Bab 4 Gosip

Pertanyaan itu sederhana, bahkan tidak terdengar kasar. Tapi, tetap saja menekan mental Mela.

Tapi, Mela berusaha tetap tenang. Ia menatap Darmi sebelum akhirnya menjawab, "Kami sudah bercerai, mbak."

Tidak ada penjelasan tambahan ataupun cerita panjang. Hanya satu kalimat yang cukup membuat Darmi terdiam.

Namun, detik berikutnya mata Darmi sedikit melebar, lalu cepat-cepat ia mengangguk, seolah seperti seseorang yang baru saja diberi informasi penting.

"Oh, begitu, ya."

Mela tersenyum tipis. "Saya masih harus beres-beres. Nanti saja kita ngobrol lagi." Tanpa menunggu jawaban, ia membawa peralatannya masuk ke dalam rumah.

Pintu tertutup pelan.

Di dalam, Mela berdiri sejenak di balik pintu dan menghela napas panjang.

Ia tahu, satu kalimat tadi tidak akan membuat Darmi berhenti. Tapi, justru akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Dia tidak berniat menjelaskan, berharap Darmi tahu batasan. Namun, sepertinya ia lupa di mana sekarang ia berada.

Keesokan paginya, suara riuh datang dari ujung jalan.

Tukang sayur keliling berhenti lebih lama dari biasanya. Beberapa ibu-ibu berkumpul, membawa keranjang dan mulai memilih sayuran. Obrolan mereka terdengar, bercampur dengan suara tawar-menawar.

Dan, topik gosip mereka adalah Mela.

"Serius, Mbak Dar? Si Mela itu pulang sendiri tanpa suami dan anaknya?" tanya Yati.

"Kamu tahu dari mana, mbak Dar?" sahut yang lain.

Darmi berdiri di tengah-tengah mereka, suaranya sedikit diturunkan, tapi cukup jelas untuk didengar semua orang.

"Iya, aku sendiri yang tanya. Katanya mereka sudah bercerai."

"Bercerai?" seseorang berseru pelan, setengah kaget, tidak percaya.

"Ih, kasihan ya, padahal dulu hidupnya enak di kota."

"Kasihan apanya? Siapa tahu memang dia yang bermasalah," timpal yang lain.

"Iya, apalagi dia pulang sendirian, tanpa anak."

"Wah, berarti parah itu."

Tawa kecil terdengar. Ada yang menggeleng, ada yang berbisik, ada yang hanya diam tapi mendengarkan.

Di dalam rumah, Mela berdiri di dekat jendela. Ia tidak berniat menguping. Tapi, suara-suara itu terdengar cukup jelas.

Mela menatap keluar. Wajah-wajah yang dulu ia kenal, kini terasa asing, dan akan menjadi bagian dari hidupnya lagi.

Ia tidak marah apalagi tersinggung. Hanya saja, ia mulai mengerti.

Manusia selalu butuh cerita. Dan, ketika tidak tahu kebenarannya, mereka akan menciptakan versi sendiri.

Mela menarik napas pelan, lalu menjauh dari jendela. Ia kembali ke dapur, menuangkan air ke dalam teko, lalu menyalakan kompor kecilnya.

Di luar, gosip masih berlanjut tapi, Mela memilih tidak menjelaskan apa pun, karena tidak semua orang perlu tahu kebenarannya. Dan, tidak semua kebenaran perlu dibela. Tapi, apa ia bisa bertahan?

Dua hari berlalu, dan Mela masih menjadi topik hangat para tetangga.

Pagi itu, Mela berdiri lebih lama dari biasanya, di depan cermin kecil yang tergantung di dinding. Bukan untuk berdandan. Tapi, hanya memastikan dirinya siap.

Ia menarik napas pelan. Hidup di desa sangat berbeda dengan di kota.

Di kota, orang-orang hidup berdampingan tanpa benar-benar saling mengenal. Tidak ada yang peduli siapa pulang dengan siapa, siapa bertengkar dengan siapa.

Tapi di sini, berbeda. Setiap langkah bisa terlihat. Setiap perubahan bisa dibicarakan. Dan diam, tidak selalu menyelamatkan.

Mela mengambil dompet kecilnya, lalu melangkah keluar rumah. Hari ini, ia memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi.

Tukang sayur sudah berhenti di ujung jalan. Beberapa ibu-ibu berkumpul di sana. Mereka adalah Darmi, Yati, Surti, dan beberapa ibu lainnya.

Mereka berbincang, sambil menanyakan harga, menawar sayur yang hendak mereka beli. Dan, tentu saja masih membicarakan Mela.

Namun, begitu Mela mendekat, suara mereka menghilang. Obrolan yang tadi riuh, mendadak terputus.

Semua mata tertuju padanya, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Mela berhenti sejenak. Lalu, tersenyum menyapa, "Selamat pagi ibu-ibu, mang Bejo," sapanya.

"Pagi, Mbak Mela," jawab Tejo cepat. Sementara, Ibu-ibu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.

"Mau masak apa hari ini, mbak?" tanya Mang Tejo.

"Apa, ya?" Mela mulai memilih sayuran, bayam, cabai, dan beberapa tomat yang masih segar. Namun, sudut matanya menangkap sesuatu.

Darmi dan ibu-ibu yang lain hanya diam, seolah keberadaannya mengubah suasana. Mela menoleh, lalu berkata ringan,

"Kenapa semua diam? Nggak jadi beli?"

Kalimat itu sederhana, bahkan terdengar santai. Tapi, cukup untuk membuat suasana menjadi canggung.

"Oh—jadi, jadi." Yati langsung mengambil kangkung.

"Iya, ini lagi milih," sahut yang lain, sedikit terbata.

Suara kembali muncul, meski belum senyaman sebelumnya. Hingga, beberapa detik berlalu dan, Surti memberanikan diri untuk bertanya.

"Emmm... Mel!" panggilnya pelan. "Apa benar kamu sudah bercerai sama suamimu?"

Semua kembali diam. Menunggu sekaligus penasaran. Sedangkan, Mela berhenti memilih sayur. Ia mengangkat wajahnya, lalu tersenyum tipis.

"Iya, mbak," jawabnya tenang. "Itu benar. Saya yang menceraikan Mas Rahman."

Hening!

Mereka saling pandang, seolah tidak percaya.

"Lho, kenapa, Mel?" Yati akhirnya bersuara. "Sudah enak hidup di kota sama suami kaya, kok malah cerai?"

Mela mengambil sayurannya, menyerahkannya ke Mang Tejo untuk di hitung total.

"Buat apa hidup bergelimang harta, mbak kalau kita tidak dianggap dan tidak dihargai," ucap Mela. Ia membayar, lalu menoleh pada mereka. "Kita sebagai wanita juga harus punya harga diri."

Tidak ada nada marah, apalagi pembelaan berlebihan. Hanya kalimat sederhana yang justru terasa berat.

"Kalau begitu, saya duluan, mbak!" Ia berbalik dan berjalan pulang.

Namun, begitu langkahnya menjauh, suara-suara itu kembali terdengar. Pelan, namun tajam.

"Pasti dia yang bermasalah," bisik Darmi.

"Tapi, tadi dia bilang, dia yang menceraikan suaminya," sahut Yati.

"Halah, alasan. Aku sih nggak percaya gitu aja."

Mela sudah sampai di depan rumahnya saat suara itu masih samar terdengar. Ia membuka pintu, masuk, lalu menutupnya perlahan.

Begitu punggungnya menyentuh daun pintu, napasnya terlepas, tidak beraturan. Ia memejamkan mata sejenak, mengetahui jika ternyata semua tidak semudah yang ia bayangkan.

Di kota, orang tidak peduli, tapi di desa, semua ingin tahu. Dan, semakin ia mencoba menjelaskan, semakin banyak yang ingin menilai.

Mela membuka matanya. Pandangannya jatuh pada halaman kecil di samping rumah, tanah yang mulai ia bersihkan.

Ia lalu menghembuskan napas pelan. "Mungkin, diam memang lebih baik," gumamnya lirih. Ia langsung menuju dapur untuk memasak, sebelum melanjutkan kegiatan barunya, menanam sayuran.

Siang hari terasa lebih panas dari biasanya.

Mela sedang berjongkok di halaman, menanam beberapa bibit sayur yang baru ia beli. Tangannya kotor oleh tanah, tapi gerakannya lebih cekatan dari sebelumnya.

Tapi tiba-tiba, ia di kejutkan dengan suara ribut yang terdengar dari arah rumah Darmi.

Suaranya keras dan tidak biasa.

Orang-orang mulai berlarian ke arah sana. Beberapa berhenti di depan rumah, tapi tidak berani masuk.

Mela mengangkat kepala, dengan kening yang mengernyit. Ia berdiri, lalu menghentikan salah satu tetangga yang berjalan dengan tergesa.

"Mbak Asih!" panggilnya. "Ada apa kok lari-lari?"

Asih menoleh, napasnya sedikit terengah. "Itu, Mel... Mbak Darmi lagi ribut sama suaminya."

Mela terdiam sejenak. Suara teriakan kembali terdengar dari kejauhan. Kali ini lebih jelas dan terdengar kasar.

Dan entah kenapa, langkah Mela justru ikut bergerak mendekat ke rumah tersebut.

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

TETANGGA JULID MAIN TUDUH FITNAH AJA DUH MELA SMG KAMU SABAR GAK ADA YG TULUS KAYAKNYA. SEMUA TUKANG GOSIP DAN TOXID😥😥🙈

2026-08-26

0

Yunita Sophi

Yunita Sophi

apa mereka ribut krn mbak darm8 cemburu sama Mela... hadeh ada ada aja klo betul 😄

2026-05-18

1

Yuli Yuliawati

Yuli Yuliawati

Belum berakhir penderitaan Mela
pelakor dan suami durhaka nya dapet balasan setimpal dong

2026-08-26

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Ingin Bercerai
2 Bab 2 Keputusan Yang Menutup Segalanya
3 Bab 3 Pulang
4 Bab 4 Gosip
5 Bab 5 Melawan
6 Bab 6 Luka Yang Masih Terasa
7 Bab 7 Kenangan Yang Tertinggal
8 Bab 8 Menanam Harapan
9 Bab 9 Harapan Yang Mulai Tumbuh
10 Bab 10 Mulai Berkembang
11 Bab 11 Muncul Masalah
12 Bab 12 Menangkap Pelaku
13 Bab 13 Harga Dari Sebuah Langkah
14 Bab 14 Pasti Ada Jalan
15 Bab 15 Teman Lama
16 Bab 16 Peringatan
17 Bab 17 Luka Lama Yang Mulai Sembuh
18 Bab 18 Mengumumkan Pernikahan
19 Bab 19 Dua Kehidupan Yang Berbeda
20 Bab 20 Pesta
21 Bab 21 Kehidupan Baru
22 Bab 22 Aku Akan Menunggu
23 Bab 23 Kesempurnaan Yang Dibayar Mahal
24 Bab 24 Kekosongan Yang Mulai Terasa
25 Bab 25 Langkah Besar
26 Bab 26 Balasan
27 Bab 27 Hancur
28 Bab 28 Karma
29 Bab 29 Di Sita
30 Bab 30 Jalan Terakhir
31 Bab 31 Kesuksesan Mantan Istri
32 Bab 32 Gelas Yang Pecah
33 Bab 33 Kehilangan Sepenuhnya
34 Bab 34 Hasutan
35 Bab 35 Takut Kehilangan Lagi
36 Bab 36 Jangan Memberi Jalan
37 Bab 37 Tekad Kuat
38 Bab 38 Calon Suami
39 Bab 39 Jawaban Lamaran
40 Bab 40 Untuk Yang Terakhir Kalinya
41 Bab 41 Berpisah Sementara
42 Bab 42 Masih Peduli
43 Bab 43 Mendapat Pekerjaan
44 Bab 44 Rencana Yang Gagal
45 Bab 45 Rencana Setelah Menikah
46 Bab 46 Fakta Yang Mengejutkan
47 Bab 47 Ketakutan Yang Mulai Terasa
48 Bab 48 Pulang
49 Bab 49 Pulang 2
50 Bab 50 Surat Pengalihan Harta
51 Bab 51 Rencana Terselubung
52 Bab 52 Kebahagiaan Yang Terancam
53 Bab 53 Ancaman Halus
54 Bab 54 Sadar Sepenuhnya
55 Bab 55 Hari Bahagia
56 Bab 56 Jujur
57 Bab 57 Maaf
58 Bab 58 Pergi Ke Kota
59 Bab 59 Konferensi Pers
60 Bab 60 Unggahan Palsu (Cyberbullying)
61 Bab 61 Mela Akhirnya Tahu
62 Bab 62 Kata-kata Yang Menenangkan
63 Bab 63 Klarifikasi
64 Bab 64 Mengambil Langkah Hukum
65 Bab 65 Menangkap Pelaku
66 Bab 66 Camila
67 Bab 67 Tertangkap
68 Bab 68 Menyerahkan Diri
69 Bab 69 Mengunjungi Camila
70 Bab 70 Menyelesaikan Urusan
71 Bab 71 Mengakhiri Semuanya
72 Bab 72 Memenangkan Hati Mela
73 Bab 73 Keputusan Pengadilan
74 Bab 74 Impian Mela
75 Bab 75 Kondisi Mela
76 Bab 76 Beban Yang Di Pikul Sendiri
77 Bab 77 Menjaga Suasana Hati Mela
78 Bab 78 Pulang
79 Bab 79 Kita Selesaikan Bersama
80 Bab 80 Sakit
81 Bab 81 Kabar Baik
82 Bab 82 Takut
83 Bab 83 Perdebatan
84 Bab 84 Semua Akan Baik-baik Saja
85 Bab 85 Ketakutan Yang Kembali Muncul
86 Bab 86 Terima Kasih Sudah Bertahan
87 Bab 87 Dua Malaikat Kecil
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Bab 1 Aku Ingin Bercerai
2
Bab 2 Keputusan Yang Menutup Segalanya
3
Bab 3 Pulang
4
Bab 4 Gosip
5
Bab 5 Melawan
6
Bab 6 Luka Yang Masih Terasa
7
Bab 7 Kenangan Yang Tertinggal
8
Bab 8 Menanam Harapan
9
Bab 9 Harapan Yang Mulai Tumbuh
10
Bab 10 Mulai Berkembang
11
Bab 11 Muncul Masalah
12
Bab 12 Menangkap Pelaku
13
Bab 13 Harga Dari Sebuah Langkah
14
Bab 14 Pasti Ada Jalan
15
Bab 15 Teman Lama
16
Bab 16 Peringatan
17
Bab 17 Luka Lama Yang Mulai Sembuh
18
Bab 18 Mengumumkan Pernikahan
19
Bab 19 Dua Kehidupan Yang Berbeda
20
Bab 20 Pesta
21
Bab 21 Kehidupan Baru
22
Bab 22 Aku Akan Menunggu
23
Bab 23 Kesempurnaan Yang Dibayar Mahal
24
Bab 24 Kekosongan Yang Mulai Terasa
25
Bab 25 Langkah Besar
26
Bab 26 Balasan
27
Bab 27 Hancur
28
Bab 28 Karma
29
Bab 29 Di Sita
30
Bab 30 Jalan Terakhir
31
Bab 31 Kesuksesan Mantan Istri
32
Bab 32 Gelas Yang Pecah
33
Bab 33 Kehilangan Sepenuhnya
34
Bab 34 Hasutan
35
Bab 35 Takut Kehilangan Lagi
36
Bab 36 Jangan Memberi Jalan
37
Bab 37 Tekad Kuat
38
Bab 38 Calon Suami
39
Bab 39 Jawaban Lamaran
40
Bab 40 Untuk Yang Terakhir Kalinya
41
Bab 41 Berpisah Sementara
42
Bab 42 Masih Peduli
43
Bab 43 Mendapat Pekerjaan
44
Bab 44 Rencana Yang Gagal
45
Bab 45 Rencana Setelah Menikah
46
Bab 46 Fakta Yang Mengejutkan
47
Bab 47 Ketakutan Yang Mulai Terasa
48
Bab 48 Pulang
49
Bab 49 Pulang 2
50
Bab 50 Surat Pengalihan Harta
51
Bab 51 Rencana Terselubung
52
Bab 52 Kebahagiaan Yang Terancam
53
Bab 53 Ancaman Halus
54
Bab 54 Sadar Sepenuhnya
55
Bab 55 Hari Bahagia
56
Bab 56 Jujur
57
Bab 57 Maaf
58
Bab 58 Pergi Ke Kota
59
Bab 59 Konferensi Pers
60
Bab 60 Unggahan Palsu (Cyberbullying)
61
Bab 61 Mela Akhirnya Tahu
62
Bab 62 Kata-kata Yang Menenangkan
63
Bab 63 Klarifikasi
64
Bab 64 Mengambil Langkah Hukum
65
Bab 65 Menangkap Pelaku
66
Bab 66 Camila
67
Bab 67 Tertangkap
68
Bab 68 Menyerahkan Diri
69
Bab 69 Mengunjungi Camila
70
Bab 70 Menyelesaikan Urusan
71
Bab 71 Mengakhiri Semuanya
72
Bab 72 Memenangkan Hati Mela
73
Bab 73 Keputusan Pengadilan
74
Bab 74 Impian Mela
75
Bab 75 Kondisi Mela
76
Bab 76 Beban Yang Di Pikul Sendiri
77
Bab 77 Menjaga Suasana Hati Mela
78
Bab 78 Pulang
79
Bab 79 Kita Selesaikan Bersama
80
Bab 80 Sakit
81
Bab 81 Kabar Baik
82
Bab 82 Takut
83
Bab 83 Perdebatan
84
Bab 84 Semua Akan Baik-baik Saja
85
Bab 85 Ketakutan Yang Kembali Muncul
86
Bab 86 Terima Kasih Sudah Bertahan
87
Bab 87 Dua Malaikat Kecil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!