bagian 3

Malam pun tiba, Fangyi bersiap untuk membalas kan dendamnya ke para bandit itu. Fangyi memakai sebuah topeng yang menutupi seluruh wajahnya, para bandit tertawa menikmati minuman dan makanan yang mereka beli dengan mengambil paksa uang sang nenek.

Jleb.

Sebuah belati menusuk jantung salah satu bandit dan berakhir mati, para bandit waspada sambil melihat keliling.

"Siapa yang mencoba mengusik ku ? keluarlah jika kau berani ! " bentak ketua bandit.

Fangyi muncul di belakang merah, rambut putih nya berterbangan menambah kesan indah di balik topeng namun mematikan.

"Mati " ucap fangyi pelan lalu dengan gerakan kilat fangyi menggorok leher ketiga bandit lain nya dan menyisakan ketua bandit yang tampak ketakutan.

"Si - siapa kau ? " ucap bandit itu dengan takut - takut, bandit itu menyerang fangyi dengan kekuatan nya.

Kultivasi tahap tranformasi 8, fangyi dapat melihat kekuatan spiritual yang ada pada ketua bandit itu. Bandit itu menyerang fangyi dengan brutal, fangyi hanya mengelak sampai ketua bandit itu kelelahan dan lengah.

"Sialan kau ! " Teriak ketua bandit itu lalu menggunakan bola api super besar untuk membunuh fangyi.

"Kau pantas mati " ucap fangyi dengan gerakan cepat memukul tepat di bagian akar roh spiritualnya, akar roh spiritual itu telah hancur membuat tubuh itu tidak memiliki arti apa - apa.

"Akhhh" ketua bandit itu memuntahkan beberapa teguk darah.

Fangyi berjalan mendekat, pedang panjang nya menusuk paha ketua bandit itu. Jeritan kesakitan menggema disana.

"Tadinya aku ingin membunuh kau, tapi aku lebih suka melihat kau hidup dengan penderitaan ". Fangyi memotong kedua kaki ketua bandit itu hingga darah nya muncrat mengenai wajah nya.

Kedua tangan nya tak luput dari siksa fangyi, fangyi memberikan pil agar pendarahan itu terhenti.

"Ampun, siapa kau sebenarnya ? " ucap bandit itu lemah.

Fangyi membuka topeng nya, wajah cantik itu menatap ketua bandit dengan tatapan datar.

"Aku Su Fangyi, cucu dari seorang wanita tua yang kau habisi nyawanya tadi siang " ucap fangyi yang duduk di depan ketua bandit itu. Ketua bandit itu merasa ia telah salah mencari lawan.

Fangyi menarik lidah ketua bandit itu lalu memotong nya tanpa perasaan, ketua bandit itu meneteskan air matanya. Fangyi menyeret tubuh ketua bandit menuju pasar tidak lupa beberapa kepala tanpa tubuh berjejer di sebelah ketua bandit itu. Fangyi pergi dengan dendam dan amarah yang sudah terbalaskan.

Pagi pun telah tiba, desa itu di gemparkan dengan kejadian tragis yang di alami para bandit itu. Para warga desa menatap para bandit itu dengan ngeri, Fangyi yang sudah di jemput oleh su Feiyang pun segera mengemasi barang bawaan nya. Sang nenek meninggalkan uang yang cukup banyak untuk dirinya membeli sebuah pil kecantikan. Namun semua itu tidak perlu karena Fangyi sudah sembuh.

Fangyi membawa abu sang nenek ia akan menaburkan nya di sebuah sungai khusus untuk penaburan abu dari orang yang sudah tiada. Saat melintasi pasar, mata fangyi bertemu dengan mata ketua bandit itu, tubuh bandit itu bergetar begtu hebat seperti ketakutan.

Siapa yang tidak mengenal su fangyi, seorang putri dari keluarga su yang tidak memiliki akar roh spiritual. Sosok nya yang lemah dan tidak berbakat telah di ketahui oleh mereka semua. Sesampainya di sungai fangyi menaburkan abu tersebut, fangyi dapat melihat jiwa sang nenek dan jiwa su fangyi yang asli. Jiwa mereka tersenyum menatap fangyi sambil membungkuk memberikan rasa hormat dan terimakasih untuk fangyi.

Di dalam kereta hanya ada kesunyian, fangyi hanya menatap luar jendela dengan pandangan yang lurus tanpa terganggu dengan jalanan yang mengguncang kereta. Su Feiyang ingin sekali memanggil sang kakak dan mengajak nya mengobrol namun ia tahu kalau sang kakak tidak pernah berbicara entah karena apa.

"Kakak jangan bersedih, masih ada aku yang akan menjaga kakak nantinya " ucap Feiyang mencoba menghibur fangyi.

Fangyi menatap lekat adik bungsu nya itu, terdapat luka memar dan luka goresan disana. Fangyi tidak tahu apa yang telah di alami oleh sang adik, tubuhnya yang gemuk penuh luka memar dan goresan, matanya yang tampak lelah namun ia di paksakan untuk tetap tersenyum.

Fangyi melihat Feiyang seperti adiknya dulu yang lemah dan sakit sakit tapi kali ini dengan situasi berbeda. Fangyi mengeluarkan salep luka buatan nya untuk di pakai Feiyang. Feiyang menerimanya sambil tersenyum menampilkan gigi nya yang rapi.

Mereka sampai di kediaman jenderal su, secara kebetulan jenderal su dan yang lain nya juga baru sampai di kediaman. Jenderal su menatap fangyi dengan tajam dan mengabaikan nya, mereka seakan menganggap fangyi tidak ada di sana, diantara mereka.

"Kakak kau pulang hari ini, jangan salah kan ayah, ibu dan para kakak salahkan saja aku. Ini semua salah ku, waktu nya tidak tepat entah mengapa acara pertunjukan itu hari ini " ucap Su Xinya dengan sesal yang di paksakan.

"Ini bukan salahmu, berhenti bersikap tidak baik terhadap adik mu sendiri, tidak bisa kah kau bersikap lebih dewasa jangan terus menyalahkan Xinya " ucap nyonya su dan fangyi yang tidak merasa berbuat apa pun mengangkat kepala nya dan menatap satu persatu wajah keluarga nya itu.

Tatapan itu terasa asing buat mereka, sebelumnya fangyi hanya akan menunduk dan bergetar ketakutan tapi kini dari sorot matanya tampak berbeda. Dulu mereka juga sangat menyayangi fangyi kecil meskipun fangyi kecil terlahir berbeda dengan mereka namun semenjak fangyi di putuskan tidak memiliki akar roh spiritual semuanya berubah. Wajah nya yang buruk rupa dan sikap nya yang penakut membuat mereka mengabaikan keberadaan fangyi.

Mereka tidak peduli fangyi di kucilkan oleh seluruh pelayan di kediaman itu. Su Fangyi tidak melawan bahkan saat dia di berikan makanan basi atau pun sisa fangyi lebih memilih untuk menahan nya karena ia tidak memiliki keberanian untuk mengadu.

"Kau tidak lagi tinggal di bangunan utama, kau akan tinggal di bangunan kedua "ucap jenderal su.

Bangunan kedua yang di maksud adalah bangunan terbengkalai yang letak nya paling terpencil, sebuah bangunan kecil yang tempat nya tidak sebagus tempat tinggal para pelayan.

"Ayah, jangan perlakukan kakak seperti itu ! " marah Feiyang yang tidak terima fangyi tinggal di tempat tidak layak.

"Bangunan utama ada begitu banyak kamar tapi kenapa kakak harus tinggal di tempat yang paling buruk " ucap Feiyang namun tidak membuat jenderal su iba.

"Sudah kau tidak perlu ikut campur kau masih anak kecil, lebih baik kau turun kan berat badan itu. Ayah malu memiliki anak gendut seperti kau, ayah seorang jenderal di kekaisaran, mau letak dimana wajah ayah jika memiliki anak gendut seperti kau dan anak bodoh seperti dia ". ucap jenderal su membuat Feiyang ingin menangis.

Fangyi menarik tangan Feiyang lalu berjalan menuju bangunan kedua, sebenarnya bangunan kedua cukup bagus tempat nya. Taman nya yang luas dan tempat nya yang sejuk dan menenangkan hanya saya bangunan nya yang seperti gubuk reyot.

"Menangis saja jika perlu " ucap fangyi lalu meninggalkan Feiyang sendiri.

Feiyang menangis sekuat nya menumpahkan kesedihan yang ia tahan atas perkataan ayah nya.

Terpopuler

Comments

Osie

Osie

bertebaran ayah n keluarga goblok bin bego..kudu dibuang tuh keluarga

2026-07-06

1

kaylla salsabella

kaylla salsabella

ayo fangyi bantu Feiyang kuat dan hebat

2026-04-19

0

Sekar

Sekar

Terima kasih banyak kak author😍😍

2026-04-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!