Permainan Politik Dalam Istana

"Lepaskan aku bajingan!! Aku tak sudi melayani nafsu bejat mu!!! "

Tunjung Biru meronta kuat ingin melepaskan diri dari pelukan Pangeran Mapanji Wijaya. Yang tidak ia sangka sang pangeran malah tak berusaha mengekang nya hingga akhirnya perempuan cantik itu akhirnya jatuh terjerembab ke lantai kamar.

Rasa sakit karena jatuh sendiri hampir membuat Tunjung Biru, sang primadona rumah hiburan Nyai Kantil, memaki Pangeran Mapanji Wijaya yang menurutnya sengaja melepaskan nya agar jatuh.

Namun niat itu diurungkan Tunjung Biru.

Apa penyebabnya??!!

Sebuah jarum berwarna biru menancap di lantai hampir seruas jari tepat di hadapannya. Ia pun langsung menyadari sesuatu. Ini jelas jarum beracun yang ditembakkan dari atas.

"Sudah lihat kan? ", tanya Pangeran Mapanji Wijaya sembari mendudukkan pantat nya di tepi ranjang dengan acuh tak acuh.

" K-kau kapan menyadari ada orang yang ingin mencelakai kita? ", Tunjung Biru balik bertanya. Dia bangkit dari tempat jatuhnya dan menatap Pangeran Mapanji Wijaya penuh tanya.

" Sejak awal kita masuk kesini, orang itu sudah ada di atap bangunan ini. Sewaktu aku mengejar mu tadi, dia menembakkan dua kali jarum beracun itu. Masih tak percaya? Lihat yang di dinding sebelah sana.. ", Pangeran Mapanji Wijaya menunjuk ke arah dinding di sebelah kanan Tunjung Biru.

Perempuan cantik itu buru-buru berlari dan melihat ke arah dinding sambil membawa salah satu lampu penerangan kamar tidur itu. Dan semua yang diucapkan oleh Pangeran Mapanji Wijaya benar adanya.

"Kau apakah masih Pangeran Mapanji Wijaya yang pecundang itu?! ", seru Tunjung Biru setengah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

" Itulah aku... ", jawab Pangeran Mapanji Wijaya dengan santai.

" Tidak mungkin. Hanya seorang pendekar berilmu tinggi yang bisa melakukan hal seperti ini ( menghindari serangan sumpit di waktu malam gelap gulita).

Kau yang hanya seorang pecundang yang suka berfoya-foya tak mungkin bisa melakukannya", lanjut Tunjung Biru masih tetap tak percaya.

Sebagai bekas putri seorang pimpinan perguruan silat di wilayah Kambang Putih, dia sedikit banyak tahu dunia kependekaran. Meskipun akhirnya ia menjadi budak yang diperjualbelikan ke rumah hiburan karena kesalahan ayahnya yang membantu pemberontakan Adipati Hujung Galuh, Tunjung Biru tahu betul bahwa hanya seorang pendekar berilmu tinggi saja yang bisa menghindari serangan senjata rahasia di malam hari.

"Itu tidak penting...

Aku sudah membayar biaya pelayanan mu selama disini. Kau harus melakukan sesuatu untuk ku.. ", ucap Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Tunjung Biru segera menyilangkan kedua tangannya ke depan dada.

" M-mau apa kau hah?! Jangan macam-macam.. ", hardik Tunjung Biru segera.

" Haeehhhhh, aku tak tertarik untuk bercumbu dengan mu. Dada rata belum tumbuh begitu apanya yang menarik?! ", karuan saja omongan Pangeran Mapanji Wijaya membuat Tunjung Biru marah.

" Kau.... !!! "

"Kau apanya yang kau....!

Sudahlah aku tidak tertarik untuk berdebat dengan mu. Aku butuhkan kerjasama mu. Jadi begini selama aku datang kesini, kau akan mencari mu. Kau cukup berpura-pura melakukan itu dengan ku disini. Buat suara yang genit dan heboh, agar mereka percaya aku adalah si bajingan mesum. Aku berjanji tak akan menyentuh mu sama sekali. Bagaimana? Bisa kita kerjasama? ", Pangeran Mapanji Wijaya menatap wajah Tunjung Biru yang kebingungan.

" Kau membayar mahal-mahal hanya untuk terus terlihat sebagai seorang hidung belang?!

Gusti Pangeran, kau sudah gila ya?!! ", sergah Tunjung Biru tak percaya.

" Jangan banyak bicara. Bisa tidak?! Kalau tidak bisa aku bisa mencari orang lain yang mau melakukan nya. Dan kau huh siap-siap saja melayani para pria hidung belang itu selamanya ", tekan Pangeran Mapanji Wijaya penuh kemenangan.

Tunjung Biru terdiam sejenak untuk berpikir. Saat Pangeran Mapanji Wijaya hendak beranjak pergi, dia buru-buru menahannya.

" Baiklah baiklah, aku setuju dengan mu... ", jawab Tunjung Biru segera.

" Sepakat!

Ini sudah cukup malam. Waktunya aku untuk pulang ke istana. Selamat malam... "

Setelah bicara demikian, Pangeran Mapanji Wijaya segera melangkah keluar dari dalam bilik Tunjung Biru. Meninggalkan Tunjung Biru yang masih bertanya-tanya dalam hati.

Semua lelaki yang ada di dalam rumah pelacuran Nyai Kantil menatap ke arah Pangeran Mapanji Wijaya dengan rasa iri karena sudah mendapatkan perempuan secantik Tunjung Biru. Menggunakan kereta kuda mewah, Pangeran Mapanji Wijaya meninggalkan tempat itu menuju ke arah Istana Kotaraja Watugaluh bersama dua orang pengikut setia nya Warak dan Ludaka. Mereka menyusuri jalanan yang sepi di barat kota.

Begitu memasuki istana, Pangeran Mapanji Wijaya segera menuju ke arah Keputran yang menjadi tempat tinggal nya. Di sudut timur keputran Watugaluh, di sebuah puri indah, ia melangkah dengan gontai seperti habis menenggak minuman keras.

Dua penjaga puri Pangeran Mapanji Wijaya hanya menghormat pada sang empunya tempat tanpa bicara sepatah katapun. Mereka tahu salah sedikit saja, pasti kena hajar.

Ludaka dan Warak langsung kembali ke tempat tinggal mereka yang ada di luar ruang peristirahatan Pangeran Mapanji Wijaya.

Sesampainya di tempat tidur, bukannya merebahkan tubuh Pangeran Mapanji Wijaya malah duduk bersila dengan kedua tangan menangkup di depan dada. Tak lama kemudian...

Clliiiiiinngggg!!!

Seorang lelaki sepuh dengan janggut putih panjang muncul di hadapan Pangeran Mapanji Wijaya. Kemunculan pria tua ini membuat Pangeran Mapanji Wijaya menghentikan semedi nya dan langsung berjongkok sambil menyembah pada orang tua itu.

"Guru, kau sudah datang.. "

Hemmmmmmmmm...

"Aku melihat kau sudah cukup siap untuk menerima ilmu dari ku, Wijaya..

Aku akan membawa mu ke suatu tempat. Pejamkan mata mu", ucap lelaki sepuh berpakaian serba putih itu sambil memegang pergelangan tangan Pangeran Mapanji Wijaya. Sang putra kedua dari Maharani Sri Isyana Tunggawijaya ini dengan patuh memejamkan mata dan di kejap waktu berikutnya mereka sudah menghilang dari tempat itu.

Sementara itu, di timur tembok istana...

Mangir berjalan sambil tersenyum lebar. Dengan berhasil menghasut Jantaka untuk memberi pelajaran pada Pangeran Mapanji Wijaya, ia mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Dia tidak perlu memberikan upah yang dititipkan pada nya sekaligus juga sudah berhasil menjalankan perintah.

Dia menuju ke sebuah rumah besar yang dipagar tembok tinggi, mirip dengan istana hanya dalam bentuk yang lebih kecil. Itu adalah kediaman Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana, pelaksana tugas yang bertanggungjawab langsung pada Maharani Sri Isyana Tunggawijaya.

Dua prajurit yang berjaga di pintu gerbang rumah hanya menganggukkan kepala saat Mangir masuk. Sepertinya mereka memang saling mengenal satu sama lain.

Seorang lelaki paruh baya dengan pakaian bangsawan sedang berbincang-bincang dengan seorang perwira yang lebih muda. Pembicaraan mereka langsung terhenti saat Mangir masuk.

"Bagaimana, Ngir? Beres?? ", tanya lelaki paruh baya itu begitu Mangir duduk bersila di hadapan nya.

" Ampun Gusti Rakryan Kanuruhan...

Saat ini Pangeran Mapanji Wijaya sedang bersenang-senang di rumah hiburan Nyai Kantil. Saat ini orang suruhan hamba pasti sudah bertindak ", lapor Mangir sambil menghormat.

" Kau yakin orang ini bisa diandalkan? ", tegas lelaki paruh baya itu seraya menatap ke arah Mangir.

" Hamba mengenal nya sudah lama, tahu bagaimana kemampuan nya. Masalah ini Gusti Rakryan Kanuruhan tak perlu cemas", balas Mangir sembari tersenyum.

" Bagus!

Si pecundang itu akhirnya mendapatkan balasan dari perbuatan bejat nya. Aku sudah lama tidak suka dengan sepak terjang nya selama ini. Dengan begini jalan bagi Gusti Mahamantri I Hino Pangeran Mapanji Jayanegara akan semakin mudah dengan berkurangnya satu pesaing untuk menjadi Yuwaraja Kerajaan Medang.

Akhirnya hari ini tiba juga hahaha... ", tawa lepas lelaki paruh baya yang bernama Mpu Kertawahana ini terdengar keras.

" Tapi Gusti Rakryan Kanuruhan..

Bukankah masih ada Pangeran Mapanji Setyaki? Dia sekarang saja sudah diangkat oleh Maharani Sri Isyana Tunggawijaya sebagai Mahamantri I Halu. Menurut hamba, dia juga pantas kita waspadai ", ujar seorang lelaki yang duduk bersila di samping Mpu Kertawahana.

Ckckckck...

" Kau berpikir terlalu pendek, Tumenggung Mpu Kandadaha. Mapanji Setyaki hanya anak seorang selir. Sekalipun ia putra tertua Sri Lokapala yang terkenal pintar dan berbudi luhur seperti Pangeran Mapanji Jayanegara, tetapi Maharani Sri Isyana Tunggawijaya tak mungkin memilihnya sebagai penerus tahta Kerajaan Medang ini. Penguasa kerajaan ini tetap Maharani Sri Isyana Tunggawijaya sekalipun ia sepenuhnya bergantung pada kebijaksanaan Sri Lokapala di belakang nya. Dan aku tahu Sri Lokapala sudah menyerahkan sepenuhnya urusan Yuwaraja Kerajaan Medang pada Maharani Sri Isyana Tunggawijaya. Dia tidak akan ikut campur sedikitpun", Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana menghela nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan omongan nya,

"Satu-satunya pesaing utama perebutan tahta kerajaan ini,

Hanya pangeran bejat itu.. "

Terpopuler

Comments

rajes salam lubis

rajes salam lubis

lanjut

2026-06-14

0

Idrus Salam

Idrus Salam

Kamuflase

2026-04-09

2

🗣️🏡s⃝ᴿ GueJoe🦅

🗣️🏡s⃝ᴿ GueJoe🦅

Ha ha ha.. Pangeran Bejat tapi nanti jadi sakti 😅

2026-04-03

3

lihat semua
Episodes
1 Tikus Kecil
2 Permainan Politik Dalam Istana
3 Munculnya Yang Terpilih
4 Pisowanan Rutin
5 Ratri dan Wulan
6 Jalan Barat Kotaraja
7 Anak Jadah
8 Anak Jadah 2
9 Keributan di Pintu Gerbang Timur Istana
10 Golek Kayu Sihir
11 Perempuan Tua di Belakang Bayangan
12 Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 1 )
13 Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 2 )
14 Cerita Malam di Anjuk Ladang
15 Rebutan
16 Gerombolan Macan Alas ( bagian 1 )
17 Gerombolan Macan Alas ( bagian 2 )
18 Wangsit
19 Dua Iblis Berwajah Dewa
20 Sosok Bayangan Misterius
21 Dua Syarat Dewi Kembang Sore
22 Berguru Lagi
23 Ilmu Pedang Pengejar Angin
24 Ajian Surya Brahma
25 Munculnya Serikat Bulan Darah
26 Wanua Tuntang
27 Bentrokan
28 Bangunan Suci Nawagraha
29 Saudara Seperguruan Nararya Candrawulan
30 Pertempuran di Candi Nawagraha ( bagian 1 )
31 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 2 ).
32 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 3 )
33 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 4 )
34 Kendali
35 Pengadil Yang Seadil-adilnya
36 Ditangkap
37 Menuju ke Weleri
38 Konflik Weleri
39 Sidang Raden Karna
40 Pasukan Bayangan Hitam dari Sriwijaya
41 Saudagar Kaya Raya dari Negeri Song
42 Bantuan
43 Kungfu Melawan Silat
44 Menuju Kalingga
45 Teka-teki Pembantaian Perguruan Lembah Matahari
46 Persekutuan Pendekar
47 Silugangga Si Lowo Ijo
48 Hubungan
49 Lembah Seribu Luka
50 Dalang Sebenarnya
51 Jati Diri Nararya Candrawulan
52 Kemelut Kalingga
53 Perhitungan Melawan Waktu
54 Pengakuan dari Para Perwira Kalingga
55 Pertarungan di Depan Pintu Gerbang Kota
56 Akhir Hayat Seorang Pemberontak
57 Musuh-musuh Mulai Bergerak
58 Sojara
59 Perang Gaib
60 Penggemblengan
61 Arak Beracun di Hari Pernikahan
62 Sosok Berpakaian Hitam
63 Ayu Ratna
64 Langkah Selanjutnya
65 Membersihkan Sisa-sisa Pendukung Senopati Argadhana
66 Pemuda Desa Bernama Glusur
67 Pertarungan di Ujung Kampung
68 Menuju Vanagiri
69 Sepasang Setan Gunung Prenjak
70 Sepasang Setan Gunung Prenjak 2
71 Wong Agung Wilis
72 Maling Aguna
73 Di Tepi Kali Oyo
74 Dua Kakek Sinting
75 Kau Ini Siapa?
76 Rencana Jahat Di Perbatasan
77 Kericuhan Dalam Perundingan
78 Batu Sandungan Terberat
79 Hal Tidak Terduga
80 Rahasia Sebenarnya Sang Pangeran Pecundang
81 Berita
82 Watak Hasinan
83 Dedemit Rawa Tawing
84 Pertapaan Sigar Mayang
85 Obrolan Di Tengah Hujan
86 Karsana
87 Jasa Pengawalan
88 Manusia Setengah Kera
89 Kutuk Pasu Sang Begawan
90 Perompak Sungai
91 Pertarungan Di Atas Kapal
92 Sang Pembawa Laporan
93 Sojara, Warak dan Ludaka
94 Pertemuan Di Depan Gerbang Istana Watugaluh
95 Titah Sang Maharani
96 Menelusuri Jejak-jejak Nyai Rampes
97 Petirtaan Suci Belahan
98 Melawan Mpu Lokananta
99 Wanua Lumbang
100 Istana Lamajang
101 Rencana Adipati Mpu Cakra
102 Kecolongan
103 Istri Keempat
104 Kesepakatan di Pertapaan Gumukmas
105 Situasi Kotaraja Blambangan
106 Taktik Perang Supit Urang
107 Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 1 )
108 Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 2 )
109 Wong Agung Purwo Turun Gunung
110 Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 1 )
111 Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 2 )
112 Akhir Hayat Sang Pemberontak
113 Masalah Hujung Galuh
114 Pilihan Terbaik
115 Persiapan Menyerbu Kota Hujung Galuh
116 Pertempuran Hujung Galuh
117 Berita Mengejutkan
118 Rencana Terakhir Dewi Widoningrum
119 Jebakan
120 Membongkar Luka Lama ( bagian 1 )
121 Membongkar Luka Lama ( bagian 2 )
122 Pisowanan
123 Kejutan Di Istana Watugaluh
124 Drama Istana Masih Berlanjut
Episodes

Updated 124 Episodes

1
Tikus Kecil
2
Permainan Politik Dalam Istana
3
Munculnya Yang Terpilih
4
Pisowanan Rutin
5
Ratri dan Wulan
6
Jalan Barat Kotaraja
7
Anak Jadah
8
Anak Jadah 2
9
Keributan di Pintu Gerbang Timur Istana
10
Golek Kayu Sihir
11
Perempuan Tua di Belakang Bayangan
12
Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 1 )
13
Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 2 )
14
Cerita Malam di Anjuk Ladang
15
Rebutan
16
Gerombolan Macan Alas ( bagian 1 )
17
Gerombolan Macan Alas ( bagian 2 )
18
Wangsit
19
Dua Iblis Berwajah Dewa
20
Sosok Bayangan Misterius
21
Dua Syarat Dewi Kembang Sore
22
Berguru Lagi
23
Ilmu Pedang Pengejar Angin
24
Ajian Surya Brahma
25
Munculnya Serikat Bulan Darah
26
Wanua Tuntang
27
Bentrokan
28
Bangunan Suci Nawagraha
29
Saudara Seperguruan Nararya Candrawulan
30
Pertempuran di Candi Nawagraha ( bagian 1 )
31
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 2 ).
32
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 3 )
33
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 4 )
34
Kendali
35
Pengadil Yang Seadil-adilnya
36
Ditangkap
37
Menuju ke Weleri
38
Konflik Weleri
39
Sidang Raden Karna
40
Pasukan Bayangan Hitam dari Sriwijaya
41
Saudagar Kaya Raya dari Negeri Song
42
Bantuan
43
Kungfu Melawan Silat
44
Menuju Kalingga
45
Teka-teki Pembantaian Perguruan Lembah Matahari
46
Persekutuan Pendekar
47
Silugangga Si Lowo Ijo
48
Hubungan
49
Lembah Seribu Luka
50
Dalang Sebenarnya
51
Jati Diri Nararya Candrawulan
52
Kemelut Kalingga
53
Perhitungan Melawan Waktu
54
Pengakuan dari Para Perwira Kalingga
55
Pertarungan di Depan Pintu Gerbang Kota
56
Akhir Hayat Seorang Pemberontak
57
Musuh-musuh Mulai Bergerak
58
Sojara
59
Perang Gaib
60
Penggemblengan
61
Arak Beracun di Hari Pernikahan
62
Sosok Berpakaian Hitam
63
Ayu Ratna
64
Langkah Selanjutnya
65
Membersihkan Sisa-sisa Pendukung Senopati Argadhana
66
Pemuda Desa Bernama Glusur
67
Pertarungan di Ujung Kampung
68
Menuju Vanagiri
69
Sepasang Setan Gunung Prenjak
70
Sepasang Setan Gunung Prenjak 2
71
Wong Agung Wilis
72
Maling Aguna
73
Di Tepi Kali Oyo
74
Dua Kakek Sinting
75
Kau Ini Siapa?
76
Rencana Jahat Di Perbatasan
77
Kericuhan Dalam Perundingan
78
Batu Sandungan Terberat
79
Hal Tidak Terduga
80
Rahasia Sebenarnya Sang Pangeran Pecundang
81
Berita
82
Watak Hasinan
83
Dedemit Rawa Tawing
84
Pertapaan Sigar Mayang
85
Obrolan Di Tengah Hujan
86
Karsana
87
Jasa Pengawalan
88
Manusia Setengah Kera
89
Kutuk Pasu Sang Begawan
90
Perompak Sungai
91
Pertarungan Di Atas Kapal
92
Sang Pembawa Laporan
93
Sojara, Warak dan Ludaka
94
Pertemuan Di Depan Gerbang Istana Watugaluh
95
Titah Sang Maharani
96
Menelusuri Jejak-jejak Nyai Rampes
97
Petirtaan Suci Belahan
98
Melawan Mpu Lokananta
99
Wanua Lumbang
100
Istana Lamajang
101
Rencana Adipati Mpu Cakra
102
Kecolongan
103
Istri Keempat
104
Kesepakatan di Pertapaan Gumukmas
105
Situasi Kotaraja Blambangan
106
Taktik Perang Supit Urang
107
Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 1 )
108
Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 2 )
109
Wong Agung Purwo Turun Gunung
110
Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 1 )
111
Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 2 )
112
Akhir Hayat Sang Pemberontak
113
Masalah Hujung Galuh
114
Pilihan Terbaik
115
Persiapan Menyerbu Kota Hujung Galuh
116
Pertempuran Hujung Galuh
117
Berita Mengejutkan
118
Rencana Terakhir Dewi Widoningrum
119
Jebakan
120
Membongkar Luka Lama ( bagian 1 )
121
Membongkar Luka Lama ( bagian 2 )
122
Pisowanan
123
Kejutan Di Istana Watugaluh
124
Drama Istana Masih Berlanjut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!