Bab 5 Melawan

Halaman rumah Darmi penuh orang.

Beberapa berdiri berkelompok, berbisik pelan. Yang lain hanya menatap ke arah pintu yang tertutup rapat, seolah berharap keributan di dalam akan berhenti dengan sendirinya.

Tapi, tidak. Suara benturan keras kembali terdengar, disusul teriakan.

Mela berdiri di antara mereka, menatap pintu itu tanpa berkedip.

"Sudah biasa," bisik seseorang di belakangnya. "Paling nanti juga reda sendiri."

"Kalau kita ikut campur, bisa jadi masalah," sahut yang lain.

Mela mengernyit. "Biasa?" gumamnya tidak percaya. Sampai, suara benda jatuh terdengar lagi. Kali ini lebih keras, membuat langkah Mela bergerak maju.

"Mel!" Yati cepat-cepat menahan lengannya. "Jangan! Itu urusan keluarga mereka. Kita nggak berhak ikut campur."

Mela menoleh, dengan tatapan tegas. "Kalau terjadi sesuatu sama Mbak Darmi, bagaimana, mbak? Apa kita tidak berhak membantu?"

Yati terdiam.

Teriakan dari dalam rumah terdengar lagi, lebih lemah, tapi justru itu yang membuat dada Mela terasa sesak. Ia menarik tangannya dari pegangan Yati.

"Aku cuma mau lihat." Tanpa menunggu jawaban, Mela melangkah ke depan pintu. Ia mengetuk pintu keras.

"Pak Bejo! Buka pintunya!"

Tidak ada jawaban. Hanya suara napas berat dan sesuatu yang kembali terbanting.

Mela menoleh ke arah beberapa pria yang berdiri di belakang.

"Pak, bisa bantu saya?"

Mereka saling pandang, ragu. Namun, satu dari mereka mulai maju pelan. "Kita dobrak saja neng," ucapnya

Mela mengangguk setuju. Ia menyingkir ke samping, memberi ruang untuk pria itu mengambil ancang-ancang, siap mendobrak pintu.

Sekali, tapi pintu tidak terbuka.

Dua kali dobrakan, dan pintu masih kokoh bertahan. Hingga akhirnya, dua pria ikut membantu.

"Sekali lagi," ucap pria itu.

Mereka mendobrak lebih keras dan—

BRAKH!

Pintu terbuka.

Pemandangan di dalam membuat beberapa orang tersentak.

Darmi tergeletak di lantai, rambutnya berantakan, dan pipinya memerah. Di hadapannya, Bejo berdiri dengan napas memburu, tangannya masih terangkat, seolah siap memukul lagi.

"Berhenti!" teriak Mela.

Bejo menoleh tajam. "Siapa yang suruh kalian masuk, hah?"

Beberapa pria langsung bergerak, menahan Bejo sebelum ia sempat melakukannya lagi.

"Lepaskan aku!" bentaknya, meronta. "Ini urusan rumah tangga ku, kalian gak berhak ikut campur."

Sementara itu, Mela bergegas mendekat ke arah Darmi. Ia berjongkok, menyentuh bahunya dengan hati-hati.

"Mbak, kamu baik-baik saja?"

Darmi tidak menjawab. Air matanya mengalir tanpa suara.

Mela dan beberapa ibu-ibu lainnya membantunya berdiri, mendudukkannya di kursi.

Di sisi lain, Bejo masih meronta. "Kalian nggak punya hak! Aku bisa laporin kalian semua!"

Beberapa warga saling pandang. keraguan mulai terlihat di wajah mereka.

"Benar juga," bisik seseorang. "Kalau dia lapor, kita bisa kena."

Suasana kembali goyah. Namun, Mela berdiri di depan Darmi, menatap Bejo dengan tenang.

"Laporkan saja! Aku juga akan melaporkanmu karena sudah melakukan kekerasan."

Bejo tertegun sesaat. Namun kemudian, ia tertawa sinis. "Kamu pikir aku takut?" ucapnya meremehkan. "Kamu cuma janda yang diceraikan suamimu. Wanita bermasalah. Pembawa sial."

Beberapa orang menunduk. Kata-kata itu terlalu tajam. Namun, Mela tidak mundur. Ia justru melangkah lebih dekat.

"Kalau aku pembawa sial, kamu orang pertama yang akan kena sial karena berhadapan denganku," ucapnya pelan, menatap lurus ke mata Bejo.

Ia menarik tangan Darmi, membantunya berdiri. "Luka Mbak Darmi ini akan jadi bukti." Mela menoleh ke arah warga yang berkumpul. "Dan, mereka akan jadi saksi yang akan memberatkan hukumanmu."

Bejo terdiam. Rahangnya mengeras, napasnya berat. Ia menatap sekeliling, melihat orang-orang yang tadi ragu kini mulai berdiri di belakang Mela.

Sorot matanya berubah marah tapi, juga takut. Ia menggeram pelan, lalu menghentakkan bahunya.

"Dasar janda sialan! Awas kau!" Ia menarik lengannya dari pegangan warga, lalu berjalan keluar dengan langkah kasar.

Begitu ia melewati halaman, sorakan terdengar keras mengiringi langkah Bejo.

"Huuuuu!"

Di dalam rumah, suasana berubah pelan. Darmi tiba-tiba menangis. Bukan lagi tangisan yang tertahan, tapi suaranya pecah, seolah semua yang selama ini dipendam akhirnya runtuh.

Mela mendekat, memeluk dan mencoba menenangkan.

"Sudah, mbak," bisiknya pelan. "Sekarang sudah tidak apa-apa."

Di luar, orang-orang mulai berbicara lagi. Namun, kali ini bukan tentang gosip. Mereka membicarakan hal yang baru saja terjadi.

Tidak ingin hal ini berlarut-larut, Mela mulai meminta warga untuk melapor ke perangkat desa tentang kejadian tersebut. Mela juga meminta ibu-ibu yang lain, membawa Darmi ke rumah sakit untuk melakukan visum yang akan menjadi bukti. Dia bahkan, meminta ibu-ibu di sana untuk menjadi saksi yang akan memperkuat laporan mereka ke polisi.

Hingga menjelang sore, rumah Darmi mulai sepi. Mela masih duduk di samping Darmi.

Wanita itu menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Bekas merah di pipinya belum sepenuhnya hilang, meski sudah di obati

"Mel," suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Terima kasih."

Mela menoleh, tersenyum tipis. "Tidak perlu berterima kasih, mbak. Kami menolongmu, sama saja kami menolong diri kami sendiri," ucapnya sambil menatap Yati, Asih dan Surti."

Darmi menggeleng pelan. Air matanya kembali menggenang.

"Kalau bukan karena kamu, mungkin hari ini... " kalimatnya terhenti, tenggorokannya tercekat, sebelum akhirnya Darmi menarik napas panjang. "Aku juga minta maaf."

Mela sedikit mengernyit. "Minta maaf untuk apa, mbak?"

Darmi menunduk lebih dalam. "Aku... Aku sudah ngomongin kamu di belakang. Tentang perceraian mu."

Suasana hening sejenak.

Mela tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang ke depan, ke arah pintu yang masih terbuka.

"Aku sudah tahu," ucapnya pelan.

Darmi terkejut. "Kamu tahu?"

Mela mengangguk kecil. "Di desa seperti ini, kabar tidak pernah berhenti di satu orang."

Darmi menggigit bibirnya, merasa semakin bersalah. "Aku cuma penasaran. Dan—" Ia berhenti, lalu menggeleng. "Aku salah."

Mela menatapnya. Tidak ada kemarahan maupun rasa kecewa. "Hidup kita memang sering jadi cerita orang lain, mbak. Jadi, tidak usah di pikirkan. Yang penting, bagaimana kita menjalani hidup selanjutnya."

Ucapan itu justru membuat dada Darmi terasa semakin sesak. Ia menutup wajahnya sejenak, lalu berkata dengan suara bergetar,

"Ini bukan pertama kalinya, Mel. Kalau lagi marah, mas Bejo bisa seperti tadi, kadang lebih parah."

Tangannya gemetar. "Aku pernah minta tolong sama ibu mertua. Tapi, jawabannya hanya di suruh sabar."

Yati dan Asih mendekat, mengusap bahu Darmi yang bergetar.

"Kami juga sering dengar kalian bertengkar. Tapi, gak nyangka bisa separah ini, mbak," timpal Yati.

"Aku gak nyalahin kalian," lirih Darmi.

Mela menarik napas pelan. "Banyak orang di desa belum benar-benar paham hukum. Mereka bukan tidak peduli, tapi mereka takut," ucap Mela.

"Takut?" ulang Darmi lirih.

"Takut, kalau kesaksian mereka justru berbalik," jelas Mela. "Takut, kalau yang mereka hadapi punya lebih banyak kekuatan. Apalagi, kalau lawannya orang yang dianggap ‘berada’ atau punya pengaruh besar."

Darmi terdiam. Penjelasan itu, sangat masuk akal.

Mela melanjutkan, suaranya tetap tenang, tapi kini terdengar lebih dalam. "Tapi, takut bukan berarti harus terus diam."

Darmi mengangkat wajahnya perlahan.

"Kita tidak perlu takut kalau kita benar. Dan, yang terpenting ada bukti dan saksi." Mela menatap lurus ke depan, seolah berbicara bukan hanya pada Darmi, tapi juga pada dirinya sendiri.

"Aku memang bercerai. Tapi, aku juga punya alasan.” Ia tersenyum tipis, namun terasa pahit. "Aku memilih itu untuk mempertahankan harga diriku sebagai seorang istri."

Darmi menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Mela sebagai wanita yang ditinggalkan, melainkan wanita yang memilih pergi untuk bangkit dan bertahan hidup

"Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita. Kita sama," lanjut Mela. Lalu, Ia menoleh pada Darmi. "Tapi, dalam hubungan, kita harus saling menghormati dan saling menghargai. Jika tidak, salah satu akan tersakiti dan merasa tertekan."

Darmi menunduk. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini berbeda. Bukan hanya karena sakit, tapi karena ia mulai mengerti. Selama ini, ia terlalu lama bertahan dalam sesuatu yang tidak seharusnya ia terima.

"Mel..." suara Darmi terdengar bergetar. "Apa aku juga bisa seperti kamu?"

Mela tersenyum kecil. "Tentu saja," jawab Mela. "Tapi, semua tergantung pada keputusanmu, mbak. Dan, bagaimana sikap mas Bejo nantinya."

Darmi terdiam, menatap keluar halaman. Angin sore berhembus pelan. Dan, untuk pertama kalinya, ia merasa tidak lagi ditelan oleh ketakutan.

"Aku mengerti, Mel. Terima kasih."

Terpopuler

Comments

Marina Tarigan

Marina Tarigan

wanita dinikahi bukan utk fisiksa tapi utk saling melengkapi saling mengasihi wanita juga bisa membunub laki2 bukan dvn kekerasan kom

2026-08-26

1

LENY

LENY

SIIP MELA KEREN TUH TUKANG GOSIF JD MALU SENDIRI MBAK DARMI🙈🙈

2026-08-26

0

Ds Phone

Ds Phone

kena ada orang yang sedar kan

2026-06-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Ingin Bercerai
2 Bab 2 Keputusan Yang Menutup Segalanya
3 Bab 3 Pulang
4 Bab 4 Gosip
5 Bab 5 Melawan
6 Bab 6 Luka Yang Masih Terasa
7 Bab 7 Kenangan Yang Tertinggal
8 Bab 8 Menanam Harapan
9 Bab 9 Harapan Yang Mulai Tumbuh
10 Bab 10 Mulai Berkembang
11 Bab 11 Muncul Masalah
12 Bab 12 Menangkap Pelaku
13 Bab 13 Harga Dari Sebuah Langkah
14 Bab 14 Pasti Ada Jalan
15 Bab 15 Teman Lama
16 Bab 16 Peringatan
17 Bab 17 Luka Lama Yang Mulai Sembuh
18 Bab 18 Mengumumkan Pernikahan
19 Bab 19 Dua Kehidupan Yang Berbeda
20 Bab 20 Pesta
21 Bab 21 Kehidupan Baru
22 Bab 22 Aku Akan Menunggu
23 Bab 23 Kesempurnaan Yang Dibayar Mahal
24 Bab 24 Kekosongan Yang Mulai Terasa
25 Bab 25 Langkah Besar
26 Bab 26 Balasan
27 Bab 27 Hancur
28 Bab 28 Karma
29 Bab 29 Di Sita
30 Bab 30 Jalan Terakhir
31 Bab 31 Kesuksesan Mantan Istri
32 Bab 32 Gelas Yang Pecah
33 Bab 33 Kehilangan Sepenuhnya
34 Bab 34 Hasutan
35 Bab 35 Takut Kehilangan Lagi
36 Bab 36 Jangan Memberi Jalan
37 Bab 37 Tekad Kuat
38 Bab 38 Calon Suami
39 Bab 39 Jawaban Lamaran
40 Bab 40 Untuk Yang Terakhir Kalinya
41 Bab 41 Berpisah Sementara
42 Bab 42 Masih Peduli
43 Bab 43 Mendapat Pekerjaan
44 Bab 44 Rencana Yang Gagal
45 Bab 45 Rencana Setelah Menikah
46 Bab 46 Fakta Yang Mengejutkan
47 Bab 47 Ketakutan Yang Mulai Terasa
48 Bab 48 Pulang
49 Bab 49 Pulang 2
50 Bab 50 Surat Pengalihan Harta
51 Bab 51 Rencana Terselubung
52 Bab 52 Kebahagiaan Yang Terancam
53 Bab 53 Ancaman Halus
54 Bab 54 Sadar Sepenuhnya
55 Bab 55 Hari Bahagia
56 Bab 56 Jujur
57 Bab 57 Maaf
58 Bab 58 Pergi Ke Kota
59 Bab 59 Konferensi Pers
60 Bab 60 Unggahan Palsu (Cyberbullying)
61 Bab 61 Mela Akhirnya Tahu
62 Bab 62 Kata-kata Yang Menenangkan
63 Bab 63 Klarifikasi
64 Bab 64 Mengambil Langkah Hukum
65 Bab 65 Menangkap Pelaku
66 Bab 66 Camila
67 Bab 67 Tertangkap
68 Bab 68 Menyerahkan Diri
69 Bab 69 Mengunjungi Camila
70 Bab 70 Menyelesaikan Urusan
71 Bab 71 Mengakhiri Semuanya
72 Bab 72 Memenangkan Hati Mela
73 Bab 73 Keputusan Pengadilan
74 Bab 74 Impian Mela
75 Bab 75 Kondisi Mela
76 Bab 76 Beban Yang Di Pikul Sendiri
77 Bab 77 Menjaga Suasana Hati Mela
78 Bab 78 Pulang
79 Bab 79 Kita Selesaikan Bersama
80 Bab 80 Sakit
81 Bab 81 Kabar Baik
82 Bab 82 Takut
83 Bab 83 Perdebatan
84 Bab 84 Semua Akan Baik-baik Saja
85 Bab 85 Ketakutan Yang Kembali Muncul
86 Bab 86 Terima Kasih Sudah Bertahan
87 Bab 87 Dua Malaikat Kecil
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Bab 1 Aku Ingin Bercerai
2
Bab 2 Keputusan Yang Menutup Segalanya
3
Bab 3 Pulang
4
Bab 4 Gosip
5
Bab 5 Melawan
6
Bab 6 Luka Yang Masih Terasa
7
Bab 7 Kenangan Yang Tertinggal
8
Bab 8 Menanam Harapan
9
Bab 9 Harapan Yang Mulai Tumbuh
10
Bab 10 Mulai Berkembang
11
Bab 11 Muncul Masalah
12
Bab 12 Menangkap Pelaku
13
Bab 13 Harga Dari Sebuah Langkah
14
Bab 14 Pasti Ada Jalan
15
Bab 15 Teman Lama
16
Bab 16 Peringatan
17
Bab 17 Luka Lama Yang Mulai Sembuh
18
Bab 18 Mengumumkan Pernikahan
19
Bab 19 Dua Kehidupan Yang Berbeda
20
Bab 20 Pesta
21
Bab 21 Kehidupan Baru
22
Bab 22 Aku Akan Menunggu
23
Bab 23 Kesempurnaan Yang Dibayar Mahal
24
Bab 24 Kekosongan Yang Mulai Terasa
25
Bab 25 Langkah Besar
26
Bab 26 Balasan
27
Bab 27 Hancur
28
Bab 28 Karma
29
Bab 29 Di Sita
30
Bab 30 Jalan Terakhir
31
Bab 31 Kesuksesan Mantan Istri
32
Bab 32 Gelas Yang Pecah
33
Bab 33 Kehilangan Sepenuhnya
34
Bab 34 Hasutan
35
Bab 35 Takut Kehilangan Lagi
36
Bab 36 Jangan Memberi Jalan
37
Bab 37 Tekad Kuat
38
Bab 38 Calon Suami
39
Bab 39 Jawaban Lamaran
40
Bab 40 Untuk Yang Terakhir Kalinya
41
Bab 41 Berpisah Sementara
42
Bab 42 Masih Peduli
43
Bab 43 Mendapat Pekerjaan
44
Bab 44 Rencana Yang Gagal
45
Bab 45 Rencana Setelah Menikah
46
Bab 46 Fakta Yang Mengejutkan
47
Bab 47 Ketakutan Yang Mulai Terasa
48
Bab 48 Pulang
49
Bab 49 Pulang 2
50
Bab 50 Surat Pengalihan Harta
51
Bab 51 Rencana Terselubung
52
Bab 52 Kebahagiaan Yang Terancam
53
Bab 53 Ancaman Halus
54
Bab 54 Sadar Sepenuhnya
55
Bab 55 Hari Bahagia
56
Bab 56 Jujur
57
Bab 57 Maaf
58
Bab 58 Pergi Ke Kota
59
Bab 59 Konferensi Pers
60
Bab 60 Unggahan Palsu (Cyberbullying)
61
Bab 61 Mela Akhirnya Tahu
62
Bab 62 Kata-kata Yang Menenangkan
63
Bab 63 Klarifikasi
64
Bab 64 Mengambil Langkah Hukum
65
Bab 65 Menangkap Pelaku
66
Bab 66 Camila
67
Bab 67 Tertangkap
68
Bab 68 Menyerahkan Diri
69
Bab 69 Mengunjungi Camila
70
Bab 70 Menyelesaikan Urusan
71
Bab 71 Mengakhiri Semuanya
72
Bab 72 Memenangkan Hati Mela
73
Bab 73 Keputusan Pengadilan
74
Bab 74 Impian Mela
75
Bab 75 Kondisi Mela
76
Bab 76 Beban Yang Di Pikul Sendiri
77
Bab 77 Menjaga Suasana Hati Mela
78
Bab 78 Pulang
79
Bab 79 Kita Selesaikan Bersama
80
Bab 80 Sakit
81
Bab 81 Kabar Baik
82
Bab 82 Takut
83
Bab 83 Perdebatan
84
Bab 84 Semua Akan Baik-baik Saja
85
Bab 85 Ketakutan Yang Kembali Muncul
86
Bab 86 Terima Kasih Sudah Bertahan
87
Bab 87 Dua Malaikat Kecil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!