Bab 3 Masalah Siman

Pipi Siman terasa panas. Acara lingkungan? Dengan orang-orang? Setelah teringat lagi betapa Dina menghinanya. Siman tidak ingin dilihat lagi oleh warga, apa pun kondisinya. Siman khawatir Dina berada di acara lingkungan tersebut.

"Aku... anu... sepertinya nggak bisa, Murni." Siman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia benci menolak, apalagi menolak ajakan Murni, satu-satunya sahabatnya.

"Lah, kenapa? Tadi pas subuh Bapak kamu bilang bisa kok," ujar Murni, keningnya berkerut. Senyumnya pudar sedikit, digantikan raut bingung. "Bukannya kemarin kamu semangat, Man? Kan ada banyak anak muda juga di sana."

"Mmm, bukan begitu. Aku harus bantuin Ibu di rumah. Banyak cucian yang harus diurus," bohong Siman, merasakan sakit hati pada diri sendiri atas kebohongan itu.

Murni menatapnya curiga, namun memilih untuk tidak banyak bertanya. "Ya sudah, deh, kalau gitu." Dia menghela napas, lantas mengangkat kantong plastiknya yang berisi kebutuhan pokok keluarganya. "Padahal kata Bu RT ada hadiah menarik buat yang rajin gotong royong, lho. Tapi, kalau kamu nggak bisa ya sudah."

"Bukan rezekiku, Murni," Siman berkata datar. Keberuntungan seperti itu tidak pernah berpihak padanya.

"Dulu memang kamu nggak suka acara kayak gitu, ya. Selalu di rumah saja. Sendirian. Kan sekarang sudah beda, Man." Murni memandangnya lagi, sorot matanya yang hangat kini sedikit diselimuti gurat kekhawatiran yang mendalam.

"Kalau sudah habis dagangannya, nanti pulang ya? Jangan nyari kesibukan lain."

*

Langit mulai bergemuruh ketika rintik hujan pertama menetes di lengan Siman. Senja baru saja menjulurkan bayangnya, namun suasana kota sudah tampak meredup. Ia mempercepat langkah, menyusuri jalanan becek di pinggir rel, menuju rumah reyotnya. Dagangannya memang sudah ludes, tetapi rasa lelah di punggung dan hatinya terasa berlipat ganda, seperti ditimbuni masalah bertumpuk. Bukan cuma masalah perut hari ini, melainkan masalah mentalnya yang kembali tergoncang dengan ancaman penggusuran itu, apalagi dengan tatapan Murni yang dipenuhi kekhawatiran itu.

Ia sampai di depan rumah. Aroma tanah basah dan basingan kereta yang mulai meredup mengisi indra penciumannya. Saat kakinya hampir menginjak ambang pintu rumahnya, sebuah desahan pelan terdengar, disusul suara benda jatuh yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk menarik perhatiannya.

Siman menghentikan langkah, memicingkan mata ke arah gundukan sampah yang memang tidak jauh dari teras rumahnya, di antara bayang-bayang pohon asem tua. Sebuah bayangan samar tergeletak di sana, tertutup bayangan senja yang mulai gelap.

"Siapa itu?" seru Siman, rasa lelahnya sesaat terlupakan, terganti oleh keheranan.

Hanya gumaman lemah yang menjawabnya. Siman maju selangkah. Matanya membesar. Seorang nenek tua berjongkok, tangannya menekan lutut. Tampaknya ia baru saja terjatuh. Bajunya basah dan sebagian tubuhnya yang kurus tampak menggigil diterpa angin sore dan rintik hujan.

Siman menghampiri dengan hati-hati. Wajah nenek itu berkerut, dengan rambut putih acak-acakan. Matanya yang gelap, menatap Siman dengan sorot yang entah mengapa, terasa aneh, begitu dalam seolah dapat melihat hingga relung hatinya. Aroma rempah dan tanah basah menguar dari tubuh nenek itu.

"Nenek baik-baik saja?" tanya Siman, membantu nenek itu berdiri dengan perlahan. Tubuhnya ringan dan terasa rapuh dalam dekapannya. Siman membimbingnya menuju teras rumah, menjauh dari basahnya rintik hujan yang kini mulai membesar.

"Saya… Saya cuma terpleset sedikit, Nak," jawab nenek itu, suaranya parau. Namun ada semacam senyuman tipis tersungging di bibirnya. Senyum yang menyiratkan kedamaian. "Kamu anak yang baik, menolong orang tua seperti saya."

"Cuma nolong aja kok, Nek." Siman merasa canggung. Ia menyuruh nenek itu duduk di bangku reyot yang ada di teras. Siman membersihkan bagian pinggir kursi. Lalu duduk sedikit berjarak di sisi nenek itu. Hujan rintik-rintik pun mulai bertamu. "Dari mana, Nek? Hujan-hujan begini malah sendirian."

"Sudah keliling mencari banyak hal, Nak," sahut nenek itu. Matanya menerawang jauh, melewati gumpalan asap kereta yang berhenti sesaat, memandang hamparan permukiman padat di seberang rel. Lalu pandangannya kembali menancap ke wajah Siman.

"Begini, Nak. Saya merasa berutang budi dengan kebaikanmu ini," lanjutnya, tiba-tiba meraih tangan kanan Siman yang terkulai lemas di atas paha. Tangan nenek itu terasa dingin dan berkerut. "Mungkin kamu akan menganggap saya aneh, tapi saya tidak punya uang untuk membalas budimu ini. Hanya benda ini yang bisa saya berikan kepadamu."

Nenek itu membuka kepalan tangannya yang berkerut. Siman mengerutkan dahi. Di telapak tangan yang telah banyak menahan asam garam kehidupan itu, sebuah benda kecil berwarna biru berkilauan. Warnanya seperti biru laut jernih yang memikat mata, dan di dalamnya seolah ada cahaya samar yang menari. Bentuknya lonjong sempurna, dan ketika dipegang, terasa dingin namun dengan denyutan samar, seperti jantung yang berdetak pelan.

"Ini… apa, Nek?" tanya Siman, keningnya berkerut. Ia mengambil benda itu dengan perlahan. Terasa begitu halus, begitu eksotis. Sebuah cincin dengan mata batu yang sangat indah, berbeda dengan akik-akik murahan yang biasa ia lihat dijajakan di pasar.

"Itu akik biru laut, Nak," jawab nenek itu, senyumnya semakin lebar. "Jaga baik-baik benda itu, jangan sampai lepas dari tanganmu. Akik itu tahu pemilik sejatinya, dan dia akan menuntun pemiliknya. Bukan untuk jalan pintas, tapi sebagai penuntun untuk melewati badai dan terowongan takdir. Dia adalah pusaka yang akan membimbingmu pada perjalanan hidupmu, memberikan jawaban yang tak dapat kau temukan sendirian."

Siman membalik-balik cincin akik itu di telapak tangannya. Matanya tertuju pada guratan misterius di permukaan batu yang belum pernah ia lihat. Apa ini cuma batu biasa? Tapi kok rasanya lain? Dari sorot mata Nenek yang dalam itu. Perasaan Siman, seperti biasa, meremehkan benda ini, menganggapnya tidak lebih dari akal-akalan orang tua untuk menutupi tidak adanya uang sebagai rasa balas budi.

"Kalau nggak ada duit nggak apa-apa, Nek. Saya nggak berharap kok," sahut Siman, canggung. "Simpan aja benda ini, Nek. Kayaknya lebih berharga kalau Nenek yang pegang."

"Tidak, Nak. Benda ini bukan untuk disimpan selamanya. Benda ini tahu ke mana dia harus pergi." Nenek itu kembali menatapnya, dengan tatapan yang memaksa Siman memegang akik itu erat-erat. "Kebaikan yang kamu berikan tadi bukan sekadar menolong seorang tua jatuh, Siman. Itu… adalah jejak awal takdir yang memilihmu."

Siman menelan ludah. Bagaimana nenek ini tahu namanya? Ia tidak pernah menyebutkan namanya sejak tadi. Lagi-lagi perasaan tidak nyaman menyergapnya.

"Ah, Nak, tenggorokan saya rasanya kering sekali," potong nenek itu, seolah membaca keraguan di wajah Siman. Ia berdeham perlahan. "Bisakah kamu berikan saya segelas air putih?"

Permintaan itu mengalihkan Siman dari segala keanehan yang baru saja terjadi. "Tentu, Nek! Tunggu sebentar, ya. Akan saya ambilkan."

***

Episodes
1 Bab 1 Detak Kereta Siman
2 Bab 2 Penggusuran
3 Bab 3 Masalah Siman
4 Bab 4 Misteri Akik Biru
5 Bab 5 Mata Penuh Kecurigaan
6 Bab 6 Denyut Rahasia Sang Akik
7 Bab 7 Upah yang Tak Terduga
8 Bab 8 Rumah Tua, Luka Lama
9 Bab 9 Kembali ke Sekolah
10 Bab 10 Harta Karun di Tumpukan Kardus
11 Bab 11 Bibit Pikiran Aneh
12 Bab 12 Impian yang Terkubur
13 Bab 13 Peluang Emas Sang Kuli Bengkel
14 Bab 14 Saatnya Sekarang
15 Bab 15 Antara Belajar dan Keajaiban
16 Bab 16 Kecemasan Kelulusan
17 Bab 17 Akik Biru Harapan
18 Bab 18 Antara Aroma Oli dan Parfum Mahal
19 Bab 19 Perjuangan Logo Siman
20 Bab 20 Di Antara Kejujuran dan Keajaiban"
21 Bab 21 Tekad Membara, Kelelahan Nyata
22 Bab 22 Bukan Sekadar Keberuntungan
23 Bab 23 Ancaman di Tangan Siman
24 Bab 24 Bukan Lagi Sekadar Kuli
25 Bab 25 Harapan Hampa
26 Bab 26 Murni di Ambang Pintu
27 Bab 27 Akal dan Intuisi
28 Bab 28 Kabar Baik Tersengal
29 Bab 29 Kejutan di Lantai Lima
30 Bab 30 Kontrak Perubahan Nasib
31 Bab 31 Pindah Rumah
32 Bab 32 Impian Siman Terwujud
33 Bab 33 Melampaui Ekspektasi
34 Bab 34 Terburu Mengejar Peluang
35 Bab 35 Di Balik Cerita, Ada Murni
36 Bab 36 Antara Dendam dan Desain
37 Bab 37 Raibnya Akik
38 Bab 38 Batas Kemampuan Siman
39 Bab 39 Cincin Biru Membeku
40 Bab 40 Mencari Sang Arsitek Ide
41 Bab 41 Kembang Api Murni
42 Bab 42 Langkah Raksasa di Kota Kembang
43 Bab 43 Sentuhan Gosip dan Kedatangan Pesaing
44 Bab 44 Kehilangan Akik untuk Sementara
45 Bab 45 Kebutuhan Akan Kepercayaan Diri yang Hakiki
46 Bab 46 Akik Kembali, Siman Berubah
47 Bab 47 Menyingkap Latar Belakang Akik (Misteri)
48 Bab 48 Jaringan Baru, Sosok Mentor Lain
49 Bab 49 Malam yang Mengubah Arah Takdir
50 Bab 50 Trauma Lama yang Terulang di Dunia Baru
51 Bab 51 Ancaman Terselubung: Jebakan Kompetitor
52 Bab 52 Dina: Terjebak Nostalgia Berkedok Penyesalan
53 Bab 53 Mitra Bisnis Asing dan Ekspansi Global
54 Bab 54 Satu Jam Menuju Panggung Dunia
55 Bab 55 Misteri Asal Akik yang Mendalam
56 Bab 56 Pencarian Jejak Pelindung Akik
57 Bab 57 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
58 Bab 58 Visi di Bawah Purnama
59 Bab 59 Balas Budi ke Lingkungan Lama
60 Bab 60 Pertaruhan Final
61 Bab 61 Konfrontasi Puncak
62 Bab 62 Harga Kemenangan
63 Bab 63 Panggilan yang Belum Terwujud
64 Bab 64 Kekuatan Berbagi
65 Bab 65 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
66 Bab 66 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
67 Bab 67 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
68 Bab 68 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
69 Bab 69 Anak Tepi Rel di Karpet Merah
70 Bab 70 Murni, Kekasih Sejati Siman
71 Bab 71 Pencarian Jejak Pelindung Akik
72 Bab 72 Panggilan Puncak Seribu Bintang
73 Bab 73 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
74 Bab 74 Proyek Impian: Balas Budi ke Lingkungan Lama
75 Bab 75 Kembalinya Dina: Pertaruhan Final
76 Bab 76 Konfrontasi Puncak
77 Bab 77 Harga Kemenangan
78 Bab 78 Kemenangan Sang Penakluk Diri
79 Bab 79 Visi Baru: Kekuatan Berbagi
80 Bab 80 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
81 Bab 81 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
82 Bab 82 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
83 Bab 83 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
84 Bab 84 Bukan Sekadar Keberuntungan
85 Bab 85 Murni, Kekasih Sejati Siman
86 Bab 86 Melangkah Maju Bersama
87 Bab 87 Senja di Tepi Keberuntungan
88 Bab 88 Getaran Baru di Balik Kesuksesan
89 Bab 89 Dina yang Bertekuk Lutut
90 Bab 90 Magnet yang Tak Terbendung
91 Bab 91 Kecurigaan Murni
92 Bab 92 Pertemuan dengan Sari
93 Bab 93 Resonansi Luka Lama
94 Bab 94 Teror Cinta dari Masa Lalu
95 Bab 95 Analisis Sesepuh: Anugerah atau Kutukan?
96 Bab 96 Siman di Ujung Tanduk
97 Bab 97 Munculnya Madam Elena
98 Bab 98 Ketegangan di Ruang Keluarga
99 Bab 99 Kesepakatan Pertama
100 Bab 100 Daftar 17 Hati
101 Bab 101 Di Balik Meja Madam Elena
102 Bab 102 Izin yang Mengguncang Jiwa
103 Bab 103 Syarat Mutlak untuk Para Pemuja
104 Bab 104 Perjanjian di Ruang Keluarga
105 Bab 105 Pernikahan Siri Dihadiri Murni
106 Bab 106 Manajemen Waktu Sang Penakluk
107 Bab 107 Malam Pertama dengan Dina
108 Bab 108 Kecemburuan yang Tersembunyi
109 Bab 109 Konflik Kecil Antar Istri
110 Bab 110 Keadilan di Atas Segalanya
111 Bab 111 Keadilan dalam Rasa dan Nilai
112 Bab 112 Energi Akik yang Stabil
113 Bab 113 Pertemuan di Ujung Dendam
114 Bab 114 Memori Luka Lama
115 Bab 115 Strategi Sang Ratu
116 Bab 116 Akik dan Hati yang Bergetar
117 Bab 117 Rekonsiliasi yang Pahit
118 Bab 118 Bukan Menjadi Koleksi
119 Bab 119 Gosip yang Merebak
120 Bab 120 Hadiah untuk Murni
121 Bab 121 Kehamilan Pertama
122 Bab 122 Dina Sang Pembela
123 Bab 123 Liburan Keluarga yang Tak Lazim
124 Bab 124 Krisis Kesehatan Siman
125 Bab 125 Pengakuan di Hadapan Orang Tua
126 Bab 126 Ujian Kesetiaan Istri Siri
127 Bab 127 Guncangan di Sangkar Emas
128 Bab 128 Murni dan Kekuatan Sabar
129 Bab 129 Pesta Perayaan Satu Tahun
130 Bab 130 Wanita ke-18 (Aurora)
131 Bab 131 Godaan Maya
132 Bab 132 Dunia Rahasia Maya
133 Bab 133 Sabotase Energi
134 Bab 134 Pertahanan Murni
135 Bab 135 Konfrontasi dengan Maya
136 Bab 136 Kembalinya Pesona
137 Bab 137 Dina Sang Martir
138 Bab 138 Penebusan Terakhir Dina
139 Bab 139 Pelajaran tentang Nafsu dan Cinta
140 Bab 140 Pembangunan Mansion Megah
141 Bab 141 Murni: Sang Ratu Abadi
142 Bab 142 Generasi Penerus Sang Penakluk
143 Bab 143 Ujian Keadilan di Masa Tua
144 Bab 144 Dina dan Penyesalan yang Tuntas
145 Bab 145 Filantropi Global Keluarga Siman
146 Bab 146 Cahaya yang Tak Lekang oleh Waktu
147 Bab 147 Rahasia Akik untuk Anak Laki-laki
Episodes

Updated 147 Episodes

1
Bab 1 Detak Kereta Siman
2
Bab 2 Penggusuran
3
Bab 3 Masalah Siman
4
Bab 4 Misteri Akik Biru
5
Bab 5 Mata Penuh Kecurigaan
6
Bab 6 Denyut Rahasia Sang Akik
7
Bab 7 Upah yang Tak Terduga
8
Bab 8 Rumah Tua, Luka Lama
9
Bab 9 Kembali ke Sekolah
10
Bab 10 Harta Karun di Tumpukan Kardus
11
Bab 11 Bibit Pikiran Aneh
12
Bab 12 Impian yang Terkubur
13
Bab 13 Peluang Emas Sang Kuli Bengkel
14
Bab 14 Saatnya Sekarang
15
Bab 15 Antara Belajar dan Keajaiban
16
Bab 16 Kecemasan Kelulusan
17
Bab 17 Akik Biru Harapan
18
Bab 18 Antara Aroma Oli dan Parfum Mahal
19
Bab 19 Perjuangan Logo Siman
20
Bab 20 Di Antara Kejujuran dan Keajaiban"
21
Bab 21 Tekad Membara, Kelelahan Nyata
22
Bab 22 Bukan Sekadar Keberuntungan
23
Bab 23 Ancaman di Tangan Siman
24
Bab 24 Bukan Lagi Sekadar Kuli
25
Bab 25 Harapan Hampa
26
Bab 26 Murni di Ambang Pintu
27
Bab 27 Akal dan Intuisi
28
Bab 28 Kabar Baik Tersengal
29
Bab 29 Kejutan di Lantai Lima
30
Bab 30 Kontrak Perubahan Nasib
31
Bab 31 Pindah Rumah
32
Bab 32 Impian Siman Terwujud
33
Bab 33 Melampaui Ekspektasi
34
Bab 34 Terburu Mengejar Peluang
35
Bab 35 Di Balik Cerita, Ada Murni
36
Bab 36 Antara Dendam dan Desain
37
Bab 37 Raibnya Akik
38
Bab 38 Batas Kemampuan Siman
39
Bab 39 Cincin Biru Membeku
40
Bab 40 Mencari Sang Arsitek Ide
41
Bab 41 Kembang Api Murni
42
Bab 42 Langkah Raksasa di Kota Kembang
43
Bab 43 Sentuhan Gosip dan Kedatangan Pesaing
44
Bab 44 Kehilangan Akik untuk Sementara
45
Bab 45 Kebutuhan Akan Kepercayaan Diri yang Hakiki
46
Bab 46 Akik Kembali, Siman Berubah
47
Bab 47 Menyingkap Latar Belakang Akik (Misteri)
48
Bab 48 Jaringan Baru, Sosok Mentor Lain
49
Bab 49 Malam yang Mengubah Arah Takdir
50
Bab 50 Trauma Lama yang Terulang di Dunia Baru
51
Bab 51 Ancaman Terselubung: Jebakan Kompetitor
52
Bab 52 Dina: Terjebak Nostalgia Berkedok Penyesalan
53
Bab 53 Mitra Bisnis Asing dan Ekspansi Global
54
Bab 54 Satu Jam Menuju Panggung Dunia
55
Bab 55 Misteri Asal Akik yang Mendalam
56
Bab 56 Pencarian Jejak Pelindung Akik
57
Bab 57 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
58
Bab 58 Visi di Bawah Purnama
59
Bab 59 Balas Budi ke Lingkungan Lama
60
Bab 60 Pertaruhan Final
61
Bab 61 Konfrontasi Puncak
62
Bab 62 Harga Kemenangan
63
Bab 63 Panggilan yang Belum Terwujud
64
Bab 64 Kekuatan Berbagi
65
Bab 65 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
66
Bab 66 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
67
Bab 67 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
68
Bab 68 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
69
Bab 69 Anak Tepi Rel di Karpet Merah
70
Bab 70 Murni, Kekasih Sejati Siman
71
Bab 71 Pencarian Jejak Pelindung Akik
72
Bab 72 Panggilan Puncak Seribu Bintang
73
Bab 73 Menghadapi Takdir di Hutan Tersembunyi
74
Bab 74 Proyek Impian: Balas Budi ke Lingkungan Lama
75
Bab 75 Kembalinya Dina: Pertaruhan Final
76
Bab 76 Konfrontasi Puncak
77
Bab 77 Harga Kemenangan
78
Bab 78 Kemenangan Sang Penakluk Diri
79
Bab 79 Visi Baru: Kekuatan Berbagi
80
Bab 80 Dilema Romansa: Hati Siman dan Murni
81
Bab 81 Perjuangan Tanpa Keberuntungan: Sebuah Tes Hati
82
Bab 82 Akik Biru Laut dan Konsekuensi Moral
83
Bab 83 Pesta Penganugerahan dan Kebenaran yang Terungkap
84
Bab 84 Bukan Sekadar Keberuntungan
85
Bab 85 Murni, Kekasih Sejati Siman
86
Bab 86 Melangkah Maju Bersama
87
Bab 87 Senja di Tepi Keberuntungan
88
Bab 88 Getaran Baru di Balik Kesuksesan
89
Bab 89 Dina yang Bertekuk Lutut
90
Bab 90 Magnet yang Tak Terbendung
91
Bab 91 Kecurigaan Murni
92
Bab 92 Pertemuan dengan Sari
93
Bab 93 Resonansi Luka Lama
94
Bab 94 Teror Cinta dari Masa Lalu
95
Bab 95 Analisis Sesepuh: Anugerah atau Kutukan?
96
Bab 96 Siman di Ujung Tanduk
97
Bab 97 Munculnya Madam Elena
98
Bab 98 Ketegangan di Ruang Keluarga
99
Bab 99 Kesepakatan Pertama
100
Bab 100 Daftar 17 Hati
101
Bab 101 Di Balik Meja Madam Elena
102
Bab 102 Izin yang Mengguncang Jiwa
103
Bab 103 Syarat Mutlak untuk Para Pemuja
104
Bab 104 Perjanjian di Ruang Keluarga
105
Bab 105 Pernikahan Siri Dihadiri Murni
106
Bab 106 Manajemen Waktu Sang Penakluk
107
Bab 107 Malam Pertama dengan Dina
108
Bab 108 Kecemburuan yang Tersembunyi
109
Bab 109 Konflik Kecil Antar Istri
110
Bab 110 Keadilan di Atas Segalanya
111
Bab 111 Keadilan dalam Rasa dan Nilai
112
Bab 112 Energi Akik yang Stabil
113
Bab 113 Pertemuan di Ujung Dendam
114
Bab 114 Memori Luka Lama
115
Bab 115 Strategi Sang Ratu
116
Bab 116 Akik dan Hati yang Bergetar
117
Bab 117 Rekonsiliasi yang Pahit
118
Bab 118 Bukan Menjadi Koleksi
119
Bab 119 Gosip yang Merebak
120
Bab 120 Hadiah untuk Murni
121
Bab 121 Kehamilan Pertama
122
Bab 122 Dina Sang Pembela
123
Bab 123 Liburan Keluarga yang Tak Lazim
124
Bab 124 Krisis Kesehatan Siman
125
Bab 125 Pengakuan di Hadapan Orang Tua
126
Bab 126 Ujian Kesetiaan Istri Siri
127
Bab 127 Guncangan di Sangkar Emas
128
Bab 128 Murni dan Kekuatan Sabar
129
Bab 129 Pesta Perayaan Satu Tahun
130
Bab 130 Wanita ke-18 (Aurora)
131
Bab 131 Godaan Maya
132
Bab 132 Dunia Rahasia Maya
133
Bab 133 Sabotase Energi
134
Bab 134 Pertahanan Murni
135
Bab 135 Konfrontasi dengan Maya
136
Bab 136 Kembalinya Pesona
137
Bab 137 Dina Sang Martir
138
Bab 138 Penebusan Terakhir Dina
139
Bab 139 Pelajaran tentang Nafsu dan Cinta
140
Bab 140 Pembangunan Mansion Megah
141
Bab 141 Murni: Sang Ratu Abadi
142
Bab 142 Generasi Penerus Sang Penakluk
143
Bab 143 Ujian Keadilan di Masa Tua
144
Bab 144 Dina dan Penyesalan yang Tuntas
145
Bab 145 Filantropi Global Keluarga Siman
146
Bab 146 Cahaya yang Tak Lekang oleh Waktu
147
Bab 147 Rahasia Akik untuk Anak Laki-laki

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!