Fangyi bermeditasi meningkatkan kultivasi nya, ia duduk bersila di bawah air terjun nestapa yang energi nya sangat melimpah.
Boom.
Boom.
Boom.
Suara ledakan mengagetkan yin yang tengah tidur di atas pohon. Fangyi telah meningkatkan kultivasi nya namun entah mengapa ia tidak kunjung naik ke tahap transformasi. Tubuh nya terasa lebih kuat seperti ada energi tambahan tapi tingkat kultivasi nya masih berhenti di tahap pondasi saja.
"Apakah ada yang salah dengan tubuh ku ? " tanya fangyi kepada yin. Yin terbang mengelilingi fangyi untuk menilai.
"Tidak ada yang salah tuan, mungkin tingkat tuan sampai tingkat tidak terbatas yang memungkinkan dua kali lipat dari tingkat biasa " ucap yin menjelaskan.
Fangyi hanya diam mengangguk, ia terus berlatih pedang dan berlatih ilmu beladiri bahkan semua jurus yang ada di buku dalam perpustakaan telah ia kuasai.
"Tuan untuk menjadi seseorang yang hebat tuan harus menguasai banyak hal " ucap yin.
Fangyi duduk mengistirahatkan tubuhnya, ia menatap yin untuk meminta penjelasan.
"Tuan harus pandai memanah, pandai berkuda, pandai bermain alat musik, pandai melukis dan pandai segalanya "ucap yin membuat fangyi terdiam sambil memejamkan matanya.
"Orang yang bisa kultivasi tidak semuanya hebat tuan, tapi orang hebat orang yang bisa menguasai semuanya ". Ucap yin ada benarnya.
Fangyi berdiri lalu mengambil guzheng dan pipa, dua alat musik yang ingin di mainkan oleh fangyi. Petikan demi petikan terasa gagal, suara yang di keluarkan terlalu fals.
Fangyi menatap buku musik itu lalu ia mengambil nafas dalam - dalam menenangkan pikiran nya, jemarinya mulai memetik setiap sinar alat musik itu dan mengeluarkan lantunan melodi yang sangat indah.
Fangyi tersenyum, namun ia tidak mudah puas ia kembali memainkan lagi dan lagi sampai ia bisa mengimprovisasi setiap lantunan melodi yang dimainkan nya. Setelah beberapa jam bermain dan terasa puas, fangyi berdiri mengambil anak panah, ia berlatih memanah awal mulanya ia merasa gagal karena ia tidak terbiasa namun setelah lima hari ia berada di ruang dimensi fangyi telah mampu menguasai ilmu panahan sederhana.
Selama lima hari fangyi tidak tidur, walaupun begitu kecantikan nya tidak berkurang sedikit pun. kultivasinya telah sampai di tahap transformasi tingkat 3. Fangyi mengambil enam jam di dalam ruang dimensi untuk tidur mengistirahatkan tubuh nya.
...----------------...
Fangyi terbangun dari tidur nya, ia keluar dari ruang alam dimensi, matanya menatap Feiyang yang masih terlelap dalam tidurnya. Bocah itu memilih untuk tinggal disini fangyi, setelah lelah menangis bocah itu mengantuk dan tidur di ranjang yang sudah fangyi bereskan sebelumnya.
"Pagi kakak " ucap Feiyang sambil menguap.
Feiyang duduk untuk mengumpulkan nyawanya, ia pun pergi menuju bilik mandi dan membersihkan dirinya. Pelayan pribadi Feiyang datang sambil membawa sebuah roti Pao kukus.
"Maaf nona, ha - hamba hanya di beri sebuah roti kukus ini oleh kepala koki " ucap Chi pelayan Feiyang.
Fangyi berjalan menuju dapur, kepala koki langsung memberikan tatapan mengejek begitu juga dengan para pelayan lain nya.
"Jika ingin makan ambil lah makanan sisa yang ada di sana " ucap kepala koki dengan tersenyum mengejek.
Makanan sisa yang di maksud adalah makanan basi sisa kemarin pagi.
"Makanan seperti itu memang layak untuk nya ". ucap pelayan A mengejek juga.
Fangyi ingin mengambil beberapa roti Pao kukus isi daging untuk Feiyang namun tangan kepala koki memukul nya dengan kuat hingga tangan nya memerah.
"Berani sekali manusia rendahan sepertimu mengambil roti ini ! Sudah ku bilang kalau kau mau makan ambil yang ada di sana ! " bentak kepala koki itu.
Fangyi menatap nya dengan tajam, fangyi melempar piring yang berisi makanan basi tersebut kelantai. Kemudian ia mengambil pisau lalu mengarahkan nya ke kepala koki tersebut.
"Kau mau memberikan nya atau tidak " ucap fangyi dengan nada rendah yang mampu membuat mereka bergetar ketakutan. Aura nya membuat mereka yang berada di sana terasa sesak bahkan ada yang pingsan karena tidak sanggup menahan nya.
"Ada apa ini ribut - ribut " ucap Su Huaisen kakak kedua fangyi.
"Tuan muda, nona fangyi ingin mencelakai saya " ucap kepala koki.
Feiyang datang dengan nafas yang tersengal-sengal, ia menatap keributan itu tanpa suara.
"Fangyi berani nya kau bersikap arogan di kediaman ini ! aku akan memberitahu ayah ... ".
"Ada apa pagi - pagi begini ribut sekali " jenderal su datang dengan keluarga yang lain nya.
"Ayah, fangyi bertindak arogan dia ingin mencelakai kepala koki " ucap Su Huaisen tanpa tahu kebenaran nya.
"Pasti kakak fangyi tidak bermaksud begitu, aku yakin mereka yang terlebih dahulu menggangu kak fangyi " ucap Feiyang membela.
"Kau diam ! Kau hanya bocah ingusan jangan ikut campur " ucap Su Huaisen.
"Fangyi ! berani sekali kau membuat keributan di kediaman ini ! " bentak jenderal su.
Fangyi menatap jenderal su dengan tajam, lensa matanya kembali merah menyala jika fangyi emosi.
"Lalu apa aku harus diam saja ketika mereka memberikan ku makanan basi " ucap fangyi sambil menatap mata jenderal su.
Hati jenderal su berdenyut, tatapan itu seakan menghunus jantung nya. Aura nya terasa begitu mematikan, tatapan itu sangat berbeda bukan fangyi yang seperti biasanya.
"Kau " tunjuk fangyi kepada su Huaisen.
"Sebelum kau berkata yang tidak - tidak lebih baik kau tutup mulut mu sebelum aku yang akan membuat mu tidak bisa lagi untuk berbicara ". nada rendah itu terdengar seperti ancaman untuk su Huaisen.
"Kakak kau sungguh keterlaluan, kau sangat tidak sopan " ucap Su Xinya mencari kesempatan.
"Benar ! Aku menyesal telah melahirkan putri seperti mu, sudah tidak berguna kerja nya cuma bisa bikin masalah saja. Tahu gitu aku membunuh mu sejak kau lahir " ucap nyonya su.
Fangyi menatap kedua orang itu dengan tatapan tajam nya.
"Kau pikir aku merasa bangga dan terhormat karena lahir dari wanita sepertimu, nyonya su kau jangan lupakan asal usul mu. Kau pikir aku tidak tahu masa lalu mu yang sebenarnya " ucap fangyi mampu membuat nyonya su bungkam.
" Dan kau, kau pikir aku tidak tahu kau yang menyuruh para pelayan untuk memperlakukan ku dengan buruk dan memberiku makanan basi setiap hari. " ucap fangyi menatap su Xinya dengan nyalang.
"Jika aku mendapati jatah makan ku berkurang maka aku tidak akan mengampuni kalian " ucap fangyi kepada para pelayan.
"Jika kalian ingin menantang ku, akan ku persilahkan ".
"Kau , bawa makanan - makanan ini ke kediaman ku dan berikan semuanya kepada Feiyang. "ucap fangyi kepada pelayan pribadi Feiyang.
"Kau tidak akan lagi kelaparan, pergilah ikuti pelayan mu dan makan lah " ucap fangyi lalu mengelus pipi Feiyang.
Feiyang mengangguk dan mengikuti Chi yang membawa nampan tersebut.
Plak .
Tamparan mendarat di pipi fangyi, jendral su menampar nya dan menatap nya dengan tajam.
"Kau benar - benar pembawa sial ! apakah kau tidak bisa bersikap baik hah ! ". Bentak jenderal su.
"Aku masih harus bersikap baik ? Lucu sekali ! Saat aku bersikap baik dan tidak melawan justru mereka lah yang menginjak - injak ku, memperlakukan ku dengan buruk dan aku sudah cukup sabar menghadapinya selama ini ".
"Sekarang ketika aku melawan kau bilang aku tidak bisa bersikap baik ? jenderal su lebih baik kau pikir dengan otak mu yang pintar itu dimana kesalahan ku atau kau memang sengaja mencari kesalahan ku yang tidak ada ". ucap fangyi dengan tatapan tajam.
Tatapan yang dulu merindukan kasih sayang keluarga kini sudah tiada, Su Fangyi telah mati. Sebelum fangyi melangkah pergi fangyi menjentikkan jarinya melempar sebuah jarum yang sangat kecil yang sudah di lumuri oleh racun mematikan. Fangyi menjentikkan ke tangan kanan kepala koki.
'Kau terimalah balasan mu, racun itu akan menghancurkan tangan mu bahkan tabib hebat sekali pun tidak akan bisa menyembuhkan nya '. batin fangyi.
Su Xinya.
Su Huaisen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Sribundanya Gifran
lanjut lagi thor
2026-04-20
0
kaylla salsabella
fangyi menyala 😍😍😍😍
2026-04-20
1
Emmastlen95
🙆🙆🙆 more updates nya author 💓💓💓🤗🤗🤗😁😁😁💕💞💗💓♥️💯👌😘🥰😍💪
2026-04-20
0