SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Bab 1 Detak Kereta Siman

Deru gerbong yang menghunjam pagi memecah keheningan sebelum waktunya. Bising kereta api itu tak sekadar menggeram di udara; ia menggetarkan rumah papan reyot yang menjadi satu-satunya tempat Siman bersandar dari kerasnya dunia. Sebuah sensasi menggigil menyertai getaran lantaran kusen jendela tua ikut bergetar seirama dengan detak jantung Siman yang baru saja terbangun.

Asap diesel menyusup lewat celah-celah dinding kayu, meninggalkan residu hitam dan bau menyengat yang terasa akrab. Aroma debu yang tercampur embun pagi menyapu indra penciumannya, memadukan bau arang, sampah, dan sedikit bensin bekas. Selimut lusuh yang membalut tubuh Siman terasa pengap, dan peluh mulai menetes di pelipisnya meski sang mentari belum sepenuhnya bangkit.

Ia menyibak tirai usang yang berfungsi sebagai pembatas antara ruang tidur dan ruang tengah yang tak seberapa. Bapak dan Ibu Siman sudah terlihat bersiap di dapur mungil, dikelilingi perabotan seadanya yang sudah reot. Lampu teplok di tengah ruangan berkelip lemah, memancarkan cahaya kekuningan yang menambah kesan suram pada pagi hari itu.

"Siman sudah bangun, Nak?" Suara ibunya terdengar parau, sarat dengan kelelahan yang tak kunjung padam. Wanita itu masih sibuk menghidupkan kompor dengan sumbu yang berkedip-kedip, berusaha menggoreng tempe untuk sarapan sekaligus dijajakan. Minyak jelantah di wajan sudah terlihat pekat.

Siman mengangguk sembari menuang air dari bak kecil di pojok kamar mandi seadanya, membasuh wajahnya yang sembab. "Sudah, Bu. Suara kereta barusan kencang sekali. Apalagi, tadi aku mimpi naik kereta api yang kencang, takut." Ia memaksakan sebuah senyum kecil, mencoba meringankan beban pikiran ibunya.

Bapak Siman, dengan rambutnya yang mulai memutih dan punggung sedikit membungkuk, menoleh sejenak. "Ah, kereta mah begitu setiap hari, Man. Kamu sudah biasa harusnya. Atau kupingmu belum kotor?" Nada suaranya terdengar datar, penuh dengan kepasrahan pada realita yang tak berdaya diubah.

"Iya, Bu, Pak. Biasa. Hanya... terasa aneh saja pagi ini," balas Siman sambil menggaruk tengkuknya. Ia menarik sebuah bangku kayu yang hampir reyot, duduk di depan meja kecil yang selalu penuh dengan rempah dan sisa-sisa adonan gorengan. Ada gumpalan ambisi yang berputar di dadanya, seperti gulungan benang kusut yang terus berusaha mengurai diri.

"Kamu tuh aneh-aneh saja." Ibu Siman menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan beban yang jauh lebih berat dari gorengan yang ia pangku setiap hari. "Yang tidak aneh itu kalau kamu cari uang. Kita hari ini belum tahu mau makan apa siang nanti, Man."

"Ya, Allah, Bu, Siman 'kan juga berusaha. Kemarin aku sudah keliling, tanya-tanya di proyek bangunan, di bengkel juga. Tapi belum ada yang pas." Raut Siman berubah muram. Setiap penolakan adalah tusukan baru pada harga dirinya yang sudah luruh.

Ia memikirkan mimpi semalam, sebuah gambaran kota megah yang disinari lampu-lampu. Di sana, Siman berdiri tegak, mengenakan pakaian rapi, dan bukan lagi orang yang kotor penuh debu. Mungkinkah itu sebuah pertanda? Atau sekadar angan kosong dari pikiran yang terlalu lelah berjuang?

"Ngapain juga mikir yang tinggi-tinggi, Man. Wong kamu lulus SMP saja untung-untungan," ucap Bapak Siman sambil memungut beberapa helai benang kusut di lantai. Tangannya berlumuran arang dan oli, tanda pengabdian seumur hidupnya sebagai kuli serabutan yang kini lebih sering tidak ada kerja.

Siman menunduk, hatinya pedih mendengar kalimat bapaknya yang memang adalah fakta yang menyakitkan. Kata-kata itu lebih tajam daripada bising rel, lebih pengap daripada asap diesel. Ia ingin membalas, menjelaskan, namun tahu tak ada gunanya. Realita hidup mereka tak mempan dibantah dengan ilusi mimpi. Lagipula, bapaknya juga benar. Masa SMP-nya penuh ejekan, tidak ada yang ingin berteman, bahkan saat itu Dina adalah penyebab utama dirinya selalu dijadikan bahan ejekan oleh teman-temannya.

Namun, di dasar hatinya, ia menyimpan kerinduan. Kerinduan untuk sekadar tidak malu disebut nama, untuk bisa menatap orang lain tanpa rasa ciut. Dulu ia ingin sekali punya cita-cita jadi sarjana. Mimpi yang begitu utopis bagi seorang Siman yang terhimpit oleh kemiskinan dan bayangan penggusuran.

"Sudahlah, sana. Bantu ibu goreng tempe." Ibu Siman memotong lamunan Siman dengan suara yang lebih lembut. Wanita itu mengusap puncak kepala Siman, sentuhan yang tak selalu Siman rasakan, yang menandakan perhatian meskipun dengan bahasa yang keras. "Nanti sekalian keliling bawa jualannya. Jangan pulang sebelum habis."

"Iya, Bu." Siman segera mengambil alih wajan dari ibunya, api di kompor gas sederhana yang sering sekali ngadat membuat ibunya sedikit kewalahan. Kehidupan sehari-hari mereka memang adalah pertarungan. Untuk sebungkus nasi, untuk sekeping uang receh, mereka harus bertarung di jalanan yang berdebu.

Usai menuntaskan gorengan, Siman meraih wadah berisi dagangan. Udara pagi terasa semakin berat, digelung oleh polusi kota dan desah keluh kehidupan di permukiman kumuh. Sebuah mobil angkot melintas pelan di jalan tanah di depan rumah mereka, mengepulkan debu yang menyelimuti segala yang ada. Beberapa anak tetangga sudah mulai berlarian, sementara para orang dewasa tampak sudah pasrah menatap hari. Tak ada yang luput dari lingkaran kemiskinan.

"Hati-hati, Nak. Jaga baik-baik itu daganganmu." Ibu Siman berdiri di ambang pintu, matanya mengikuti langkah kaki Siman. Raut wajahnya penuh kecemasan. Mungkin khawatir jualannya tidak laku, atau anaknya ditipu. Apalagi wajah Siman gampang dibohongi. Mungkin ibunya tahu ada trauma itu.

Siman mengangguk tanpa menoleh, rasa pedih di dadanya kini berganti dengan determinasi tipis. Ia akan menjual semua gorengan ini. Lalu apa? Ia tidak tahu. Satu hal yang Siman yakini, takdir tidak akan menguntungkan orang sepertinya.

Ketika ia berbelok di tikungan rel yang memanjang, langkah Siman tiba-tiba terhenti. Sebuah truk besar terparkir tak jauh dari rumahnya, dikelilingi oleh beberapa pria berseragam berwarna abu-abu yang mirip petugas PJKA yang pernah berkeliling beberapa waktu lalu. Tangan mereka memegang alat ukur, mata mereka menelusuri setiap petak tanah di dekat rel. Seorang dari mereka memegang kertas, berbicara dengan intonasi tinggi yang sarat kekuasaan.

Jantung Siman berdegup kencang, perasaannya tiba-tiba dicekam ketakutan. Mereka, para petugas itu, kembali lagi. Apakah ancaman penggusuran itu sekarang benar-benar akan terealisasi?

Salah satu petugas berambut klimis dan berkacamata hitam tebal itu menatap ke arahnya. Bukan Siman, melainkan arah rel yang terbentang lurus di samping rumahnya, menunjuk sebuah titik. Dengan nada datar yang menusuk ke tulang sumsum, pria itu berseru, "Tandai daerah ini. Besok atau lusa, daerah sini harus segera dibersihkan dari apa pun yang mengganggu pemandangan, apalagi penghuni ilegal seperti mereka."

Kecemasan Siman mendidih dalam dadanya, rasa perih akibat kalimat si petugas melesak masuk ke lubuk hatinya. Suara-suara yang baru saja ia dengar bergaung seperti petir di pagi buta. Ancaman penggusuran. Mereka kembali datang. Keringat dingin membasahi pelipisnya, meski udara masih sejuk, bahkan menusuk kulit. Sekujur tubuhnya terasa kaku, terpaku menatap mobil truk dan para petugas yang bergerak seolah dunia akan berakhir dalam hitungan detik. Benaknya membayangkan puing-puing rumah mereka, impian kecil yang mungkin tak sempat tumbuh, dan air mata ibunya. Sebuah gambaran yang membuatnya ingin berteriak, namun suaranya tak kuasa keluar.

***

Terpopuler

Comments

Solardy Lardy

Solardy Lardy

lanjutkan man oh Siman

2026-08-19

0

aim pacina

aim pacina

💪🙏✌️

2026-06-20

0

Night Watcher

Night Watcher

coba ngintip...

2026-05-19

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Detak Kereta Siman
2 Bab 2 Penggusuran
3 Bab 3 Masalah Siman
4 Bab 4 Misteri Akik Biru
5 Bab 5 Mata Penuh Kecurigaan
6 Bab 6 Denyut Rahasia Sang Akik
7 Bab 7 Upah yang Tak Terduga
8 Bab 8 Rumah Tua, Luka Lama
9 Bab 9 Kembali ke Sekolah
10 Bab 10 Harta Karun di Tumpukan Kardus
11 Bab 11 Bibit Pikiran Aneh
12 Bab 12 Impian yang Terkubur
13 Bab 13 Peluang Emas Sang Kuli Bengkel
14 Bab 14 Saatnya Sekarang
15 Bab 15 Antara Belajar dan Keajaiban
16 Bab 16 Kecemasan Kelulusan
17 Bab 17 Akik Biru Harapan
18 Bab 18 Antara Aroma Oli dan Parfum Mahal
19 Bab 19 Perjuangan Logo Siman
20 Bab 20 Di Antara Kejujuran dan Keajaiban"
21 Bab 21 Tekad Membara, Kelelahan Nyata
22 Bab 22 Bukan Sekadar Keberuntungan
23 Bab 23 Ancaman di Tangan Siman
24 Bab 24 Bukan Lagi Sekadar Kuli
25 Bab 25 Harapan Hampa
26 Bab 26 Murni di Ambang Pintu
27 Bab 27 Akal dan Intuisi
28 Bab 28 Kabar Baik Tersengal
29 Bab 29 Kejutan di Lantai Lima
30 Bab 30 Kontrak Perubahan Nasib
31 Bab 31 Pindah Rumah
32 Bab 32 Impian Siman Terwujud
33 Bab 33 Melampaui Ekspektasi
34 Bab 34 Terburu Mengejar Peluang
35 Bab 35 Di Balik Cerita, Ada Murni
36 Bab 36 Antara Dendam dan Desain
37 Bab 37 Raibnya Akik
38 Bab 38 Batas Kemampuan Siman
39 Bab 39 Cincin Biru Membeku
40 Bab 40 Mencari Sang Arsitek Ide
41 Bab 41 Kembang Api Murni
42 Bab 42 Langkah Raksasa di Kota Kembang
43 Bab 43 Sentuhan Gosip dan Kedatangan Pesaing
44 Bab 44 Kehilangan Akik untuk Sementara
45 Bab 45 Kebutuhan Akan Kepercayaan Diri yang Hakiki
46 Bab 46 Akik Kembali, Siman Berubah
47 Bab 47 Menyingkap Latar Belakang Akik (Misteri)
48 Bab 48 Jaringan Baru, Sosok Mentor Lain
49 Bab 49 Malam yang Mengubah Arah Takdir
50 Bab 50 Trauma Lama yang Terulang di Dunia Baru
51 Bab 51 Ancaman Terselubung: Jebakan Kompetitor
52 Bab 52 Dina: Terjebak Nostalgia Berkedok Penyesalan
53 Bab 53 Mitra Bisnis Asing dan Ekspansi Global
54 Bab 54 Satu Jam Menuju Panggung Dunia
55 Bab 55 Misteri Asal Akik yang Mendalam
56 Bab 56 Pencarian Jejak Pelindung Akik
57 Bab 57 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
58 Bab 58 Visi di Bawah Purnama
59 Bab 59 Balas Budi ke Lingkungan Lama
60 Bab 60 Pertaruhan Final
61 Bab 61 Konfrontasi Puncak
62 Bab 62 Harga Kemenangan
63 Bab 63 Panggilan yang Belum Terwujud
64 Bab 64 Kekuatan Berbagi
65 Bab 65 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
66 Bab 66 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
67 Bab 67 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
68 Bab 68 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
69 Bab 69 Anak Tepi Rel di Karpet Merah
70 Bab 70 Murni, Kekasih Sejati Siman
71 Bab 71 Pencarian Jejak Pelindung Akik
72 Bab 72 Panggilan Puncak Seribu Bintang
73 Bab 73 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
74 Bab 74 Proyek Impian: Balas Budi ke Lingkungan Lama
75 Bab 75 Kembalinya Dina: Pertaruhan Final
76 Bab 76 Konfrontasi Puncak
77 Bab 77 Harga Kemenangan
78 Bab 78 Kemenangan Sang Penakluk Diri
79 Bab 79 Visi Baru: Kekuatan Berbagi
80 Bab 80 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
81 Bab 81 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
82 Bab 82 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
83 Bab 83 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
84 Bab 84 Bukan Sekadar Keberuntungan
85 Bab 85 Murni, Kekasih Sejati Siman
86 Bab 86 Melangkah Maju Bersama
87 Bab 87 Senja di Tepi Keberuntungan
88 Bab 88 Getaran Baru di Balik Kesuksesan
89 Bab 89 Dina yang Bertekuk Lutut
90 Bab 90 Magnet yang Tak Terbendung
91 Bab 91 Kecurigaan Murni
92 Bab 92 Pertemuan dengan Sari
93 Bab 93 Resonansi Luka Lama
94 Bab 94 Teror Cinta dari Masa Lalu
95 Bab 95 Analisis Sesepuh: Anugerah atau Kutukan?
96 Bab 96 Siman di Ujung Tanduk
97 Bab 97 Munculnya Madam Elena
98 Bab 98 Ketegangan di Ruang Keluarga
99 Bab 99 Kesepakatan Pertama
100 Bab 100 Daftar 17 Hati
101 Bab 101 Di Balik Meja Madam Elena
102 Bab 102 Izin yang Mengguncang Jiwa
103 Bab 103 Syarat Mutlak untuk Para Pemuja
104 Bab 104 Perjanjian di Ruang Keluarga
105 Bab 105 Pernikahan Siri Dihadiri Murni
106 Bab 106 Manajemen Waktu Sang Penakluk
107 Bab 107 Malam Pertama dengan Dina
108 Bab 108 Kecemburuan yang Tersembunyi
109 Bab 109 Konflik Kecil Antar Istri
110 Bab 110 Keadilan di Atas Segalanya
111 Bab 111 Keadilan dalam Rasa dan Nilai
112 Bab 112 Energi Akik yang Stabil
113 Bab 113 Pertemuan di Ujung Dendam
114 Bab 114 Memori Luka Lama
115 Bab 115 Strategi Sang Ratu
116 Bab 116 Akik dan Hati yang Bergetar
117 Bab 117 Rekonsiliasi yang Pahit
118 Bab 118 Bukan Menjadi Koleksi
119 Bab 119 Gosip yang Merebak
120 Bab 120 Hadiah untuk Murni
121 Bab 121 Kehamilan Pertama
122 Bab 122 Dina Sang Pembela
123 Bab 123 Liburan Keluarga yang Tak Lazim
124 Bab 124 Krisis Kesehatan Siman
125 Bab 125 Pengakuan di Hadapan Orang Tua
126 Bab 126 Ujian Kesetiaan Istri Siri
127 Bab 127 Guncangan di Sangkar Emas
128 Bab 128 Murni dan Kekuatan Sabar
129 Bab 129 Pesta Perayaan Satu Tahun
130 Bab 130 Wanita ke-18 (Aurora)
131 Bab 131 Godaan Maya
132 Bab 132 Dunia Rahasia Maya
133 Bab 133 Sabotase Energi
134 Bab 134 Pertahanan Murni
135 Bab 135 Konfrontasi dengan Maya
136 Bab 136 Kembalinya Pesona
137 Bab 137 Dina Sang Martir
138 Bab 138 Penebusan Terakhir Dina
139 Bab 139 Pelajaran tentang Nafsu dan Cinta
140 Bab 140 Pembangunan Mansion Megah
141 Bab 141 Murni: Sang Ratu Abadi
142 Bab 142 Generasi Penerus Sang Penakluk
143 Bab 143 Ujian Keadilan di Masa Tua
144 Bab 144 Dina dan Penyesalan yang Tuntas
145 Bab 145 Filantropi Global Keluarga Siman
146 Bab 146 Cahaya yang Tak Lekang oleh Waktu
147 Bab 147 Rahasia Akik untuk Anak Laki-laki
Episodes

Updated 147 Episodes

1
Bab 1 Detak Kereta Siman
2
Bab 2 Penggusuran
3
Bab 3 Masalah Siman
4
Bab 4 Misteri Akik Biru
5
Bab 5 Mata Penuh Kecurigaan
6
Bab 6 Denyut Rahasia Sang Akik
7
Bab 7 Upah yang Tak Terduga
8
Bab 8 Rumah Tua, Luka Lama
9
Bab 9 Kembali ke Sekolah
10
Bab 10 Harta Karun di Tumpukan Kardus
11
Bab 11 Bibit Pikiran Aneh
12
Bab 12 Impian yang Terkubur
13
Bab 13 Peluang Emas Sang Kuli Bengkel
14
Bab 14 Saatnya Sekarang
15
Bab 15 Antara Belajar dan Keajaiban
16
Bab 16 Kecemasan Kelulusan
17
Bab 17 Akik Biru Harapan
18
Bab 18 Antara Aroma Oli dan Parfum Mahal
19
Bab 19 Perjuangan Logo Siman
20
Bab 20 Di Antara Kejujuran dan Keajaiban"
21
Bab 21 Tekad Membara, Kelelahan Nyata
22
Bab 22 Bukan Sekadar Keberuntungan
23
Bab 23 Ancaman di Tangan Siman
24
Bab 24 Bukan Lagi Sekadar Kuli
25
Bab 25 Harapan Hampa
26
Bab 26 Murni di Ambang Pintu
27
Bab 27 Akal dan Intuisi
28
Bab 28 Kabar Baik Tersengal
29
Bab 29 Kejutan di Lantai Lima
30
Bab 30 Kontrak Perubahan Nasib
31
Bab 31 Pindah Rumah
32
Bab 32 Impian Siman Terwujud
33
Bab 33 Melampaui Ekspektasi
34
Bab 34 Terburu Mengejar Peluang
35
Bab 35 Di Balik Cerita, Ada Murni
36
Bab 36 Antara Dendam dan Desain
37
Bab 37 Raibnya Akik
38
Bab 38 Batas Kemampuan Siman
39
Bab 39 Cincin Biru Membeku
40
Bab 40 Mencari Sang Arsitek Ide
41
Bab 41 Kembang Api Murni
42
Bab 42 Langkah Raksasa di Kota Kembang
43
Bab 43 Sentuhan Gosip dan Kedatangan Pesaing
44
Bab 44 Kehilangan Akik untuk Sementara
45
Bab 45 Kebutuhan Akan Kepercayaan Diri yang Hakiki
46
Bab 46 Akik Kembali, Siman Berubah
47
Bab 47 Menyingkap Latar Belakang Akik (Misteri)
48
Bab 48 Jaringan Baru, Sosok Mentor Lain
49
Bab 49 Malam yang Mengubah Arah Takdir
50
Bab 50 Trauma Lama yang Terulang di Dunia Baru
51
Bab 51 Ancaman Terselubung: Jebakan Kompetitor
52
Bab 52 Dina: Terjebak Nostalgia Berkedok Penyesalan
53
Bab 53 Mitra Bisnis Asing dan Ekspansi Global
54
Bab 54 Satu Jam Menuju Panggung Dunia
55
Bab 55 Misteri Asal Akik yang Mendalam
56
Bab 56 Pencarian Jejak Pelindung Akik
57
Bab 57 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
58
Bab 58 Visi di Bawah Purnama
59
Bab 59 Balas Budi ke Lingkungan Lama
60
Bab 60 Pertaruhan Final
61
Bab 61 Konfrontasi Puncak
62
Bab 62 Harga Kemenangan
63
Bab 63 Panggilan yang Belum Terwujud
64
Bab 64 Kekuatan Berbagi
65
Bab 65 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
66
Bab 66 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
67
Bab 67 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
68
Bab 68 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
69
Bab 69 Anak Tepi Rel di Karpet Merah
70
Bab 70 Murni, Kekasih Sejati Siman
71
Bab 71 Pencarian Jejak Pelindung Akik
72
Bab 72 Panggilan Puncak Seribu Bintang
73
Bab 73 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
74
Bab 74 Proyek Impian: Balas Budi ke Lingkungan Lama
75
Bab 75 Kembalinya Dina: Pertaruhan Final
76
Bab 76 Konfrontasi Puncak
77
Bab 77 Harga Kemenangan
78
Bab 78 Kemenangan Sang Penakluk Diri
79
Bab 79 Visi Baru: Kekuatan Berbagi
80
Bab 80 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
81
Bab 81 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
82
Bab 82 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
83
Bab 83 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
84
Bab 84 Bukan Sekadar Keberuntungan
85
Bab 85 Murni, Kekasih Sejati Siman
86
Bab 86 Melangkah Maju Bersama
87
Bab 87 Senja di Tepi Keberuntungan
88
Bab 88 Getaran Baru di Balik Kesuksesan
89
Bab 89 Dina yang Bertekuk Lutut
90
Bab 90 Magnet yang Tak Terbendung
91
Bab 91 Kecurigaan Murni
92
Bab 92 Pertemuan dengan Sari
93
Bab 93 Resonansi Luka Lama
94
Bab 94 Teror Cinta dari Masa Lalu
95
Bab 95 Analisis Sesepuh: Anugerah atau Kutukan?
96
Bab 96 Siman di Ujung Tanduk
97
Bab 97 Munculnya Madam Elena
98
Bab 98 Ketegangan di Ruang Keluarga
99
Bab 99 Kesepakatan Pertama
100
Bab 100 Daftar 17 Hati
101
Bab 101 Di Balik Meja Madam Elena
102
Bab 102 Izin yang Mengguncang Jiwa
103
Bab 103 Syarat Mutlak untuk Para Pemuja
104
Bab 104 Perjanjian di Ruang Keluarga
105
Bab 105 Pernikahan Siri Dihadiri Murni
106
Bab 106 Manajemen Waktu Sang Penakluk
107
Bab 107 Malam Pertama dengan Dina
108
Bab 108 Kecemburuan yang Tersembunyi
109
Bab 109 Konflik Kecil Antar Istri
110
Bab 110 Keadilan di Atas Segalanya
111
Bab 111 Keadilan dalam Rasa dan Nilai
112
Bab 112 Energi Akik yang Stabil
113
Bab 113 Pertemuan di Ujung Dendam
114
Bab 114 Memori Luka Lama
115
Bab 115 Strategi Sang Ratu
116
Bab 116 Akik dan Hati yang Bergetar
117
Bab 117 Rekonsiliasi yang Pahit
118
Bab 118 Bukan Menjadi Koleksi
119
Bab 119 Gosip yang Merebak
120
Bab 120 Hadiah untuk Murni
121
Bab 121 Kehamilan Pertama
122
Bab 122 Dina Sang Pembela
123
Bab 123 Liburan Keluarga yang Tak Lazim
124
Bab 124 Krisis Kesehatan Siman
125
Bab 125 Pengakuan di Hadapan Orang Tua
126
Bab 126 Ujian Kesetiaan Istri Siri
127
Bab 127 Guncangan di Sangkar Emas
128
Bab 128 Murni dan Kekuatan Sabar
129
Bab 129 Pesta Perayaan Satu Tahun
130
Bab 130 Wanita ke-18 (Aurora)
131
Bab 131 Godaan Maya
132
Bab 132 Dunia Rahasia Maya
133
Bab 133 Sabotase Energi
134
Bab 134 Pertahanan Murni
135
Bab 135 Konfrontasi dengan Maya
136
Bab 136 Kembalinya Pesona
137
Bab 137 Dina Sang Martir
138
Bab 138 Penebusan Terakhir Dina
139
Bab 139 Pelajaran tentang Nafsu dan Cinta
140
Bab 140 Pembangunan Mansion Megah
141
Bab 141 Murni: Sang Ratu Abadi
142
Bab 142 Generasi Penerus Sang Penakluk
143
Bab 143 Ujian Keadilan di Masa Tua
144
Bab 144 Dina dan Penyesalan yang Tuntas
145
Bab 145 Filantropi Global Keluarga Siman
146
Bab 146 Cahaya yang Tak Lekang oleh Waktu
147
Bab 147 Rahasia Akik untuk Anak Laki-laki

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!