Bab 3 Pulang

Kereta bergerak perlahan meninggalkan kota.

Mela duduk di dekat jendela, kepalanya bersandar dan matanya terpejam. Ia menyimpan koper di bagasi atas tempat ia duduk dan meletakkan tas kecil di bawah kursi. Di dalamnya hanya ada pakaian secukupnya dan beberapa barang pribadi. Tidak ada perhiasan, tidak ada kenangan yang ingin ia simpan.

Perlahan, ia membuka matanya, menatap sebuah kunci tua berwarna kusam dan kartu pemberian Rahman.

Dia tersenyum miris, teringat saat membereskan barangnya dan hendak angkat kaki dari keluarga Wijaya.

Dengan angkuh, Rahman dan mantan ibu mertuanya terus meremehkan nya, menganggap ia tidak akan bertahan hidup tanpa mereka.

Terlebih lagi, saat Rahman ingin memberikan beberapa aset dan properti sebagai bagian harta gono-gini, Camila dan Dyah justru melarang dan menganggapnya tidak pantas mendapatkan nya, karena selama ia menjadi bagian keluarga Wijaya, ia tidak berkontribusi apapun.

Mela tersenyum sarkas. Dia tidak berkontribusi dalam keluarga? Lucu sekali.

Ia memang tidak membantu mengembangkan bisnis keluarga, mencari uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi, ia yang sudah menjaga, merawat dan melayani keluarga Wijaya. Tidak hanya satu atau dua tahun. Tapi, selama dua puluh tahun. Dan, itu bukan waktu yang singkat.

Tanpa dirinya, apa Rahman bisa bekerja dengan tenang? Apa kondisi Dyah akan membaik? Dan, apa putrinya bisa tumbuh sehat seperti sekarang?

Mereka selalu menganggap remeh usaha dan pengorbanannya. Bahkan, sampai tega mengkhianatinya. Tidak hanya Rahman, tapi mantan ibu mertua dan juga putrinya sendiri membela orang luar.

Mela masih menatap dua benda itu. Meski, Camila dan Dyah melarang Rahman memberikan sebagian harta padanya, tapi Rahman tetap memberinya uang.

Ia akan menggunakannya dengan baik setelah sampai di tempat kelahirannya, di Desa Morana.

Mela mengambil tasnya, menyimpan kedua benda tersebut lalu, menatap keluar jendela.

Setiap kilometer yang dilewati terasa seperti lapisan beban yang terlepas dari dadanya. Gedung-gedung tinggi berganti sawah, suara bising berubah menjadi angin yang menyentuh jendela.

Ia teringat rumah itu, rumah dengan lantai kayu yang berderit, halaman kecil dengan pohon mangga tua, dan bau tanah basah setelah hujan. Tempat yang dulu ia tinggalkan demi menikah, demi kehidupan yang ia anggap lebih layak.

Tidak berapa lama, Kereta berhenti.

Mela bangkit, menenteng tas kecilnya lalu mengambil koper di bagasi atas. Perlahan tapi pasti, ia turun dari kereta, di sambut udara segar desa Morana dengan kesederhanaan yang nyaris Mela lupakan.

Ia berjalan menyusuri jalan desa, dengan koper yang ditarik pelan. Beberapa orang menoleh, sebagian mengenalinya, sebagian hanya tersenyum ramah.

Kini, ia sampai di depan Rumah kayu warisan orang tuanya yang masih berdiri, meski terlihat tua dan catnya mengelupas.

Mela memasukkan kunci lalu, membuka pintu perlahan dan di sambut debu bersama kesunyian yang tidak menakutkan.

Mela masuk perlahan, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Lalu, ia meletakkan kopernya, berjalan perlahan dengan tangan yang menyentuh satu persatu perabotan yang tertutup kain putih yang berdebu tebal.

Ia lalu menarik salah satu kain. Debu langsung berterbangan, membuatnya batuk dan sesak. Lalu, ia duduk di kursi, menarik napas panjang dan tersenyum kecil.

"Akhirnya, aku pulang," bisiknya pada diri sendiri.

Mela akhirnya bangkit, menarik kopernya ke kamar. Saat membuka pintu, lagi-lagi debu menyambutnya. Dia meletakan koper di sudut ruangan, lalu mulai menggulung lengan bajunya, membersihkan rumah, di mulai dari kamarnya.

"Sepertinya, besok aku harus membeli alat kebersihan yang baru dan beberapa peralatan untuk membersihkan halaman dan kebun," gumam Mela.

Ia menyeka keringat, kembali menyapu, membersihkan sarang laba-laba. Lalu, berpindah di ruang tamu dan dapur.

Mela menarik napas dalam dengan tangan berkacak pinggang. Dapur yang sudah ia tinggalkan begitu lama, masih terlihat sama. Masih menggunakan kayu bakar dan peralatan seadanya.

Dia mulai membersihkannya, menyalakan kayu bakar di tungku untuk merebus air.

Tanpa terasa, hari sudah malam. Mela menutup pintu kayu, mematikan lampu ruang tamu dan memilih istirahat lebih awal.

Dia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit dalam diam.

Kini, ia mulai merasakan kesunyian. Hanya suara hewan malam yang terdengar di luar. Namun, ia tidak takut sama sekali. Dan, ia harus membiasakan diri dengan kesendirian ini.

...****************...

Keesokan paginya di Morana, matahari masuk melalui celah kayu rumahnya. Namun, Mela tidak buru-buru bangun.

Ia masih berbaring di kasurnya, melihat jam di ponsel dan tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak perlu bangun lebih pagi dari siapa pun. Tidak perlu menyiapkan keperluan orang lain, tidak perlu melayani orang lain dan memikirkan jadwal obat orang lain.

Meski begitu, Mela akhirnya bangun ketika matahari sudah naik. Hari ini, ia akan pergi ke pasar, membeli beberapa peralatan kebersihan, kebutuhan dapur dan kamar mandi.

Ia segera membersihkan diri dan bersiap. Saat, ia keluar dari rumah, tetangga mulai memperhatikannya. Mereka hanya menyapa dengan senyuman, tanpa berani bertanya.

Namun, begitu ia berlalu, mereka mulai berkumpul.

"Bukannya itu Mela. Kenapa tiba-tiba dia pulang ke desa? Apa dia di usir suaminya yang kaya itu?"

"Hush! Jangan bicara sembarangan. Nanti, kalau Mela dengar bagaimana?"

"Memangnya, kamu tidak penasaran?"

"Ya... Penasaran, sih. Tapi, itu bukan urusan kita."

Mela yang berjalan belum terlalu jauh, samar-samar mendengar pembicaraan mereka. Namun, ia hanya tersenyum tanpa niat berhenti atau menjelaskannya.

Ia sudah menduga, kepulangannya akan menjadi bahan pembicaraan tetangganya. Apalagi, ia pulang seorang diri, setelah dua puluh tahun lamanya.

Namun, ia tidak peduli dengan penilaian mereka. Yang terpenting, ia akan menata hidupnya menjadi lebih baik, di tanah kelahirannya.

Tidak berapa lama, Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Mela pulang menaiki mobil pickup kecil yang mengangkut barang belanjaannya.

Setelah semua barang di turunkan, ia langsung memasang kompor dan tabung gas, lalu memasak air untuk membuat teh hangat.

Setelahnya, ia menyapu halaman, membersihkan rumput liar, lalu duduk di teras sambil menikmati secangkir teh hangat.

Dia memejamkan matanya, menikmati udara sejuk tanpa ada suara keluhan dan tanpa ada perintah. Hanya burung dan angin yang terdengar.

"Sepertinya, aku harus merenovasi rumah dan membuat lahan untuk menanam sayur-sayuran," gumam Mela.

Hari-hari berikutnya berjalan sederhana. Ia mulai membersihkan rumah sedikit demi sedikit, mengganti papan yang lapuk, mengecat ulang dinding dengan warna netral, menanam cabai dan sayur di pekarangan.

Tetangga mulai memperhatikannya. Salah satunya, yang bernama Darmi, memberanikan diri untuk berkunjung ke rumah Mela.

"Apa yang kamu lakukan, Mel?" tanya Darmi.

Mela mendongak, lalu tersenyum. "Eh, mbak Darmi." Ia berdiri. "Aku hanya menanam sayuran saja. Ada apa mbak?"

"O-oh, tidak ada apa-apa. Hanya saja... Sudah beberapa hari yang lalu kamu pulang, tapi aku belum sempat menyapa mu," ujar Darmi.

Mela tersenyum. "Tidak apa-apa, mbak."

"Tapi... " Darmi sedikit mendekat. "Kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba kamu pulang? Maksud ku..." ia menoleh kearah dalam rumah Mela, lalu kembali menatapnya.

"Dimana Suami dan anakmu?"

Mela hanya terdiam. Tanpa sadar, tangannya mulai menggenggam erat peralatan yang ada di tangannya.

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

DYAH DAN CAMILA WANITA IBLIS TUNGGULAH KARMA KALIAN. RAHMAN JG SUAMI BIADAB. KASIHAN KAMU MELA DI ZOLIMI BERTAHUN TAHUN 😥😥🙈😡😡😡

2026-08-26

0

Ds Phone

Ds Phone

dah bercerai bodoh kepoh sangat

2026-06-29

1

Yati Syahira

Yati Syahira

bsngkit sukdes punya suami dzolim hartanya habis dan ancur

2026-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Ingin Bercerai
2 Bab 2 Keputusan Yang Menutup Segalanya
3 Bab 3 Pulang
4 Bab 4 Gosip
5 Bab 5 Melawan
6 Bab 6 Luka Yang Masih Terasa
7 Bab 7 Kenangan Yang Tertinggal
8 Bab 8 Menanam Harapan
9 Bab 9 Harapan Yang Mulai Tumbuh
10 Bab 10 Mulai Berkembang
11 Bab 11 Muncul Masalah
12 Bab 12 Menangkap Pelaku
13 Bab 13 Harga Dari Sebuah Langkah
14 Bab 14 Pasti Ada Jalan
15 Bab 15 Teman Lama
16 Bab 16 Peringatan
17 Bab 17 Luka Lama Yang Mulai Sembuh
18 Bab 18 Mengumumkan Pernikahan
19 Bab 19 Dua Kehidupan Yang Berbeda
20 Bab 20 Pesta
21 Bab 21 Kehidupan Baru
22 Bab 22 Aku Akan Menunggu
23 Bab 23 Kesempurnaan Yang Dibayar Mahal
24 Bab 24 Kekosongan Yang Mulai Terasa
25 Bab 25 Langkah Besar
26 Bab 26 Balasan
27 Bab 27 Hancur
28 Bab 28 Karma
29 Bab 29 Di Sita
30 Bab 30 Jalan Terakhir
31 Bab 31 Kesuksesan Mantan Istri
32 Bab 32 Gelas Yang Pecah
33 Bab 33 Kehilangan Sepenuhnya
34 Bab 34 Hasutan
35 Bab 35 Takut Kehilangan Lagi
36 Bab 36 Jangan Memberi Jalan
37 Bab 37 Tekad Kuat
38 Bab 38 Calon Suami
39 Bab 39 Jawaban Lamaran
40 Bab 40 Untuk Yang Terakhir Kalinya
41 Bab 41 Berpisah Sementara
42 Bab 42 Masih Peduli
43 Bab 43 Mendapat Pekerjaan
44 Bab 44 Rencana Yang Gagal
45 Bab 45 Rencana Setelah Menikah
46 Bab 46 Fakta Yang Mengejutkan
47 Bab 47 Ketakutan Yang Mulai Terasa
48 Bab 48 Pulang
49 Bab 49 Pulang 2
50 Bab 50 Surat Pengalihan Harta
51 Bab 51 Rencana Terselubung
52 Bab 52 Kebahagiaan Yang Terancam
53 Bab 53 Ancaman Halus
54 Bab 54 Sadar Sepenuhnya
55 Bab 55 Hari Bahagia
56 Bab 56 Jujur
57 Bab 57 Maaf
58 Bab 58 Pergi Ke Kota
59 Bab 59 Konferensi Pers
60 Bab 60 Unggahan Palsu (Cyberbullying)
61 Bab 61 Mela Akhirnya Tahu
62 Bab 62 Kata-kata Yang Menenangkan
63 Bab 63 Klarifikasi
64 Bab 64 Mengambil Langkah Hukum
65 Bab 65 Menangkap Pelaku
66 Bab 66 Camila
67 Bab 67 Tertangkap
68 Bab 68 Menyerahkan Diri
69 Bab 69 Mengunjungi Camila
70 Bab 70 Menyelesaikan Urusan
71 Bab 71 Mengakhiri Semuanya
72 Bab 72 Memenangkan Hati Mela
73 Bab 73 Keputusan Pengadilan
74 Bab 74 Impian Mela
75 Bab 75 Kondisi Mela
76 Bab 76 Beban Yang Di Pikul Sendiri
77 Bab 77 Menjaga Suasana Hati Mela
78 Bab 78 Pulang
79 Bab 79 Kita Selesaikan Bersama
80 Bab 80 Sakit
81 Bab 81 Kabar Baik
82 Bab 82 Takut
83 Bab 83 Perdebatan
84 Bab 84 Semua Akan Baik-baik Saja
85 Bab 85 Ketakutan Yang Kembali Muncul
86 Bab 86 Terima Kasih Sudah Bertahan
87 Bab 87 Dua Malaikat Kecil
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Bab 1 Aku Ingin Bercerai
2
Bab 2 Keputusan Yang Menutup Segalanya
3
Bab 3 Pulang
4
Bab 4 Gosip
5
Bab 5 Melawan
6
Bab 6 Luka Yang Masih Terasa
7
Bab 7 Kenangan Yang Tertinggal
8
Bab 8 Menanam Harapan
9
Bab 9 Harapan Yang Mulai Tumbuh
10
Bab 10 Mulai Berkembang
11
Bab 11 Muncul Masalah
12
Bab 12 Menangkap Pelaku
13
Bab 13 Harga Dari Sebuah Langkah
14
Bab 14 Pasti Ada Jalan
15
Bab 15 Teman Lama
16
Bab 16 Peringatan
17
Bab 17 Luka Lama Yang Mulai Sembuh
18
Bab 18 Mengumumkan Pernikahan
19
Bab 19 Dua Kehidupan Yang Berbeda
20
Bab 20 Pesta
21
Bab 21 Kehidupan Baru
22
Bab 22 Aku Akan Menunggu
23
Bab 23 Kesempurnaan Yang Dibayar Mahal
24
Bab 24 Kekosongan Yang Mulai Terasa
25
Bab 25 Langkah Besar
26
Bab 26 Balasan
27
Bab 27 Hancur
28
Bab 28 Karma
29
Bab 29 Di Sita
30
Bab 30 Jalan Terakhir
31
Bab 31 Kesuksesan Mantan Istri
32
Bab 32 Gelas Yang Pecah
33
Bab 33 Kehilangan Sepenuhnya
34
Bab 34 Hasutan
35
Bab 35 Takut Kehilangan Lagi
36
Bab 36 Jangan Memberi Jalan
37
Bab 37 Tekad Kuat
38
Bab 38 Calon Suami
39
Bab 39 Jawaban Lamaran
40
Bab 40 Untuk Yang Terakhir Kalinya
41
Bab 41 Berpisah Sementara
42
Bab 42 Masih Peduli
43
Bab 43 Mendapat Pekerjaan
44
Bab 44 Rencana Yang Gagal
45
Bab 45 Rencana Setelah Menikah
46
Bab 46 Fakta Yang Mengejutkan
47
Bab 47 Ketakutan Yang Mulai Terasa
48
Bab 48 Pulang
49
Bab 49 Pulang 2
50
Bab 50 Surat Pengalihan Harta
51
Bab 51 Rencana Terselubung
52
Bab 52 Kebahagiaan Yang Terancam
53
Bab 53 Ancaman Halus
54
Bab 54 Sadar Sepenuhnya
55
Bab 55 Hari Bahagia
56
Bab 56 Jujur
57
Bab 57 Maaf
58
Bab 58 Pergi Ke Kota
59
Bab 59 Konferensi Pers
60
Bab 60 Unggahan Palsu (Cyberbullying)
61
Bab 61 Mela Akhirnya Tahu
62
Bab 62 Kata-kata Yang Menenangkan
63
Bab 63 Klarifikasi
64
Bab 64 Mengambil Langkah Hukum
65
Bab 65 Menangkap Pelaku
66
Bab 66 Camila
67
Bab 67 Tertangkap
68
Bab 68 Menyerahkan Diri
69
Bab 69 Mengunjungi Camila
70
Bab 70 Menyelesaikan Urusan
71
Bab 71 Mengakhiri Semuanya
72
Bab 72 Memenangkan Hati Mela
73
Bab 73 Keputusan Pengadilan
74
Bab 74 Impian Mela
75
Bab 75 Kondisi Mela
76
Bab 76 Beban Yang Di Pikul Sendiri
77
Bab 77 Menjaga Suasana Hati Mela
78
Bab 78 Pulang
79
Bab 79 Kita Selesaikan Bersama
80
Bab 80 Sakit
81
Bab 81 Kabar Baik
82
Bab 82 Takut
83
Bab 83 Perdebatan
84
Bab 84 Semua Akan Baik-baik Saja
85
Bab 85 Ketakutan Yang Kembali Muncul
86
Bab 86 Terima Kasih Sudah Bertahan
87
Bab 87 Dua Malaikat Kecil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!