bagian 2

Fangyi masih setia duduk di gazebo sambil membaca buku, fangyi sangat suka membaca sayang sekali ia tidak melanjutkan sekolah nya. Tangan fangyi mulai bergerak mengikuti pola yang ada di buku, ia melatih setiap elemen nya. Ia melatih kekuatan fisiknya, indra pendengaran nya jauh lebih tajam begitu pula dengan indra pengelihatan nya.

Ia mempelajari bagaimana cara menjadi alkemis, ia mempelajari ilmu beladiri kuno yang di gabung dengan ilmu bela diri modern. Fangyi cukup tangkas dalam bela diri, setiap harinya ia selalu bertemu dengan bos - bos mafia kejam yang tangguh. Fangyi sudah di latih bagaimana menjadi kuat, bagaimana menahan rasa sakit dan emosi semuanya sudah ia pelajari di kehidupan sebelumnya.

Kehidupan keras nya membuat ia tidak punya hati, fangyi tidak pernah tersenyum kepada orang - orang di sekitarnya selain musuh. Sementara pemilik tubuh sebelumya adalah orang yang sangat lemah, ia mudah di tindas meskipun keluarga nya selalu bersikap kasar, su fangyi tidak menyerah untuk menyenangkan mereka. Su Fangyi tidak pernah berbicara dengan sang ayah, melihat wajah sang jendral saja mampu membuat Su fangyi menunduk ketakutan.

Hal tersebut membuat jenderal su tidak menyukai fangyi, baginya fangyi sangat lemah dan merepotkan. Terlebih di tidak memiliki akar roh spiritual seperti kakak - kakak dan adik nya.

Jenderal su memiliki enam orang anak, anak pertama dan kedua anak laki - laki anak ketiga perempuan, anak keempat si fangyi, anak kelima su Xinya yang selalu dimanja oleh keluarga dan yang terakhir laki - laki berumur tujuh tahun namun mendapatkan perlakukan yang tidak baik juga karena bertubuh gemuk membuat jendral su malu.

Fangyi keluar dari ruang dimensi setelah berhasil menerobos tahap pondasi tingkat 9 sebentar lagi ia bisa mencapai tahap transformasi. Fangyi memakai hanfu putih dengan penutup wajah nya.

"Aku akan mencari kayu bakar " ucap fangyi izin kepada sang nenek.

Sang nenek menatap fangyi dengan tidak biasa, seperti ada aura yang berbeda dan tidak biasa dari sang cucu. Tatapan yang dulunya sendu kini berubah tajam, bahkan sang nenek merasa terintimidasi ketika bertatapan dengan fangyi secara langsung.

Melihat fangyi yang memakai penutup wajah membuat nenek merasa iba, di benaknya ia selalu berdoa yang terbaik untuk fangyi.

"Jangan pulang terlalu siang, oh iya nenek juga akan ke pasar nanti siang akan nenek buatkan sup untuk kamu ".ucap nenek, fangyi merasa bahwa firasat nya tidak enak ada perasaan yang sulit di artikan.

"Hati - hati di jalan nek ".

"Fangyi jika suatu hari nenek telah tiada, buka lah lemari nenek pilih lah laci kedua ya ". ucap nenek yang merasa aneh di telinga nya.

Fangyi menepis pikiran buruknya, semuanya akan baik - baik saja. Fangyi berjalan menuju hutan, setiap orang yang bertemu dengan nya hanya berdiam dan seperti biasa menggunjing dari belakang.

Fangyi menulikan pendengaran nya, sesampainya di hutan fangyi bertemu dengan gadis - gadis desa yang sedang mencari jamur liar. Seperti biasa mereka mentertawakan fangyi, fangyi menatap gadis itu namun aura yang di keluarkan terasa menyesakkan buat mereka dan akhirnya mereka memilih untuk pergi.

Sementara di pasar sang nenek membeli beberapa sayuran dan daging, sekelompok bandit yang terdiri dari lima orang dan terbiasa mencari huru hara datang merampok setiap pedagang dan pembeli.

"Cepat ! Berikan uang kalian atau kami akan membunuh kalian ! " ucap mereka membuat para pedagang takut.

Siapa yang berani mencari masalah dengan bandit - bandit itu, kekuatan mereka sangat besar para warga hanya berharap para bandit itu cepat mati. Bandit itu menarik tangan nenek fangyi lalu menjadikan nenek sebagai sandera.

"Cepat serahkan uang kalian atau aku akan membunuh wanita tua ini ". para warga tidak bergeming.

"Lepaskan aku ! " nenek meronta untuk di lepaskan.

Bahkan kepala desa yang ada disana hanya diam berdiri

mereka yang tahu nenek di acuhkan oleh keluarganya memilih acuh dan mempertahankan uang mereka. Padahal selama ini nenek sudah baik dan banyak membantu para warga tetapi para warga malah bertindak sebaliknya sekarang.

"Oh jadi kalian tidak mau memberikan uang kalian ya , baik lah ! " kepala bandit itu menggorok leher nenek membuat sang nenek mati di tempat.

Para bandit itu tertawa, ia mengambil uang nenek lalu pergi. Fangyi yang baru saja pulang dari hutan mendapati tubuh nenek nya yang terbaring di tanah dengan kondisi yang mengenaskan, seorang gadis penakut diam - diam memberi tahu penyebab dari kematian sang nenek.

Mata fangyi menajam, lensa mata nya berubah menjadi merah menyala, tangan nya mengepal kuat ia akan membalaskan kematian sang nenek. Kematian sang nenek telah sampai ke telinga nyonya su, nenek adalah ibu kandung dari nyonya su.

Tuan dan nyonya su memilih tidak hadir di acara kematian sang nenek, justru tuan dan nyonya su memilih putra - putra tertuanya untuk datang sekaligus menjemput fangyi pulang. Namun kedua nya enggan, justru mereka malah saling beradu mulut untuk siapa yang akan menjemput fangyi.

"Sudahlah biar aku saja yang menjemput kakak " ucap anak bungsu di keluarga su.

Semua orang lebih memilih untuk menonton pertunjukan yang dimainkan oleh su xinya. Su Feiyang bersiap menjemput fangyi dengan di temani pelayan pribadinya.

Fangyi mulai mengkremasi jasad dari sang nenek, tidak ada air mata kesedihan mungkin karna hatinya memang membeku. Namun rasa dendam dan kemarahan begitu sangat jelas di sorot matanya yang tajam. Para warga melihat dari kejauhan, tidak ada rasa bersalah di mata mereka. Mereka menganggap hal itu hanya sekedar hal kecil.

Cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi awan gelap yang berkumpul, fangyi menatap tajam ke arah balik pohon yang dimana kepala desa berada di sana.

"Kau ... " fangyi menunjuk kepala desa dengan jarinya, mata nya yang merah begitu terasa menakutkan, aura nya begitu kuat membuat mereka merasa tercekik.

'Tuan adalah perpaduan antara iblis dan dewi ' batin Yin yang memantau dari ruang alam dimensi.

"Kau tak layak menjadi seorang kepala desa " nada bicaranya pelan namun kalimat itu mampu menggetarkan mereka yang ada di sana.

Fangyi berbalik arah membakar jasad nenek nya seorang diri, setelah itu ia balik badan menatap sekumpulan orang yang ada disana.

"Aku bersumpah ! Tiada hari dimana desa ini merasa aman ! sumpah ku akan abadi mengikuti mereka yang begitu tega ! " teriak fangyi lalu tiga kali petir menyambar seakan sumpah fangyi di terima.

Semua orang merasa takut dan merasa bersalah, namun mereka tidak bisa berbuat apa pun karna semuanya sudah terjadi.

"Bersiaplah untuk kematian kalian semua " ucap fangyi begitu membuat mereka berdebar.

Semua orang yang merasa takut memilih untuk kembali ke rumah mereka masing - masing.

Terpopuler

Comments

kaylla salsabella

kaylla salsabella

si bungsu kira" baik gak ya sama fangyi

2026-04-19

1

Sekar

Sekar

lanjut thor💪💪

2026-04-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!