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

Yasinta Niken

Yasinta Niken

semoga shanum mendapatkan jodoh yang baik

2026-05-24

1

Nur Syamsi

Nur Syamsi

Si Shanum apa anak kandung ibu Laila at anak tiri kenapa jahat bangat ya

2026-04-09

1

lihat semua
Episodes
1 Indra, Apa Maksud Kamu?
2 Boleh, Pak.
3 Pak Agus Yang Mana?
4 Gimana, Pak Agus?
5 Ibu Laila Frustasi
6 Kita Coba Dulu
7 Menikah?
8 Alhamdulillah!
9 Sah!
10 Pelukan Sang Suami
11 Tidak Usah, Shanum
12 Menantu Ibu Datang!
13 Sudah Siap Semuanya?
14 Ini Terlalu Banyak
15 Selamat Istirahat
16 Mana Gelasnya?
17 Kita Sudah Sampai
18 Diam Sebentar, Shanum
19 Baik, Pak!
20 Aku Malah Tidur
21 Asisten Baru?
22 Kamu Berbohong
23 Malu
24 Kamu Suka?
25 Makan Yang Banyak
26 Wanginya Enak
27 Saya Menginginkan Keturunan
28 Mas! Jangan Dilihatin Terus
29 Maaf Untuk Apa?
30 Apa! Menikah?
31 Coba Pegang, Suka Warnanya?
32 Saya Atau Aku?
33 Masih Ada Satu Lagi
34 Lima Juta
35 Untuk Apa?
36 Kenapa Harus Berbohong?
37 Kamu Adalah Istriku
38 Lima Puluh Juta?
39 Demi Kebaikanmu!
40 Kecelakaan
41 Ini Sudah Kewajibanku
42 Ini Suamiku!
43 Anggap Saja Begitu
44 Bapak Meninggal, Mbak!
45 Bapak, Shanum Pulang
46 Ibu Punya Hak!
47 Diva Itu Adikku Juga
48 Menangislah
49 Jangan Terlalu Lelah
50 Bukan Gitu, Mbak!
51 Astaga! Mas Abi!
52 Ehem!
53 Sudah, Mbak!
54 Kecewa? Untuk Apa?
55 Bagaimana Kabar Ibumu?
56 Apa Ini Mimpi?
57 Astagfirullah, Abi!
58 Tutup Mulut Kotormu!
59 Hiburan Apa?
60 Luar Biasa Cantik
61 Alergi?
62 Temani Aku
63 Siapa, Sayang?
64 Mbak, Ibu Kemana?
65 Kita Sudah Sampai
66 Wah! Beneran Hangat
67 Wah! Mau, Bang! Mau Banget!
68 Mual
69 Ke Rumah Sakit
70 Menurut Kamu Bagaimana?
71 Jangan Minta Maaf
72 Mas! Jangan Diterusin!
73 Kamu Adalah Canduku
74 Minggu Depan?
75 Loh, Kenapa Berhenti?
76 Kamu Gimana Sih?
77 Ya Allah, Shanum!
78 Hari Istimewa
79 Jagoan Atau Tuan Putri?
80 Kurang Ajar Kamu, Shanum!
81 Mertua?
82 Cukup, Gea!
83 Cukup!
84 Mau Nonton Apa?
85 Tentang Berita Di Kampung
86 Terlalu Gengsi
87 Shanum Mau Melahirkan!
88 Anak Kita
89 Muhammad Arkana Abimana
90 Jangan Menggodaku Terus
91 Cerita Baru - My Possessive Husband
92 Mana Jagoan Kamu, Abi?
93 SELESAI
94 Cerita Baru - Oh! Mantan Kekasihku
95 Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
96 Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
97 Cerita Baru - Cintai Aku
98 Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Indra, Apa Maksud Kamu?
2
Boleh, Pak.
3
Pak Agus Yang Mana?
4
Gimana, Pak Agus?
5
Ibu Laila Frustasi
6
Kita Coba Dulu
7
Menikah?
8
Alhamdulillah!
9
Sah!
10
Pelukan Sang Suami
11
Tidak Usah, Shanum
12
Menantu Ibu Datang!
13
Sudah Siap Semuanya?
14
Ini Terlalu Banyak
15
Selamat Istirahat
16
Mana Gelasnya?
17
Kita Sudah Sampai
18
Diam Sebentar, Shanum
19
Baik, Pak!
20
Aku Malah Tidur
21
Asisten Baru?
22
Kamu Berbohong
23
Malu
24
Kamu Suka?
25
Makan Yang Banyak
26
Wanginya Enak
27
Saya Menginginkan Keturunan
28
Mas! Jangan Dilihatin Terus
29
Maaf Untuk Apa?
30
Apa! Menikah?
31
Coba Pegang, Suka Warnanya?
32
Saya Atau Aku?
33
Masih Ada Satu Lagi
34
Lima Juta
35
Untuk Apa?
36
Kenapa Harus Berbohong?
37
Kamu Adalah Istriku
38
Lima Puluh Juta?
39
Demi Kebaikanmu!
40
Kecelakaan
41
Ini Sudah Kewajibanku
42
Ini Suamiku!
43
Anggap Saja Begitu
44
Bapak Meninggal, Mbak!
45
Bapak, Shanum Pulang
46
Ibu Punya Hak!
47
Diva Itu Adikku Juga
48
Menangislah
49
Jangan Terlalu Lelah
50
Bukan Gitu, Mbak!
51
Astaga! Mas Abi!
52
Ehem!
53
Sudah, Mbak!
54
Kecewa? Untuk Apa?
55
Bagaimana Kabar Ibumu?
56
Apa Ini Mimpi?
57
Astagfirullah, Abi!
58
Tutup Mulut Kotormu!
59
Hiburan Apa?
60
Luar Biasa Cantik
61
Alergi?
62
Temani Aku
63
Siapa, Sayang?
64
Mbak, Ibu Kemana?
65
Kita Sudah Sampai
66
Wah! Beneran Hangat
67
Wah! Mau, Bang! Mau Banget!
68
Mual
69
Ke Rumah Sakit
70
Menurut Kamu Bagaimana?
71
Jangan Minta Maaf
72
Mas! Jangan Diterusin!
73
Kamu Adalah Canduku
74
Minggu Depan?
75
Loh, Kenapa Berhenti?
76
Kamu Gimana Sih?
77
Ya Allah, Shanum!
78
Hari Istimewa
79
Jagoan Atau Tuan Putri?
80
Kurang Ajar Kamu, Shanum!
81
Mertua?
82
Cukup, Gea!
83
Cukup!
84
Mau Nonton Apa?
85
Tentang Berita Di Kampung
86
Terlalu Gengsi
87
Shanum Mau Melahirkan!
88
Anak Kita
89
Muhammad Arkana Abimana
90
Jangan Menggodaku Terus
91
Cerita Baru - My Possessive Husband
92
Mana Jagoan Kamu, Abi?
93
SELESAI
94
Cerita Baru - Oh! Mantan Kekasihku
95
Cerita Baru - Dicintai Sang Berandal Tampan
96
Cerita Baru - Teman Tapi Menikah
97
Cerita Baru - Cintai Aku
98
Cerita Baru - Balas Dendam Seorang Anak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!