Munculnya Yang Terpilih

"Reputasi Pangeran Mapanji Wijaya, sudah sedemikian buruk di mata masyarakat dan kerabat istana, Gusti Rakryan Kanuruhan...

Seorang pangeran yang gemar berbuat tak senonoh tak mungkin lagi di pilih oleh Maharani Sri Isyana Tunggawijaya sebagai Yuwaraja. Untuk apa kita capek-capek mencelakai nya? Danghyang Resi Panawaja dari Perguruan Harinjing saja yang biasanya tidak menolak untuk mengajar calon punggawa istana, tidak mau menerima Pangeran Mapanji Wijaya sebagai murid. Lantas buat apa kita bersusah payah seperti ini? ", tanya Tumenggung Kandadaha dengan mimik wajah keheranan.

" Aku tahu kau pasti akan berpikir seperti itu, Kandadaha..

Tapi aku curiga ia sengaja melakukan hal ini untuk menutupi ambisi nya. Hanya sayang, aku belum bisa membongkar kebusukannya. Dia terlalu pintar menyembunyikan setiap ambisi dalam balutan tingkah konyolnya ", sahut Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana sembari mengusap jenggotnya.

" Aku yakin jawaban untuk semua pertanyaan mu ini hanya ada dua, Gusti Rakryan Kanuruhan..

Yang pertama, Pangeran Mapanji Wijaya terlalu pintar berpura-pura menjadi seorang bajingan. Sedangkan yang kedua, ini hanya ketakutan pribadi mu yang menganggap Pangeran Mapanji Wijaya terlalu tinggi. Dia cuma pangeran bejat yang suka bersenang-senang tapi kau menganggapnya sebagai ancaman.

Sudahlah, aku tidak mau bersusah payah mengurusi Pangeran Mapanji Wijaya yang urakan itu. Sudah cukup malam, aku harus segera pulang. Aku permisi Gusti Rakryan Kanuruhan ", pungkas Tumenggung Kandadaha sembari bangkit dari tempat duduknya dan menghormat sebelum memutar badannya.

" Tapi... "

Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana tak meneruskan omongan nya setelah melihat Tumenggung Kandadaha melambaikan tangannya.

Meskipun jabatan Tumenggung Kandadaha hanya seorang tumenggung yang menguasai keprajuritan di barat Kotaraja Watugaluh, dia masih kerabat dekat istana Medang karena dia adalah sepupu Maharani Sri Isyana Tunggawijaya dari pihak ibu. Dia juga dihormati oleh sang penguasa Kerajaan Medang sebagai seorang yang dituakan. Walaupun kadang ia sedikit keras kepala, tetapi pengaruhnya dalam ketatanegaraan cukup besar dan bisa sangat berarti jika Pangeran Mapanji Jayanegara dicalonkan sebagai Yuwaraja. Karena itu, mau tidak mau Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana harus sedikit bersabar menghadapi orang ini.

"Mangir..!! "

Yang dipanggil segera menghormat sebelum berbicara.

"Hamba Gusti Rakryan Kanuruhan... "

"Laporkan apapun yang terjadi pada Pangeran Mapanji Wijaya, jangan sampai ada yang terlewat.

Kalau perlu, kelompok telik sandi Gagak Ireng kau libatkan. Berikan ini pada Rampal, dia akan segera memenuhi apa yang kau inginkan", ucap Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana seraya menyerahkan sebuah lencana perunggu berukir tengkorak manusia bermata tiga menggigit bulan sabit pada sang abdi yang segera menyimpan nya di balik baju.

"Kalau begitu, hamba permisi Gusti Rakryan Kanuruhan", Mangir menghormat sebelum beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Sembari menatap ke arah perginya Mangir, Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana mengepalkan tangannya erat-erat sembari menggumamkan sesuatu.

"Pangeran Mapanji Wijaya, sebaiknya kau tak ketahuan niat busuk mu.. "

*****

Sementara itu, di sisi utara Gunung Lawu...

Pangeran Mapanji Wijaya duduk bersila di atas batu pipih sembari menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Matanya terpejam rapat sementara keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya. Sepertinya ia sedang menahan sesuatu yang sangat berat.

Di depan nya, lelaki tua berjanggut putih panjang berpakaian serba putih yang membawanya dari Keputran Istana Kotaraja Watugaluh berdiri sambil meletakkan tapak tangan nya pada ubun-ubun sang pangeran Medang.

Zzrrrrrtttttttttttthhh!!!!!

Cahaya merah menjalar dari tangan lelaki sepuh ini, menyebar ke seluruh tubuh Pangeran Mapanji Wijaya. Menelusup ke setiap titik di bagian tubuh putra kedua Maharani Sri Isyana Tunggawijaya dan Sri Lokapala ini, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Tetapi Pangeran Mapanji Wijaya tetap bertahan dibawah siksaan rasa sakit yang kini mendera tubuh nya.

Setelah merasa cukup, lelaki sepuh ini melepaskan telapak tangannya dari ubun-ubun Pangeran Mapanji Wijaya sambil menghela nafas panjang. Dia menatap ke arah Pangeran Mapanji Wijaya yang mulai membuka mata dengan nafas tersengal.

"Separuh bagian dari Ajian Segara Geni sudah ku turunkan kepada mu, Wijaya...

Ingat, sebelum mencapai tahap sempurna kau tak boleh menggunakannya sembarangan. Tubuh mu tidak akan kuat dengan kekuatan nya yang merusak. Saat ini tenaga dalam mu baru mencapai tahap ke enam, belum bisa menggunakan ajian ini dengan sempurna. Camkan itu baik-baik..! ", peringat orang tua itu yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya menganggukkan kepalanya.

" Saya mengerti Eyang Guru...

Tubuh saya memang lemah, harus setahap demi setahap agar bisa mencapai tahap sempurna. Terimakasih Eyang Guru sudah membantu saya sejauh ini ", ucap Pangeran Mapanji Wijaya sembari menghormat.

" Bocah ini memang pandai bicara, tapi aku suka hehehe...

Aku menerima mu sebagai murid karena aku adalah paman guru ayah mu, Wijaya. Hehhh, aku ingin mewariskan ilmu kanuragan ku sebelum aku mati agar tidak ada penyesalan ", ucap lelaki sepuh itu sambil memejamkan matanya rapat sembari menghirup nafas dalam-dalam.

" Maksud Eyang Guru adalah Eyang Guru ini paman guru dari kanjeng Romo Sri Lokapala?

Kok Kanjeng Romo tidak pernah menceritakan nya? ", tanya Mapanji Wijaya keheranan.

" Itu bukan sesuatu yang penting, Wijaya..

Ilmu kanuragan ku adalah pengembangan dari ilmu yang sama dari punya ayah mu. Ajian Sepi Angin adalah pengembangan dari Ajian Langkah Dewa Angin yang dimiliki Lokapala, hanya sedikit berbeda pada cara lelaku dan hasilnya. Sedangkan Ajian Segara Geni adalah ilmu yang aku kembangkan sendiri dengan menyerap inti api dari sisa potongan besi pembentuk Pedang Naga Api yang menjadi senjata andalan ayah mu.

Terus tingkatkan olah tubuh mu, Wijaya. Satu purnama lagi Ajian Segara Geni dan Ajian Sepi Angin akan bisa menyatu sempurna dengan tubuh mu", perintah lelaki sepuh itu yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya segera menghormat.

"Baik Guru... "

Hemmmmmmmmm...

"Ini sudah hampir pagi. Kita harus segera kembali ke Istana Kotaraja Watugaluh. Ayo pergi.. "

Setelah bicara demikian, lelaki sepuh itu segera meraih tangan Mapanji Wijaya dan detik waktu berikutnya mereka sudah menghilang dari tempat itu.

Mentari pagi mulai menampakan diri di cakrawala timur, membangunkan seisi bumi dengan kehangatan sinarnya yang terang. Kehidupan Kotaraja Watugaluh yang semalam terlelap dalam buaian mimpi dan malam yang gelap, berangsur-angsur bangun dan menggeliat.

Lalu lintas jalanan kotaraja mulai dipadati para pencari penghidupan. Mereka umumnya para pedagang yang berangkat menuju pasar besar dan para petani yang bersiap untuk menggarap sawah. Selain mereka ada juga para pengelana dari luar kota yang ingin melihat kemajuan ibukota baru Kerajaan Medang setelah berpindah dari Tamwlang.

Sementara Kotaraja Watugaluh mulai menggeliat dengan segala kesibukannya, di keputran Istana Kotaraja Watugaluh, Warak dan Ludaka mondar-mandir di depan pintu kamar tidur Pangeran Mapanji Wijaya. Matahari sudah sepenggal naik ke langit timur dan sebentar lagi pisowanan akan segera dimulai sedangkan orang yang ditunggu masih belum juga nampak batang hidung nya.

"Bagaimana ini Lu?

Sebentar lagi pisowanan akan segera dimulai, tapi Gusti Pangeran masih belum juga bangun. Aduhh bagaimana ini? Pasti Gusti Maharani akan marah lagi.. ", ucap Warak sambil memukuli telapak tangannya sendiri. Dia benar-benar terlihat khawatir.

" Aku juga tidak tahu, Rak....

Membangunkan Gusti Pangeran Mapanji Wijaya saat ini sama juga cari mati. Kau saja yang bangunkan dia, aku masih mau hidup ", seru Ludaka sembari mundur selangkah dari depan pintu kamar.

" Apa kau pikir aku juga berani?

Bekas luka di wajah ku saja masih belum sembuh benar karena dipukuli dia. Kalau sampai dia marah lagi, pasti habis aku di tangan nya", jawab Warak dengan cemas.

"Ada apa ini?!! "

Suara berat nan berwibawa itu sontak membuat Warak dan Ludaka menoleh ke sumber suara dan melihat seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal dan janggut yang mulai ditumbuhi uban berdiri disana. Meskipun sudah berumur, masih terlihat jelas sisa sisa gurat ketampanan di wajah lelaki yang mengenakan pakaian bangsawan ini. Ludaka dan Warak langsung membungkuk hormat pada lelaki paruh baya itu.

"Hormat kami Gusti Lokapala... "

Lelaki tua yang tak lain adalah Sri Lokapala atau semasa muda nya dikenal sebagai Panji Rawit ini mengangkat tangannya sebagai tanda penerimaan. Sekalipun ia bukan raja de facto Kerajaan Medang tapi secara de jure ia lah penguasa Medang yang sebenarnya. Status nya hanya pendamping Maharani Sri Isyana Tunggawijaya, tetapi segala keputusan besar tetap berasal dari dirinya.

"Anak sialan itu masih belum bangun?", tanya Sri Lokapala yang langsung membuat Warak dan Ludaka saling pandang sebelum kompak menggelengkan kepala.

" Dasar pemalas...!!

Sudah siang begini masih bisa tidur nyenyak? Kurang ajar, aku harus memberinya pelajaran! "

Sambil mengomel tak karuan, Sri Lokapala langsung menendang pintu kamar tidur Pangeran Mapanji Wijaya dengan kuat.

Brruuuuuuaaaaaakkkkk!!!!

Suara keras berbarengan dengan mencelat nya daun pintu yang jatuh di dekat ranjang tidur sontak membuat Pangeran Mapanji Wijaya yang masih terlelap langsung bangun dengan wajah masam.

"Bangsat!! Siapa yang berani mengganggu ketenangan ku?!!! ", teriak Pangeran Mapanji Wijaya sembari melompat turun dari ranjang.

Belum genap 2 langkah dari ranjang tidur, Sri Lokapala muncul dengan wajah gusar sambil berkata,

" Aku..!! Kenapa? Ada masalah?!! "

Terpopuler

Comments

baca yg gue suka

baca yg gue suka

ngagetin org lg ngorok tau?🤣🤣

2026-07-13

0

rajes salam lubis

rajes salam lubis

mantap

2026-06-14

1

rajes salam lubis

rajes salam lubis

oh yeee

2026-06-14

0

lihat semua
Episodes
1 Tikus Kecil
2 Permainan Politik Dalam Istana
3 Munculnya Yang Terpilih
4 Pisowanan Rutin
5 Ratri dan Wulan
6 Jalan Barat Kotaraja
7 Anak Jadah
8 Anak Jadah 2
9 Keributan di Pintu Gerbang Timur Istana
10 Golek Kayu Sihir
11 Perempuan Tua di Belakang Bayangan
12 Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 1 )
13 Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 2 )
14 Cerita Malam di Anjuk Ladang
15 Rebutan
16 Gerombolan Macan Alas ( bagian 1 )
17 Gerombolan Macan Alas ( bagian 2 )
18 Wangsit
19 Dua Iblis Berwajah Dewa
20 Sosok Bayangan Misterius
21 Dua Syarat Dewi Kembang Sore
22 Berguru Lagi
23 Ilmu Pedang Pengejar Angin
24 Ajian Surya Brahma
25 Munculnya Serikat Bulan Darah
26 Wanua Tuntang
27 Bentrokan
28 Bangunan Suci Nawagraha
29 Saudara Seperguruan Nararya Candrawulan
30 Pertempuran di Candi Nawagraha ( bagian 1 )
31 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 2 ).
32 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 3 )
33 Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 4 )
34 Kendali
35 Pengadil Yang Seadil-adilnya
36 Ditangkap
37 Menuju ke Weleri
38 Konflik Weleri
39 Sidang Raden Karna
40 Pasukan Bayangan Hitam dari Sriwijaya
41 Saudagar Kaya Raya dari Negeri Song
42 Bantuan
43 Kungfu Melawan Silat
44 Menuju Kalingga
45 Teka-teki Pembantaian Perguruan Lembah Matahari
46 Persekutuan Pendekar
47 Silugangga Si Lowo Ijo
48 Hubungan
49 Lembah Seribu Luka
50 Dalang Sebenarnya
51 Jati Diri Nararya Candrawulan
52 Kemelut Kalingga
53 Perhitungan Melawan Waktu
54 Pengakuan dari Para Perwira Kalingga
55 Pertarungan di Depan Pintu Gerbang Kota
56 Akhir Hayat Seorang Pemberontak
57 Musuh-musuh Mulai Bergerak
58 Sojara
59 Perang Gaib
60 Penggemblengan
61 Arak Beracun di Hari Pernikahan
62 Sosok Berpakaian Hitam
63 Ayu Ratna
64 Langkah Selanjutnya
65 Membersihkan Sisa-sisa Pendukung Senopati Argadhana
66 Pemuda Desa Bernama Glusur
67 Pertarungan di Ujung Kampung
68 Menuju Vanagiri
69 Sepasang Setan Gunung Prenjak
70 Sepasang Setan Gunung Prenjak 2
71 Wong Agung Wilis
72 Maling Aguna
73 Di Tepi Kali Oyo
74 Dua Kakek Sinting
75 Kau Ini Siapa?
76 Rencana Jahat Di Perbatasan
77 Kericuhan Dalam Perundingan
78 Batu Sandungan Terberat
79 Hal Tidak Terduga
80 Rahasia Sebenarnya Sang Pangeran Pecundang
81 Berita
82 Watak Hasinan
83 Dedemit Rawa Tawing
84 Pertapaan Sigar Mayang
85 Obrolan Di Tengah Hujan
86 Karsana
87 Jasa Pengawalan
88 Manusia Setengah Kera
89 Kutuk Pasu Sang Begawan
90 Perompak Sungai
91 Pertarungan Di Atas Kapal
92 Sang Pembawa Laporan
93 Sojara, Warak dan Ludaka
94 Pertemuan Di Depan Gerbang Istana Watugaluh
95 Titah Sang Maharani
96 Menelusuri Jejak-jejak Nyai Rampes
97 Petirtaan Suci Belahan
98 Melawan Mpu Lokananta
99 Wanua Lumbang
100 Istana Lamajang
101 Rencana Adipati Mpu Cakra
102 Kecolongan
103 Istri Keempat
104 Kesepakatan di Pertapaan Gumukmas
105 Situasi Kotaraja Blambangan
106 Taktik Perang Supit Urang
107 Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 1 )
108 Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 2 )
109 Wong Agung Purwo Turun Gunung
110 Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 1 )
111 Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 2 )
112 Akhir Hayat Sang Pemberontak
113 Masalah Hujung Galuh
114 Pilihan Terbaik
115 Persiapan Menyerbu Kota Hujung Galuh
116 Pertempuran Hujung Galuh
117 Berita Mengejutkan
118 Rencana Terakhir Dewi Widoningrum
119 Jebakan
120 Membongkar Luka Lama ( bagian 1 )
121 Membongkar Luka Lama ( bagian 2 )
122 Pisowanan
123 Kejutan Di Istana Watugaluh
124 Drama Istana Masih Berlanjut
Episodes

Updated 124 Episodes

1
Tikus Kecil
2
Permainan Politik Dalam Istana
3
Munculnya Yang Terpilih
4
Pisowanan Rutin
5
Ratri dan Wulan
6
Jalan Barat Kotaraja
7
Anak Jadah
8
Anak Jadah 2
9
Keributan di Pintu Gerbang Timur Istana
10
Golek Kayu Sihir
11
Perempuan Tua di Belakang Bayangan
12
Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 1 )
13
Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 2 )
14
Cerita Malam di Anjuk Ladang
15
Rebutan
16
Gerombolan Macan Alas ( bagian 1 )
17
Gerombolan Macan Alas ( bagian 2 )
18
Wangsit
19
Dua Iblis Berwajah Dewa
20
Sosok Bayangan Misterius
21
Dua Syarat Dewi Kembang Sore
22
Berguru Lagi
23
Ilmu Pedang Pengejar Angin
24
Ajian Surya Brahma
25
Munculnya Serikat Bulan Darah
26
Wanua Tuntang
27
Bentrokan
28
Bangunan Suci Nawagraha
29
Saudara Seperguruan Nararya Candrawulan
30
Pertempuran di Candi Nawagraha ( bagian 1 )
31
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 2 ).
32
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 3 )
33
Pertarungan di Candi Nawagraha ( bagian 4 )
34
Kendali
35
Pengadil Yang Seadil-adilnya
36
Ditangkap
37
Menuju ke Weleri
38
Konflik Weleri
39
Sidang Raden Karna
40
Pasukan Bayangan Hitam dari Sriwijaya
41
Saudagar Kaya Raya dari Negeri Song
42
Bantuan
43
Kungfu Melawan Silat
44
Menuju Kalingga
45
Teka-teki Pembantaian Perguruan Lembah Matahari
46
Persekutuan Pendekar
47
Silugangga Si Lowo Ijo
48
Hubungan
49
Lembah Seribu Luka
50
Dalang Sebenarnya
51
Jati Diri Nararya Candrawulan
52
Kemelut Kalingga
53
Perhitungan Melawan Waktu
54
Pengakuan dari Para Perwira Kalingga
55
Pertarungan di Depan Pintu Gerbang Kota
56
Akhir Hayat Seorang Pemberontak
57
Musuh-musuh Mulai Bergerak
58
Sojara
59
Perang Gaib
60
Penggemblengan
61
Arak Beracun di Hari Pernikahan
62
Sosok Berpakaian Hitam
63
Ayu Ratna
64
Langkah Selanjutnya
65
Membersihkan Sisa-sisa Pendukung Senopati Argadhana
66
Pemuda Desa Bernama Glusur
67
Pertarungan di Ujung Kampung
68
Menuju Vanagiri
69
Sepasang Setan Gunung Prenjak
70
Sepasang Setan Gunung Prenjak 2
71
Wong Agung Wilis
72
Maling Aguna
73
Di Tepi Kali Oyo
74
Dua Kakek Sinting
75
Kau Ini Siapa?
76
Rencana Jahat Di Perbatasan
77
Kericuhan Dalam Perundingan
78
Batu Sandungan Terberat
79
Hal Tidak Terduga
80
Rahasia Sebenarnya Sang Pangeran Pecundang
81
Berita
82
Watak Hasinan
83
Dedemit Rawa Tawing
84
Pertapaan Sigar Mayang
85
Obrolan Di Tengah Hujan
86
Karsana
87
Jasa Pengawalan
88
Manusia Setengah Kera
89
Kutuk Pasu Sang Begawan
90
Perompak Sungai
91
Pertarungan Di Atas Kapal
92
Sang Pembawa Laporan
93
Sojara, Warak dan Ludaka
94
Pertemuan Di Depan Gerbang Istana Watugaluh
95
Titah Sang Maharani
96
Menelusuri Jejak-jejak Nyai Rampes
97
Petirtaan Suci Belahan
98
Melawan Mpu Lokananta
99
Wanua Lumbang
100
Istana Lamajang
101
Rencana Adipati Mpu Cakra
102
Kecolongan
103
Istri Keempat
104
Kesepakatan di Pertapaan Gumukmas
105
Situasi Kotaraja Blambangan
106
Taktik Perang Supit Urang
107
Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 1 )
108
Benteng Pertahanan Kali Tambong ( bagian 2 )
109
Wong Agung Purwo Turun Gunung
110
Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 1 )
111
Pertarungan di Depan Gerbang Kotaraja Blambangan ( bagian 2 )
112
Akhir Hayat Sang Pemberontak
113
Masalah Hujung Galuh
114
Pilihan Terbaik
115
Persiapan Menyerbu Kota Hujung Galuh
116
Pertempuran Hujung Galuh
117
Berita Mengejutkan
118
Rencana Terakhir Dewi Widoningrum
119
Jebakan
120
Membongkar Luka Lama ( bagian 1 )
121
Membongkar Luka Lama ( bagian 2 )
122
Pisowanan
123
Kejutan Di Istana Watugaluh
124
Drama Istana Masih Berlanjut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!