Rahasia Pangeran Pecundang

Rahasia Pangeran Pecundang

Tikus Kecil

"Pelayan, tambah lagi twak nya..!!! "

Seorang pemuda tampan dengan tubuh tegap dan pakaian bangsawan, berteriak sambil melemparkan kendi kosong ke lantai tempat hiburan terbesar di barat Kotaraja Watugaluh. Wajahnya memerah karena mabok berat.

Dua orang perempuan muda nan cantik dengan pakaian nyaris memamerkan bagian tubuh, menggelayut manja di kedua sisi badannya. Dengan genit keduanya terus menggesek-gesekkan payudara nya pada sang pemuda tampan ini.

Di belakang pemuda ini, Warak dan Ludaka dua pengawal berbadan gempal dan kekar dengan tampang sangar berdiri waspada.

Pemuda tampan ini adalah Mapanji Wijaya, putra kedua. Maharani Sri Isyana Tunggawijaya, penguasa Kerajaan Medang yang dikenal sebagai seorang pecundang besar daripada sebagai calon pewaris takhta. Tak satupun dari guru di Kotaraja Watugaluh mau menerima dia sebagai murid.

Teriakan keras Mapanji Wijaya terdengar ke seluruh penjuru rumah pelacuran ini. Seorang lelaki muda dengan tergesa-gesa mendekati meja Pangeran Mapanji Wijaya dan meletakkan kendi berisi minuman keras yang diminta sang pangeran.

"Mohon ampun Gusti Pangeran..

Ini sudah kendi ke 4, sebaiknya Gusti Pangeran....", nasehat lelaki berpakaian pelayan itu dengan wajah ketakutan.

" Hemmmm..

Kau berani mengatur ku?!! Warak, tampar mulut kurang ajar ini!!!", bentak Pangeran Mapanji Wijaya sembari bangkit dari tempat duduknya.

Warak yang berbadan gempal langsung maju dan mencengkeram baju si pelayan rumah hiburan ini. Tubuh ceking si pelayan langsung diangkat ke atas. Jari jemari Warak yang sebesar pisang klutuk siap melayang ke pipi si pelayan yang ketakutan saat seorang perempuan paruh baya berdandan menor datang dan langsung menghormat pada Mapanji Wijaya.

"Gusti Pangeran, mohon hentikan..

Si Madangkungan ini pelayan baru, kurang mengerti tata krama. Mohon Pangeran bersedia untuk memaafkannya. Kalau Pangeran mau memaafkan Madangkungan, nanti Gusti Pangeran akan hamba akan menyuruh Si Tunjung, primadona rumah hiburan ini untuk menemani Gusti Pangeran malam ini", ucap perempuan yang masih terlihat cantik ini segera.

Pangeran Mapanji Wijaya segera mengangkat tangannya tepat sesaat sebelum telapak tangan Warak menempeleng pipi si pelayan rumah hiburan yang bernama Madangkungan ini. Tentu saja melihat isyarat itu, Warak yang sudah hafal semua sikap majikannya, dengan patuh menghentikan pergerakannya. Dia langsung menurunkan tubuh Madangkungan yang gemetaran karena takut dan segera melepaskan nya.

"Hehehehe...

Aku suka dengan sikap mu ini, Nyai Kantil. Sekarang ayo antar aku ke kamar Si Tunjung, aku sudah tidak sabar untuk bermesraan dengan nya", ujar Pangeran Mapanji Wijaya sembari meletakkan dua kepeng perak di atas meja.

" Mari kita kesana, Gusti Pangeran.. ", sahut Nyai Kantil, mucikari sekaligus pemilik rumah pelacuran itu sambil tersenyum bahagia.

Keduanya segera pergi meninggalkan meja itu sementara dua pelacur yang menemani minum segera berebut kepeng perak yang ditinggalkan.

Ekor mata Pangeran Mapanji Wijaya melirik ke dekat pintu lorong kanan dan senyuman tipis tersungging di sudut mulutnya. Ia terus mengikuti Nyai Kantil diikuti oleh Warak dan Ludaka.

"Benar benar sampah!!

Orang seperti dia tidak pantas menjadi seorang pangeran dari Istana Kotaraja Watugaluh. Ini benar benar memalukan. Dia harus ku beri pelajaran..", geram seorang lelaki berusia antara 3 dasawarsa dengan pakaian bagus dan bertubuh kekar seperti seorang perwira prajurit. Tangannya memukul kayu tiang penyangga bangunan dengan sedikit keras.

Dia adalah satu dari dua orang yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik Pangeran Mapanji Wijaya.

Dua hari yang lalu, dua pengawal pribadi Pangeran Mapanji Wijaya Si Warak dan Ludaka menghajar adiknya Wismaya hanya karena menyenggol si pangeran yang sempoyongan berjalan setelah banyak menenggak minuman keras. Bagi yang sering datang ke rumah pelacuran Nyai Kantil, hal ini sudah biasa mereka lihat. Sang Pangeran Medang yang satu ini memang suka bersikap seperti ini, menindas orang seenaknya.

"Jangan bertindak gegabah, Jantaka...

Bagaimanapun juga, ia putra Yang Mulia Maharani Sri Isyana Tunggawijaya. Kita akan menjadi buronan jika sampai melukai nya", nasehat kawan nya yang berada di sisi dekat pintu lorong kanan rumah hiburan.

" Aku tak peduli, Mangir!!

Malam ini dia harus merasakan bagaimana rasanya terluka dengan senjata rahasia ku. Adik ku masih terkapar akibat kesombongannya, ia harus membayarnya ", jawab si pemuda bernama Jantaka ini berbalik arah. Melihat Jantaka bergerak, Mangir tersenyum licik. Dia segera berbalik arah meninggalkan tempat itu untuk melakukan rencana nya sendiri.

Nyai Kantil segera membawa Pangeran Mapanji Wijaya ke bilik di salah satu sudut bangunan rumah pelacuran ini. Bilik ini adalah bilik mewah yang cuma digunakan sebagai tempat tinggal primadona pelacuran itu.

Begitu pintu bilik dibuka, seorang gadis cantik dengan rona wajah penuh ketakutan meringkuk di atas ranjang. Dia segera bangun dari tempat tidur nya dan duduk sambil menangis sesenggukan.

"Gusti Pangeran, ini Tunjung Biru. Dia baru saja masuk ke rumah hiburan ini, mohon sedikit bersabar dengan nya ya hehehe..

Dia masih perawan loh, jadi harga nya sedikit mahal hihihihi", tawa genit Nyai Kantil terdengar.

Ada kilat aneh di mata Pangeran Mapanji Wijaya melihat keadaan Tunjung Biru yang sedemikian rupa. Tetapi ia cepat-cepat membalut perasaannya dengan seringai lebar seorang lelaki hidung belang.

Pangeran Mapanji Wijaya segera merogoh kantong baju nya dan memberikan kantong kain berisi duit pada Nyai Kantil. Mucikari itu segera membukanya dan mata nya melebar seketika melihat puluhan kepeng emas ada disana.

"Selama aku belum bosan bermain dengan nya, jangan sekali-kali membiarkan nya bermain dengan orang lain. Uang itu semuanya boleh kau ambil.. ", tutur Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat senyuman Nyai Kantil merekah seketika.

" Hamba patuh pada perintah Gusti Pangeran. Selamat bersenang-senang malam ini ", ucap Nyai Kantil sembari berlalu pergi dari kamar tidur ini.

Pangeran Mapanji Wijaya segera memberikan isyarat kepada Warak dan Ludaka agar mereka juga keluar. Dengan patuh, keduanya segera keluar sambil menutup pintu.

" M-mau apa kau hah?! Jangan harap bisa menyentuh ku!! "

Tunjung Biru segera mengeluarkan sebilah pisau yang ia simpan di balik selimut tidur nya.

"Kucing liar rupanya hehehe..

Aku jadi semangat ingin bercinta dengan mu. Ayo sini mendekat sama aku", ucap Pangeran Mapanji Wijaya seraya berjalan mendekati ranjang tidur. Ketakutan dengan sikap tak peduli Pangeran Mapanji Wijaya, Tunjung Biru melompat dari tempat tidur dan berlari ke arah pintu kamar.

Atap bangunan yang terbuat dari daun alang-alang kering perlahan di singkap dari atas dan sesosok bayangan hitam perlahan memasukkan ujung sumpit bambu dari luar. Perlahan ia memasukkan sebuah jarum berwarna biru dan begitu sasaran sudah ditentukan, si bayangan hitam segera meniupnya sekuat tenaga.

Puuuuuuuuhhhhh...

Shhrriiiiiinnngggggg!!!!

Ujung telinga Pangeran Mapanji Wijaya bergerak mendengarkan sesuatu membelah udara. Dia pun. dengan segera melihat ujung sumpit bambu tersembul dari langit-langit bilik. Maka dengan gerakan yang halus, ia menghindari serangan sumpit beracun ini. Dengan cepat ia meraih pergelangan tangan Tunjung Biru yang memegang pisau sesaat sebelum perempuan cantik itu mencapai gagang pintu.

Segera ia meremas pergelangan tangan Tunjung Biru yang membuat perempuan cantik itu kesakitan dan melepaskan pisau di tangan kanannya. Pisau meluncur ke bawah dan menancap di lantai.

Sementara sosok bayangan hitam yang melihat serangannya gagal, mendengus dingin sambil mengulangi serangannya. Kali ini ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyumpit Pangeran Mapanji Wijaya.

Shhrriiiiiinnngggggg..!!!

Pangeran Mapanji Wijaya yang sudah mengetahui bahwa ia sedang diincar seseorang, dengan santai nya merangkul pinggang ramping Tunjung Biru dan mendorong nya ke meja kecil di samping tempat tidur.

Lagi-lagi serangan sumpit ini hanya menancap pada dinding kamar tidur. Tetapi Pangeran Mapanji Wijaya tak bisa berdiam diri lagi. Dia dengan cepat menghentakkan kaki nya ke ubin bilik hingga pisau milik Tunjung Biru terangkat ke udara. Lalu dengan sebuah gerakan cepat, kaki nya menendang pisau itu ke arah sumpit.

Dhhaaaassssss shhrreeeeeeeeettttt!!!!

Kecepatan tinggi yang dimiliki oleh pisau itu melesat cepat bagaikan mata anak panah, merobek kain hitam yang menutupi wajah si bayangan hitam.

Uuuuuuggghhhh!!!

Jerit kecil tertahan langsung keluar dari si bayangan hitam yang tak lain adalah Jantaka. Pisau yang ditendang Pangeran Mapanji Wijaya tak cuma melepas penutup wajahnya tetapi menciptakan luka memanjang pada pipi kiri nya.

Menyadari bahwa dirinya sudah ketahuan, Jantaka langsung melarikan diri dari tempat itu. Sementara itu di bawah, Pangeran Mapanji Wijaya hanya tersenyum sedikit sembari berkata dengan nada dingin,

"Huh dasar tikus kecil.. "

Terpopuler

Comments

Alia Chans

Alia Chans

plisss ini seru banget 😣
like + Bunga, semangat thor✍️😉





kalo berkenan mampir ya thor😉

2026-06-21

1

rajes salam lubis

rajes salam lubis

baru nyimak thor

2026-06-12

0

Jojo Shua

Jojo Shua

😍✅️

2026-06-01

1

lihat semua
Episodes
1 Tikus Kecil
2 Permainan Politik Dalam Istana
3 Munculnya Yang Terpilih
4 Pisowanan Rutin
5 Ratri dan Wulan
6 Jalan Barat Kotaraja
7 Anak Jadah
8 Anak Jadah 2
9 Keributan di Pintu Gerbang Timur Istana
10 Golek Kayu Sihir
11 Perempuan Tua di Belakang Bayangan
12 Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 1 )
13 Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 2 )
14 Cerita Malam di Anjuk Ladang
15 Rebutan
16 Gerombolan Macan Alas ( bagian 1 )
17 Gerombolan Macan Alas ( bagian 2 )
18 Wangsit
19 Dua Iblis Berwajah Dewa
20 Sosok Bayangan Misterius
21 Dua Syarat Dewi Kembang Sore
22 Berguru Lagi
23 Ilmu Pedang Pengejar Angin
24 Ajian Surya Brahma
25 Munculnya Serikat Bulan Darah
26 Wanua Tuntang
27 Bentrokan
28 Bangunan Suci Nawagraha
29 Saudara Seperguruan Nararya Candrawulan
30 Pertempuran di Candi Nawagraha ( bagian 1 )
31 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 2 ).
32 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 3 )
33 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 4 )
34 Kendali
35 Pengadil Yang Seadil-adilnya
36 Ditangkap
37 Menuju ke Weleri
38 Konflik Weleri
39 Sidang Raden Karna
40 Pasukan Bayangan Hitam dari Sriwijaya
41 Saudagar Kaya Raya dari Negeri Song
42 Bantuan
43 Kungfu Melawan Silat
44 Menuju Kalingga
45 Teka-teki Pembantaian Perguruan Lembah Matahari
46 Persekutuan Pendekar
47 Silugangga Si Lowo Ijo
48 Hubungan
49 Lembah Seribu Luka
50 Dalang Sebenarnya
51 Jati Diri Nararya Candrawulan
52 Kemelut Kalingga
53 Perhitungan Melawan Waktu
54 Pengakuan dari Para Perwira Kalingga
55 Pertarungan di Depan Pintu Gerbang Kota
56 Akhir Hayat Seorang Pemberontak
57 Musuh-musuh Mulai Bergerak
58 Sojara
59 Perang Gaib
60 Penggemblengan
61 Arak Beracun di Hari Pernikahan
62 Sosok Berpakaian Hitam
63 Ayu Ratna
64 Langkah Selanjutnya
65 Membersihkan Sisa-sisa Pendukung Senopati Argadhana
66 Pemuda Desa Bernama Glusur
67 Pertarungan di Ujung Kampung
68 Menuju Vanagiri
69 Sepasang Setan Gunung Prenjak
70 Sepasang Setan Gunung Prenjak 2
71 Wong Agung Wilis
72 Maling Aguna
73 Di Tepi Kali Oyo
74 Dua Kakek Sinting
75 Kau Ini Siapa?
76 Rencana Jahat Di Perbatasan
77 Kericuhan Dalam Perundingan
78 Batu Sandungan Terberat
79 Hal Tidak Terduga
80 Rahasia Sebenarnya Sang Pangeran Pecundang
81 Berita
82 Watak Hasinan
83 Dedemit Rawa Tawing
84 Pertapaan Sigar Mayang
85 Obrolan Di Tengah Hujan
86 Karsana
87 Jasa Pengawalan
88 Manusia Setengah Kera
89 Kutuk Pasu Sang Begawan
90 Perompak Sungai
91 Pertarungan Di Atas Kapal
92 Sang Pembawa Laporan
93 Sojara, Warak dan Ludaka
94 Pertemuan Di Depan Gerbang Istana Watugaluh
95 Titah Sang Maharani
96 Menelusuri Jejak-jejak Nyai Rampes
97 Petirtaan Suci Belahan
98 Melawan Mpu Lokananta
99 Wanua Lumbang
100 Istana Lamajang
101 Rencana Adipati Mpu Cakra
102 Kecolongan
103 Istri Keempat
104 Kesepakatan di Pertapaan Gumukmas
105 Situasi Kotaraja Blambangan
106 Taktik Perang Supit Urang
107 Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 1 )
108 Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 2 )
109 Wong Agung Purwo Turun Gunung
110 Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 1 )
111 Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 2 )
112 Akhir Hayat Sang Pemberontak
113 Masalah Hujung Galuh
114 Pilihan Terbaik
115 Persiapan Menyerbu Kota Hujung Galuh
116 Pertempuran Hujung Galuh
117 Berita Mengejutkan
118 Rencana Terakhir Dewi Widoningrum
119 Jebakan
120 Membongkar Luka Lama ( bagian 1 )
121 Membongkar Luka Lama ( bagian 2 )
122 Pisowanan
123 Kejutan Di Istana Watugaluh
124 Drama Istana Masih Berlanjut
Episodes

Updated 124 Episodes

1
Tikus Kecil
2
Permainan Politik Dalam Istana
3
Munculnya Yang Terpilih
4
Pisowanan Rutin
5
Ratri dan Wulan
6
Jalan Barat Kotaraja
7
Anak Jadah
8
Anak Jadah 2
9
Keributan di Pintu Gerbang Timur Istana
10
Golek Kayu Sihir
11
Perempuan Tua di Belakang Bayangan
12
Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 1 )
13
Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 2 )
14
Cerita Malam di Anjuk Ladang
15
Rebutan
16
Gerombolan Macan Alas ( bagian 1 )
17
Gerombolan Macan Alas ( bagian 2 )
18
Wangsit
19
Dua Iblis Berwajah Dewa
20
Sosok Bayangan Misterius
21
Dua Syarat Dewi Kembang Sore
22
Berguru Lagi
23
Ilmu Pedang Pengejar Angin
24
Ajian Surya Brahma
25
Munculnya Serikat Bulan Darah
26
Wanua Tuntang
27
Bentrokan
28
Bangunan Suci Nawagraha
29
Saudara Seperguruan Nararya Candrawulan
30
Pertempuran di Candi Nawagraha ( bagian 1 )
31
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 2 ).
32
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 3 )
33
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 4 )
34
Kendali
35
Pengadil Yang Seadil-adilnya
36
Ditangkap
37
Menuju ke Weleri
38
Konflik Weleri
39
Sidang Raden Karna
40
Pasukan Bayangan Hitam dari Sriwijaya
41
Saudagar Kaya Raya dari Negeri Song
42
Bantuan
43
Kungfu Melawan Silat
44
Menuju Kalingga
45
Teka-teki Pembantaian Perguruan Lembah Matahari
46
Persekutuan Pendekar
47
Silugangga Si Lowo Ijo
48
Hubungan
49
Lembah Seribu Luka
50
Dalang Sebenarnya
51
Jati Diri Nararya Candrawulan
52
Kemelut Kalingga
53
Perhitungan Melawan Waktu
54
Pengakuan dari Para Perwira Kalingga
55
Pertarungan di Depan Pintu Gerbang Kota
56
Akhir Hayat Seorang Pemberontak
57
Musuh-musuh Mulai Bergerak
58
Sojara
59
Perang Gaib
60
Penggemblengan
61
Arak Beracun di Hari Pernikahan
62
Sosok Berpakaian Hitam
63
Ayu Ratna
64
Langkah Selanjutnya
65
Membersihkan Sisa-sisa Pendukung Senopati Argadhana
66
Pemuda Desa Bernama Glusur
67
Pertarungan di Ujung Kampung
68
Menuju Vanagiri
69
Sepasang Setan Gunung Prenjak
70
Sepasang Setan Gunung Prenjak 2
71
Wong Agung Wilis
72
Maling Aguna
73
Di Tepi Kali Oyo
74
Dua Kakek Sinting
75
Kau Ini Siapa?
76
Rencana Jahat Di Perbatasan
77
Kericuhan Dalam Perundingan
78
Batu Sandungan Terberat
79
Hal Tidak Terduga
80
Rahasia Sebenarnya Sang Pangeran Pecundang
81
Berita
82
Watak Hasinan
83
Dedemit Rawa Tawing
84
Pertapaan Sigar Mayang
85
Obrolan Di Tengah Hujan
86
Karsana
87
Jasa Pengawalan
88
Manusia Setengah Kera
89
Kutuk Pasu Sang Begawan
90
Perompak Sungai
91
Pertarungan Di Atas Kapal
92
Sang Pembawa Laporan
93
Sojara, Warak dan Ludaka
94
Pertemuan Di Depan Gerbang Istana Watugaluh
95
Titah Sang Maharani
96
Menelusuri Jejak-jejak Nyai Rampes
97
Petirtaan Suci Belahan
98
Melawan Mpu Lokananta
99
Wanua Lumbang
100
Istana Lamajang
101
Rencana Adipati Mpu Cakra
102
Kecolongan
103
Istri Keempat
104
Kesepakatan di Pertapaan Gumukmas
105
Situasi Kotaraja Blambangan
106
Taktik Perang Supit Urang
107
Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 1 )
108
Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 2 )
109
Wong Agung Purwo Turun Gunung
110
Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 1 )
111
Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 2 )
112
Akhir Hayat Sang Pemberontak
113
Masalah Hujung Galuh
114
Pilihan Terbaik
115
Persiapan Menyerbu Kota Hujung Galuh
116
Pertempuran Hujung Galuh
117
Berita Mengejutkan
118
Rencana Terakhir Dewi Widoningrum
119
Jebakan
120
Membongkar Luka Lama ( bagian 1 )
121
Membongkar Luka Lama ( bagian 2 )
122
Pisowanan
123
Kejutan Di Istana Watugaluh
124
Drama Istana Masih Berlanjut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!