Bab 2 Keputusan Yang Menutup Segalanya

Ruangan sidang itu mendadak terasa lebih dingin dari biasanya. Tidak ada suara selain detak jam di dinding dan napas yang tertahan.

Hakim menunduk sejenak, membuka berkas di hadapannya, lalu mengangkat wajah dengan tatapan tegas, sebelum akhirnya membacakan keputusan perceraian.

"Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa."

"Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya."

Di kursi penggugat, jemari Mela saling menggenggam erat, sampai-sampai buku jarinya memutih. Di seberang sana, Rahman, pria yang dulu ia panggil suami hanya menunduk dengan rahang mengeras.

"Menyatakan perkawinan antara Penggugat, Mela Agustina dan Tergugat, Rahman Arya Wijaya putus karena perceraian. Dan, menetapkan hak asuh anak jatuh kepada pihak tergugat.

Mela memejamkan mata dan menarik napas panjang, mencoba berlapang dada menerima keputusan tersebut. Karena, ia sudah menduga hak asuh anak akan jatuh ke tangan Rahman.

Beberapa detik berlalu sebelum hakim menutup berkasnya perlahan. Tatapannya menyapu ruangan, memastikan semua telah mendengar. Kemudian, tangannya meraih palu kayu di meja.

"Demikian diputuskan dalam musyawarah Majelis Hakim pada hari ini, Senin, 17 Maret 2025, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum."

"Sidang dinyatakan selesai dan ditutup."

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan itu menggema, menjadi garis akhir dari sebuah kisah yang dulu dimulai dengan janji sehidup semati.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada tangisan. Hanya kalimat formal yang mengakhiri dua puluh tahun kehidupan bersama.

Mela duduk tenang di kursinya. Ia sudah membayangkan hari ini berkali-kali, namun ketika benar-benar tiba, perasaannya justru terasa hampa. Ia tidak merasa lega maupun sedih. Ia merasa seperti halaman buku yang sudah selesai ditutup.

Rahman menandatangani berkas terakhir dengan rahang mengeras. Mertuanya menghela napas berat, sementara Lina duduk membatu, matanya menatap lantai.

Setelah semua selesai, mereka keluar dari ruang sidang, dan langsung di sambut udara luar yang terasa menyengat.

Mela berbincang dengan kuasa hukumnya, lalu mereka saling berjabat tangan, sebelum berpisah.

Mela menatap punggung kuasa hukumnya yang semakin menjauh, lalu beralih ke arah langit yang cerah, terlalu cerah untuk sebuah perpisahan. Namun, detik berikutnya, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.

"Sepertinya, kau sangat senang dengan perceraian ini."

Mela menoleh kearah sumber suara. Wajahnya datar, melihat mantan suaminya mendekat bersama ibu dan putri nya.

"Tentu saja dia senang," timpal Dyah, mantan ibu mertuanya. "Dia mendapatkan harta gono-gini yang cukup besar."

Mela menghela napas pendek. "Sejak awal, aku tidak pernah menuntut apapun," balas Mela tegas.

"Apa kau pikir aku bodoh?" seru Rahman. "Atau... Kau ingin orang-orang memandangku sebagai pria yang kejam karena tidak memberimu harta, hah?"

Rahman menaikkan sudut bibirnya. "Tapi, tidak masalah. Anggap saja, itu semua uang kompensasi karena kau sudah merawat kami selama ini."

Mela mendesah sambil tersenyum sinis. "Jadi, selama ini kau menganggap ku pengasuh?"

"Kau yang bilang," seru Rahman. "Sebelum kita menikah, kau hanya seorang pelayan. Bahkan sampai sekarang, hidupmu bergantung pada ku." Ia lalu mendekat, berbicara pelan dengan nada meremehkan. "Kita sudah bercerai dan kau tidak mempunyai sandaran hidup lagi. Aku penasaran, berapa lama kau akan bertahan hidup dengan uang itu."

Mela hanya diam tanpa niat untuk membalas. Memang benar, hidupnya dulu sangat pas-pasan. Tapi, bukan berarti setelah ia menikah dengan Rahman, yang merupakan seorang pengusaha terpandang, hidupnya justru bergelimang harta.

Dia hanya menjadi ibu rumah tangga pada umumnya. Mengurus rumah, melayani suami, merawat ibu mertuanya dan mengasuh putri semata wayangnya.

Dia selalu menggunakan uang yang Rahman berikan padanya untuk kebutuhan sehari-hari dan lebih mementingkan kebutuhan keluarga daripada dirinya sendiri.

Mungkin, itu sebabnya Rahman tidak pernah mengajaknya pergi ke pesta untuk sekedar menjadi pendampingnya saat bertemu dengan rekan bisnisnya. Rahman malu untuk membawanya karena ia tidak mengerti apapun.

Tapi, ia tidak pernah mempermasalahkannya karena pekerjaannya sudah cukup membuatnya lelah.

"Tidak perlu repot-repot memikirkan hidupku," ucap Mela datar. "Bisa bercerai denganmu, adalah berkah besar bagiku."

Rahman melotot tajam. Rahangnya mengeras. "Kau—"

Ucapannya terhenti, saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan tangga pengadilan.

Begitu pintu mobil terbuka, seorang wanita turun dengan gaun rapi dan sepatu hak tinggi. Rambutnya disanggul anggun, senyumnya lebar, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Dia adalah Camila.

Ia melangkah cepat ke arah Rahman, meraih lengannya, lalu mencium pipinya secara terang-terangan.

"Bagaimana hasil keputusan nya, sayang?" tanyanya manja.

Rahman tidak menepisnya. Bahkan tersenyum lebar. "Semua sudah beres. Kami resmi bercerai."

"Syukurlah kalau begitu."

Mela masih berdiri di sana, melihat semuanya dengan mata yang tenang. Ia berbalik, memilih pergi dari sana, daripada menjadi penonton drama pengkhianatan mereka.

Namun, Dyah bersuara cukup keras, seolah sengaja agar ia mendengarnya.

"Mulai sekarang, tidak perlu ada yang ditutup-tutupi lagi," ucap Dyah. "Kau lebih pantas menjadi pendamping Rahman. Tidak hanya membantu mengembangkan bisnis keluarga, tapi kau juga cantik dan berbakti, Camila."

Camila tersenyum, masih memeluk lengan Rahman. Sedangkan, Mela yang mulai menjauh hanya bisa tersenyum mendengarnya.

Lalu, Dyah menoleh pada Lina. "Mulai sekarang, kau harus memanggil Camila, mama."

Lina ragu sejenak. Ia menatap punggung Mela, sebelum beralih pada Camila dan berkata pelan, "Mama!"

Camila tersenyum lebih lebar, memeluk Lina. "Anak baik."

Langkah Mela terhenti. Namun, ia tidak menoleh. Tangannya mengepal erat, dadanya terasa sesak.

Lina memang dekat dengan Camila. Bahkan di saat seperti ini, putrinya itu memilih berdiri di pihak Camila hanya karena Camila sering memberinya barang mewah dan mengajaknya pergi ke tempat-tempat mewah. Tidak seperti dirinya yang selalu membatasinya.

Tapi, ia melakukan semua itu demi kebaikan Lina. Sayangnya, putrinya tidak mengerti dan justru menganggapnya kuno.

Dan sekarang, saat Mela mendengar putrinya memanggil wanita lain, mama, ia benar-benar mengerti. Bukan hanya pernikahannya yang berakhir, tetapi perannya sebagai istri dan ibu di keluarga itu telah sepenuhnya dihapus.

Ia tidak marah, tidak juga tersenyum. Ia hanya diam, lalu kembali menuruni tangga pengadilan sendirian. Dan kali ini, ia tidak merasa kehilangan apa pun.

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

KASIHAN MELA DUH LINA JAMU SALAH DIDIK NNT BAKAL JD ANAK MANJA YG GAK BENER. DYAH PEREMPUAN LACUR PELAKOR MURAHAN SOMBONG BENER TUNGGULAH TUHAN TDK TIDUR NNT KAMU AKAN MENERIMA BALASAN ATAS PERBUATANMU😡😡😡🙈🙈

2026-08-26

0

Mo Xiao Lam

Mo Xiao Lam

awal yang bagus dan pentingnya semangat hidup

2026-06-14

0

Yati Syahira

Yati Syahira

laki dzolim trrmasuk mertua dan anaknya ,gimana mau cantik suruh jdi budak ydk di beri kesempatan untuk dandan ,lebih baik bercerai

2026-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Ingin Bercerai
2 Bab 2 Keputusan Yang Menutup Segalanya
3 Bab 3 Pulang
4 Bab 4 Gosip
5 Bab 5 Melawan
6 Bab 6 Luka Yang Masih Terasa
7 Bab 7 Kenangan Yang Tertinggal
8 Bab 8 Menanam Harapan
9 Bab 9 Harapan Yang Mulai Tumbuh
10 Bab 10 Mulai Berkembang
11 Bab 11 Muncul Masalah
12 Bab 12 Menangkap Pelaku
13 Bab 13 Harga Dari Sebuah Langkah
14 Bab 14 Pasti Ada Jalan
15 Bab 15 Teman Lama
16 Bab 16 Peringatan
17 Bab 17 Luka Lama Yang Mulai Sembuh
18 Bab 18 Mengumumkan Pernikahan
19 Bab 19 Dua Kehidupan Yang Berbeda
20 Bab 20 Pesta
21 Bab 21 Kehidupan Baru
22 Bab 22 Aku Akan Menunggu
23 Bab 23 Kesempurnaan Yang Dibayar Mahal
24 Bab 24 Kekosongan Yang Mulai Terasa
25 Bab 25 Langkah Besar
26 Bab 26 Balasan
27 Bab 27 Hancur
28 Bab 28 Karma
29 Bab 29 Di Sita
30 Bab 30 Jalan Terakhir
31 Bab 31 Kesuksesan Mantan Istri
32 Bab 32 Gelas Yang Pecah
33 Bab 33 Kehilangan Sepenuhnya
34 Bab 34 Hasutan
35 Bab 35 Takut Kehilangan Lagi
36 Bab 36 Jangan Memberi Jalan
37 Bab 37 Tekad Kuat
38 Bab 38 Calon Suami
39 Bab 39 Jawaban Lamaran
40 Bab 40 Untuk Yang Terakhir Kalinya
41 Bab 41 Berpisah Sementara
42 Bab 42 Masih Peduli
43 Bab 43 Mendapat Pekerjaan
44 Bab 44 Rencana Yang Gagal
45 Bab 45 Rencana Setelah Menikah
46 Bab 46 Fakta Yang Mengejutkan
47 Bab 47 Ketakutan Yang Mulai Terasa
48 Bab 48 Pulang
49 Bab 49 Pulang 2
50 Bab 50 Surat Pengalihan Harta
51 Bab 51 Rencana Terselubung
52 Bab 52 Kebahagiaan Yang Terancam
53 Bab 53 Ancaman Halus
54 Bab 54 Sadar Sepenuhnya
55 Bab 55 Hari Bahagia
56 Bab 56 Jujur
57 Bab 57 Maaf
58 Bab 58 Pergi Ke Kota
59 Bab 59 Konferensi Pers
60 Bab 60 Unggahan Palsu (Cyberbullying)
61 Bab 61 Mela Akhirnya Tahu
62 Bab 62 Kata-kata Yang Menenangkan
63 Bab 63 Klarifikasi
64 Bab 64 Mengambil Langkah Hukum
65 Bab 65 Menangkap Pelaku
66 Bab 66 Camila
67 Bab 67 Tertangkap
68 Bab 68 Menyerahkan Diri
69 Bab 69 Mengunjungi Camila
70 Bab 70 Menyelesaikan Urusan
71 Bab 71 Mengakhiri Semuanya
72 Bab 72 Memenangkan Hati Mela
73 Bab 73 Keputusan Pengadilan
74 Bab 74 Impian Mela
75 Bab 75 Kondisi Mela
76 Bab 76 Beban Yang Di Pikul Sendiri
77 Bab 77 Menjaga Suasana Hati Mela
78 Bab 78 Pulang
79 Bab 79 Kita Selesaikan Bersama
80 Bab 80 Sakit
81 Bab 81 Kabar Baik
82 Bab 82 Takut
83 Bab 83 Perdebatan
84 Bab 84 Semua Akan Baik-baik Saja
85 Bab 85 Ketakutan Yang Kembali Muncul
86 Bab 86 Terima Kasih Sudah Bertahan
87 Bab 87 Dua Malaikat Kecil
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Bab 1 Aku Ingin Bercerai
2
Bab 2 Keputusan Yang Menutup Segalanya
3
Bab 3 Pulang
4
Bab 4 Gosip
5
Bab 5 Melawan
6
Bab 6 Luka Yang Masih Terasa
7
Bab 7 Kenangan Yang Tertinggal
8
Bab 8 Menanam Harapan
9
Bab 9 Harapan Yang Mulai Tumbuh
10
Bab 10 Mulai Berkembang
11
Bab 11 Muncul Masalah
12
Bab 12 Menangkap Pelaku
13
Bab 13 Harga Dari Sebuah Langkah
14
Bab 14 Pasti Ada Jalan
15
Bab 15 Teman Lama
16
Bab 16 Peringatan
17
Bab 17 Luka Lama Yang Mulai Sembuh
18
Bab 18 Mengumumkan Pernikahan
19
Bab 19 Dua Kehidupan Yang Berbeda
20
Bab 20 Pesta
21
Bab 21 Kehidupan Baru
22
Bab 22 Aku Akan Menunggu
23
Bab 23 Kesempurnaan Yang Dibayar Mahal
24
Bab 24 Kekosongan Yang Mulai Terasa
25
Bab 25 Langkah Besar
26
Bab 26 Balasan
27
Bab 27 Hancur
28
Bab 28 Karma
29
Bab 29 Di Sita
30
Bab 30 Jalan Terakhir
31
Bab 31 Kesuksesan Mantan Istri
32
Bab 32 Gelas Yang Pecah
33
Bab 33 Kehilangan Sepenuhnya
34
Bab 34 Hasutan
35
Bab 35 Takut Kehilangan Lagi
36
Bab 36 Jangan Memberi Jalan
37
Bab 37 Tekad Kuat
38
Bab 38 Calon Suami
39
Bab 39 Jawaban Lamaran
40
Bab 40 Untuk Yang Terakhir Kalinya
41
Bab 41 Berpisah Sementara
42
Bab 42 Masih Peduli
43
Bab 43 Mendapat Pekerjaan
44
Bab 44 Rencana Yang Gagal
45
Bab 45 Rencana Setelah Menikah
46
Bab 46 Fakta Yang Mengejutkan
47
Bab 47 Ketakutan Yang Mulai Terasa
48
Bab 48 Pulang
49
Bab 49 Pulang 2
50
Bab 50 Surat Pengalihan Harta
51
Bab 51 Rencana Terselubung
52
Bab 52 Kebahagiaan Yang Terancam
53
Bab 53 Ancaman Halus
54
Bab 54 Sadar Sepenuhnya
55
Bab 55 Hari Bahagia
56
Bab 56 Jujur
57
Bab 57 Maaf
58
Bab 58 Pergi Ke Kota
59
Bab 59 Konferensi Pers
60
Bab 60 Unggahan Palsu (Cyberbullying)
61
Bab 61 Mela Akhirnya Tahu
62
Bab 62 Kata-kata Yang Menenangkan
63
Bab 63 Klarifikasi
64
Bab 64 Mengambil Langkah Hukum
65
Bab 65 Menangkap Pelaku
66
Bab 66 Camila
67
Bab 67 Tertangkap
68
Bab 68 Menyerahkan Diri
69
Bab 69 Mengunjungi Camila
70
Bab 70 Menyelesaikan Urusan
71
Bab 71 Mengakhiri Semuanya
72
Bab 72 Memenangkan Hati Mela
73
Bab 73 Keputusan Pengadilan
74
Bab 74 Impian Mela
75
Bab 75 Kondisi Mela
76
Bab 76 Beban Yang Di Pikul Sendiri
77
Bab 77 Menjaga Suasana Hati Mela
78
Bab 78 Pulang
79
Bab 79 Kita Selesaikan Bersama
80
Bab 80 Sakit
81
Bab 81 Kabar Baik
82
Bab 82 Takut
83
Bab 83 Perdebatan
84
Bab 84 Semua Akan Baik-baik Saja
85
Bab 85 Ketakutan Yang Kembali Muncul
86
Bab 86 Terima Kasih Sudah Bertahan
87
Bab 87 Dua Malaikat Kecil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!