Bab 5 Mata Penuh Kecurigaan

"Siman? Lagi ngapain jongkok di jalan begini?"

Suara itu membuat Siman tersentak kaget. Kantung goni yang hampir penuh nyaris terjatuh dari tangannya. Ia mendongak, matanya bertemu dengan Murni yang berdiri tak jauh darinya, dengan wajah yang berkerut keheranan. Gadis itu mengenakan seragam kerja warung kopi yang sudah pudar warnanya, pertanda baru pulang shift malam.

"Eh, Murni! Aku… aku lagi..." Siman panik, bingung bagaimana harus menjelaskan.

"Lagak kamu kayak tukang cari koin di sungai. Mana pakai akik begitu? Ini hari apa coba? Jangan aneh-aneh, Man," celetuk Murni sambil mendekat, sorot matanya yang selalu hangat kini sedikit geli.

"Ini... bukan. Tadi, tadi aku nemu ini." Siman dengan kikuk menyodorkan kantung goni berisi koin itu. Raut Murni berubah penasaran, tangannya lantas mengintip isi di dalamnya. "Banyak sekali koinnya, kan? Aku kaget juga. Tapi sepi banget jalannya."

Murni terdiam. Jemarinya sibuk membalik-balik uang receh, matanya membesar saat menyadari jumlahnya yang tidak sedikit. Senyumnya melebar. "Ya ampun, Siman! Ini… banyak sekali! Kamu serius nemuin ini di sini?"

"Serius! Aku tadi mau ke terminal. Lewat jalan ini, terus nemu di situ," Siman menunjuk batu besar. Wajahnya terlihat pucat karena masih diliputi kebingungan.

"Ya, ampun! Kebetulan sekali!" Murni tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang sedikit melegakan hati Siman. "Uang segini mah, bisa buat beli beras seminggu lebih, Man. Udah, buat kamu saja ini! Pasti rezeki nomplok. Mungkin kemarin ada yang kejatuhan di sini. Jarang banget ada orang yang lewat."

"Tapi..." Siman bimbang, matanya melirik akik di jari manisnya. Akik itu terasa sedikit hangat sekarang. "Masa iya kebetulan gini, Mur?"

"Lha, terus kamu mau mikir apa lagi? Ini ya kebetulan toh," Murni menunjuk kantung koin di tangan Siman, "kamu pas lewat, orangnya kebetulan jatohin di sini, pas banget lagi, udah gelap pasti malam tadi, mana kelihatan?"

Siman mengerutkan kening. Apa benar sebatas kebetulan? Tapi denjutan akik ini… Murni bahkan tidak menyadarinya.

"Apa... apa kamu nemuin barang-barang lain?" tanya Siman, mencoba mencari alasan lain dari 'kebetulan' ini. Kalau dia menemukan ponsel atau dompet berisi kartu identitas, mungkin bisa dibilang dia akan mencari pemiliknya. Tapi ini? Koin.

"Ya, nggak lah, Man. Mana ada! Sudah, bawa pulang aja. Lumayan lho buat nambah-nambahin makan," ujar Murni, nadanya meyakinkan. "Udah, yuk, pulang! Nanti kamu kerja apa kalau uangnya udah sebanyak ini?"

"Ya, tetap kerja lah, Mur! Emangnya kamu kira uang segini bisa buat hidup seumur hidup?" Siman mendengus, mencoba terlihat biasa saja, seolah penemuan uang ini tidak begitu aneh. "Tapi aku… aku harus tetap kerja juga. Mungkin nanti aku coba tanya Pak Haji lagi buat angkat beras. Gimana menurutmu?"

"Kalau uang segini buat anak-anak SMA sih, banyak banget ya. Bisa buat beli pulsa sebulan, Man!" Murni masih terheran-heran, takjub pada kantung koin itu. Lalu ia kembali melirik Siman. "Itu, kenapa jarimu tiba-tiba pakai cincin begitu, Siman?"

Siman tersentak. Pertanyaan itu, yang seharusnya sudah muncul sejak awal. Dia baru saja sadar.

"Ah, ini... ini..." Siman gugup. Ia tidak tahu bagaimana harus menceritakan soal nenek misterius yang tiba-tiba raib tanpa jejak itu kepada Murni. Murni bisa mengira dia sudah gila.

"Ini nemu?" Murni tertawa kecil. "Kok kayak baru dari batu begitu? Mahal nggak sih?"

Siman ragu. Bagaimana kalau dia ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?

"Tuh kan. Murni ngira itu juga kebetulan, Siman." Hatinya sedikit bergejolak. Dia mencengkeram erat kantung goni itu.

Dia tak berani menjawab.

"Mana ada, Murni." Siman menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia berusaha berpikir rasional. "Sudah lama itu. Ini… warisan dari nenekku." Itu bohong, jelas bukan. Ini bohong yang sangat halus. Lagipula, dia mana tahu warisan. "Kata ibu, jangan dilepas," sambungnya. Dia mulai melirik Murni, dia menelan ludah. Wajahnya memucat, dia merasakan sebuah firasat aneh.

"Wah, hebat dong! Baru tahu aku kalau Siman punya nenek punya warisan seindah ini!" sahut Murni riang. "Emang nenekmu siapa? Aku belum pernah tahu?"

Jantung Siman berdegup kencang, kali ini bukan karena takut nenek itu tahu. Bukan karena kecemasan nenek itu mengetahui kisah koin dan cincin, tapi lebih kepada perasaan Murni.

“Si Siman udah bisa bohong ya sekarang…” gumamnya pelan. Suara Siman bahkan tak bisa ia pahami. Ia tahu Murni akan sedih mendengar dia berbohong.

"Tapi... cincinmu ini kan baru, Siman. Baru kali ini aku lihat kamu pakai!" Murni tiba-tiba menyahut dengan intonasi meninggi. Matanya yang bulat kini menatap lurus ke arah mata Siman, seolah menuntut sebuah penjelasan jujur.

Darah Siman seolah berdesir dingin saat Murni menusuknya dengan pandangan. Mata itu, yang biasanya dipenuhi kehangatan dan rasa peduli, kini menyiratkan tanda tanya besar, bahkan sedikit kecurigaan. Akik biru laut di jari manisnya, yang tadinya terasa hangat, tiba-tiba memanas, seperti reaksi cermin terhadap kegugupan Siman yang semakin menjadi-jadi.

"I-itu... itu, Murni..." Siman terbata, otaknya berputar kencang mencari alasan lain yang masuk akal, yang tak akan menimbulkan kerutan di dahi Murni. "Sebenarnya... itu kado dari Bapak. Semalam waktu kamu sudah pulang."

Murni mengangkat sebelah alisnya. "Kado? Kok nggak bilang? Lagian aneh banget Bapak kamu beliin cincin begini. Biasanya Bapak ngasih makan ke kucing-kucing liar doang kalau pulang bawa makanan sisa. Ngapain beli cincin? Uangnya dari mana?" Nada suaranya sedikit melunak, namun matanya tetap waspada, mencoba membaca kebohongan dari wajah Siman yang kini benar-benar memucat.

“Bapak nemu, Murni,” Siman kembali berbohong, memejamkan mata dalam hati, tak sanggup menahan rasa bersalahnya pada Murni. “Kan kata Bapak, aku itu harus selalu pake warisan. Kalau nggak ada, aku nggak dapat kerja. Aku sih nggak percaya.” Siman melanjutkan aktingnya, memelankan suaranya, memegang erat cincin akik biru laut itu. Murni membuang pandangan ke arah kantung goni yang terisi penuh koin. Wajahnya tiba-tiba cemberut. Sebuah tatapan nanar kini datang dari Siman.

"Oh, ya sudah kalau kado." Murni akhirnya menyerah. Ada sedikit rasa kecewa di raut wajahnya, mungkin karena Siman yang biasanya jujur, kini terdengar aneh dan begitu gelagapan. "Pasti kamu belum minum jamu kuat makanya masih lemes gitu jawabnya." Murni tertawa garing. Tawa yang biasanya renyah itu, entah mengapa terdengar hambar pagi ini. "Yang penting kamu senang. Akikmu itu bagus banget, Siman."

Senyum yang Siman paksa sunggingkan tak sampai ke matanya. "Iya. Hehehe." Siman hanya bisa merutuk dirinya sendiri karena telah berbohong. Terlebih lagi, Murni terlihat murung. Dia menyayangi Murni seperti adiknya sendiri. Siman mengerti, tak seharusnya Murni mendengar dirinya bohong untuk hal seaneh ini. "Aku antar pulang saja ya, Mur? Biar nanti aku juga cepat-cepat bergegas kerja. Sudah jam segini."

***

Terpopuler

Comments

Abady Ehm

Abady Ehm

terlalu banyak omong kosong, malas ahc ...

2026-04-30

1

jaudi1 ag

jaudi1 ag

ceritanya gak asyik, simurni terlalu kepo, siman juga terlalu bodoh utk memberi alasan yg seharusnya dirahasiakan...
mals lanjutin bacanya, bikin pala sakit karna mc nya terlalu tolol...

2026-08-09

0

Hary

Hary

CERITA LONTONG...!!!
NGOCEH G JELAS...!!!

2026-07-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Detak Kereta Siman
2 Bab 2 Penggusuran
3 Bab 3 Masalah Siman
4 Bab 4 Misteri Akik Biru
5 Bab 5 Mata Penuh Kecurigaan
6 Bab 6 Denyut Rahasia Sang Akik
7 Bab 7 Upah yang Tak Terduga
8 Bab 8 Rumah Tua, Luka Lama
9 Bab 9 Kembali ke Sekolah
10 Bab 10 Harta Karun di Tumpukan Kardus
11 Bab 11 Bibit Pikiran Aneh
12 Bab 12 Impian yang Terkubur
13 Bab 13 Peluang Emas Sang Kuli Bengkel
14 Bab 14 Saatnya Sekarang
15 Bab 15 Antara Belajar dan Keajaiban
16 Bab 16 Kecemasan Kelulusan
17 Bab 17 Akik Biru Harapan
18 Bab 18 Antara Aroma Oli dan Parfum Mahal
19 Bab 19 Perjuangan Logo Siman
20 Bab 20 Di Antara Kejujuran dan Keajaiban"
21 Bab 21 Tekad Membara, Kelelahan Nyata
22 Bab 22 Bukan Sekadar Keberuntungan
23 Bab 23 Ancaman di Tangan Siman
24 Bab 24 Bukan Lagi Sekadar Kuli
25 Bab 25 Harapan Hampa
26 Bab 26 Murni di Ambang Pintu
27 Bab 27 Akal dan Intuisi
28 Bab 28 Kabar Baik Tersengal
29 Bab 29 Kejutan di Lantai Lima
30 Bab 30 Kontrak Perubahan Nasib
31 Bab 31 Pindah Rumah
32 Bab 32 Impian Siman Terwujud
33 Bab 33 Melampaui Ekspektasi
34 Bab 34 Terburu Mengejar Peluang
35 Bab 35 Di Balik Cerita, Ada Murni
36 Bab 36 Antara Dendam dan Desain
37 Bab 37 Raibnya Akik
38 Bab 38 Batas Kemampuan Siman
39 Bab 39 Cincin Biru Membeku
40 Bab 40 Mencari Sang Arsitek Ide
41 Bab 41 Kembang Api Murni
42 Bab 42 Langkah Raksasa di Kota Kembang
43 Bab 43 Sentuhan Gosip dan Kedatangan Pesaing
44 Bab 44 Kehilangan Akik untuk Sementara
45 Bab 45 Kebutuhan Akan Kepercayaan Diri yang Hakiki
46 Bab 46 Akik Kembali, Siman Berubah
47 Bab 47 Menyingkap Latar Belakang Akik (Misteri)
48 Bab 48 Jaringan Baru, Sosok Mentor Lain
49 Bab 49 Malam yang Mengubah Arah Takdir
50 Bab 50 Trauma Lama yang Terulang di Dunia Baru
51 Bab 51 Ancaman Terselubung: Jebakan Kompetitor
52 Bab 52 Dina: Terjebak Nostalgia Berkedok Penyesalan
53 Bab 53 Mitra Bisnis Asing dan Ekspansi Global
54 Bab 54 Satu Jam Menuju Panggung Dunia
55 Bab 55 Misteri Asal Akik yang Mendalam
56 Bab 56 Pencarian Jejak Pelindung Akik
57 Bab 57 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
58 Bab 58 Visi di Bawah Purnama
59 Bab 59 Balas Budi ke Lingkungan Lama
60 Bab 60 Pertaruhan Final
61 Bab 61 Konfrontasi Puncak
62 Bab 62 Harga Kemenangan
63 Bab 63 Panggilan yang Belum Terwujud
64 Bab 64 Kekuatan Berbagi
65 Bab 65 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
66 Bab 66 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
67 Bab 67 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
68 Bab 68 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
69 Bab 69 Anak Tepi Rel di Karpet Merah
70 Bab 70 Murni, Kekasih Sejati Siman
71 Bab 71 Pencarian Jejak Pelindung Akik
72 Bab 72 Panggilan Puncak Seribu Bintang
73 Bab 73 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
74 Bab 74 Proyek Impian: Balas Budi ke Lingkungan Lama
75 Bab 75 Kembalinya Dina: Pertaruhan Final
76 Bab 76 Konfrontasi Puncak
77 Bab 77 Harga Kemenangan
78 Bab 78 Kemenangan Sang Penakluk Diri
79 Bab 79 Visi Baru: Kekuatan Berbagi
80 Bab 80 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
81 Bab 81 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
82 Bab 82 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
83 Bab 83 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
84 Bab 84 Bukan Sekadar Keberuntungan
85 Bab 85 Murni, Kekasih Sejati Siman
86 Bab 86 Melangkah Maju Bersama
87 Bab 87 Senja di Tepi Keberuntungan
88 Bab 88 Getaran Baru di Balik Kesuksesan
89 Bab 89 Dina yang Bertekuk Lutut
90 Bab 90 Magnet yang Tak Terbendung
91 Bab 91 Kecurigaan Murni
92 Bab 92 Pertemuan dengan Sari
93 Bab 93 Resonansi Luka Lama
94 Bab 94 Teror Cinta dari Masa Lalu
95 Bab 95 Analisis Sesepuh: Anugerah atau Kutukan?
96 Bab 96 Siman di Ujung Tanduk
97 Bab 97 Munculnya Madam Elena
98 Bab 98 Ketegangan di Ruang Keluarga
99 Bab 99 Kesepakatan Pertama
100 Bab 100 Daftar 17 Hati
101 Bab 101 Di Balik Meja Madam Elena
102 Bab 102 Izin yang Mengguncang Jiwa
103 Bab 103 Syarat Mutlak untuk Para Pemuja
104 Bab 104 Perjanjian di Ruang Keluarga
105 Bab 105 Pernikahan Siri Dihadiri Murni
106 Bab 106 Manajemen Waktu Sang Penakluk
107 Bab 107 Malam Pertama dengan Dina
108 Bab 108 Kecemburuan yang Tersembunyi
109 Bab 109 Konflik Kecil Antar Istri
110 Bab 110 Keadilan di Atas Segalanya
111 Bab 111 Keadilan dalam Rasa dan Nilai
112 Bab 112 Energi Akik yang Stabil
113 Bab 113 Pertemuan di Ujung Dendam
114 Bab 114 Memori Luka Lama
115 Bab 115 Strategi Sang Ratu
116 Bab 116 Akik dan Hati yang Bergetar
117 Bab 117 Rekonsiliasi yang Pahit
118 Bab 118 Bukan Menjadi Koleksi
119 Bab 119 Gosip yang Merebak
120 Bab 120 Hadiah untuk Murni
121 Bab 121 Kehamilan Pertama
122 Bab 122 Dina Sang Pembela
123 Bab 123 Liburan Keluarga yang Tak Lazim
124 Bab 124 Krisis Kesehatan Siman
125 Bab 125 Pengakuan di Hadapan Orang Tua
126 Bab 126 Ujian Kesetiaan Istri Siri
127 Bab 127 Guncangan di Sangkar Emas
128 Bab 128 Murni dan Kekuatan Sabar
129 Bab 129 Pesta Perayaan Satu Tahun
130 Bab 130 Wanita ke-18 (Aurora)
131 Bab 131 Godaan Maya
132 Bab 132 Dunia Rahasia Maya
133 Bab 133 Sabotase Energi
134 Bab 134 Pertahanan Murni
135 Bab 135 Konfrontasi dengan Maya
136 Bab 136 Kembalinya Pesona
137 Bab 137 Dina Sang Martir
138 Bab 138 Penebusan Terakhir Dina
139 Bab 139 Pelajaran tentang Nafsu dan Cinta
140 Bab 140 Pembangunan Mansion Megah
141 Bab 141 Murni: Sang Ratu Abadi
142 Bab 142 Generasi Penerus Sang Penakluk
143 Bab 143 Ujian Keadilan di Masa Tua
144 Bab 144 Dina dan Penyesalan yang Tuntas
145 Bab 145 Filantropi Global Keluarga Siman
146 Bab 146 Cahaya yang Tak Lekang oleh Waktu
147 Bab 147 Rahasia Akik untuk Anak Laki-laki
Episodes

Updated 147 Episodes

1
Bab 1 Detak Kereta Siman
2
Bab 2 Penggusuran
3
Bab 3 Masalah Siman
4
Bab 4 Misteri Akik Biru
5
Bab 5 Mata Penuh Kecurigaan
6
Bab 6 Denyut Rahasia Sang Akik
7
Bab 7 Upah yang Tak Terduga
8
Bab 8 Rumah Tua, Luka Lama
9
Bab 9 Kembali ke Sekolah
10
Bab 10 Harta Karun di Tumpukan Kardus
11
Bab 11 Bibit Pikiran Aneh
12
Bab 12 Impian yang Terkubur
13
Bab 13 Peluang Emas Sang Kuli Bengkel
14
Bab 14 Saatnya Sekarang
15
Bab 15 Antara Belajar dan Keajaiban
16
Bab 16 Kecemasan Kelulusan
17
Bab 17 Akik Biru Harapan
18
Bab 18 Antara Aroma Oli dan Parfum Mahal
19
Bab 19 Perjuangan Logo Siman
20
Bab 20 Di Antara Kejujuran dan Keajaiban"
21
Bab 21 Tekad Membara, Kelelahan Nyata
22
Bab 22 Bukan Sekadar Keberuntungan
23
Bab 23 Ancaman di Tangan Siman
24
Bab 24 Bukan Lagi Sekadar Kuli
25
Bab 25 Harapan Hampa
26
Bab 26 Murni di Ambang Pintu
27
Bab 27 Akal dan Intuisi
28
Bab 28 Kabar Baik Tersengal
29
Bab 29 Kejutan di Lantai Lima
30
Bab 30 Kontrak Perubahan Nasib
31
Bab 31 Pindah Rumah
32
Bab 32 Impian Siman Terwujud
33
Bab 33 Melampaui Ekspektasi
34
Bab 34 Terburu Mengejar Peluang
35
Bab 35 Di Balik Cerita, Ada Murni
36
Bab 36 Antara Dendam dan Desain
37
Bab 37 Raibnya Akik
38
Bab 38 Batas Kemampuan Siman
39
Bab 39 Cincin Biru Membeku
40
Bab 40 Mencari Sang Arsitek Ide
41
Bab 41 Kembang Api Murni
42
Bab 42 Langkah Raksasa di Kota Kembang
43
Bab 43 Sentuhan Gosip dan Kedatangan Pesaing
44
Bab 44 Kehilangan Akik untuk Sementara
45
Bab 45 Kebutuhan Akan Kepercayaan Diri yang Hakiki
46
Bab 46 Akik Kembali, Siman Berubah
47
Bab 47 Menyingkap Latar Belakang Akik (Misteri)
48
Bab 48 Jaringan Baru, Sosok Mentor Lain
49
Bab 49 Malam yang Mengubah Arah Takdir
50
Bab 50 Trauma Lama yang Terulang di Dunia Baru
51
Bab 51 Ancaman Terselubung: Jebakan Kompetitor
52
Bab 52 Dina: Terjebak Nostalgia Berkedok Penyesalan
53
Bab 53 Mitra Bisnis Asing dan Ekspansi Global
54
Bab 54 Satu Jam Menuju Panggung Dunia
55
Bab 55 Misteri Asal Akik yang Mendalam
56
Bab 56 Pencarian Jejak Pelindung Akik
57
Bab 57 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
58
Bab 58 Visi di Bawah Purnama
59
Bab 59 Balas Budi ke Lingkungan Lama
60
Bab 60 Pertaruhan Final
61
Bab 61 Konfrontasi Puncak
62
Bab 62 Harga Kemenangan
63
Bab 63 Panggilan yang Belum Terwujud
64
Bab 64 Kekuatan Berbagi
65
Bab 65 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
66
Bab 66 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
67
Bab 67 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
68
Bab 68 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
69
Bab 69 Anak Tepi Rel di Karpet Merah
70
Bab 70 Murni, Kekasih Sejati Siman
71
Bab 71 Pencarian Jejak Pelindung Akik
72
Bab 72 Panggilan Puncak Seribu Bintang
73
Bab 73 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
74
Bab 74 Proyek Impian: Balas Budi ke Lingkungan Lama
75
Bab 75 Kembalinya Dina: Pertaruhan Final
76
Bab 76 Konfrontasi Puncak
77
Bab 77 Harga Kemenangan
78
Bab 78 Kemenangan Sang Penakluk Diri
79
Bab 79 Visi Baru: Kekuatan Berbagi
80
Bab 80 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
81
Bab 81 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
82
Bab 82 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
83
Bab 83 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
84
Bab 84 Bukan Sekadar Keberuntungan
85
Bab 85 Murni, Kekasih Sejati Siman
86
Bab 86 Melangkah Maju Bersama
87
Bab 87 Senja di Tepi Keberuntungan
88
Bab 88 Getaran Baru di Balik Kesuksesan
89
Bab 89 Dina yang Bertekuk Lutut
90
Bab 90 Magnet yang Tak Terbendung
91
Bab 91 Kecurigaan Murni
92
Bab 92 Pertemuan dengan Sari
93
Bab 93 Resonansi Luka Lama
94
Bab 94 Teror Cinta dari Masa Lalu
95
Bab 95 Analisis Sesepuh: Anugerah atau Kutukan?
96
Bab 96 Siman di Ujung Tanduk
97
Bab 97 Munculnya Madam Elena
98
Bab 98 Ketegangan di Ruang Keluarga
99
Bab 99 Kesepakatan Pertama
100
Bab 100 Daftar 17 Hati
101
Bab 101 Di Balik Meja Madam Elena
102
Bab 102 Izin yang Mengguncang Jiwa
103
Bab 103 Syarat Mutlak untuk Para Pemuja
104
Bab 104 Perjanjian di Ruang Keluarga
105
Bab 105 Pernikahan Siri Dihadiri Murni
106
Bab 106 Manajemen Waktu Sang Penakluk
107
Bab 107 Malam Pertama dengan Dina
108
Bab 108 Kecemburuan yang Tersembunyi
109
Bab 109 Konflik Kecil Antar Istri
110
Bab 110 Keadilan di Atas Segalanya
111
Bab 111 Keadilan dalam Rasa dan Nilai
112
Bab 112 Energi Akik yang Stabil
113
Bab 113 Pertemuan di Ujung Dendam
114
Bab 114 Memori Luka Lama
115
Bab 115 Strategi Sang Ratu
116
Bab 116 Akik dan Hati yang Bergetar
117
Bab 117 Rekonsiliasi yang Pahit
118
Bab 118 Bukan Menjadi Koleksi
119
Bab 119 Gosip yang Merebak
120
Bab 120 Hadiah untuk Murni
121
Bab 121 Kehamilan Pertama
122
Bab 122 Dina Sang Pembela
123
Bab 123 Liburan Keluarga yang Tak Lazim
124
Bab 124 Krisis Kesehatan Siman
125
Bab 125 Pengakuan di Hadapan Orang Tua
126
Bab 126 Ujian Kesetiaan Istri Siri
127
Bab 127 Guncangan di Sangkar Emas
128
Bab 128 Murni dan Kekuatan Sabar
129
Bab 129 Pesta Perayaan Satu Tahun
130
Bab 130 Wanita ke-18 (Aurora)
131
Bab 131 Godaan Maya
132
Bab 132 Dunia Rahasia Maya
133
Bab 133 Sabotase Energi
134
Bab 134 Pertahanan Murni
135
Bab 135 Konfrontasi dengan Maya
136
Bab 136 Kembalinya Pesona
137
Bab 137 Dina Sang Martir
138
Bab 138 Penebusan Terakhir Dina
139
Bab 139 Pelajaran tentang Nafsu dan Cinta
140
Bab 140 Pembangunan Mansion Megah
141
Bab 141 Murni: Sang Ratu Abadi
142
Bab 142 Generasi Penerus Sang Penakluk
143
Bab 143 Ujian Keadilan di Masa Tua
144
Bab 144 Dina dan Penyesalan yang Tuntas
145
Bab 145 Filantropi Global Keluarga Siman
146
Bab 146 Cahaya yang Tak Lekang oleh Waktu
147
Bab 147 Rahasia Akik untuk Anak Laki-laki

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!