Pisowanan Rutin

Rasanya hampir copot rahang bawah Pangeran Mapanji Wijaya melihat kemunculan ayahnya yang tiba-tiba di keputran tempat tinggalnya. Selama ini ayahnya selalu disibukkan dengan tetek bengek urusan istana, hampir tidak punya waktu untuk mengurus kehidupan pribadi putra putri nya.

Memang benar, Kerajaan Medang nampak adem ayem saja tetapi mereka banyak menghadapi gejolak terutama wilayah raja raja bawahan di wilayah barat yang dihasut oleh orang-orang Sriwijaya. Selain dari itu, beberapa wilayah pesisir timur juga sering bergolak akibat seringnya pemberontakan yang terjadi dalam istana para raja bawahan itu sendiri.

Tentu saja ini memusingkan kepala Sri Lokapala yang merupakan penyangga utama pemerintahan Maharani Sri Isyana Tunggawijaya. Dia kerap keluar istana hanya untuk memadamkan api pemberontakan yang sering terjadi di wilayah pesisir barat seperti Kalingga, Watukura dan Paguhan. Serta mendamaikan perseteruan antara para putra penguasa raja daerah timur yang berulang kali terjadi.

Sebenarnya Sri Lokapala tahu ada perseteruan tak kasat mata antara para putra putra nya yang menginginkan tahta Kerajaan Medang jatuh ke tangan mereka. Mereka berlomba-lomba menonjolkan diri dalam setiap kesempatan. Dia menutup mata dengan harapan akan munculnya calon penerus yang benar-benar layak di masa depan, yang siap bertarung melawan Sriwijaya yang ingin meluaskan wilayah kekuasaan hingga ke Jawadwipa.

Hanya Mapanji Wijaya saja yang tidak menunjukkan adanya tanda tanda ingin menjadi penguasa dengan hidup santai dan berfoya-foya semau nya. Dan inilah yang justru tidak disukai oleh Sri Lokapala alias Pangeran Panji Rawit.

"K-kanjeng Romo...

Ka-kapan pulang dari Paguhan? ", tanya Mapanji Wijaya penuh kegugupan.

" Dasar pemalas..!!!

Jangan menanyakan hal yang tidak penting seperti itu sekarang, belum waktunya! Cepat ganti baju mu dan ikut aku ke Balairung Istana Negara. Sudah waktunya pisowanan rutin, kau masih saja bermalas-malasan. Dasar bocah kurang ajar! ", omel Sri Lokapala sambil meraih daun telinga Mapanji Wijaya dan menjewer nya sedikit keras.

" Wadududuhhhh... Kanjeng Romo, sakit ini! Tolong lepaskan, nanti putus telinga ku.. ", hiba Pangeran Mapanji Wijaya sambil meringis kesakitan.

Huhhhhhh!!!

Sri Lokapala melepaskan jeweran nya sambil mendengus keras. Mapanji Wijaya pun langsung menjauh sambil mengipas-ngipasi daun telinga nya yang memerah agar meredakan sakit.

Dari keempat putra dan lima putri nya, Mapanji Wijaya memang yang paling bandel. Sejak kecil dia memang memiliki tubuh lemah karena sering sakit-sakitan, hingga tumbuh menjadi anak manja karena ini. Dia kerap kali membuat ulah hingga pernah nyaris membakar dapur istana hanya karena lupa memadamkan api setelah membakar belut. Sri Lokapala tahu betul itu adalah bentuk nya mencari perhatian tetapi karena kesibukan yang tidak kunjung senggang, dia mengabaikan nya hingga akhirnya sang pangeran pun kini menjadi seorang berandalan yang di benci oleh masyarakat Kotaraja Watugaluh.

"Dayang, cepat bantu bendara mu ganti baju...!

Aku akan menunggu nya diluar. Kalau sampai lama, aku hukum kalian berdua", titah Sri Lokapala pada dua dayang istana yang berdiri dekat pintu kamar tidur.

" Sendiko dawuh Gusti Lokapala... ", jawab kedua dayang istana itu penuh hormat.

Segera setelah Sri Lokapala keluar, dua dayang istana bergegas membantu Pangeran Mapanji Wijaya berganti pakaian. Tak berapa lama kemudian, Mapanji Wijaya sudah siap dan mengikuti langkah sang ayah ke Pendapa Agung Kerajaan Medang.

Puluhan punggawa istana sudah duduk di tempatnya masing-masing dengan tenang. Para perwira tinggi juga sudah duduk bersila rapi sesuai dengan urutan kepangkatan mereka. Bahkan Maharani Sri Isyana Tunggawijaya alias Dewi Widowati pun juga nampak duduk di singgasana emas Kerajaan Medang saat Sri Lokapala bersama dengan Mapanji Wijaya memasuki tempat itu.

"Hormat kami Gusti Sri Lokapala... ", ucap semua orang langsung berjongkok dan menyembah pada Sri Lokapala, bahkan Maharani Sri Isyana Tunggawijaya pun bangkit dari singgasana emas.

Begitu Sri Lokapala duduk di kursi pendamping raja dan Pangeran Mapanji Wijaya duduk di sisi kiri Maharani Sri Isyana Tunggawijaya, semua orang pun segera kembali duduk di tempatnya masing-masing tanpa suara sedikitpun.

"Kepulangan ku hari ini ada yang ingin aku kabarkan pada Yayi Maharani... ", ucap Sri Lokapala dengan penuh wibawa.

" Apa itu Kangmas Lokapala? Cepat katakan biar kami semua turut mendengar nya ", sahut Maharani Sri Isyana Tunggawijaya segera.

"Ada kabar baik, Yayi...

Pemberontakan Paguhan telah berhasil kita tundukkan. Aku mengangkat Rakai Tanda Mpu Adikara sebagai raja daerah baru disana. Dia jujur dan setia, layak untuk menjadi bawahan kita kedepannya", lanjut Sri Lokapala.

" Aku juga tahu itu Kangmas...

Apa masih ada yang perlu Kangmas Lokapala sampaikan lagi dalam pisowanan ini? ", Sri Isyana Tunggawijaya menatap wajah suaminya dengan penuh rasa cinta.

" Aku juga membawa satu kabar bahagia lagi.

Rakai Kalingga Mpu Sada ingin menjalin hubungan kekerabatan dengan Istana Watugaluh. Putri nya yang bernama Nararya Candrawulan sudah cukup usia jadi dia meminta aku menjodohkan Putri Nararya Candrawulan dengan salah satu dari putra putra ku. Aku pikir ini bagus juga karena dengan adanya ikatan kekerabatan akan membuat Kalingga setia pada Medang, Yayi.

Nah Setyaki, Jayanegara dan kau Wijaya..

Siapa diantara kalian bertiga yang mau menikah dengan Putri Nararya Candrawulan dari Kalingga?", Sri Lokapala menatap kearah 3 putranya yang kini ada di pisowanan itu.

Pangeran Mapanji Setyaki yang paling tua diantara mereka pun segera menghormat pada Sri Lokapala dan Maharani Sri Isyana Tunggawijaya.

"Mohon ampun beribu ampun Kanjeng Romo, Kanjeng Maharani...

Ananda pernah mendengar bahwa Putri Nararya Candrawulan adalah seorang putri ksatria, menguasai ilmu silat dan memanah, juga merupakan salah satu pilar kekuatan perang Bhumi Kalingga. Andai ananda belum punya calon istri, ananda tentu gembira dengan perjodohan ini. Mohon ampun, ananda tidak bisa berjodoh dengan Putri Nararya Candrawulan ", tegas Pangeran Mapanji Setyaki.

Hemmmmmmmm...

" Jayanegara....

Bagaimana dengan mu? Kau bisa menikah dengan Nararya Candrawulan? ", Sri Lokapala mengalihkan perhatiannya pada Mahamantri I Hino, Pangeran Mapanji Jayanegara yang juga putra sulung Maharani Sri Isyana Tunggawijaya yang duduk di kanan nya.

Pemuda berusia 21 tahun itu terdiam beberapa saat lamanya sembari mengerutkan dahi.

'Siapa yang tidak tahu nama besar Nararya Candrawulan? Perempuan itu adalah perempuan kejam yang pernah membantai para perampok Alas Roban tanpa ampun. Aku dengar dia juga tidak terlalu cantik. Ah tidak! Aku tidak mau dinikahkan dengan nya', batin Pangeran Mapanji Jayanegara.

"Mohon maaf Kanjeng Romo..

Ananda sudah punya pujaan hati sendiri, putri Maharesi Mpu Matswa dari Pertapaan Sekipu yang ada di wilayah Panawijen. Ananda sudah berjanji dalam hati hanya akan bersanding dengan nya. Kalau pun ada perempuan lain, itu hanya bisa menjadi selir saya. Apa dia bersedia untuk menjadi seorang selir? ", alasan Pangeran Mapanji Jayanegara yang membuat Sri Lokapala menghela nafas.

" Itu juga tidak mungkin. Mpu Sada menginginkan kekerabatan yang setara, menjadikan putrinya selir jelas merupakan penghinaan terhadap nya.

Bagaimana ini? ", Sri Lokapala mengelus jenggot nya yang mulai memutih.

Para pejabat negara langsung berbisik, membicarakan masalah pelik ini. Mereka juga bingung mau bagaimana menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh istana.

Pangeran Mapanji Jayanegara langsung menganggukkan kepalanya dengan halus. Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana yang melihat nya segera mengerti.

"Mohon pengampunan Gusti Lokapala. Jika diperkenankan, hamba punya satu usulan.. "

Ucapan Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana ini sontak menghentikan bisik-bisik para bangsawan yang hadir dalam pisowanan rutin itu. Sri Lokapala segera mengangkat tangannya sebagai tanda persetujuan.

"Katakan Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana, apa yang kau usulkan? "

Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana tersenyum tipis.

"Hamba lihat Gusti Pangeran Mapanji Wijaya juga sudah cukup umur, sudah layak untuk memiliki seorang istri. Hamba rasa Putri Kalingga cocok dengan nya.."

Hiruk pikuk dukungan pun segera memenuhi balairung istana.

HAAAAAHHHHHH??!!!

"Aku..????! ", seru Pangeran Mapanji Wijaya sambil menunjuk dirinya sendiri.

" Tentu saja...

Gusti Pangeran Mapanji Wijaya sudah pantas untuk menikah. Mendapatkan istri putri dari Kalingga, itu adalah anugerah dari kehidupan sebelumnya. Bukankah semua pejabat yang ada disini juga berpikir demikian? ", ucap Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana sambil menatap penuh rasa benci pada Mapanji Wijaya.

" Ucapan Rakryan Kanuruhan ada benarnya, Gusti Lokapala..

Sebagai seorang pangeran, dia seharusnya juga ikut membantu kesulitan yang dihadapi istana ini. Hanya urusan menikah dengan putri dari Kalingga, apa susahnya? ", sambung Mapatih Mpu Garung yang segera di sahut oleh para pejabat negara lainnya.

" Iya, tinggal menikah saja apa susahnya sih? "

"Pangeran itu harus mengutamakan kepentingan kerajaan, bukan cuma memikirkan kepentingan pribadi.. "

"Berkorban sedikit apa beratnya? Pangeran Mapanji Wijaya kan hanya menikah saja, tidak harus ikut berperang.. "

Mendengar hiruk-pikuk para pejabat negara, Sri Isyana Tunggawijaya langsung bangkit dari singgasana emas nya dan berkata,

"Sudah diam!

Aku akan membuat keputusan... "

Terpopuler

Comments

baca yg gue suka

baca yg gue suka

tinggal nikah apa susahnya?
nikah sih gampang. abis nikah trus ngapain?

2026-07-13

0

rajes salam lubis

rajes salam lubis

lho Thor,dia kok gak kaget tuh pangeran aada disitu

2026-06-14

0

rajes salam lubis

rajes salam lubis

lanjut terusss

2026-06-14

0

lihat semua
Episodes
1 Tikus Kecil
2 Permainan Politik Dalam Istana
3 Munculnya Yang Terpilih
4 Pisowanan Rutin
5 Ratri dan Wulan
6 Jalan Barat Kotaraja
7 Anak Jadah
8 Anak Jadah 2
9 Keributan di Pintu Gerbang Timur Istana
10 Golek Kayu Sihir
11 Perempuan Tua di Belakang Bayangan
12 Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 1 )
13 Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 2 )
14 Cerita Malam di Anjuk Ladang
15 Rebutan
16 Gerombolan Macan Alas ( bagian 1 )
17 Gerombolan Macan Alas ( bagian 2 )
18 Wangsit
19 Dua Iblis Berwajah Dewa
20 Sosok Bayangan Misterius
21 Dua Syarat Dewi Kembang Sore
22 Berguru Lagi
23 Ilmu Pedang Pengejar Angin
24 Ajian Surya Brahma
25 Munculnya Serikat Bulan Darah
26 Wanua Tuntang
27 Bentrokan
28 Bangunan Suci Nawagraha
29 Saudara Seperguruan Nararya Candrawulan
30 Pertempuran di Candi Nawagraha ( bagian 1 )
31 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 2 ).
32 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 3 )
33 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 4 )
34 Kendali
35 Pengadil Yang Seadil-adilnya
36 Ditangkap
37 Menuju ke Weleri
38 Konflik Weleri
39 Sidang Raden Karna
40 Pasukan Bayangan Hitam dari Sriwijaya
41 Saudagar Kaya Raya dari Negeri Song
42 Bantuan
43 Kungfu Melawan Silat
44 Menuju Kalingga
45 Teka-teki Pembantaian Perguruan Lembah Matahari
46 Persekutuan Pendekar
47 Silugangga Si Lowo Ijo
48 Hubungan
49 Lembah Seribu Luka
50 Dalang Sebenarnya
51 Jati Diri Nararya Candrawulan
52 Kemelut Kalingga
53 Perhitungan Melawan Waktu
54 Pengakuan dari Para Perwira Kalingga
55 Pertarungan di Depan Pintu Gerbang Kota
56 Akhir Hayat Seorang Pemberontak
57 Musuh-musuh Mulai Bergerak
58 Sojara
59 Perang Gaib
60 Penggemblengan
61 Arak Beracun di Hari Pernikahan
62 Sosok Berpakaian Hitam
63 Ayu Ratna
64 Langkah Selanjutnya
65 Membersihkan Sisa-sisa Pendukung Senopati Argadhana
66 Pemuda Desa Bernama Glusur
67 Pertarungan di Ujung Kampung
68 Menuju Vanagiri
69 Sepasang Setan Gunung Prenjak
70 Sepasang Setan Gunung Prenjak 2
71 Wong Agung Wilis
72 Maling Aguna
73 Di Tepi Kali Oyo
74 Dua Kakek Sinting
75 Kau Ini Siapa?
76 Rencana Jahat Di Perbatasan
77 Kericuhan Dalam Perundingan
78 Batu Sandungan Terberat
79 Hal Tidak Terduga
80 Rahasia Sebenarnya Sang Pangeran Pecundang
81 Berita
82 Watak Hasinan
83 Dedemit Rawa Tawing
84 Pertapaan Sigar Mayang
85 Obrolan Di Tengah Hujan
86 Karsana
87 Jasa Pengawalan
88 Manusia Setengah Kera
89 Kutuk Pasu Sang Begawan
90 Perompak Sungai
91 Pertarungan Di Atas Kapal
92 Sang Pembawa Laporan
93 Sojara, Warak dan Ludaka
94 Pertemuan Di Depan Gerbang Istana Watugaluh
95 Titah Sang Maharani
96 Menelusuri Jejak-jejak Nyai Rampes
97 Petirtaan Suci Belahan
98 Melawan Mpu Lokananta
99 Wanua Lumbang
100 Istana Lamajang
101 Rencana Adipati Mpu Cakra
102 Kecolongan
103 Istri Keempat
104 Kesepakatan di Pertapaan Gumukmas
105 Situasi Kotaraja Blambangan
106 Taktik Perang Supit Urang
107 Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 1 )
108 Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 2 )
109 Wong Agung Purwo Turun Gunung
110 Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 1 )
111 Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 2 )
112 Akhir Hayat Sang Pemberontak
113 Masalah Hujung Galuh
114 Pilihan Terbaik
115 Persiapan Menyerbu Kota Hujung Galuh
116 Pertempuran Hujung Galuh
117 Berita Mengejutkan
118 Rencana Terakhir Dewi Widoningrum
119 Jebakan
120 Membongkar Luka Lama ( bagian 1 )
121 Membongkar Luka Lama ( bagian 2 )
122 Pisowanan
123 Kejutan Di Istana Watugaluh
124 Drama Istana Masih Berlanjut
Episodes

Updated 124 Episodes

1
Tikus Kecil
2
Permainan Politik Dalam Istana
3
Munculnya Yang Terpilih
4
Pisowanan Rutin
5
Ratri dan Wulan
6
Jalan Barat Kotaraja
7
Anak Jadah
8
Anak Jadah 2
9
Keributan di Pintu Gerbang Timur Istana
10
Golek Kayu Sihir
11
Perempuan Tua di Belakang Bayangan
12
Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 1 )
13
Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 2 )
14
Cerita Malam di Anjuk Ladang
15
Rebutan
16
Gerombolan Macan Alas ( bagian 1 )
17
Gerombolan Macan Alas ( bagian 2 )
18
Wangsit
19
Dua Iblis Berwajah Dewa
20
Sosok Bayangan Misterius
21
Dua Syarat Dewi Kembang Sore
22
Berguru Lagi
23
Ilmu Pedang Pengejar Angin
24
Ajian Surya Brahma
25
Munculnya Serikat Bulan Darah
26
Wanua Tuntang
27
Bentrokan
28
Bangunan Suci Nawagraha
29
Saudara Seperguruan Nararya Candrawulan
30
Pertempuran di Candi Nawagraha ( bagian 1 )
31
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 2 ).
32
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 3 )
33
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 4 )
34
Kendali
35
Pengadil Yang Seadil-adilnya
36
Ditangkap
37
Menuju ke Weleri
38
Konflik Weleri
39
Sidang Raden Karna
40
Pasukan Bayangan Hitam dari Sriwijaya
41
Saudagar Kaya Raya dari Negeri Song
42
Bantuan
43
Kungfu Melawan Silat
44
Menuju Kalingga
45
Teka-teki Pembantaian Perguruan Lembah Matahari
46
Persekutuan Pendekar
47
Silugangga Si Lowo Ijo
48
Hubungan
49
Lembah Seribu Luka
50
Dalang Sebenarnya
51
Jati Diri Nararya Candrawulan
52
Kemelut Kalingga
53
Perhitungan Melawan Waktu
54
Pengakuan dari Para Perwira Kalingga
55
Pertarungan di Depan Pintu Gerbang Kota
56
Akhir Hayat Seorang Pemberontak
57
Musuh-musuh Mulai Bergerak
58
Sojara
59
Perang Gaib
60
Penggemblengan
61
Arak Beracun di Hari Pernikahan
62
Sosok Berpakaian Hitam
63
Ayu Ratna
64
Langkah Selanjutnya
65
Membersihkan Sisa-sisa Pendukung Senopati Argadhana
66
Pemuda Desa Bernama Glusur
67
Pertarungan di Ujung Kampung
68
Menuju Vanagiri
69
Sepasang Setan Gunung Prenjak
70
Sepasang Setan Gunung Prenjak 2
71
Wong Agung Wilis
72
Maling Aguna
73
Di Tepi Kali Oyo
74
Dua Kakek Sinting
75
Kau Ini Siapa?
76
Rencana Jahat Di Perbatasan
77
Kericuhan Dalam Perundingan
78
Batu Sandungan Terberat
79
Hal Tidak Terduga
80
Rahasia Sebenarnya Sang Pangeran Pecundang
81
Berita
82
Watak Hasinan
83
Dedemit Rawa Tawing
84
Pertapaan Sigar Mayang
85
Obrolan Di Tengah Hujan
86
Karsana
87
Jasa Pengawalan
88
Manusia Setengah Kera
89
Kutuk Pasu Sang Begawan
90
Perompak Sungai
91
Pertarungan Di Atas Kapal
92
Sang Pembawa Laporan
93
Sojara, Warak dan Ludaka
94
Pertemuan Di Depan Gerbang Istana Watugaluh
95
Titah Sang Maharani
96
Menelusuri Jejak-jejak Nyai Rampes
97
Petirtaan Suci Belahan
98
Melawan Mpu Lokananta
99
Wanua Lumbang
100
Istana Lamajang
101
Rencana Adipati Mpu Cakra
102
Kecolongan
103
Istri Keempat
104
Kesepakatan di Pertapaan Gumukmas
105
Situasi Kotaraja Blambangan
106
Taktik Perang Supit Urang
107
Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 1 )
108
Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 2 )
109
Wong Agung Purwo Turun Gunung
110
Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 1 )
111
Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 2 )
112
Akhir Hayat Sang Pemberontak
113
Masalah Hujung Galuh
114
Pilihan Terbaik
115
Persiapan Menyerbu Kota Hujung Galuh
116
Pertempuran Hujung Galuh
117
Berita Mengejutkan
118
Rencana Terakhir Dewi Widoningrum
119
Jebakan
120
Membongkar Luka Lama ( bagian 1 )
121
Membongkar Luka Lama ( bagian 2 )
122
Pisowanan
123
Kejutan Di Istana Watugaluh
124
Drama Istana Masih Berlanjut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!