Chapter 5

Arga terkejut sejenak, tatapan Nara malam ini tak sehangat biasanya. Ada sesuatu di dalam pandangannya yang membuat hatinya terasa seperti tertusuk jarum, dingin dan tajam, berbeda dari pandangan penuh cinta yang selalu dia terima setiap kali dia pulang kerja.

‎‎Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan diri sebelum berbicara lagi. "Sayang, apa yang sebenarnya kamu maksud? Kamu marah ya karena aku pulang terlambat lagi,"

‎‎Nara tidak menjawab langsung. Dia berjalan ke arah meja makan dan meletakkan hadiah dari Rendra disana, menegakkan tubuhnya dengan pandangan menatap lurus ke jendela kaca.

‎"Aku tidak marah karena kamu pulang terlambat, Mas," ucapnya, lalu menoleh ke arah suaminya yang masih berdiri disana dan memberikan senyum hambar. "Aku ke kamar duluan ya, hari ini aku sangat lelah gara-gara sibuk mengurus sesuatu yang tidak penting."

‎Nara mengambil kembali hadiah dari Rendra dan melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar. Pandangan Arga terpaku pada sosok istrinya yang mulai berjalan menjauh. Tangannya ingin meraihnya, tapi dia tidak ingin membuat suasana hati Nara semakin buruk.

‎‎"Dia pasti marah karena aku pulang terlambat. Besok aku akan booking kafe dan siapkan makan malam yang romantis untuknya sebagai permintaan maaf," bisik Arga sambil menghela napas panjang, matanya masih mengikuti jejak Nara hingga sosok istrinya itu menghilang dibalik tembok.

‎‎Arga berjalan mengelilingi meja makan yang kini terasa sepi dan luas. Bunga mawar merah muda dan putih yang dia beli masih terpajang indah di atas meja, disertai kotak kue yang belum pernah disentuh. Semua persiapan kecil yang dia lakukan untuk memberikan kejutan kini terasa sia-sia bahkan menyakitkan.

-

-

-

Rendra yang baru saja selesai mandi segera keluar dari kamarnya ketika terdengar bunyi bel pintu di apartemen mewahnya. Dia menyapu rambutnya yang masih basah dengan handuk sambil berjalan menuju pintu, berpikir mungkin asistennya yang datang untuk mengantarkan beberapa berkas penting yang akan dia pelajari di rumah.

‎‎Dia membuka kunci pintu dengan cepat, ekspresi wajahnya yang tadinya siap menerima berkas berubah terkejut saat melihat sosok Nara yang berdiri di luar pintu apartemennya yang luas. Wanita itu mengenakan kaos putih dan celana jeans panjang, dengan tas kecil di bahunya dan sebuah paperbag berwarna coklat di tangannya.

‎‎"Nara? Kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?" ucap Rendra masih tak percaya, dia membuka pintu lebih lebar agar Nara bisa masuk dengan mudah. "Maaf ya, aku kira asistenku yang datang. Ayo silakan masuk, aku tidak menyangka kamu akan datang."

‎‎Nara memberikan senyum lembut, lalu melangkahkan kakinya memasuki apartemen mewah yang dihuni oleh Rendra. Setelah menutup pintu kembali, Rendra mengikuti dibelakangnya.

‎‎"Maaf aku datang tanpa pemberitahuan dulu, Ren," ucapnya sambil menatap ke sekeliling ruangan. "Aku hanya ingin mengembalikan jaketmu yang kamu pinjamkan padaku kemarin malam. Sudah aku cuci dan jemur sampai kering."

‎‎Dia memberikan paperbag itu kepada Rendra yang langsung disambut oleh Rendra. "Harusnya kamu tidak perlu repot-repot mencucinya, Nara. Aku bisa melakukannya sendiri,"

‎‎"Ayo duduk dulu," ajak Rendra sambil mengajaknya ke arah ruang tamu. "Apa Arga yang memberitahu alamatku padamu?"

‎‎Nara mengangguk dan duduk di sofa, menurunkan tasnya dari bahunya dan meletakkannya di sampingnya. "Tadi pagi aku bilang padanya kalau aku mau mengembalikan jaketmu, jadi aku minta alamatmu padanya."

‎‎Dia menghela napas perlahan, kedua tangannya saling meremas kuat seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk kembali berbicara. "Ren, menurutmu mas Arga bagaimana?"

‎‎Rendra yang duduk di sofa sebelahnya mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan itu, "Kamu istrinya, kenapa bertanya padaku. Kenapa? Apa ada masalah?"

‎‎Nara menundukkan kepalanya sebentar, matanya menatap kedua tangannya yang masih saling meremas di pangkuannya. "Ren... maukah kamu menemaniku pergi ke kantor mas Arga sekarang?"

‎"Ini sudah jam lima lewat, aku tahu mas Arga tidak akan pulang cepat meskipun tadi pagi dia bilang akan pulang lebih awal untuk menjemputku dan akan mengajakku pergi makan malam diluar, tapi aku merasa perlu melihatnya langsung kesana," sambung Nara dengan suara yang sedikit bergetar namun penuh tekad. Dia akhirnya mengangkat pandangan untuk menatap Rendra.

‎‎Rendra terdiam sejenak, melihat wajah wanita itu yang seperti menyimpan sesuatu.

‎‎"Nara, kenapa kamu tidak menunggunya pulang saja, kenapa kamu harus ke kantornya?" tanya Rendra. "Apa ini ada hubungannya dengan kamu yang berdiri sendirian didekat kantor Arga semalam? Apa kamu mengetahui sesuatu?"

‎‎Nara mengangguk, dia menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Kalau kamu tidak keberatan, tolong temani aku ya,"

‎‎‎‎Rendra terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dengan tegas, "Tentu saja aku akan menemanimu, Nara. Kalau begitu tunggulah disini, aku akan ganti pakaian dulu,"

‎‎"Baik, Ren. Aku akan tunggu disini," jawab Nara.

‎‎Rendra segera berdiri dan berjalan menuju kamar tidurnya dengan langkah cepat. Begitu sampai di dalam kamar, seringai tipis muncul diwajahnya. Dia tahu saat seperti ini pasti akan tiba, saat dimana Nara akan datang padanya. Lambat laun wanita itu pasti akan menyadari jika hanya dialah yang mencintainya dengan sepenuh hati.

-

-

-

‎Arga telah menyelesaikan berkas-berkas penting yang harus diselesaikan hari itu, lalu menyimpan semua dokumen dengan rapi ke dalam laci meja. Dia mengambil jasnya dari sandaran kursi dan mulai mengenakannya, senyum tipis muncul di wajahnya saat memikirkan bagaimana cara meminta maaf yang lebih baik kepada Nara malam ini.

‎‎"Dia pasti akan suka dengan kejutan yang akan kuberikan," pikirnya sambil melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit.

‎‎Saat dia keluar dari meja kerjanya, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan Alya yang masuk dengan wajah yang terlihat kesal.

‎‎"Kamu tidak akan pulang sekarang, Arga." Dia menutup pintu kembali, lalu berjalan cepat mendekati meja Arga.

‎‎"Alya, kamu tidak bisa seperti ini. Aku harus segera pulang, Nara sudah menungguku. Aku tidak ingin mengecewakannya untuk malam ini." Arga mencoba untuk melewati wanita itu, namun gagal saat Alya berdiri menghalangi jalannya.

‎‎"Ayo kita lihat, kali ini kamu pasti tidak akan menyebutnya sebagai kesalahan, Arga Adinata!" ‎‎Alya melangkah lebih dekat, menatapnya dengan pandangan yang penuh hasrat dan tekad, tangan kirinya perlahan merayap ke dada pria itu sebelum akhirnya menekan dan mendorongnya ke arah meja kerjanya.

‎‎"Apa kamu sungguh akan meninggalkanku begitu saja untuknya?" bisiknya dengan suara menggoda. Tangan kanannya menyusuri sisi wajah Arga yang mulai tampak gelisah, lalu berhenti di dagunya. "Kita sudah bersama selama enam bulan lebih, Arga. Aku sudah memberikan segalanya padamu, waktu, perhatian, bahkan bagian dariku yang tidak pernah aku berikan pada siapapun."

‎‎Saat Alya terus mendorongnya perlahan, Arga terpaksa bersandar pada ujung meja kerjanya yang dingin. Dia mencoba untuk menjauhkan wajahnya dari sentuhan Alya, namun ruang yang tersisa semakin menyempit.

‎‎"Alya, cukup," ucapnya dengan suara yang mulai terengah-engah, tangannya mencoba untuk menahan tubuh Alya agar tidak semakin mendekat. "Aku tahu aku salah, tapi kita tidak bisa terus seperti ini. Nara adalah segalanya bagiku!"

‎‎Namun Alya tak menghiraukan, tangannya merayap turun dari dada Arga kebawah, menyentuh sesuatu yang sudah keras dibalik celana bahan hitamnya.

‎‎"Alya, jangan!" teriaknya dengan suara yang mulai terdengar rawan, pandangannya melihat ke arah pintu seolah berharap bisa segera melarikan diri. Tapi ketika tangannya mencoba untuk menarik tangan Alya kembali, wanita itu malah menekan bagian itu dengan lembut namun penuh maksud.

‎‎Alya menurunkan tubuhnya dan berjongkok di depan Arga, tangannya dengan cepat membuka sabuk celana pria itu lalu menurunkan celananya dengan tergesa-gesa.

‎‎"Hmmm... Alya... ahhh..."

‎‎Arga memejamkan mata saat kejantanannya yang sudah tegak dimasukkan kedalam mulut Alya, tubuhnya terpaku di atas meja karena tekanan dari sentuhan Alya yang membuatnya terjebak antara hasrat dan rasa bersalah. Suaranya terdengar menggairahkan namun juga penuh dengan kesadaran bahwa dia sedang melakukan kesalahan yang tak terampuni.

-

-

-

Bersambung...

Terpopuler

Comments

dome🌬️🌀🌀🌀

dome🌬️🌀🌀🌀

kucing garong disodorin ikan asin yaa langsung mangap lah😂😂😂. apa lagi ada sambel tterasi tempe gorng lalpan sama sayur asem..beuuhhhh... dunia milik sendiri yg laen pada ngekos🤣

2026-08-26

0

Yeni Fitriani

Yeni Fitriani

arga adalah laki2 yg teramat lemah dan murahan...... gampng banget tunduk sm apem murah

2026-06-04

3

Tika Rostika

Tika Rostika

lanjut ,, dasar laki2 gak ada akhlak . istri sendiri d anggurin malah kepincut ulet bulu

2026-03-27

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Karya Baru
88 Promosi Karya
89 Karya Baru
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Karya Baru
88
Promosi Karya
89
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!