Bab 2 Penggusuran

Ia mencoba mengenyahkan pikiran itu. Tidak, Siman harus fokus. Gorengan harus habis. Tangannya sigap menata tempe, tahu, dan ubi yang baru saja diangkat dari penggorengan, ke dalam wadah bambu yang sudah ia panggul setiap hari. Asap tipis masih mengepul, aromanya menyusup ke hidungnya, mengingatkannya pada realitas yang tak terhindarkan: perjuangan untuk bertahan hidup. Tapi aroma itu kini terasa lebih pahit. Lebih berat dari beban wadah di pundaknya. Bagaimana ia bisa menjual dagangan dengan hati sekacau ini? Ancaman itu seolah menimpali setiap langkahnya, membuat kakinya terasa berat.

"Man, kamu kok lesu begitu? Tidak boleh lemes. Rezeki sudah nunggu ini!" suara Bapaknya melengking, berusaha menghalau awan murung di wajah Siman. Sang bapak tampak sibuk mengecek sebuah gembok rusak di roda angkot tuanya, tak menyadari kepanikan dalam diri Siman. Atau mungkin bapaknya hanya tidak mau tahu.

"Iya, Pak. Aku cuma... memikirkan jualan." Siman berbohong. Ia menatap wajah bapaknya, lelah, tua, namun masih mencoba bertahan. Siman tidak ingin menambah beban orang tuanya dengan menceritakan apa yang baru saja ia dengar, walau mereka sendiri pasti tahu ancaman ini takkan pernah sirna dari pinggiran rel.

Tanpa banyak kata lagi, Siman pun melangkah, memasuki keramaian pasar tumpah di sudut jalan yang sering ia lalui. Suara klakson, teriakan pedagang, tawar-menawar yang riuh, semua menjadi latar belakang hiruk pikuk hidupnya. Ia menjejakkan kaki di antara kerumunan pembeli yang berebut, berusaha menawarkan dagangannya dengan senyum yang dipaksakan. Aroma ikan asin bercampur buah-buahan busuk. Seperti hidupnya. Sebuah kegetiran kembali terasa.

Ketika tengah menjajakan dagangannya, pandangannya tertumbuk pada segerombolan remaja tanggung yang melintas. Rambut mereka tergerai bebas, pakaian seragam sekolah putih abu-abu itu tampak bersih dan rapi, tidak ada noda debu, apalagi lumuran lumpur bekas jalanan basah seperti di lingkungannya. Tawa mereka renyah, membahas soal sekolah, guru, dan pacar. Siman melihat keceriaan yang dulu juga seharusnya menjadi miliknya.

Namun keceriaan itu tidak pernah hadir di hidupnya, seulas senyum pun tidak pernah menghampiri Siman remaja saat berada di sekolah dulu. Hatinya seperti dicubit. Sekelebat bayangan pahit melintas di benaknya, tiba-tiba menyeretnya mundur, masuk ke lorong ingatan yang selalu berusaha ia kubur dalam-dalam. Masa-masa SMA yang seharusnya ceria, malah berubah menjadi neraka baginya.

Kala itu, koridor sekolah selalu menjadi arena penyiksaan yang Siman rindukan sekaligus hindari. Siman, si anak pinggir rel yang hanya mengandalkan bantuan beasiswa, selalu jadi sasaran empuk untuk olok-olok. Bukan hanya dari teman-teman laki-lakinya, tapi juga dari kelompok gadis populer. Dan dari semua gadis itu, satu nama yang paling berbekas di hatinya. Dina.

Ia mengingat hari itu dengan jelas. Hari di mana mimpi-mimpinya seperti digilas buldoser, hancur berkeping-keping. Pakaian seragamnya memang tak semulus milik teman-teman lainnya. Ada noda minyak bekas menggoreng di sana-sini, kainnya kusam karena dicuci manual. Bahkan tasnya pun sudah bolong, sisa hadiah dari bapaknya saat ia masuk SMP dulu.

Ketika itu, ia tak sengaja menabrak Dina di kantin yang ramai. Buku-buku Dina terjatuh, dan yang lebih fatal, bekal makanan Dina—nasi goreng seafood mahal—ikut terlepas dari tangannya, mendarat di lantai keramik yang baru saja dipel. Sesaat, suasana kantin hening. Siman membeku.

"SIMAN! Ya ampun! Bekal gue!" Dina menjerit, tatapannya menyala marah, disusul bisikan-bisikan riuh dari teman-temannya yang melihat insiden itu.

"Hih, kasihan deh Dina. Padahal itu nasi goreng spesial lho, buat kencan sama pacarnya nanti."

"Ya, gitu deh kalau orang dari kaum tak berpunya, joroknya nular sampai ke sini."

Wajah Siman memerah. Ia ingin meminta maaf, namun kata-kata tertahan di tenggorokannya. Tangannya gemetar saat hendak meraih buku-buku Dina, tetapi sebuah tendangan ringan mengenai tangannya.

"Jangan pegang-pegang! Kotor tahu nggak?" Dina menarik tasnya menjauh, seolah Siman adalah wabah penyakit. Ia beringsut mundur, ekspresi jijik jelas terpancar di wajah cantiknya. "Heh, kamu kira aku mau apa? Kamu nggak level sama aku. Lihat nih, rokmu sudah kotor begitu, dekil! Cocoknya jadi pengamen jalanan daripada sekolah di sini, tahu nggak? Cuma buang-buang kursi dan bau apek!"

Tawa membahana di seluruh penjuru kantin. Siman menunduk, kepalanya terasa dihantam batu. Hinaan Dina menghunjam lebih dalam dari sekadar ucapan. Itu adalah penolakan mutlak atas keberadaannya, status sosialnya, mimpinya. Air mata Siman menggenang di pelupuk mata. Sejak saat itu, setiap sapaan Dina terasa seperti belati yang mengiris. Dina berhasil menguasai dirinya. Membuat dirinya rendah dan semakin tidak berarti.

Bahkan sampai setamat SMA, bayang-bayang Dina masih terus mengikutinya. Siman tak pernah berani mendekati perempuan lain. Bahkan untuk sekadar menaruh hati pun rasanya terlalu muluk. Siapa yang akan mau dengannya? Cowok pinggir rel yang kotor, dekil, bau apek, tidak tahu malu, tidak tahu diri dan miskin pula. Bahkan mimpi untuk menikah pun terasa haram baginya. Cinta adalah kemewahan yang hanya diperuntukkan bagi kaum elit yang seragamnya bersih dan rambutnya harum seperti Dina.

Pikirannya tiba-tiba melayang pada sosok lain, yang menjadi penyeimbang setiap kali dunia meruntuhkan mentalnya. Murni.

Seorang gadis dengan senyum yang selalu hangat, tetangga setia yang tumbuh bersamanya di pinggir rel yang sama. Dia selalu ada, diam-diam memberinya sepotong tahu atau nasihat kecil. Pernah suatu ketika, saat Dina menjahilinya lagi, menumpahkan seember air comberan ke bajunya, Murni lah yang memeluknya erat di tengah cemoohan, tak peduli dengan bau amis dan kotoran. Siman ingin membencinya saat itu, kenapa dia berpihak padaku? Kenapa dia baik padaku? Apa jangan-jangan dia mengejek aku lagi? Tapi senyumnya jujur dan tulus.

Siman tersentak kembali ke dunia nyata saat suara panggilan nyaring membuyarkan lamunannya.

"SIMAN! Ya ampun, aku cariin ke mana-mana, tahunya di sini!"

Murni berdiri di depannya, rambut hitamnya terkepang rapi, terpaan cahaya matahari pagi menyinari wajahnya. Ia tampak sedikit terengah-engah, dengan tangan memegang sebuah plastik berisi bahan makanan. Tatapannya hangat, seperti mentari pagi yang mengusir embun. Murni satu-satunya yang masih melihat "Siman" sebagai seorang manusia yang bermartabat.

"Oh, Murni." Siman tersenyum samar. Jantungnya berdebar, bukan karena suka, tapi karena merasa bersalah ia tak mendengar panggilannya.

"Ngapain senyum-senyum begitu? Kebanyakan mikir uang, ya? Jualannya laris nggak?" Murni memperhatikan bakul gorengan Siman yang mulai menyusut isinya.

"Lumayan. Masih ada sisa sedikit lagi. Ini baru mau muter ke komplek sebelah." Siman menunjuk jalanan kecil di sisi lain pasar. Siman memutar akalnya, kenapa dia sampai mencariku?

"Syukurlah kalau gitu." Murni menarik napas lega. Ia melirik jam tangan lamanya yang ia kenakan. "Eh, kamu jadi 'kan ikut gotong royong di kampung hari ini? Kata Ibu ada banyak acara seru di pos RW. Biar nggak mumet terus di rumah."

***

Episodes
1 Bab 1 Detak Kereta Siman
2 Bab 2 Penggusuran
3 Bab 3 Masalah Siman
4 Bab 4 Misteri Akik Biru
5 Bab 5 Mata Penuh Kecurigaan
6 Bab 6 Denyut Rahasia Sang Akik
7 Bab 7 Upah yang Tak Terduga
8 Bab 8 Rumah Tua, Luka Lama
9 Bab 9 Kembali ke Sekolah
10 Bab 10 Harta Karun di Tumpukan Kardus
11 Bab 11 Bibit Pikiran Aneh
12 Bab 12 Impian yang Terkubur
13 Bab 13 Peluang Emas Sang Kuli Bengkel
14 Bab 14 Saatnya Sekarang
15 Bab 15 Antara Belajar dan Keajaiban
16 Bab 16 Kecemasan Kelulusan
17 Bab 17 Akik Biru Harapan
18 Bab 18 Antara Aroma Oli dan Parfum Mahal
19 Bab 19 Perjuangan Logo Siman
20 Bab 20 Di Antara Kejujuran dan Keajaiban"
21 Bab 21 Tekad Membara, Kelelahan Nyata
22 Bab 22 Bukan Sekadar Keberuntungan
23 Bab 23 Ancaman di Tangan Siman
24 Bab 24 Bukan Lagi Sekadar Kuli
25 Bab 25 Harapan Hampa
26 Bab 26 Murni di Ambang Pintu
27 Bab 27 Akal dan Intuisi
28 Bab 28 Kabar Baik Tersengal
29 Bab 29 Kejutan di Lantai Lima
30 Bab 30 Kontrak Perubahan Nasib
31 Bab 31 Pindah Rumah
32 Bab 32 Impian Siman Terwujud
33 Bab 33 Melampaui Ekspektasi
34 Bab 34 Terburu Mengejar Peluang
35 Bab 35 Di Balik Cerita, Ada Murni
36 Bab 36 Antara Dendam dan Desain
37 Bab 37 Raibnya Akik
38 Bab 38 Batas Kemampuan Siman
39 Bab 39 Cincin Biru Membeku
40 Bab 40 Mencari Sang Arsitek Ide
41 Bab 41 Kembang Api Murni
42 Bab 42 Langkah Raksasa di Kota Kembang
43 Bab 43 Sentuhan Gosip dan Kedatangan Pesaing
44 Bab 44 Kehilangan Akik untuk Sementara
45 Bab 45 Kebutuhan Akan Kepercayaan Diri yang Hakiki
46 Bab 46 Akik Kembali, Siman Berubah
47 Bab 47 Menyingkap Latar Belakang Akik (Misteri)
48 Bab 48 Jaringan Baru, Sosok Mentor Lain
49 Bab 49 Malam yang Mengubah Arah Takdir
50 Bab 50 Trauma Lama yang Terulang di Dunia Baru
51 Bab 51 Ancaman Terselubung: Jebakan Kompetitor
52 Bab 52 Dina: Terjebak Nostalgia Berkedok Penyesalan
53 Bab 53 Mitra Bisnis Asing dan Ekspansi Global
54 Bab 54 Satu Jam Menuju Panggung Dunia
55 Bab 55 Misteri Asal Akik yang Mendalam
56 Bab 56 Pencarian Jejak Pelindung Akik
57 Bab 57 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
58 Bab 58 Visi di Bawah Purnama
59 Bab 59 Balas Budi ke Lingkungan Lama
60 Bab 60 Pertaruhan Final
61 Bab 61 Konfrontasi Puncak
62 Bab 62 Harga Kemenangan
63 Bab 63 Panggilan yang Belum Terwujud
64 Bab 64 Kekuatan Berbagi
65 Bab 65 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
66 Bab 66 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
67 Bab 67 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
68 Bab 68 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
69 Bab 69 Anak Tepi Rel di Karpet Merah
70 Bab 70 Murni, Kekasih Sejati Siman
71 Bab 71 Pencarian Jejak Pelindung Akik
72 Bab 72 Panggilan Puncak Seribu Bintang
73 Bab 73 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
74 Bab 74 Proyek Impian: Balas Budi ke Lingkungan Lama
75 Bab 75 Kembalinya Dina: Pertaruhan Final
76 Bab 76 Konfrontasi Puncak
77 Bab 77 Harga Kemenangan
78 Bab 78 Kemenangan Sang Penakluk Diri
79 Bab 79 Visi Baru: Kekuatan Berbagi
80 Bab 80 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
81 Bab 81 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
82 Bab 82 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
83 Bab 83 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
84 Bab 84 Bukan Sekadar Keberuntungan
85 Bab 85 Murni, Kekasih Sejati Siman
86 Bab 86 Melangkah Maju Bersama
87 Bab 87 Senja di Tepi Keberuntungan
88 Bab 88 Getaran Baru di Balik Kesuksesan
89 Bab 89 Dina yang Bertekuk Lutut
90 Bab 90 Magnet yang Tak Terbendung
91 Bab 91 Kecurigaan Murni
92 Bab 92 Pertemuan dengan Sari
93 Bab 93 Resonansi Luka Lama
94 Bab 94 Teror Cinta dari Masa Lalu
95 Bab 95 Analisis Sesepuh: Anugerah atau Kutukan?
96 Bab 96 Siman di Ujung Tanduk
97 Bab 97 Munculnya Madam Elena
98 Bab 98 Ketegangan di Ruang Keluarga
99 Bab 99 Kesepakatan Pertama
100 Bab 100 Daftar 17 Hati
101 Bab 101 Di Balik Meja Madam Elena
102 Bab 102 Izin yang Mengguncang Jiwa
103 Bab 103 Syarat Mutlak untuk Para Pemuja
104 Bab 104 Perjanjian di Ruang Keluarga
105 Bab 105 Pernikahan Siri Dihadiri Murni
106 Bab 106 Manajemen Waktu Sang Penakluk
107 Bab 107 Malam Pertama dengan Dina
108 Bab 108 Kecemburuan yang Tersembunyi
109 Bab 109 Konflik Kecil Antar Istri
110 Bab 110 Keadilan di Atas Segalanya
111 Bab 111 Keadilan dalam Rasa dan Nilai
112 Bab 112 Energi Akik yang Stabil
113 Bab 113 Pertemuan di Ujung Dendam
114 Bab 114 Memori Luka Lama
115 Bab 115 Strategi Sang Ratu
116 Bab 116 Akik dan Hati yang Bergetar
117 Bab 117 Rekonsiliasi yang Pahit
118 Bab 118 Bukan Menjadi Koleksi
119 Bab 119 Gosip yang Merebak
120 Bab 120 Hadiah untuk Murni
121 Bab 121 Kehamilan Pertama
122 Bab 122 Dina Sang Pembela
123 Bab 123 Liburan Keluarga yang Tak Lazim
124 Bab 124 Krisis Kesehatan Siman
125 Bab 125 Pengakuan di Hadapan Orang Tua
126 Bab 126 Ujian Kesetiaan Istri Siri
127 Bab 127 Guncangan di Sangkar Emas
128 Bab 128 Murni dan Kekuatan Sabar
129 Bab 129 Pesta Perayaan Satu Tahun
130 Bab 130 Wanita ke-18 (Aurora)
131 Bab 131 Godaan Maya
132 Bab 132 Dunia Rahasia Maya
133 Bab 133 Sabotase Energi
134 Bab 134 Pertahanan Murni
135 Bab 135 Konfrontasi dengan Maya
136 Bab 136 Kembalinya Pesona
137 Bab 137 Dina Sang Martir
138 Bab 138 Penebusan Terakhir Dina
139 Bab 139 Pelajaran tentang Nafsu dan Cinta
140 Bab 140 Pembangunan Mansion Megah
141 Bab 141 Murni: Sang Ratu Abadi
142 Bab 142 Generasi Penerus Sang Penakluk
143 Bab 143 Ujian Keadilan di Masa Tua
144 Bab 144 Dina dan Penyesalan yang Tuntas
145 Bab 145 Filantropi Global Keluarga Siman
146 Bab 146 Cahaya yang Tak Lekang oleh Waktu
147 Bab 147 Rahasia Akik untuk Anak Laki-laki
Episodes

Updated 147 Episodes

1
Bab 1 Detak Kereta Siman
2
Bab 2 Penggusuran
3
Bab 3 Masalah Siman
4
Bab 4 Misteri Akik Biru
5
Bab 5 Mata Penuh Kecurigaan
6
Bab 6 Denyut Rahasia Sang Akik
7
Bab 7 Upah yang Tak Terduga
8
Bab 8 Rumah Tua, Luka Lama
9
Bab 9 Kembali ke Sekolah
10
Bab 10 Harta Karun di Tumpukan Kardus
11
Bab 11 Bibit Pikiran Aneh
12
Bab 12 Impian yang Terkubur
13
Bab 13 Peluang Emas Sang Kuli Bengkel
14
Bab 14 Saatnya Sekarang
15
Bab 15 Antara Belajar dan Keajaiban
16
Bab 16 Kecemasan Kelulusan
17
Bab 17 Akik Biru Harapan
18
Bab 18 Antara Aroma Oli dan Parfum Mahal
19
Bab 19 Perjuangan Logo Siman
20
Bab 20 Di Antara Kejujuran dan Keajaiban"
21
Bab 21 Tekad Membara, Kelelahan Nyata
22
Bab 22 Bukan Sekadar Keberuntungan
23
Bab 23 Ancaman di Tangan Siman
24
Bab 24 Bukan Lagi Sekadar Kuli
25
Bab 25 Harapan Hampa
26
Bab 26 Murni di Ambang Pintu
27
Bab 27 Akal dan Intuisi
28
Bab 28 Kabar Baik Tersengal
29
Bab 29 Kejutan di Lantai Lima
30
Bab 30 Kontrak Perubahan Nasib
31
Bab 31 Pindah Rumah
32
Bab 32 Impian Siman Terwujud
33
Bab 33 Melampaui Ekspektasi
34
Bab 34 Terburu Mengejar Peluang
35
Bab 35 Di Balik Cerita, Ada Murni
36
Bab 36 Antara Dendam dan Desain
37
Bab 37 Raibnya Akik
38
Bab 38 Batas Kemampuan Siman
39
Bab 39 Cincin Biru Membeku
40
Bab 40 Mencari Sang Arsitek Ide
41
Bab 41 Kembang Api Murni
42
Bab 42 Langkah Raksasa di Kota Kembang
43
Bab 43 Sentuhan Gosip dan Kedatangan Pesaing
44
Bab 44 Kehilangan Akik untuk Sementara
45
Bab 45 Kebutuhan Akan Kepercayaan Diri yang Hakiki
46
Bab 46 Akik Kembali, Siman Berubah
47
Bab 47 Menyingkap Latar Belakang Akik (Misteri)
48
Bab 48 Jaringan Baru, Sosok Mentor Lain
49
Bab 49 Malam yang Mengubah Arah Takdir
50
Bab 50 Trauma Lama yang Terulang di Dunia Baru
51
Bab 51 Ancaman Terselubung: Jebakan Kompetitor
52
Bab 52 Dina: Terjebak Nostalgia Berkedok Penyesalan
53
Bab 53 Mitra Bisnis Asing dan Ekspansi Global
54
Bab 54 Satu Jam Menuju Panggung Dunia
55
Bab 55 Misteri Asal Akik yang Mendalam
56
Bab 56 Pencarian Jejak Pelindung Akik
57
Bab 57 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
58
Bab 58 Visi di Bawah Purnama
59
Bab 59 Balas Budi ke Lingkungan Lama
60
Bab 60 Pertaruhan Final
61
Bab 61 Konfrontasi Puncak
62
Bab 62 Harga Kemenangan
63
Bab 63 Panggilan yang Belum Terwujud
64
Bab 64 Kekuatan Berbagi
65
Bab 65 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
66
Bab 66 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
67
Bab 67 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
68
Bab 68 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
69
Bab 69 Anak Tepi Rel di Karpet Merah
70
Bab 70 Murni, Kekasih Sejati Siman
71
Bab 71 Pencarian Jejak Pelindung Akik
72
Bab 72 Panggilan Puncak Seribu Bintang
73
Bab 73 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
74
Bab 74 Proyek Impian: Balas Budi ke Lingkungan Lama
75
Bab 75 Kembalinya Dina: Pertaruhan Final
76
Bab 76 Konfrontasi Puncak
77
Bab 77 Harga Kemenangan
78
Bab 78 Kemenangan Sang Penakluk Diri
79
Bab 79 Visi Baru: Kekuatan Berbagi
80
Bab 80 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
81
Bab 81 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
82
Bab 82 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
83
Bab 83 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
84
Bab 84 Bukan Sekadar Keberuntungan
85
Bab 85 Murni, Kekasih Sejati Siman
86
Bab 86 Melangkah Maju Bersama
87
Bab 87 Senja di Tepi Keberuntungan
88
Bab 88 Getaran Baru di Balik Kesuksesan
89
Bab 89 Dina yang Bertekuk Lutut
90
Bab 90 Magnet yang Tak Terbendung
91
Bab 91 Kecurigaan Murni
92
Bab 92 Pertemuan dengan Sari
93
Bab 93 Resonansi Luka Lama
94
Bab 94 Teror Cinta dari Masa Lalu
95
Bab 95 Analisis Sesepuh: Anugerah atau Kutukan?
96
Bab 96 Siman di Ujung Tanduk
97
Bab 97 Munculnya Madam Elena
98
Bab 98 Ketegangan di Ruang Keluarga
99
Bab 99 Kesepakatan Pertama
100
Bab 100 Daftar 17 Hati
101
Bab 101 Di Balik Meja Madam Elena
102
Bab 102 Izin yang Mengguncang Jiwa
103
Bab 103 Syarat Mutlak untuk Para Pemuja
104
Bab 104 Perjanjian di Ruang Keluarga
105
Bab 105 Pernikahan Siri Dihadiri Murni
106
Bab 106 Manajemen Waktu Sang Penakluk
107
Bab 107 Malam Pertama dengan Dina
108
Bab 108 Kecemburuan yang Tersembunyi
109
Bab 109 Konflik Kecil Antar Istri
110
Bab 110 Keadilan di Atas Segalanya
111
Bab 111 Keadilan dalam Rasa dan Nilai
112
Bab 112 Energi Akik yang Stabil
113
Bab 113 Pertemuan di Ujung Dendam
114
Bab 114 Memori Luka Lama
115
Bab 115 Strategi Sang Ratu
116
Bab 116 Akik dan Hati yang Bergetar
117
Bab 117 Rekonsiliasi yang Pahit
118
Bab 118 Bukan Menjadi Koleksi
119
Bab 119 Gosip yang Merebak
120
Bab 120 Hadiah untuk Murni
121
Bab 121 Kehamilan Pertama
122
Bab 122 Dina Sang Pembela
123
Bab 123 Liburan Keluarga yang Tak Lazim
124
Bab 124 Krisis Kesehatan Siman
125
Bab 125 Pengakuan di Hadapan Orang Tua
126
Bab 126 Ujian Kesetiaan Istri Siri
127
Bab 127 Guncangan di Sangkar Emas
128
Bab 128 Murni dan Kekuatan Sabar
129
Bab 129 Pesta Perayaan Satu Tahun
130
Bab 130 Wanita ke-18 (Aurora)
131
Bab 131 Godaan Maya
132
Bab 132 Dunia Rahasia Maya
133
Bab 133 Sabotase Energi
134
Bab 134 Pertahanan Murni
135
Bab 135 Konfrontasi dengan Maya
136
Bab 136 Kembalinya Pesona
137
Bab 137 Dina Sang Martir
138
Bab 138 Penebusan Terakhir Dina
139
Bab 139 Pelajaran tentang Nafsu dan Cinta
140
Bab 140 Pembangunan Mansion Megah
141
Bab 141 Murni: Sang Ratu Abadi
142
Bab 142 Generasi Penerus Sang Penakluk
143
Bab 143 Ujian Keadilan di Masa Tua
144
Bab 144 Dina dan Penyesalan yang Tuntas
145
Bab 145 Filantropi Global Keluarga Siman
146
Bab 146 Cahaya yang Tak Lekang oleh Waktu
147
Bab 147 Rahasia Akik untuk Anak Laki-laki

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!