Chapter 4

‎"Maaf aku bohong, sebenarnya tadi aku berencana makan malam di luar, jadi tidak masak banyak dirumah," Nara meletakkan piring berisi lasagna dan salad kecil di atas meja makan yang sudah dihias dengan lilin kecil. "Tapi aku punya sisa makanan yang cukup untuk dua orang, semoga kamu tidak keberatan."

‎‎Rendra duduk di kursinya dengan senyum hangat, melihat bagaimana Nara bergerak untuk menyiapkan makan malam membuatnya semakin terpana. "Tidak apa-apa, Nara. Ini saja sudah cukup untukku."

‎‎Suasana awalnya sedikit sunyi saat mereka mulai makan. Nara hanya mengunyah makanan dengan perlahan, terkadang menatap ke arah jendela dengan pandangan jauh. Suara-suara yang dia dengar di ruangan kerja suaminya tadi terus menganggu pikirannya.

‎‎"Tadi kamu berdiri didekat kantor Arga," ucap Rendra pelan, membuat Nara menoleh padanya. "Apa kamu berencana untuk makan malam diluar dengannya?"

‎‎Nara menghela napas lembut, menegakkan sedikit tubuhnya dan terlihat sedikit gugup. "Awalnya aku ingin memberinya kejutan, Ren. Aku pikir kami bisa merayakan ulang tahunku bersama, makan malam romantis seperti dulu. Tapi..."

‎‎Matanya mulai berkaca-kaca lagi, tapi kali ini dia berusaha untuk tidak menangis. "Tapi aku tidak menemukan dia di ruangannya, jadi aku pikir mungkin dia sudah dalam perjalanan pulang ke rumah,"

‎‎Rendra menurunkan garpu dari tangannya, sebelum dia sempat membuka suara kembali, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah tersebut. Keduanya menyadari bahwa itu adalah suara mobil Arga yang datang. Nara langsung tegang, tangannya menggenggam sendok dengan erat hingga buku tangannya memucat. Dan semua itu tak luput dari perhatian Rendra.

‎‎Tak lama kemudian, mereka mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat, dan pintu depan terbuka. Arga masuk dengan tangan yang membawa buket besar mawar merah muda dan putih – bunga kesukaan Nara, serta sebuah kotak kecil yang berisi kue. Wajahnya yang tadinya penuh senyum langsung berubah kaget saat melihat Rendra duduk di meja makannya bersama istrinya.

‎‎"Rendra? Bagaimana kamu bisa ada disini?" tanya Arga, menatap Nara dan Rendra secara bergantian.

‎‎Nara menarik napas dalam-dalam sebelum mengangkat wajahnya untuk menatap suaminya. Matanya masih sedikit merah, tapi kini sudah tidak lagi menunjukkan rasa harapan seperti dulu.

‎‎"Aku yang mengundangnya, Mas," ucapnya dengan suara yang tenang namun penuh beban. "Tadi kami tidak sengaja bertemu dijalan saat aku sedang mencari taksi, jadi Rendra mengantarkanku pulang sekalian."

‎‎Arga menaruh buket bunga dan kotak kue di atas meja makan, kemudian menarik kursi untuk duduk di samping istrinya. Dia mengusap kepala Nara dengan lembut.

‎‎"Kenapa kamu tidak meneleponku dan memintaku untuk menjemputku saja sayang," ucapnya dengan rasa khawatir, "Aku pasti akan segera datang menjemputmu jika kamu bilang,"

‎‎Nara menjauhkan sedikit kepalanya dari sentuhan suaminya. "Aku tidak ingin mengganggumu, Mas."

‎‎"Akhir-akhir ini kamu sibuk dikantor dan jarang memiliki waktu untukku," sambung Nara dengan suara yang semakin pelan, matanya menatap permukaan meja yang berkilau. "Jadi aku pikir kamu benar-benar sibuk, dan aku tidak ingin mengganggu fokusmu."

‎‎Arga menghela napas dalam-dalam, "Sesibuk apapun aku pasti akan menyempatkan waktu untuk menjemputmu sayang, lain kali jangan membuatku khawatir ya,"

Rendra hanya duduk diam sambil matanya mengamati kedua orang itu. Ujung bibirnya sedikit melengkung, sementara jari-jarinya bermain diatas meja. Dia menoleh sejenak ke arah jendela, menutupi ekspresi yang mulai menunjukkan rasa tidak puas terhadap alasan yang diberikan Arga.

‎‎"Kalau begitu, mungkin lebih baik aku pamit pulang sekarang," ucap Rendra dengan nada yang tenang namun jelas, mengarahkan kembali pandangannya pada mereka berdua. Matanya tertuju pada Nara sebentar, memberikan pandangan yang penuh perhatian sebelum berpaling ke Arga. "Aku tidak ingin mengganggu momen romantis kalian berdua malam ini."

‎‎Rendra berdiri. Saat dia hendak berjalan menuju pintu, Nara tiba-tiba berdiri dan berlari ke arahnya.

‎‎"Tunggu, Ren." panggilnya dengan suara bergetar, memaksakan sebuah senyuman diwajahnya saat melihat Rendra berbalik dan menatapnya. "Terimakasih sudah menemaniku makan malam."

‎‎"Tidak perlu berterima kasih, Nara," ucapnya dengan nada lembut, ekspresi wajahnya yang tadinya sedikit kaku kini mencair menjadi senyum hangat. "Aku senang bisa ada disini menemanimu."

‎Matanya melihat senyuman Nara yang terlihat dipaksakan, lalu melirik sebentar ke arah Arga yang kini berdiri diam di dekat meja makan. Arga melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka berdua.

‎‎"Aku baru saja pulang, kenapa tidak tinggal sedikit lebih lama lagi biar kita bisa ngopi-ngopi bareng, Ren." ujar Arga, menepuk bahu Rendra.

‎"Terima kasih atas tawarannya, Arga," jawab Rendra dengan nada yang tetap tenang. "Tapi mungkin lebih baik aku pulang saja sekarang. Malam sudah larut, dan aku rasa kalian berdua perlu waktu untuk berbicara secara pribadi."

‎‎Dia menoleh ke arah Nara, "Selamat ulang tahun, Nara. Oya, aku sepertinya punya sesuatu untukmu. Tunggu sebentar, aku akan ambil dulu di mobil."

‎Rendra berbalik dan berjalan keluar dari rumah menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang. Dia mengambil sebuah kotak yang sudah dia siapkan dari jauh-jauh hari. Sebuah kotak dengan ukiran bunga mawar kecil di permukaannya.

‎‎Setelah beberapa saat, dia kembali masuk dengan membawa kotak itu. Dia menghampiri Nara dan memberikan kotak dengan kedua tangan, senyumnya hangat namun penuh perhatian.

‎"Tadinya aku ingin memberikan ini untuk temanku, tapi setelah aku pikir-pikir sepertinya hadiah ini lebih cocok untukmu." ucap Rendra.

‎‎Nara menerima kotak itu dengan wajah bingung, "Ren, harusnya kamu tidak perlu repot-repot memberikan sesuatu untukku."

‎‎"Tapi aku ingin melakukannya," jawab Rendra sambil mengangguk pelan. "Semoga hadiah ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan di hari spesialmu ini, Nara."

‎‎Setelah itu, Rendra memberikan satu senyuman terakhir sebelum berjalan keluar dari rumah. Nara masih berdiri di tempatnya, memegang kotak itu erat-erat. Setelah beberapa saat, dia menoleh ke arah Arga yang masih berdiri di sampingnya.

‎‎Matanya menelisik dari rambut Arga yang sedikit berantakan hingga dasinya yang tidak terpasang dengan benar, kemudian pada kemeja putihnya yang tampak sedikit kusut dan ada sedikit noda lipstik dibagian kerahnya. Suara-suara yang dia dengar di kantor tadi kembali menghantui pikirannya.

‎‎"Kamu sibuk dengan pekerjaan, atau sibuk dengan hal lain Mas?"

-

-

-

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Zuri

Zuri

masih mode ngeles ngeles jaga jarak yaa😏

2026-03-26

0

Mita Paramita

Mita Paramita

tuh kn Nara curiga 🤨udh tau cuma ngetes aja🤣🤣🤣

2026-03-26

0

Al Fatih

Al Fatih

bilang cinta,, tapi bisa selingkuh....,, prettt kau argo

2026-05-13

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Karya Baru
88 Promosi Karya
89 Karya Baru
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Karya Baru
88
Promosi Karya
89
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!