2. Dua Orang

Kertas itu bergetar di tangan Ayza. Napasnya tercekat saat matanya mulai membaca.

Satu baris. Dua baris. Lalu berhenti. Tubuhnya membeku.

Kuitansi hotel.

Nama tamu: Kaisyaf Al-Fath.

Tanggal: semalam.

Ayza menggeleng pelan.

“Tidak…” bisiknya lirih.

Tangannya semakin gemetar saat membaca baris berikutnya.

Jumlah tamu: dua orang.

Seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya dengan keras.

Ayza mundur selangkah.

Kertas itu hampir terlepas dari genggamannya.

“Gak mungkin…” suaranya pecah.

Semalam…

Bukankah semalam Kaisyaf pulang?

Bukankah semalam ia tidur bersamanya?

Bukankah semalam—

Ayza terdiam. Ingatan itu datang tiba-tiba. Kaisyaf datang larut. Wajahnya sedikit pucat. Sikapnya dingin.

Dan… Ia tidak menyentuh Ayza sama sekali.

Jantung Ayza berdetak semakin cepat. Pikirannya mulai menghubungkan satu per satu potongan yang selama ini ia abaikan.

Pulang malam. Sering menghilang. Bersikap dingin.

Dan sekarang…

Hotel. Dengan orang lain.

"Tak mungkin masuk kamar hotel dengan seorang pria 'kan? Gak mungkin urusan bisnis dibicarakan di kamar hotel."

Pikiran itu membuatnya sulit bernapas seolah udara menipis.

Tangan Ayza mengepal, meremas kertas itu tanpa sadar. Air matanya mulai jatuh. Satu. Dua. Lalu tak terbendung.

“Jadi… ini alasannya?” suaranya bergetar. “Ini alasan Abi ingin bercerai?”

Dadanya terasa sesak. Lebih sakit daripada saat mendengar kata cerai semalam.

Kalau hanya benci… ia masih bisa bertahan. Tapi kalau ada orang lain…

Ayza menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah. Tubuhnya perlahan jatuh terduduk di lantai.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun ia menjaga pernikahan itu.

Sepuluh tahun ia mencintai pria itu tanpa ragu.

Dan semua itu…

Hancur hanya dalam satu malam.

***

Ayza menyiapkan sarapan seperti biasa. Namun pikirannya masih dipenuhi oleh suaminya.

Ia masih tidak percaya Kaisyaf berselingkuh.

Dua belas tahun mengenal satu sama lain… sepuluh tahun berbagi hidup sebagai suami istri. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal seseorang. Terlebih pria yang telah sepuluh tahun berbagi ranjang dengannya.

"Pasti ada sesuatu yang Abi sembunyikan, 'kan?" batinnya.

Entah karena ia tidak ingin mengakui kenyataan pahit itu, atau memang karena keyakinannya begitu kuat.

Entahlah.

Tangannya meletakkan dua gelas susu dan dua piring di atas meja.

Biasanya ada tiga. Kini hanya dua.

"Apa Abi sudah bosan dengan masakanku?" pikirnya, mengingat Kaisyaf semakin jarang makan di rumah.

“Umi…”

Suara kecil itu membuat Ayza menoleh.

Alvian, putranya, berjalan menghampirinya. Rambut bocah itu masih lembap, tetapi pakaiannya sudah rapi.

Ayza tersenyum. Sejenak, kegelisahan di hatinya mereda.

“Anak Umi sudah besar,” ucapnya sambil mengusap lembut rambut tebal Alvian.

“Tentu saja. Tiap hari Umi masak makanan bergizi, jadi Al cepat besar,” jawab Alvian dengan nada bangga.

Ayza tersenyum lagi, mencubit gemas hidung putranya. “Ayo sarapan.”

Alvian mengangguk, lalu duduk rapi di kursinya. Saat Ayza mengambilkan makanan, Alvian menatapnya.

“Umi…”

Ayza menoleh.

Alvian melirik sekilas ke arah kamar orang tuanya. “Abi nggak pulang lagi?” tanyanya pelan. Sorot matanya memancarkan kerinduan.

Gerakan tangan Ayza terhenti di udara. Hanya sesaat. Lalu ia kembali tersenyum.

“Semalam pulang. Tapi pagi-pagi sekali sudah pergi. Abi sepertinya sedang sangat sibuk.”

Alvian mengangguk pelan, berusaha mengerti.

Senyum di wajah Ayza perlahan berubah pahit. Ia tahu betul betapa dekatnya Alvian dengan ayahnya.

Sejak kecil, Kaisyaf selalu meluangkan waktu untuk mereka. Bermain, bercanda, pergi liburan… di tengah kesibukannya, ia selalu berusaha hadir untuk keluarga.

Namun akhir-akhir ini…

Tidak lagi.

Pria itu bahkan terasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

***

Usai sarapan, Ayza mengantar Alvian ke sekolah.

Mobil melaju dengan kecepatan standar. Di kursi sebelah, Alvian membuka bukunya, matanya serius membaca.

“Umi… kalau air dipanasin terus sampai hilang jadi asap gitu, kenapa?”

Ayza tersenyum kecil.

“Itu bukan hilang, Sayang. Airnya berubah jadi uap.”

“Oh…” Alvian mengangguk. “Kalau uapnya jadi air lagi?”

“Itu bisa terjadi kalau uapnya kena udara dingin.”

Alvian tersenyum puas.

“Berarti air bisa berubah-ubah ya, Umi.”

“Iya. Tapi tetap air,” jawab Ayza lembut.

Ayza terdiam sejenak setelah mengucapkannya. Seolah tanpa sadar… ia sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Alvian kembali menatap bukunya, lalu menutupnya saat mobil berhenti di depan gerbang sekolah.

Ia melepas sabuk pengaman, lalu mengecup punggung tangan Ayza.

“Al berangkat, Umi. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Hati-hati ya,” ujar Ayza lembut.

“Iya, Umi.”

Alvian tersenyum, lalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam sekolah.

Ayza menatap punggung kecil itu hingga menghilang di balik gerbang.

Baru setelah itu ia mengalihkan pandangan, lalu melajukan mobil kembali ke rumah.

Setibanya di rumah, Ayza melangkah masuk ke ruang kerja.

Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi.

Ia duduk di kursinya, meraih buku sketsa, lalu memegang pensil. Namun ujung pensil itu tak juga menyentuh kertas.

Kosong. Seperti pikirannya.

Akhir-akhir ini ia bahkan tak punya ide untuk menggambar. Perubahan sikap Kaisyaf begitu memengaruhinya.

Tak biasanya ia seperti ini. Namun jika menyangkut Kaisyaf… Pria itu memang satu-satunya yang mampu mengusik seluruh hatinya.

Ayza menghela napas pelan.

“Ya Allah… hamba tahu, tak seharusnya mencintai seseorang terlalu dalam…

Suaranya lirih.

"...karena saat ia pergi… hamba seperti kehilangan segalanya.”

Matanya perlahan menatap sekeliling ruangan itu.

Dan ingatan itu kembali datang.

“Ini desain baru kamu?” Suara itu terdengar hangat di telinganya.

Ayza menoleh. Kaisyaf berdiri di belakangnya, menatap sketsa di tangannya.

“Iya. Gimana?” tanya Ayza sambil tersenyum.

Kaisyaf tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi, lalu duduk di samping Ayza. “Bagus,” ujarnya singkat.

Ayza menyipitkan mata. “Bagus doang? Abi biasanya cerewet kalau ngomentarin desainku.”

Kaisyaf tersenyum tipis. “Kalau bagus ya aku bilang bagus.”

“Bohong. Pasti ada yang mau dikritik.”

Kaisyaf terkekeh pelan, lalu menunjuk bagian sketsa itu. “Di sini… coba kamu buat lebih tegas. Biar karakternya lebih kuat.”

Ayza memerhatikan, lalu mengangguk. “Hmm… iya juga.”

Kaisyaf menatap Ayza beberapa detik. “Tapi satu yang nggak pernah berubah.”

Ayza menoleh. “Apa?”

“Desain kamu… selalu punya ‘rasa’.”

Ayza tersenyum kecil. “Karena aku bikin pakai hati.”

Kaisyaf ikut tersenyum. “Makanya aku suka.”

Ayza tersentak. Ia kembali ke kenyataan.

Tangannya masih memegang pensil. Namun kertas di depannya tetap kosong. Senyumnya perlahan memudar.

“Sekarang…” bisiknya pelan, “bahkan aku nggak tahu harus menggambar apa.”

Dulu, ruangan ini penuh suara mereka. Sekarang… hanya tersisa kenangan yang tak bisa ia sentuh lagi.

Ayza menatap kertas itu sekali lagi.

Lalu perlahan berdiri.

“Aku harus tahu kebenarannya.”

 

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua kebenaran datang dengan suara keras....

...Kadang, ia hanya berupa selembar kertas… yang cukup untuk menghancurkan segalanya."...

..."Yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan, tapi menyadari bahwa yang selama ini kita percaya…...

...ternyata bukan lagi milik kita."...

..."Beberapa perubahan tidak langsung terasa....

...Sampai suatu hari, kita sadar…...

...semuanya sudah tidak lagi sama."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Anonim

Anonim

Kwitansi hotel - bukti yang Kaisyaf inginkan biar Ayza tersakiti dan mau bercerai. Padahal belum tentu Kaisyaf tidur di hotel berdua dengan siapa.

Ayza benar-benar merasakan sesak di dadanya. Air mata meluncur deras.

Kalau memang Kaisyaf selingkuh, sia-sia dong sepuluh tahun Ayza mencintainya tanpa ragu. Tapi kayaknya kok meragukan kalau benar Kaisyaf selingkuh.

Bersyukur mereka dikaruniai anak. Kesedihan Ayza tak terkira kalau hanya sendirian tanpa anak - dicerai Kaisyaf.

2026-03-22

2

Fadillah Ahmad

Fadillah Ahmad

Sabar Ayza... Penderitaan kamu baru dimulai 😁😁😁 dan 'mungkin' Bisa 100 Bab lebih juga tuh 😂😂😂 Jadi kamu harus tabah ya, 😁😁😁 ini baru permulaan. Baru juga Bab 2 😂 setengahnya saja belum, jadi kamu harus banyak berdoa, agar di akhir cerita nanti, kamu bisa memilih kembali, mungkin, untuk yang ketiga kalinya deh 😂😂😂🙏

2026-03-22

4

asih

asih

kenapa kaishaf berubah ada apa dengannya, apa bener dia selingkuh karena ayza monoton di ranjang, mungkin ayza cantik ,baik, memiliki semua kelibihan tapi satu kekurangannya dia tidak lincah ranjang Dr bab 1 yg aku baca,makanya Kai cari wanita lain yg lebih bergairah yg pandai memanjakanya di ranjang

2026-03-22

4

lihat semua
Episodes
1 1. Jejak yang Kau Tinggalkan
2 2. Dua Orang
3 3. Yang Tidak Bisa Kutanyakan
4 4. Yang Tak Terucap
5 5. Satu-satunya yang Tidak Tahu
6 6. Yang Kembali Tanpa Diundang
7 7. Cukup… atau Sekadar Bertahan?
8 8. Hari Ayah Tanpa Ayah
9 9. Posisi yang Tergantikan
10 10. Yang Seharusnya di Sana
11 11. Tempat yang Perlahan Digantikan
12 12. Ketika Pulang Tak Lagi Sama
13 13. Yang Kedua Kali
14 14. Cara Terkejam untuk Mencintai
15 15. Cinta yang Memilih Menjauh
16 16. Peran yang Mulai Dipindahkan
17 17. Yang Tidak Dikatakan
18 18. Malam yang Tidak Akan Terulang
19 19.Pamit Tanpa Kata
20 20. Pamit yang Tidak Tersampaikan
21 21. Cinta yang Ditinggalkan Diam-Diam
22 22. Yang Dilihat Tidak Selalu Benar
23 23. Saat Cinta Tak Lagi Cukup untuk Percaya
24 24. Percaya… atau Pergi
25 25. Saat Bertahan Justru Menghancurkan
26 26. Ketika Batas Tak Lagi Dihormati
27 27. Ketika Batas Tidak Lagi Cukup
28 28. Satu Kata yang Salah Tempat
29 29. Jawaban yang Sama, Makna yang Berbeda
30 30. Saat Kesetiaan Berubah Arah
31 31. Rahasia yang Mulai Retak
32 32. Orang yang Disiapkan
33 33. Waktu yang Tidak Menunggu
34 34. Kepercayaan di Tengah Keraguan
35 35. Batas yang Ditegaskan
36 36. Hak yang Terlambat
37 37. Di Antara Waktu dan Niat
38 38. Sebelum Semuanya Terlambat
39 39. Bukan Pengganti
40 40. Perlindungan Terakhir
41 41. Yang Akan Menjaga Mereka
42 42. Yang Tidak Pernah Diminta
43 43. Yang Kau Tentukan Tanpa Aku
44 44. Ketika Kita Berhenti Berpura-Pura
45 45. Yang Tidak Punya Waktu
46 46. Yang Tak Pernah Dijelaskan
47 47. Menunggu Waktu
48 48. Celah
49 49. Cinta yang Tidak Bergeser
50 50. Di Detik Terakhir
51 51. Yang Tak Lagi Dibalas
52 52. Tanah yang Menutup Segalanya
53 53. Batas yang Ditegaskan
54 54. Waktu Tidak Berhenti, Kebenaran Mulai Datang
55 55. Yang Tidak Diucapkan
56 56. Yang Mengisi Kekosongan
57 57. Di Antara Jarak dan Batas
58 58. Antara Percaya dan Ragu
59 59. Yang Tidak Dikatakan
60 60. Takut Kehilangan Lagi
61 61. Lamaran yang Tak Sederhana
62 62. Nama yang Tak Ia Pilih
63 63. Satu Tahun yang Dipaksakan
64 64. Saat Pilihan Mulai Mendekat
65 65. Di Antara Yang Sudah Ada
66 66. Yang Lebih Dulu Dipilih
67 67. Yang Tidak Perlu Dijelaskan
68 68. Bukan Sekadar Menjaga
69 69. Yang Harus Dilepaskan
70 70. Formalitas
71 71. Jarak yang Dipilih
72 72. Belajar Kehilangan untuk Kedua Kali
73 73. Bukan Lagi Berdua
74 74. Yang Tidak Lagi Datang
75 75. Pilihan yang Bukan Pilihan
76 76. Satu Nama di Ujung Sadar
77 77. Yang Dipilih Tanpa Ragu
78 78. Untuk Al, Bukan Untukku
79 79. Bukan Sekadar Alasan
80 80. Yang Tak Pernah Menjadi Tujuan
81 81. Keputusan dan Penolakan
82 82. Masuk dari Dalam
83 83. Kalah Tanpa Pernah Bertanding
84 84. Yang Terlambat dan Yang Menunggu
85 85. Jarak yang Berubah Makna
86 86. Yang Tak Sengaja, Tapi Terasa Nyata
87 87. Hari-Hari yang Pelan Menjadi Kita
88 88. Dari Awal… Memang Kamu
89 89. Canggung yang Berubah Arah
90 90. Jodoh Sampai Akhir
91 91. Sebelum Pulang
92 92. Di Antara Masa Lalu dan Suami Baru
93 93. Rumah Yang Hangat
94 94. Hal yang Tak Pernah Ia Berikan
95 95. Yang Pergi Tak Selalu Kembali
96 96. CEO VS DUKUN
97 97. Tempat untuk Pulang
Episodes

Updated 97 Episodes

1
1. Jejak yang Kau Tinggalkan
2
2. Dua Orang
3
3. Yang Tidak Bisa Kutanyakan
4
4. Yang Tak Terucap
5
5. Satu-satunya yang Tidak Tahu
6
6. Yang Kembali Tanpa Diundang
7
7. Cukup… atau Sekadar Bertahan?
8
8. Hari Ayah Tanpa Ayah
9
9. Posisi yang Tergantikan
10
10. Yang Seharusnya di Sana
11
11. Tempat yang Perlahan Digantikan
12
12. Ketika Pulang Tak Lagi Sama
13
13. Yang Kedua Kali
14
14. Cara Terkejam untuk Mencintai
15
15. Cinta yang Memilih Menjauh
16
16. Peran yang Mulai Dipindahkan
17
17. Yang Tidak Dikatakan
18
18. Malam yang Tidak Akan Terulang
19
19.Pamit Tanpa Kata
20
20. Pamit yang Tidak Tersampaikan
21
21. Cinta yang Ditinggalkan Diam-Diam
22
22. Yang Dilihat Tidak Selalu Benar
23
23. Saat Cinta Tak Lagi Cukup untuk Percaya
24
24. Percaya… atau Pergi
25
25. Saat Bertahan Justru Menghancurkan
26
26. Ketika Batas Tak Lagi Dihormati
27
27. Ketika Batas Tidak Lagi Cukup
28
28. Satu Kata yang Salah Tempat
29
29. Jawaban yang Sama, Makna yang Berbeda
30
30. Saat Kesetiaan Berubah Arah
31
31. Rahasia yang Mulai Retak
32
32. Orang yang Disiapkan
33
33. Waktu yang Tidak Menunggu
34
34. Kepercayaan di Tengah Keraguan
35
35. Batas yang Ditegaskan
36
36. Hak yang Terlambat
37
37. Di Antara Waktu dan Niat
38
38. Sebelum Semuanya Terlambat
39
39. Bukan Pengganti
40
40. Perlindungan Terakhir
41
41. Yang Akan Menjaga Mereka
42
42. Yang Tidak Pernah Diminta
43
43. Yang Kau Tentukan Tanpa Aku
44
44. Ketika Kita Berhenti Berpura-Pura
45
45. Yang Tidak Punya Waktu
46
46. Yang Tak Pernah Dijelaskan
47
47. Menunggu Waktu
48
48. Celah
49
49. Cinta yang Tidak Bergeser
50
50. Di Detik Terakhir
51
51. Yang Tak Lagi Dibalas
52
52. Tanah yang Menutup Segalanya
53
53. Batas yang Ditegaskan
54
54. Waktu Tidak Berhenti, Kebenaran Mulai Datang
55
55. Yang Tidak Diucapkan
56
56. Yang Mengisi Kekosongan
57
57. Di Antara Jarak dan Batas
58
58. Antara Percaya dan Ragu
59
59. Yang Tidak Dikatakan
60
60. Takut Kehilangan Lagi
61
61. Lamaran yang Tak Sederhana
62
62. Nama yang Tak Ia Pilih
63
63. Satu Tahun yang Dipaksakan
64
64. Saat Pilihan Mulai Mendekat
65
65. Di Antara Yang Sudah Ada
66
66. Yang Lebih Dulu Dipilih
67
67. Yang Tidak Perlu Dijelaskan
68
68. Bukan Sekadar Menjaga
69
69. Yang Harus Dilepaskan
70
70. Formalitas
71
71. Jarak yang Dipilih
72
72. Belajar Kehilangan untuk Kedua Kali
73
73. Bukan Lagi Berdua
74
74. Yang Tidak Lagi Datang
75
75. Pilihan yang Bukan Pilihan
76
76. Satu Nama di Ujung Sadar
77
77. Yang Dipilih Tanpa Ragu
78
78. Untuk Al, Bukan Untukku
79
79. Bukan Sekadar Alasan
80
80. Yang Tak Pernah Menjadi Tujuan
81
81. Keputusan dan Penolakan
82
82. Masuk dari Dalam
83
83. Kalah Tanpa Pernah Bertanding
84
84. Yang Terlambat dan Yang Menunggu
85
85. Jarak yang Berubah Makna
86
86. Yang Tak Sengaja, Tapi Terasa Nyata
87
87. Hari-Hari yang Pelan Menjadi Kita
88
88. Dari Awal… Memang Kamu
89
89. Canggung yang Berubah Arah
90
90. Jodoh Sampai Akhir
91
91. Sebelum Pulang
92
92. Di Antara Masa Lalu dan Suami Baru
93
93. Rumah Yang Hangat
94
94. Hal yang Tak Pernah Ia Berikan
95
95. Yang Pergi Tak Selalu Kembali
96
96. CEO VS DUKUN
97
97. Tempat untuk Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!